My Prince [A NaruSaku Fanfiction]

.

Disclamer : Masashi Kishimoto

Warning : Typo(s), Out Of Character, AU, and more

Riz Riz 21

presented

.

.

.

Chapter VII

.

.

.

Ino menatap keempat bodyguard Naruto yang ada dihadapannya dengan tatapan kesal dan yang ditatap malah cuma bisa menatap balik dengan bingung minus Sai yang terlihat acuh. Oh, tidak-tidak. Saat ini Ino sama sekali sedang tidak kesal, tapi gadis berambut pirang yang sama dengan Naruto itu sekarang benar-benar marah atau bisa dibilang dia sebentar lagi akan murka. Tapi tetap saja empat orang yang ditatapnya malah pasang wajah tak berdosa mengingat mereka memang tidak tahu maksud dari tatapan tajam gadis itu.

"Ke-kenapa?" tanya Kiba takut-takut karena tatapan Ino yang sangat tajam hingga seakan-akan dapat memotongnya hidup-hidup.

Ino menggerang gemas dengan tangan yang terangkat dan mencakar-cakar udara. "Gara-gara kalian, Sasuke-sensei pergi! Argh, apa yang kalian perbuat, sih?!"

"Tidak ada." ujar Shikamaru jujur yang langsung disetujui para sahabatnya.

Ya, memang keempat bodyguard itu tidak melakukan apa-apa. Benarkan?

Mereka tadi hanya mengobrol dengan Sakura, itu pun Sai yang bicara. Tapi, mereka memang tidak melakukan apa-apa hingga membuat Sasuke pergi, kan?

"Huh!" Ino langsung berjalan menuju ranjang tempat Sakura tadi berbaring dan duduk dikursi yang ada disamping ranjang itu.

Sakura hanya bisa menatap Ino dengan bingung lalu matanya tergerak untuk melirik Sai yang sepertinya tengah asik dengan dunia laki-laki itu sendiri entah apa, tiba-tiba kalimat Sai tadi terngiang dikepalanya dan membuat satu pertanyaan langsung lewat dikepalanya.

"Sai-san, Apa maksudnya perkataanmu tadi?" tanya Sakura dengan ragu. "Apa aku yang meracuni Naruto?"

"Iya." bukan hanya Sai yang menjawab pertanyaan itu melainkan kelima manusia yang ada disana hingga berhasil membuat mata Sakura berkedip beberapa kali.

"Eh?!" pekik Sakura dan langsung menatap Ino, mencoba meminta pejelasan dari sahabatnya itu.

"Eem, Sakura-chan. Kamu sepertinya kurang belajar memasak," kata Ino sambil tersenyum kaku.

"Sokka? Sepertinya, soalnya aku tidak yakin dengan masakanku. Kamu tahu Ino? Asapnya berwarna ungu." Sakura mengingat-ingat terakhir kali bentuk masakannya.

Kelima orang disana sudah hampir saja mengacak-acak wajah Sakura yang kelewat polos atau bagaimana, tapi akhirnya mereka malah langsung menunduk atau berbalik dan menghela napas pasrah. Oh, ayolah! Mereka tidak akan tega menyakiti seorang pemilik hati polos seperti Sakura.

"KAMI TAHU!" Kiba frustasi sambil mengacak-acak rambutnya.

Sakura menatap Kiba dengan telunjuk didagunya, "Benarkah? Tapi kenapa kalian tetap memperbolehkan Naruto memakannya?"

"Itu tanyakan saja pada—"

"Ugh." Naruto terbangun langsung duduk diatas ranjang dan menatap semua orang yang ada disana. "Ohayou minna."

Semua orang disana langsung menatap kearah sumber suara yang tadi sempat memotong perkataan Shikamaru yang sekarang tengah mengumankan kata 'merepotkan' karena perkatannya terpotong tadi. Menyadari bahwa Naruto yang baru sadar adalah sumber suara tadi, sontak keenam manusia yang ada disana mengeluarkan ekspresi yang berbeda-beda. Shino hanya bisa memutar bola matanya dibalik kacamata hitamnya, Sai hanya tersenyum palsu dengan sedikit malas, Shikamaru tidak mau tahu dan acuh, lalu Kiba dan Ino tengah berapi-api saat melihat Naruto yang menatap mereka.

