Disclaimer : Naruto – Masashi Kishimoto

Pairing : SasuFemNaru

Rated : T

Warning : Genre, OOC, Typos, Alur kecepatan dan lainnya

Summary : Naruto, gadis berparas cantik yang membenci satu hari di hidupnya. Saat semua orang bahagia ketika hari paling spesial di hidup mereka itu datang. Naruto justru sangat membencinya. Ya, dia sangat membenci hari ulang tahunnya. Sangat benci.

Special Gift for You

By

Sentimental Aqumarine

Tokyo Junior High School

10 November XXX

Pukul : 17.00

Sakura sedang mondar-mandir di depan kelasnya, pelajaran terakhir sudah usai 1 jam yang lalu tapi, Sakura, Ino dan Hinata masih setia berada di kelas mereka. Ino terlihat asyik mematut dirinya di cermin yang ia pegang sedangkan Hinata hanya memperhatikan Sakura yang sedari tadi mondar-mandir tidak jelas.

"Berhentilah mondar-mandir seperti itu, Sakura" komentar Ino

Brak!

Ino terlonjak kaget saat Sakura menggebrak mejanya, gadis berpony tail itu secara refleks menutup cermin yang ia pegang tadi.

"Ada apa denganmu?!" bentak Ino

"Kita harus ke rumah si Baka itu sekarang" ucap Sakura

"Siapa yang kau sebut Baka itu, heh?" tanya Ino

"Tentu saja Naruto, kau pikir siapa lagi?"

Ino menghela napas berat "Kita sudah datang kesana 5 kali dan termasuk kemarin, dan kau pasti tahu apa yang dilakukan para penjaga mansion itu pada kita" ucap Ino

"I-iya aku tahu, tapi, kita harus datang lagi kesana"

"Dan diusir kembali, begitu?"

"T-tapi…"

"Sudahlah Sakura, urungkan saja niatmu itu. Naruto saja yang tidak mau menemui kita"

"Tapi, Naruto itu sahabat kita, dia sudah sebulan tidak datang ke sekolah. Dan aku mengkhawatirkannya"

"Kalau dia sahabat kita, dia tidak mungkin membiarkan kita diusir oleh para penjaga di rumahnya! Apa itu yang dinamakan sahabat?" bentak Ino

"….."

"Ino, jangan berkata begitu tentang Naru-chan" ucap Hinata

"Biarkan saja, aku tidak peduli" timpal Ino dingin

Sakura masih diam, mencari kata-kata untuk membatah tuduhan Ino pada Naruto.

"Kenapa kau diam, Sakura?! Tidak bisa menjawab, heh?"

"….."

Ino mendengus keras kemudian pergi meninggalkan kedua sahabatnya.

"Ino!" panggil Hinata

Sakura menunduk sedih, dia membenarkan perkataan Ino. Jika Naruto adalah sahabat mereka, pasti Naruto tak akan membiarkan sahabat-sahabatnya diusir seperti anjing begitu kemarin. Jika Naruto sahabat mereka, pasti Naruto akan menyuruh para penjaga rumahnya itu untuk tidak memperlakukan mereka seperti kemarin.

Gadis pink itu kemudian berlalu pergi, berlari meninggalkan Hinata yang terus memanggil namanya.

"Sakura!"

Hinata menghela napas berat, kemudian mengambil tas sekolah Sakura yang ditinggalkan begitu saja oleh pemiliknya dan ikut beranjak pergi dari kelas yang ia tempati. Gadis indigo itu berjalan lunglai disepanjang jalan pulang. Pikirannya berkelana di saat ia dan ketiga sahabatnya Naruto, Sakura dan Ino pulang bersama. Walaupun baru setahun bersahabat tapi mereka seperti sebuah keluarga. Saling melengkapi satu sama lain, ikut terluka saat satu diantara mereka merasakan sakit. Saling menghibur saat ada yang bersedih, tetap bersama disaat suka maupun duka. Tapi, kini itu tidak ada lagi. Mereka sudah tidak seperti itu lagi, sehari setelah ulang tahun Naruto dan hari dimana Naruto tak pernah datang lagi ke sekolah, hubungan mereka mulai renggang. Sakura dan Ino mulai sering berselisih paham.

