My Prince [A NaruSaku Fanfiction]

.

Disclamer : Masashi Kishimoto

Warning : Typo(s), Out Of Character, AU, and more

Riz Riz 21

presented

.

.

.

Chapter V

.

.

.

Gadis berambut pirang panjang yang diikat ponytail itu terus menerus mengipasi wajahnya yang memerah—karena terpersona oleh seorang sensei di ruang kesehatan tadi—dengan kedua telapak tangannya, mulutnya terbuka sendiki dan mengumankan sebuah bait lagu yang isi lagunya sepertinya bertema bertemu-laki-laki-ganteng. Disamping gadis berambut pirang terdapat gadis dengan mata bermanik lavender yang juga tengah mengipasinya dengan telapak tangannya, secara tidak langsung gadis bermanik lavender itu membantu sahabatnya untuk terus bernapas dengan benar.

"CO-COOL!" pekik Ino akhirnya setelah keluar dari ruangan ruang kesehatan, sekarang dirinya serta Hinata sedang berada di lorong, "Kamu lihat dia Hina-chan?! OMG! He is so handsome!"

"Ne?" Hinata hanya tersenyum simpul melihat kelakuan sahabatnya itu. "Tarik napas perlahan Ino-chan, keluarkan secara perlahan juga."

"Aku jadi iri dengan Sakura, dia bisa berduaan dengan Sasuke-sensei! Oh Tuhan! Aku merasa jantungku bermasalah!" seru Ino dengan terlalu bersemangat dan itu membuat gadis berambut pirang itu kembali merasa kepanasan.

"Ino-chan, tenanglah. Kita menjadi pusat perhatian dan lagi atur napasmu," nasehat Hinata saat melihat Ino lagi-lagi yang seperti orang yang akan kehabisan napas.

Seperti kata Hinata, secara tidak sadar Ino berhasil membuat semua siswa-siswi yang ada di lorong menatap dirinya sejak gadis itu memekik dengan nyaring layaknya seorang fangirl yang sangat ingin minta foto bersama dengan salah satu member boyband idola yang terkenal dari negeri ginseng, gadis itu terlalu bersemangat. Jika saja Gai-sensei melihatnya, mungkin Gai-sensei akan sangat bangga pada Ino dan mengangkat Ino sebagai murid favoritnya yang kedua setelah Rock Lee.

"Ah, gomen-gomen." Ino nyengir dan Hinata menghela napas pelan lalu tersenyum untuk memaklumi sahabatnya itu.

Kedua gadis itu langsung pergi menuju kantin dan membeli makanan untuk menjanggal perut mereka yang memang sudah keroncongan sejak tadi dan dengan cepat kembali pergi ke kelas mereka tepat sebelum bel pelajaran berbunyi, mengingat waktu istirahat mereka tidaklah lama.

Sesampai di kelas mereka sudah disambut sebuah senyum ceria dan satu pertanyaan dari Naruto. "He? Mana Sakura-chan?"

"Dia di ruang kesehatan" jawab Ino singkat yang sudah duduk dibangkunya dengan nyaman dan menatap Naruto.

"Heh? Saku-chan sakit?" Naruto menghadap samping dan menatap Hinata yang duduk pada bangku didepan Ino.

Kenapa Naruto malah menatap Hinata? Karena menurut Naruto, hanya Hinata lah yang paling bisa laki-laki pirang itu percaya, sedangkan Ino? Baru jalan sekitar tujuhpuluh lima persen-lah.

"Mungkin. Dia terlihat sangat lelah." Hinata tersenyum saat melihat ekspresi khawatir yang tiba-tiba tertera pada wajah laki-laki pirang dihadapannya.

"Ah! Benar juga, sejak di gerbang tadi aku juga merasa begitu," sahut Kiba dan langsung mematikan aplikasi game pada handphone-nya, lalu menatap Naruto.

"Mungkin karena menjaga ibunya semalaman, ia jadi kurang tidur," tebak Sai yang berdiri disamping bangku Naruto tanpa mengalihkan pandangan dari sebuah kertas yang ada pada clipboard laporannya yang tengah coret-coret dengan sebuah pensil ditangannya.