BLETAKK!

" 'Ohayou' darimana?! Ini udah siang!" seru Kiba dan Ino yang memukul kepala Naruto secara bersamaan, bahkan mereka juga berucap dengan bersamaan.

"Ohh?konnichiwa minna," ulang Naruto dengan nada kalem dan melupakan rasa sakit dikepalanya.

BYUURR!

Sai melemparkan satu ember berisi air dingin yang entah didapatnya dari mana langsung kewajah Naruto persis seperti saat dirinya membangunkan pangeran itu dari kegiatan mengigaunya jika tengah berada di apartemen ataupun di istana mereka.

"SAI! DINGIN!" teriak Naruto sambil mengelap wajahnya dengan selimut lalu matanya menatap kesekeliling. "Eh? Kenapa aku disini?" tanyanya begitu kesadarannya pulih.

"Kamu pingsan setelah memakan bento dari Sakura-san," jawab Shino dengan tenang.

"Hoooo, benarkah? Padahal aku rasa makanan itu enak!"

Semuanya yang ada disana langsung pasang wajah horror dengan ekspresi 'are-you-kidding-me' yang tiba-tiba mereka dapatkan, minus Sakura yang mengumbar senyuman kaku diwajahnya saat mendengar perkataan Naruto yang lagi-lagi enggak jauh dari kata polos.

"Itu karena Kamu memaksakan diri untuk memikirkan makanan yang enak, padahal makanan yang ada didalam mulut kamu itu—err—" Kiba kesulitan untuk mencari kata-kata yang tepat untuk agar nantinya tidak menyinggung Sakura yang tengah menatapnya.

"Bisa jadi tidak enak!" sambung Shikamaru seenak jidatnya yang anehnya disetujui oleh ketiga teman bodyguard-nya.

"Benarkah?" Naruto menatap kearah kanannya hingga akhirnya matanya dan mata Sakura saling bertatapan, "Hoo! Ternyata Sakura-chan juga di Ruang Kesehatan, ya? Ah! Aku baru ingat! Arigatou untuk bekalnya!" katanya sambil tersenyum lebar.

DOKI! DOKI! DOKI!

Sakura merasa pipinya memanas dan dengan cepat langsung menatap kearah lain, mecoba untuk menghindari kontak mata dengan Naruto. Senyuman lebar terlihat diwajah Ino yang tanpa sengaja melihat pipi Sakura yang memerah, Kiba yang sedari tadi memperhatikan terlihat bingung saat Sakura membuang muka dikarenakan Kiba memang adalah salah satu contoh makhluk tidak peka kedua setelah Naruto yang ada di ruangan itu, berbeda dengan ketiga teman serangkainya tidak tertarik untuk mencari tahu dan tidak memperhatikan meski mereka sebenarnya bisa dengan mudah mencari tahu apa yang terjadi.

Meski membuang muka, sesekali Sakura menyempatkan diri untuk melirik Naruto tetapi yang ada detak jantung semakin cepat. Ini seperti saat Sasuke meletakkan thermometer pada mulutnya! Hanya ini sedikit berbeda atau mungkin sangat berbeda. Saat ini detak jantungnya lebih cepat daripada yang tadi. Naruto masih tersenyum tapi dengan tatapan bingung karena Sakura yang masih asik menatap kearah lain.

"Sakura-chan?" panggil Naruto yang merasa Sakura sepertinya tidak ingin menatap wajahnya, bahkan gadis berambut merah muda itu belum merespon ucapan terima kasihnya.

"A-Ah! Dooitashimashite," kata Sakura sambil menunduk dan masih sesekali curi-curi pandang kepada Naruto dibalik helaian rambutnya yang sedikit menutupi wajahnya.

Naruto semakin memperlebar senyumannya, "Kamu terlihat sangat kawaii, Sakura-chan!" secara spontan Naruto langsung bangun dan meloncat kecil dari ranjangnya untuk memeluk Sakura bahkan secara tak sengaja tangannya menyenggol Ino yang berada disisi ranjang Sakura.

"KYAAAA!"

"HOY! Pangeran MESUM!" teriak Ino, Sai, Shino, Kiba dan Shikamaru repleks hingga memukul kepala Naruto.

.

.

.