Bahkan kejadian pengusiran yang dilakukan oleh penjaga mansion Uzumaki semakin memperburuk keadaan. Untuk yang pertama kalinya, Ino membentak Sakura. Hinata memandang langit diatasnya, jingga, mengingatkannya akan sosok sang sahabat yang tidak diketahui keberadaannya sekarang.

'Apa sampai disini saja persahabatan kita, Naru-chan' batinnya sambil memandang langit senja itu

Sakura's House

10 November XXX

Pukul : 20.45

Hinata baru saja keluar dari kediaman keluarga Haruno, bermaksud mengembalikan tas Sakura yang tertinggal di sekolah tadi sore. Memandang sebentar jendela kamar Sakura yang tertutupi tirai itu dengan sendu.

"Ayo kita pulang, Hinata-sama" ucap supir Hinata

"Iya"

Hinata masuk ke dalam mobil, menatap sekilas kearah jendela itu kemudian menyuruh supirnya untuk melajukan mobil. Hinata tidak tahu jika sepasang mata emerald mengintip melalui celah-celah tirai.

"Maafkan aku, Hinata"

Ino's Bed Room

10 November XXX

` Pukul : 23.15

Ino berguling-guling diatas ranjangnya, mencari posisi yang tepat untuk ia bisa tidur, tapi sepertinya sia-sia, dia malah terjatuh dari atas tempat tidurnya karena terlalu bersemangatnya berguling-guling.

Bruk!

"Aww!" ringis Ino

Sang Ibu yang tak sengaja melewati kamar putrinya dan mendengar suara gaduh itu langsung bertanya.

"Kau baik-baik saja, sayang?" tanyanya

"Ya, Kaa-san. Aku baik-baik saja" sahut Ino

"Kalau begitu tidurlah, ini sudah larut malam"

"Baik Kaa-san"

Ino bangkit sambil memegangi bokongnya yang sakit, gadis itu duduk di tepian ranjang. Melakukan peregangan sedikit lalu membaringkan dirinya di ranjang. Memejamkan matanya, tidur. Tapi, beberapa saat kemudian mata itu kembali terbuka. Ino mengerang frustasi.

"Aiiissh! Kenapa aku tak dapat tidur juga?!"

Ino duduk diatas ranjangnya, memeluk guling dan menyandarkan kepalanya pada kepala tempat tidur. Ino memandang foto dirinya dan ketiga sahabatnya yang tergantung di dinding kamarnya. Gadis bermarga Yamanaka itu, memeluk gulingnya semakin erat.

"Tak seharusnya aku membentak Sakura seperti itu" ucapnya pelan

Ino mengingat-ingat kejadian dimana ia membentak Sakura, mengatai Naruto dan juga memandang tajam kearah Hinata. Sekarang sepertinya dialah yang kelihatan seperti bukan seorang sahabat. Tidak ada sahabat yang membentak sahabatnya sendiri. Tidak ada sahabat yang mengatai yang tidak-tidak tentang sahabatnya. Tidak ada seorang sahabat yang memandang dengan tajam sahabatnya sendiri. Ya, tidak ada. Tapi, Ino melakukannya tadi, dia melakukan hal itu semua kepada sahabatnya. Sekarang bukan Naruto yang dipertanyakan status sahabatnya tapi dirinya sendiri.

Tanpa disadari olehnya, air mata mengalir turun membasahi pipinya. Ino menyadari kesalahannya.

"Aku harus minta maaf pada mereka, besok" tekad Ino

Tokyo High School

21 November XXX

Pukul : 06.00

Kelas masih sepi, tapi Sakura sudah datang. Tak seperti biasanya, gadis bersurai pink itu datang lebih awal. Sakura meletakkan tasnya di meja Hinata, hari ini bahkan mungkin seterusnya, ia akan duduk sebangku dengan Hinata. Setelah meletakkan tasnya, Sakura beranjak pergi, tapi langkahnya terhenti saat ia melihat Ino berdiri tidak jauh dari tempatnya berdiri juga.

"Kenapa kau menaruh tasmu di meja Hinata?" tanya Ino

"….."

"Kau tidak ingin duduk disampingku lagi, Sakura?"

"….."

"Kenapa kau diam saja?" tanya Ino lagi

"….."

"Kau masih marah padaku?"

"….."

"Aku minta maaf Sakura, aku tahu aku salah"

"….."

"Tak seharusnya aku membentakmu"

"….."

