Disclaimer : Naruto – Masashi Kishimoto

Pairing : SasuFemNaru

Rated : T

Warning : Genre, OOC, Typos, Alur kecepatan dan lainnya

Summary : Naruto, gadis berparas cantik yang membenci satu hari di hidupnya. Saat semua orang bahagia ketika hari paling spesial di hidup mereka itu datang. Naruto justru sangat membencinya. Ya, dia sangat membenci hari ulang tahunnya. Sangat benci.

Special Gift for You

By

Sentimental Aqumarine

#Flashback

Mansion Uchiha

08 Oktober XXX

Pukul : 08.00

Seorang bocah sedang berlari-lari di lorong kediaman Uchiha, di belakangnya terlihat dua wanita cantik yang tengah mengobrol.

"Naruto, jangan berlari-lari seperti itu, nanti kau jatuh sayang" ucap wanita berambut merah pada anaknya

Tapi tampaknya bocah bernama Naruto itu tak mengindahkan ucapan ibunya. Dia terus berlari-lari, meregangkan kedua tangan mungilnya dan berputar-putar seolah-olah dia adalah sebuah pesawat. Hingga kegiatannya itu terhenti saat ia melihat seorang bocah laki-laki yang seumuran dengannya sedang duduk di depan televisi sambil memakan tomatnya.

Tanpa pikir panjang Naruto masuk ke ruangan itu, menghampiri sang bocah yang sepertinya tidak menyadari kehadirannya. Dengan suara cemprengnya, Naruto menyapa sang bocah berambut raven tersebut.

"Sukeeee!"

Bocah yang dipanggil Suke itu langsung mencari sosok yang memanggilnya, mencari sumber suara yang sangat ia kenal itu tapi, sosok Naruto tak ia temukan.

'Dimana si Dobe itu?' tanyanya dalam hati

Tiba-tiba sosok yang dicarinya muncul dari balik sofa, dengan cengiran khasnya Naruto bertanya pada Sasuke.

"Mencariku Suke?"

"Hn" gumam Sasuke tak jelas

"Suke sedang apa?" tanya Naruto sambil memposisikan dirinya di samping Sasuke

"Tentu saja aku sedang menonton Dobe"

"Menonton apa?"

"Aku sedang menonton kartun"

"Kartun apa?"

"Kamen Rider dan jika kau bertanya lagi kucium kau" ancam Sasuke

Naruto langsung diam saat Sasuke mengancam akan menciumnya jika ia bertanya lagi. Keheningan melanda kedua bocah itu, Sasuke sedang asyik menonton acara televisinya sedangkan Naruto dia hanya duduk diam disamping Sasuke.

'Naru bosan' batinnya

Naruto melirik Sasuke dengan ekor matanya,karena merasa diacuhkan oleh bocah disebelahnya tiba-tiba sebuah ide jail muncul di kepala kuningnya. Dia melihat remote televisi yang berada disampingnya kemudian mengambilnya dan menganti channel tersebut membuat Sasuke menoleh padanya.

"Apa yang kau lakukan Dobe?" tanya Sasuke pada Naruto yang kini sudah mulai beranjak dari sofa dengan remote di tangannya

"Kembalikan itu padaku!"

"Tidak mau!"

"Kembalikan!"

"Tidak!"

"Kau akan menyesal Dobe"

Dan Naruto mulai berlari saat Sasuke bangkit dari sofa sepertinya ia berniat untuk mengejar bocah blonde itu. Kedua bocah itu saling berlarian di ruangan tersebut, Naruto yang selalu menghindar dari kejaran Sasuke sedangkan Sasuke dia tampak kesal karena selalu gagal mendapatkan Naruto.

Kini mereka sedang berputar-putar diantara sofa dan meja yang terletak di depan televisi. Keduanya saling berhadapan, Sasuke bergerak ke kiri dan ke kanan sama seperti Naruto. Bedanya, Sasuke bergerak untuk menghadang Naruto yang sewaktu-waktu bisa melarikan diri sedangkan Naruto, dia berusaha mencari celah untuk kabur dari Sasuke.

"Kembalikan itu Dobe" perintah Sasuke

"Never"

"Baiklah kalau itu maumu, aku tidak akan segan-segan lagi padamu Dobe" ucap Sasuke datar sambil menyeringai

Naruto meneguk ludahnya paksa, pasalnya ia tahu arti seringai sahabatnya itu. Naruto memutar otaknya, dia harus secepatnya kabur dari Sasuke dan kemudian berlari ke tempat ibunya berada untuk meminta pertolongan. Oh ayolah, ketika Sasuke mengeluarkan seringainya itu berarti sesuatu yang buruk akan terjadi. Dan Naruto tidak mau itu, cukup dengan kejadian itu saja. Dia sudah cukup trauma dengan Manda, ular peliharaan Itachi yang Sasuke masukan ke dalam sepatu Naruto dengan seenak rambut pantat ayamnya.

Naruto yang notabennya takut pada ular itu langsung berteriak dan menangis saat mendapati ada ular di sepatunya, sedangkan Sasuke, si pantat ayam itu malah tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi ketakutan Naruto. Menurutnya, wajah Naruto sangat lucu saat itu. Menggemaskan.

Dan karena ulah Sasuke itulah Naruto jadi tidak mau memakai sepatunya lagi, padahal itu adalah sepatu favoritnya. Dia takut jika ada ular lagi yang akan menyembul dari dalam sepatunya itu. Bocah yang malang.

Naruto masih berpikir bagaimana caranya ia bisa kabur dari sini dan ia melihat pintu kaca yang menghubungkannya dengan kebun milik Mikoto yang kini terbuka. Naruto tersenyum senang akhirnya ia bisa kabur dari Sasuke, tapi dia harus mendapatkan celah telebih dahulu agar dapat keluar dan berlari menuju pintu kaca itu. Dan Naruto mendapatkan celah itu, celah yang tanpa sengaja dibuat oleh Sasuke.

"Mencari cara untuk kabur, heh Dobe?"

"….."

"Kau tak akan bisa kabur dariku"

Naruto mendengus kesal "Benarkah?"

Setelah menyelesaikan ucapannya dengan cepat Naruto berlari munuju pintu itu melalui celah yang diberikan oleh Sasuke. Sedangkan Sasuke dia mengumpat karena menyadari kecerobohannya yang membuat Naruto bisa lolos.

"Shit!"

Dan Sasuke mengejar Naruto yang kini telah berada di kebun bunga milik ibunya. Senyum terukir di wajahnya saat mendapati Naruto terjerembab ke tanah karena tak sengaja tersandung batu. Naruto sedang meniup-niup lututnya yang lecet karena terjatuh, sebenarnya Sasuke ingin sekali menolong sahabatnya itu, tapi, ia urungakan niatnya. Dia sudah cukup kesal dengan Naruto, karena ulah si blonde itulah ia jadi tak bisa menonton acara tv favoritnya.

