Disclaimer : Naruto – Masashi Kishimoto

Pairing : SasuFemNaru

Rated : T

Warning : Genre, OOC, Typos, Alur kecepatan dan lainnya

Summary : Naruto, gadis berparas cantik yang membenci satu hari di hidupnya. Saat semua orang bahagia ketika hari paling spesial di hidup mereka itu datang. Naruto justru sangat membencinya. Ya, dia sangat membenci hari ulang tahunnya. Sangat benci.

Chapter ini adalah keleanjutan dari flashback di chapter sebelumnya.

Selamat membaca

Special Gift for You

By

Sentimental Aqumarine

1 minggu kemudian….

Mansion Uzumaki

17 Oktober XXX

Pukul : 11.45

Naruto sedang berdiri di depan jendela kamarnya, menatap nanar keluar jendela. Selama seminggu terakhir, Naruto hanya diam saja di dalam kamarnya, tidak mau makan, tidak mau berbicara pada siapapun. Hal inilah yang membuat Kyuubi selaku kakak laki-laki Naruto sangat khawatir. Pemuda itu selalu membujuk Naruto untuk makan, setidaknya beberapa suapan saja, tidak perlu habis juga tidak apa-apa yang penting ada asupan gizi yang masuk ke dalam tubuh adiknya itu. Seperti siang ini, saat Kyuubi membawakan nampan yang berisi makanan untuk Naruto.

Kyuubi menaruh nampan berisi makanan diatas meja kemudian menghampiri adiknya yang kini sedang berdiri di depan jendela.

"Naru" panggi Kyuubi

"….."

"Kau harus makan Naru"

"….."

Naruto tak menjawab "Tolong jangan buat Kyuu-nii khawatir Naru" ujar Kyuubi lirih. Naruto tak bergeming dia masih tetap memandang keluar jendela, seakan tak peduli pada kakaknya itu.

Tok! Tok!

Suara pintu diketuk, Kyuubi melangkah kearah pintu dan membukanya.

"Ada apa Iruka?" tanya Kyuubi

"Itachi-sama dan Sasuke-sama sedang menunggu Anda di ruang tamu"

"Baiklah, aku akan segera kesana" ujar Naruto

"Saya akan menyampaikann pada mereka. Permisi"

"Hn"

Kyuubi menatap kearah adiknya sebentar sebelum menutup pintu dan beranjak untuk menemui kedua Uchiha yang sudah menunggunya. kyuubi melangkah memasuki ruang tamu, terlihat disana Itachi dan Sasuke yang duduk dalam diam.

"Maaf sudah membuat kalian menunggu lama" ujar Kyuubi

Itachi menoleh ke sumber suara "Tidak apa-apa Kyuu" ucap Itachi. "Lalu, ada apa kau menyuruh kami kemari?" tanya Itachi.

Ya, Kyuubi memang menyuruh kakak beradik itu untuk datang ke kediaman Uzumaki, bermaksud untuk meminta bantuan kepada mereka. Kyuubi menghela napas berat.

"Aku ingin kalian membantuku" ujar Kyuubi

Itachi mengernyit "Membantumu? Untuk apa?" tanya Itachi. "Ini soal Naruto" bisik Kyuubi lirih.

Sasuke yang sedari tadi menunduk secara refleks mendongakkan kepalanya. "Ada apa dengan Naruto?" tanya Sasuke.

"Dia tidak mau berbicara pada siapapun sejak hari pemakaman itu, dia jadi lebih pendiam dari biasanya, dia juga tak mau makan, aku takut dia sakit nantinya" ujar Kyuubi. "Maka dari itu, aku meminta Sasuke untuk membujuk Naruto, mengingat kaulah orang yang paling dekat dengannya, Sasuke"

Sasuke menatap Kyuubi dalam diam dan sesaat kemudian bocah itu berkata. "Tanpa kau suruh pun aku akan melakukannya" ujar Sasuke. Kyuubi tersenyum tulus. "Arigatou" ucap Kyuubi.

Brak!

Suara benda terjatuh berasal dari kamar Naruto membuat ketiga orang di ruang tamu itu terlonjak kaget. Dengan cepat mereka berlari menuju kamar Naruto yang terletak di lantai dua kediaman Uzumaki itu. Kyuubi membuka pintu kamar itu secara paksa sehingga menimbulkan suara yang sangat keras kerena berbenturan dengan dinding.

Disana terlihat Naruto yang tengah meringkuk di sudut ruangan , kamar itu sudah tidak seperti saat Kyuubi mengunjunginya beberapa saat lalu, sangat berantakan, seprai yang sudah tak ada di tempatnya lagi, bantal dan gulingyang berserakan di lantai, nampan berisi makanan yang tadi diletakkan Kyuubi diatas meja kini sudah berpindah ke lantai dengan nasi yang berhamburan dan juga pecahan-pecahan dari gelas disebelahnya. Kamar itu benar-benar kacau.

Kyuubi menghampiri sang adik perlahan kemudian memelukknya. Tubuh itu bergetar dalam dekapan Kyuubi, air mata tak henti-hentinya mengalir dari mata beriris biru itu.

"Kaa-san… Tou-san" bisik Naruto lirih

Lagi-lagi Sasuke merutuki dirinya sendiri, merutuki dirinya yang hanya dia saja saat melihat Naruto begitu menyedihkan dihadapannya. Entah kenapa, sejak melihat Naruto menangis di hari pemakaman itu, ia seakan tak punya keberanian untuk mendekati si pirang.

Tokyo International Hospital

20 Oktober XXX

Pukul : 10.00

` Kyuubi berlari tergesa-gesa di sepanjang lorong rumah sakit, tadi neneknya menelpon jika Naruto pingsan di kamarnya. Tanpa pikir panjang lagi, Kyuubi meninggalkan pekerjaannya dan langsung melajukan mobilnya seperti orang kesurupan menuju rumah sakit. Nafas pemuda itu memburu, saat dia sudah sampai di depan kamar perawatan Naruto. Pemuda itu membuka pintu bercat putih tersebut secara paksa.

