Chapter 5 : Temen Gue, Rival Gue
"Roxas ? Tumben lu pagi-pagi di dapur ?" Tanya Cloud, yang udah rapi jali dengan seragamnya. Roxas keliatan lagi motong daging di situ. Dia juga udah make seragam, n apron gambar wortel yang biasa dipake enyaknya kalo lagi masak. Blonde junior itu ngelirik ke arah kakaknya di ambang pintu dapur. "Oh ? Morning, kak Cloud." dia tersenyum (manissszz bangetz, dechz !). Cloud cengo.
Kak Cloud ? Kak Cloud ?! KAK CLOUD ?!! ulang Cloud, dalem ati. Akhirnya dia mau juga manggil gue dengan 'kakak' ? Oh, God ! Mimpi apa gue semalem, yah ?. Wajah Cloud langsung bersinar-sinar gembira mendengar sebutan 'kak' yang meluncur dari mulut adeknya itu. Seumur-umur, Roxas gak pernah tuh manggil dia dengan sebutan kakak. Hari apa ini ? Tanggal berapa ? Jam ? Jam ? Musti gue catet !. Cloud yang kelabakan nyari notesnya di tas, tiba-tiba berenti. Dahinya berkerut. Tunggu, ini bener-bener aneh. Kayaqnya gak mungkin dia langsung berubah kayaq gini dalam dua hari. Apa ada hubungannya dengan sakitnya kemarin ? Ah, nggak ah ... mana mungkin keseleo bisa mengubah sikap seseorang ?. Dia menatap wajah adiknya yang masih senyum-senyum bagaikan malaikat. (sbenarnya sih belum pernah liat malaikat).
"Morning ... Roxas ... "
Roxas mengangguk n kembali kliatan konsen sama kerjaannya. Tangannya sibuk motong daging n masukin ke panci yang mendidih, masih pasang wajah senyum. Cloud duduk di kursi dapur tanpa mengalihkan pandangan dari punggung adiknya itu, mulutnya mangap, pertanda kalo doi masih heran. Ia lalu ngebuka-buka koran di dekat sana, sok baca. Padahal matanya masih ngeliatin Roxas dari balik koran. Apa dia kepentok n tiba-tiba hilang ingatan sebagian ? Kalo gue nanya 'kenapa dia berubah', bisa-bisa dia langsung kembali seperti semula. Hmm ... harus cari bahan pembicaraan lain, apa, ya ... ? oh !. Dia langsung dapat bahan.
"Hey, Enyak mana, ya ? Koq gue gak liat dari tadi ?" tanya Cloud, nadanya santai.Rileks ... bersikaplah seolah semuanya normal. Dia memejamkan mata n menghembuskan nafas perlahan. Tapi, begitu matanya terbuka, dia langsung kaget ngeliat adeknya udah duduk di atas meja dapur, tepat di depannya. Hampir aja dia jatoh dari kursi, saking kagetnya. Tapi, Roxas menarik dasinya, sehingga kakaknya itu gak jadi jatoh.
"Enyak nginep ke rumah Om Cid semalem. Coz, Om Cid tiba-tiba demam tinggi. Perginya mendadak, pas kak Cloud dah ktiduran." Kata Roxas, masih memegang dasi Cloud. "Ooh ... gi ... gitu, ya ... ?" Cid adalah kakak dari ibu mereka. Orangnya agak kasar, tapi baek. "Ng ... Roxas ... ?" Cloud jadi merasa nggak enak hati, ngeliat adeknya yang masih belum juga ngelepasin dasinya. "Mmm ... ?" Cuma itu yang terdengar dari mulut adeknya, mata biru blonde junior itu terus menatap leher Cloud, dengan pandangan yang sulit dijelaskan. "Errh ... bisa tolong lepasin-"
"Bahannya kurang niiih ... " potong Roxas, nadanya malas. Mukanya boring. "Ha ?" Cloud bengong. Apa dia mo nyuruh gue belanja bahan yang kurang itu di luar ?. Cloud nelan ludah gitu ngeliat tangan kanan Roxas yang bebas membawa pisau daging. "Hey, hey, jangan main-main sama pisau ... ". Tangannya ingin bergerak meraih benda tajam itu. Tapi gak bisa. Matanya mengarah cepat pada pergelangan tangannya yang entah sejak kapan terikat otomatis dengan gelang besi, yang nempel dengan kursi. What theff !? Kapan kursi dapur gue jadi secanggih ini ?!. Dia kembali menatap wajah adiknya, melotot. Nih anak udah ngutak atik rumah sampe mana aja, si ?!
"Yak. Udah gue putuskan ... "
"Mmm ... mmak ... mak ... maksud loe ... ?" Cloud jadi merinding, matanya mengarah kembali pada pisau yang lagi dimainin Roxas. "Daging yang kurang ... sudah gue temuin, nih ... " jawab Roxas, sambil ngejilat bibir. Cloud nelen ludah lagi. "Ll ... lu becanda, kan ?". Kini matanya kembali fokus ke adeknya, yang masih pasang muka innocent. "kak Cloud ... " Roxas melilit dasi tadi ke tangannya, membuat leher Cloud nyaris tercekik. Ia mendekat. "Minta daging leher kakak, ya ... ?." ujarnya, menempelkan n menancapkan pisau tadi ke leher Cloud.
'CRAT !'
"Uwaaaaaa !!!!"
Cloud tersentak, matanya membelalak. Menatap kipas angin di atas kamarnya yang rada gelap. Jari-jarinya mencengkram erat selimut putihnya. Mimpi ? Cloud menarik nafas panjang n menghembuskannya, menenangkan diri. Badannya keringetan. Gila ... gue mimpi si Roxas jadi psychopath asli ... ?. Dia nelen ludah berkali-kali n menyeka keringat di dahi, kemudian ke leher n ngerasa ada sesuatu yang aneh di lehernya. Lho ? Apa nih ? Dia meraba-raba lehernya dengan mata melotot stelah tau benda macam apa itu. Tali tambang ?!. Cloud tersentak kaget n segera bangkit untuk duduk, n seember air plus sepuluh kodok hidup menghujani kepalanya. Cloud gak sanggup bersuara. Dia terlalu kaget. Shock !
'KLEK'
Lampu kamarnya pun menyala. Cloud langsung pasang mata ke arah makhluk yg tengah berdiri dengan senyuman innocent-nya, di ambang pintu. Tiada lain dan tiada bukan : Roxas !. Cloud masih belum bergerak.
Kenapa ? Kenapa ? Kenapa di antara berjuta-juta adik yang ada di dunia ini musti makhluk macam dia yang jadi adek gue ????!!!!!
"Morning, Cloud. Hari ni gue lagi berbaik hati ngebantuin lu bangun, ngebales kebaikan lu yg biasanya ngebangunin gue. Kalo dipikir-pikir ... lu bener-bener kakak yang baik. Jadi, sesekali gue juga pengen jadi adek yang baik. N gue nyesel karna dulu pernah bikin lu hampir telat. Nah, sekarang ... kalo lu langsung siap-siap berangkat, dijamin gak bakal telat, deh. Ciao !" Setelah mengatakannya, dia pun kembali menutup pintu kamar, n ngeliat jam tangan digitalnya. "1 ... 2 .. "
"ROXAAAAASS !!!!".
"Oh, gak sampe 3 detik ?" Roxas cuma angkat alis. Mendengar suara 'gedebrak-gedebruk' n kodok dari kamar Cloud, bikin dia langsung ambil langkah seribu menuju pintu keluar.
Ah ... lagi-lagi pagi hari yang cerah diramaikan oleh suara toa Cloud dari rumah keluarga Strife.
