Hi warga FFn! :D

Maaf Hika jarang nongol disini ( " =w=)9

Readers dari Wattpad : Elah, di WP juga jarang on lu pe'a!

E-eh.. Kok ngegas ngomongnya? =3=)

Hika sudah lebih suka on di WP. Entah kenapa Hika juga gatau :'

Ini aja kelupaan ngepost disini (13 hari yang lalu a.k.a tanggal 24 September, Hika post chapter ini di Wattpad)

Maapkan Hika yang pelupa ini :'

Jadi, Hika mau menghiatuskan buku ini sementara

Karena Hika lagi ndak ada di fandom BoBoiBoy :'

Sekarang, Hika lagi di fandom Mo Dao Zu Shi

banyak cogan humu disana awh

Karena itu, Hika tulis bonus chapter untuk kalian semua! :D

Silahkan dibaca! xD

BoBoiBoy © Monsta

Bonus Chapter : Apa?! Mereka... Berkencan?!

Fanfic by HikariFuruya/Hikanyann

Warning! OOC, typo bertebaran, humor garing dan Human!Alien(?)

Ngga suka? Tombol 'back' selalu menemani anda jika tidak suka!

"TAUFANN! BLAZEE!"

Boboiboy Gempa, anak ketiga dari Boboiboy bersaudara, hanya bisa menghela nafas panjang untuk keberapa kalinya mendengar auman dari sang singa.

"Demi dewa Neptunus, kumohon berhenti berteriak dipagi hari! Aku tidak bisa menikmati teh Matcha-ku..!" Teriak sang pemuda beriris golden itu kesal. Ketiga makhluk ghaib itu menghirau omelan Gempa dan melanjutkan aktivitas rutin mereka.

Perempatan imajiner muncul dikepala Gempa. Ia mulai berdiri dari bangkunya. Solar yang melihatnya langsung saja menahannya. "K-kak..! Jangan marah..!" Mohon Solar. Gempa menatap Solar sebentar, lalu tersenyum manis.

"Baiklah Solar.. Aku tidak akan marah, tapi kamu urus kakak-kakakmu itu ya?"

"Oke kak Gem!"

Solar ikut mengembangkan senyum lebar dan berhenti memeluk tangan Gempa. Sang pemuda berkacamata itu segera mendekati ketiga makhluk ghaib itu dan berbisik, "aku sudah menyelamatkan nyawa kalian, jangan lupa untuk membeli nasi lemak tiga bungkus untukku!"

Mereka bertiga langsung terdiam. "Gempa marah ya?" Tanya Taufan dan dibalas dengan anggukan oleh Solar. "Argh, aku benci persetujuan ini!" Seru Blaze frustasi. Halilintar hanya terdiam, memikirkan nasib uangnya yang sudah ia kumpulkan.

Persetujuan kata Blaze? Iya, persetujuan antara Halilintar, Taufan, Blaze dan Solar. Jika Halilintar, Taufan, Blaze membuat keributan dan membuat sang ibu (sebut saja Gempa) marah, Solar-lah yang akan menenangkan sang ibu dari kemarahannya. Jika ia berhasil, ketiga makhluk ghaib itu harus mentraktir Solar apapun yang ia mau. Cukup aneh ya?

Solar tersenyum-senyum. Ia segera meninggalkan mereka sambil berkata dengan seringai diwajahnya, "Jangan lupa ya~ Kalo lupa, awas aja kalian~"

Mereka bertiga menghela nafas panjang. "Kalau bukan gara-gara kalian, uangku tidak habis kalian tau!" Seru Halilintar dan melihat kearah duo pembuat onar itu. Yang ditatap hanya memasang wajah polos. "Kami kan hanya mencoba membangunkanmu, kak Hali~" kata Taufan dengan nada yang dibuat-buat. Blaze menganggukkan kepalanya. "Membangunkanku? Dengan menyumbat hidungku dengan tisu sampai aku tidak bisa menafas?" Tanya Halilintar. Kedua pemuda itu hanya tertawa pendek. Menghela nafas, Halilintar segera meninggalkan mereka berdua yang sudah melakukan tos.

