Susahnya jadi Kai (2)

"Ini silakan... 1 hot vanilla latte dan Mousse coklatnya~" Haru menghidangkan pesanan salah satu pelanggan kafe di atas meja.

"Terima kasih" pelanggan itu terlihat senang.

"Ssst, pelayan yang ono badannya tinggi banget, ya" bisik salah satu pelanggan di salah satu meja yang dekat dengan Haru yang masih berdiri.

Hajime sedang mengelap membersihkan meja kafe saat mendengarkan gumaman pelanggan itu.

Hajime melangkah menuju Haru sambil hendak mengambil gelas-gelas kotor bekas pelanggan di atas meja yang kosong.

"Tolong, hargai staff cafe disini. Apa itu masalah, bila ada staff kami yang tinggi dan pendek?" Ujarnya pada pelanggan. Pelanggan itu langsung diam tak berkutik.

Haru hendak bergegas pergi ke belakang dapur kafe, sebelum Hajime menepuk pundak Haru dengan pelan.

"Jangan hiraukan mereka" bisiknya di telinga Haru.

"Sekarang aku tahu, susahnya jadi Kai" balas Haru dengan berbisik pula.

"Baik~" ujar Haru lagi.


Hajime dan Haru sedang duduk menunggu di halte.

"Haru, maaf ya hari kita gak bisa barengan naik motor lagi, aku..."

"Skripsi. Aku tahu kok, Hajime~" balas Haru dengan cengiran lebar.

"Nah, sejak kita hari ini pulang sendiri-sendiri, kau mau naik apa?"

"Umm...naik bus. Semenjak Kai pas mau naik angkot kejedot mulu~"

"Hmm...baiklah. Hati-hati Haru"

"Kau juga, Hajime~"

Sebuah angkot sedang melintas, Hajime menyetop angkot tersebut kemudian langsung menaikinya.

Haru melambai pada angkot itu.

Kini Haru duduk sendirian di halte.

Haru mulai menghela nafas.

"2 hari memang terhitung pendek tapi kok lama bener ya, MashaAllah" gumamnya sambil menonton kendaraan-kendaraan yang berlalu lalang di jalan raya.

Mobil, motor, Angkot, MetroMini, Becak, Odong-odong, Delman.

"Kira-kira Kai lagi ngapain ya?" Haru bergumam lagi.

~I'm a Barbie girl, in a Barbie world Life in plastic, it's fantastic~

Ponsel milik Kai terlihat berbunyi dan bergetar di genggaman tangan Haru.

Haru sweatdrop.

"Kai yang se-macho itu ternyata ringtone HP macam gini" komennya.

"Ya, Fuduki Kai disini" Haru menjawab teleponnya.

"Yooo Otsukareee Haruuu~"

ternyata Shun yang menelepon.

"Yo, Shun" jawab Haru.

"Eeh? Suaramu hari ini sedikit murung ya~ jadi bagaimana?"

"Apanya yang bagaimana?" Haru bingung.

"Nanya dong, Hajime tadi siang maem apah?~"

"Kau nelpon aku cuma nanya Hajime doang?" Haru mulai menghela nafas.

"Ya doong~ dia kan pacar aing~"

"Sayur asem sama tempe" balas Haru meladeni Shun.

"Lho, tahu-nya ndak dimakan?"

"Enggak, dia kekenyangan" Haru masih meladeni Shun.

"Dasar Pacar Jahaaat! Togenya togenyaaaa"

"Teganya woy! Teganya!" Balas Haru emosi.

"Eheheh~"

"Tawa lagi lu!" Haru masih meleduk.

"Nee, Haru~ bagaimana perasaanmu pas jadi Kai?"

"Heh?" Haru terdiam sejenak.

"Tidak usah menjawab, toh aku sudah tahu isi hatimu duluan, Jaa Nee"

"Matte yo, Shun!"

TutTutTut

Sambungan telepon pun terputus.

Sebuah bus sedang melintas. Haru berdiri dan melambai pada bus itu.

Bus itu berhenti di depannya, Haru langsung menaiki bus.

Bus pun melaju pergi.


Haru membuang nafas begitu mengetahui semua bangku di bus telah terisi penuh.

Haru pun berdiri sambil memegang erat salah satu gantungan tangan bus.

"Wah, gede bener tuh orang"

"Tinggi bener mirip raksasa"

"Pasti rajin di beliin susu sama emaknya"

Haru mendesah risih mendengar ocehan-ocehan penumpang-penumpang bus itu.

Mungkin karena dia kelelahan bekerja, sehingga kesal.

"Pasti susah ya punya badan setinggi itu..."

Haru yang sudah kelelahan itu langsung menoleh dengan death glare-nya.

Dan para penumpang yang tadi sibuk bergumam, langsung diam.


Haru memasuki supermarket dengan kalem dan langsung pergi menuju bagian Agar-Agar dan Pudding.

"Rui, kau mau pudding rasa apa?"

"Kalau ada, aku mau pudding rasa Matcha" ujar Rui lewat video call.

"Roger!~"

"Haru-san boleh lho makan pudding juga di kulkas" Rui mengingatkan.

