Keseharian Kembar Tujuh!

BoBoiBoy © Animonsta

Fanfic by HikariFuruya

Chapter 4 : Berbagi Cerita

Warning! OOC, typo bertebaran, humor garing dan Human!Alien(?)

Ngga suka? Tombol 'back' selalu menemani anda jika tidak suka!

Enjoy~

Pagi hari yang cerah, burung-burung berkicauan dengan riangnya dan—

"TAUFANN! BLAZEE!"

—Ritual untuk membangunkan sang singa beriris merah seperti biasanya.

Sang anak ketiga dari Boboiboy bersaudara hanya bisa menghela nafas dan berkata, "sudahlah.. Kita harus pergi kesekolah loh.. Jangan menambah bebanku dulu sebelum kita sampai disekolah.." Thorn yang mendengarnya itu mulai berpikir, 'Jadi, kalau kita sudah berada disekolah, kak Taufan dan Kak Blaze boleh mengerjai kak Gempa..?'

Solar dengan santainya berjalan keluar dari kamar mandi sambil menenteng handuknya. Jika kau berada disebelahnya, kau dapat mencium wangi jeruk dari tubuhnya, karena dia baru saja selesai mandi. Ia melihat Taufan dan Blaze sudah tepar disamping kamar mandi, lalu ia hanya berjalan melewati mereka saja.

"Pagi kak Gem! Sarapan kita hari ini apa?" tanya Solar sambil merangkul Gempa. Pemuda dengan iris golden itu tersenyum dan menjawab, "selamat pagi Solar. Hanya nasi goreng dan air putih. Aku sedang malas memasak makanan yang agak berat.." Yang bertanya hanya ber-oh ria sambil menganggukkan kepalanya. Ice yang sudah memakai seragamnya itu sudah molor diatas meja. Halilintar dengan kesalnya duduk dan mulai menyantap sarapan yang dibuat oleh adik keduanya. Gempa cuman tersenyum dan sweatdrop melihat tingkah kakak pertamanya.

Pada akhirnya, mereka mulai berdamai dan menyantap makanan mereka dengan tenangnya.

0o0o0o0o

"Met pagi 'muaa~" sapa Taufan dengan ceria ketika memasuki kelas X-A dan disusul oleh kembarannya yang lain. Sebagian orang yang berada dikelas menjawab sapaannya dan sebagiannya tidak menjawab, hanya menatapnya saja. Taufan melihat teman sebangkunya, s;eorang pemuda dengan iris sapphire yang hampir sama dengan irisnya itu. "Mizu! Lama tak jumpa kita ya! Gimana kabarmu?" tanya Taufan dengan senyuman lebarnya. Mizu tersenyum lebar juga sambil menganggukkan kepalanya dan menjawab, "kabar baik! Kangen banget sama kamu ih~" Pemuda yang duduk disebelah Mizu menatapnya dengan aneh.

"Kenapa sih Katashi? Jealous? Ulu ulu~ sini Upan peyu—"

"Akan kuhajar kau nanti sepulang sekolah, Taufan..."

"Yah ngga bisa diajak bercanda banget elu ah~"

Mizu hanya ber-sweatdrop dan memasang senyuman kaku. Katashi mendengus kesal dan segera mengalihkan pandangannya keluar jendela. Taufan cuman tertawa dan mulai bercakap santai dengan Mizu.

Halilintar yang sedang duduk dikursinya dengan tenangnya mulai merasa terganggu oleh seseorang. "Ini masih pagi, jangan buat aku kesal Ufan.. Kau tidak ada bedanya dengan Taufan.." gumamnnya sambil menatap seorang pemuda dengan iris berwarna hitam yang sedang menusuk-nusuknya dengan pensil miliknya. Yang ditegur tadi cuman bisa tersenyum. "Alah, jangan dingin banget dong Hali, nanti gak ada cewek yang mau sama lu loh~" ujar seseorang lagi yang duduk disebelah kiri Halilintar. Halilintar mulai menatap pemuda dengan surai coklat dengan tajam. "Sudahlah Jean, dia cuman jadi dirinya sendiri~" ucap Ufani dan mengibaskan tangannya. Jean cuman tertawa pelan.