0o0o0o0o

Thorn dan Ice sedang berada ditaman rumah mereka. Ice membantu Thorn menyirami tanamannya. "Tumben kak Ice mau bantu Thorn siram bunga. Biasa jam segini kakak masih tidur," ujar Thorn dan melihat kearah Ice yang sedang menguap. Ice hanya mengangguk kecil. "Aku tidak mau senasib dengan kak Hali.. Jadi aku cepat-cepat bangunnya.." jelas Ice dan mengangkat gembor yang ia gunakan untuk menyiram tanaman. Thorn memiringkan kepalanya heran, namun ia hanya diam. Mereka pun melanjutkan aktivitas mereka.

"Selamat pagi untuk kalian berdua.."

Mendengar seseorang menyapa mereka berdua, Ice dan Thorn segera menoleh.

"Oh, abang Kaizo! Selamat pagi!" seru Thorn dengan nada cerianya. Ice menyipitkan kedua matanya dan menatap Kaizo.

"Abang Kass- Hmph!"

Thorn buru-buru menutup mulut Ice ketika sang kakak ingin menyelesaikan kalimatnya. "Shht! J-jangan panggil dia itu kak!" ujar Thorn panik. Pemuda dengan manik hijau itu tidak mau kejadian yang luar biasa terulang kembali. "A-apa kau lupa apa yang dilakukan abang ketika dia dipanggil Kassim?" bisik Thorn kepada Ice. Yang ditanya hanya diam memikirkan kejadian yang dimaksud oleh Thorn.

"Yang mana..?" gumam Ice dengan lugunya.

Oke, akibat teriakan dari sang singa, mereka mulai meninggalkan sifat asli mereka...

Oke, kembali ke cerita. Kaizo terlihat bingung dengan kedua kembaran itu. Thorn menghela nafas pendek dan segera berdiri. Ia memasang senyuman diwajahnya dan bertanya, "ada apa abang pagi-pagi datang kemari?"

Kaizo menggaruk pipinya perlahan dan tertawa kecil. "Aku ingin mengajak Gempa ke suatu tempat. Apa dia ada didalam?" Tanya sang pemuda bersurai ungu tua itu. Ice dan Thorn menatap horror Kaizo. Mereka langsung saja membelakangi sang pemuda itu dan berbisik-bisik.

"Ada apa dengan mereka?!" - Ice

"Aku juga ngga tau kak.. Apa jangan-jangan mereka mau berkencan..?" - Thorn

Kaizo yang memerhatikan mereka tentu saja sangat bingung. Setelah mulai berdiskusi, sang kembaran itu segera menghadap kedepan.

"Kak Gempa lagi sibuk bang! Mung-"

"Eh? Ada abang Kaizo!"

Ketiga pemuda itu langsung menoleh ke sumber suara. Sang ibu a.k.a Gempa keluar dari rumah dengan senyum ramahnya. "Kenapa kalian tidak mempersilahkannya untuk masuk?" Tanya Gempa heran. Thorn dan Ice kesusahan untuk menjawabnya. Kaizo hanya diam ditempat.

"Ayo abang Kaizo masuk kedalam dulu!" ajak sang pemuda beriris golden itu. Kaizo menganggukkan kepalanya dan mengikuti Gempa dari belakang, meninggalkan kedua makhluk didepan.

"K-kita harus memanggil mereka!" Seru Ice langsung. Thorn menatap kakak kelima-nya dengan tatapan heran. "Untuk ap-" perkataan Thorn terpotong karena ia ditarik dengan kuatnya oleh Ice untuk memasuki rumah mereka. Pemuda dengan iris biru terang itu segera mencari keempat makhluk ghaib yang lainnya.

"Kak Hali, kak Taufan, kak Blaze, Solar! Ini darurat!" Seru Ice.

Keempat pemuda itu pun keluar dari tempat persembunyian mereka. "Ada apa?" Tanya mereka serentak. "Ini berkaitan dengan kak Gempa.." bisik Ice. Mereka, terutama Halilintar sangat kaget. "Ayo kita kekamarku!" Kata Taufan dan dibalas dengan anggukkan oleh keenam saudara kembarnya.

Mereka berada dikamar Taufan sekarang. "Jadi.. Ada apa sampai menyuruh kami berkumpul?" Tanya Solar sambil menatap Ice dan Thorn bergantian. Ice pun menceritakannya kepada keempat saudara kembarnya dengan serius.