"Bisa jadi." Ino mengangguk setuju dengan tebakan Sai sebelum menatap laki-laki pucat itu dengan tatapan heran. Apa berita tentang ibu Sakura sudah menyebar sejauh itu? Padahal menurut Ino Yamanaka, hanya sedikit orang saja yang tahu akan perihal penyakit ibu Sakura dan sejauh ini yang tahu hanya Sakura, Ino, dan Hinata—kemungkinan besar Naruto juga tahu, Tapi bagaimana dengan Sai? Ini mencurigakan.

Apa yang sebenarnya terjadi kemarin?

"Tapi, dia membuatkan ini buat Namikaze-sama," ujar Hinata sambil mengeluarkan kotak bekal Sakura dari laci meja Sakura yang ada disampingnya (mengingat Hinata dan Sakura duduk sebangku), sebuah senyum misterius terukir diwajah gadis berambut indigo itu.

"Hinata-chan? Kenapa kau memanggilku 'Namikaze-sama'? Kita in—Hmmphh!" sontak mulut Naruto langsung dibungkam Sai secara otomatis hingga mengacuhkan papan laporannya serta pensil yang ada ditangan kirinya.

"Kita?" Ino memastikan pendengarannya tidak salah, 'kita' itu maksudnya apa?

"Maksudnya, Kita kan sudah menjadi teman," jelas Kiba dengan singkat begitu mengerti tatapan mencurigakan dari Ino lalu membalas tatapan itu dengan tersenyum cerah yang mirip seperti senyum Naruto.

"Gomenasai, Naruto-san." Hinata menatap Naruto yang masih dibekap Sai tanpa perasaan, Sai memang makhluk hidup yang kelewatan dingin dan acuh.

"Tapi, benarkah Sakura membuatkan ini untuk Naruto?" tanya Shikamaru dari tadi sempat tidur dibangkunya—yang terdapat dibelakang bangku Naruto—langsung bangun dan menatap Hinata dengan posisi masih dengan kepalanya yang berbantalkan lengannya.

"Ha'i. Aku yakin ini untuk Naruto-san," jawab Hinata dengan yakin dan seketika itu pula Sai melepaskan tangannya dari mulut Naruto dan lelaki bekulit pucat itu langsung mengelap tangannya dengan sapu tangan sebelum akhirnya kembali fokus pada papan laporannya serta pensilnya.

Sai tidak memperdulikan deathglear Naruto yang seolah berkata 'Jika saja kamu bukan sahabatku, sudah kuasingkan kamu keluar angkasa!'. Ayolah, siapapun saja tahu bahwa deathglear Sai lebih mematikan dan mengerikan daripada milik Naruto. Sehingga bagi Sai tatapan mata Naruto itu sama sekali bukan sebuah deathglear, meski secara kenyataan Naruto adalah atasannya yang harus disegani.

"Baiklah, ayo kita buka!" Naruto memperbaiki ekspresinya lalu mengambil kotak bekal yang ada diatas meja Hinata, meletakkannya diatas pahanya, dan membukanya dengan cepat.

Z-Zungg!

Ketujuh muda-mudi itu langsung terdiam menatap isi didalam kotak bekal itu. Ino, Kiba, Sai dan Naruto menatap isi bekal itu dengan tatapan tidak percaya, Hinata dan Shikamaru serta Shino tetap terlihat tenang meski batin mereka tidak yakin bahwa isi bekal itu layak dikonsumsi. Semuanya masih terdiam lengakp dengan pose mereka masing-masing tidak ada yang bergerak sedikitpun bahkan untuk mengedipkan mata, mereka memang diam membeku tapi tetap bernapas pastinya.

Dus. Dus.