"Bagimana keadaan Naruto?" tanya Kyuubi pada orang-orang yang berada diruangan tersebut

"Tenanglah Kyuu, Naruto sudah ditangani oleh dokter dan dia baik-baik saja. Dokter bilang dia mengalami dehidrasi" ujar Jiraya

Kyuubi melangkah menghampiri Naruto yang kini sedang terbaring di ranjang rumah sakit. Dibelainya surai pirang itu, dipandangnya wajah pucat adiknya. "Kau membuat Kyuu-nii takut, Naru" lirih Kyuubi

Sudah dua hari Naruto berada di rumah sakit, tadi pagi dia baru saja siuman. Kyuubi masuk ke dalam ruang inap Naruto, melihat sang adik yang hanya duduk diam diatas ranjang sambil menatap kearah jendela.

"Kau sedang melihat apa Naru?" tanya Kyuubi seraya mendudukan dirinya disamping Naruto

"…."

"Kyuu-nii membawakanmu ramen, kau mau?" tawar Kyuubi

"…."

Kyuubi menghela nafas berat, lagi-lagi usahanya gagal. "Baiklah, Kyuu-nii akan menaruhnya disini, makanlah ramen ini selagi hangat Naru"

"….."

"Kalau begitu Kyuu-nii pergi dulu, ada beberapa pekerjaan yang harus Kyuu-nii selesaikan di kantor" ucap Kyuubi kemudian mencium puncak kepala Naruto

"….."

"Kyuu-nii menyayangimu, Naru" ujar Kyuubi pelan dan kemudian beranjak keluar dari ruangan itu. Naruto melihat makanan yang dibawakan kakaknya diatas meja sekilas kemudian menatap punggung Kyuubi yang menghilang dibalik pintu.

"Naru juga menyayangi Kyuu-nii" lirih Naruto dan kemudian kembali melanjutkan kegiatannya, menatap jendela.

Naruto sudah keluar dari rumah sakit tadi pagi dan disinilah ia berada sekarang dikamarnya sendiri. Kyuubi menyelimuti tubuh sang adik kemudian mendaratkan sebuah kecupan di dahi Naruto.

"Istirahatlah" ucap Kyuubi dan Naruto mulai memejamkan kedua matanya untuk tidur. "Oyasumi, Naru" bisik Kyuubi

Mansion Uchiha

24 Oktober XXX

Pukul : 08.00

Itachi menghampiri Sasuke yang tengah duduk di depan televisi. "Kau tak ingin menjenguk Naru-chan. Kudengar dia baru keluar dari rumah sakit kemarin" ujar Itachi. Sasuke menoleh kearah sang kakak. "Dia sakit apa?" tanya Sasuke. "Kau tak tahu jika Naru-chan pingsan di kamarnya?" tanya Itachi yang dibalas gelengan kepala oleh Sasuke.

"Ya, Tuhan! Kupikir kau sudah tahu, pantas saja kau tak menjeguk Naru-chan dari kemarin"

Sasuke bangkit dari sofa bergegas untuj pergi. "Kau mau kemana?" tanya Itachi "Tentu saja menjeguk Naruto" jawab Sasuke. "Kalau begitu aku ikut" ujar Itachi seraya bangkit dari posisinya kemudian menyusul sang adik yang sudah berjalan duluan.

Mansion Uzumaki

24 Oktober XXX

Pukul : 09.55

Mobil sport hitam milik Itachi baru saja memasuki kediaman Uzumaki. Sasuke keluar dari dalam mobil kemudian masuk kedalam mansion tersebut. Memberi anggukan kecil kepada setiap maid yang ia temui.

"Sasuke" panggil Kyuubi

"Dimana Naruto?" tanya Sasuke to the point

"Dia ada di kamarnya" jawab Kyuubi dan kemudian Sasuke langsung melangkah menuju kamar Naruto

Itachi baru saja masuk ke dalam mansion itu, saat dilihatnya Kyuubi tengah. Sulung Uchiha itu kemudian menghampiri Kyuubi dan menyapanya. "Hai, Kyuu" sapa Itachi. "Hai" sahut Kyuubi singkat. Dan kemudian mereka berdua pergi menuju ruang perpustakaan milik keluarga Uzumaki dan mengobrol disana.

Sasuke membuka pintu dihadapannya secara perlahan, pandangannya tertuju akan sosok Naruto yang tengah berdiri mematung sambil memandang keluar jendela.

"Naruto" panggil Sasuke

"….."

"Naruto" panggil Sasuke lagi

"….."

"Naruto, ini aku Sasuke"

"….."

Sasuke menyentuh pundak Naruto membuat Naruto menoleh kearahnya. Naruto menatap wajah Sasuke, tiba-tiba air mata menetes dari pelupuk mata Naruto membuat Sasuke bingung. Apa aku menyakitinya?, pikir Sasuke.

"Kenapa kau menangis Naruto?" tanya Sasuke. secara tiba-tiba Naruto memeluk tubuh Sasuke. "Naru takut, Naru takut Suke" bisik Naruto lirih. Sasuke memeluk tubuh Naruto erat. Dia tahu jika saat ini Naruto masih dibayang-bayangi oleh peristiwa itu.

"Ssst, tenanglah. Aku ada disini untukmu, Naru. Kau tak perlu takut" ujar Sasuke seraya melepaskan pelukan itu. ditatapnya wajah Naruto yang kini sudah basah oleh air mata. Sasuke meyeka air mata yang turun dari mata beriris sapphire itu dengan ibu jarinya. Sasuke mendekatkan wajahnya kearah Naruto.

Cup!

Sebuah kecupan singkat mendarat di bibir peach Naruto. Naruto masih terisak-isak di dalam tangisnya. "Aku akan selalu menciummu jika kau sedang menangis, Naruto" ucap Sasuke pelan.

