My Prince [A NaruSaku Fanfiction]
.
Disclamer : Masashi Kishimoto
Warning : Typo(s), Out Of Character, AU, and more
Riz Riz 21
presented
.
.
.
TENG! TENG! TENG!
Suara bel yang menandakan sudah berakhirnya jam kedua pelajaran dan mulainya waktu istirahat kedua itu memaksa kelopak mata Sakura untuk terbuka hingga memperlihatkan kedua matanya yang bermanik hijau lembut. Sakura langsung berbaring menghadap arah kiri yang otomatis matanya langsung menatap ranjang disebelahnya dan hanya dihalangi meja kecil serta gorden yang tidak menutupi ranjang disebelahnya.
Terlihat seorang siswa dengan rambut pirang yang tertidur pulas. Setelah sadar dari pingsannya yang sungguh ironis, lagi pula siapa yang tidak akan berpikiran seperti itu setelah melihat orang yang pingsan dengan mulut berbusa? Pasti banyak yang berpikiran orang itu akan—is death! Berbeda dengan Sakura yang memang tidak tahu apa yang telah menimpa siswa diranjang sebelahnya itu.
Tangan gadis berambut pink itu terangkat untuk mengucek-ucek matanya yang tadi baru terbuka separuh, "Ugh." Sakura mengerang dan benar-benar bangun sekarang.
Sakura sudah duduk nyaman diatas ranjang lalu menyendekan punggungnya pada bantal yang didirikannya dan menatap kembali siswa berambut pirang diranjang sebelah kirinya, tiba-tiba alisnya mengernyit bingung. Rasanya rambut pirang itu tidak asing dimatanya, dan di Tokyo High School hanya ada satu laki-lali dengan rambut pirang. Jangan bilang kalau siswa itu adalah—
"N-Naruto?" guman Sakura dengan nada serak karena baru bangun dan matanya berkedip beberapa kali, mencoba benar-benar memastikan bahwa siswa itu adalah Naruto Namikaze alias Pangeran Naruto.
"Sudah merasa baikan?" tanya seseorang yang langsung membuat tubuh Sakura menghadap kearah sumber suara dan terlihat seorang pria dengan rambut hitam malam berdiri diambang pintu.
"Ah, iya.. Sasuke-sensei." Sakura sedikit terkejut saat melihat Sasuke diambang pintu dengan gaya yang bisa dibilang.. sedikit angkuh?
Sasuke berjalan menuju mejanya dengan tenang dan mengambil dua buah cangkir yang entah sejak kapan ada disana, lalu berjalan lagi kearah ranjang Sakura. Manik hijau Sakura terus memperhatikan gerak-gerik Sasuke sejak pria dewasa itu masuk kedalam ruangan lalu mengambil dua buah cangkir dan sekarang berada disisi kanan ranjangnya.
"Silahkan," Sasuke menyerahkan salah satu cangkir yang ternyata berisi teh kepada Sakura.
Sakura menerima cangkir itu dan tersenyum untuk Sasuke, "Arigatou sensei."
"Hn."
Sakura menatap Sasuke yang sedang meminum tehnya dan menatap kearah luar jendela yang ada disamping ranjang Sakura tapi dihalangin sebuah ranjang lagi yang ditiduri seseorang yang diduganya adalah Naruto. Sakura masih menatap Sasuke, lalu tiba-tiba Ia tersenyum dibalik cangkirnya karena dirinya sempat sedikit pangling dan tidak mengenali Sasuke jika saja pria yang irit kata itu tidak mengingatkannya tadi. Sasuke adalah orang yang dulu menolongnya dari rasa malu saat masih Sakura masih duduk dibangku Junior High School.
.
.
.
*FlasbackON*
Hari itu Sasuke baru saja mendapatkan liburan untuk kembali ke Jepang, dan lelaki bermata onyx itu baru saja tiba di Jepang tadi pagi. Karena Sasuke adalah salah satu contoh lelaki yang gampang bosan, begitu hari mulai sore dia langsung pergi dari hotel dan berjalan-jalan ditaman yang memang berada tidak jauh dari hotelnya. Terakhir kali Uchiha muda itu ke Jepang adalah saat Ia masih berumur sekitar delapan tahun itu pun karena pekerjaan ayah dan ibunya.