"Dan.. tak seharusnya aku berkata begitu tentang Naruto"

"….."

"Aku tahu aku salah, aku tahu aku bukan sahabat yang baik, karena itu aku minta maaf Sakura"

"….."

Ino mulai menangis "Jangan diamkan aku seperti ini, Sakura" isaknya

"….."

"Demi Tuhan, katakanlah sesuatu Sakura"

"….."

Ino menunduk lemas, sepertinya sahabatnya itu tak akan mau memaafkannya.

"Aku tahu kau tak mau memaafkan aku, tapi aku ingin kau tahu, jika, aku benar-benar menyesal, Sakura" lirih Ino

Ino baru saja ingin beranjak pergi, saat tangan Sakura menahannya. Ino mendongakkan kepalanya yang tadi tertunduk. Memandang Sakura yang tengah tersenyum kearahnya.

"Aku memaafkanmu, Ino" ucap Sakura sembari memeluk sahabatnya itu

"Terima kasih, terima kasih. Itu sangat berharga untukku"

Dan tanpa mereka berdua sadari, ada seorang gadis yang melihat kejadian itu sedari tadi. Dia adalah, Hyuuga Hinata. Tampak senyum terukir di bibir gadis itu, Hinata memandang sekali lagi kedua sahabatnya kemudian berlalu pergi dengan rasa bahagia yang menghinggapi hatinya.

Mansion Uzumaki

22 November XXX

Pukul : 15.00

Sakura, Ino dan Hinata sedang berdiri di depan gerbang mansion Uzumaki. Memandang gerbang yang menjulang tinggi itu. Mengangumi betapa mewahnya bangunan yang ada dihadapan mereka ini.

"Aku baru sadar jika Uzumaki itu benar-benar kaya" ucap Ino yang juga disetujui oleh kedua sahabatnya

"S-sekarang, apa yang ha-harus kita lakukan?" tanya Hinata

"Ya, apa yang harus kita Ino?" tanya Sakura juga

"Tentu saja masuk kedalam" ucap Ino santai

"Tapi, bagaimana jika kita diusir… lagi" ucap Sakura

"Ayolah! Dimana kau simpan rasa beranimu itu, Sakura?"

"Maksudmu?"

"Siapa yang kemarin-kemarin menyeretku dan Hinata kesini?"

"A-aku"

"Siapa yang mengatakan 'Naruto itu sahabat kita'?"

"Aku"

"Itu kau tahu, jadi kenapa harus takut hanya karena kita akan diusir?"

"….."
"Jika kita diusir lagi hari ini, kita akan kembali lagi besok, dan jika tetap begitu kita akan tetap kembali sampai kita berhasil menemui Naruto, karena Naruto adalah sahabat kita" ucap Ino

"Ino" ucap Hinata

"Aku tak menyangka, kau bisa berkata seperti itu" ujar Sakura

20 menit kemudian….

Sakura cs sudah berada di dalam mansion Uzumaki, menerobos beberapa penjaga yang berada di depan gerbang. Berusaha berlari saat para penjaga-penjaga itu mulai mengejar mereka dan disinilah mereka sekarang, di depan pintu masuk mansion Uzumaki.

"Hosh.. hosh.. hosh, ini sangat… melelahkan" ucap Ino

"Aku… hosh.. setuju padamu Ino" timpal Sakura

"Apa kita akan m-masuk?" tanya Hinata

Sakura dan Ino melirik salah satu sahabat mereka itu dengan heran.

"A-apa?"

"Kau tidak lelah, Hina-chan?" tanya Sakura

"S-sama se-kali tidak"

"Tidak bisa dipercaya" sambung Ino yang masih mengatur napasnya

"Berlari dengan jarak sedekat itu ti-tidak masa-lah untukku, Ino-chan"

"Eh?"

"Dekat kau bilang? Itu jauh Hinata! Itu jauh!" ujar Sakura

"Tidak jika itu bersama Neji-nii" jelas Hinata sambil tersenyum

"Gila" sahut Sakura

"Ya, saudara kembarmu itu perlu di cek tingkat kewarasannya" ujar Ino

"Ino, jangan berkata begitu tentang Neji-nii" ucap Hinata sedih

"Maafkan aku, Hinata. Aku hanya bercanda"

"Tidak apa-apa" ujar Hinata

Sakura cs baru saja akan membuka pintu dihadapan mereka saat kehadiran beberapa penjaga mengagetkan mereka bertiga. Penjaga-penjaga itu mulai menarik-narik Sakura cs agar keluar dari mansion Uzumaki. Mereka bertiga merontah.

