Tukeran Tubuh?!

Kai mengerjap bangun dari pingsannya.

"Syukurlah Haru-san sudah sadar" Aoi tersenyum.

"Haru?" Kai mendelik bingung.

"UWAAAH!~ GAWAT! Haru-san lupa ingataaaan~" Koi kocar-kacir.

"Hah?"

"Hih?"

"Huh?"

"Heh?"

"Hoh?"

Aoi langsung menarik lengan Koi.

"Koi, Haru-san baru sadar kok malah di ajak bercanda? Gak sopan! Gomen ne, Haru-san!" Aoi sweatdrop.

"Tunggu dulu! Aku ini Kai, bukan Haru!" Kai semakin bingung.

"Haru-san, kami berdua keluar dulu! Nanti kami kesini lagi!" Pamit Aoi sambil tetap menyeret Koi agar mau keluar dengannya.

Aoi dan Koi pun keluar dari kamar dan menutup pintunya.

Kai tak mengingat apapun kecuali ia sedang ngobrol dengan Haru sebelum pingsan.

Kai menoleh kanan-kiri dan menemukan kacamata milik Haru tergeletak di atas meja nakas.

"Kacamata Haru kok disini sih?"

Kai mendengar suara kegaduhan para cowok-cowok SukaMaju dan SukaJaya yang terdengar dari luar.

Kai segera beranjak turun dari tempat tidur dan mulai menguping di pintu.

"Haru hilang ingatan?! Gak mungkin!" Bantah Hajime.

"Tapi...Tapi kalau dia tidak hilang ingatan, kenapa dia bisa linglung tadi ya, kan Aoi-kun?" Terdengar suara Koi.

"Bagaimana dengan Kai-san?" Tanya Aoi.

"Gue juga bingung,Kai baru bangun dia malah nyariin kacamata" You menjawab pertanyaan Aoi.

Kedua mata Kai pun membulat lalu ia menggeleng.

"Pasti mereka pada bercanda, yare yare" Kai menghela nafas.

"Bentar, mataku jadi agak perih. Ada cermin gak, ya?" Kai mencari-cari cermin dan ia menemukan cermin dinding berukuran sedang dan mulai bercemin.

Kai menatap bayangannya sendiri dengan shock.


"Makanlah, Haru" Hajime menghidangkan sup krim pada jiwa Kai yang kini terperangkap di tubuh Haru.

"...Hajime"

"Aku juga bingung entah kenapa kamu dan Kai mendadak kejang-kejang lalu pingsan" Hajime mulai bicara.

"Haru juga pingsan?!" Kai keceplosan, Hajime menatap Kai dengan heran.

"Maksudmu itu Kai?"

"Ah, iya! Itu maksudku!" Kai terlihat tidak nyaman.

Hajime langsung mengangguk paham.

"Jangan khawatir, Haru. Kai juga baik-baik saja sepertimu, dia sepertinya tak punya penyakit serius yang cukup berarti.

"Syukurlah" Kai menghela nafas bersamaan dengan Kakeru yang datang dengan membawa kacamata Haru padanya.

"Ini dia kacamatamu, Haru-san"

"Eh? Haruskah aku make?" Kai mendelik kaget.

"Lho? Kenapa enggak? Bukannya ini adalah ciri khasmu?" Kakeru kebingungan.

Tiba-tiba datang jiwa Haru yang terperangkap di dalam tubuhnya sendiri.

"Jangan dipake dong, itu kacamataku~" rengeknya.

"Kai, kau ini tidak pakai kacamata. Matamu kan gak minus" ujar Arata.

"Tapi aku ini Haru! Bukan Kai!" Haru protes dengan suara serak.

"Kai-san, jangan marah seperti itu dong" Ikkun mulai takut.

"Yare yare, Kalo sekedar mau pake kacamata mah, kan bisa beli kacamata baru, Kai" You nenghela nafas.

"Tapi itu kacamata kesayanganku!" Haru masih sewot.

"Hah?" Semua orang gak mudeng.

Suasana pun jadi hening.

"Ahahah! Kai pasti mau nyoba gimana rasanya orang pakai kacamata!" Kai berusaha
meramaikan suasana.

"Oooh" semuanya hanya "ber-oh" ria kecuali Hajime dan Shun.

Haru benar-benar sangat tidak nyaman kali ini.

"Hei, kau. Siapapun yang menempati tubuhku, aku mau ngomong sama kamu" ajak Haru pada Kai.

"Kai ini ngomong apaan sih?" You mendelik pada Haru yang dikiranya Kai ini.

Yoru menatap Aoi bingung, Aoi balas menatap Yoru sambil angkat bahu.


"Psst, Haru" bisik Kai memanggil Haru.

"Aku bingung kamu siapa" Haru menatap Kai sinis.

"Aku Kai"

"Kai! K..Kamu pasti ngelawak ya, kan?!"

"Sumpah dah, aku ini Kai!"

Haru langsung melihat sekelilingnya dengan cemas.

