Disclaimer : Naruto – Masashi Kishimoto

Pairing : SasuFemNaru

Rated : T

Warning : Genre, OOC, Typos, Alur kecepatan dan lainnya

Summary : Naruto, gadis berparas cantik yang membenci satu hari di hidupnya. Saat semua orang bahagia ketika hari paling spesial di hidup mereka itu datang. Naruto justru sangat membencinya. Ya, dia sangat membenci hari ulang tahunnya. Sangat benci.

Special Gift for You

By

Sentimental Aqumarine

Mansion Uzumaki

22 November XXX

Pukul : 17.00

"Jadi… kau tidak tahu dimana Naruto berada sekarang Iruka-san?" tanya Sakura yang dibalas anggukan kecil oleh Iruka

"Hanya Kyuubi-sama, Tsunade-sama dan Jiraya-sama saja yang tahu dimana keberadaan Hime-sama sekarang"

"Kenapa Naruto harus pergi dari Tokyo? Apa disini tidak aman untuknya? Ma-maksudku, apa ada seseorang yang berniat jahat padanya?" tanya Ino bertubi-tubi

Iruka menghela napas berat kemudian bertanya kepada ketiga gadis dihadapannya "Apa kalian pernah mendengar nama Namikaze Minato dan Namikaze Kushina?"

Dahi Ino berkerut.

"Bukankah itu adalah pasangan suami istri yang tewas secara tragis 2 tahun yang lalu?" tanya Ino lagi

"Ya, kau benar Nona"

"La-lalu apa hu-bungannya me-reka dengan Naru-chan?"

"Mereka adalah…"

"Mereka adalah?" beo ketiga gadis itu

"….. mereka adalah orangtua dari Hime-sama"

"Apa?!" ucap Ino kaget

"Ma-maksudmu a-apa Iruka-san?

"Ya, seperti yang kukatakan mereka adalah orangtua dari Hime-sama dan Kyuubi-sama"

"Jelaskan apa pun yang kau ketahui tentang Naruto yang kami bertiga tak tahu!" perintah Sakura

"Haah~ baiklah"

Dan dengan terpaksa Iruka menceritakan semua hal yang ia ketahui tentang Naruto kepada mereka bertiga. Menceritakan tentang jati diri Naruto yang sebenarnya, tentang betapa bahagianya Minato dan Kushina yang mendapatkan seorang putri secantik dan sehangat musim panas itu. Tentang masa kecil Naruto dan Kyuubi, tentang kebahagiaan dan kehangatan keluarga itu dan juga tentang peristiwa paling memilukan yang terjadi 2 tahun lalu. Tentang alasan Kyuubi membawa Naruto pergi dari Tokyo, tentang trauma Naruto bahkan sampai kejadiaan sebulan yang lalu, tepat di hari ulang tahun sang Hime, saat Naruto berteriak histeris di dalam dekapan sang kakak. Semuanya Iruka ceritakan, membuat potongan-potongan tragedi berdarah yang sudah susah payah ia lupakan itu kembali terngiang-ingang di otaknya.

Hinata sudah menangis sesugukan dipelukan Ino sedangkan Sakura ia hanya diam tak percaya dengan apa yang Iruka ceritakan pada mereka barusan. Semua rasa sakit yang Naruto rasakan, rasa kehilangan yang sangat. Semuanya disembunyikan oleh sahabatnya itu. Ternyata semuanya karena masa lalu Naruto. Semua sifat dingin itu, sifat tertutup dan sifat seakan tak peduli itu hanya untuk menutupi kesakitannya saja.

Kenapa mereka tak tahu? Kenapa mereka tak peka begitu? Mereka pikir jika memang begitulah sifat sahabat mereka itu, tapi kini mereka sudah tahu. Masa lalu Naruto yang menyedihkan. Sakura medongakkan kepalanya, berusaha menahan air mata yang hampir keluar itu.