SAKURA POV

Dengan tenang aku melangkah kakiku menuju gerbang sekolah dan tak lupa memasang senyuman ceria diwajahku yang sempat aku lupakan kemarin. Ah! Lagi-lagi, aku juga lupa untuk berterima kasih kepada Naruto kemarin dan malahan dia yang berterima kasih kepadaku, padahalkan isi bentoku sempat membuatnya pingsang dengan mulut berbuih begitu Ino menceritakan semua kejadian yang ditimbulkan oleh isi bentoku itu.

Sejak mendengar cerita Ino tentang kenapa Naruto sampai pingsan, aku menjadi sedikit takut untuk kembali memasak dan memang memasak bukanlah bakatku berbeda dengan Hinata yang memang sudah sangat hebat dalam memasak. Sepertinya aku memang perlu berguru pada Hinata, dia juga merupakan ketua klub memasak disekolah, belum lagi biskut, cake, cokies, dan cemilian buatanya sangat enak!

Umm, Hinata memang sangat luar biasa.

Sebelum aku memasuki gerbang yang masih ada sekitar beberapa meter lagi, terlihat sosok gadis berambut indigo yang juga tengah berjalan dihadapan menuju gedung sekolah dan seketika itu langsung aku percepat langkahku dan merangkul lengan gadis itu.

"Ohayou, Hinata-chan!" sapaku dengan nada ceria seperti biasanya.

"A-ah, Ohayou Sakura-chan." terlihat Hinata sedikit terkejut karenaku tetapi dia tetap mengeluarkan senyuman anggunnya.

"Gomen, aku mengejutkanmu?" Aku berjalan disamping Hinata.

Hinata mengeleng sopan dan tersenyum, "Iie, aku saja yang melamun."

Aku berdiri dihadapan Hinata dan memandangnya gemas, "Kamu memang kawaii, Hina-chan!" aku langsung mencubit kedua pipi chubby-nya.

"Aaaa, I-Ittai Sakura-chan," ujar Hinata sambil meringis dan aku pun langsung melepaskan cubitanku.

.

.

.

"Ne, Hinata-chan!" panggilku saat kami sudah berada dikawasan loker murid-murid.

"Ada apa?" tanya Hinata sambil membuka lokernya yang ada disamping kanan lokerku.

"Bisa kamu buatkan aku biskut lagi, aku kangen biskutmu Hinata-chan~" pintaku sambil menatap Hinata dengan penuh harap, aku memang sangat merindukan biskut buatannya.

Hinata memasukan sepatunya dan mengeluarkan sepatu sekolah, "Tentu saja, Sakura-chan."

"Arigatou!" aku langsung memasang sepatu sekolahku dengan cepat dan berjalan duluan—aku harus mencari Naruto, kan? "Aku duluan Hinata-chan!"

"Ha'i" Hinata tersenyum.

Aku sedikit berlari-lari kecil di koridor sekolah menuju kelas meski aku tahu benar bahwa adanya larangan berlarian di koridor sekolah. Tapi aku cuma berlari kecil bukan berlarian seperti dikejar setan hingga mendapatkan sebuah sangsi, kan? Sesekali aku bersenandung riang, entah mengapa aku merasa hari ini hari yang sangat baik. Semoga sa—

BRUUUK!

"Aww!" sontak aku langsung terjatuh.

"Gomenasai, daijobuka?" orang yang kutabrak atau mungkin orang yang menabrakku itu mengulurkan tangannya untuk membantuku berdiri. "Eh, Sakura-chan?!" suara melengking yang tidak asing dan mengingatkanku pada seseorang.

Aku mengangkay kepalaku dan mendapatkan sepasang mata biru laut yang menatapku dengan lembut, "Naru—"

"KYAAAAA! PANGERAN NARUTO!"

Teriakan histeris para siswi-siswi berhasil memotong perkataanku secara langsung, aku tahu Naruto memang sangat mempesona dan tampan tapi apa perlu berteriak sehisteri itu memangnya ada yang aneh pada Naru—to?

"GAAHH! NARUTO! KENAPA TELANJANG DADA GITU?!" teriakku dengan kaget dan langsung berdiri, "Eh, rambutmu juga basah?!" sambungku sambil memekik lengkap dengan wajah merona dan aku membelakangi Naruto.