"Naruto!" teriak Sakura

"Naruto! Ini aku Sakura, Naruto!"

"Naruto!" teriak Ino tak kalah keras

"Na-naru-chan" panggil Hinata

Suara gaduh yang dibuat oleh Sakura cs membuat salah satu maid di kediaman itu keluar. Maid senior bernama Umino Iruka itu bertanya pada salah satu penjaga.

"Ada apa ini?"

"Mereka menerobos masuk, mereka bilang ingin bertemu dengan Hime"

"Hei! Lepaskan kami! Kami ingin bertemu dengan Naruto" seru Sakura

"Diam!" bentak salah satu penjaga

"Kau saja yang diam!" bentak Ino tak mau kalah

"Kalian siapa?" tanya Iruka

"K-kami teman-temannya, Naru-chan" ucap Hinata lembut

"Naru-chan? Maksud kalian Naruto-sama?" tanya Iruka lagi

"Terserah kau menyebut Naruto itu apa! Yang penting kami ingin bertemu dengan Naruto" ujar Sakura

"Jaga sikapmu, Nona!" bentak Iruka membuat Sakura seketika terdiam

"Te-tenanglah, Saku-chan" ucap Hinata

"Ada urusan apa kalian dengan Naruto-sama?"

"Se-belumnya, kami minta maaf karena telah mem-buat kegaduhan disini"

"Ya, tidak apa-apa. Lepaskan mereka" perintah Iruka pada penjag -penjaga itu

"Terima kasih" ucap Hinata yang dibalas anggukan pelan oleh Iruka

"Kami adalah sahabat, Naru-chan" sambung Hinata lagi

"Sahabat?" beo Iruka

"Ya, kami sahabatnya. Naru-chan bersekolah ditempat yang sama de-dengan kami"

"Lalu?"

"Kedatangan kami kesini untuk bertenu dengan Naruto, kerena sudah sebulan dia tidak hadir di sekolah. Jadi, jangan halangi kami untuk bertemu dengannya" sambung Sakura

"Sa-sakura"

"Kenapa? Aku tak mau diusir lagi dari sini, Hinata. Aku hanya ingin bertemu dengan Naruto. Apa itu salah? Aku sangat mengkhwatirkannya" ucap Sakura lirih.

Ino menghampiri sahabatnya, menenangkan gadis yang sepertinya mulai menangis itu. Iruka memperhatikan ketiganya, pria itu menghela napas berat.

"Baiklah, saya mengerti. Ayo ikut saya" ajak Iruka yang diikuti oleh mereka bertiga

Sakura, Ino dan Hinata sedang berada di ruang tamu kediaman Uzumaki. Iruka baru saja masuk dengan dua orang maid yang membawakan minuman dan makanan untuk Sakura cs.

"Kau tak perlu repot-repot begitu, Iruka-san" ucap Hinata

"Tidak apa-apa, kalian tamu disini, jadi, sudah sewajarnya kami menyediakan makanan untuk kalian"

"Arigatou" ucap Sakura

"Ternyata kau bisa bersikap manis juga, Nona" sindir Iruka

Sakura hanya diam menanggapi sindiran halus yang Iruka berikan kepadanya itu.

"Lalu, dimana Naruto?" tanya Ino yang sedari tadi hanya diam saja

"Naruto-sama…"

"Ya?'

"Naruto-sama"

"Naru-chan ada dimana, Iruka-san?" tanya Hinata

"Naruto ada disini kan?" tanya Sakura

"Naruto-sama, tidak ada disini"

"Apa?"

"Apa maksudnya, Naru-chan tidak ada disini, Iruka-san?"

"Naruto-sama tidak ada disini dan… dia juga tidak ada di Tokyo"

"Jangan bilang kalau Naruto…"

Sakura tak dapat melanjutkan kata-katanya. Dia terlalu takut membayangkan hal-hal aneh tentang Naruto yang kini sudah mulai berterbangan di kepala merah jambunya. Membayangkannya saja ia sudah tidak sanggup, apalagi jika yang dipikirkannya itu benar-benar terjadi pada sahabatnya.