"Ja-jadi ka-rena i-itu…hikz.. Naru-chan tak su-ka jika ki-kita mera-yakan hari… hikz..hari ulang tah-hunnya" isak Hinata

"Hime-sama mengalami trauma berat pasca kejadian itu, kerena itulah Tsunade-sama mengubah nama Hime-sama menjadi Uzumaki Naruto dan menghapus marga Namikaze dari namanya. Berharap dengan begitu Hime-sama dapat melupakan masa lalunya, tapi sepertinya itu sia-sia" terang Iruka

"Kami benar-benar tak tahu, kalau… Naruto yang selama ini kami kenal adalah anak dari pengusaha terkenal se-Tokyo itu" ucap Ino

"Wajar saja kalian tak tahu, keluarga Uzumaki merahasiakan identitas Hime-sama dari publik dan juga pihak kepolisian, mereka tak ingin jiwa Hime-sama kembali terguncang karena pertanyaan-pertanyaan mengenai kematian orangtuanya itu"

Dan keheningan melanda mereka berempat, semuanya terlalu sibuk dengan pemikiran mereka masing-masing. Menenangkan hati mereka yang saat ini sedang kalut karena kenyataan pahit tentang orang yang mereka kasihi, Naruto.

'Dimana kau sekarang berada, Naruto?' tanya Sakura dalam hati sambil memandang penuh sendu foto Naruto yang terpampang di dinding ruangan tempatnya berada

.

.

.

.

.

.

2 tahun kemudian…

Tokyo High School

15 Juli XXX

Pukul : 12.00

Kini mereka bertiga Sakura, Ino dan Hinata sedang berada di lapangan sekolah. Tengah menatap gedung yang sudah 3 tahun menjadi saksi bisu persahabatan mereka. Suka dan duka yang mereka hadapi bersama, masa-masa yang tak mungkin mereka lupakan begitu saja. Dan juga, masa dimana saat orang itu masih ada di tengah-tengah mereka. Mereka baru saja selesai menghadiri acara kelulusan mereka yang sudah selesai beberapa menit yang lalu.

"Aku tak menyangka kita akan lulus dari sekolah ini" ucap Ino tak percaya

"Aku juga"

"A-aku ju-ga Ino-chan"

"Aku akan sangat merindukan sekolah ini" lirih Ino

"Tidak hanya kau, aku dan Hinata juga akan merindukan tempat ini" ucap Sakura sambil merangkul sahabatnya itu dan kemudian di ikuti juga oleh Hinata

Ino menghapus bulir-bulir air mata yang sempat jatuh ke pipinya dengan senyum terkembang gadis Yamanaka itu bertanya.

"Ngomong-ngomong, kalian akan melanjut kemana?" tanya Ino

"Aku masih bingung, tapi, Kaa-san menyarankan aku untuk bersekolah di Tokyo International High School" ujar Sakura

"Benarkah?" tanya Ino tak percaya

"Huum" gumam Sakura tak jelas "Memangnya kenapa?"

"Aku juga akan bersekolah disana"

"Kau serius?"

"Ya"

"Kyaa! Kalau begitu aku akan mendaftar disana juga. Kita akan bersama-sama lagi Ino!" girang Sakura dan memeluk sahabatnya itu

Hinata tersenyum melihat kedua sahabatnya itu. Melihat mereka bahagia seperti sekarang membuat perasaan Hinata menghangat.