"..Begitulah.." ucap Ice setelah menjelaskan semuanya. Keempat saudaranya berpikir keras.

"Masa sih mereka pacaran? Ngga mungkin!"

"Aku setuju dengan kak Taufan!"

"Tapi mereka terlihat dekat sekali.."

"K-kita harus mengikuti mereka berdua!"

Lalu, mulailah mereka merencanakan sesuatu.

0o0o0o0o

Gempa dan Kaizo sedang berbincang diruang tamu rumah para Boboiboy bersaudara. "Jadi, abang kemari ada keperluan apa?" Tanya Gempa. Kaizo menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal dan berkata, "aku cuman mau mengajakmu keluar seharian penuh ini.."

Terlihat pipi Kaizo memerah sedikit. Gempa melihatnya sebentar lalu tersenyum. "Baiklah kalau abang mengajakku. Aku ganti baju sebentar ya!"ucap Gempa dan segera bangkit dari sofa. Ia pun berjalan kekamarnya.

Mereka berdua tidak sadar kalau 12 pasang mata sedang mengawasi mereka daritadinya.

"Memang betul. Mereka akan berkencan, hari ini,"

"Jadi gimana?"

"Gua uda ngasah katana gua..."

"Kita ikuti mereka!"

"Baik!"

0o0o0o0o

Kaizo dan Gempa sudah berada diluar rumah kediaman Boboiboy. "Kita mau pergi kemana sih abang?" Tanya Gempa penasaran. Kaizo hanya menggelengkan kepalanya. "Ra-ha-si-a~" ucap sang pemuda bersurai ungu. Gempa menatap Kaizo dengan pandangan heran.

Keenam makhluk ghaib itu masih saja mengintai mereka, seperti agent FBI yang profesional.

"Ugh, mau kemana kak Gempa dibawa sama monster itu!?" jerit Blaze. Yang lain juga ingin bertanya demikian.

Mereka berenam hanya bisa menatap mereka dari jauh dan hati-hati, agar tidak ketahuan.

Beberapa menit kemudian, kedua pemuda yang sedang mereka intai memasuki sebuah mall.

"Apa yang—"

"Jangan banyak bicara! Ikuti mereka!" Seru Halilintar langsung dan disetujui oleh anak buahnya.

Sekarang, mereka berada didalam mall. "Oke, sekarang kita berpencar. Kalo kalian liat cowok pake jaket coklat dengan garis kuning, itu Gempa*. Ngerti?" Tanya Halilintar. Mereka mengangguk dan mulai berpencar.

*Gempa tidak memakai topi saat ini

Halilintar dengan Thorn, Taufan dengan Blaze dan Ice dengan Solar.

Disisi lain, seseorang dengan surai ungu dan memakai kacamata menatap aksi mereka dari jauh.

0o0o0o0o

Halilintar dan Thorn mencari Gempa dan Kaizo didalam sebuah toko(?) buku, karena melihat kedua pemuda itu memasuki toko tersebut. Halilintar dam Thorn sibuk mencari mereka berdua didalam sana yang terlihat agak ramai.

"Ah kak Hali! Itu!" Seru Thorn sambil menunjuk kearah seseorang yang memakai jaket coklat tanpa garis kuning.

Halilintar langsung saja menerobos menemui orang itu. Segeralah ia menyentuh pundak orang itu. "Gemp—" perkataannya langsung terhenti ketika melihat pemuda dengan iris biru terang. "Ah.. Mizu ternyata!" Seru Thorn setelah mendekati mereka berdua. Halilintar menatap tajam Thorn yang mengatakan 'maaf' sambil menggaruk kepalanya.

"Maafkan aku Mizu. Apa kau melihat Gempa dan abang Kaizo disini?" Tanya Halilintar langsung. Mizu menggelengkan kepalanya sekali. "Tidak, aku juga baru saja sampai ditoko ini. Maaf ya," ucap Mizu. Halilintar mulai berjalan keluar dari toko buku itu.

"Eh kak Hali tunggu! Terima kasig banyak ya Mizu! Bye~"

"Iya!"

