My Prince [A NaruSaku Fanfiction]

.

Disclamer : Masashi Kishimoto

Warning : Typo(s), Out Of Character, AU, and more

Riz Riz 21

presented

.

.

.

Chapter VIII

.

.

.

Semilir angin mengoyangkan beberapa helai rambut Shikamaru yang masih asik memejamkan kedua matanya dan mengacuhkan semua suara ribut dari teman-temannya yang Shikamru ketahui tengah saling sibuk mencoret untuk wajah mereka satu sama lain.

Shikamaru sedikit-sedikit mengumankan sebuah lagu yang disukainya tetapi tidak terlalu ingat liriknya, bahkan Shikamaru juga sadar betul bahwa Kiba dan Naruto tadi asik mencoret-coret wajahnya. Hanya saja diam dan tidak peduli menjadi pilihan Shikamaru karena memarahi mereka adalah hal yang sangat merepotkan baginya. Apalagi fakta bahwa Kiba dan Naruto kan memang si duo pembuat onar baik di kerajaan ataupun disini.

Jadi pura-pura tidak tahu adalah hal yang lebih baik dan Shikamaru memang suka untuk berada terus didalam zona aman. Meski laki-laki dengan model rambut mirip buah nanas itu sadar betul bahwa ada kalanya nanti dirinya harus keluar dari zona amannya.

"Kita dipastikan hidup bahagia selamanya!" seru Shikamaru yang tentu saja langsung disadari keenam temannya yang masih asik saling mencoret wajah.

Naruto, Kiba, Sai, Shino, Sakura, Hinata, dan Ino menatap Shikamaru yang sedang berbaring dengan mata tertutup dengan tatapan bingung sebelum sebuah senyuman mengembang dikeenam wajah mereka.

Benar-benar kejadian langka untuk melihat Sai dan Shino benar-benar tersenyum tulus.

"SHIKAMARU!" teriak Naruto dan Kiba sebelum akhirnya mereka semua berenam langsung berlari menuju kearah Shikamaru.

Shikamaru yang mendengarnya hanya menghela napas. "Merepotkan," gumannya meski begitu siapa yang akan menyangka bahwa seulas senyum terukir diwajahnya.

Tanpa disadari siapapun, sedari ada ada seseorang yang berencana ingin menyendiri di atap terpaksa membatalkan rencananya. Seseorang dari tadi memilih untuk bersender dibelakang daun pintu tangga menuju atap sekolah—sambil mendengarkan semuanya kedua matanya menatap langit-langit dan menghela napas.

"Ramai sekali, dasar anak-anak itu." Pemuda berambut raven itu mulai melangkah pergi menjauh dari pintu dan menuruni tangga.

.

.

.

"Eh? Dimana Hinata-chan?" tanya Sakura begitu melihat Ino yang mendudukkan diri dikursi yang ada dihadapannya.

"Dia sedang ada urusan mendadak, jadi tidak bisa datang," jawab Ino sambil mengangkat kedua bahunya sedikit—menandakan bahwa gadis berambut pirang panjang itu juga tidak tahu urusan mendadak apa yang dialami Hinata.

"Ah, begitu…." Sakura tersenyum tipis dan meminum jus apel yang tadi sempat dipesannya.

Saat ini Sakura dan Ino tengah berada disebuah café yang berada tepat di pusat kota Tokyo, untuk apa mereka berada disini? Biasanya mereka akan melakukan hal yang sering disebut dengan hangout, hanya saja kali ini sedikit berbeda. Sakura sengaja mengajak Ino dan Hinata kemari—sayangnya Hinata tidak datang—karena ingin membicarakan sesuatu yang tengah memberatkan pikirannya.

"NANI?" Ino hampir saja menyeburkan jus mangga yang diminumnya, meski sebenarnya jus mangga itu sedikit mengalir keluar di bibirnya.

"Ino," tegur Sakura sambil memberikan selembar tisu pada Ino.

"Gomen-gomen, aku hanya terlalu kaget." Ino menerima tisu yang diberikan Sakura dan nyengir. "Jadi? Naruto, maksudku Pangeran Naruto yang membiayai operasi ibumu?"