KucingPerak
"Woaa ... gue denger lagi suara Cloud pagi ini, lu apain lagi dia ?" tanya Hayner, menyikut lengan Roxas, pelan. "Ahh ... jebakan biasa, koq. Gue cuma pake D55. Simple, tanpa bom kebanggaan gue." jawab si blonde, sambil terus jalan, didampingi oleh tiga shohibnya, menuju SMP Shinra.
"Sesimple apa, si ?" tanya Pence. Roxas ngaduk-ngaduk tasnya sambil terus jalan, nyari memo kecil yang slalu dia bawa ke mana-mana, n ngasih liat ke temen-temennya. Hayner n Pence langsung mendekat. Olette yang jalan di sebelah, ngelirik mereka bentar, lalu kembali mengalihkan perhatian pada buku fisika yang dibacanya sambil jalan. Tapi, mau gak mau, telinganya ikut mendengarkan kata-kata Roxas.
Di memo kertas warna-warni Roxas, ada gambar dgn tulisan-tulisan ceker ayam. "Nih, ini embernya. Sebut aja titik 'y'." kata Roxas, sambil nunjuk2 ke gambar yg lbh mirip kotak daripada ember. "Lalu yang ini kepala Cloud, alias titik '0'. Tali tambang emang kuat, tapi bisa keliatan jelas meski kamar gelap. Jadi, gue cuma ngegunain itu buat penghubung antara leher Cloud n tali ember doang, yang gue susun di belakangnya, di bagian '–x' ini." jelasnya. "Trus, di titik xy : (2,13) ini ... alias bagian bawah ember ... inget, bukan bagian dasar ember lho, ya ... ? tapi, bagian bawah ember." Roxas menekankan n menatap wajah dua temennya sejenak, lalu kembali beralih ke memo. "Nah ... di bagian bawah ini, aku lilit n iket pake senar piano ke tambang di titik -2,15 lalu ke titik 2,17 di seberangnya, yaitu bagian kabel kipas angin. Karna ini senar piano, jadi Cloud gak bakal liat. Dia juga gak bakal ngeliat jelas ember ini karna warnanya item. Dia kan kalo tidur slalu matiin lampu ?. Apalagi gue udah naruh ember item ini di posisi –x, yg kemungkinan besar gak terlalu dia perhatiin kalo baru bangun. " Roxas ngambil jeda bentar, ngeliat Hayner n Pence yang masih melongo.
"Kebiasaan Cloud itu ... kalo bangun tidur, pasti duduk dulu. Jadi ... " lanjutnya, semangat. " ... kalo dia bangun, otomatis posisi yang awalnya ada di titik 0,0 ini ... bakal pindah ke titik sekitar 2,5 ... di sini !" katanya, sambil ngelingkarin titik yg dimaksud dengan jari tlunjuk. " ... alias ... tepat di titik strike !" katanya, nunjuk huruf S merah di satu titik. "Karna Cloud bangun, maka tali tambang di sini bakal mengendur n beratnya isi ember membuat benda itu jatuh ke bawah. Tapi karena di bagian bawah ember udah gue lilit senar piano dengan kenceng, jadi, cuman bakal bikin ember itu miring sekitar 30 derajat. N kendurnya tali tambang bikin kemiringan tadi bertambah beberapa derajat n akhirnya .... tumpah semua deh. Strike, kan ?!"
Hayner n Pence pada tepuk tangan.
"Wow ! Gue nggak ngerti, tapi kedengarannya hebat !" Pence nyengir. "Thanks, thanks ... " Roxas membungkuk hormat, kayaq pesulap yang baru ngasih pertunjukan hebat. "Siapa dulu boss-nya ... ?" Hayner menepuk dada. Roxas meleletkan lidahnya ke arah cowok itu. Hayner pun langsung mengaitkan lengannya ke leher Roxas, n mengunci kepala si blonde itu bercanda. "Mau gue patahin karna udah brani ngelawan boss, huh ?!"
"Ampun, baginda boss." mohon Roxas, pura-pura kesiksa. Pence ktawa-ktawa. Olette senyum-senyum ngelirik tingkah temen2nya. "Eh, Roxas ... " tegurnya, setelah dari tadi cuma diem. Semua segera mengalihkan pandangan ke Olette. "Kamu suka banget sama matematika n Fisika, ya ?" tanya cewek itu. "Haah ?! Ya enggak, lah ! orang nilai MTK n Fisika gue dapet merah semua, koq." jawab Roxas, cemberut. Inget sama Cloud yang dulu ngasih ceramah panjang lebar gara2 ngeliat raportnya yang merah semua.
"Tapi ... penjelasanmu barusan pake rumus persamaan garis linear MTK, n katrol plus gaya gravitasi dari Fisika, kan ?" Olette nutup buku yg dari tadi dibaca, mukanya heran. Roxas juga pasang tampang heran, tuker pandang sama dua cowok lainnya, gak ngerti. "Apaan, tuh ? Gue cuma iseng nulis n ngitung apa yang mlintas di otak gue buat ngejahilin Cloud, koq. Mana gue tau soal persamaan-persamaan line- ato apalah namanya itu ... ". Olette menganga. Hah ? iseng ?!
"Oh, ya, Rox ... tumben, lu ngerjain kakak lu di 'sarang' nya sendiri ?. Bukannya di kamar elu yg biasanya dipasangin jebakan." Kata Pence, yang jalan paling pinggir, di sebelahnya. Roxas manyun bentar. "Habis ... gue kesel sama dia yang temenan sama Axel. Seminggu ini kan gue blum bisa ngusilin si manusia lidi itu karna nyimpen Naruto. Jadi ... gue lampiasin ke Cloud,deh."
"Emangnya si Axel nyuruh lu ngapain aja kemaren ?" tanya Hayner. Roxas mengeluh sebelum ngejawab. "Dia nyuruh gue maen gitar hampir seharian. Padahal gitarnya lumayan berat. Waktu gue bilang keberatan, dia malah nyuruh gue bawa terus gitarnya ke mana-mana. Bahkan, waktu makan siang n ke toilet pun dia nyuruh gue terus bawa gitar ! Gila apa, tuh orang ?!" protesnya. "Mungkin dia pengen supaya kamu terbiasa dengan beratnya. " kata Olette. "Mana gue peduli ! Tangan gue sampe kram gara-gara dia ! Gue hampir habis kesabaran. Untung aja ada Zexion."
"Zexion ?"
Roxas manggut. "Yeah. Dia drummernya Axel. Orang yang paling tenang di sana. Dia juga suka baca buku kayaq Olette. Cuman yang gue liat ... buku yang dia baca, buku musik semua. N kemaren waktu gue dah gak tahan lagi n mo pulang, dia ngasih gue sea salt ice cream dua batang." jelasnya, senyum.
Wah, disogok tuh. Pikir temen-temennya, dalam hati. "Oh, ada satu lagi temen Axel, dia juga gitaris. Namanya Demyx. Orangnya gak beda jauh sama Axel. Nyebelin ! Bahkan lebih nyebelin ketimbang Axel. Habis ... dia suka main tangan." Hayner, Pence, n Olette saling pandang. Lalu kembali menatap Roxas, bareng. "Maksud loe ?".
'DUG !'
Sebuah tas seragam SMA Shinra nemplok ke kepala Roxas. "Hey, Landak." sapa sang pelaku, di belakang. Roxas geram n menepisnya, kasar. "Demyx !". Cowok SMA berambut coklat itu mengacak-acak rambut Roxas. "Oi, panggil gue 'kak Demyx'. Yang sopan dong, ama yang lebih tua." Dia lalu ngedorong dahi anak itu pake jari telunjuk. "Agh ! Bastard ... !" geram Roxas, jari-jarinya mengepal. Dia mau balas, tapi tinggi badannya gak nyampe. "Heh, jangan make kata-kata kasar macam itu sama yg lebih tua. Kualat lu."