.

.

.

.

.

.

Central Park, Tokyo

31 Oktober XXX

Pukul : 16.00

Hari berganti hari, sejak Sasuke datang ke kediaman Uzumaki satu minggu yang lalu. Naruto sudah mulai mau berkomunikasi dengan orang lain, dia juga sudah jarang mengrung diri di kamarnya. Seperti saat ini, Naruto sedang berada di Central Park bersama dengan Sasuke. Mereka berdua tengah duduk sambil menatap langit senja. Sepertinya, hal ini pernah mereka alami sebelumnya. Dejavukah? Tidak, mereka memang pernah mengalami hal ini, ya, saat pertama kali mereka berdua bertemu. Di tempat yang sama bahkan di dalam suasana yang sama. Yang beda hanya, saat itu sedang musim semi sedangkan saat ini sedang musim gugur.

"Aku akan selalu menemanimu, Naru" ujar Sasuke

"Naru percaya itu" ucap Naruto pelan

Kemudian mereka menatap langit yang mulai senja itu. Musim gugur, musim gugur, Momiji yang sudah mulai memerah daunnya. Serangga dibalik pohon yang sedang bersembunyi dan mengumpulkan makanan untuk musim berikutnya. Langit senja yang indah. Udara musim gugur yang sejuk. Dengarlah, dengarlah. Aku berharap akan seperti ini, selamanya.

Mansion Uchiha

10 Desember XXX

Pukul : 20.00

Anggota keluaraga Uchiha sedang menyantap makan malam mereka dalam diam sampai Fugaku sang kepala keluarga berkata sehingga memecah keheningan itu.

"Kau sudah berpamitan dengan Naru-chan, Sasuke?" tanya Fugaku

"Belum"

"Sebaiknya kau harus berpamitan secepatnya, karena keberangkatan kita sudah tidak lama lagi" ujar Fugaku

"Hn"

Sasuke dan keluarganya berencana untuk menetap di New York karena perusahaan ayahnya sedang berkembang dengan sangat pesat disana. Sebenarnya dia tidak ingin pergi, dia tak ingin berpisah dengan Naruto, tapi, mau bagaimana lagi dia tidak mungkin tinggal sendirian di Tokyo tanpa keluarganya. Apalagi, ayahnya menyuruhnya untuk melanjutkan pendidikannya disana. Mau tidak mau dia harus ikut pergi bersama keluarganya ke New York dan meninggalkan Naruto disini.

Makan malam sudah selesai 30 menit yang lalu, saat ini Sasauke sedang berbaring diatas tempat tidurnya. Manatap langit-langit kamar dalam diam. Tangan seputih porselen itu menggenggam kalung berbandul batu biru. Sampai Itachi masuk dan menghampiri sang adik.

"Kau sudah mempersiapkan diri untuk berpamitan dengan Naru-chan?" tanya Itachi

"Hn"

"Aku tahu ini sangat berat untukmu, Otoutou. Aku tak bisa memberikanmu apa-apa selain sebuah semangat saja. Berjuanglah!" ujar Itachi kemudian beranjak pergi dari kamar Sasuke

Keesokan harinya….

Sasuke sedang berada di mansion Uzumaki. Hari ini dia akan berpamitan pada Naruto karena nanti malam dia akan berangkat ke New York bersama keluarganya. Dibukanya pintu bercat coklat itu perlahan.

Ceklek!

Naruto menoleh ke sumber suara dan senyumnya terkembang saat dilihatnya Sasuke sedang berdiri diambang pintu kamarnya. "Kanapa bediri disana saja, Suke. Ayo, masuk!' ajak Naruto. Sasuke melangkahkan kakinya perlahan. Segala pertanyaan berkecamuk di dalam pikirannya. Bagaimana reaksi Naruto saat dia bilang akan pergi? Bagaimana jika Naruto akan marah padanya? Bagaimana jika Naruto malah akan menjauhi dirinya? Dan berbagai pertanyaan 'bagaimana jika' berputar-putar di dalam kepalanya. Demi Tuhan, jika ini adalah sebuah komik mungkin kepala Sasuke sudah meledak sedari tadi.

"Hari ini kita mau kemana?" tanya Naruto

"…."

"Apa kita akan pergi makan ice cream?"

"….."

"Atau kita pergi ke taman bermain?"

"…."

"Bagaimana jika kita makan ramen saja?"

"….."

"Kita pergi makan ramen saja ya, Suke?"

"….."

"Suke" panggil Naruto

"….."

"Suke" panggil Naruto lagi

"….."

"Sasuke!"

"I-iya, ada apa Naru?"

"Suke melamun ya?"

"Tidak?"

"Kalau tidak kenapa tidak menyahut panggilan Naru?"

"Aku tidak sedang melamun, jadi, hari ini kita akan pergi kemana?"

"Ke Ichiraku Ramen. Naru ingin sekali makan ramen hari ini" ucap Naruto

"Kalau begitu ayo" ajak Sasuke seraya menarik pergelangan tangan Naruto

Kali ini saja, untuk kali ini saja ia ingin menghabiskan waktunya bersama Naruto sebelum dia pergi jauh. Ini akan sangat menyulitkan, batin Sasuke.

Naruto dan Sasuke sedang memakan ramen mereka. Tidak, sepertinya itu hanya berlaku untuk Naruto saja sedangkan Sasuke, dia hanya mengaduk-aduk makanan itu tanpa sedikitpun berniat untuk memakannya.

"Suke tidak makan?" tanya Naruto

"Hn"

"Suke tidak suka makanan itu ya?" tanya Naruto lagi tapi dibalas gelengan pelan oleh Sasuke. "Aku suka" jawab Sasuke singkat. "Lalu, kenapa Suke tak memakannya?"