"Sudahku bilang kalau kau tak akan bisa kabur dariku Dobe" ucap Sasuke sambil berjalan kearah Naruto

Naruto yang takut langsung menyeret tubuhnya mundur, tapi Sasuke malah semakin mendekat. Bocah raven itu menikmati ekspresi ketakutan Naruto, senyum terukir di wajah tampannya. Betapa cantiknya orang yang ia sukai itu? Tidak sia-sia ia menyukai orang itu selama ini. Naruto yang melihat Sasuke senyum-senyum sendiri itu hanya bergidik ngeri.

'Suke jadi gila' batinnya

Jarak antara Sasuke dan Naruto hanya beberapa senti saja, kini Sasuke berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Naruto.

"Kau harus dihukum Dobe" ucap Sasuke

"Suke, ada sesuatu dibelakangmu"

"Aku tak akan tertipu dengan tipuan murahan seperti itu Dobe" ejek Sasuke

"Naru serius Suke, coba lihat"

"Oh ya? Ada apa dibelakangku? Sapi terbang? Dinosaurus? Nyamuk raksasa? Atau ramen yang melayang sendiri? Aku tak akan tertipu Dobe"

Naruto memanyunkan bibirnya, tipuannya gagal kali ini.

'Ayo berpikir Naru!' batinnya panik

Naruto mengedarkan pandangannya ke sekeliling, mencoba mencari sesuatu untuk mengalihkan perhatian Sasuke agar dia dapat kabur dan lari. Dan matanya tertuju pada selang air yang terletak tak jauh dari tempatnya berada, dengan pasti Naruto bergerak ke samping, tangannya berusaha menggapai selang air itu.

'Sedikit lagi' batin Naruto

Kini tubuh Naruto sudah sepenuhnya menyentuh tanah, Naruto meringis kesakitaan saat punggungnya tak sengaja menimpah kerikil-kerikil kecil yang berserakan di tempat itu. Sasuke berada diatas Naruto, menindih tubuh mungil dibawahnya. Naruto hampir mendapatkan selang air itu

'Dapat!' teriaknya dalam hati

Dan Naruto mengarahkan selang air itu kearah Sasuke "Hai Suke" ucapnya girang. Dan bersamaan dengan itu air keluar dari dalam selang dan membasahi wajah dan t-shirt Sasuke.

"Apa yang lakukan Dobe?!"

Sasuke menutupi wajahnya, rasanya benar-benar sakit saat air dari selang itu mengenai wajahnya. Sasuke membuka matanya yang tadi sempat ia penjamkan, melihat dari celah-celah jarinya yang terbuka. Naruto berteriak penuh kemenangan karena berhasil menyemprot Sasuke.

"Rasakan ini Suke" teriaknya

Sasuke mengedarkan pendangannya mencari sesuatu untuk membalas perlakuan sahabatnya itu. Dan mata onyx-nya menemukan selang air yang terletak tergantung di dinding. Si bungsu Uchiha itu tersenyum licik. Dia bergerak menuju tempat selang itu tergantung. Dan berhasil! Beberapa menit kemudian kedua bocah itu saling menyemprotkan air.

Baju mereka sudah basah kuyub, rambut Sasuke yang biasanya melawan gravitasi itu kini sudah lepek karena terkena air.

"Hentikan Suke!" mohon Naruto

"Kau yang memulainya Dobe"

Mereka berdua masih terus menyemprotkan air hingga mereka merasa kelelahan dan kini mereka berdua tengah tidur di rumput yang sudah basah kerena ulah mereka berdua. Membiarkan selang air itu masih terus menyala, alhasil air keluar dan kini menggenangi tempat mereka berbaring sekarang.

"Hahahahaha" Naruto tertawa

"Kenapa kau tertawa Dobe?" tanya Sasuke

Naruto menggeleng "Tidak, Naru hanya merasa lucu saja melihat ekspresi Suke tadi"

Sasuke menoleh kearah Naruto yang berbaring disampingnya, senyum terkembang di bibirnya. Dia tidak pernah merasa sebahagia ini sebelumnya. Sebelum Naruto hadir di hidupnya, dia hanyalah seorang bocah dingin tanpa ekspresi, bahkan teman-temannya saja menjulukinya sebagai Princes Ice. Tapi, setelah kehadiran Naruto semuanya berubah, dia mulai terlihat seperti anak-anak pada umumnya. Tertawa saat merasa lucu, tersenyum saat merasa bahagia. Dan bahkan menangis disaat merasa sedih. Naruto telah mengubah hidup seorang Uchiha Sasuke. Walau ekspresi itu hanya ia tunjukkan pada Naruto saja tapi ia senang setidaknya ia bisa menjadi dirinya sendiri di depan Naruto.

"Suke, lihat itu!" seru Naruto sambil menunjuk ke atas

Lamunan Sasuke terhenti saat mendengar seruan Naruto, dia mengikuti arah pandang Naruto. Di langit itu ada pelangi.

"Naru suka sekali pelangi"

"Kenapa?" tanya Sasuke lembut

"Karena pelangi mengingatkan Naru akan hari dimana Naru bertemu dengan Suke" ucap Naruto sambil tersenyum

#Flashback

Central Park, Tokyo

15 Mei XXX

Pukul : 16.00

Di taman kota, terlihat seorang bocah bersurai pirang tengah duduk sambil menjilati ice cream miliknya. Mulut bocah itu berlumuran ice cream, membuatnya begitu sangat menggemaskan. Beberapa pasang mata yang melihat pemandangan itu terpesona dibuatnya.

"Ice cream ini enak sekali, Naru suka" ucap bocah itu

Saat sedang menikmati ice creamnya tiba-tiba bocah laki-laki duduk di sebelahnya sambil mengumpat.

"Dasar Baka Aniki!"

Naruto hanya memandang heran pada bocah yang sepertinya seumuran dengannya itu. Masih dengan menjilati ice creamnya, dia tetap memandang bocah itu. Membuat bocah itu risih dibuatnya.

"Apa yang kau lihat Dobe?"

Naruto celingukan mencari seseorang yang disebut oleh bocah itu.

"Kau bertanya pada Naru?" tanya Naruto polos

"Kau pikir siapa lagi. Dasar Dobe!" ucap bocah itu kesal

"Oh" beo Naruto

Keheningan melanda kedua bocah itu, Naruto masih ayik menjilati ice creamnya sedangkan bocah disampingnya hanya duduk diam tak bersuara. Naruto kembali memperhatikan bocah tersebut, melihatnya dari ujung kaki sampai ujung kepala. Mata Naruto menyipit tak kala melihat model rambut bocah itu. Rambutnya mencuat ke belakang, dan bentuknya seperti pantat ayam.

'Rambut yang aneh' batinnya

Bocah yang sedari tadi menjadi objek pemandangan Naruto langsung menatap Naruto tajam. Dia sudah tahu jika bocah pirang di sampingnya itu memperhatikannya, tapi dia tak peduli, toh nanti bocah itu akan bosan dan tak memperhatikannya lagi, begitu pikir bocah tersebut. Tapi, sayang hampir 20 menit ia duduk disini dan hampir 20 menit juga bocah pirang itu memandang interns kerahnya, membuatnya kembali bertanya pada bocah itu.