"Lu sendiri juga jangan seenaknya nyundut dahi orang !"
"Ahh ... sudah waktunya brangkat. Kalo ngeladenin bocah macam lu, bisa-bisa gue telat masuk n gak sempat nyontek PRnya Zexion." Putus Demyx, sambil ngeliat jam tangannya. Dia lalu menepuk punggung Roxas, keras. Bikin anak itu hampir jatuh. "Bye ! Jangan lupa latihan ntar sore ! Dah, Landaaaak .... !" ujarnya sambil berlalu.
"Graaaah !!!" Roxas kesal banget, karna gak bisa bales. "Liat, kan ? Dia suka main tangan !?" tunjuknya, pada Demyx yang udah hilang di tikungan, marah. Hayner n Pence manggut-manggut setuju. "Itu sih bukannya 'main tangan', tapi ' bertangan ringan' , alias suka mukul !!!" jelas Olette, menyadarkan kebegoan temen-temennya.
KucingPerak
Sementara itu, di SMA Shinra.
Cloud kliatan duduk telungkup di bangkunya. Sementara temen-temen sekelasnya pada ribut, seperti biasa. Pak Vayne, yang ngajar Ekonomi belum dateng. Wajar, soalnya belum waktunya masuk, sih. Tinggal lima belas menit lagi. Sekadar info, kelasnya Cloud bukan jurusan IPA, IPS, or Bahasa. Tapi, jurusan segala ilmu ! (Emang ada ?). Axel yang kebetulan lewat kelasnya n ngeliat cowok blonde itu, iseng aja mendekat. "Pagi, Cloud." Sapanya, sambil nepuk pundak Cloud, pelan. Cloud mengangkat wajahnya. "Elu, Xel ... " Lalu dia kembali membenamkan wajahnya di kedua lengan. Axel pun duduk di bangku sebelah Cloud (bangkunya Zack !) yang kosong, entah karna penghuninya belum datang or lagi kluar. Terserah Anda.
"Knapa si, lu ?" tanya Axel, baru kali ini doi ngeliat Cloud sekusut ini. Cloud kembali ngangkat mukanya, berat. "Gue ... lagi meratapi nasib ... " jawabnya, merana. "Ha ?"
"Ahahahahaha !" Tifa yang duduk di sebelah kiri Cloud malah ketawa ketiwi cekikikan baca komik 'Kobo-Chan'. Gak tau kalo orang di sebelahnya lagi bermuram durja. "Liat, kan ? Bahkan temen sjak kecil gue aja ngetawain nasib sial gue ... " kata Cloud, sambil nunjuk Tifa pake jempolnya, manyun. Axel sweatdrop. "Ah ... lu aja kali ... yang terlalu sensitif. Emang ... ada apa, si ?"
Setelah menarik n menghembuskan nafas panjang, Cloud mulai ngomong lagi. "Si Roxas ... ". Kedua alis Axel trangkat. "Lu dikerjain lagi ? Tapi, bukannya lu dah terbiasa ?" tanyanya, sambil ongkang kaki. "Bukan cuma itu ... tadi malem gak biasanya gue mimpiin dia. Gue mimpi ... dia ngebunuh gue." Cloud nelen ludah, sambil megang lehernya. Axel juga jadi ikutan nelen ludah. "Itu cuma mimpi, kan ? gak usah terlalu dipikirin. Cuma bakal bikin kepala lu pusing." Axel nyoba ngehibur.
"Hhh ... gue khawatir sama masa depannya, Xel ... . Jangan-jangan dia bakal bener-bener jadi psikopat nanti."
Axel diem. Dia gak tau musti ngomong apa lagi. Adek temennya itu emang rada aneh, sih. Tapi, selama ini dia cuma nganggep itu sebagai bagian dari isengnya anak nakal biasa. Tapi, nakalnya Roxas 'agak' beda sama kenakalan biasa. Trap-artnya itu kadang (atau sering ?) membahayakan nyawa !. "Xel ... " teguran barusan ngebuyarin lamunannya. "Gue berharap banget sama lu. Bantu adek gue. Bantu dia ngelupain ide-ide jebakan gilanya itu. Ajak dia main musik ato apalah yang bisa bikin di jauh dari kegilaannya itu." Mohon Cloud, dengan amat sangat. Axel ngangguk. Sebenarnya, awalnya dia gak ada niat buat ngebantuin Cloud atau hal macam itu. Dia cuma pengen Roxas jadi gitarisnya, n band-nya bisa maju terus sampe terkenal. Tapi, tau keabnormalan Roxas, dia jadi tergerak juga buat bikin tuh anak mencintai musik n meninggalkan jebakan-jebakan anehnya.
"Gimana kemaren ? kalian abis latihan, kan ?" tanya Cloud, nadanya udah berubah agak ceria. Axel tersenyum. "Yeah ... adek lu itu bener-bener jenius musik. Dia cepet banget nemuin nada yang pas buat lirik yang gue ciptain. Udah gitu ... nadanya bagus banget lagi. Biasanya sih ... gue ama Demyx n Zexion perlu waktu berhari-hari buat itu. Tapi ... kemarin ... dia Cuma perlu waktu berjam-jam. Gak sampe setengah hari."
Cloud menghela nafas lega. "Syukurlah, dia punya bakat positif ... " Dia menggaruk pipinya sejenak. "Eh, tapi ... gimana caranya lu maksa dia supaya mo latihan ?". Axel tertawa kecil. "Gue cuma nyimpen benda berharga mereka, koq."
"Hah ? Masa elu yang nyuri dompet Olette ?" Cloud kaget. "Eh ? dompet ?" Axel heran. Ngeliat ekspresi n mata itu, Cloud kembali nyander di kursinya. "Nggak. Gue yakin banget bukan elu pelakunya."
"Emang bukan. Gue cuma ngambil foto-foto memalukan dia n Hapeol." kata Axel, kesal. Nyaris dituduh, sih. Sekarang dia jadi ngerti soal dompet yang dikatakan Roxas di telepon dua hari yang lalu. Waktu itu dia juga heran, kenapa anak itu sempet ngancem supaya benda yang disimpennya jangan sampe rusak. Giliran Cloud yang ketawa. "Sebaiknya lu rahasiakan dulu soal itu sementara. Kalo Roxas tau, dia bakal langsung kabur, deh."
"Hah ? Emangnya dompet itu lebih berharga daripada foto-foto yang di tangan gue ?" tanya Axel, heran. Cloud memijat tengkuknya, pegel, abis kelamaan nelungkup. "Iya. Coz, itu barang kesayangan Olette. N adek gue itu lagi jatuh cintrong alias cinta monyet sama cewek itu."
"Ha ?!"
"Haha ... emang sih ... kadang dia suka ngomong ketus sama cewek itu. Tapi, kalo Olette sedih or nangis ... dia langsung mau ngelakuin apa aja asal cewek itu kembali senyum. Termasuk hal yang dibencinya, yaitu gabung ama band lu." jelas Cloud, angkat bahu. "Itu cuma pengamatan seorang kakak yang sering jadi korban kejahilannya, koq. Nggak harus dipercaya ... "
Axel natap langit-langit kelas, mikir. Inget gimana sikap Roxas kalo dekat Olette, persis yang dikatakan Cloud. "Tapi ... " sambung Cloud, bikin Axel kembali menatapnya. " ... kayaqnya ... Hayner n Pence juga suka sama Olette." bisiknya, kecil.
"He ?"