"Dan kau Hinata, kau akan melanjut kemana?" tanya Ino

"Entahlah, Tou-san me-mintaku un-tuk sa-tu seko-lah dengan Neji-nii"

"Lalu, dimana kakakmu itu akan melanjutkan sekolahnya?" tanya Sakura ingin tahu

"A-aku be-belum berta-nya padanya, Saku-chan"

"Begitu ya" ucap Sakura lemas

"Aku harap kau akan masuk di sekolah yang sama dengan kami, Hinata" ucap Ino sambil memeluk Hinata

"Aku ju-ga berharap be-gitu, Ino-chan"

"Andai Naruto ada disini" ujar Sakura tiba-tiba membuat kedua sahabatnya yang mendengar ucapannya itu terlonjak kaget

"S-saku-chan"

"Apa yang kau katakana Sakura"

"M-maafkan aku, aku tak… bermaksud membuat kalian sedih" ucap Sakura saat sadar akan ucapannya barusan

"Tidak apa-apa, kami mengerti kalau kau merindukannya" ucap Ino lembut

"Bahkan sudah 2 tahun berlalu, tapi, kita tak tahu dia berada dimana sekarang" lirih Sakura

"Aku yakin, suatu saat nanti kita akan bertemu lagi dengan Naruto" ucap Ino meyakinkan

"Ino, be-nar Saku-chan"

"Itu juga doaku, Ino"

"Kalau begitu, jangan bersedih. Aku tak ingin ada yang menitikan air mata di hari kelulusan kita ini"

"Ha'i!"

Dan ketiga sahabat itu berpelukan, memandang awan diatas mereka. Awan itu berbentuk seperti wajah, ya seperti wajah seseorang yang sangat mereka rindukan. Sang sahabat yang pergi tanpa pamit dan meninggalkan mereka begitu saja dengan sejuta kerinduan yang menyesakkan dada.

1 bulan kemudian….

Tokyo International High School

Hari ini adalah hari dimana para siswa baru di Tokyo International High School menjalankan masa orientasi mereka. Seorang gadis berambut pink tampak berlari-lari di sepanjang trotoar jalan yang akan membawanya menuju sekolah barunya, Tokyo International High School.

Dengan berbagai atribut yang ia kenakan, gadis itu terus berjalan. Sesekali ia melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya.

"Sial! Barang-barang ini membuatku susah berlari" umpatnya

Gadis bernama lengkap Haruno Sakura itu tampak sedang mengatur napasnya . Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling, sepertinya ia sudah sampai di tempat tujuannya. Gadis itu kemudian tersenyum dan berjalan dengan percaya diri memasuki sekolah barunya, tapi atribut MOS membuatnya susah untuk berjalan.

Topi kerucut yang dikenakanannya selalu melorot dan menutupi pandangannya, ikat pinggang dengan botol air mineral yang diisi air yang melingkar di pinggangnya membuat gadis itu merasa keberataan.

"Kenapa aku harus merasakan penderitaan seperti ini?" tanyanya entah pada siapa

Kini Sakura sedang berjalan menaiki anak tangga, Sekolah ini merepotkan, batinnya. Sakura mengerang frustasi tak kala melihat beberapa puluh anak tangga lagi yang harus ia lewati.

Tokyo International High School adalah sekolah paling populer di Tokyo. Sekolah elit ini berisi anak-anak pejabat, pengusaha, dan sederet anak-anak dari kalangan menengah atas. Selain harus memiliki finansial yang bagus untuk dapat bersekolah disini, siswa ataupun calon siswa juga harus memiliki kepintaran.

Sekolah yang berdiri diatas lahan 5 hektar ini, terdiri atas, area barat yaitu area gerbang sekolah, kita dapat menjumpai beragam jenis pepohonan yang berjajar rapi disepanjang jalan di area tersebut. Kemudian di area ini juga terdapat tanjakan yang terdiri dari berpuluh-puluh anak tangga yang menghubungkannya dengan area timur yang berada diatasnya.

Area timur terdapat gedung sekolah berlantai 5 dengan cat berwarna seperti daun mepel yang berguguran saat musim gugur. Gedung ini terdiri dari ratusan ruang kelas, puluhan ruang laboratorium, 2 perpustakaan tradisional dan modern, 1 kolam renang yang berada di lantai paling atas dengan kaca tebal yang mengelilinginya sehingga ketika para siswa berenang mereka dapat melihat pemandangan sekolah mereka dari tempat mereka berada. 1 ruang musik dan ruang seni juga terdapat di gedung ini.