Disisi lain, Taufan dan Blaze malah berada didepan sebuah game center. "Kak, apa kau yakin mereka ada disini? Rasanya tidak mungkin deh mereka berdua yang memiliki sifat dewasa masuk kesini!" Seru Blaze. Taufan tertawa ketika mendengar perkataan Blaze.

"Oh ayolah Blaze, apa kau lupa ketika bang Kaizo dalam mode 'abang Kassim'? Lagipula, aku tadi melihat seseorang dengan jaket coklat masuk kesini!" Ujar Taufan dan menarik tangan Blaze. Mereka berdua memasuki game center.

"Tembak woi!"

"Sabar coeg! Ini juga lagi ditembak!"

Taufan dan Blaze langsung saja menoleh ketika mendengar seruan dari dua orang gadis. Mereka rasa suaranya familiar sekali. Lalu kedua kakak-beradik itu mencari sumber suara itu. "Hey Taufan, Blaze!" Seru seorang pemuda. Yang dipanggil menoleh kebelakang dan berseru, " Gopal!"

Gopal tersenyum lebar. "Hehe~ Kalian ngapain disini?" Tanya pemuda keturunan India itu. "Kau sendiri? Ngapain kesini?" Tanya Blaze balik. Gopal cemberut dan menjawab, "main game dong, bareng Clay, Azure, Dilla dan Ufan! Emang mau makan disini? Aneh lu!"

Perempatan imajiner muncul dikepala Blaze. "Kalo uda tau ngapain nanya?! Dan kenapa kau ngga ngajak kami berdua?!" Seru Blaze kesal. Gopal mengggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.

Gopal mengajak Taufan dan Blaze pergi kesebuah game tembak-menembak yang sedang dimainkan oleh dua gadis yang bermain dengan hebohnya.

"Yailah, ternyata mereka bedua toh yang jerit-jerit!" Seru Taufan ketika melihat Dilla dan Clayrine bertos ketika memenangkan game yang mereka mainkan.

"Oh halo Taufan, Blaze!" Sapa Clayrine dengan ceria dan disapa balik oleh Taufan dan Blaze. "Ginilah temen, kagak ngajak-ngajak," sindir Blaze dengan nada bercanda. "Hooh, gini dong temen~ Soalnya kalo elu ikutan, kami bakalan ngga dapet main!" Seru Azure dengan tawaan. Mendengarnya, Blaze mengembungkan pipinya kesal. Yang lain hanya tertawa mendengar ucapan Azure. "Eh, mau main ngga bareng kami?" Ajak Ufani. Tentu saja diterima oleh kedua makhluk ghaib itu.

Dan pada akhirnya mereka lupa dengan tujuan mereka pergi ke mall.

Disisi lain lagi, Solar dan Ice sedang berjalan disekitar sebuah café. Mata Ice menangkap seseorang dengan jaket berwarna coklat dan garis kuning dijaket tersebut. Lalu, Ice melihat siapa yang bersama pemuda itu. "Solar, itu kak Gempa dan bang Kaizo. Di café itu.." ujar Ice dan menunjuk kearah dua pemuda yang sedang duduk berduaan disana. Solar melihat kearah yang ditunjuk Ice.

'NGAPAIN MEREKA DISANA HAH?!' batin Solar berteriak. Sang pemuda berkacamata orange itu menganggukkan kepalanya sekali. "Kita tunggu disini saja. Kakak coba hubungin yang lain ya!" Seru Solar dan dibalas dengan anggukkan oleh Ice.

Baru saja Ice mau menghubungi keempat saudara kembar lainnya, terdengar seruan yang memanggil namanya.

"Ice! Solar!"

Sang pemuda dengan iris biru terwng itu menoleh dan melihat seorang gadis sedang melambaikan tangan kearahnya. Segeralah gadis itu menghampiri mereka berdua.

"Oh, Clarissa! Met pagi~" ucap Solar dengan senyuman. Clarissa tersenyum bak malaikat kearah Solar. "Selamat pagi juga~ Kalian ngapain kesini? Mau belanja?" Tanya Clarissa kepo. Solar dan Ice menatap satu sama lain.

"I-itu.."

"Ah! Kalian juga ada disini!"

Mereka menoleh dan melihat Reina dengan Katashi. "Oh~ Salam untuk kalian~" ucap Solar dengan riangnya. Reina tertawa pelan. Lalu, mereka berlima (Ice dan Katashi hanya mendengar) berbicara.