Sasuke tersenyum sejenak kemudian berujar. "Aku akan memakannya. Lihat ini!" ujar Sasuke sambil memasukan ramen itu kedalam mulutnya membuat Naruto tertawa geli karena mulut Sasuke menggembung karena penuh dengan ramen.

"Hahahah, wajah Suke lucu sekali"

Sekali ini saja, biarkan Sasuke melihat wajah bahagia Naruto. Kali ini saja, biarkan Sasuke mendengar suara tawa Naruto. Kali ini saja. Ya, untuk kali ini saja. Sebelum waktu itu habis.

"Ne, Suke"

"Ya"

"Apa Naru boleh makan ice cream?"

Sasuke tersenyum dan kemudian mengelus surai irang Naruto. "Tentu saja, tunggulah disini. Aku akan membelikanmu ice cream" ujar Sasuke. "Yey!" pekik Naruto

Beberapa menit berlalu, Naruto masih menunggu Sasuke datang bersama ice cream yang ia minta. Naruto mengayun-ayunkan kakinya diudara, saat ini ia sedang duduk dia bangku taman yang tak jauh dari Sasuke membeli ice cream.

"Maaf karena aku terlalu lama, Naru"

"Tidak apa-apa, Suke" ujar Naruto sambil tersenyum

Naruto memakan ice creamnya sedangkan Sasuke dia sedang menguatkan dirinya untuk berpamitan dengan Naruto.

"Suke/Naru" ucap Naruto dan Sasuke bersamaan

"Hahaha, Suke saja yang duluan"

"Kau saja duluan, Naru"

"Tidak, Suke saja dulu. Naru rasa, Suke ingin mengatakan hal yang penting"

'Kau benar, Naruto' batin Sasuke miris

"Naru"

"Ya"

"Aku…"

"Iya"

"Sebenarnya, aku…"

"Sebenarnya aku apa, Suke?"

"Naru, aku sebenarnya…"

"Suke, berkatalah dengan lebih jelas. Naru tak mengerti maksud Sasuke"

Sasuke menarik napasnya secara paksa. Kenapa rasanya susah sekali?, batin Sasuke. Sasuke menatap Naruto. Sasuke menarik napas kembali dan dengan satu tarikan napas, dia mengatakan semuanya kepada Naruto.

"Naru, sebenarnya aku akan pergi ke New York malam ini?"

Naruto memandang Sasuke tak percaya dan ice cream yang berada ditangannya sudah jatuh ke tanah karena dia terkejut dengan apa yang Sasuke bilang.

"Ke New York?" beo Naruto

"….."

"Suke, akan pergi kesana dan meninggalkan Naru disini, begitu?" tanya Naruto

"….."

"Bukankah, bukankah Suke sudah berjanji pada Naru untuk selalu menemani Naru. Apa Suke sudah lupa janji itu?"

"Aku tak akan melupakannya, Naru"

"Tapi, Suke akan mengingkarinya!"

"Bukan seperti itu Naru"

"Suke akan pergi ke New York, bukankah itu mengingkari janji namanya?!"

"Aku tak punya pilihan lagi Naru, maaf. Maafkan aku"

"….."

"Naru"

"….."

"Naru, aku mohon maafkan aku"

"….."

"Aku janji akan selalu mengunjungimu disini, aku janji akan selalu memberi kabar padamu"

"….."

"Naru, aku mohon bicaralah. Jangan diamkan aku seperti ini"

"….."

"Naru"

"Jangan pernah berjanji lagi pada Naru, Suke" ucap Naruto datar

"Naru"

"Naru ingin pulang. Naru lelah" ujar Naruto kemudian beranjak pergi menuju mobil tempat dimana supir pribadi Sasuke sedang menunggu.

Sepanjang perjalanan pulang, baik Sasuke maupun Naruto. Mereka berdua hanya saling diam. Membuat supir pribadi keluarga Uchiha itu mengernyit bingung.

'Ada apa dengan mereka? Tak biasanya saling diam begitu' batin pria itu

Naruto langsung turun dari mobil sesampainya di kediaman Uzumaki tak memperdulikan panggilan Sasuke. Dia terus berlari menuju kamarnya sedangkan Sasuke, dia terus mengikuti Naruto dari belakang. Naruto mengunci kamarnya. Tubuh itu merosot ke lantai. Tangisnya pecah.

"Naru, tolong buka pintunya. Aku akan jelaskan semuanya" pinta Sasuke

"….."

"Naru"

"…"

"Naru, aku mohon"

"….."

"Naruto"

"Pergilah! Naru tak ingin bertemu dengan Suke lagi!"

"….."

"Naru benci Suke!"

Bagai sebuah tamparan untuknya, Sasuke mematung tak bergerak saat mendengar ucapan Naruto itu. Naruto membencinya. Kyuubi merangkul bahu Sasuke menyalurkan kekuatan untuk bocah itu. Kyuubi sudah mengetahuinya dari Itachi, kalau keluarga meraka akan pindah ke New York.

"Naruto masih syok mendengar berita ini. Mengertilah Sasuke" ujar Kyuubi

"….."

"Sekarang pulanglah, orangtuamu sudah menunggu. Kalian akan berangkat dua jam lagi 'kan?"

Dengan langkah berat Sasuke beranjak dari tempat itu kemudian pulang ke rumahnya untuk bersiap-siap berangkat ke New York, setelah sebelumnya berpamitan dengan Kyuubi.

Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam. Naruto sedang terisak-isak di dalam kamarnya. Kenapa orang-orang yang ia sayangi harus pergi meninggalkanny? Apa mereka tak menyayangi dirinya? Apa dia itu hanya menyusahkan mereka saja sehingga mereka memilih untuk pergi? Atau Tuhan memang tak menginginkannya bahagia?