Area selatan atau area olahraga. Di area ini terdapat lintasan lari berstandar internasional, lapangan tembak, area pacu kuda, serta sirkuit mini untuk siswa pecinta mobil balap. Disini juga terdapat area hijau dengan bangku kayu yang sengaja diletakkan oleh pengurus sekolah, biasanya tempat ini digunakan oleh para siswa untuk bersantai atau sekedar bersenda gurau.

Area utara terdiri atas cafeteria, audiotorium dan area hijau. Dan area tengah terdapat lapangan luas yang dapat menampung semua siswa Tokyo International High School. Lapangan ini tepat berada di tengah-tengah area barat, timur, selatan dan utara.

Seperti saat ini, semua siswa baru tengah berada di lapangan, menghadap langsung kearah bangunan yang berdiri kokoh dihadapan merekaa itu.

"Maaf, aku terlambat…hosh.. Ino" ujar Sakura

"Kemana saja kau? Kenapa baru muncul? Aku sudah menunggumu dari tadi" omel Ino

"Maafkan aku, tadi aku mengalami sedikit masalah. Aku menabrak seorang pemuda"

"Pemuda?"

"Iya, sepertinya ia juga anak baru disini. Dia menggunakan atribut yang sama seperti yang kita gunakan, tapi…."

"Tapi apa?"

"Dia sangat menyebalkan, dia menyebutku gadis bodoh. Padahal aku sudah meminta maaf padanya. Walaupun ia tampan tapi aku tak suka laki-laki angkuh seperti dirinya"

"Tampan?"

"Huum. Ah! Sudahlah jangan membicarakan pemuda tak penting itu. Apa kau sudah tahu Hinata akan bersekolah dimana?"

"Aku tak tahu, karena dia sama sekali belum menghubungiku"

"Haah~ aku harap dia bersekolah disini"

"Aku juga begitu"

"Aku lapar, ayo temani aku mencari makanan" ajak Sakura kemudian menarik sahabatnya itu menuju cafeteria

.

.

.

.

.

.

Hinata sedang berada di cafetaria bersama dengan kakak laki-lakinya dan ketiga sahabat kakaknya itu. Hinata tampak tersipu malu saat salah satu sahabat kakaknya menggodanya.

"Aku tak menyangka akan satu sekolah denganmu, Hina-chan" ucap pemuda berambut jabrik itu

"A-aku ju-ga begitu, Kiba-kun"

"Kau sangat manis saat tersipu malu begitu, Hina-chan" goda pemuda bernama Kiba itu

Hinata yang mendengar ucapan Kiba hanya menundukan kepalanya saja, dia benar-benar malu sekarang. Sepertinya wajahnya sudah sangat merah saat ini. Kiba yang melihat adik salah satu sahabatnya itu menjadi salah tingkah hanya terkikik geli.

"Jangan mengganggu adikku, maniak anjing" ucap sang kakak, Hyuuga Neji

"Aku tidak mengganggunya" ucap Kiba santai

"Begitukah? Tapi, yang aku lihat kau mengganggu adikku dan berusaha menggodanya"

Kiba hanya memutar mata bosan "Oh ayolah, aku hanya bercanda saja padanya"

"Dan adikku bukan objek candaan untuk playboy sepertimu" semprot Neji

Kiba hanya diam saja, tak memperdulikan perkataan Neji, pemuda Inuzuka itu berdiri dari tempat duduknya sebelum beranjak untuk menghampiri salah satu sahabtanya yang lain yang kini sedang asyik dengan bukunya. Kiba membisikkan sesuatu pada Hinata.