Kiba yang mempunyai indera penciuman yang tajam diantara yang lainnya langsung menutup hidungnya, dan menatap bekal itu rasa takut yang mulai melanda dirinya. Uap berwarna ungu itu tetap keluar dari dalam kotak bekal itu mulai menyebabkan udara yang ada kelas mereka berbau kurang sedap bahkan uap ungu yang keluar itu berhasil membuat Sai, Shino, dan Shikamaru bergetar dengan skala kecil. Apakah makanan itu mengandung racun mematikan? Hanya orang yang memasak makanan itulah yang tahu.

"A-aku baru ingat Saku-chan ti-tidak pandai memasak," kata Ino yang memecahkan keheningan diantara mereka.

"I-ini apa?" Naruto menusuk-nusuk pelan sebuah masakan berbentuk lonjong berwarna hitam pekat sepertinya gosong dengan garpu yang ditemukannya.

"Itu be-belut?" Shikamaru tidak yakin dengan tangan yang menumpu dagunya dan menatap semua jenis makanan yang ada didalam kotak bento itu. (A/N : Kalian pasti tahu dimana aku dapat ide itu.. XD )

"Benarkah?" Naruto pun mulai menatap satu persatu makanan yang ada didalam kotak bento itu, sepertinya semua makanan ini tidak terlalu buruk?

Keempat bodyguard-nya menatap Naruto horror dan tampang syok tingkat ujian nasional, mereka tahu tatapan mata itu dan lekuk wajah itu menandakan apa. Belum lagi saat Naruto mulai menusukan garpunya dengan kuat diatas makanan yang sepertinya belut itu, sontak keringan dingin langsung membanjiri tubuh keempat bodyguard-nya.

"Ittadakimatsu!" seru Naruto nyaring dan jelas.

"Tidak! Pangeran ini berbahaya! Dari baunya saja sudah jelas!" Kiba menahan tangan kanan Naruto yang memegang garpu yang diujungnya sudah berhasil menusuk sebuah makanan yang ditebak Shikamaru tadi sebagai belut.

"Benar ini sangat berbahaya! Lihatlah uap ungu itu!" cegah Sai yang langsung menarik garpu yang ada ditangan kanan Naruto.

"H-Hei!" pekik Naruto kaget, "apa yang kalian lakukan?!"

"Masakan ini berbahaya!" ucap Sai dan Kiba secara bersamaan sambil memberikan tatapan 'JANGAN!' khusus untuk Naruto.

"Anda bisa saja mati. Lalu, bagimana tahta Namikaze Kingdom?" suara Shino tetap tenang, dan perkataannya disetujui oleh yang lainnya dengan sebuah anggukan kecil.

"Dan itu merepotkan." kalian tahu siapa yang berbicara ini, Shikamaru.

Naruto mati? Wah, Jepang harus bersiap siaga menerima surat perang dari Konoha karena membuat Pangeran semata wayang mereka mati dengan tidak elit karena sebuah makanan buatan seorang gadis dari Jepang! Ok, itu terlalu mendramatiskan.. Tapi jika benar terjadi?

Jangan deh! Jangan! Amit-amit! Naruto'kan pemeran utama di Fanfic ini!

"Iya! Masakan Sakura itu berbahaya!" Ino ikut mencegah, karena mencegah lebih baik dari pada menerima akibat yang akan terjadi nanti.

"Sebaiknya jangan…" pinta Hinata sambil menatap Naruto tidak tega jika harus memakan masakan Sakura, kenapa tadi dia tunjukan?! Oh, Hinata jadi merasa dirinya sangat jahat atau mungkin bodoh?

"Tak apa, Sakura sudah membuatkannya untukku." Naruto merebut kembali garpu dari Sai, saat Sai lengah. "aku harus menghargainya dengan memakannya. Ittadakimatsu!" Naruto langsung memasukan belut itu yang membuat keenam muda-mudi itu cengo.

Koneksi 100%!

"TIDAKK!" teriak Kiba yang menyadarkan kelima muda-mudi lainnya serta murid-murid yang ada dikelas diam dan langsung menatapnya.