"AAAAA! PANGERAN KEREN!"

"Ohh, habis nakap ikan disungai dekat sekolah, buat menghemat biaya makan," jelas Naruto dengan santai dan begitu singkat.

"Ah, begitu?" Jujur, aku masih kurang mengerti tapi aku hanya meng-iyakan penjelasannya.

Beberapa detik kemudian, Kiba, Sai, Shino dan Shikamaru datang dengan ikan yang sepertinya hasil tangkapan Naruto didalam jaring dan serangam sekolah Naruto yang ada ditangan Sai. Lalu dengan begitu cepatnya Naruto dikelilingi oleh keempat bodyguard nya itu, terlihat Shino yang tengah memakaikan kemeja putih sekolahnya, Kiba menyisir rambutnya, Sai mengeringkan rambutnya yang belum disisir oleh Kiba, dan Shikamaru yang malah asik dengan ikan-ikan hasil tangkapan yang ada dijaring.

Tunggu! Kenapa aku baru ingat! Inikan hari pertama Naruto menjadi pangeran miskin?!

"Naruto," panggilku dengan nada yang lemas.

"Ya?" Naruto sudah terlihat seperti biasanya, rapi dan begitu mempesona dibalik balutan seragam sekolahnya.

"Kamu, benar-benar jadi Pangeran miskin sekarang?" tanyaku ragu bahkan tidak berani untuk menatap Naruto.

"Ya begitulah," jawab Naruto sambil tersenyum lebar saat aku meliriknya.

"KYAA! JADI RUMOR ITU BENAR?! TAPI, KENAPA PANGERAN BISA JADI PANGERAN MISKIN?!"

Pekikan dari para murid itu membuat diriku menciut, aku yakin seratus persen bahwa yang membuat Naruto mengalami hal ini—menjadi pangeran miskin karena biaya operasi ibuku yang sangat mahal. Iya, kan? Tapi sekarang bagaimana? Aku mengigir bibir bawahku dengan keras, memcoba berpikir dan bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada Naruto sekarang.

"Na—"

"Lho? Sakura-chan? Aku kira kamu udah ada dikelas" panggil seseorang dibelakangku yang tidak sengaja memotong perkataanku, Hinata.

"Ah, iya. tadi aku tidak sengaja menabrak Naruto," jelasku dengan cepat.

"Oh, bagaimana kalau kita kekelasnya bareng Sakura-chan, Naruto-san, Kiba-san, Sai-san, Shino-san, Shikamaru-san? Lima menit lagi bel berbunyi," kata Hinata sopan sambil menatap jam tangannya.

Aku salut, Hinata memanggil kami satu persatu begitu? Ah, jadi ingat saat Sasuke-sensei saat menyebut nama keempat bodyguard Naruto itu kemarin. Tanpa aku sadari aku tersenyum kecil yang membuat Hinata menatapku heran karena tatapan mata kami tidak sengaja bertemu.

"AYO!" Naruto langsung berbalik dan membelakangiku lalu berjalan layaknya pimpinan kami menuju kelas.

.

.

.

Hari ini kami semua—Aku, Naruto, Ino, Hinata, Kiba, Shino, Sai dan Shikamaru makan siang diatap sekolah, diatap sekolah kami sedang asik memanggang beberapa ikan hasil tangkapan Naruto tadi pagi. Yah, meski aku penasaran darimana keempat bodyguard Naruto yang aneh bin ajaib itu mendapatkan alat pemanggang dan ijin dari guru.

"Eem! O-oishi!" pekik Naruto sambil menahan rasa panas pada ikan panggang yang baru saja digigitnya.

"Baka! Harusnya Kamu meniupnya perlahan!" sahut Ino sambil menatap Naruto dengan tatapan kasian.

"Habisnya aku sudh kelaparan." Naruto hanya nyengir.

Aku hanya menatap ikan panggang milikku dalam diam, ada sedikit rasa tidak nyaman jika aku memakan ikan ini. Ikan yang didapatkan Naruto dengan usahanya sendiri,

"Ada apa Sakura-chan?" tanya Hinata dengan pelan yang terlihat khawatir.

"A-ah! Iie, Itadakimasu!" ujarku dan langsung memakan ikan panggangku dengan perlahan tapi sedetik kemudian aku kembali terdiam.