"Gitu, deh ... sikap mereka juga kurang lebih sama, kan ? Olette emang cewek yang unik. Dia bisa tahan gabung ama mereka tanpa terpengaruh. Mungkin ... itu dia daya tarik terkuatnya. Terus terang ... gue rada ngarepin dia supaya ngerubah kenakalan anak itu sih ... nggak cuma Roxas. Tapi juga Pence n Hayner. Gimana pun juga ... mreka temen baek adek gue."
Axel manggut-manggut. "Eh, ngomong-ngomong ... koq elu kayaqnya sejak awal yakin banget kalo bukan gue yang nyuri tuh dompet ?" tanyanya, senyum. "Ya, iyalah ... " Cloud memutar kepalanya yang masih pegel. "Katanya di hari kejadian itu, mereka emang sempat ketemu sama lu. Tapi, ketemunya di jalan, kan ? Saat itu pasti pada belum masuk, alias ... belum jam 8. Gue juga udah bilang ke mereka sebelumnya koq, kalo waktu kejadiannya itu antara jam 8 sampe jam 10 lewat, sebelum Olette sadar kalo dompetnya ilang. Jam segitu kan elu gak mungkin ada di kelasnya dia ? Emangnya sejak kapan lu balik ke SMP ? Ada-ada aja ... " Cloud geleng-geleng. Axel ktawa-ktawa. Cloud nyambung lagi. "Sama halnya dengan Seifer XVI cs, mreka kan ketemunya di gerbang SMP Shinra ? Setau gue, mereka gak sekelas. Jadi, pas jam kejadian, Seifer XVI cs juga gak bersama mreka. So, tersangkanya cuma tinggal dua, yaitu Zidane n Garnet."
"Menurut gue pelakunya Zidane. Karna Garnet gak mungkin. Dia kan orang kaya ?" Axel ikutan nebak. Cloud geleng-geleng sambil berdecak. "Ck, ck, ck .... bersikaplah netral. Liat para tersangka dalam sudut pandang yang sama. Motif itu gak selalu kliatan dari luar. Asal punya kesempatan untuk mencuri, jadikan mereka tersangkanya, hingga suatu saat ditemukan bukti yang bisa menunjukkan dengan jelas siapa pelaku sebenarnya." kata Cloud, dengan tampang serius. Bikin tampang Axel yang tadinya santai jadi ikutan serius.
"Gitu, deh jadinya ... kalo mreka gak serius nyimak penjelasan gue. Nambah-nambahin tersangka aja. N gue yakin, si Roxas ngejadiin lu salah satu tersangka cuman karna dia gak suka sama lu aja. Padahal kan ... dalam memecahkan suatu kasus itu, kita nggak boleh melibatkan perasaan pribadi. Tapi, waktu itu gue diem aja, sih. Gue mau mereka pecahin kasus itu sendiri. Kasusnya tergolong gampang, koq." Yang bagi lu gampang, belum tentu gitu bagi yang lain. Sahut Axel dalam hati. Dia cuma nyengir. Cowok blonde tadi mencondongkan setengah badannya ke Axel n ngangkat telunjuk. "Dalam memecahkan suatu kasus, kita harus bersikap netral pada para tersangka. Jangan sampai emosi macam perasaan gak suka atau pun hubungan antar teman or kluarga, membuat kita jadi lebih memihak atau pun lebih menuduh salah satu tersangka."
Bel tanda masuk sudah berbunyi. Axel pun beranjak menuju kelasnya setelah bilang 'sampai nanti' sama Cloud.
KucingPerak
SMP Shinra.
"Marlene ... lu punya peta, gak ?" Tanya Zidane, sambil memegang tangan kiri cewek itu, kayaq mo ngajak dansa. "Nggak. Emang buat apaan ? Hari ini kan gak ada Geografi ?" Marlene menarik tangannya dari playboy itu, cepet.
"Buat nyari jalan keluar. Soalnya ... gue lagi kesasar."
"Ha ?"
" ... kesasar di mata loe." sambung Zidane, seraya kembali meraih tangan Marlene. Wajah Merlene memerah, malu. Dia emang dah tau kalo nih orang playboy. Tapi, rayuannya itu lho, mauuut, dech ! n tampangnya gak bisa dibilang jelek. Jadi, bingung. Pingsan aja deh ... . Marlene pun beneran pingsan. Semua langsung mengerumuni mereka. "Oh ? Marlene ? Marlene ?" Zidane mengguncangkan pundak cewek itu. "Marleeeeeeeennne !" teriaknya, nangis.
"Jangan berlebihaaaaaaaann !!!" Larxene yang berdiri di ambang pintu, ngelempar tiga batang sekaligus ke kepala Zidane. Bikin cowok playboy itu meringis. Air mata buayanya pun langsung mengering. "Tink ! Bawa Marlene ke ruang kesehatan !" suruh Larxene. "Ehh ??!" Tinker Bell yang lagi mojok sama Peter Pan di kelas, otomatis ngrasa keganggu. "Tak ada 'eh'. Lakukan ! Sebentar lagi pelajaran pertama dimulai !".
Akhirnya Tink mau juga, setelah Larxene ngancem bakal ngelempar pake kunai kapurnya. "Um ... anu ... ka ... kalau diperkenankan ... saya ... boleh membantunya ?" kata Garnet, ke Larxene. Si Jago Lempar itu diem sejenak. "Ya. Silakan ... " ujarnya. Setelah mengingat kalo si Tinker Bell pasti kerepotan menggotong Marlene sendirian.
"Kalo gitu ... gue juga !" Zidane mengajukan diri, n langsung dapat lemparan kapur lagi. Dahinya sampe merah. Zidane belum menyerah. "Ayolah, Miss Larxene .... ! Di saat para gadis sedang kesusahan, sudah sepantasnya si penjantan tangguh macem gue ... eh ... 'aku', muncul di tengah-tengah mereka untuk membantu !"
'TAK !'
"Ahk !"
Kali ini yang kena lubang hidungnya.
.... waktu istirahat ....
Semua penghuni kelas VIII-C termasuk Roxas cs dapat undangan pesta ulang tahun dari Garnet. "Se ... Semuanya ... mohon kedatangannya, ya ?" ucap Garnet sambil membungkuk ala Jepang. Semua pada sweatdrop sebelum mengangguk mengiyakan. Garnet emang cewek unik. Kata-kata mau pun perilakunya selalu sopan. Kelewat sopan malah. Sampe-sampe mereka bingung, tuh cewek dapat didikan tuan putri atau didikan pembantu.
"Wah ... minggu depan nanti aku pake baju apa, ya ?" Mata Olette keliatan berbinar-binar. Buku biografi Hans Christian Andersen di tangannya sampe lecek karna digenggam terlalu keras. 'SRUUUUP !' suara mie ayam yg disedot itulah jawaban yang didapatnya dari Hayner, Roxas, n Pence. "Hey, kalian, kasih ide, dong !" Dia makin semangat aja.
"Mau pake apa juga ... terserah, deh." (Hayner)
"Yang penting pake baju." (Pence)
"Yang kayaq gitu gak usah terlalu dipikirin." (Roxas)
Olette manyun. Dasar cowok-cowok gak punya sense of fashion ! Yah, kebanyakan kayaq cewek-cewek lainnya, Olette juga suka banget sama pesta ala putri. Dia suka pake baju macam gaun-gaun panjang atau yang berenda-renda n berbunga-bunga. Roxas, Hayner, n Pence sih gak peduli. Olette masih ngelanjutin. "Eh, eh, tau gak ? Katanya nanti ada acara dansa juga, lho ... "
'twitch'
Telinga Roxas, Hayner, n Pence menegang. Acara makan mereka terhenti seketika coz ketiganya langsung mematung begitu denger kalimat terakhir Olette barusan. Roxas berenti ngunyah mie di mulutnya, Hayner ngegigit garpu, n Pence mangap mo nelen mie ayam. "Hmm ... berarti ... harus nyari pasangan, dong ... " Olette masih aja ngomong.
