Bumi Padam

A Fanfiction by Prominensa

Naruto credit to Masashi Kishimoto

[Tidak ada keuntungan yang diambil dari pembuatan fanfiksi ini]

((Uchiha family dan potongan cerita sebelum Bumi menghilang. Dibuat mulai hari Sabtu - Jumat. Terinspirasi dari film Melancholia))

Drama family dan sci-fi/Rate T

.

.

.

~Happy reading~

.

.

.

Ini bukan isu, juga bukan mitos. Akan tetapi, ini tentang kenyataan di mana Bumi akan segera padam. Tidak lagi dirindukan, tidak ada lagi berada di sistem tata surya. Tidak, tidak untuk selamanya.

Dan ini bukan lengkara. Jelas ini kemurkaan yang kita buat sendiri. Karena Bumi adalah fana, akhirat adalah akhir. Kali ini saja, menunduk dan bersujudlah. Kepada Dia, Pencipta Semesta Raya.


Senin; bagian satu

Sengaja Sasuke tak menampilkan wajah cakapnya di hadapan ratusan penumpang di dalam gerbong kereta api. Adalah hari Senin menjadi penyebab kenapa ia menjadi seperti ini. Terlambat bangun dan terlalu sibuk mencari ikat pinggang; yang terselip di tumpukan mainan Sarada, membuat Sasuke kehilangan waktu sebanyak dua belas menit untuk berangkat ke kantor.

Ia mendesah panjang dan bergegas menuju pintu apartemen tanpa sempat sarapan. Sakura yang sudah menyiapkan segalanya mendadak menjadi murung ditinggal sang suami begitu saja. Namun, di sisi lain wanita bernetra hijau itu memaklumi keadaan Sasuke yang dikejar waktu demi mengumpulkan arta.

Jadi, di sinilah Sasuke sekarang. Memandang tangan-tangan yang bergantung pada besi berbentuk lingkaran di atas kepala. Tak ada yang menarik. Air muka beberapa orang jadi seperti cermin baginya. Betapa mereka semua sama; menjalani rutinitas yang sama berulang kali. Dari Senin hingga Sabtu, dari pukul delapan pagi hingga hampir delapan malam. Selama empat minggu, dua belas bulan, dan entah hingga berapa tahun. Mungkin hingga batas usianya, beginilah mereka; mengejar duniawi tanpa ingat jika semua hanya fana. Namun jika duniawi mereka abaikan, taruhannya adalah mati di dunia yang (mungkin) kejam ini.

Sepasang netra hitam itu tiba-tiba menemukan suatu objek yang menarik. Adalah berdiri sesosok pria paruh baya yang mungkin seusia ayahnya. Rambutnya nyaris tertutup warna perak. Garis keriput di wajah tak bisa dihitung lagi jumlahnya. Ia sedikit membungkuk, tetapi masih kuat berdiri di gerbong kereta. Entah siapa namanya, yang jelas membuat Sasuke teringat tentang sang ayah—Fugaku Uchiha.

Ah, jadi rindu ayah dan ibu.

Ayah Sasuke hanyalah seorang pensiunan yang sekarang tinggal di kampung kelahirannya, Hokkaido. Sudah sangat lama, amat sangat lama Sasuke tidak mengunjungi mereka. Terakhir tiga tahun yang lalu, saat Sarada baru bisa berjalan, dan sekarang Sarada bahkan bisa berganti pakaian sendiri. Namun, Sasuke belum juga pulang ke kampung halaman.

Genggaman tangan Sasuke semakin menguat di tiang besi yang kukuh berdiri tegak di sampingnya. Ia menjadi sedikit nostalgia karena pria yang barusan ia lihat. Terlalu sibuk mengejar duniawi membuatnya hampir melupakan orang yang sudah mendidik dan membesarkan Sasuke. Bagaimana dulu sang ayah berjuang agar ia dan kakaknya, Itachi, dapat bersekolah tinggi hingga ke jenjang sarjana.

"Lakukan yang terbaik, Sasuke!" pesan sang ayah saat mengantar Sasuke ke Tokyo.

Mengingat saat-saat itu membuat air asin di ujung matanya terjatuh. Baru ini Sasuke merasa merindu. Rindu menjadi anak seusia Sarada. Karena ia selalu dimaafkan jika berbuat salah. Dimaklumi sebagai anak-anak. Namun sekarang, ia yang menanggung beban sebagai seorang suami dan ayah.

Di detik lainnya, Sasuke ingat jika ia mempunyai saudara kandung. Mereka tinggal di kota yang sama, tetapi tak pernah saling bersua. Baik dari pihak Sasuke maupun Itachi, tak ada yang saling berbagi kabar selain melalui teknologi.

Kenapa seperti ini? Sepenting itukah uang hingga, aku lupa dengan keluargaku?

Pertanyaan itu terus membuat hati Sasuke kelabu hingga ia tiba di kantor.

Mungkin weekend nanti aku akan mengunjungi mereka.

[Tbc]