Selama Sasuke berjalan-jalan ditaman, hampir setiap mata pengunjung taman terus menatapnya dengan pandangan terpesona seperti habis melihat seorang pangeran berkuda putih. Tapi mengingat Sasuke lahir dengan sifat yang lebih dingin dari es, lelaki bermata onyx itu dengan tenang mengacuhkan semua tatapan mata yang terus menatapnya seakan Sasuke adalah sebuah gas yang akan cepat habis.
"Ugh."
Kedua kakinya sontak berhenti, apa telinganya tidak salah dengar? Ia mendengar seseorang sedang berguman, Sasuke menengok kekanan dan kirinya. Tidak ada siapa-siapa kecuali beberapa meter kesamping, depan dan belakang yang diterdapat beberapa pengunjung.
"Meong."
Sasuke mengernyit, apa-apaan ini? Apakah ia sedang dikerjai?
"Ayo sini."
Dengan cepat kepala Sasuke mendongkak kesamping atas, tepat kesebuah dahan pohon. Diatas dahan pohon itu terdapat seorang gadis berambut pink dan seekor anak kucing diujung dahan. Oh, gadis berambut pink itu ingin menolong anak kucing itu?
'Menarik…' Sasuke menyeringai dan berjalan kebawah dahan pohon yang tinggi itu. "Hei, nona kecil. Apa yang kau lakukan?"
Gadis itu terkaget dan langsung menatap Sasuke yang ada dibawah, ada rona merah diwajahnya karena malu. "Aku sedang mencoba menolong anak kucing itu."
"Kenapa, bukankah kucing punya sembilan nyawa?" Ok, Sasuke hanya memancing nona berambut merah muda itu.
Gadis itu tidak lagi menatap Sasuke, ia fokus untuk segera menangkap sang anak kucing dengan tangannya. "Tuan tahukan itu hanya mitos, lagipula kucing ini masih kecil."
Sasuke menarik sudut bibirnya, puas dengan jawaban gadis itu. "Begitukah?"
"Ne," Sedikit lagi dan akhirnya gadis itu mendapatkan kucing kecil itu. "Ah! Aku mendapatkanmu!"
Dengan cepat gadis itu memeluk kucing kecil itu sambil mengelus-elus bulunya yang lembut, "Kau baik-baik saja se—"
KRAKK!
Mata hijau gadis itu melebar, dahan yang Ia duduki baru saja—patah?! Gadis itu langsung memeluk sang anak kucing erat, sekejab kejadian itu seperti adengan slow motion karena rasanya sedari tadi gadis itu tidak merasa mendarat diatas bumi. Hingga akhirnya gadis berambut pink itu bingung karena tidak merasakan rasa sakit setelah beberapa detik lalu dengan perlahan gadis itu membuka matanya dan memperlihatkan mata hijaunya.
"Ah… A-Arigatou, tuan."
Sasuke hanya mengangkat bahu, "Tidak masalah."
Tadi begitu gadis berambut pink itu hendak jatuh dengan cekatan Sasuke menangkapnya dan akhirnya mengendongnya dengan brydal stlye. Karena digendong seperti itu oleh Sasuke, gadis berambut pink itu dengan jelas dapat menatap wajah Sasuke yang memang sangat dekat dengan kata rupawan-tampan-dan-sempurna apalagi gadis itu digendong ala brydal syle hingga rasanya seperti tengah digendong oleh seorang pangeran berkuda putih. Tak beberapa lama sebuah rona pink yang hampir senada dengan rambutnya muncul diwajahnya.
Mata onyx Sasuke yang melihatnya menyeringai dalam hati dan pura-pura acuh plus tidak peka.
"Meong."
Kucing yang ada dipelukan gadis berambut pink itu mengeong seakan menyadarkan gadis tersebut, "Tuan.. bisa turunkan aku?"
"Tentu." Dengan perlahan Sasuke menurunkan gadis itu dari gendongannya.
"Terima kasih tu—"
"Sasuke Uchiha."
Gadis itu mengedipkan matanya beberapa kali lalu tersenyum lembut, "Sakura Haruno, salam kenal."
"Meong!" kucing itu tiba-tiba berseru, apakah kucing itu bahagia?
"Hn." Sasuke langsung berbalik dan melangkan menjauh dari Sakura serta anak kucing yang dibawa Sakura.
Sakura terdiam lalu mengangkat tangannya dan melambai-lambai untuk Sasuke, "Arigatou Sasuke-san! See you next time!"