'twitch, twitch'
"Siapa, yaa ... ? umm ... " gumamnya, sambil nyubit dagu. Dia pun ngelirik 3 shohibnya di depan. (Roxas, Hayner, n Pence duduk di depannya). Tiga cowok itu keringetan. Bukan karna kepanasan, tapi karna penasaran sama siapa yang bakal Olette ajak. Saking penasarannya, mereka gak sadar kalo dari tadi gak bergerak sesenti pun. "Kalian kenapa, si ?" satu-satunya cewek di situ ngeliat mereka dengan bingung. "Main patung-patungan ?"
Mereka pun tersadar. "Ng ... nggak, koq ... " n ngelanjutin kegiatan masing-masing. Olette ngebetulin posisi duduknya n ngeluarin selembar foto dari bukunya yg dijadiin pembatas buku. "Eh, liat deh. Ini Naruto." katanya, bikin 3 cowok itu segera menyingkirkan mangkok masing-masing buat ngeliat dengan lebih jelas. "Karna dulu kalian pengen banget ketemu sama dia ... jadi kubawain fotonya. Maaf, ya ... ? Aku gak sempat mempertemukan kalian ... " Mukanya sedih lagi. Sebutir air bening keluar dari sudut mata kanannya. Tapi, kali ini Roxas cs gak kelabakan coz gak liat. Mreka terlalu shock ngeliat foto itu.
"Hey, Olette. Lu gak salah ngasih foto ?" (Hayner)
"Di sini lu cuma sendirian, koq." (Pence)
"Gue gak liat ada orang lain."(Roxas)
Jangan-jangan dia ngayal, nih ! "Masa, si ?" Olette ngambil kembali fotonya dari tangan Hayner n ngeliat. "Ada, koq ! Liat yang bener, dong !" Cewek itu naroh fotonya di meja, marah. "Mana ?!" Tiga cowok tadi ikutan emosi. "Ini !" tunjuk Olette pada bagian foto. Bikin mata Roxas, Hayner, n Pence membesar. Sebelum mereka sempat ngomong lagi, seorang remaja berambut coklat mencuat menghampiri. "Hai, Olette."
Olette berbalik, ngeliat siapa yang datang. "Sora ?" tiga orang lainnya juga spontan menatap pendatang dari kelas VIII A itu. "Kepala Sekolah memanggilmu." Sora ngusap keringat di pelipisnya. Kayaqnya tadi dia lari-lari ke sini. "Oh ?" Olette pun berdiri. "Aku ke sana dulu, ya ?" katanya, kembali beralih ke Hayner, Pence, n Roxas, n nyelipin foto tadi ke bukunya. "Kalian terusin makan aja, dulu. Kalo pas bel bunyi aku belum datang, kalian langsung ke kelas aja, oke?". Ketiganya cuma mengangguk. Ngapain si kepsek botak stengah itu manggil Olette sgala ?. Mereka cemberut.
Setelah bayar mie ayam n teh panasnya, Olette pun segera menuju arah ruang kepala sekolah. Tapi, baru tiga langkah, Sora menghalangi jalannya. Hayner, Roxas, n Pence langsung melotot.
"Umm ... sebentar, Olette."
"Apa ?"
Olette memiringkan kepalanya, nunggu. Cowok itu garuk-garuk kepalanya yang sama sekali gak kutuan. "Ngmm ... untuk pasangan dansa di pestanya Garnet, mau nggak kalau kamu ... " kalimat Sora kepotong, begitu ngeliat tiga cowok yang masih duduk di bangku kantin, kurang lebih dua meter dibelakang Olette. Pence memperlihatkan giginya yang tajam n ngegigit garpunya sampai bengkok. Hayner mengepalkan tinjunya hingga gemeretakan. N Roxas menyeringai sadis ke arahnya sambil nulis sesuatu di telapak tangan. Ketiganya mengeluarkan aura pembunuh yang Cuma bisa dirasakan cowok itu. Sora ngerasa kalo tiga orang itu bakal memakan, meremukkan, n menyiksanya hidup-hidup !.
"Kalau kamu ... apa, Sora ?" tanya Olette, bikin cowok rambut coklat mencuat itu beralih padanya. "Ah, ng ... itu ... " Sora kembali ngelirik ke arah tiga orang tadi. Roxas, Hayner, n Pence masih melotot seolah bilang : Ngomong lagi, elu mati !!!!. Nggak heran kalo dia jadi gemetaran. "Nggak jadi, deh ! Aku masih belum mau mati !!!" serunya, sambil lari terbirit-birit dari sana. Meninggalkan Olette yang kebingungan gak ngerti.
KucingPerak
Lima menit sepeninggal Olette, bel berbunyi. Tiga cowok tadi pun akhirnya menuju kelas. Sambil merenungi kejadian beberapa waktu lalu. Bukan kejadian kaburnya Sora oleh karena pancaran hawa pembunuh dari mereka, tapi kejadian terkuaknya sosok Naruto sebenarnya !
"What the hell ?!"
Haynerlah yang duluan ngomong. Mereka inget persis dengan Naruto yang ditunjuk Olette tadi. Emang sih, di foto itu ternyata dia gak sendiri. Ada satu lagi makhluk di situ. N dia duduk di pangkuan Olette. Makhluk berbulu (berambut) orange yg merupakan warna favorite Olette itu, tidur dengan bahagianya di sana ! Seekor kitsune, alias rubah !.
"Ngapain coba ... selama ini gue cemburu sama rubah ?!" (Hayner)
"Iya ! Rugi gue !" (Roxas)
"Bener-bener rugi !" (Pence)
Sesaat kemudian mereka sadar akan sesuatu. Pandangan malas lurus ke depan tadi mulai berubah arah menjadi pandangan serius ke samping. Mereka bertiga saling pandang. "Apa ... ? Roxas ... jangan-jangan lu ... "
"Hayner ... elu ... "
"Pence ... lu ... "
" ... Suka sama Olette ?" ucap mereka bareng.
.......................................
"Yo ! grup pecundang ! Ngapain di sini, ha ?!"
Gak krasa mereka berenti di depan kelasnya Seifer XVI. Seifer n the gank pun mengelilingi mereka, ngepung. Sang boss-man menyilangkan tangannya di dada, angkuh. "Gue lagi nggak mood sekarang, get the hell out of my way ... " kata Hayner, nahan marah. "Gue juga lagi gak mood buat minggir." Jawab Seifer, nyante. Roxas mencengkram bahu Hayner n menariknya mundur, ke belakang. Kini dia yang berhadapan dengan Seifer. "Gue kira lu dah kapok sejak kena Ultimate bomb dua hari yg lalu … ?"
Seifer XVI tersenyum, ngeledek. Tangannya mencengkram leher Roxas, menariknya lebih mendekat. "Heh ... gue ini orang yang gak kenal kapok. Lagian, kalo lu mo coba ulangi lagi, gue bakal habisin lu sebelum sempat ngelempar apa pun." Ancamnya. "N rambut membahayakan punya lu ini bakal gue cukur sebelum sempat nyeruduk gue lagi !!!" bisiknya, keras. Cengkramannya pun mengeras. Roxas terhenyak, susah nafas. "Lepasin, gak !" Pence melepaskan tangan Seifer dari leher Roxas. Blonde junior tadi pun terbatuk-batuk. "Gendut, minggir !!!"