"Apa yang kau lihat, huh?!"

Naruto menggeleng pelan kemudian ia berucap "Rambutmu aneh, seperti…." Naruto menghentikan ucapannya, jari telunjuknya ia taruh di dagu seperti seorang detektif yang sedang berpikir untuk memecahkan masalah.

"Ah! Seperti pantat ayam" ucap Naruto menyelesaikan perkataanya yang sempat terputus tadi

Empat sudut siku-siku muncul di dahi bocah itu, Kurang ajar, dia mengatai rambutku seperti pantat ayam, batin bocah itu. Sasuke mendengus keras, ia ingin sekali memarahi bocah yang duduk disampingnya itu, tapi ia ingat dia sedang berada di tempat umum, terlalu berisiko baginya jika menunjukan ekspresi di depan orang banyak. Mengingat dalam klannya, bersikap tenang dan berwajah datar adalah sebuah hal mutlak diakukan yang tak bisa diganggu gugat. Jadi, dia memilih untuk diam saja, mengacuhkan Naruto yang kembali menikmati ice creamnya.

Naruto melirik kerah bocah yang tak ia ketahui namanya itu, perasaan bersalah menghinggapinya.

'Apa Naru salah bicara ya' tanyanya dalam hati

Dengan hati-hati, Naruto menoel-noel lengan bocah itu dengan jari telunjuknya. Awalnya bocah itu diam saja, tapi lama kelamaan dia mulai jengah juga akan sikap Naruto yang terus menerus menoel-noel dirinya.

"Apa?!" ucap bocah itu hampir berteriak

Naruto melepaskan jarinya dari lengan bocah itu saat mendengar suara bocah itu.

"A-apa kau ma-marah pada Naru?"

"….."

"N-naru tidak bermaksud mengatai rambutmu seperti pantat ayam"

"….."

"Naru minta maaf" lirih Naruto

Bocah itu tampak iba saat mendengar nada menyesal keluar dari bibir peach itu. Di pandangnya bocah perempuan yang kini tengah menundukan kepalanya.

"Sudahlah, tida apa-apa" ucap bocah itu datar

Naruto mendonggakkan kepalanya, menatap bocah itu dengan berbinar-binar.

"Jadi, kau sudah memaafkan Naru?"

"Hn"

"Eh? 'Hn' itu artinya ya atau tidak?" tanya Naruto bingung sambil memiringan kepalanya kesamping

'Kawaii' batin bocah disamping Naruto itu

Bocah itu menggelengkan kepalanya, menghilangkan pemikiran aneh yang tiba-tiba muncul di otaknya itu.

"M-maksudku ya"

Naruto tersenyum senang, dia menjulurkan tangannya kearah bocah dihadapannya. Bocah itu hanya menatap bingung tangan yang tergantung di udara itu.

"Namikaze Naruto, panggil saja Naru" ucapnya

Dengan kikuk bocah itu juga menjulurkan tangnya menjabat tangan mungil itu. Lembut dan halus itulah yang pertama kali bocah itu rasakan saat menyentuh tangan Naruto.

"Sasuke, Uchiha Sasuke"

"Boleh Naru panggil Uchiha-san dengan Suke?" tanya Naruto sedikit berharap

"….."

Naruto tertunduk lesu, sepertinya permintaanya ini tak akan dipenuhi oleh Sasuke

"Tidak boleh ya?"

Sasuke mengelus rambut pirang Naruto kemudian berucap "Tentu saja boleh Dobe"

"Benarkah?" ujar Naruto tak percaya dan dibalas anggukan kecil oleh Sasuke

"Nah, Suke! Mulai sekarang Naru dan Suke adalah teman" ucap Naruto sambil mengarahkan jari kelingking kearah Sasuke yang disambut dengan senang hati oleh Sasuke

Mereka berdua kemudian menyatukan kelingking mereka. Dua anak manusia yang di pertemukan oleh takdir, memulai semuanya dengan kata persahabatan yang akan membawa mereka ke dalam akhir yang membahagiakan atau malah menyedihkan. Dua bocah dengan warna kulit yang sangat kontras dan dua jiwa yang ternyata saling membutuhkan satu sama lain.

"Lihat itu Suke!" seru Naruto

"Pelangi yang sangat indah, bukan?" tanya Naruto

"Hn"

Naruto tersenyum kearah Sasuke, ice creamnya sudah habis sejak tadi.

"Naru akan selalu mengingat hari ini"

"Kenapa?" tanya Sasuke kemudian memandang Naruto

"Karena hari ini Naru bertemu dengan Suke" ucap Naruto

Sasuke tersenyum, bukan, bukan senyum licik yang biasanya ia tunjukan tapi senyum tulus. Senyum tulus yang untuk pertama kali terkembang di bibirnya, yang untuk pertama kali ia tunjukan untuk orang lain, dan orang lain itu adalah Naruto. Bocah berisik yang sangat manis yang kini telah menjadi teman barunya. Tangan Sasuke tejulur, menyentuh bibir Naruto. Menghapus bekas ice cream yang tersisi di sudut bibirnya.

"Lain kali kau harus membawa tisu jika ingin makan ice cream Dobe"

Naruto menganguk mantap. Kemudian kedua bocah itu kembali menatap langit senja yang kini dihiasi oleh pelangi. Tanpa sadar jika mereka saling menggenggam tangan satu sama lain. Menyalurkan kehangatan yang tiba-tiba menyelusup masuk ke hati mereka masing-masing.

'Sepertinya hidupku tidak akan membosankan lagi' gumam Sasuke

#Flashback End

Kedua sahabat itu tengah mengingat kenangan saat meraka bertemu untuk pertama kalinya. Sekitar 4 tahun yang lalu.

"Suke" panggil Naruto

"Hn"

"Suke tak akan meninggalkan Naru 'kan?" tanya Naruto

"Kenapa kau bicara seperti itu Dobe?"

"Jawab saja"

"Tentu saja tidak, aku akan selalu menemanimu" janji Sasuke

"Janji?"

"Aku janji"

Naruto tersenyum kemudian kembali menatap langit diatasnya begitu pula dengan Sasuke.

"Ne, Suke" panggil Naruto lagi

"Ada apa?"

"Apa Suke sudah menyiapkan kado untuk Naru?"

Sasuke terlonjak kaget tapi dengan cepat ia menutupi keterkejutannya itu. Demi keriput kakak laki-lakinya, dia lupa menyiapakan kado untuk ulang tahun Naruto. Padahal hari ulang tahun Naruto itu tinggal dua hari lagi. Sasuke mengutuk dirinya sendiri, bagaimana mungkin ia melupakan hari spesial orang yang diam-diam di sukai olehnya itu.