"Meong!"
Mendengar sang kucing kembali berseru, senyum Sakura semakin melebar dan memeluk kucing itu erat serta hangat. Matanya terus menatap punggung Sasuke yang semakin menjauh, tak beberapa lama tangan Sasuke terangkat dan melambai pelan untuk Sakura tanpa berbalik. Melihat itu Sakura semakin mempercepat gerakan tangannya dan terus melambaikannya.
"Arigatou!"
Tanpa disadari, sebuah senyum kecil terukir diwajah tampan seorang Sasuke Uchiha.
*FlashbackOFF*
.
.
.
Sakura meniup tehnya perlahan untuk menghilangkan uap yang keluar dari cangkir teh itu yang memang masih terasa sedikit panas, dan menjadi bukti bahwa teh itu baru saja dibuat. Setelah meniupnya Sakura langsung kembali meminumnya perlahan, tidak menyadari bahwa Sasuke tengah menatapnya dalam diam dan menyembunyikan senyum tipisnya dibalik cangkir berisi kopi miliknya.
"Umm.. Sensei," panggil Sakura dan menggenggam cangkir tehnya dengan kedua tangannya.
"Hn?"
"Dia, Naruto kan?" tanya Sakura sambil menunjuk kearah kirinya dengan telunjuk ditangan kanannya.
"Ya, dia Naruto Namikaze," jawab Sasuke sekenanya mengingat pria ini memang irit kata.
"Kenapa bisa ada disini?" kedua manik hijau Sakura langsung menatap Naruto yang tengah tertidur tanpa dan disadari jari tangan kanannya mengelus sisi cangkir tehnya entah mengapa.
Rasanya ini seperti jodoh, dan jodoh emang gak kemana-mana. Seperti Naruto dan dirinya, setiap Sakura disuatu tempat selalu saja akan ada Naruto ditempat itu. Yah, mesti contohnya cuma di Ruang Kesehatan.
Tapi ini semua adalah pertanda jodoh atau hanya kebetulan, kah?
"Kata Sai-san, Inazuka-san, Nara-san dan Aburame-san dia keracunan makanan," jelas Sasuke yang sebenarnya sangat malas menyebut keempat siswa itu satu-satu. Tapi, sepertinya dia masih punya kesabaran disini.
"Oohh. Makanan apa?"
"Bento dari seorang gadis."
Sakura yang tengah kembali meminum tehnya mengernyit, kenapa suara Sasuke jadi lebih.. lebih.. lebih… mirip Sai? Sakura langsung menatap kearah sumber suara, benar saja sudah ada ke-empat SP Naruto disana dan Sai berdiri tepat disamping kiri Sasuke sambil menatapnya datar.
Tunggu!
Apa kata Sai tadi?
Seorang gadis? Siapa?!
Bagaimana bisa? Apa yang terjadi?!
A-apa Naruto punya penggemar?
Oke, yang terakhir adalah pertanyaan bodoh. Tentu saja Naruto punya pengemar! Siapa yang bisa mengacuhkan pesona luar bisa sang pangeran itu?!
"G-Gadis?" ulang Sakura gugup dan mengedipkan matanya beberapa kali.
Entah mengapa Sakura menemukan dirinya benar-benar berbeda dari biasanya, sejak kapan dia mengurusi orang lain dan itu adalah Naruto yang baru saja dikenalnya beberapa hari. Bahkan, saat membayangkan Naruto bersama gadis lain membuat Sakura merasa ada yang salah dari dirinya karena tiba-tiba hatinya terasa sedikit panas.
E-Eh?! Tapi kenapa masakan gadis itu bisa membuat Naruto sampai keracunan? Siapa sih gadis yang mereka mak—
"Dia adalah Sakura Haruno," sahut Shikamaru saat menyadari perubahan ekspresi Sakura.
Oh.
Sakura menghela napas lega, ternyata cuma Sakura Ha—
"N-NANI?!" teriak Sakura kencang saat sadar yang dimaksud Shikamaru adalah dirinya. DIRINYA!
"Ada apa? Loh? Kok kalian sudah ada disini? Sakura-chan, kenapa berteriak?" tanya Ino yang baru masuk kedalam Ruang Kesehatan dan langsung menunjukkan tatapan yang sangat bingung.