"Ba-bagimana rasanya?" tanya Sai saat Naruto sedang mengunyah, secara repleks semua orang yang ada dikelas itu ikut menatap Naruto yang sedang mengunyahh sesuatu.

Grap.. Grup..

Kunyah..

"I-ini…"

Glek.

Telan…

Keenam temannya itu menatap Naruto horor dan syok dengan aksi nekat Naruto. Bahkan Shino sudah menyediakan kantung muntah untuk Pangerannya tersebut , kalau-kalau ia akan muntah yang entah Shino dapat dari mana. Entah mengapa wajah Naruto tiba-tiba berupah pucat sediki keunguan, apakah ini gara-gara uap ungu yang mencurigakan tadi? Melihat perubahan wajah Naruto ke-empat SP-nya langsung siap siaga jika-jika ada hal yang tidak diinginkan terjadi.

"Ena—"

BRUKK!

Seketika itu pun Naruto langsung jatuh pingsan dan terdengarlah suara yang sangat nyaring dari ke—.

"Pangeran!" teriak ke-empat SP-nya.

"KYAAAA! Pangeran NARUTO!" ini sih suara melengking Ino yang diikuti suara para siswi yang ada dikelas itu.

"Na-Naruto-san?!" Hinata panik hingga penyakit gagapannya kembali.

"Naruto-sama, kenapa?!"

"Oh my God! Oh my no! Pangeran!"

"NARUTO-SA—"

TENG! TENG! TENG!

Ara, bunyi lonceng masuk yang tidak berperasaan dan mengerti situasi yang super genting dan gawat ini? Dan bunyi lonceng itu memotong ucapan para murid yang ikut histeris melihat seorang Pangeran pingsan dengan wajah pucat keunguan dan.. MULUT BERBUIH?!

APA-APAAN MASAKAN ITU?!

.

.

.

FlashbackON!

"Ada yang bisa saya bantu?" sensei itu meletakkan bukunya pada sebuah meja dan menatap ketiga siswi dihadapannya, sekilas ketiga gadis itu mengingatkannya pada musim-musim di Jepang. Musim panas, musim semi dan musim dingin.

"A-ano, temanku sedang tidak enak badan.. err.. nama sensei?" Ino gugup bin bingung menjelaskannya, hati dan matanya benar-benar terkunci pada mata onyx dihadapannya.

"Uchiha Sasuke. Nama saya Uchiha Sasuke."

"Yamanaka Ino-desu" sapa Ino dengan ceria, Hoo! Namanya Uchiha Sasuke! Seorang UCHIHA, pantes aja ganteng banget. Kalau saja Sasuke bukan seorang guru, Ino sudah lompat-lompat happy dan nge-fly entah kemana.

"Hyuuga Hinata-desu." Ucap Hinata dan secara repleks menambahkan kata, "Yoroshiku, Uchiha-sensei."

"Haruno Sakura-desu." Sakura masih terpana dengan sensei yang ada didepannya. Itu seorang guru atau model? Atau jangan-jangan Pangeran yang lagi nyamar?! Pikiran Sakura terlalu lebay.

Setelah perkenalan itu, tidak ada yang berbicara lagi. Ino dan Sakura yang terpana menatap Sasuke, Hinata yang tidak sanggup berbicara karena situasi yang menurutnya malah seperti kontak jodoh? Dan Sasuke yang terlalu malas memulai, meski begitu sepertinya ada maksud lain karena Hinata berhasil menatap mata Sasuke yang secara tidak langsung sesekali menatap Sakura yang masih diam terpana. Anehnya, sang gadis berambut pink itu tidak sadar bahwa orang yang membuatnya terpana curi-curi pandang menatapnya begitu pula dengan Ino. Hinata jadi menatap Sasuke dengan tatapan curiga, jangan-jangan Sasuke seorang pedofil?!

Tidak! Kalau gitu Hinata harus menjaga sahabatnya ini dari om-om pedo macem Sasuke!

"Jadi? Siapa yang sakit?" tanya Sasuke yang akhirnya memulai dan menatap Sakura secara langsung yang anehnya lagi tidak disadari Ino.