"Kakakmu cerewet sekali"

Kemudian dia berjalan menghampiri sahabatnya yang lain. Hinata melirik kearah kakak laki-lakinya yang kini sedang menyedot minumannya dalam diam, tersenyum penuh arti kepada sang kakak walaupun Neji tak melihatnya.

Tiba-tiba gadis indigo itu teringat akan sesuatu, ya, dia lupa untuk menghubungi sahabatnya. Dengan cepat gadis itu menarik ponsel dari saku seragamanya, menekan nomor ponsel Ino yang sudah ia hafal diluar kepala.

"Moshi Moshi"

"Hinata, kemana saja kau? Kenapa baru menelpon sekarang?"

"Ma-af, Ino-chan. A-aku lupa" sesalnya

"Ya sudahlah, sekarang yang terpenting beritahu aku, kau bersekolah dimana?"

Di tempatnya berada Hinata tampak tersenyum pasalnya ia baru saja melihat Ino dan Sakura memasuki cafeteria.

"A-aku di-sini"

"Eh?"

"A-aku di-sini, Ino-chan"

"Disini? Disini dimana?" tanya Ino sambil mengedarkan pandangannya

Suasana cefetaria sangat ramai saat ini, alhasil Ino tidak dapat melihat Hinata yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri. Hinata melambaikan tangannya, memberi sinyal pada sahabatnya jika ia berada disana. Ino melihat tangan Hinata dengan cepat ia menarik Sakura yang tengah sibuk memilih-milih makanan yang akan ia beli.

"Kyaa! Kenapa kau menarikku Ino?"

"Hinata ada disini"

"Maksudmu?"

"Maksudku, Hinata ada disini. Di sekolah ini"

"Kau serius?"

"Kapan aku pernah tak serius padamu, Sakura" ucap Ino sebal

"Maaf"

Ino masih mencari sosok Hinata di tengah keramaian cafeteria. Beberapa detik kemudian mereka akhirnya menemukan Hinata. Saling berpelukan untuk melepas rindu.

"Hinata, kau tak ingin memperkenalkan kami pada teman-teman kakakmu itu" bisik Ino sambil terus menatap seorang pemuda berambut merah yang tengah membaca bukunya disamping kakak laki-laki Hinata

Hinata yang tahu akan maksud sahabatnya itu langsung memperkenalkan kedua sahabatnya pada teman-teman kakaknya itu.

"Hai Hyuuga-san" sapa Sakura

"Hai" sahut Neji singkat

"Ino, Sakura, per-kenalkan ini Kiba-kun" ucap Hinata sambil menunjuk Kiba

"Hai, aku Inuzuka Kiba. Panggil saja Kiba, gadis-gadis manis"

"Ya/Hai" ucap Sakura dan Ino berbarengan

'Apa maksudnya gadis-gadis manis? Dasar playboy!' omel Sakura dalam hati

'Si Inuzuka itu sepertinya perayu yang hebat' batin Ino

"I-ni Sabaku no Gaara" ujar Hinata sambil menunjuk pemuda berambut merah bata

"Hai, Sabaku-san aku Ino, Yamanaka Ino" sapa Ino

"….."

'Dasar sok tampan' batin Sakura

Ino cemberut saat sapaannya tak digubris oleh Gaara. Hinata hanya tersenyum memaklumi sifat sahabat kakaknya yang satu ini.

"D-an yang ter-tidur itu, dia ada-lah Nara Shi-kamaru" ucap Hinata

"Mendokusei, kalian menganggu acara tidurku"

"Maaf-kan a-aku Shika-kun"

"Ya, mendokusei" ujar Shikamaru dan kemudian melanjutkan tidurnya kembali

'Dasar pemalas' batin Sakura dan Ino

Suara seoarang pria terdengar dari balik pengeras suara.