"Suke tidak melupakan hari ulang tahun Naru 'kan?" tanya Naruto

Suara Naruto membuyarkan lamunan Sasuke dengan cepat bocah yang lebih tua beberapa bulan dengan Naruto itu menjawab.

"Tentu saja tidak Dobe, aku sudah menyiapkan kado untukmu"

"Benarkah?"

"Hn"

"Naru jadi tidak sabar untuk melihat kado dari Suke" pekik Naruto senang

Mereka berdua saling diam, tak ada yang bersuara. Sasuke sedang memikirkan kado apa yang pantas ia berikan untuk Naruto sedangkan Naruto ia sedang membayangkan perayaan hari ulang tahunya yang akan diadakan 2 hari lagi di rumahnya. Membayangkan semua orang yang ia sayangi ada di hari paling spesial untuknya itu. Ayah, Ibu, kakak laki-lakinya Kyuubi, Kakek Jiraya, Nenek Tsunade, Paman Fugaku, Bibi Mikoto, Kak Itachi dan juga sahabatnya Sasuke. semua akan berkumpul di hari ulang tahunnya. Haah~ membayangkannya saja membuatnya sangat senang apalagi merasakannya secara langsung.

Kushina yang merupakan ibu Naruto memekik kaget saat melihat putri dan anak sahabatnya tengah berbaring diatas rumput basah dengan baju yang basah kuyub.

"Naru-chan! Sasuke-kun!"

Naruto dan Sasuke bangkit dari tempat pembaringannya dan menoleh kearah seorang wanita yang kini tengah berdiri dihadapan mereka.

"Hehehe, Kaa-san"

"Apa yang kalian berdua lakukan?"

"Bermain air Kaa-san"

"Bagaimana jika kalian berdua masuk angin, huh?" omel Kushina

"….."

"Astaga! Apa-apaan ini? Baju kalian penuh dengan lumpur" pekik Kushina

"….."

"Sekarang, ayo ikut ke dalam. Kalian harus membersihkan diri" perintah Kushina

"Baik Kaa-san/Baa-san" ucap Naruto dan Sasuke berbarengan

Kini mereka berdua tengah berjalan di belakang Kushina. Memasuki ruangan tv, karena pakaian mereka yang basah kuyub alhasil menentes dan membasahi lantai ruangan tersebut

"Ini semua gara-gara kau Dobe"

"Enak saja, ini semua itu salah Suke bukan salah Naru"

Sasuke mendengus kesal "Jelas-jelas ini semua salahmu Dobe"

"Tidak! Ini semua salah Suke"

"Salahmu Dobe"

"Salah Suke"

"Kau Dobe"

"Suke"

"Kau!"

"Suke!"

"Kau!"

"Sukee!"

"Hentikan pertengkaraan kalian!" bentak Kushina

Baik Naruto maupun Sasuke sama-sama terdiam saat mendengar bentakan Kushina itu, tiba-tiba suara isakan terdengar dari bibir Naruto.

"Hikz… Kaa-san membentak Naru"

Kushina yang mendengar tangisan putrinya langsung panik. Wanita cantik itu berusaha menenangkan putrinya, tapi sepertinya tidak berhasil malah tangisan Naruto semakin kencang.

"Baa-san semakin membuatnya menangis" ucap Sasuke datar

"Baa-san tahu itu" ucap Kushina sebal

'Dasar Uchiha bukannya membantu malah diam saja' gumamnya

"Diamlah Naru, Kaa-san tak bermaksud membentakmu tadi"

Mikoto muncul dari balik pintu, dia mendengar tangisan Naruto, jadi dia putuskan untuk melihat apa yang terjadi sehingga Naruto menangis sekeras itu.

"Ada apa ini? Kenapa Naru-chan menangis?"

"Kushina baa-san membentaknya" sahut Sasuke

"Sasuke, kenapa kau basah kuyub begitu?" tanya Mikoto

Sasuke tak menjawab, dia malah menarik Naruto pergi dari tempat itu. Kushina dan Mikoto hanya menatap kepergian anak meraka saja. Sasuke menarik Naruto ke kamarnya. Baju mereka hampir kering. Mereka benar-benar bisa masuk angin kalau begini. Sasuke menatap Naruto yang masih saja menangis.

"Berhentilah menangis Dobe"

"Hikz.. Hikz.. Tidak Hikz.. bisa"

Sasuke menghela napas berat kemudian menurunkan tangan Naruto yang digunakan bocah itu untuk menutup matanya. Sasuke menatap langsung ke bola mata Naruto. Mendekatkan wajahnya ke wajah Naruto. Semakin dekat, sampai ia bisa mencium aroma citrus yang menguar dari tubuh Naruto.

"Su-suke, apa yang mmmppph"

Ucapan Naruto terputus saat bibir Sasuke sudah melumat bibirnya, Naruto hanya diam saja saat Sasuke semakin melumat ganas bibir miliknya. Naruto memejamkan matanya, menikmati setiap perlakuan yang sahabatnya lakukan itu. Sasuke memiringkan kepalanya, bocah berumur 10 tahun itu mengigit bibir bawah Naruto membuat Naruto terpekik kaget.

Lidah Sasuke langsung menerobos masuk ke dalam gua lembab milik Naruto, mengabsen setiap gigi sahabatnya itu, menghisap dan mengigit lidah Naruto.

"Mmmmph" erang Naruto

Ciuman itu berlangsung sampai beberapa detik, Sasuke melepaskan pagutan mereka. Napas mereka memburu, Sasuke melirik kearah Naruto, wajah sahabatnya itu sudah sangat merah. Sasuke menarik tengkuk Naruto, kembali mencium bibir itu. Tapi, kali ini ciuman itu tak sepanas sebelumnya. Sasuke hanya menempelkan bibirnya saja, menyalurkan perasaan hangat yang tiba-tiba muncul begitu pula dengan Naruto. Dia malah melirngkarkan kedua tangannya ke leher Sasuke.

'Wangi mint' batin Naruto

Sasuke melepaskan ciumannya, kemudian menempelkan keningnya dengan kening Naruto.

"Sudah tidak menangis lagi?" tanya Sasuke yang dibalas gelengan oleh Naruto

"Kalau begitu mandilah, kau bisa masuk angin jika terus memakai baju ini"

Naruto mengangguk kemudian beranjak masuk ke dalam kamar mandi. Sasuke tersenyum sambil memegangi bibirnya.

"Rasa jeruk" ucapnya pelan

.

.

.

.

.

.

Tokyo Mall

09 Oktober XXX

Pukul : 11.30

Sasuke sedang mengitari Tokyo Mall, mencari-cari kado yang cocok untuk ia berikan pada Naruto. Kemarin dia sudah membuat daftar mengenai sebuah hal yang Naruto sukai tapi tetap saja ia tak menemukan satu pun hal bagus yang bisa dijadikan referensi untuk hadiahnya itu.

"Apa kau sudah menentukan hadiah yang cocok untuk Naru-chan?" tanya Itachi

"Hn"

Itachi menghela napas berat sepertinya ia harus menyuruh Kabuto untuk memijat kakinya sepulang nanti.