Telinga Pence menegang ngedenger itu. "Gue gak gendut ! Gue gak gendut ! Cuma montok ! montok ! montok ! Gue gak gendut cuma montok !!!!!" Suara bombastisnya pun membahana. Seifer XVI n trio gerbong kereta sampe2 harus nutupin telinga mereka. Roxas n Hayner juga. Pence masih aja ngomong. "Brisiiiiiikkk !" teriak Seifer. Tapi, masih kalah sama amukan Pence. Ribut-ribut itu bikin Larxene datang n ngelempar mereka ke luar jendela lantai dua.
KucingPerak
"HUACHIM !"
Roxas, Hayner, Pence, n Seifer XVI bersin bareng. Tadi abis dilempar Larxene ke kolam ikan dari lantai dua. Seragam mereka basah semua ! Untung hari ini kelas VIII C n VIII D ada jam olahraga. Jadi, mreka bawa baju olahraga buat ganti. Kaos putih dengan garis2 biru di sepanjang pundak, n celana panjang dengan warna biru yang senada dengan garis-garis tadi. "Dasar … apa-apaan sih, kalian ini … ?" Olette ngasih tiga cangkir teh hangat ke tiga temen2nya yg lagi ngeringin rambut pake handuk. Sementara Fuu ngasihkan teh bikinannya ke Seifer XVI. Mereka tengah berada di ruang kesehatan. Olette duduk di kursi, sementara Hayner, Roxas n Pence duduk di sisi tempat tidur pasien. Seifer XVI juga sama. Cuman, dia ada di seberang mereka.
"Semua ini gara-gara elo !" tuding Seifer. "Hehh ! Jangan lempar batu sembunyi batang !" balas Hayner. "Bukan 'batang', tapi 'tangan' ... " ralat Olette. Dia geleng-geleng. "Dasar ! Kura-kura dalam batu !" Seifer gak mau kalah. " 'perahu'." kali ini Fuu yang ngeralat. Roxas, Pence, Rai, n Vivi cuma duduk menyaksikan peribahasa konyol yg dilontarkan dua boss mreka, sambil minum teh.
.......................
Kelas VIII C, pelajaran terakhir ... MTK ! yang dibawakan mr. Xemnas, membuat otak semua murid meleleh (kecuali Olette). Denger-denger sih ... Mr. Xemnas punya hubungan keluarga sama Sephiroth dari SMA Shinra yang ngajar MTK juga. Walau mreka berdua bilang gak ada hubungan apa-apa, semua meragukannya. Selain karna rambutnya sama-sama silver, tampangnya pun sama-sama killer.
Padahal Xemnas sendiri gak ada maksud begitu, koq. Dia adalah seorang guru yang amat sangat menyayangi murid-muridnya, lebih dari guru mana pun. Tapi, emang mukanya itu muka datar. Senyuman yang menurutnya lembut pun terlihat seperti senyuman sadistis. Yang maksudnya mo ngehibur malah jadi nakutin. Tapi, ada juga perbedaan yg cukup jelas kalo dibandingin sama Sephiroth ... dia kalo ngasih ujian gak pernah lebih dari sepuluh nomor. Beneran, koq. Cuman sepuluh ! Tapi, tiap-tiap soalnya selalu beranak bercucu dan bercicit. Jadi kalo diitung-itung lagi ... jumlah pertanyaan pada semua soalnya ada sekitar lima puluh. (pada akhirnya sama saja).
Ngeliat murid-muridnya yang kliatan merana begitu, Xemnas jadi kasian. Dia pun nutup bukunya, lalu meletakkan kedua telapak tangannya di atas meja guru. "Semuanya ... " suara Xemnas membuat wajah seisi kelas menatapnya. Ada apa, sir ? udah waktunya pulang, neh ? wajah mereka semua penuh harapan. Xemnas tersenyum. Senyuman mengerikan yang bikin anak-anak muridnya merinding. Ah, sayangnya Xemnas seringkali gak sadar dengan senyuman mautnya yang mengerikan itu. "Simpan buku-buku kalian. Kita ngobrol-ngobrol sebentar sampe bel pulang berbunyi, oke ?"
"Y ... yes, sir ... " jawab murid-murid, nurut. Gemetar ngeliat senyuman itu. "Nah ... ngomong-ngomong ... " Xemnas diem beberapa detik. "Katanya minggu depan nona Alexandros ulang tahun, kan ?" katanya, matanya ngarah ke Garnet. Garnet langsung ngangguk-ngangguk cepat sepuluh kali. "Ada acara apa aja, nanti ?" tanya Xemnas lagi, senyum. (Serem !).
Putri Alexandros tadi nelen ludah sejenak, sebelum ngomong. "Um ... Mohon maaf sebelumnya. Karena ... yang mengatur acara bukan saya, jadi ... saya tidak begitu mengetahui susunan acaranya. Tetapi ... yang saya ketahui, nanti akan diadakan berbagai perlombaan, dan hadiah utamanya adalah sebuah villa di Destiny Island." Semua pada bisik-bisik semangat.
"Kemudian ... kami juga telah mengundang band X untuk menghibur para tamu."
"Kyaaaaaahh !!!" . Yang lainnya, terutama cewek-cewek pada tereak-tereak ala fangirl gitu tau kalo bandnya Axel bakal ngisi acara. Yeah, semuanya pada teriak. Kecuali Olette yang udah tau sifat jelek Axel. Sedangkan Roxas, Hayner, n Pence pada pasang tampang bulldog, cemberut.
"Pesta dansa juga akan diselenggarakan, dan ... jika tidak keliru ... ini termasuk dalam salah satu lomba tersebut."
"Yaaaaaayyy !" Para cewek langsung bersorak, yang cowok juga, meski kalah keras. Mereka langsung ke sana ke mari nginterview orang-orang yang bakal diajak dansa. Soalnya, selain romantis ... hadiahnya juga gede. Gak tanggung-tanggung ! Sebuah villa, bo ! Gileee !!!. Olette senyum-senyum ngeliat temen-temen sekelasnya yang rame. Sedangkan Roxas yang duduk di sebelah kanannya, Hayner yang duduk di sebelah kirinya, n Pence yang duduk di belakangnya, pada lempar laser eyes satu sama lain.
"Gak nyangka, deh. Ternyata temen yang selama ini gue percaya bakal jadi saingan gue ... " (Hayner)
"Dari luar kliatan gak minat, eh ternyata ngincer juga." (Pence)
"Kalo kalian mikir gue bakal ngalah cuma karna kita pernah temenan, salah besar." (Roxas).
Olette yang ngerasa aura sekitarnya berubah panas, langsung natap ketiga temannya yang lagi pelotot-pelototan. "Eh, kalian kenapa ?".
"Nggak kenapa-kenapa ... " jawab ketiganya, bareng. Tanpa mengalihkan tatapan sedikit pun. Olette masih mau ngomong lagi, tapi kepotong sama Xemnas. "Tapi ... ada kabar buruk juga. Apa kalian pernah dengar tentang 'Masked Thief' alias ,'Pencuri Bertopeng' ?" tanyanya, menatap semua siswa, penasaran.
Kelas ribut lagi.
"Iya ! Saya liat tuh, Pak ! di televisi kemarin. Katanya dia mo beraksi lagi di acara ultahnya Garnet, ya ?" jawab Zidane, sambil angkat tangan. "Iya. Katanya dia mo ngambil 'Garnet' (batu akik merah tua)-nya Garnet." Sambung Peter, baca di koran. "Padahal udah hampir setahun ini dia gak melakukan pencurian besar. Kenapa sekarang dia tiba-tiba muncul, ya ?" Tink kliatan ber-thinking.
