Salah Sasaran
Kai berdiri persis di depan gerbang rumah Shun.
"Shun kalo sore-sore begini ada di dalem gak ya?" Kai garuk garuk rambut.
Kemudian ia mendekati Outdoor Speaker Intercom warna putih yang tertempel di pagar tembok rumah Shun.
"Ya, siapa?~" Suara Shun terdengar di speaker
"Ini aku, Kai" jawab Kai.
"Tsukiuta Uwait Kopeeeh!~"
"Kopi nyaman gak bikin kembooong! Passwordnya aneh, Shun"
"Selamat!~ Anda dapat uang 2 juta pajaknya gak dipotong!~ Masuklah, Kai~"
Gerbang rumah Shun pun terbuka lebar secara otomatis.
Kai berjalan melewati halaman depan rumahnya yang luas dan terus berjalan hingga depan pintu rumah.
"Shun?"
Gumpalan asap putih tebal pun muncul.
Kai 'jejadian' akhirnya muncul persis di hadapan Kai yang 'asli'
"Shun" Kai langsung tepok ndas.
"Eheheh~"
"Awas kau ya, nanti"
"Gomen, gomen~"
"Shun, biar dikata kau penyihir, kau gak selalu harus make sihir dimana aja, kan?" Kai kali ini menatap Shun dengan muka serius.
Shun langsung pasang puppy face.
"Baiklah, baiklah~ mana bisa aku marah terus sama sahabatku ini"
"Yeay~ ayo, masuklah" Shun melenggang masuk ke dalam rumah, diikuti oleh Kai.
Shun menjentikkan jarinya dan secara otomatis segelas sirup jeruk dan secangkir teh hangat sudah ada di atas meja ruang tamu.
"Aku bosan disini biar lagi nonton TV" nada Shun bosan.
"Ahahaha, kirain kamu sama...ehem ehem" Kai ngeledek Shun.
"Dia mampir ke rumah Koi sehabis dari cafe" Shun manyun.
"Ooh gitu toh" Kai manggut manggut.
Shun mulai meminum tehnya dengan mata menyeringai.
"Kau kenapa?" Kai heran.
"Aku sedang mengawasi kecoa. Kecoa-nya nyebelin masa iwh"
"Kecoa? Mana ada kecoa disini?" Kai menunduk memperhatikan karpet bulu warna silver yang di injaknya.
KringKringKring
"Ah~ itu pasti Hajime!" Shun melompat bangun dari sofa putih panjang dan segera berlari angkat telpon.
"Ya, Hello~"
Kai beralih menoleh dan memperhatikan Shun.
"Oh~ boleh kok boleh" jawab Shun pada sang penelepon.
"Ya~ sampai nanti" Shun mengakhiri percakapannya.
"Siapa? Hajime ya? Heheh"
Shun menggeleng dengan tawa renyah.
"Haru~"
"Tumben Haru ke rumahmu" Kai mengerutkan dahi.
"Pinjem printer"
"Lha, bukannya dia punya ya?"
"Bagaimana ya? Printer punya dia lagi di service. Dia bilang dia mau nge-print materi ulangan harian Bahasa Inggris buat besok~"
"Oke, aku ngerti"
Shun berdiri di ambang pintu depan rumahnya, menyambut Haru.
"Selamat datang, Haru~"
"To the point aja, Shun. Aku mau..."
"Iya, iya...kenapa kamu gak masuk aja dulu, bersantai~"
"O..Oke" Haru mulai sungkan, Shun masuk ke dalam duluan.
Haru masih diam berdiri terpaku.
"Haru? Jangan takut rumahku jadi kotor, ayo masuk. Kecuali..."
"Apa?" Haru cengo.
"Kau masuk lagi ke penjara kegelapan" Shun tersenyum.
"Shun, yamete kudasai" Haru pasang tampang death glare trauma.
"Eheheh~ di dalam ada Kai, lho"
"Kai?"
"Kenapa? Dia kan sahabatku"
"Iya, aku tahu" Haru tersenyum.
Kai sedang minum sirup jeruk saat Haru dan Shun tiba di ruang tamu.
"Hai, Haru"
"Hai, Kai" Haru melambai dengan kaku.
"Kai, Haru...kalian gak keberatan kan kalau ku tinggal pergi ngambil printer?" Shun berdiri nyender di dinding.
"Iya, gapapa sana gih" sahut Kai.
Shun segera berjalan pergi meninggalkan Kai dan Haru berduaan di ruang tamu.
Haru dan Kai saling berpandangan, Haru langsung memalingkan muka.
"Shun sudah bebas dari sihir tangan api, ya!" Kai memulai topik.
"Ahahah~ ini semua karena usaha kita semua"
"Yeah, walaupun Shun nyamar jadi Hajime rada absurd juga sih" Kai nyengir.
"Yah, pada akhirnya dia yang menang" Haru membetulkan posisi kacamatanya.
"Setuju. Nee, Haru"
"Ya, Kai?"
"Kamu gak punya minus mata tapi kok pake kacamata?"
"Ahaha~ karena kacamata itu terlihat keren menurutku" senyum Haru mengembang dengan semburat malu di pipinya.
"Kamu beruntung ya, Haru"
"Eh? Apanya yang beruntung?" Haru cengo.
"Kamu punya tinggi badan normal sih, 180cm" Kai membuang nafas. (Disini ceritanya tinggi Haru 180cm)
"Ahahah~ justru itu..."
"Eh?" Kai mendelik.
"Tinggi badanmu excellent"
Kai mulai menatap Haru dengan mimik tersinggung.
"Eeh, bukan begitu maksudku! Tinggi badanmu itu enak, kalau ambil buku di rak tinggi banget, kamu bisa ngambil tanpa jinjit"
"Ahahah" Kini, Kai tertawa lepas.