Beberapa menit kemudian, beberapa kumpulan anak perempuan mulai memasuki kelas X-A. "Pagi semuaa~ Hari pertama sekolah setelah beberapa bulan libur~" ucap seseorang diantara mereka yang memiliki surai hitam panjang. "Selamat pagi Dilla,"ucap Gempa disertai dengan senyuman. Dilla melihat kearah Gempa dan segera melemparkan senyuman manisnya kepadanya.

Yang lain pun duduk ditempat masing-masing dan mulai menunggu guru kebenaran mereka masuk.

0o0o0o0o

Istirahat. Sesuatu yang paling dinanti-nantikan oleh para pelajar SMA Pulau Rintis. Bahkan yang mempunyai gebetan menantikan istirahat, bukan hanya menantikan gebetan mereka untuk peka terhadap perasaan mereka. OKe lanjut. Manusia yang menghuni kelas X-A sudah hampir semua keluar dari kelas mereka. Yang tersisa hanya 4 laki-laki dan 4 perempuan. Mereka sedang menikmati makan siang mereka sambil bercerita. Ada juga yang sambil bermain HP mereka.

"SHUTDOWN!"

"YOU HAVE SLAIN THE ENEMY!"

"Kampret lu.."

"Peduli ah.."

"Hey, apa kalian punya cerita horror?" tanya salah satu gadis dengan surai pink mengganti topik pembicaraan. Ice yang sedang tidur tiba-tiba saja menaikkan kepalanya dan memandang gadis itu. "Horror..? Aku ada banyak sekali. Kalian mau mendengarkannya.." gumam Ice sambil memasang aura suram(?). Gadis itu langsung berhenti makan dan memandang Ice. Ia berseru, "kalau begitu, ayo duduk disini! Ceritakan cerita horror yang kau miliki!" Gadis dengan iris ruby menatap temannya horror.

"K-kenapa harus horror, R-Reina..? Tidak ada yang lain ya..?"

"Oh ayolah, bukannya itu menyenangkan, Chrysilla? Aku suka horror!"

"IYA AKUNYA ENGGA OI, PEKA SEDIKIT NAPA SIH!"

Reina cuman tertawa dan menjulurkan lidahnya. Ice mulai menggeser kursinya mendekati meja mereka. Chrysilla sudah mulai was-was, karena dia tau kalau Ice sangat menyukai horror. "U-um.. S-sebaiknya kita bercerita yang lain.. Ya kan, Aquamarine..?" tanya Chrysilla sambil melihat kearah pemuda surai putih yang sedang menikmati rotinya. Aquamarine cuman menggelengkan kepalanya. Chrysilla segera melihat temannya yang memiliki style rambut dikucir dua dan bertanya, "Bagaimana denganmu, Aliya?"

"Aku tidak keberatan.."

"AHH! Sudah cukup! Cerita saja! Aku kalah!"

Gadis yang duduk disamping Chrysilla mencoba untuk menghiburnya. "Biarkan saja dia, Aly. Dia emang gitu orangnya," ujar Reina sambil mengibaskan tangannya dan memakan bekalnya. Alyshah cuman tertawa garing dan lanjut dengan makan siangnya.

"Sampai kapan kalian mau main game itu terus?" tanya Ice sambil menatap kedua temannya yang sibuk bermain Mobail Legen. Pemuda dengan iris ruby itu cuman menghela nafas dan memainkan HP-nya lagi.

"VICTORY!"

"AH CUKUP, LELAH GUA!"

Fang mulai mengambil ancang-ancang untuk membanting HP-nya kelantai. Yang mengalahkannya hanya tersenyum penuh kemenangan. "Aku bicara dengan kalian, Fang, Andro.." gumam Ice kesal. Fang dan Andro cuman diam menatap Ice. Ice pun menyuruh mereka untuk duduk berdekatan, agar mereka dapat mendengarkan ceritanya.

"Tunggu apa lagi? Ayo cerita Ice!"

"Oke.. Jadi.."

Seorang pemuda yang memakai jaket berwarna biru tua sedang berlari kearah rumah. Wajahnya pucat sekali, keringat bercucuran diwajahnya. Pemuda itu langsung saja membuka pintu rumahnya dan segera memasukinya. Lalu ia membanting kuat pintu rumah itu tanpa rasa kasihan. Lalu, ia menghela nafas lega.