"Dia udah nyuri 'Zamrud' dari bangsawan Emerald sebelumnya, kan ?". Yang lain pada ngobrol. "Iya. Padahal penjagaannya waktu itu ketat banget, lho !". Olette yang denger tampak bergumam. "Hmm ... " keributan itu berhasil mengalihkan perhatiannya dari ketiga shohibnya yg lagi perang dingin. "Eh, Garnet. Memangnya berapa harga dari batu Garnet mu itu ?" tanyanya, bikin yang lain langsung diam. Pengen tau juga. Termasuk Roxas, Hayner, n Pence yang mulai ikutan dengerin percakapan di kelas.
Garnet mikir sebentar. "Umm ... mengacu dengan apa yang tertulis di buku sejarah Alexandros ini ... ." Cewek itu bangkit sambil membawa buku pribadi Alexandrosnya, n mengambil spidol dari meja Xemnas, minta izin buat nulis di papan. Xemnas mengangguk, ngasih izin. Garnet pun mulai menulis :
'867324658350795543950 gil.'
Garnet kembali duduk. Yang lain bengong, termasuk Xemnas.
"Banyak amat angkanya ... ?"
"Tuh kumpulan angka dibaca apa ?"
"Gue gak bisa baca yang lebih dari triliyun ... "
"Se ... sebenarnya saya juga tidak mengetahui bagaimana membaca deretan angka tersebut."
Xemnas berdiri mengamati angka-angka di papan sambil bergumam.
"Delapan ratus enam puluh tujuh trita tiga ratus dua puluh empat dwiyar enam ratus lima puluh delapan triliyun tiga ratus lima puluh miliyar tujuh ratus sembilan puluh lima juta lima ratus empat puluh tiga ribu sembilan ratus lima puluh gil." baca Olette, lancar. Yang lain menatapnya dengan mulut mangap. Xemnas juga, gak nyangka dia bakal kalah cepat sama anak muridnya. "Aku pernah baca angka sebanyak itu di buku Genius halaman 488. Mau pinjem ?" tawar Olette, senyum.
"Nggaaaaak !" koor murid-murid, kompak. Lalu mangap lagi, gak kebayang pegang duit segitu.
'TOK, TOK !'
Terdengar suara pintu kelas yang terbuka diketuk. "Ya ?" jawab Xemnas, sambil senyum (mengerikan). Yang ngetuk membungkuk sebentar, sopan. "Saya ingin membagikan selebaran pengumuman hasil rapat kemarin, sehubungan dengan festival olahraga yang akan diadakan dua bulan ke depan. Diharap tiap kelas sudah mempersiapkan diri pada hari H-nya." jawab pemuda berambut perak kebiruan itu.
"Gila aja tuh ketua OSIS. Jauh amat udah mikirin acaranya." gumam Hayner. "Yeah .... emang kerajinan." Roxas nyambung. "Ho-oh. Kayaq Olette aja." Pence ikutan nyambung. Tiba-tiba mereka tersadar dengan kebiasaan ngomong ala sambung menyambung menjadi satu, itulah Indonesia ....(?). Begitu ingat mereka pada lagi musuhan, ketiganya langsung buang muka dilengkapi dengan 'hmph !' yang bikin Olette jadi tambah bingung. Knapa si, tiga orang ini ... ?
"Hey, hey ... Olette ... " bisik Aqua, yang duduk di depannya. "Riku keren, ya ?" tunjuknya ke arah ketua OSIS yang lagi membagikan selebaran. "Udah cakep, santun, pinter pula. Kira-kira dia udah punya pasangan, gak ya ?" Olette ngelirik cowok bernama Riku yang dimaksud. "He-eh. Keren." jawabnya, senyum.
'DUAR ! DUAR ! DOR ! DOR ! BAM ! PHSIUUU ... BLAM !'
Muncul petasan, bom, granat, dan kembang api di benak Roxas, Hayner, n Pence, gitu denger kalimat Olette barusan. Mereka ngeliat Olette dengan mulut ikan, mangap.
"Ah !"
Kertas-kertas yang dipegang Riku berserakan tiba-tiba. Olette yang ada di dekatnya langsung ngebantuin mungut. Cewek-cewek lain juga pada bantuin, meski bangkunya jauh. Riku sampe tenggelam di lautan cewek-cewek kelas C !.
"Hoho ... indahnya masa mudaaa .... jadi terharuuu ... " Xemnas geleng-geleng senyum (mengerikan). Cewek-cewek yang ngeliat segera kembali duduk di bangkunya masing-masing, takut. Dikirain si Xemnas marah atas kelakuan mereka. Padahal nggak. Tapi, Cuma Olette yang masih bertahan ngejongkok, mungut. Soalnya saat itu, dia gak ngeliat senyuman Xemnas. Coz dia konsen mungutin kertas. Bukannya konsen ngeliatin muka ganteng Riku.
Setelah terkumpul ...
"Biar aku bantu bagiin." katanya, sambil mulai meletakkan selembar kertas pengumuman di atas meja Hayner, sambil menatap Riku. Riku tersenyum. "Thank you, Chivy."
"Panggil Olette saja. Chivy itu nama ayahku."
"Baiklah, Olette ... "
Setelah semua kertas dibagikan, Riku bilang ada yang mau dia bicarakan sepulang sekolah nanti sama cewek kutu buku itu. Tentu aja tiga pengawalnya (Roxas, Hayner, n Pence) gak terima. Tapi, sebelum mereka sempat ngomong sesuatu, Olette keburu ngangguk.
'CLING, CLING, CLING'
Entah siapa yang nyebarin sparkle-sparkle di sekitar mereka berdua hingga berkilauan. Roxas, Hayner, n Pence langsung melemparkan pandangan membunuh pada sang ketua OSIS. Tapi, gak ngaruh. Si Riku udah keburu keluar dari kelas.
"Uwaaa ! Gila lu Olette ! Lu pake apa sih ? Koq si Riku mo ngajak lu janjian ?" Aqua yang paling heboh nanyain cewek itu. Olette angkat bahu. "Gak tau. Aku gak pake sesuatu yang spesial, koq. Dia kan ketua OSIS mungkin ada sesuatu yang mo dia sampaikan dari kepala sekolah."
"Oh, kakek lu itu ... ?"
"Kakeeeeekkk ?!" seru Roxas, Pence, n Hayner, kaget, asli. Selama ini si Olette gak pernah ngomong kalo si kepala sekolah adalah kakeknya sendiri. Olette melotot ke Aqua. Cewek berambut biru tadi langsung terkesiap, nutup mulutnya. Dulu dia emang pernah diwanti-wanti supaya gak bocorin soal ini. Dari semua penghuni sekolah, yang tau hubungan keluarga antara Olette n kepsek Cuma Aqua. Karna, Aqua dulu tetanggaan sama kepsek.
Olette ngelirik tiga temennya, nggak enak. Jadi ngerasa bersalah. Dia emang sengaja gak bilang soalnya nanti si Hayner cs gak mo nerima dia masuk kelompoknya. Misi tambahan sang kakek buat ngerubah mereka sedikit demi sedikit pun bisa gagal. Dia kan tau banget kalo Hayner cs emang gak akur sama kakeknya. Awalnya si dia nolak. Tapi, si kakek ngejanjiin bakal ngasih perpustakaan pribadi buat dia di akhir SMP nanti kalo berhasil. Selama ini dia baru berhasil nyuruh tiga siswa bermasalah itu utk berhenti ngebolos. Tapi, sekarang gimana, ya ... ?
"Apa ? jadi kepala sekolah Shinra itu kakek loe ?"
"Yang punya SMP, SMA, n Universitas Shinra terkenal itu ?"
"Jangan-jangan lu adeknya Rufus Shinra, si aktor muda terkenal itu ?"