Pagi-pagi sekali Sasuke sudah mengedor-ngedor kamar Itachi, meminta kepada sang kakak untuk menemaninya membeli kado. Itachi yang sebenarnya ingin sekali bermalas-malasan di kamarnya -mengingat ini adalah hari minggu- harus mengigit jari saat dengan teganya Sasuke mengancam akan mengaduh kepada sang Ibu jika kakaknya itu menyimpan majalah porno di bawah kasur tempat tidurnya.

Sasuke berhenti di depan estalase sebuah toko aksesoris, bocah raven itu langsung masuk tak kala matanya melihat sepasang kalung berbandul batu berwarna hitam dan biru. Mengingatkannya akan dirinya dan juga Naruto. Tanpa pikir panjang Sasuke langsung mengambil kalung itu, menyuruh pegawai toko untuk membungkusnya.

'Semoga kau suka Dobe' batinnya

Keesokan Harinya….

Mansion Namikaze

10 Oktober XXX

Pukul : 16.00

Semua sudah berkumpul untuk merayakan hari ulang tahun Naruto yang ke-10. Putri bungsu keluarga Namikaze itu menuruni tangga diapit oleh Kushina dan Mikoto. Bocah itu sangat menawan, rambut yang tergerai rapi, gaun berwarna biru selutut, make-up yang tak terlalu tebal bahkan itu terlihat sangat natural dan sepatu berwarna senada yang ia kenakan semakin mempercantik penampilannya hari ini.

Sasuke tak bisa melepaskan pandangannya dari Naruto. Naruto itu berisik, cerewet, tapi dia sangat cantik dan menyilaukan, begitulah kalimat yang sempat terlintas di benak Sasuke. Itachi yang melihat pandangan penuh kekagumanan yang terpancar dari sorot mata sang adik hanya tersenyum. Pemuda berumur 22 tahun itu menghampiri sang adik kemudian membisikkan sesuatu ke telinga Sasuke.

"Naru-chan itu sangat cantik, aku rasa kau harus secepatnya menyatakan perasaanmu itu padanya Otoutou"

"Apa maksudmu Baka Aniki?" tanya Sasuke seraya menatap Itachi tajam

"Aku tahu kau menyukainya, Sasuke"

"….."

"Jadi, kusarankan kau untuk mengatakannya, sebelum semuanya terlambat"

"….."

Sasuke tak menjawab dia sendiri masih belum yakin akan perasaannya. Dia akui jika dia sangat menyayangi Naruto, berusaha untuk selalu melindungi si blonde itu. Dia juga akui jika ia sangat nyaman bila berada di dekat Naruto, merasa bahagia saat Naruto tersenyum, merasakan sedih jika Naruto menangis. Dan dia juga mengaku kalau dia, Uchiha Sasuke merasa jauh lebih hidup saat Naruto hadir di kehidupannya. Di kehidupannya yang dulu hanya mengenal hitam dan putih saja. Tapi, apa perasaan yang selama ini ia rasakan itu karena ia menyukai Naruto bukan perasaan sebagai teman atau sahabat melainkan sebagai seorang anak manusia kepada anak manusia lainnya?

Sasuke merutuki otak jeniusnya yang sampai sekarang pun belum dapat menemukan jawaban atas perasaannya itu. Sasuke menatap Naruto yang kini tengah tersenyum bahagia, dan tanpa sengaja Onyx dan Sapphire bertemu. Naruto melambaikan tangannya kearah Sasuke yang dibalas dengan sebuah senyuman olehnya.

Happy Birthday Naru

Happy Birthday Naru

Happy Birthday

Happy Birthday

Happy Birthday Naru

Nyanyian itu menggema di seluruh ruangan di kediaman Namikaze itu. Semuanya bahagia, semuanya menikmati perayaan itu. Hanya beberapa kerabat dan juga kolega dari keluarga Namikaze saja yang hadir, tapi itu tak menyurutkan suasana bahagia di kediaman itu.

Naruto sedang berdiri di balkon, sesekali ia meminum minumannya. Hari ini ia sangat bahagia sekali. Bagaimana tidak orang-orang ia sayangi hadir di perayakan hari ulang tahunnya, tapi dia merasa kurang, ya satu orang yang ia sayangi tidak hadir hari ini. Orang itu adalah kakak laki-lakinya, Kyuubi. Ini sudah ketiga kalinya Kyuubi tidak menghadiri perayaan hari ulang tahunnya.

Kakaknya itu terlalu sibu dengan pekerjaannya sebagai seorang polisi, awalnya Naruto memakluminya tapi semakin lama ia jadi semakin berpikir kalau kakaknya itu memang sengaja untuk tidak hadir. Kyuubi selalu berjajnji untuk hadir, bahkan kemarin pun ia berjanji untuk hadir di pesta perayaaan hari ulang tahunnya adiknya itu. Tapi, dia malah mengingkari janjinya sendiri.

Naruto masih sangat ingat saat kakaknya menelpon dari Kyoto bahwa ia akan datang tapi sepertinya kakaknya itu tak menepati janjinya. Naruto memandang langit senja, dia menghela napas berat.

'Kyuu-nii… bohong lagi kali ini' batinnya sedih

Sasuke yang sedari tadi mencari sosok Naruto malah menemukannya sedang berdiri sendiri di balkon. Dengan perlahan ia menghampiri Naruto.

"Kenapa kau ada disini Dobe?"

"Kyaa!"

"Kenapa kau berteriak begitu?"

"Itu karena Suke menagagetkan Naru tahu!"

"Hn"

Naruto memanyunkan bibirnya tanda ia kesal pada sahabatnya itu.

"Kau belum menjawab pertanyaanku Dobe"

"Eh?"

"Kenapa kau ada disini, bukankah ini pesta untukmu?"

"….."

Sasuke melirik kearah Naruto, sahabatnya itu hanya diam saja. Sepertinya ia tahu kenapa sahabatnya ini bersedih.

"Kyuubi tak hadir lagi?" tebaknya

"Huum" gumam Naruto tak jelas

" Mungkin dia sibuk Dobe"

"Huuum"

Sasuke tahu mood Naruto sedang buruk saat ini. Jadi dia membiarkan saja sahabatnya itu menenangkan perasaanya sebentar. Naruto akan selalu begini jika Kyuubi tak menepati janjinya.

"Kenapa juga ikut diam Suke?"

"Hn"

"Haah~ Suke menyebalkan!"

Sasuke mengelus-elus rambut pirang Naruto. Sahabatnya itu, mood-nya cepat sekali bisa kembali normal.

"Aku ada sesuatu untukmu Dobe"

"Apa itu?"

Sasuke merogoh saku celananya dan kemudian menyerakan kotak dengan motif awan merah dengan background hitam serta pita merah diatasnya kepada Naruto. Naruto membuka kotak itu dan senyum langsung terkembang di wajahnya tak kalah melihat kalung dengan batu berwarna hitam di dalamya. Naruto mengeluarkan kalung itu dari dalam kotak, kemudian memandangnya.