Semuanya terlihat gelap sekali. Pemuda tadi tidak bisa melihat apa-apa, jadi ia mencoba untuk mencari saklar lampu, agar ia dapat melihat jelas isi rumahnya.

Tap.. Tap.. Tap..

Terdengar langkah kaki seseorang yang mendekatinya. Bulu kuduknya langsung berdiri ketika ia merasa ada yang memegang pundaknya.

"AHHHH!"

Pemuda itu langsung saja menepis tangan yang memegang pundaknya tadi dan langsung berlari entah kemana. Sialnya, ia terpeleset dan jatuh. "u-urkh.." Selain suara langkah kaki, ia juga mendengar suara mesin. Seperti suara chainsaw. Badan pemuda itu bergemetaran dengan hebatnya. Suara tawa menggema diruangan itu. Pemuda itu mencoba untuk merangkak menjauhinya. Tiba-tiba tangannya memegang sesuatu. Segera dia mengambil benda itu dan berpikir kalau itu adalah senter. Cepat-cepat ia menghidupkan senter itu. Dia langsung saja mengarahkan kebelakang.

Tidak ada orang.

Bulu kuduknya berdiri lagi. Pemuda itu segera bangkit dan melanjutkan pencariannya untuk menghidupkan lampu. Beberapa detik kemudian, akhirnya lampu pun hidup. Betapa terkejutnya dia ketika melihat lantai rumahnya dipenuhi oleh cairan kental berwarna merah.

Terlihat seperti..

Darah.

Ingin sekali pemuda itu menjerit, tetapi tidak bisa. Suaranya tidak bisa iak kelaurkan karena terlalu panik.

'H-ha.. D-dimana kakak..?' batin pemuda itu sambil perlahan berjalan untuk mencari kakaknya. Ia menaiki tangga rumahnya. Dengan senter yang masih dipegang ditangannya, ia mulai membuka pintu kamar kakaknya.

Gelap.

Ia menyalakan senternya. Barang-barang tersusun rapi disana. Tetapi ada sesuatu yang asing dimata pemuda itu. Sebuah boneka dengan pita kupu-kupu yang berada dilehernya. Boneka itu diletakkan diatas lemari. Ia mendekati boneka itu sambil melihatnya lekat-lekat. Disamping boneka itu terlihat ada sebuah pisau yang berlumuran darah.

BRAK!

Pintu tertutup dengan sendirinya. Pemuda itu langsung menjerit karena kaget. "Kak?! Jangan bercanda..! Ayo keluarlah!" seru pemuda itu panik. Ia mencoba membuka pintu itu tetapi tidak bisa. Sepertinya pintu itu terkunci dari luar. Terdengar suara cekikikan didalam kamar itu. Ia mulai was-was, walaupun wajahnya sudah pucat sekali.

"Maukah kau bermain denganku..? khukhukhu~"

Mendengar suara itu, pemuda itu langsung menoleh kebelakang dan melihat seseorang dengan pita kupu-kupu. Ia membawa sebuah pisau ditangannya. Pemuda itu langsung saja berjalan mundur dan orang yang membawa pisau itu perlahan berjalan mendekatinya.

"J-jangan.. Jangan!" teriak pemuda itu dan membuka pintu. Masih saja terkunci.

"Khukhukhu~ Ayo main denganku.."

Langsung saja orang yang membawa pisau tadi berlari kearahnya dengan cepat dan me

"Ice, sampai kapan kau mau bercerita tentang cerita itu?!"

"Tapi kak, kalo dijadiin cerita serem itu seru loh.."

Kakak kedua dari Boboiboy bersaudara itu menghela nafas panjang. Teman-temannya yang sedang mendengarkan cerita Ice merasa sedikit bingung. "Sebenarnya, itu cerita tentang pengalamanku. Dan Ice mengarangnya.." jelas Taufan sambil menggaruk kepalanya. Ice memasang wajah tanpa dosa dan membuat tanda peace. Reina mengangkat tangannya dan bertanya, "emang kenapa sih?" Taufan menghela nafas sekali lagi. "Aku dikerjain sama saudaraku sendiri. Bahkan Gempa ikut mengerjainku.." ujarnya dan duduk disamping Andro.