Beberapa menit kemudian, Ice teringat dengan tujuan mereka. "Solar! Kak Gempa.." bisiknya pelan. Solar pun teringat dan segera mencari sang kakak ketiganya.

Tidak ada.

"Kita harus mencarinya lagi! Ayo Ice! Kami permisi dulu semua!" Ucap Solar dan menarik tangan Ice dengan cepat.

Ketiga temannya itu heran melihat tingkah mereka berdua.

0o0o0o0o

Sudah lewat satu jam dan mereka masih saja belum menemukan Gempa dan Kaizo. Sekarang, keenam kembaran itu berkumpul di luar mall.

"Kalian ngapain main game?! Bukannya sudah kusuruh untuk mencari Gempa?!" Seru Halilintar kepada kedua makhluk pembuat onar itu. Yang dimarahin hanya tersenyum kaku.

"Hm?"

Mata Thorn tertuju kepada sebuah papan iklan mini.

POTONG HARGA! SATU SET ALAT PEMBERSIH RUMAH TANGGA!

Thorn membacanya dan kaget. Ia berseru, "semua! Coba baca ini!" Mereka agak heran dan mulai membacanya.

"Potongan harga?"

"Alat pembersih?"

Semuanya mulai berpikir. "Emangnya kenapa dengan itu?" Tanya Blaze yang lola. Thorn menepuk keningnya. Yang lain juga bertanya-tanya.

"Oh ayolah, hubungkan dengan mereka berdua, Kak Gempa dengan Abang Kaizo!" Ucap Thorn yang mulai kesal. Mereka mulai berpikir lagi.

"OH! Aku ngerti maksudmu Kak Thorn!"

"Eh? Apa dia?"

Solar tersenyum lebar dan berkata, "mereka akan berkencan dan Kak Kaizo akan memberinya itu!"

Bego.

Bukan itu maksudnya dasar fudanshi.

Jiwa mereka tertukar satu sama lain ketika hari Minggu.

"SALAH WOI!" seru Halilintar yang kelihatannya sudah connect. Dengan kesalnya, ia memukul Solar dengan kerasnya.

"Mereka kesini bukan untuk berkencan! Melainkan membeli alat pembersih itu!" Seru Thorn. Yang lain ber-oh ria. Halilintar memijit pelipisnya dan berpikir kenapa ia mempunyai kembaran seperti mereka.

"Eh? Kalian ngapain kesini?"

Pemuda-pemuda ghaib itu menoleh dan melihat Gempa dan Kaizo berdiri dibelakang mereka.

"Kak Gempa, Abang Kaizo!" Seru Blaze.

"Kami hanya berjalan-jalan.." ucap Halilintar singkat.

Gempa mengganggukkan kepalanya. Kaizo terlihat kesal sepertinya.

"Gempa, kau boleh pulang dulu. Aku ada urusan dengan mereka berenam," ucap Kaizo dengan senyuman. Gempa yang melihatnya merasa heran. Tetapi ia menganggukkan kepalanya dan menjawab, "baiklah, terima kasih banyak untuk hari ini, Abang Kaizo! Aku pulang dulu~"

Setelah Gempa pergi, perasaan keenam saudaranya tidak enak.

"Kalian.. Kalian semua membuntuti kami kan..?"

GLEK!

'Darimana dia tau?!' Pikir mereka berenam serentak.

"Aku tau dari Fang. Dia mengikuti kalian dari belakang.." jelas Kaizo seperti dapat membaca isi pikiran mereka.

'Mampus...'

'KENAPAAA!'

'Sialan, bakalan disuruh bersihkan rumah mereka berdua selama seminggu penuh..'

Pada akhirnya, Halilintar, Taufan, Blaze, Ice, Thorn dan Solar dengan berat hatinya menjadi babu dikediaman Fang dan Kaizo selama seminggu.

To Be Continued~

Hika bisa dicari di Wattpad, dengan nama Hikanyann

Ada 2 buku tentang BoBoiBoy juga di akun WP Hika :D

Tetapi mereka semua (Ketiga buku BoBoiBoy) itu Hika hiatuskan :'D

Maaf ,)

Oke, itu saja yang Hika kasi tau!

Sampai jumpa lagi! :D