"Cantik sekali Suke"

"Kau suka?"

"Tentu saja Naru suka, ini adalah hadiah paling manis yang pernah Suke berikan pada Naru"

"Arigatou Suke" ucap Naruto sembari memeluk tubuh Sasuke dan Sasuke membalas pelukan sahabatnya itu

"Ngomong-ngomong, kenapa Suke memilih warna hitam? Ini tidak seperti anak perempuan saja"

"Itu supaya kau selalu mengingatku Naru"

"Eh?"

"Lihat! Aku juga punya yang seperti itu tapi bedanya aku memakai yang berbatu biru" ujar Sasuke sambil melepaskan kalung berbandul batu biru yang tadi ia kenakan di lehernya dan menunjukkannya kepada Naruto

"Kedua batu ini mengingatkanku akan kita berdua" ucap Sasuke sambil mensejajarkan kalung itu ke wajah Naruto

"Kalung yang ada padaku ini, sama seperti bola matamu Naru. Dan kalung yang ada padamu sama seperti bola mataku. Aku ingin kau selalu menjaganya, dan aku pun akan melakukan hal yang sama. Walaupun kita berpisah nantinya, aku ataupun kau akan selalu ada bersama, jadi, bawa selalu kalung itu kemana pun kau pergi Naru"

Naruto meneteskan air matanya, dia tak menyangkah jika sahabatnya ini bisa sangat manis seperti itu. Sekali lagi, ia memeluk sahabatnya.

"Untuk pertama kalinya, Suke menyebut nama Naru" isaknya

Naruto melepaskan pelukannya dipandangnya wajah sahabatnya itu, Tampan, batinnya. Dia baru sadar jika Sasuke itu sangat tampan, pantas saja banyak sekali anak perempuan yang memujanya. Sasuke memasangkan kalung berbandul batu hitam itu ke leher Naruto dan kemudian memasangkan kalung berbandul batu biru padanya sendiri.

"Aku akan selalu menjaganya" ucap Naruto pelan tapi masih dapat didengar oleh Sasuke

Dan mereka berdua menikmati langit yang senja dalam keheningan. Dan tanpa sengaja Sasuke mengingat perkataan pegawai toko saat ia membeli kalung itu.

#Flashback

Sasuke sedang berada di depan meja kasir untuk membayar kalung yang ia beli.

"Pilihan yang bagus, dik" ucap pegawai toko itu

"Hn"

"Kau tahu?"

"Apa?"

"Kalung yang kau beli ini punya kekuatan magis"

Dahi Sasuke berkerut "Maksudnya?"

"Katanya sih, kalung ini dibuat oleh seorang pengrajin dari rusia. Kalung ini, melambangkan sebuah pengharapan, persahabatan dan juga kasih sayang. Jika kau ingin mengharapkan sesuatu, memohonlah pada Tuhan sambil menggenggam kalung berwarna berbandul biru itu. Jika kau, ingin persahabatanmu kekal abadi dengan sahabatmu, pakaikan kalung ini padamu dan sahabatmu. Dan, jika kau ingin hidup bahagia bersama orang yang kau kasihi, pakailah kedua kalung ini bersama orang yang kau kasihi itu" terang pegawai itu

"Nah, sudah selesai. Ini dia" ucap pegawai itu sambil menyerahkan bungkusan berwarna cream itu pada Sasuke

"Hn, arigatou"

"Sama-sama, dan satu hal lagi, kalung itu hanya bisa bekerja pada orang yang percaya padanya" ucap pegawai itu sambil tersenyum

"Hn" gumam Sasuke kemudoan berlalu pergi

#Flashback End

Tanpa sadar senyum terukir di wajah tampan Sasuke 'Semoga saja apa yang dikatakan pegawai itu benar' batin Sasuke sambil melirik Naruto disebelahnya

Mansion Namikaze

10 Oktober XXX

Pukul : 23.00

Pesta sudah 30 menit yang lalu, semua para tamu juga sudah pulang ke rumah mereka masing-masing. Kini hanya tinggal para maid kediaman Namikaze yang sedang membersihkan ruangan yang di jadikan tempat pesta perayaan ulang tahunn putri majikan mereka itu.

Keheningan itu seketika pecah saat sang Nyonya Namikaze itu berteriak memanggil nama putrinya.

"Naru-chan!"

"…..."

"Naru!"

"….."

Naruto tak menggubris panggilan Ibunya, ia terus berlari menaiki anak tangga, menutup pintu kamarnya dengan keras. Dia marah, dia benci, dia kesal. Dia benar-benar tak habis pikir dengan kakak laki-lainya itu. Kenapa kakaknya itu selalu memutuskan janjinya dengan seenaknya sendiri? Kenapa kakaknya suka sekali mengingkari janji yang ia buat sendiri? Dia tak butuh hadiah yang kakaknya kirimkan itu. Dia tidak butuh. Yang ia butuhkan adalah kakaknya, buan hadiah ta berguna itu. Naruto menghempaskan dirinya ke ranjang. Menumpahkan semua tangisanya disana.

Tok! Tok!

"Naru" panggil Kushina

"….."

"Naru, tolong mengerti kakakmu, sayang. Dia bukan tak ingin datang, dia hanya tak bisa, Naru" ucap Kushina lembut

"….."

Naruto diam, dia tak menyahut atau menjawab perkataan Ibunya. Dia sudah bosan mendengar itu, kenapa harus dia yang mengerti kakaknya? Kenapa bukan kakaknya saja? Dia sudah terlalu cukup mengerti selama 3 tahun terakhir ini. Dia benci pekerjaan kakaknya yang menyita semua waktu kakaknya untuk bersamanya. Dia benci kakaknya, dia benci kakaknya yang selalu saja lebih memelih pekerjaan dari pada dirinya.

"Naru benci Kyuu-nii" lirihnya

Kushina masih terus membujuk putrinya, dia sebenarnya tak tega melihat putrinya seperti itu. Selalu merayakan ulang tahunnya tanpa sang kakak selama 3 tahun ini. Tapi, mau bagaimana lagi, Kyuubi sudah memilih untuk mengambil profesi itu. Dia juga sebenarnya sedih, dia merasakan hal yang sama seperti yang putrinya rasakan. Rindu yang sangat dalam pada putra sulungnya itu. Kyuubi yang berprofesi sebagai polisi, mengharuskan ia untuk berpergian ke luar kota, untuk memecahkan kasus-kasus yang sulit di pecahkan oleh polisi biasa.

Kyuubi yang merupakan polisi senior dan masuk dalam jajaran polisi yang paling berpengaruh di Tokyo memang memiliki jam terbang tinggi. Itulah yang membuatnya jarak sekali untuk pulang, apalagi saat Kyuubi memilih untuk tinggal di apartement yang jaraknya tak jauh dari kantor kepolisian tempatnya bekerja.