"Naru benci Suke" lirihnya dalam keheningan malam

Sedangkan di mil-mil jauhnya diatas permukaan tanah. Sebuah pesawat sedang terbang membawa para penumpangnya menuju New York, dan salh satunya adalah Sasuke. dia menatap keluar jendela pesawat, menatap langit gelap. Tidak ada bintang sejauh matanya memandang. Sasuke memejamkan matanya. "Sayounara, Naru" lirih Sasuke.

Mansion Uzumaki

11 April XXX

Pukul : 15.00

Sejak kepergian Sasuke ke New York 4 bulan lalu, Naruto kembali menjadi pendiam, waktunya ia habiskan untuk mengurung diri saja. Dia juga tidak mau makan, dia juga hanya mau berkomunikasi pada Kyuubi saja. Kyuubi memijit pangkal hidungnya. Semua ini membuatnya nyaris gila.

Tok! Tok!

Suara ketukan pintu terdengar di telinga Kyuubi. "Masuk" perintahnya. Iruka masuk ke dalam ruangan tersebut. "Maaf Kyuubi-sama, Tsunade-sama menyuruh Anda untuk bertemu dengannya di ruang tamu sekarang" ujar Iruka. "Ada apa?" tanya Kyuubi.

"Saya tidak tahu Kyuubi-sama, Tsunade-sama hanya berpesan untuk memanggil Anda saja karena ada yang ingin beliau bicarakan"

Kyuubi mengernyit, tidak biasanya neneknya itu ingin membicarakan sesuatu padanya. Seberapa penting masalah yang akan dibicarakan nenek?, batin Kyuubi

"Baiklah, aku akan segera kesana" ujar Kyuubi yang dibalas anggukan kepala oleh Iruka dan pria itu meminta ijin untuk pergi.

Kyuubi melangkahkan kakinya ke ruang tamu, dilihatnya sang kakek dan nenek juga seorang wanita muda berambut pirang panjang yang sepertinya seusia dengannya. Kyuubi masuk keruangan tersebut. "Ada apa, nek?" tanya Kyuubi

"Duduklah dulu, Kyuu" ujar Tsunade

"Perkenalkan dia adalah Dr. Shion" tunjuk Tsunade pada wanita tersebut

"Shion"

"Kyuubi"

"Nah, Kyuubi ada yang ingin nenek bicarakan padamu"

"Apa?"

"Ini soal Naruto" ucap Tsunade

Naruto melangkah menuju pintu kamarnya kemdian membuka pintu dihadapannya itu. Naruto melangkah keluar, entah kenapa dia ingin sekali berjalan-jalan di taman belakang rumahnya. Naruto menuruni tangga, dengan perlahan Naruto melangkah, tapi langkahnya terhenti saat mendengar suara kakaknya. Kini posisi Naruto sedang berada di balik didnding yang memisahkannya dengan ruang tamu.

"Apa nenek sudah gila?! Naruto itu tidak sakit! Dia itu baik-baik saja"

"Nenek tahu itu, Kyuu"

"Kalau sudah tahu, kenapa masih membawa dokter ini kesini?! Nenek kira Naruto itu sudah gila?"

"Bukan itu maksud nenekmu, Kyuu" kali ini Jiraya angkat bicara

"Bukan seperti itu bagaimana? Jelas-jelas kalian membawa dokter ini kesini untuk memeriksa kejiwaan Naruto 'kan? Apa itu tidak membuktikan jika kalian meragukan tingkat kewarasan Naruto?"

"Saya buka dokter jiwa, Kyuubi-san. Saya ini seorang psikiater" ujar Shion

"Diam kau! Aku tak berbicara denganmu" bentak Kyuubi

"Kyuubi! Kau tak seharusnya membentak Dr, Shion seperti itu. Bagaimanpun juga ia nenek minta untuk membantu kita"

"Membantu? Apa dengan membawa dokter jiwa ini kesini, semuanya akan selesai?"

"Maaf, Kyuubi-san. Saya tekankan sekali lagi saya bukan dokter jiwa, saya seorang psikiater" ucap Shion dengan berbagai penekanan di beberapa kata

"Aku tak peduli, bagiku kau sama saja dengan dokter jiwa"

"Kyuubi diamlah! Dr. Shion itu seprang psikiater bukan seorang dokter jiwa"

Kyuubi mendengus keras. " Nenek membawanya kemari untuk menolong Naruto. Kau tahu sendiri 'kan, kondisi Naruto saat ini. Dia hanya dia dan melamun saja di kamarnya, nenek hanya takut ada masalah dengan kejiwaan Naruto"

Naruto yang mendengar percakapan tersebut, menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Menahan tangisnya yang sewaktu-waktu bisa pecah. Naruto berlari ke kamarnya. Dia menutup pintu itu. tubuh itu merosot ke lantai, tangisnya mulai terdengar.

"Mereka….mereka menganggapku…..gila" ucap Naruto lirih

Sepanjang malam Naruto hanya menangis saja, dia merutuki nasibnya. Ditinggal oleh kedua orangtuanya, sahabatnya pergi dan kini ia dikira gila oleh keluarganya.

"Tou-san…Kaa-san…Naru tidak gila. Kenapa mereka menganggap Naru seperti itu?" tanyanya entah pada siapa. "Apa yang harus Naru lakukan, Tousan…Kaa-san?"

Keesokan harinya…..

Naruto bangun lebih awal hari ini, dia menyiapakan sarapan untuk Kyuubi, Nenek dan juga Kakeknya. Para maid yang biasanya menyiapakan sarapan terkejut bukan main saat melihat Naruto sedang mengoleskan selai diatas selembar roti dan kemudian menaruh roti tersebut diatas piring.

"Hime-sama, apa yang Anda lakukan?" tanya Iruka

"Ohayou, Iruka-san?" sapa Naruto

"Hime-sama?"

"Iya. Ada apa, Iruka-san?" tanya Naruto

"T-tidak-tidak ada apa-apa, Hime-sama"

Iruka melirik kearah Naruto yang kini tampak sedang mengoleskan selai stroberi diatas roti tawar. Mungkinkah, Hime-sama sudah seperti yang dulu, batin Iruka.

