Susahnya jadi Kai

Haru duduk di belakang motor berboncengan dengan Hajime seusai kerja full time di cafe dari pagi sampai sore.

"Kerjamu bagus, Kai. Tidak, maksudku Haru"

"Ahahah~ pekerjaan waiter emang gak sulit kok"

"Huh, jangan sombong" Hajime masih mengendarai motornya.

"Nee, Jime"

"Apa, Haru?"

"Kamu yakin ini gapapa? Nanti Shun bisa-bisa nyantet aku lagi" nyali Haru langsung ciut.

"Iya" balas Hajime singkat.

"Bukan gitu sih, orang-orang selalu ngira mentang-mentang aku deket sama kamu, lalu aku naksir kamu gitu deh"

"Bukannya kamu suka dengan Kai?" Hajime tersenyum tipis.

"Hajimeee! ngomongnya jangan kenceng-kenceng napaaa"

"Haha, gomen Haru"

"Ngomongmu kenceng banget kek tukang perabotan" keluh Haru.

Mereka melewati SMP SukaMaju.

"HAJIME BERHENTI DULU DONK!"

Hajime yang kaget langsung mengerem mendadak.

Mereka pun berhenti di depan SMP.

"Haru, kebiasaanmu jelek. Selalu bikin orang ngerem mendadak! Itu bahaya!" Hajime sedikit marah.

"Gomen, Hajime! Gomen! Boleh gak aku ke dalam gedung SMP sebentar?"

"Untuk apa..."

Belum selesai Hajime ngomong, Haru turun dari motor dan langsung ngacir masuk ke dalam halaman SMP.

"Haru... bukannya dia sudah dipecat dari SMP ini?" Hajime heran.

Haru sudah sampai di depan kelas 9-B, kelas dimana dia mengajar dulu.

Sebelum digantikan dengan guru angkuh yang seumuran dengannya.


"Haru!" Kini Hajime sudah sampai. Hajime mengatur nafasnya yang ngos-ngosan karena berlarian menyusul Haru.

"Hajime?"

"Kamu ngapain disini, Haru? Kau sudah tidak bekerja disini lagi"

"Iya sih, tapi aku cuma mau mantau kelas tempat mengajarku dulu. Mumpung aku lagi jadi Kai~"

"Ck, dasar kau ini" Hajime geleng-geleng.

Haru mulai mengintip kelas dari jendela.

Saito sedang mengoreksi latihan harian Bahasa Inggris dengan keras.

"Hei, kamu! Bagaimana kau bisa lulus ujian Bahasa Inggris, kalau mengerjakan ini saja tidak bisa, Hah!" Bentaknya pada seorang murid yang maju ke depan kelas.

Murid laki-laki itu terlihat menunduk dan hampir ingin menangis.

Saito langsung merobek-robek hasil latihan harian murid laki-laki itu dengan tampang kasar.

Haru yang melihat itu langsung bergegas pergi.

"Haru!" Hajime mencegah Haru dengan menarik tangan Haru erat.

"Dia nggak boleh kasar sama muridku!" Omel Haru.

"Tentu saja! Tapi jangan lakukan ini, Haru!" Hajime menegurnya dengan tegas.

"Tapi kenapa?!"

"Kau ini sedang jadi Kai Fuduki, ingat? Kai bakalan gak terima kalau tubuhnya disalah-gunakan untuk bertengkar"

Haru langsung terdiam dan menarik-membuang nafas.

"Kau benar Hajime, maaf" Haru meminta maaf bersamaan dengan terbukanya pintu kelas.

"Maaf, Apa Anda salah satu dari Orangtua murid?" Saito berdiri di ambang depan pintu kelas dengan angkuh.

Haru langsung sweatdrop, sementara Hajime hanya diam sambil melipat kedua tangannya di dada.

"Tidak, bukan." Balas Hajime dengan datar.

"Oh" sahut Saito angkuh.

"Ayo, kita pergi dari sini...Kai" Hajime langsung merangkul bahu Haru.

Haru pun pergi berdampingan dengan Hajime.


"Kai-san... eh maksudku Haru-san" Rui menyambut Haru yang sudah pulang bersama Hajime.

"Hajime-san, ayo masuklah" sambung Rui.

"Makasih, Rui tapi, sepertinya aku mau langsung pulang saja, melanjutkan tugas skripsiku" Hajime tersenyum tipis.

"Haru, ingatlah kata-kataku tadi di SMP. Aku pulang dulu, dah" Hajime melambai singkat dan bergegas pergi dan naik motor.

"JANGAN LUPA, AJAK SHUN KENCAN~" Teriak Haru iseng.

Hajime langsung menoleh pada Haru dengan death glare-nya.

"Gomen~" Haru tersenyum dengan segan.

"Ano Haru-san..." Rui memandang Haru.

"Iya Rui?~ oh, kamu pasti lapar! Mau ku masakin apa?~" Haru tersenyum ramah.

Rui menggeleng dengan wajah murung.

"Rui? Kenapa murung?" Haru cengo.

"Tidak ada apa-apa" Rui hanya tersenyum tipis kemudian masuk ke dalam.

Haru berpikir sejenak.

"Ahahah~ aku lupa beli pudding buat Rui"


Universitas SukaMaju, jurusan Seni Tari...