"Dia Uchiha-sensei." Ino menunjuk Sakura sambil memamerkan senyum paling manis miliknya. Kalau aja Uchiha itu bisa kegaet, lumayan… cowok ganteng. "sepertinya dia flu."

"Ah, dudukkan saja dulu dia diranjang." Sasuke berbalik dan berjalan menuju mejanya lalu membuka lacinya.

Sakura duduk ditepi ranjang dengan Ino disampingnnya dan Hinata duduk dikursi disebelah ranjang, Sasuke mengeluarkan termometer dan stetoskop dari laci tersebut lalu mendekati Sakura, Ino dan Hinata.

"Tolong buka mulutmu."

Sakura membuka mulutnya dan Sasuke memasukan termometer itu didalam, jarak mereka sangat dekat. Ino yang melihat itu langsung memerah, berharap dia yang ada diposisi Sakura. Hinata menatap Ino lalu menghela napas pelan sangat pelan, lalu kedua mata lavender gadis itu menatap Sakura dan Sasuke—yangentah mengapa menatap mereka dengan tatapan yang sulit diartikan dan hanya mungkin hanya Hinata yang tahu apa maksud dari tatapan itu.

Berbeda dengan Sakura yang tengah terpana oleh wajah rupawan Sasuke yang begitu dekat dengannya. Bahkan, saat wajah Sasuke mulai menjauh, Sakura merasakan bahwa dirinya merasa sedikit kecewa. Hinata yang sedari tadi masih asik memperhatikan dan sudah menyadari keanehan pada kedua sahabatnya itu mulai terlihat bosan tapi dengan cepat wajahnya langsung mengukir senyuman sopan untuk Ino yang tiba-tiba menatapnya. Sayangnya Ino sama sekali tidak memperhatikan perubahan mimik wajah Hinata dan hanya menatap sahabatnya itu sekilah sebelum kedua matanya kembali asik menatap Sasuke, seakan-akan Sasuke akan hilang begitu saja jika tidak ditatap olehnya.

Tiit!

Bunyi thermometer memecahkan keheningan yang tadi sempat melanda, Sasuke segera mengambil thermometer itu dari mulur Sakura dan melihat berapa derajat suhu tubuh gadis itu dari yang tertera disana. Merasa bahwa suhu tubuh Sakura tidak terlalu mengkhawatirkan, tangan Sasuke perlahan tergerak dan mulai mendengarkan detak jantung gadis yang ada dihadapannya dengan stetoskop, tanpa menyadari bahwa jaraknya dengan sang pasien berdua begitu dekat.

Atau mungkin, sedikit berbahaya?

DOKI! DOKI! DOKI!

Alis Sasuke mengeryit bingung begitu mendengar detakan jantung Sakura yang begitu cepat, lalu mata onyx-nya melirik Sakura sekilas sebelum menjauhkan tubuhnya dan dengan cepat menuliskan sesuatu kebukunya—yang tadi ada diatas nakas.

Tanpa disadari oleh ketiga gadis disana sebuah seringai terukir diwajah tampan Sasuke.

"Dia hanya sedang banyak pikiran, mungkin istirahat selama jam pelajaran kedua ini akan membuatnya baikan," jelas Sasuke tanpa berpaling dari bukunya catatannya. "Harusnya hanya pelajaran yang dipikirkan oleh para murid saat ini."

"Eh?" Sakura langsung memberikan Sasuke tatapan bingung, bingung dengan apa maksud kalimat terakhir Sasuke.

Jangan bilang bahwa Sasuke—

"Akan ada ujian kan?"

Secara bersamaan ketiga gadis itu yang ditatapan Sasuke mengangguk pelan begitu mengerti apa yang dimaksud oleh pria dihadapan mereka, Sasuke meletakkan bukunya diatas mejanya dan kembali membaca buku yang dia baca sebelum ketiga gadis tadi mengganggunya. Ino dan Hinata langsung berbalik menatap Sakura yang masih duduk ditepi ranjang ruang kesehatan.