"Begitulah."

"Ah, kamu sangat beruntung Saku-chan!" seru Ino lengkap dengan wajah penuh maknanya. "Sepertinya kamu sudah menjadi salah satu orang penting bagi Pangeran Naruto."

"Tidak. Naruto juga akan melakukan hal yang sama bahkan jika itu adalah orang yang tidak dikenalinya," jelas Sakura yang teringat dengan perkataan Naruto saat di atap sekolah kemarin. "Dia hanya terlalu baik pada orang-orang."

Ino tersenyum lembut. "Aku mengerti. Pangeran Naruto memang selalu mementingkan orang lain dibandingkan dirinya," katanya begitu menyadari sifat Naruto selama ini—khususnya saat Pangeran muda itu memakan bekal buatan Sakura.

"Menurutmu apa yang harus aku lakukan? Karena aku sekarang Naruto menjadi Pangeran Miskin. Aku tidak bisa membayangkan dia tidur dimana saat malam menjelang."

"Umm, mungkin kamu bisa membantunya dengan membuatkannya makanan."

Sontak Ino langsung menutup mulutnya dengan tangannya, dalam hati dirinya merutuki apa yang telah dikatakan oleh mulutnya.

"Kamu tahu kan kalau masakanku saja kemarin hampir membunuh Naruto," lirih Sakura yang tengah menundukkan kepalanya dengan lesu. "Andai saja aku bisa masak enak seperti Hinata."

Dalam hitungan detik, Ino langsung menjalankan pikiranya yang biasanya selalu mengeluarkan ide-ide hebat berserta solusi-solusi yang menakjubkan. Meski sepertujuh pikirannya hanya dipenuhi oleh gosip-gosip terupdate. Yah, setidaknya pikiran Ino masih bisa berjalan untuk memberikan ide dan solusi disaat sahabat-sahabatnya memerlukan yang namanya jalan keluar dari masalah.

"Setidaknya kamu bisa masak onigiri, Sakura-chan." Ino menyilangkan kedua tangannya didepan dada dan dagu yang sedikit terangkat—sedikit sombong dengan apa yang didapatnya dari pikirannya. "Kamu bisa memasak onigiri untuk Pangeran Naruto."

"Onigiri?"

"Iya, onigiri. Dan lagi onigirimu buatanmu itu enak, ingat tidak saat kita masih junior high school? Anak-anak di kelas kita menyukai onigiri buatanmu!"

Sakura terlihat berpikir lalu seulas senyum terlihat diwajahnya. "Kamu benar Ino-chan! Aku akan buat onigiri untuk Naruto dan keempat bodyguardnya."

.

.

.

"Harusnya kamu tidak boleh melakukan ini, Hinata-sama."

Hinata hanya tersenyum mendengarnya dan membiarkan seseorang di ruang tamu yang harusnya tidak boleh dibantunya tengah asik memakan cemilan yang berasal dari dalam kulkasnya. Sejenak Hinata merasa sedikit bersalah karena tidak mendatangi café tempat dirinya berserta Sakura dan Ino janjian untuk hangout bersama.

Tapi mau bagaimana lagi, seseorang yang tengah asik makan itu tiba-tiba datang didepan pintu apartementnya dengan muka memelas seperti kucing yang minta makan. Jadi tidak ada salahnya kan membantu seseorang itu?

"Akh! Bagaimana jika Ratu Kushina tahu nanti?!"

Lagi-lagi Hinata hanya tersenyum kecil sebelum akhirnya pergi meninggalkan orang yang sejak tadi menjadi teman bicaranya dan berjalan menuju seseorang yang menghabiskan cemilannya.

"Hinata-sama!"

"Tenanglah, Inuzuka."

.

.

.

Pagi ini Sakura bangun lebih awal dari bisanya, sekitar dua jam lebih awal. Dari awal bangun, Sakura langsung buru-buru pergi kedapur dan mempersiapkan segala perlengkapan serta bahan-bahan untuk membuat onigiri dengan porsi jumbo—tidak ada yang tahu berapa banyak onigiri yang perlu dibuatnya untuk Naruto, kan?