"Sakura-chan?" panggil Hinata lagi, suaranya lebih pelan tapi aku masih dapat mendengarnya.

Tanpa aku sadar semua orang disana menatapku heran dan bingung belum lagi gayaku yang sedang mengunyah daging ikan panggang dengan sangat pelan semakin membuat mereka semua menatapku.

"Saku—"

"OISHI!" pekikku, sungguh ikan ini enak sekali! Ah, aku sampai-sampai memotong panggilan Naruto.

"Hoo! Apa aku bilang Sai! Aku memang jago masak ikan!" Kiba membusungkan dadanya bangga dihadapan Sai yang tadinya tidak percaya bahwa ia bisa memasak ikan panggang.

"Heh." Sai hanya menghela napas dan membuang muka.

"Aku mau coba!" Shikamaru mengambil sesuir daging ikan panggang milik Hinata tanpa permisi.

"E-Eh?" Hinata menatap Shikamaru bingung tapi langsung tersenyum maklum, "oishi?"

Shikamaru mengangguk lalu menoleh kearah Kiba yang masih sibuk dengan alat pemanggangnya, " Kiba! Ikan ini benar-benar merepotkan! Berikan aku satu!" dan Kiba hanya meng-iyakan.

"Ini enak, Kamu tidak mencoba ikan panggangmu Ino-san?" Shino menatap Ino yang belum memakan ikannya.

"A-aku akan memakannya!" Ino tersentak kaget dan langsung memakan ikan panggangnya "—benar, ini enak."

Aku tersenyum kecil saat melihat Ino yang memakan ikan panggangnya, sebenarnya Ino punya sedikit trauma dengan ikan panggang saat kami masih duduk dibangku Junior High School. Tapi sepertinya trauma itu sudah menghilang, dan itu hilang dengan cepat hanya karena acara makan ikan panggang yang tidak jelas ini. Aku terkekeh pelan mengingatnya.

"HOI! Itu ikanku!" rengek Naruto pada Sai yang tengah membawa piring berisi satu ekor ikan panggang.

"Tidak boleh!" Sai acuh dan berjalan menjauhi Naruto.

"Hooooo! NANDE?!"

"Ini jatah untuk Kiba, pangeran! Tolong anda ingat itu!"

"Arigatou Sai!" seru Kiba yang secara tiba-tiba berdiri disamping Sai dan mengambil piring yang ada ditangan laki-laki berkulit pucat itu.

"Eh?" Sai langsung menatap tangannya yang sudah tidak membawa apa-apa lalu menatap Kiba yang tengah nyengir. "Dasar."

"KIBA! ITU IKANKU!" Naruto mengejar Kiba.

Kiba menjulurkan lidahnya, "Ini punyaku!"

Terjadilah kejar-kejaran yang menyerupai lingkaran yang tidak jelas diatap sekolah, sesekali Kiba berlari sambil memakan ikan panggangnya yang berhasil membuat teriakan Naruto semakin keras dan memekikkan telinga. Hingga akhirnya kejar-kejaran itu terhenti karena ikan yang diatas piring yang diperebutkan itu sudah habis dan Naruto juga mulai lelah serta jam yang menunjukan bahwa waktu istirahan hampir habis.

Hinata dan aku mengumpulkan piring-piring serta alat-alat lainnya yang kami gunakan tadi, Ino membuang sampah kebak sampah yang ada diatap, Sai, Shino, dan Kiba tengah membersihkan alat panggangannya, dan Shikamaru sedang tertidur atau mungkin cuma sedang memejamkan mata.

CREK!

Aku menoleh kebelakang, jari-jari tangan Naruto sedang menyentuh kawat-kawat pembatas yang ada diatap. Karena tugasku dan Hinata sudah selesai, aku berjalan menuju Naruto yang membelakangiku hingga akhirnya kami saling menatap arah yang sama.

"Ano, Naruto!" panggilku dengan suara pelan.

Naruto langsung berbalik lengkap dengan senyum cerahnya, "Ada apa?"

"Doomo Arigatou Gozaimasu! Karena sudah menolong ibuku!" aku membungkukkan badanku, "Maaf aku baru mengucapkannya sekarang, uangmu pasti akanku kembalikan."