To be Countinue

Pojok Suara :

Saya tidak menyangka jika respon para pembaca cukup baik. Saya jadi terharu membaca review kalian (ambil tisu dan croot!). Karena itu sebelum saya membahas lebih dalam tentang chapter 2 ini, saya mau membalas review kalian dulu. Okey!

: Huhuhuhu… kenapa hari spesial'nya naru berubah menjadi menyedihkan….?

Me : Kenapa ya? Mungkin karena saya suka menyiksa Naruto saja, hahahaha #plak (ditampar Naruto Lovers). Sebenarnya alasannya sederhana itu karena saya suka membuat fic yang bergenre angst atau berakhir dengan derai air mata alias sad ending. Hohoho, terima kasih sudah meriview.

Wildapolaris : "angstnya dapetbanget, aku sampe nangis bacanya, kasian naru. Lanjut!

Me : Itu berarti suatu keberhasilan buat saya kerena bisa membuat kamu menangis, saya juga sempat nangis sih karena baca fic saya yang satu ini. dan ini sudah saya lanjutkan! Terima kasih sudah meriview.

Luca Marvell : Ceritanya oke, beda dari yang lain. Biasanya hr ultah tu bahagia, tapi ni penuh dg kesedihan. Oke update kilat ya, gambatte ne

Me : Hehehe, terima kasih atas pujiannya dan terima kasih sudah meriview. Ini sudah saya update.

Uzumaki Princess Dobe-Nii : Aiish, prmpoknya ngeselin amat sih T,T mnta dihajar tu rampok!? Sasuke kapan mainnya nih, hehehe. Lanjut aquamarine, semangar ya..

Me : Wow! Ini dia salah satu pembaca setia fic saya selain Hanazawa Kay. Iya tuh, perampoknya ngeselin banget, ayo kita hajar bareng-bareng, tapi kamu yang di depan ya, aku yang di belakang, hahaha. Sasuke lagi syuting buat fic saya yang lain, jadi ditunda dulu kemunculannya. Tapi, di chapter 1 dia muncul lho, walau samar-samar. Terima kasih atas reviewnya.

: update-kilat

Me : Saya sudah update, thanks for review

Nitya-chan : Kawaii chap depan ditunggu

Me : Terima kasih sudah meriview, ini sudah saya update

Icha Clalu Bhgia : oo kereeen cepet update yah, q tunggu kehadiran Sasuke

Me : Iya, ini sudah saya update. Btw, Sasuke udah muncul lho di chap 1, coba bacalagi. Trima kasih atas reviewnya

Hanazawa kay : kay tunggu… lanjutannya tapi diawal cerita kay agak bingung akan sosok naru itu cewek atau cowok? Karena beberapa kali papa mina nyebut naru dengan putra q.

Me : Ini sudah saya lanjtkan dan tenang saja Naru disini asli cewek kok. Terima kasih reviewnya.

Di chapter 2 ini saya masih menceritakan masa lalu Naruto, dan Sasuke belum ingin saya muncul disini. Mungkin di chapter depan Sasuke akan nongol. Di chapter ini juga saya tidak menghadirkan sang tokoh utama alias Naruto, karena saya ingin menceritakan persahabatan Naruto dengan ketiga sahabatnya. Bagaimana reaksi mereka saat Naruto tak menampakkan dirinya selama berminggu-minggu, perjuangan mereka untuk dapat bertemu dengan Naruto dan berbagai konflik yang mereka hadapi (walau terkesan makasa, hehehe).

Dan sebelum saya pamit, saya ingin bertanya dulu pada pembaca. Kira-kira Naruto kemana ya? Diculik Sasuke atau dibawa Sasuke ke kediaman Uchiha (itu sama aja kalii)

Hehehe, pokoknya yang ingin menebak silakan tulis di kolom review. Dan yang benar akan saya kasih hadiah. Apa hadiahnya? Itu rahasia..

Nb: Untuk pembaca yang menunggu kelanjutan fic Wolf Boy dan Echo, harap bersabar. Saya sedang berusaha menyelesaikannya sebelum saya mulai di sibukan lagi oleh setumpuk pekerjaan di kantor. Mungkin seminggu lagi akan saya update. Mohon maaf atas keterlamabatannya.

Akhir kata saya ucapkan terima kasih.

Sentimental Aqumarine pamit,

See you and bye bye bye

Mind to review?