Meski kemampuan Sakura untuk memasak itu nol jongkok, tapi kemampuan gadis bersurai merah muda itu untuk membuat onigiri bisa diacungi jempol.

Satu jam sebelum sekolah dimulai, Sakura sudah selesai membuat onigirinya. Satu kotak besar yang dibungkus rapi dibawah meja makan itu onigiri khusus untuk Naruto dan keempat bodyguard pangeran itu, dan sepiring onigiri diatas meja dibuat Sakura untuk sarapan ayahnya. Merasa semuanya sudah lengkap, Sakura langsung bergegas untuk berangkat ke sekolahnya setelah meninggalkan memo kecil disamping piring onigiri untuk sang ayah.

Tokyo High School terlihat sangat sepi, tentu saja. Lagian siapa juga yang datang ke sekolah pada pukul setengah enam pagi sedangkan sekolah dimulai pukul setengah delapan? Kenapa Sakura datang ke sekolah sepagi ini? Jawabannya hanya satu untuk menemui Naruto dan kroni-kroninya.

Lagian dimana lagi Pangeran muda itu akan tidur sedangkan tempat tinggalnya sudah disita oleh wanita berambut pirang beberapa hari yang lalu dan lagi Sakura pernah mendengar bahwa Naruto memang tidur di sekolah sejak jadi Pangeran miskin. Ah, rasa bersalah Sakura menjadi semakin besar. Langkah kaki Sakura mulai melambat, sejak tadi kakinya sudah melangkah keliling sekolah hanya untuk mencari Naruto. Awalnya Sakura mengira Naruto akan tidur di kelas tapi kelas mereka tadi sangat sepi dan tidak ada tanda kehidupan disana.

Semangat Sakura hampir hilang kalau saja kedua matanya tidak melihat sosok laki-laki bersurai coklat dengan tato segitiga terbalik dikedua pipinya yang tengah menyikat gigi sambil berjalan.

"KIBAAAAA!"

"Uhuk! Uhuk!" sontak laki-laki yang diketahui sebagai Kiba itu hampir tersedak oleh sikat gigi yang ada didalam mulutnya.

"Jadi memang benar kalau kalian tidur disekolah?" tanya Sakura yang sudah berdiri tepat dihadapan Kiba lalu menilai pakaian yang sedang dikenakan laki-laki itu—kaos putih dengan celana pendek.

"Kamu mengagetkanku." Kiba tidak menjawab pertanyaan Sakura karena kedua matanya langsung tertuju pada sesuatu berbentuk kotak yang terbungkus dan dibawa oleh gadis bersurai merah muda dihadapannya itu. "Apa itu?"

"Himitsu!" Sakura tersenyum lebar. "Jadi? Dimana Naruto?"

"Oh, dia masih tidur di ruang kesehatan. Jangan bilang kamu datang pagi-pagi buta ke sekolah cuma untuk me—"

Kiba terlambat, Sakura sudah berlari cepat menuju ruang kesehatan—satu-satunya tempat yang tidak diperiksa oleh gadis itu tadi.

"Hey!"

.

.

.

Benar kata Kiba, Naruto masih tidur begitu juga dengan Sai dan Shikamaru.

Naruto tidur di kasur yang sama seperti saat Pangeran muda itu hampir saja mati karena keracunan makanan, Sai tidur pada kasur yang dulu ditempati Sakura, sedangkan Shikamaru seperti beberapa hari ini terpaksa tidur sambil duduk dikursi milik Sasuke. Diantara dua kasur yang ada di ruang kesehatan, terlihat seonggok kain tipis yang membentai dilantai serta sebuah guling diatasnya—mungkin itu tempat Kiba atau Shino tidur.

"Ah, harusnya aku tidak makan banyak kemarin," kata Sai yang tiba-tiba sudah terduduk diatas kasur tapi kedua matanya masih terbuka separuh.

"Ohayou," sapa Sakura dengan ramah dan ceria tentu saja.

"Sakura?" kedua mata Sai langsung membuka dengan sempurna dan menatap Sakura dengan heran. "Kenapa kamu ada disini? Ah, ini sudah jam berapa?"