Kyuubi sedang membenarkan bentuk dasinya sambil berjalan menuju ruang makan saat dengan tiba-tiba dia melihat siluet Naruto disana. Itu bukan siluet, itu nyata. Yang ada dihadapannya itu adalah adiknya. Adik perempuannya.

"Naru" panggil Kyuubi

"Ah! Ohayou, Kyuu-nii" sapa Naruto

"Ohayou mo, Naru"

"Dasi Kyuu-nii tak terpasang dengan benar, sini biar Naru yang bantu memakaikannya" ujar Naruto kemudian menghampiri sang kakak dan mulai memakaikan dasi itu ke kerah kemeja Kyuubi.

Kyuubi hanya bisa diam mematung, dia tak menyangka jika iani benar-benar adiknya. Mimpikah ini? Jika ini benar mimpi, tolong jangan bangunkan aku, batin Kyuubi.

"Sekarang sudah benar, Kyuu-nii tampan sekali dengan pakaian seperti ini" puji Naruto

"Naru" panggil Kyuubi

"Iya"

"Apa ini benar kau?"

"Tentu saja ini Naru, Kyuu-nii. Kalau tidak percaya peluk saja" ujar Naruto

Tanpa pikir panjang, Kyuubi memeluk tubuh yang jauh lebih pendek darinya itu. "Ini benar-benar kau, Naru" lirih Kyuubi. Naruto tersenyum dibalik pelukan sang kakak.

Hari-hari di kediaman Uzumaki semakin terasa sangat menyenangkan saat Hime mereka sudah kembali seperti yang dulu, walaupun Naruto masih sering berada di dalam kamarnya saat Kyuubi maupun Tsunade dan Jiraya tak ada di rumah atau sudah berangkat ke kantor, tapi itu bukan masalah bukan, asal Hime mereka tak seperti beberapa bulan terakhir yang kerjaannya hanya melamun dan mengurung diri di kamarnya saja.

Mansion Uzumaki

20 April XXX

Pukul : 12.00

Kyuubi berjalan menuju kamar Naruto dengan membawa sebuah boneka beruang berukuran sedang. Kyuubi membuka pintu kamar Naruto dan matanya membulat sempurna saat dilihatnya sang adik sedang makan dengan rakusnya.

"Ya, Tuhan! Naruto, apa yang kau lakukan?" teriak Kyuubi

"Kyuu-nii"

"Kenapa kau makan sebanyak ini Naruto?"

"Aku lapar, Kyuu-nii"

"Tapi, tidak begini caranya, Naru"

Naruto masih terus memasukan makanan kedalam mulutnya, menelannya dengan paksa kemudian menenggak sebotol air mineral. Begitu seterusnya.

"Naru, hentikan!"

"….."

"Naru!"

"….."

"Naruto!"

Naruto tak menggubris panggilan Kyuubi, dia masih terus memakan makanan itu, mengunyahnya dan menelannya. Hingga kini kamar itu sudah sangat berantakan dengan bungkus makanan yang berserakan di lantai, serpihan-serpihan dari makanan yang berjatuhan.

"Naruto, hentikan!

"Tidak mau!"

"Kyuu-nii bilang hentikan!"

"Naru tidak mau!"

Tsunade dan Jiraya yang mendengar suara gaduh yang berasal dari kamar Naruto langsung bergegas untuk melihat ada apa sebenarnya. Tsunade dan Jiraya berdiri diamabang pintu, melihat kamar yang sangat berantakan tersebut dan mereka berdua memandang horror saat melihat Naruto memakan makanan seperti kesetanan begitu"

"Naruto, apa yang kau lakukan?" tanya Jiraya

"Naruto berhenti!" teriak Kyuubi

"Aku tidak mau!"

"Naruto!" bentak Kyuubi untuk kesekian kalinya dan itu berhasil membuat Naruto menghentikan kegiatan mengerikannya tersebut. Naruto menundukkan kepalanya.

"Kenapa…kenapa kalian mencoba menghentikan, Naru?"

Semua diam, tak mengerti akan ucapan Naruto. "Bukannya ini yang kalian inginkan?" tanya Naruto. "Apa maksudmu,Naruto?" tanya Tsunade

Naruto mendongakkan kepalanya menatap sang nenek. "Bukankah kalian akan membawa Naru ke rumah sakit jiwa? Kalian pikir, Naru itu gila 'kan?" tanya Naruto

"Tidak ada yang akan membawamu kerumah sakit jiwa, Naru" ujar Kyuubi

"Bohong! Naru mendengar semuanya, semua percakapan kalian dengan dokter bernama Shion itu!" teriak Naruto. "Kalian akan membawa Naru, dan…dan akan meninggalkan Naru sendirian disana" bisik Naruto lirih

Kyuubi merengkuh Naruto ke dalam dekapannya. "Naru tidak gila, Kyuu-nii" ucap Naruto parau. "Jangan bawa Naru kesan, Naru takut" ucap Naruto lagi.

"Tak ada yang akan membawa Naru kesana. Tak akan ada" ujar Kyuubi.

Tsunade sudah menangis sesugukan dipelukan sang suami, dia tak menyangka jika Naruto mendengar percakapan mereka waktu itu.

Mansion Uzumaki

10 Oktober XXX

Pukul : 20.00

Hari bergati minggu, minggu berganti bulan dan bulan berganti tahun. Sudah 3 tahun Naruto tinggal di kediaman Uzumaki dan begitu banyak permasalahan yang terjadi di kediaman ini. Seperti hari ini, dihari ulang tahun Naruto yang ke 12. Lagi-lagi Naruto kembali berteriak histeris, padahal mereka berpikir Naruto sudah sembuh dari traumanya, karena selama setahun belakangan ini Naruto tak pernah menampakkan gejala seorang yang mengalami trauma, tapi, ternyata pemikiran mereka itu salah. Trauma Naruto kembali lagi dan itu karena salah mereka. menurut dokter yang menangani Naruto. Naruto trauma dengan hari ulang tahunnya sendiri, karena hal itu mengingatkannya akan peristiwa memilukan yang pernah dialaminya.