"Untuk semua siswa dan siswi baru diharapkan berkumpul di lapangan, kepala sekolah akan memberikan pidatonya"

"Sekali lagi untuk semua siswa dan siswi baru diharapkan berkumpul di lapangan, kepala sekolah akan memberikan pidatonya. Terima kasih"

Semua siswa termasuk ketujuh remaja itu juga mulai bergerak menuju tempat yang dimaksud oleh pria itu. Hinata sudah berjalan lebih dulu bersama Sakura dan Hinata. Meninggalkan sang kakak dan ketiga sahabatnya.

"Dimana Sasuke?" tanya Kiba

"Entahlah, tadi dia bilang padaku ingin berjalan-jalan sebentar. Mungkin dia sudah ada di lapangan sekarang" jawab Neji

"Oh"

"Si Uchiha itu benar-benar merepotkan" ucap Shikamaru sambil menguap

"Aku harus menemukan tempat yang enak setelah ini" ujar Shikamari lagi

"Untuk apa?" tanya Kiba heran

"Tentu saja untuk tidur"

"Kau ini, apa di kepala nanasmu itu isinya hanya tidur saja ya?" omel Kiba

Shikamaru malah menguap tanda tak peduli akan ucapan sahabatnya itu. Semua sudah berada di lapangan termasuk dengan sosok yang sedari tadi dicari oleh Neji dan ketiga sahabatnya. Pemuda dengan rambut melawan gravitasi itu melirik keempat sahabatnya yang kini sedang berjalan menghampirinya.

"Darimana saja kau?" tanya Kiba

"Hn"

"Ck! Tidak bisakah kau menghilangkan kosakatamu itu, Sasuke?"

"Hn"

"Grrrr! Kau memang si irit kata"

Kelima pemuda tersebut kemudian berbaris rapi saat kepala sekolah mulai memberikan pidatonya. Ini baru 10 menit tapi, Shikamaru sudah menguap beberapa kali saking bosannya.

"Bisakah kau suruh kepala sekolah itu mempercepat pidatonya Sasuke, aku sudah bosan" ujar Shikamaru

"Hn" gumam Sasuke tak jelas kemudian merogoh saku celananya dan menekan-nekan tombol di ponselnya

Dan beberapa detik kemudian suara ponsel bordering terdengar oleh semua orang yang berada di tenpat itu, kepala sekolah itu tampak sedang membaca sebuah pesan yang masuk dari ponselnya. Dan sesaat kemudian kepala sekolah itu menghentikan pidatonya. Sepertinya Sasuke menyuruhnya untuk mengakhiri pidato menyebalkan itu.

Sahabat-sahabatnya memandang kearah Sasuke minus Shikamaru.

"Kau yang melakukannya?" tanya Neji

"Hn"

"Yeah! Akhirnya kita terbebas dari pidato si tua bangka itu" seru Kiba

Kelima pemuda itu kemudian berlalu meninggalkan lapangan tak memperdulikan teriakan para senior yang menyuruh mereka untuk tetap berada disana. Tapi dengan tatapan dingin Sasuke saja, para senior tengik itu langsung terdiam dan membiarkan Sasuke cs pergi.

"Siapa pemuda itu?" tanya Ino

"D-dia Uchiha Sasuke, a-anak dari pe-milik se-sekolah i-ini" jawab Hinata

Sakura mendengus kesal "Dia yang kutabrak tadi pagi, dasar laki-laki angkuh"

"Jadi, pemuda itu yang kau tabrak?" tanya Ino

"Iya, lelaki angkuh dan menyebalkan itu"

"Ke-napa kau bi-bisa menabrak Sasuke-kun, Saku-chan?" tanya Hinata

"Ceritanya panjang Hinata, nanti aku akan menceritakannya padamu" janji Sakura

"Hei kalian bertiga yang disana! Jangan mengobrol saja! Cepat selesaikan tugas kalian!" bentak salah satu senior itu pada Sakura, Ino dan Hinata

"Baik!" seru mereka

"Dasar cerewet!" omel Sakura

.

.

.

.

.

.