"Umm, ini masih jam enam kurang sepuluh menit."

"APA?" pekik Sai yang langsung memengang keningnya. "Kenapa aku tidak mengontrol nafsu makanku kemarin," katanya pada dirinya sendiri dan berdiri disisi kasurnya.

"Huaaa~!" Shikamaru yang juga baru bangun langsung menguap, kedua matanya yang menemukan sosok gadis dengan surai merah muda yang mencolok langsung mengernyit heran. "Kenapa kamu sudah ada di sekolah?"

"Benar juga. Kenapa kamu sudah di sekolah padahal ini masih pagi sekali?" Sai menatap Sakura dengan tajam.

"Aku membawakan kalian semua onigiri untuk sarapan!" seru Sakura dengan semangat yang berlebihan.

"Entah mengapa aku mendengar adanya kata 'onigiri khusus untuk Naruto', eoh?" kata Kiba yang masuk kedalam ruang kesehatan dengan santainya lalu melipat seonggok kain yang ada dilantai tadi.

Sakura mengerucutkan bibirnya dengan kesal, "Aku membuat ini semua khusus untuk kalian tahu!"

"Ya-ya, arigatou." Kiba berkata sekenannya.

"Boleh aku membangunkan Naruto?" tanya Sakura dan menatap ketiga laki-laki yang sudah terjaga disana.

"Tentu. Tentu saja, bangunkan saja dia," jawab Sai dengan cepat—entah mengapa. "Aku harus bersiap dulu," sambungnya dan pergi dari ruang kesehatan.

"Dan aku harus mencari Shino, ah… semalam dia tidur dimana ya? Merepotkan sekali." Shikamaru juga berjalan keluar tepat dibelakang Sai.

"Baiklah!" Sakura meletakkan kotak besar berisi onigiri porsi jumbonya disisi kasur tempat Naruto tidur.

"Aku akan berjaga-jaga kalau saja Pangeran melakukan sesuatu," kata Kiba dengan ambigu (yang tidak digubris oleh Sakura) dan duduk ditepi kasur tempat Sai tidur tadi, kedua matanya mengamati Sakura yang mulai mencoba membangunkan Naruto.

"Naruto…?" panggil Sakura sambil mengoyangkan sedikit bahu Naruto. "Naruto, bangun. Ini sudah pagi."

"Ugh." Naruto berguman dalam tidurnya.

"Ayo bangun."

Kiba terkekeh lalu berkata, "Kamu tidak akan bisa membangunkannya, Pangeran harus disiram dulu dengan air dingin baru bisa bangun."

Sekarang, Sakura memang yakin bahwa Kiba itu adalah manusia yang sangat menyebalkan.

"Naruto bangun, kamu tidak mau disiram dengan air dingin lagi, kan?" Sakura kembali mengoyangakn tubuh Naruto.

"Ugh." Lagi, usaha Sakura hanya dibalas dengan gumanan tidak berarti.

"Naru—"

Kelopak mata Naruto mulai terbuka, menampilakan setengah manik birunya yang indah. Sakura terus saja kembali terpesona setiap kali kedua matanya bertemu dengan kedua manik biru milik Naruto, rasanya seperti ada sesuatu yang menariknya untuk terus memperhatian kedua manik indah itu.

"Aroma onigiri…" kata Naruto dengan serak—khas orang yang baru bangun tidur.

"Ah, iya. Aku membawakan—"

SREKKK!

"—Kyaaa!"

.

.

.

SAKURA POV

BUK!

Kedua mataku langsung melebar dengan sempurna dan memancarkan kekagetan mendalam begitu sadar bahwa sekarang tubuhku terbaring dengan nyamannya diatas kasur tempat Naruto tadi tidur dan jangan lupakan Naruto yang sekarang hampir saja menindihku jika kedua tangannya tidak menahan tubuhnya sambil mengenggam kedua tanganku yang ada dikedua sisi kepalaku.

Naruto menatapku dengan begitu dalam meski kedua matanya belum terbuka dengan sempurna, wajah kami sangat berjarak cukup dekat dan saat itu aku menyadari bahwa wajah Naruto bukan hanya tampan. Wajahnya terlihat lebih condong kearah rupawan dan sempurna, jantungku berdetak semakin cepat dan cepat saat dengan perlahan Naruto semakin mendekatkan wajahnya pada wajahku.