Mereka juga menemukan fakta baru jika sebenanya Naruto menyembunyikan ketakutan terbesarnya itu dan tak mau memberitahukannya kepada mereka karena dia tak mau mereka khawatir ataupun beranggapan jika Naruto iru gila. Betapa sebuah pemikiran yang sangat dewasa untuk ukuran anak berumur 12 tahun seperti Naruto.

Dan karena itulah, Kyuubi memutuskan untuk membawa Naruto pergi dari Tokyo berharap dengan cara ini trauma Naruto itu akan berangsur-angsur pulih, atau setidaknya Naruto dapat mengendalikan reaksi tubuhnya jika sewaktu-waktu trauma itu muncul dan menyerangnya secara tiba-tiba.

"Aku akan membawa Naru pergi dari Tokyo" ucap Kyuubi pada kedua orangtua dihadapannya itu

"Kau yakin, Kyuu?" tanya Tsunade

"Aku yakin, nek" ucap Kyuubi mantap

"Bagaimana menurutmu, Jiraya?"

"Aku akan mendukung keputusan Kyuubi jika itu memang yang terbaik untuk Naruto"

"Baiklah, nenek dan kakek mengijinkanmu membawa Naruto pergi dari Tokyo. Tapi dengan satu syarat"

"Apa?"

"Kami harus ikut denganmu, bagaimanapun juga, Naruto adalah cucu kesayangan kami"

Kyuubi tersenyum tulus kearah kakek dan neneknya. "Arigatou" ucapnya pelan

Tokyo International Airport

10 Agustus XXX

Pukul : 10.00

Seorang pemuda tampan tengah berjalan di tengah keramaian bandara pagi itu. Pemuda dengan gaya rambut melawan gravitasi itu berjalan angkuh kearah seorang pria berkacamata yang menunggunya. Pria itu membimbing sang pemuda untuk sampai ke mobil.

Pemuda itu melepas katamatanya sehingga menampilkan sepasang mata beiris Onyx yang sangat menawan.

"Kita akan langsung pulang atau berjalan-jalan dahulu, Tuan muda?" tanya sang supir

"Bawa aku ke kediaman Uzumaki" perintah sang Tuan muda

"Baik, Tuan muda"

Pemuda itu tersenyum sambil melihat keluar jendela. Kita akan bertemu lagi, Naru, batin pemuda itu.

Dan mobil yang ditumpanginya melaju meninggalkan debu yang berterbangan di udara.

Mansion Uzumaki

20 Oktober XXX

Pukul : 12.00

Iruka sedang melangkah ke ruang tamu untuk menemui seorang tamu yang sedang duduk diam diruangan tersebut.

"Maaf, Anda sedang mencari siapa, Tuan?" tanya Iruka sopan

Pemuda itu menoleh. Iruka memincingkan matanya, wajah itu seakan familiar baginya. "Kau tak mengenaliku, Iruka-san?" tanya pemuda tersebut

"Maaf, saya tidak mengenal Anda, Tuan"

"Sasuke, Uchiha Sasuke"

"Eh?"

"Itu adalah namaku"

"Uchiha Sasuke, Uchi… aaargh! Ya, Tuhan! Sasuke-sama. Bagaimana mungkin saya bisa melupakan Anda?"

Sasuke tersenyum kearah Iruka, kemudian mendudukan dirinya kembali di sofa. "Sudah lama sekali Anda pergi. Bagaimana keadaan orangtua Anda, Sasuke-sama? Tanya Iruka

"Mereka baik-baik saja" ucap Sasuke

"Syukurlah"

"Dimana yang lain? Kenapa sepi sekali?" tanya Sasuke

"Jiraya-sama dan juga Tsunade-sama sedang ada keperluan bisnis di luar negeri"

"Dan Naru? Dimana dia?"

"Hime-sama…."

"Kemana dia?"

"Kyuubi-sama membawa Hime-sama pergi dari Tokyo"

"Apa maksudmu?"

Iruka menceritakan semua hal yang terjadi pada Naruto setelah kepergian Sasuke ke New York dan juga tentang keputusan Kyuubi untuk membawa Naruto pergi dari Tokyo.

"Sekarang dimana Naru berada?"

"Saya tidak tahu, dimana Hime-sama berada sekarang. Semua itu disembunyikan oleh Kyuubi-sama"

Sasuke mengepalkan tangannya keuat, membuat buku-bukunya memutih. Sasuke memejamkan matanya. Semua ini salahnya, salahnya yang tak berani untuk tetap menetap di Tokyo. Salahnya yang meninggalkan Naruto. Tapi, nasi sudah menjadi bubur. Sekeras apapun dia menyalakan dirinya sendiri, semua tak akan kembali seperti semula. Narutonya sudah pergi, pergi meninggalkan Tokyo. Disaat dia sudah kembali dan memantapkan hati untuk membawa gadis itu kembali kepelukannya.

#Flashback End

Venice adalah salah satukota di Italia yang begitu mengagumkan. Tidak ada kota lain di dunia dimana fantasi dan kenyataan seakan menyatu dengan indahnya. Disana, kalian dapat menikmati keindahan kota ini pada saat apapun, mulai dari mataharuterbit sampai saat ketika pendaran-pendaran lampu malam menghiasi kota ini. apapun terlihat canti, arsitektur-arsitekturnya yang menarik bak menjadi latar belakang sebuah lukisan dengan aksentuasi gondola-gondolanya, Grand Canal yang menjadi pusat lalu lintas air di kota ini, sampai dengan sejarahnya yang menawan.