Dan sejak saat itu, Kyuubi mulai jarang pulang ke kediaman Namikaze. Dia hanya sesekali berkunjung jika sudah sangat merindukan keluarganya terutama adik perempuanya kesayangannya.

"Ada apa?" tanya Minato

"Kyuubi… tak bisa hadir lagi" ucap Kushina sambil terrsenyum getir

Mainato mengelus lengan istrinya. Kepala keluarga Namikaze itu hanya berusaha menguatkan sang istri, dia tahu istri dan putrinya sangat merindukan putranya itu begitu pula dengannya. Tapi, mereka tak boleh egois, bagaimana pun juga itu adalah jalan yang telah di pilih oleh putranya mereka harus mendukung. Walaupun itu artinya harus mengorbankan waktu bersama keluarga.

Minato mengajak istrinya ke ruang keluarga, membujuk sang istri untuk membiarkan putrinya. Naruto butuh waktu untuk menenangkan hatinya begitu yang Minato katakana. Dan sepasang suami istri itu beranjak pergi dan meninggalkan putrid mereka yang di dalam kamarnya. Tanpa tahu jika ada segerombolan pria-pria bertopeng dan berpakaian serba hitam yang sedang mengintai kediaman mereka.

Mansion Uchiha

11 Oktober XXX

Pukul : 07.00

Kediaman Uchiha yang biasanya tenang dan damai tiba-tiba gempar saat sang Nyonya menangis terisak-isak setelah menerima sebuah telepon. Sang kepala keluarga yang mendengar tangisan sang istri langsung menghambur menghampiri Mikoto yang kini sedang duduk di lantai sambil menahan tangisnya.

"Ada apa Koi?" tanya Fugaku

"Hikzz.. Hikzz.. Minato dan Kushina…."

"Tenangkan dirimu dulu, baru bicara"

Kedua putra Fugaku dan Mikoto yang mendengar tangisan sang Ibu langsung datang dan ingin tahu sebenarnya apa yang terjadi sehingga membuat Ibu mereka menangis seperti itu.

"Ada apa dengan Kaa-san, Tou-san?" tanya Itachi

"Entahlah, Tou-san juga tidak tahu"

"Fugaku…. Minato dan Kushina…. mereka tewas dibunuh perampok"

Ucapan Mikoto itu sontak membuat ketiga pria di ruangan tersebut terlonjak kaget.

"Kau tahu darimana?"

"Kyuubi…hikz…Kyuubi tadi menelponku"

Dan tangis itu kembali pecah, Fugaku memeluk sang istri mencoba menenangkan Mikoto yang sepertinya sangat terpukul itu. Sedangkan Sasuke, dia begitu syok saat mendengar berita yang disampaikan oleh Ibunya itu.

Itachi yang melihat sang adiknya yang sepertinya akan ambruk itu dengan sigap menangkap tubuh Sasuke. Itachi tahu saat ini Sasuke sedang mengkhawatirkan Naruto.

"Naru-chan pasti baik-baik saja, Otoutou" bisiknya

Ya, Sasuke juga berharap begitu. Dia berharap Naruto-nya baik-baik saja. Jika tidak, dia akan benar-benar menghabisi para perampok brengsek itu dengan tangannya sendiri.

"Kabuto!" panggil Fugaku pada salah satu maid kepercayaan di rumahnya

"Iya Fugaku-sama"

"Cepat siapkan mobil, kita akan pergi ke kediaman Namikaze sekarang" perintah Fugaku

"Baik Tuan"

Dan pagi itu, di kediaman Uchiha tak setenang pagi-pagi sebelumnya. Mereka sangat berduka hari itu. Sangat merasakan kehilangan, kesedihan, kepedihan yang tak dapat ungkapkan oleh kata-kata.

Pemakaman Umum Tokyo

11 Oktober XXX

Pukul : 10.00

Semuanya berduka bahkan langit diatas pun ikut berduka. Mengantarkan jenazah sepasang suami dan istri itu. Naruto hanya menatap nanar gundukan tanah dihadapannya. Pusaran itu milik ayah dan ibunya, di pusaran itu terbaring kedua orang yang sangat ia sayangi. Air mata kembali menetes dari balik mata beriris sapphire itu. Dia tak menyangka ini akan terjadi padanya. Semuanya seperti mimpi saja, rasanya baru kemarin ia merasakan kebahagiaan, tapi, kenapa sekarang semua berbanding terbalik. Dia kehilangan, dia kehilangan orangtuanya, ayah dan ibunya.

Sasuke menatap Naruto yang kini sedang berdiri disamping Kyuubi. Dia sangat bersyukur Naruto baik-baik saja. Ia sangat bahagia mendapati Naruto masih hidup, masih bernapas. Dia ingat saat pertama kali menginjakan kaki di kediaman Namikaze, yang pertama kali ia cari adalah Naruto. Dan ia menemukan sosok itu tengah duduk sambil memandang jasad kedua oorangtuanya, Sasuke memeluk sosok itu. Kekhawatirannya sirna sudah setelah melihat Naruto. Tapi, kini sosok itu begitu sangat rapuh, begitu sangat lemah, begitu sangat menyedihkan saat sosok itu ia peluk. Sasuke baru saja ingin pergi menghampiri Naruto saat dengan tiba-tiba Itachi menahannya. Itachi menggeleng pelan, mengisyaratkan untuk tidak menghampiri Naruto saat ini dan itu dipatuhi oleh Sasuke.

Beberapa pelayat sudah mulai pergi setelah memberikan penghormatan terakhir pada kedua pasangan itu. Tapi, Naruto masih berdiri di depan pusaran kedua orangtuanya. Dibawah guyuran hujan, bocah yang baru saja berumur 10 tahun itu menumpahkan tangisnya lagi. Tangisnya pecah, membuat beberapa pelayat yang masih berada disana menoleh kaget kepada putri bungsu mendiang Minato dan Kushina itu.

"Kenapa Tou-san dan Kaa-san meninggalkan Naru?!" teriaknya entah pada siapa

"Naru tidak mau sendiri disini!"

"Bawa Naru! Bawa Naru bersama kalian" lirihnya

Naruto jatuh terduduk di depan pusaran itu, tenaganya sudah terkuras habis karena terus menangis. Bocah berumur 10 tahun itu menyeret tubuhnya yang kini sudah terkena lumpur, dia tidak peduli dengan hujan yang akan membuatnya basah kuyub.

Dia memeluk gundukan tanah itu, memeluknya erat seakan tak mau melepaskannya.

"Bawa Naru, Kaa-san" ujarnya pada pusaran sang Ibu

"Bawa Naru, Tou-san" ujarnya pada pusaran sang Ayah

Kyuubi menghampiri sang adik, memeluk tubuh itu. Dia membuka kemeja hitam miliknya sehingga memperlihatkan otot kekar dan perut six pack miliknya. Dia menutupi kepala Naruto dari guyuran hujan dengan kemeja miliknya.