"Aroma onigiri," kata Naruto lagi.

Tunggu! Apa? Onigiri? Aku menatap Naruto dengan takut-takut, jangan bilang kalau Naruto ngelindur? Secara repleks langsung kupejamkan kedua mataku dengan erat saat aku merasakan ujung hidung Naruto yang menyentuh pipiku.

"Selamat makan…."

A-APA? Tu-tunggu dulu, aku bukan onigiri!

Sungguh, aku mencoba berteriak tapi suaraku seakan menghilang jadi aku hanya bisa berharap siapapun—Kiba! Bukankah Kiba tengah duduk ditepi ranjang disebelah? Kenapa dia tidak menolongku? Tubuhku menengang saat merasakan bibir Naruto mulai menyentuh kulit pipiku— tidak! Wajahku jadi terasa panas!

BYURRR!

Mataku kembali melebar disusul dengan perasaaan dingin yang mulai merambat disekujur tubuh bagian atasku. Aku menatap Naruto yang sekarang wajahnya sudah menjaga jarak dari wajahku dan kedua matanya melebar—terlihat antara kaget dan bingung.

"Dasar Pangeran mesum!"

BRUKK!

Naruto sudah tidak ada diatasku, sekarang dia berada dibawah lantai dengan kepala terlebih dulu yang mendarat. Aku mendudukkan diri lalu menemukan Kiba, Sai, Shino, dan Shikamaru yang mengeluarkan aura gelap yang begitu mengitimidasi. Aku hanya bisa tersenyum cangung dan menatap seragamku yang sedikit basah, berbanding terbalik dengan tubuh Naruto yang hampir seluruh bagian belakang tubuhnya sudah basah kuyup.

"Aww!" Naruto terduduk dilantai menatap keempat bodyguard-nya dengan tatapan kesal. "Kenapa kalian mendorongku ke lantai?"

"Tentu saja untuk menghalangimu bertindak mesum!" seru Kiba yang berhasil membuat Naruto mengeluarkan raut wajah bingung.

"Hah? Bertindak mesum? Tadi aku hanya ingin makan onigiri!" elak Naruto sambil bediri.

"Onigirinya atas disamping kasurmu, bukan diatas kasurmu," kata Shino dengan tenang yang disambung oleh anggukan meng-iyakan dari Kiba, Sai, dan Shikamaru.

"Eh?" Naruto menoleh kearahku yang langsung membuatku salah tingkah. "SAKURA-CHAN?!"

Aku kembali tersenyum canggung, ternyata Naruto tadi memang ngelindur. "Ohayou Naruto," kataku pelan.

.

.

.

To Be Continue


Author's Note :

Umm, halo semuanya! Riz kembali lagi dengan fanfic My Prince. Oh iya, Riz juga sudah meng-edit isi fanfic My Prince dari chapter 1 sampai 5 karena Riz rasa banyak sekali yang harus diperbaiki disana. Jujur, chapter 8 adalah chapter paling sulit dibuat diantara chapter lain, chapter 8 juga termasuk kedalam chapter paling lama dibuat hitungannya sekitar hampir satu bulan setelah chapter 7 Riz publish. Gomennasai…

Kemarin ada yang penasaran sebenarnya 'mereka semua ini siapa', jadi semoga kalian kembali penasaran dengan scene rahasia Hinata X3. Atau mungkin kalian bisa nebak sebenarnya siapakah gerangan Hinata itu? Hehehehehe…

P.S : Chapter 8 ini langsung Riz publish tanpa diperiksa lagi, jadi mohon maaf kalau kalian semua menemukan banyaknya typo. Kalau bisa nanti kalau kalian ketemu typo langsung laporin ke Riz dengan cara review ya ^^

.

Big thanks to :

SR not AUTHOR. lutfisyahrizal. Saladin no jutsu. Guest (1). Guest (2). Guest (3). fannyc

.

Thanks for reading.

Mind to Review?