Begitu yang dipikirkan seorang gadis yang kini sedang duduk di salah satu restaurant ternama di kota Venice. Menyerup mocca-nya sambil sesekali menikmati keindahan dari gedung-gedung berarsitektur tingkat rumit tersebut dari balik kaca restaurant.

Beep! Beep!

Ponsel gadis itu berbunyi, senyum tipis terukir di bibir peachnya.

"Moshi-moshi"

"….."

"Aku akan terbang ke L.A nanti malam, Nii-san"

"….."

"Iya, setelah itu kita akan pulang ke Tokyo"

"….."

"Aku tak akan kabur lagi"

"….."

"Aku juga menyayangimu…..Kyuu-nii"

Dan bersamaan dengan itu sambungan telepon terputus. Gadis itu kembali menyesap mocca-nya. Menikmati hari terakhirnya di kota indah ini.

To be Countinue

Pojok Suara:

Akhirnya, selesai juga. Ayo, siapa yang bisa tebak, siapa gadis yang sedang menelpon diakhir cerita barusan? Siapa? Siapa? Hahaha, iya benar. Dia adalah…

Nah, di chapter kali ini memang masih penuh dengan flashback tentang masa lalu Naruto dan juga Sasuke. Tapi, di chapter selanjutnya, saya akan benar-benar menampilkan Naruto. Jadi, tenang saja, hehehe…

Ayo kita balas review…

Me to Hanazawa Kay : Iya, ini flashback tentang masa lalu Naruto dan Sasuke. Saya memang sengaja memperbanyak scene SasuNaru, soalnya reader yang tanya scene mereka berdua itu dikit. Heheh, makasih review-nya

Me to Hn-Kun : Di chapter selanjutnya Naruto akan bersekolah dan saya juga akan berusaha untuk memperbanyak romance-nya. Thanks for review.

Me to Wildapolaris : Hahaha, saya juga waktu baca senyum-senyum sendiri. Malah dikatai gila sama Mama -_- SasuNaru ketemu waktu umur mereka 5 tahun. Makasih reviewnya yaa.

Me to Hime Koyuki 099 : Ini sudah saya lanjutkan, terima kasih sudah mereview.

Me to Nauchi Kirika-Chan : Saya nggak bermaksud buat Sasu kecil jadi mesum di fic ini. Itu memang cara Sasuke buat berhentiin tangisan Naruto, padahal awalnya cuma main-main doang. Eeh, dia malah ketagihan #Hadeeeh.

Me to Hiku-chan : Terima kasih sudah mereview.

Me to Azura Al-Rin : Sasuke memang akan mengembalikan senyum dan sifat ceria Naruto lagi, walaupun dengan rintangan yang menghadang dan harus ekstra perjuangan untuk mencapai kata 'berhasil'. Dan ini sudah saya lanjut, terima kasih sudah mereview.

Me to Misha Haruno : Ini sudah saya lanjutkan, terima kasih sudah menunggu dan juga mereview fic ini.

Me to Dealova Kasih : Sepertinya sebagian dari pertanyaan kamu sudah terjawab di chapter ini. Kalau masalah, Sakura akan menyukai Sasuke atau tidak, kita lihat saja bagaimana kelanjutannya. Mungkin, nanti ada perselisihan antara Naruto dan Sakura.

Me to Byonic : Iya, saya sudah semangat 45 kok. Hahaha, terima kasih sudah mereview.

Me to Uzumaki Prince Dobe-Nii : Hehehe, saya ini orang baik kok, jadi orang baik itu nggak boleh menyiksa orang lain. Jadi, saya nggak akan buat Naruto menderita tapi lebih menderita. Hahahah, bercanda. Dan, hubungan Kyuubi dangan Naruto itu sebenarnya baik-baik aja, lagipula Naruto itu udah janji sama sang Ayah untuk nggak bertengkar dengan kakaknya. Jadi, walaupun Kyuubi itu reseh dan menyebalkan, Naruto akan selalu menyayangi kakaknya itu. Terima kasih reviewnya.

Me to Lavender-chan : Kita lihat saja bagaimana ending fic ini, siapa tahu karena kegilaan otak saya, Sasuke malah meninggal karena sakit ayan disini. Hahahah, mengingat terkadang otak saya suka seenaknya sendiri -_- Saya emang ingin membuat fic yang berbeda dari yang lain, makanya saya nggak mau InoSaku menghancurkan Naruto disini. Karena menghancurkan dan membuat Naruto menderita itu adalah saya. Bwahahahaha! #uhuuk (ketelan nyamuk) Thanks for review.

Me to Luca Marvell : Pertanyaan kamu tentang kepergian Sasuke, sudah terjawab melalui chapter ini. Terima kasih reviewnya.

Me to -chan : Bagaimana ya, menyiksa Naruto itu sudah menjadi pekerjaan saya sih. Kalau saya nggak menyiksa dia, saya kerja apa doang? Hehehe, iya deh, saya nggak akan terlalu menyiksa batinnya Naruto, ntar saya dikroyok pula sama para fans Naruto. Makasih reviewnya.

Me to Eruna : Naruto ada di…. Kalau kamu baca chapter ini pasti bisa nebak Naruto ada dimana. Hehehe, makasih sudah mereview ya Eruna.

Me to Nakashima Akira : Mata kamu bukannya memang ada dua ya? Lagian Sasuke itu bukan hentai cuma dasarnya aja, tuh anak terlalu dewasa makanya perilakunya udah kaya om-om hidung belalai (hahahah, belang kali ye maksudnya).

Terima kasih banyak untuk para pembaca yang bersedia mereview dan juga terima kasih untuk para silent reader yang sudah membaca fic saya. Peluk erat dan salam terkasih dari saya untuk kalian semua.

Akhir kata saya ucapkan terima kasih.

Sentimental Aqumarine pamit

See you and bye bye bye

Mind to review?