"Ada kukasih izin untukmu untuk duduk disampingku? Menyingkir.."

"Salah aja aku dimata kamu bang.."

"Berantem yuk?"

Taufan cuman tertawa garing. Dan Andro menghela nafas dan melihat kearah lain. Yang lain hanya tertawa (kecuali Ice). "Nah, ayo lanjut lagi Ice!" seru Reina.

"Baiklah.."

SNAP!

Pisau tertancap dipintu. Hampir saja mengenai wajah pemuda itu. Jantungnya sudah memompa dengan sangat cepat. Sekarang, orang itu sudah berada didepan wajahnya.

"Takut? khukhukhu~"

Pemuda itu dengan susah payahnya menelan ludah sendiri. Lalu ia...

"Dicium?"

...Iya dici- Hah?

Semua orang langsung menoleh kesumber suara. Ice mendengus kesal dan yang lain ber-sweatdrop berjamaah. Yang dilihatin cuman tertawa. "Udah ah, males cerita aku jadinya. Mau tidur bye," ucap Ice dan berjalan ke mejanya. Lalu ia kembali berhibernasi. Reina terlihat kecewa, sedangkan Chrysilla matanya sudah berbinar-binar. 'Akhirnya selesai juga ujian hidup ini!' batinnya menjerit kesenangan.

"Dro, Pan. Yuk ML, push kita,"

"Pangkat lu masih Master III, masa mau push bareng yang uda masuk Grandmaster I?"

"Kampret.."

Pada akhirnya, murid yang berada dikelas kembali melakukan aktivitasnya, selain bernafas.

0o0o0o0o

Pelajaran berlangsung dengan damainya. Tidak ada bisikan setan, ataupun kegaduhan yang dibuat oleh murid kelas X-A. Guru Papa Zola sekarang mengajar matematika disana.

"Nah anak-anak murid kebenaranku! Hari ini saya akan memberikan kalian sebuah kuis!"

Dan mulailah, sebuah kuis tak jelas dari beliau. Banyak murid disana menghela nafas panjang. Kenapa kalian tanya? Karena pertanyaannya akan melenceng dari pemikiran logika para murid, guru bahkan ilmuwan terkenal diluar sana, walaupun masih bisa dijawab. Namun, ada juga murid yang senang akan diberikan kuis.

"Aku yang akan menjawabnya dulu, kau lihat saja nanti Yaya!"

"Didalam mimpimu Ying! Akulah yang akan jawab duluan!"

Panjang umur untuk kalian, para gadis jenius.

Oke lanjut. Mereka berdua sudah bertatapan dengan tajamnya. Papa Zola yang sudah terbiasa dengan pemandangan seperti itu, mulai berbicara lagi, "Kalian ingin dalam bentuk cerita atau langsung soalnya?" Mendengar perkataan Papa Zola, Taufan dan Blaze langsung saja berseru dengan kerasnya, "SOAL CERITA PAK!"

Yang duduk bersama dengan duo pembuat onar itu langsung saja memukul mereka dengan kerasnya. Taufan dan Blaze cuman meringis sakit. Papa Zola mengusap dagunya dan menganggukkan kepalanya. "Baiklah anak-anak murid kebenaran! Saya akan mulai bercerita. Dengar baik-baik ya, saya tidak akan bercerita 2 kali!" serunya.

"Woi, lu gila ya? Elu lupa pas dia cerita tentang kalian pas SD?! Sampai 3 jam!" bisik Fang sambil menatap Taufan. Taufan cuman tertawa dan berbisik balik, "Bukannya bagus? Kita akan tidak belajar beberapa les karenanya!"

[Perilaku tidak baik, jangan ditiru. Hanya seorang profesional saja yang boleh melakukan hal ini!]

Papa Zola mengambil nafas dan mulai bercerita.

Disebuah rumah terdapat 10 orang anak. Mereka bernama A, B, C, D, E, F, G, H, I, J—

"K, L, M, N, O, P!"

Semua murid beserta Papa Zola menoleh kearah seorang murid dengan surai coklat almond. "Clay, sehat ngga? Mau kuantarkan ke UKS ngga?" tanya Chrysilla yang kaget melihatnya. "Apa yang telah kau lakukan ini hahh?! Ini kelas matematika, bukan seni musik! Mau di kepishh?!" teriak Papa Zola sambil menunjuk kearah Clayrine dengan rotan Keinsafan-nya. Gadis itu cuman tertawa garing sambil menggelengkan kepalanya dan berkata, "Tidak pak.. S-saya insyaf.."