"Yokatta~ kau tidak sakit parah, Saku-chan." ucap Ino dengan nada dibuat lebih manis dan tersenyum. "setidaknya kau hanya kelelahan."

"Kau berbaring saja dulu," pinta Hinata dengan lembut. "Sakura-chan harus banyak istirahat."

Sakura mengangguk dan Ino mulai berdiri untuk mempersilahkan Sakura berbaring, Sakura menatap kedua sahabatnya yang tengah tersenyum untuknya. Sasuke yang menatap adengan itu langsung menatap arlojinya dan menengur kedua siswi tersebut.

"Hei, kalian." panggil Sasuke dengan nada dinginnya. Ino menatap Sasuke dengan pandangan bling-bling, sedangkan Hinata dengan tatapan kesal. Bisakah nadanya sedikit ramah?

"Ya?" ucap Ino dan Hinata bersamaan.

"Tiga menit lagi bel akan berbunyi."

"Akh! Aku hampir lupa! Ayo Hina-chan, Bye Saku-forehead!" Ino menarik Hinata keluar dari ruang kesehatan. Sakura hanya terkikik geli menatap reaksi Hinata yang terkejut saat ditarik tiba-tiba oleh Ino tanpa disadari Sakura mata onxy Sasuke menatapnya lekat.

FlashbackOFF!

.

.

.

Seet!

Pintu kelas bergeser, terlihat Kakashi memasuki kelas. Matanya menatap bingung sekelompok muda-mudi yang ada dibelakang sana; Kiba, Shino, Sai, Shikamaru, Ino, Hinata dan Naruto. Kakashi adalah seorang guru yang ramah senyum dan jarang terlihat marah, meski begitu dibaliknya Kakashi adalah guru yang tidak akan segan-segan memotong nilai anak didiknya jika berbuat ulah. Memang tidak akan ditegur atau dimarahi, tapi nilai melayang!

Karena itu saat Kakashi masuk, semua murid langsung duduk dikursi mereka masing-masing meski sesekali menatap Naruto yang masih pingsan mengenaskan dibangkunya.

"Pa-Pangeran! Sadarlah!" Kiba menguncang-guncang tubuh Naruto. Panik. Itulah kondisi Kiba sekarang. Lelaki bertaring itu sangat panik.

"Kiba-san, sebaiknya kita bawa Naruto-san ke-ruang kesehatan." usul Hinata yang disetujui Ino dengan anggukan. Kenapa dari tadi tidak ada yang mengingat kata 'ruang kesehatan'?! Apa karena mereka terlalu panik?!

"Ide bagus, ayo angkat dia!" perintah Sai yang tidak terpikir ide itu dari tadi. Atau memang karena Sai juga ikutan panik didalam hatinya?

Dalam sekejab Kiba, Shino dan Shikamaru tengah mengangkat Naruto untuk keluar dari ruangan, sungguh cara mereka mengangkat Naruto sangatlah mengelitik mata. Tapi sebuah penghapus melayang tepat mengenai kepala Kiba dan membuat mereka hampis saja menjatuhkan Naruto yang pingsan masih dengan mulut berbuih itu? Tapi, apakah Naruto keracunan?

"Kalian mau kemana? Ini sudah jam masuk?!" Kakashi tersenyum dibalik maskernya, senyum yang mematikan, "harusnya kalian fokus dengan pelajaran! Beberapa minggu lagi kalian sudah akan ujian kenaikan kelas, murid baru!"

"Ah, Kakashi-sensei.. kami ingin mengantarkan Pangeran ke-ruang kesehatan" ucap Kiba tanpa rasa bersalah, yang langsung ditatap tidak percaya oleh murid lainnya.

"Dia keracunan makanan." sambung Shino dengan super tenang. Bahkan, dalam hati Ino memuji ketenangan yang ada pada diri Shino.

"Dan benar-benar merepotkan, sensei."

"Jadi, kami izin ke-ruang kesehatan sebentar. Ayo!" ucap Sai dan menyuruh ke-tiga temannya cepat ke-ruang kesehatan.

