Bumi Padam

A Fanfiction by Prominensa

Naruto credit to Masashi Kishimoto

[Tidak ada keuntungan yang diambil dari pembuatan fanfiksi ini]

((Uchiha family dan potongan cerita sebelum Bumi menghilang. Dibuat mulai hari Sabtu - Jumat. Terinspirasi dari film Melancholia))

Drama family dan sci-fi/Rate T

.

.

.

~Happy reading~

.

.

.

Ini bukan isu, juga bukan mitos. Akan tetapi, ini tentang kenyataan di mana Bumi akan segera padam. Tidak lagi dirindukan, tidak ada lagi berada di sistem tata surya. Tidak, tidak untuk selamanya.

Dan ini bukan lengkara. Jelas ini kemurkaan yang kita buat sendiri. Karena Bumi adalah fana, akhirat adalah akhir. Kali ini saja, menunduk dan bersujudlah. Kepada Dia, Pencipta Semesta Raya.


Minggu

Aroma buah berry dan cokelat bersua di indra penciuman Uchiha Sasuke. Bola mata yang senada dengan warna langit malam itu, berkelana menjelajahi aneka kudapan di atas meja ruang makan. Ia tersenyum manis bagaikan Green With Berry yang tersaji di sana, dan menyeret satu kursi untuk menunggu sang ratu memulai acara jamuannya.

"Aku menemukan sebuah toko kue kecil di dekat tikungan stasiun," kata Sakura, sambil mendudukkan Sarada di bangku sebelahnya.

Sasuke mengangguk, kemudian mengambil Triple Chocolate Choux lebih dulu, dan membiarkan bunyi 'kres' mengganggu pendengaran Sakura; yang tengah sibuk menyuapi putrinya. "Manis ... enak."

Bibir mungil Sarada terbuka, ia sudah tidak tahan untuk disuapi Sakura. Pipinya menggembung lucu saat mengunyah kue yang divariasi dengan puding lembut itu. Tercium aroma perisa stroberi di dalamnya. Meski begitu, rasa asam dan manis yang larut di mulut membuat bahagia bagi mereka yang tidak terlalu suka manis.

Dalam beberapa detik saja, Sarada berhasil menghabiskan kudapannya. Sakura memunguti piring kotor dan mulai merapikan meja makan. Setelah turun dari kursi, Sarada menyerbu Sasuke dan minta digendong menuju ruang keluarga. Ia menyambar remot tv dan menonton chanel favoritnya.

"Papa, mau beli itu." Sarada menunjuk salah satu iklan mainan yang heboh di tv.

"Aa, Sarada mau beli berapa?" tanya Sasuke dengan penuh kelembutan.

Sebelum menjawab, Sarada menampilkan ekspresi menghitung jari di depan wajahnya. Sasuke pun terkekeh melihat tingkah anak gadis yang nyaris seratus persen mirip dengannya.

"Lima. Sarada mau lima, Papa."

"Wah, banyak sekali. Nanti Mama dikasih tidak, Sarada?"

Sarada menggeleng, lalu tersenyum dengan sangat manis. Sasuke yang sudah gemas akan tingkah putrinya, membuat keisengan dengan menggelitiki Sarada. Gelak tawa mereka merembet hingga dapur. Sakura yang sedang asyik mencuci piring pun tak lama ikut larut dalam kebersamaan mereka.

Salah satu kaki Sarada menginjak remot tv dan tiba-tiba chanel berpindah ke saluran berita. Ketiganya langsung fokus kepada pembawa acara yang terlihat elegan dengan jas berwarna abu-abu. Ia membacakan sebuah informasi dunia yang sempat riuh sekitar satu tahun lalu.

Ada sebuah mukjizat datang dan menyelamatkan manusia juga Bumi. Tepat satu tahun yang lalu, kita digemparkan dengan pemberitahuan dari NASA, jika ada sebuah asteroid Apophis 99942 bergerak ke arah Bumi; yang artinya asteroid tersebut akan menabrak Bumi. Para ahli astronomi sudah memprediksi hal ini sejak lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Dan kita harus bersyukur karena selamat dari bencana tersebut. Sekarang kita sudah melewati tahun dua ribu tiga puluh—

Sakura mendadak mematikan tv dan berkacak pinggang di depan Sarada. Mengingat sekarang sudah pukul tujuh malam, maka sudah waktunya Sarada menggosok gigi dan masuk ke kamar. Walaupun sepertinya Sarada tidak setuju mengenai hal itu, Sakura tetap memaksa dan menggandeng Sarada menuju kamar mandi. Sedangkan Sasuke, ia masih menonton acara tv yang menyiarkan pertandingan sepak bola di belahan dunia lain.

[Tbc]