"Ahaha iya~ soalnya Kai bilang aku boleh makanin pudding di kulkasnya sepuasnya~"

Rui terlihat tersenyum lebar. Melihat Rui yang tersenyum lebar, Haru ikut-ikutan tersenyum lebar.

"Haru-san, aku mau kerjakan tugas PR-ku dulu, nanti aku main ke kontrakan sehabis tugas PR-ku ini"

"Baiklah, Rui~ sampai nanti. Kerjakan sampai tuntas, aku bisa nangis kejer kalo PR-mu gak di kerjain~"

Sambungan video call pun berakhir bersamaan dengan Haru tak sengaja menyenggol bahu Saito.

"Dimana matamu! lihat-lihatlah kalau jalan!"

"Maaf, maaf" Haru nyengir lebar dan cengiran itu pudar ketika dirinya tahu sehabis menyenggol bahu Saito.

"Oh, kau yang kemarin di depan kelasku itu ya, huh dasar"

Pandangan Haru langsung saja menjadi sinis pada Saito.

Saito langsung melenggang pergi sambil mendorong trolley belanjanya.

Haru menggelengkan kepala kemudian mengambil 4 pack pudding rasa Matcha dan 2 pack pudding rasa Melon untuk dirinya sendiri.


Haru_03: baik2 aja disana Kai?

Kai_07: Iya, aku gpp :) ?

Haru_03: bgs lah, syukur ?

Kai_07: Apa Rui skit?

Haru_03: G Kai, Rui sehat

Kai_07: bsok hr trkhir ea

Haru_03: ea Kai

Haru langsung tersenyum sambil meletakkan ponselnya di atas meja dan langsung tertidur pulas.

Kai_07: Haru?

Kai_07: Haru, aku mo crhat

Kai_07: Haru?

Kai_07: wah, dah tdur ya? Yodah met malem


Hajime dan Shun hanya saling diam sambil duduk di kursi taman.

Hajime melirik Shun yang cuma diem aja plus sedang memakai kacamata hitam.

"Shun..."

"Ya?"

"Tolong lepas kacamata hitam-mu, ini kan malam hari"

Shun langsung manyun, tak suka di perintah.

"Baiklah, abaikan saja perintahku yang itu, ck" Hajime menghela nafas.

"Ya udah" balas Shun singkat padat dan jelas.

"Aku minta maaf, besok lain kali aku akan habiskan makananku tanpa sisa, puas?" Hajime tahu Shun marah karena makan siangnya Hajime tidak Hajime makan sampai habis.

"Iya, kalo makanmu gak di habisin, ntar nasi nya nangis lho~"

"Shun" panggil Hajime.

"Nani, Hajime-chan?"

"Besok itu hari terakhir sihirmu kan?"

"Tentu. Tapi, aku mempertimbangkan juga, sih" Shun nopang dagu.

"Shun, tolong jangan memperparah keadaan"

"Berhubung sihirku sudah professional, besok aku mau coba sendiri musnahkan sihir itu"

"Kau mau coba?"

"Ya, nunggu 2 hari kelar itu berat. Kelihatannya 2 hari bagi orang lain itu pendek, tapi tidak untuk Haru dan Kai~"

"Ya, kau benar, Shun"

"Hajimeee~"

"Apa?"

"Kok disini gelap banget, ya?~"

Hajime meraih kacamata hitam yang masih dipakai Shun, lalu melepaskannya.

"Eheheh~"

Hajime mengecup pipi Shun dengan singkat kemudian menyentuh tangan serta jari-jari milik Shun.


"Haru-san, apa seragam sekolah ini terlihat cocok?" Rui memakai seragam baru SMA nya.

Haru memandang Rui dari jarak agak jauh dengan senyum tipis.

"Cocok kok. Wah, murid baru kelas satu SMA SukaJaya besok masuk hari pertama~"

"He'em!" Rui berdehem setuju.

"Lihat, tas Rui juga keren!" Haru mengangkat tas ransel sekolah Rui warna hijau keabuan.

Rui tersenyum antusias saat mencoba memakai ransel sekolah barunya itu.

Haru mengusap rambut Rui dengan kasih sayang.

"Rui, boleh kan aku jadi kakakmu juga?"

"Ehhm. Boleh!" Rui mengangguk senang.


Aoi mengusap peluhnya seusai selesai memasak dan mengemas masakan katering untuk sebuah acara arisan.

"Yosh! Pesanan katering untuk arisan akhirnya jadiii!~ Hihi, aku mau istirahat dulu"

Aoi menarik salah satu bangku di meja makan dan duduk.

Arata_04: Aoi...

Aoi membaca pesan chat dari sahabatnya.

Aoi_05: Hai Arata. Udh lma g chattingan ya ^^

Arata_04: maaf, gue sbuk bnget krja akhir2 ini, Aoi ?

Aoi_05: haha gpp. Aku jg lg sbuk bikin psanan ktering buat acara arisan ?

Arata_04: Aoi tlong ajari gue cara tersenyum seperti loe dong.

Aoi_05: tersenyum sperti aku?

Arata_04: iya...

Aoi langsung meletakkan ponselnya lalu berpikir sejenak.

"Arata kenapa ya? Tiba-tiba minta di ajari senyum?"

~To be continued~