"Huh, dasar murid zaman sekarang.." ucapnya sambil menggelengkan kepalanya. "Yasudah! Saya akan lanjut bercerita!" serunya lagi.

Kedua orang tua mereka bekerja diluar kota, jadi meninggalkan kesepuluh anak mereka dirumah yang cukup besar tanpa pembantu itu. Sebagai kakak tertua, J bertanggung jawab terhadap ketertiban rumah. Kebersihan rumah berada ditangan G dan C dan makanan sehari-hari mereka diurus oleh I dan E. Mereka kadang hidup dengan damai.

Pada hari Minggu, mereka semua melakukan aktivitas mereka masing-masing. A bermain game dengan hebohnya dan B melihat A bermain. C membaca buku dikamarnya, D sedang menyiram tanamannya. E sedang mengerjakan sesuatu didepan komputernya. F sedang bermain catur, G sedang tidur dan belum bangun-bangun dikamarnya. H sedang menjahili I yang sedang bermain dengan PSP-nya.

"Nah jadi, anak yang bernama J itu sedang melakukan apa? Jika betul, kalian akan pulang cepat!" Seru Papa Zola dengan gaya kebenarannya. Semua anak memeras otak mereka masing-masing.

[Ada yang tau jawabannya? Boleh dijawab disini! Kalau benar dapet 7M!

Halilintar : Begok, nipu aja lu!

E-ek.. Ketauan.. Oke maapkan Hika, Halilin~]

"Pak.."

Gopal mengangkat tangannya. "Yaa? Apa jawabannya, anak muda?!" Seru Papa Zola yang sudah berada didepan siswa yang mengangkat tangan tadi. "Saya bukan mau menjawab, tapi ini kelas matematika pak, kenapa jadi kelas kuis?" tanyanya sambil menurunkan tangannya.

Krik.. Krik.. Krik..

Semua murid menatap Papa Zola dengan horrornya. Papa Zola sudah berkeringatan.

"Emangnya saya ada bilang kalau ini kelas matematika hah?!"

"Apa yang telah kau lakukan ini hahh?! Ini kelas matematika, bukan seni musik! Mau di kepishh?!"

Semua murid dan Papa Zola menoleh kebelakang, melihat Ice yang mengangkat tape recorder berukuran kecil. Suara Papa Zola terdengar dari benda kecil itu. Mulailah Papa Zola berkeringat dingin lagi. "S-saya akan pergi ke toilet dulu!" Serunya lalu keluar dari kelasnya, takut diterror oleh anak muridnya dengan pistol air.

To Be Continued~

YOSH, KEMBALI LAGI SAMA HIKA YANG LAMA UPDATE SEKALI~

Maapkan Hika yang jaran update ini TvT)

Thorn : Kayaknya asal update, selalu bilang maaf kamu ya Hikari..

Taufan : Iya tuh..

Ya kalo ngga minta maap, mau gimana lagi?

Halilintar : Mati aja, gapapa kok

IH HALILIN! Kejem amat lu!

*batuk* Ehem! Oke, Hika masih mengeluarkan beberapa OC milik readers. Yang lain bakalan Hika keluar semuanya kok, tenang dan sabar aja =v=)~ semoga otak ini bisa lancar selancar air yang mengalir dan menjadi Aq*a.

*le author dihajar massa*

AMPUN OI!

Oke.. Hika juga gatau bakalan kapan Hika update lagi, soalnya kalo gak ada laptop, susah juga buat ceritanya. Apalagi banyak juga nama OC para readers yang susah buat dihafal ( " =-=)
Maafkan Hika yang goblog ini ya~

Soo, silahkan tunggu next chapter-nya :*

Bye~

HIKA LUPA UPDATE DISINI ASTAGA! MAAFKAN HIKAA!

Sudah pindah lapak soalnya :"Di Wattpad

Cari Hika disana! Banyak cerita yang Hika buat disana :

Halilintar : Eleh, baru 4 cerita doang..

Uda diem lu!