Sebelum Kakashi berkata lagi, ke-empat laki-laki itu sudah pergi dari dalam kelas dengan konyolnya. Para murid dikelas itu yang melihat adengan tadi langsung tertawa miris antara karena adengan tadi konyol dan miris karena tidak tega melihat Naruto yang sudah kritis, sedangkan Ino terkekeh pelan dengan rasa terpaksa. Hinata hanya tersenyum dengan alis yang melengkung kebawah—tanda tidak nyaman—. Sepertinya Kakashi memiliki ide untuk TIDAK AKAN MEMOTONG NILAI ke-lima anak didiknya tadi tapi dia TIDAK AKAN MEMBERIKAN MEREKA NILAI!

Catat itu!

Eh, tapikan mereka gak tahu kalau bakal gak dikasih nilai. Lah, gimana dong?

"Dasar mahluk-mahluk baka…" guman Ino sangat pelan.

"Dasar, baiklah buka halaman 88 baca hingga halaman 92. Akan ada ulangan harian dengan materi yang kalian baca, paham?!"

"Paham, sensei!"

Ke-empat laki-laki dengan satu laki-laki yang mereka bawa berlari-lari dikoridor tanpa memperdulikan guru piket yang memperhatikan mereka. Kiba, Shino dan Shikamaru hampir saja ingin memukul kepala Sai yang ternyata tidak tahu ruang kesehatan dimana?! What The Hell?! Oh My to the God!

Dan jadilah mereka keliling-keliling gak jelas serta berkata atau mungkin bersenandung, 'Dimana-dimana.. dimana letak ruang kesehatan yang ternyata Sai minta digeplak!'

Setelah berkeliling, akhirnya mereka menemukan pintu dengan papan bertuliskan ruang kesehatan diatasnya. Tanpa aba-aba mereka langsung membuka pintu ruang kesehatan dengan paksa dan kasar. Tidak peduli, kalau-kalau tindakan mereka membuah penghuni ruang kesehatan kena serangan jantung mendadak. Bagi mereka Naruto lebihlah penting!

Ya iyalah! Secara Naruto atasan plus Pangeran dinegara mereka!

"SEGERA SE—" ucapan Sai terhenti saat menatap seseorang didalam ruang kesehatan yang sedang duduk sambil membaca sebuah buku. Matanya melebar tak percaya dengan seseorang yang matanya lihat. Bagaimana bisa…

"Ada apa, Sai? Cepetan! Pangeran ini be—" Kiba juga menatap orang itu, dan dalam sekejab Kiba serasa membeku. Dia hanya diam dan menatap seseorang itu.

"Heh?" Shikamaru dan Shino sedikit bergeser agar melihat seseorang yang ada didalam ruang kesehatan, tunggu dulu bukankah harusnya orang itu tidak disini.

Kenapa dia disini? Dan lagi dia itu kan—

"SASUKE-SAMA?!" pekik Kiba, Shikamaru dan Shino saking terkejutnya, untung saja Naruto tidak mereka lepas. Kalau terlepas, bisa-bisa Pangeran tercinta mereka terkena amnesia karena kepalanya langsung membetur lantai.

TAK!

Sai sampai menjatuhkan papan clipboard yang selalu dibawanya berserta dengan kertas-kertas yang berada dipapan itu yang hingga membuatnya sedikit berhamburan.

"Diamlah. Ada yang sedang sakit." Sasuke menyeringai dan menatap ke-empat pemuda yang terdiam kaku disana.

Mereka masih terdiam beberapa detik. Serasa sedang begulat dengan sebuah realita.

"Ba-bagimana bisa?" ucap Kiba dengan mulut menganga.

"Dobe? Dia keracunan makanan?" Sasuke mengacuhkan pertanyaan Kiba lalu menatap Naruto yang pingsan dengan tatapan meremehkan.