"Kau bisa sakit Naru" lirihnya

Untuk pertama kalinya Kyuubi menangis, dia menangis sambil memeluk adik tercintanya. Pemuda itu sudah tidak sanggup lagi menahan kesedihannya, dia sudah tidak sanggup lagi menahan air matanya agar tidak jatuh. Sekuat apapun Kyuubi dia pasti akan menangis bila orang yang ia sayangi pergi meninggalkannya. Pergi meninggalkannya untuk selamanya.

Itachi, Sasuke dan para pelayat yang melihat pemandangan menyedihkan hanya bisa mematung terdiam. Tak bisa berbuat apa-apa untuk kedua kakak beradik itu. Sasuke merutuki dirinya yang tak bisa apa-apa, yang tak bisa menghibur Naruto. Sasuke tertunduk lesu.

"Maafkan aku Naru, maaf" lirih Sasuke

To be Countinue

Pojok Suara:

Chapter terpanjang yang pernah saya buat. Ya, ampun fiiuuh (buang keringat) capek banget, nggak nyangka bisa sampe segini panjangnya. Tahu-tahu udah 5000 kata aja. Yeah! Seperti yang para pembaca tahu, chapter ini tentang masa lalu Naruto dan Sasuke. Latarnya saya ambil 2 hari sebelum hari ulang tahun Naruto. Jalan ceritanya juga mengisahkan tentang persahabatan mereka berdua. Tentang perasaan tersembunyi yang Sasuke miliki untuk Naruto. Tentang sosok Kyuubi dan juga tentang Sasuke yang merasa bersalah karena tak dapat berbuat apa-apa selain melihat Naruto menangis dihadapannya.

Nah, untuk para pembaca yang sedikit bingung dengan chapter 3 kemarin, saya benar-benar minta maaf. Saya nggak baca-baca dulu waktu mau update, alhasil begitu baca, astaga! begitu banyak typo yang bertebaran dan berserak di chapter itu. Dan maaf juga kalau chapter kemarin ceritanya tentang Sakura mulu. Demi rambut pantat ayam si Sasuteme #plak (ditapok fans Sasuke) ini pairingnya tetap SasufemNaru tidak ada dan memang tidak akan pernah ada perubahan pairing menjadi SasuSaku, GaaNaru ataupun SasuIno.

Balasan review :

Me to Uzumaki Princes Dobe-Nii: Nggak akan ada SasuSaku disini, ini real SasuNaru. Hehehe, apa itu Kyuubi? Bisa iya bisa nggak. Naru akan balik kok ke Tokyo tapi nanti kalau saya sudah punya ide sadis untuk membuat Naruto lebih menderita. Hohoho

Me to DrakCloud XII : Iie, Sasuke cs itu satu angkatan sama Hinata cs makanya mereka ikut upacara. Tapi, mereka nggak pake atribut MOS (minus Sasuke, karena Sakura pernah lihat Sasuke pake atribut MOS waktu mereka tabrakan. Tapi setelah itu dia lepas dan dibuang). Thanks for review.

Me to Wildapolaris: Itu sebenarnya foto seorang bocah berumur 9 tahun (maaf, tiba-tiba tuh kata-kata ke delete atau mungkin saya aja yang teledor). Sasuke itu 100% peduli sama Naruto. Cuma, ada hal-hal yang terjadi di masa lalu yang membuat Sasuke seakan-akan tak ingat dengan Naruto. Tapi Sasuke itu adalah orang paling peduli sama Naruto kok, sekalipun nanti di saat ia bertemu lagi dengan Naruto dia malah mengacuhkan gadis blonde itu

Me to Hime Koyuki 099 : Iya, terima kasih atas reviewnya. Ini sudah saya lanjutkan

Me to Azura Al-Rin : Kenapa baru ketahuan kalau Naruto benci hari ulang tahunnya setelah 3 tahun di rumah Uzumaki? Itu karena selama 3 tahun itu, Naruto hanya diam saja saat para penghuni di kediaman Uzumaki merayakan ulang tahunnya yang ke 11. Dia berusaha untuk tidak mengingat memori kematian orangtuanya, karena dia nggak mau dianggap gila sama keluarganya terutama Kyuubi. Tapi, sayang pertahanannya itu goyah saat Sakura cs merayakan hari ulang tahunnya ditambah lagi keluarganya juga berbuat hal yang sama. Mereka nggak tahu kalau trauma paling besar Naruto itu adalah hari ulang tahunnya, karena di hari itulah dia melihat orangtuanya meninggal.

Naruto ada di LA? Hehehe, bisa iya bisa juga nggak. Nggak mungkin saya bongkar Naruto ada dimana, ntar jadi nggak seru dong.

Cinta segitiga? Hmmm, kamu maunya cinta segitiga atau cinta segiempat. Kalau saya maunya cinta diagonal. Hahahah, kita lihat aja kedepannya gimana ya. Makasih reviewnya.

Me to Misha Haruno : Kamu bingung ya? Maaf yaa.. Mau dibuat sampai berapa chapter? Nggak tahu juga sih, tergantung berapa banyak konflik yang saya masukan di fic ini. Saya juga bingung mau endingnya gimana, tapi rencananya sih Sad Ending walau agak bertolak belakang sama judul dan keputusan awal saya buat fic ini. Thanks for review

Me to Hanazawa Kay : Yep! Ini masih SasuNaru, saya nggak sadar waktu buat chapter 3, waktu baca ulang, eeeh, ternyata kebanyakan tentang Sakura. Hadeeh~

Me to KirikaNoKarin : Yes! Ini masih SasufemNaru dan tak ada perubahan pairing. Thanks for review

Me to Lavender-chan : Konflik antara Ino dan Sakura? Hmmm, ide yang bagus, tapi, saya tidak kan membuat konflik diantara mereka berdua. Karena, Ino tidak menyukai Sasuke, dia sudah terpesona terlebih dahulu oleh si bungsu Sabaku. Hohoho, ntar juga ada kisah tentang perjuangan Ino untuk mendapatkan Gaara lho, penuh dengan jatuh bangun kaya main air softgun. Mereka nggak akan mungkin menghancurkan Naruto malah disini mereka akan berjuang untuk membantu Naruto keluar dari trumanya. Naruto akan saya buat pendiam dan lebih suka menyendiri di fic ini, dia juga akan menutup diri pada orang-orang disekitarnya termasuk pada Sasuke yang notebennya adalah orang yang pernah ada di masa lalunya. Makasih reviewnya

Me to Nakashima Akira : Naruto ada di Indonesia tepatnya di Medan dirumah tercinta saya. Hahaha, nggak ding, Naruto ada disuatu tempat dimana di tempat itu dia bisa menemukan ketenangan. Jadi, tebak aja tempat yang bisa menenangkan jiwa dan raga itu dimana. Thanks for review Akira.

Akhir kata saya ucapkan terima kasih.

Sentimental Aqumarine pamit

See you and bye bye bye

Mind to review?