"Jeez. Sudahlah, selesaikan masalah kalian." Sasuke meletakkan cangkir kopinya diatas meja dan pergi keluar yang langsung mendapatkan tatapan kecewa dari Ino.
"Sasuke-sensei," guman Ino dengan backgroud kelopak-kelopak bunga yang berguguran karena angin.
Dengan tenang Sasuke berjalan melewati koridor yang dipenuhi para murid dan beberapa guru lainnya tapi dengan tak peduli akan tatapan kagum dan genit yang diberikan para murid perempuan kepadanya, Sasuke terus melangkah. Sasuke sangat benci keramaian dan di Ruang Kesehatan tadi sangat ramai menurutnya. Lalu tanpa Sasuke sadari kakinya secara otomatis melangkah menuju atap sekolah, seperti kebiasannya saat masih duduk dibangku Junior High School dan High School dulu.
.
Sasuke sudah sampai diatap sekolah, alisnya mengernyit saat menangkap sosok gadis berambut panjang yang membelakanginya. Rambut panjang gadis itu terurai dan angin membuatnya bergoyang sedikit, gadis itu berbalik saat menyadari ada orang dibelakangannya.
Begitu matanya melihat wajah gadis itu, Sasuke menghela napas sambil mengangkat sedikit sudut bibirnya. Sedangkan gadis itu menatap Sasuke dengan pandangan sedikit meremehkan.
"Seperti dugaanku, Uchiha-san."
"Keh, hentikan panggilan memuakkan itu."
"Kita perlu bicara."
"Memang susah kalau sudah berurusan dengan tangan kanan Kushina-sama." Sasuke menyeringai seakan-akan mempermainkan gadis yang ada dihadapannya.
Gadis itu menatap Sasuke dengan tatapan tajam, tapi yang ditatapnya malah terkekeh tanpa suara. Entah karena apa Sasuke selalu saja mempermainkan orang-orang yang sedang ingin bicara serius dengannya, merasa masih dipermainkan kedua tangan gadis itu tersilang didepan dada dan terus menunggu keseriusan lawan bicaranya.
"Serta Ibuku," sambung Sasuke dengan seringai diwajahnya yang semakin lebar hingga membuat gadis yang menatapnya tajam menghela napas pelan seakan menahan amarah.
"Kamu tahu bukan itu maksudku."
.
.
.
To Be Continue
Hola! Riz kembali lagi dengan Fanfic My Prince yang udah Riz telantarkan selama... SATU TAHUN LEBIH! (Mohon maaf semuanya! MAAFKAN RIZ!) Padahal pas mau upload ini, Riz kira udah gak update selama beberapa bulan mau setahun ternyata pas Riz hitung ini udah bulan April dan terakhir update bulan maret tahun kemarin.
Riz mencoba kembali menulis setelah rasa-rasanya Writer Block Riz udah hilang *apa ini* setelah buat Fanfic Riz yang judulnya Sugar kemarin~ xD
Jadi mohon maaf jika Chapter ini agak pendek ato mungkin pendek banget. Hah, belum lagi Riz masih harus meluangkan waktu ditengah kesibukan dunia nyata untuk memperbaik/meng-edit chapter 2, 3 dan 4 yang menurut Riz kurang... pas gitu dipandang dan dibaca *ditabok readers*
Oh iya! Riz belum bisa balas secara langsung jadi dari sini aja ya Riz balasnya ^^
.
.
.
Thanks to (with balasan review) :
Ae Hatake : Mungkin karena Riz penuh kejutan~ /plakk/ Oke, ini udah lanjut!
Meika NaruSaku : Emm, gomennasai Meika-san untuk saat ini Riz belum bisa bikin kiss scene buat Naruto sama Sakura. Mungkin di chapter-chapter berikutnya. :)
Lili siUnyik Nasa : Udah lanjut~
afifahfebri235 :Gomennasai karena Riz baru bisa update sekarang *pundung dipojokan kamar*
Blue : Ini Chapter 6-nya udah keluar~~
YashiUchiHatake : Hayo~ Mereka siapa? *digeplak pake panci* Arigato sudah nunggu Chapter 6~ ^^
.
Satu lagi, Riz mohon maaf tapi untuk kecepatan update Chapter berikutnya tergantung dengan banyak review. Jika reviewnya lumayan mungkin tiga ato lima hari lagi bakal update ;) karena review kalian adalah semangat Riz!
XOXO,
Riz Riz 21 (Galaxy)