Haru memperhatikan Kai yang tertawa lepas dengan senyum tipisnya.
"Nah, sekarang ayo kita bahas Simple Present Tense" Haru mulai menulis di papan tulis.
"Tenses ini dipakai untuk menyampaikan kejadian yang biasa dilakukan sehari-hari, dan merupakan sebuah kebiasaan" jelasnya sambil memandang semua muridnya di kelas.
"Sampai disini, sudah paham?"
"Iyaaa~"
"Saya akan memberi contohnya..." Haru mulai menulis contoh simple present tense.
Tok tok tok
"Maaf menganggu, Yayoi-san" seorang guru wanita muncul di ambang pintu kelas yang terbuka lebar.
"Iya, ada apa Bu?"
"Saya kesini mau menyampaikan kalau Kepala Sekolah memanggil Yayoi-san ke kantornya"
"Ke kantornya? Oh, baik. Mohon Tunggu sebentar" Haru langsung menaruh spidolnya dan memandangi semua muridnya.
"Maaf, anak-anak~ saya pamit keluar sebentar"
"Pak Haru mau kemana?" Murid-murid cewek terlihat kecewa, sedangkan murid-murid cowok sedikit bersorak gembira karena di anggap jam pelajaran kosong.
"Cuma sebentar kok~ saya mau menemui kepala sekolah. Sementara saya pergi, tolong kerjakan latihannya halaman 104, dikumpulin lho~ kalo tidak dikumpulin, saya bisa nangis kejer"
"SIAAAAP~~~" sorak murid-murid cewek antusias.
"YAAAH!" keluh murid-murid cowok.
"Mari, Yayoi-san" guru wanita itu mengangguk. Haru pun keluar dari kelas dan pergi bersama guru wanita itu.
Guru wanita berjalan berdampingan dengan Haru sampai depan kantor Kepala Sekolah.
"Saya pamit balik ke kelas, Yayoi-san"
"Owh, mari mari, silakan" Haru mengangguk bersamaan dengan perginya guru wanita itu.
Haru memegang gagang pintu kantor Kepala Sekolah sambil menelan ludah.
Lalu, didorongnya pintu itu.
"Oh, Yayoi-san! Mari masuk!" Kepala Sekolah menyambutnya.
Di sudut ruangan, terlihat seorang pria bermuka angkuh yang sepertinya seumuran dengan Haru, berpakaian seragam guru PNS Negeri juga sama seperti Haru.
"Maaf menganggumu yang sedang mengajar, Yayoi-san"
"Tidak masalah, ada perlu apa, Pak Kepala Sekolah?~"
"Cih, nada bicara macam apa itu?" Pria itu mendecih.
"Begini...mungkin hari ini adalah hari terakhirmu untuk mengajar Bahasa Inggris, Yayoi-san" Kepala Sekolah bicara sambil hela nafas.
"Ha...Hari terakhir saya? Tapi kenapa?" Haru terkejut.
"Saya berpikir bahwa Guru Bahasa Inggris SMP ini harus di ganti dengan yang baru"
"Tapi kenapa? Apa ada yang salah? Bahkan Murid-murid saya sudah menerima saya dengan baik!"
"Ckck, dimanakah etikamu guru lama?" sela pria angkuh tersebut.
"Apa?" Haru mendelik tajam ke arahnya.
"Mengaku sebagai guru bagus tapi slenge'an. Kalau begitu mana bisa murid-muridmu bisa menyerap pelajaran"
"Jaga mulut Anda, saya tidak slenge'an, saya memang suka mengajar sambil bercanda agar kelas tidak terlalu serius!" Haru mulai marah.
"Simpan kata-katamu, guru lama"
"Apa?" Haru mendelik tajam kembali.
"Yayoi-san! Saito-san! Tolong, jangan bertengkar! Kalian sudah sama-sama dewasa!" Lerai Kepala Sekolah.
Haru langsung membungkuk maaf pada sang Kepala Sekolah, kemudian keluar dari kantor Kepala Sekolah.
Haru hanya terdiam sepanjang hari di kontrakan Kai.
Kai yang melihat Haru yang sangat pendiam hari ini, menghampirinya dengan khawatir.
"Haru?"
"Ng..." Haru memandang Kai.
"Kamu diem aja seharian ini, kamu sakit?"
"Enggak kok~"
Rui mendekati Haru dengan sepiring pudding coklat.
"Haru mau pudding?"
"Enggak, Rui. Aku masih kenyang"
"Haru dipecat dari SMP" Shun frontal.
"Shun!" Kai menegur Shun.
Shun langsung manyun.
"Begini-begini aku bisa baca pikiran lho" katanya.
Di depan TV, Koi sedang sewot dengan Arata karena Arata selalu nge-cheat game.
"Mainmu aja yang gak bener, bocah pink" ledeknya.
"Jangan panggil aku bocah piiinkkk!"
Shun langsung terkekeh.
"Yare yare, Kalian ribut terus ya?~"
"Tau nih, berisik! Tuh kan, artikel incaran gue ilang!" Keluh You yang sedang nyari artikel tugas kuliahnya.
Shun hendak menembakkan sihirnya pada Arata dan Koi untuk menjahili mereka berdua.
"Aku datang" suara Hajime yang tiba-tiba, membuat Shun kaget dan sihirnya jadi meleset ke arah Haru dan Kai yang sedang ngobrol.
Seluruh badan Haru menjadi kejang-kejang.
"Haru!" Rui terkejut karena Haru tiba-tiba saja terkapar di lantai kejang-kejang.
Begitu juga dengan Kai.
"Kai!" Teriak You.
"Haru!" Hajime yang baru masuk langsung panik.
Haru dan Kai mengerang bersamaan sebelum akhirnya tak sadarkan diri.