Los Angeles, United States

Seorang pemuda tampan tengah duduk diatas kursi Presdir-nya. Malam sudah semakin larut, tapi tampaknya pemuda itu enggan untuk beranjak dari tempatnya berada. Ruang kerja itu tampak gelap hanya cahaya yang berasal dari laptop yang menyala dan cahaya ponsel seluler miliknya yang menerangi rungan tersebut. Pemuda yang berda di dalam ruangan itu sedang menatap ponselnya, mengelus-elus foto diponsel itu. Foto seorang gadis cantik berumur yang tengah tersenyum kearah kamera. Tanpa dirinya sadari, setetes air mata jatuh ke pipinya. Pemuda itu memejamkan matanya.

"Aku merindukan senyumanmu" lirihnya

To be Countinue

Pojok Suara :

Gimana chapter kali ini? Bagus atau tidak? Seperti janji saya, saya sudah memunculkan Sasuke tuh. Walau masih belum jelas dimana keberadaan Naruto sekarang tapi sedikit demi sedikit teka-teki itu sudah mulai terkuak kok.

Di chapter kali ini hanya bercerita seputar kehidupan teman-teman Naruto yang sudah lulus dan melanjutkan pendidikan ke Tokyo International High School. Sekolah milik keluarga Uchiha Sasuke. Dan disini juga saya hanya memberikan sedikit dialog pada Sasuke. Entah kenapa, tiba-tiba otak saya rada mampet. Jadi, feelnya nggak dapet saat ngetik fic ini.

Kalau begitu kita balas review saja ya…

Hanazawa Kay : Jadi Naru pergi kemana?

Me : Kemana ya? Ayo ditebak lagi, hohoho. Thanks for your review Kay

Nitya-chan : Kawaiii! Chap depan ditunggu

Me : Terima kasih, ini sudah saya lanjutkan

Luca Marvell : Apa Naru dibawa keluar negeri sama Kyuu buat ngilangin stressnya? Atau malah kabur? Hehe.. update lagi yaa, aku tunggu :-D

Me : Yep! Kamu benar, Naruto dibawa pergi oleh Kyuubi (peluk-peluk kamu) hehehe, ketebak juga ternyata. Terima kasih ya sudah mereview ini sudah saya update.

Misha Haruno : Kyaa! Saya suka, saya suka. Next chapter!

Me : Terima kasih Misha, ini sudah saya update

Wildapolaris : Naru diculik sama Sasuke, gak tahu buat apa! #plakk pokoknya gitu deh

Me : Hehehe, Naruto diculik Sasuke buat di rape #plakk ( ditoyor sama Kyuubi ). Nggak ding, Naruto ngga diculik sama Sasuke tapi dibawa kabur pergi sama Kyuubi. Dibawa kemana? Jawabannya ada di chapter berikutnya. Thanks for review

Uzumaki Prince Dobe-Nii : review kamu panjang jadi nggak ku ketik, maaf yee~ hohoho

Me : Persahabatan mereka memang hebat banget, tapi ntar saat Naruto kembali persahabatan mereka mulai goyah. Kenapa? itu nanti aja jawabannya di chapter yang akan datang. Yang penting saya mau ucapin terima kasih sudah mereview yaa #mmuuuach :*

: Lanjut thor!

Me : Ini sudah saya lanjut, thank you

KirikaNoKarin : Lanjut #jiah… tumben kiri reviewnya pendek… eh, ehemmm… salam kenal juga ya thor-san

Me : Salam kenal juga Kiri, terima kasih reviewnya ini sudah saya update

Itu dia balasan review dari saya untuk para reviewers, dan selamat buat Luca Marvell yang tebakannya benar. Kamu mendapatkan pelukan, kecupan dan cubitan manis dari saya. Hohohoho…

Akhir kata saya ucapkan terima kasih

Sentimental Aqumarine pamit,

See you and bye bye bye

Mind to review?