Berbagai macam pertanyaan menghujani gadis itu. Olette menutup kedua telinganya, kesal. Sekarang dia jadi kayaq artis yang dikerubutin wartawan. Pak Xemnas pun ikutan nimbrung. Kali ini giliran Olette yang tenggelam di lautan teman2 sekelasnya. "Hayner ... Pence ... Roxas ... " panggilnya minta tolong, lirih. Nyaris gak kedengaran. Tapi, dia yakin banget kalo 3 temennya itu pasti bisa denger.
Tapi, Roxas, Pence, n Hayner berlalu begitu saja. Mereka keluar dengan wajah kecewa berat. Oh, jadi dia cucunya kepsek botak stengah itu, ya ... ? Pantas saja selama ini dia tahan gabung ama kami. Orang kakeknya sendiri yang suruh ... . Olette emang paling gak bisa menolak permintaan orang yang lebih tua. Apalagi kakeknya sendiri. Kalo kepsek Shinra yang tajir itu emang bener kakeknya, pasti dia udah dijanjiin hadiah gede kalo berhasil 'menaklukan' kami. Jadi ... dia temenan sama kami selama ini lebih karna permintaan si kakek daripada bener-bener suka ?
Mreka bertiga keluar pas saat bel pulang berbunyi. Jadi, si Xemnas gak protes.
KucingPerak
Roxas menutup pintu rumahnya, pelan. Lalu ngelepas kaos kaki, masukin gumpalan kaos bau tadi ke sepatu, n naroh sepatu barusan di raknya. Kemudian ia melangkah masuk, menaiki tangga, menuju kamar tercinta. Enyaknya yang ngeliat keheranan. Tumben tuh anak nyampe rumah gak ngomong apa-apa ... tumben-tumbenan juga dia inget naroh sepatunya di rak .... Tumben-tumbennya tumben dia langsung ke kamar, bukannya ke dapur dulu minum jus favoritnya ... dia juga diem aja, gak nyanyi-nyanyi kayaq biasa.
"Nyaak ! Putramu yang ganteng bin jenius yang ini sudah pulaaang ... !" salam Cloud, ceria, di dekat rak sepatu. Sekarang ini dia lagi senang karna gak ada tugas tambahan, gak ada rapat, n yang lebih penting ... tadi Tifa bilang ada paket buat Aerith yang bakal jadi tugas Cloud buat nganterin ntar sore. Ternyata hari ini gak seburuk dugaan gue. Walau tadi pagi gue sempat 'dibunuh' sama adek gue sendiri. (dalam mimpi).
Hmm ... ntar gue pake baju apa, yaa … ? Dia menerawang sambil senyam senyum sendiri kayaq orang gila. Oups ! Sudah pasti pake seragam Lockhart delivery service, dong ! Hahh ... kaos item-item itu ? Ntar gue musti nyaranin Tifa supaya seragam Lockhart dibikin lebih kerenan dikit, deh. Biar Aerith kesengsem ngeliat gue …
"Cloud !" teriakan sang enyak membuyarkan senyuman gilanya. " … ? Ada apa, Nyak ?" Wanita blonde berdaster biru itu mencengkram kedua lengan putra sulungnya, panik. "Roxas kesambet ! Roxas kesambet !". Alis kanan n bibir atas Cloud terangkat, ngedenger ucapan enyaknya.
"Tiba-tiba aja tuh anak masuk rumah n naroh sepatunya di rak, lalu langsung ke kamarnya ! Gak salam dulu, gak nyanyi2 dulu, gak minum jus dulu, dia juga gak ngomong apa pun ! Ampuun ! knapa si, dia ?!"
Kejadian dalam mimpi langsung berkelebat di benak Cloud. Dia gantian mencengkram lengan enyaknya. "Dia nggak masak, kan ? Dia gak lagi megang pisau, kan ? Dia lagi gak pake apron wortel, kan ?".
"Ngapain lu bawa-bawa apron wortel ?" Enyaknya jadi keheranan.
"Brisik. Yang tenang dikit, dong." suara Roxas, di anak tangga. Dia udah ganti baju pake 'kostum' favoritnya di KH2 (Itu tuh ... yang ada motif caturnya). Brisik ? Roxas yang paling berisik serumah itu bilang 'brisik' ? . Cloud dan Mrs. Strife menghampirinya. "Roxas, lu gak sakit ?" tanya enyaknya, sambil mencengkram kedua pundak anak itu. Cloud meletakkan telapak tangan kanannya ke dahi Roxas, sementara yang kiri ke dahinya sendiri. Nggak panas, tuh ....
"Nggak, kok." Roxas mundur, sebel. Dia melangkah ,menuju dapur. "Lapar, nih. Ayo kita makan, Nyak .... kak Cloud ... "
'DUAG !'
Cloud ngerasa tembok di belakangnya berubah menjadi magnet besar yang menariknya hingga menempel keras di sana. Kepalanya benjol, tapi rasa kagetnya bikin dia lupa rasa sakit barusan. Kali ini giliran Roxas n enyaknya yang ngeliat Cloud dengan tampang heran. "Ngapain loe ?" tanya si bungsu.
"Kkk .... kkk ... kkkk .... kkkaak ... kak ... ? Lu barusan manggil gue apaan ?". Cloud gugup, keringetan. "Emang aneh kalau gue manggil elu pake 'kak' ?" Raut muka boringnya gak berubah. "Aneh ... " jawab Cloud n enyaknya, langsung. Roxas menghela nafas. "Udahlah ... hal remeh macam itu jangan terlalu dipermasalahkan. Ayo makan." Dia kembali membalikkan badan menuju dapur. "Elu ngajak makan bukan dengan daging manusia, kan ?" tanya Cloud, gugup.
"Ya enggaklah ! Emang gue Sumanto ?! (?)."
Roxas kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti, sambil mendengus karna kakaknya itu. "Tapi ... serius, nih ... Roxas ... lu nggak apa-apa ?" Enyaknya nanya lagi n Roxas terhenti lagi. Dia membalikkan wajahnya pelan. Tersenyum bagai malaikat. (sekali lagi, author blum pernah liat malaikat). "Jangan khawatir. Nggak ada apa-apa, kok ... "
Senyumannya sangat amat teramat dan tersangat indah. Tapi, nggak tau kenapa bikin Cloud n enyaknya merinding. Itu sih jelas ada apa-apa ....
KucingPerak
KucingPerak : sekedar informasi yang gak penting-penting amat nih … :
- Soal rumus2 jebakan Roxas, jangan terlalu dipikirin, yah ? Coz, aku Cuma nulis apa yang terlintas di pikiranku, n gak pernah nguji coba itu.
- Garnet itu gak slalu berwarna merah tua, tapi ada juga yg berwarna lain. Kalo gak salah sih ... hijau ... . Tapi, bukannya hijau itu Zamrud/Emerald ? Kuning itu Topaz, Biru itu Sapphire, amethyst ungu, ruby merah delima, aquamarine hijau biru (cyan!), opal biru putih .... (source : ff 9).
- Sebutan angka di atas trita adalah triyar, caturta, caturyar, pancata, pancayar, sadta, sadyar, saptata, saptayar, hastata, hastayar, nawata, nawayar, dasata, dasayar, n nggak tau lagi apaan ... (cape deh ... )
- Aku gak suka matematika ! sama kayaq Roxas di crita ini (gue banget !). Tapi, bukan berarti aku gak tau sama sekali soal itu, dong ! Jadi, klo para MTK-freak ngrasa aneh sama sgala sesuatu berbau MTK yang tercantum di atas (che !), harap dimaklumi ... n harap diinformasikan. Bagi-bagi ilmu gitu loh !