"Tidak perlu, aku ini pangeran," ujar Naruto sambil tersenyum lalu mengangkat daguku. "aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan."

"M-Mana bisa begitu?! Kamu jadi pangeran miskin karena biaya operasi ibuku kan?!"

"Harus begitu! Lagi pula, menyelamatkan nyawa orang lain berbeda dengan menjadi seorang pangeran miskin," Naruto membelakangiku dan menyentuh kawat pembatas itu lagi.

"Satu hal yang kuingat, 'Pangeran adalah orang yang berdiri didepan dan dihormati orang-orang. Jadi, tidak boleh keberatan melakukan sesuatu.' Itulah yang diajarkan ayah padaku." Naruto menatap langit dan angin semilir menyapa kamu berdua, "Karena itu, sebagai seorang pangeran aku akan melakukan apa yang seharusnya aku lakukan."

DEG.

Naruto kembali berbalik dan menatapku lembut serta memberikan senyum simpulnya—bukan senyuman lebar yang biasanya, jujur aku merasa Naruto benar-benar pangeran yang bisa melakukan banyak hal. Dia bisa menolong orang yang kesulitan, dan itu adalah hal yang tidak bisa dilakukan banyak orang.

DEG.

Ah, aku yakin rona merah sudah menghiasi wajahku.

DEG.

Padahal dulu aku pikir, Naruto adalah pangeran yang hanya dikeliling pelayannya. Tapi, aku salah. Naruto adalah pangeran yang memiliki hati yang tulus dan bersih.

"PANGERANN!" teriak seseorang yang berhasil membuatku dan Naruto menoleh kearah sumber suara.

Eh?

"Kiba apa yang Kamu lakukan?! Kenapa wajahmu jadi berwarna hitam?" tanya Naruto yang berjalan mendekati Kiba yang terduduk dan membantunya berdiri.

Kiba tersenyum penuh arti, "Gotcha!" Kiba langsung mencoret pipi Naruto dengan arang hitam yang ada ditangannya.

"Eh? Kenapa bisa?" tanyaku yang langsung menatap Hinata.

"Tadi alat pemanggangnya tidak sengaja jatuh dan menimpa Kiba-san, jadi Kiba-san mencoret mereka semua," jelas Hinata dengan singkat.

"Ah." Aku menatap Shikamaru dengan wajah penuh coretan dengan heran tapi selanjutnya sebuah senyuman pun mengembang pada wajahku. "Aku ikut!"

"Kiba! Rasakan ini! Sakura-chan juga!" Naruto mulai mengejarku dan Kiba.

"Hihihi, ayo kejar!"

"Kiba! Aku balas kamu!" seru Sai dengan wajah yang juga penuh coretan—ulah Kiba sepertinya.

"Hmmm." Shino terlihat lucu dengan tampang datar tapi dengan coretan melingkar dipipinya.

"Hinata-chan juga! Ino-san!"

"KYAAA!"

Sepertinya kami akan terlambat masuk, padahal tinggal tiga menit lagi waktu istirahat akan berakhir. Tapi kan, Kami baru saja mulai permainnya! Jadi tidak ada salahnya jika hanya terlambat beberapa menit. Aku langsung mengejar Hinata begitu menyadari wajah sahabatku itu masih cukup bersih diikuti Ino dan lain.

"HINATA-CHAN!" teriak kami bersama dan saat itu juga dapat aku lihat senyuman jahil yang terukir diwajah Hinata.

END SAKURA POV.

.

.

.

To be continue


Thanks for reading.

.

Special thanks to (with reply to review) *maaf karena pas update kemarin belum sempat karena kesibukan dunia nyata* :

Ai-lea Narura : Iya, tenang aja kok fict ini enggak bakal di-discontinue. Riz berusaha agar semua fict Riz enggak ada yang discontinue :)

Hikari Cherry Blossom24 : Thank you karena udah rela nunggui fict ini xD. Untuk update kilat, ah.. maafkan Riz.

entin : Yey, ada yang bilang fict Riz keren :D . Makasih ya, maaf kalo enggak update kilat.

bigfans : Makasih udah rela nunggu update fict ini. ^^

Guest (1) :

Guest (2) : Iya tuh, Naruto lucky banget x3

.

Mind to review please?

.

XOXO,
Riz Riz 21 [Galaxy]