Hei, hei Sasuke! Gitu-gitu Naruto itu seorang Pangeran calon Raja! Enak banget lu langsung menatap Naruto dengan tatapan remeh seperti itu! Tidak sopan!

"Yeah.. begitulah" Sai mengambil kembali papan laporannya, "kenapa kau bisa ada disini?"

"Aku sedang liburan? Sekaligus menjadi guru kesehatan disini."

Keempat siswa sekaligus bodyguard itu cengo, bagaimana bisa—emm, bisa kalian sebut atasan mereka itu berdiri dengan santai plus seringai khasnya. Belum lagi jarak umur mereka yang hanya berbeda empat tahun, jika Naruto dan kawan-kawan berumur enambelas tahunan keatas dan masih duduk di kelas 2 High Senior School. Berbeda dengan Sasuke yang sudah berumur sekitar duapuluh tahunan tetapi diumur yang tergolong muda itu pula dirinya sudah berhasil mendapatkan gelar dokter! Seorang Uchiha itu memang sudah ditakdirkan tidak jauh dari kata jenius.

Tapi, menjadi guru kesehatan? Oh. Bisa dimengerti. Bisa dimengerti.

Dan kesunyian kembali menghiasi ruang ruang kesehatan kembali hingga akhirnya salah satu dari mereka sudah loading 100% dan akhirnya memekik kaget.

"HEH?! Sa-Sasuke-sama guru kesehatan di sekolah ini?!"

Lagi-lagi Sasuke hanya memberikan mereka seringai khasnya, seringai Uchiha.

.

.

.

=To Be Continue=

A/N : Pertama-tama silahkan panggil nama author ini Ri, silahkan jika mau Ri-chan, Ri-kun, dll jangan Ri-jiisan atau Ri-baasan. Ri masih muda, baiklah kidding, Ri pertama-tama SANGAT MEMINTA MAAF TELAH MENELANTARKAN FANFIC INI. Kehidupan didunia nyata Ri begitu penuh konflik, dramatis, humor, dan sedikit kegajean.

Ri sangat berterima kasih pada reader yang telah mereview ataupun tidak... terima kasih karena mau membaca fic Ri. Saat ini mungkin Ri tidak bisa membalas langsung untuk pada reader yang login, Ri hanya bisa membalas lewat fic karena koneksi internet Ri lagi... kurang baik... *curhat?

SPESIAL THANKS TO (Plus balasan review) :

-fikrisakura12 : Arigatou fikrisakura-san, panggil Ri jangan pakai senpai. Ri masih junior disini. Di chapie ini sudah cukup panjang belum? Kalau belum gomen ne...

-Manguni : Gomennasai, Manguni-san. Nah, dichapie ini masih pendek apa udah cukup panjang? Arigatou sudah membaca fic ini Manguni-san.

-Ryn Cagali : Senseinya... Yupss, That Sasuke! X"DD Hinata siapa ya? Siapa hayo? *ditabok readers* Thanks sudah mampir ke Fic Ri.

-Klay Asther : Ah, emang sudah ketebak ya? Eh? Alurnya mirip sama komik lain ya? Ternyata ide pada otak Ri pasaran... Baiklah! Ri akan terus berusaha agar tidak pasaran lagi! Arigatou Klay Asther-san! Review-mu benar-benar membuat Ri membara! X'3 *abaikan*

-kitsune567 : Udah dinext Kitsune-san! Thanks to review! ^^

-Anahinanaru : Yah, kalau gitu ketahuan deh kalau inspirasinya dari sebuah drama... Hihihi, Gomennasai Anahinanaru-san kalau sedikit tidak memuaskan, dan Ri sangat berterima kasih dengan saran dari Anahinanaru-san itu membuat Ri lebih membuka mata untuk menulis Fic yang lebih baik lagi kedepannya. ^^ *pidato?* Ri benar-benar berterima kasih..

-Meika NaruSaku : Iya, ini sudah dinext. Bener lho kata Meika-san, Fic Ri pada menjamur.. Hihihi. X"DD

.

Review please?

XOXO,
Riz Riz 21 [Galaxy]