"Ayo, ikuti saya! Satu...Dua...Tiga..."

Semua mahasiswa dan mahasiswi mengikuti gerakan yang diperagakan oleh dosen mereka, tak terkecuali You.

You melakukan gerakan Dougie yang sama dengan yang lain, sebelum sang dosen menggeleng pada You.

"Haduki-san!" Serunya.

You langsung berhenti sambil mendelik kaget.

"Gerakan Dougie-mu itu salah. Seharusnya kau menggerakkan lengan dan bahu dari kiri ke kanan, bukan sebaliknya"

You langsung manggut paham.

"Sorry, Pak"

"Baiklah, ayo kita ulangi lagi! Ikuti gerakan saya lagi! Satu...Dua...Tiga..."

You menggerakkan lengan dan bahu dari kiri ke kanan.

"Haduki-san!" Dosennya menegur lagi.

"Apa lagi?" You membuang nafas.

"Jangan loyo! Harus semangat!"

"Lah, saya kan udah semangat, lincah pula" protes You.

Yoru berada di depan ambang pintu saat You membuka pintu depan rumahnya.

"Yoru!"

"Uh..Hi You" Yoru melambai.

"Masuklah, Yoru. Gue barusan kelar masak Kari"

"Gimana kuliahmu?"

"Rada nyebelin" You membuang nafas.

"Harusnya jurusan seni tari itu menyenangkan" canda Yoru.

"Menyenangkan sih tapi dosennya yang enggak!"

"You, tenangkan dirimu dulu" Yoru tersenyum dengan mimik takut.

"Gue barusan mikir" You mulai megang dagunya.

"Tentang apa?" Yoru cengo.

"Hahaha, sudahlah. Nanti kalo gue cerita, loe malah bully gue" You melenggang pergi ke dapur.

"Bukan begitu, You! Kalau ada masalah, cerita aja! Kita udah lama berteman dari SD, kan?" Yoru mengikuti You ke dapur.

You mulai menghidangkan sepiring nasi kari buatannya sendiri.

"You...kau dengar tidak?" Yoru terlihat khawatir.

"Gue mikir...lebih baik drop out dari kampus" ucap You.

Yoru langsung kehilangan kata-katanya.

"Habisnya, tuh dosen kayaknya musuhin gue mulu" You mendengus sebal.

"You...kau...bercanda, kan?" Yoru memberanikan diri untuk bertanya.

"Enggak, gue serius"

"Tapi, You..."

"Gue tahu kok, pasti Yoru mikir 'Baru masuk semester 3 udah drop out aja', ya kan?" You tersenyum sambil memegang bahu Yoru.

"You, jangan menyerah! Kau memang harus tingkatkan kemampuan menarimu, bukan?" Yoru mulai berdebat dengan You.

"Bagaimana gue bisa tahan, kalo dosennya aja nyebelin! Belum apa-apa, dance-nya udah di stop duluan. Baru satu gerakan udah di stop, di kritik"

"You!"

"Yoru mau makan kari, kan? Kari nya kutaruh di meja makan, ya" You bergegas meninggalkan Yoru sendirian di dapur sambil membawa 2 porsi nasi kari.

Yoru langsung menunduk sedih.

"Rui, ada apa?" Haru mulai mengelus rambut Rui.

"Tidak ada apa-apa. jangan khawatir, Haru-san"

"Maaf, ya aku lupa beli pudding kesukaanmu. Aku gak tahu kalau Kai punya kebiasaan beliin kamu pudding"

"Di kulkas masih banyak pudding, Haru-san" lirih Rui.

"Ada mata pelajaran home schooling yang gak kamu paham? Aku bisa ajari kamu Bahasa Inggris dengan sangat gampang kalau kamu ngerasa guru home schooling-mu mengajarinya terlalu rumit"

"Tidak ada. Semuanya baik-baik saja"

"Lalu? Kai pasti sedih kalau lihat kamu murung tapi pas ditanya malah ngaku nggak ada apa-apa~" Haru masih mengelus rambut Rui.

Rui langsung menoleh Haru.

"Haru-san..."

"Untuk 2 hari ke depan, anggap saja aku ini adalah Kai yang 'asli' OK?" Haru tersenyum teduh.

"Sebenarnya...aku mau dimasukkan ke SMA Negeri" lirih Rui.

"Lho, bukannya itu menyenangkan?"

"Aku takut..."

"Takut kenapa, Rui?"

"Ikkun pernah cerita padaku kalau dia pernah di bully di sekolahnya, aku takut kalau juga di bully seperti Ikkun" Rui mulai menangis.

Haru tertegun sejenak sebelum memeluk erat Rui.

"Gapapa Rui. Aku sama Hajime juga pernah di bully pas SMA!"

"Mengapa kalian di bully?" Rui melepaskasn diri dari pelukan erat Haru.

"Soalnya Hajime terlalu tegas, makanya...jadi di-cap "sok berkuasa banget" yaaa, begitulah~"

"Terus Haru-san kenapa?" Tanya Rui penasaran.

"Aku di bully karena lebih mementingkan pelajaran daripada hangout waktu itu"

"Pasti sulit karena tidak punya teman baik..." Rui prihatin.

"Aku tidak punya teman baik? Terus si Hajime kuanggap apa dong? Patung? Ahahahah~"

Rui tersenyum lebar.

~To be continued~