"Kenapa kita bisa tukeran badan?~" Haru sangat bingung.

"Aku juga gak tahu apa-apa" Kai geleng-geleng.

"Apa yang harus kita lakukan?" Haru mulai mondar mandir panik.

"Haru..." Kai memanggil Haru yang mondar mandir panik.

"Kita harus gimana? Gak mungkin kita teriak gini "Gaes, kita tukeran badan nih! Gada yang mo ucapin selamet gitchuuu?!" Ke semua orang" Haru masih mondar mandir juga.

JDUG

"Noh kan, kubilang juga apa" timpal Kai.

"Ahahah~ Itai~" Haru kejedot tiang listrik.


"Mereka berdua benar-benar aneh" kata Hajime sambil merenung.

"Jangan-jangan!" Ikkun mulai merinding.

Semua orang menoleh tertuju padanya.

"Kesurupaaan! UWAAA!" sambungnya.

"Ikkun ada-ada aja, hadeeeh" You menatap Ikkun dengan tampang males.

"You-san h..hari ini u..usir se..setannya, ya? Ehehe" Ikkun keringet dingin.

"Kenapa ya setiap ada kejadian aneh pasti setan yang disalahin mulu" You sweatdrop.

"Noh setannya" Koi iseng nunjuk Shun yang lagi berdiri sambil nyender di tembok.

Kemudian Koi teringat saat dirinya diubah jadi teddy bear warna pink.

"UWAAA~ AMPUN SHUN-SAAAN! CUMA BERCANDA DOANG KOK!" Koi segera jongkok di depan Shun dengan pose kedua tangan minta maaf.

"Boku kore wa Maou-sama dakara nee!~" Shun manggut-manggut bangga.

"Koi..." Hajime menghela nafas.

"AAMPUUN HAJIME-SAAAN!~" Koi takut setengah mati.

"Minna~"

"Apa yang kau ketahui soal ini?" Hajime kali ini memandang kekasihnya.

"Jujur saja, ini semua salahku" Shun manyun.

"Eh!?" Semuanya terkejut.

"Shun..." lirih Rui dari tadi cuma diem doang.

"Tadinya aku niat mau ngerjain Koi sama...Arata, eeh sihirnya malah nyasar ke Haru sama Kai" Shun mulai berpose puppy face berjaga-jaga kalo ada yang mau nimpuk mukanya.


"EEEH?!"

"2 HARIIII?!" Sahut Haru dan Kai kompakan.

"Yep~ sihirku itu yang nggak sengaja kena kalian gak ada ramuan penghilangnya, jadi...kita nunggu sihirnya hilang dengan sendirinya"

Haru langsung sweatdrop, Kai tepok ndas.

"Apa beneran gak ada ramuan penghilangnya?" Haru ngusep keringetnya.

"Ya, aku serius. Sepertinya, kalian juga akan bertukar keseharian kalian juga deh~"

"Maksudnya?" Haru cengo gak ngerti.

"Kai kan baru kerja di cafe jadi waiter~" Shun tersenyum menyeringai.

"Waiter?"

"Iya, Haru. Aku jadi Waiter" balas Kai.

"Ahaha~ aku gak tahu tubuhku bakal kerja dimana, mohon kerjasamanya, Kai" Haru garuk kepalanya.

"Wah, kayaknya aku harus biasain diri buat make kacamata nih" Kai juga ikutan garuk kepalanya.

"Shun lagi, Shun lagi. Tuh anak dari dulu emang suka kagak bener" You sweatdrop.

"Sihirnya kelewat luar biasa" komen Arata.

"Shun-san jangan ubah aku jadi boneka lagi ya, plisss" Koi merengek.

"Eheheh~" balas orang yang direngek oleh Koi.

"Aku gak yakin apa memang benar tidak ada ramuan penghilang sihir itu kali ini?" Aoi membuang nafas.

"Apa boleh buat, namanya juga kecelakaan yang gak di sengaja, kan?" Yoru terseyum dengan segan.

"Kai-san pasti tertekan" Rui merasa kasihan.

"Ini ben...bencana" ujar Ikkun.

"Minna, kalian terlalu berlebihan" Kai tersenyum santai.

"Kai..." lirih Hajime yang merasa aneh karena didalam raga Haru terdapat jiwa Kai, didalam raga Kai terdapat jiwa Haru.

"Benar lho, Minna~ selagi kami berdua masih hidup dan sehat, gapapa kok" Haru tersenyum.

"Haru, mulai besok kau kerja di cafe denganku" ujar Hajime.

"Eeeh?!" Haru cengo.

"Tidak ada pilihan lain, Haru. Kai kerja di cafe bareng aku, sementara kau berada di dalam tubuh Kai"

"Oh, kau benar Hajime~ gomen ne~"

"Yosh! Besok, aku mulai nyari pekerjaan baru untuk Haru!" Kai mengangguk dengan semangat.

Haru menatap Kai yang sedang bersemangat itu dengan senyum tipis.

"Ganbatte yo, Beast Master" gumamnya.