Disclaimer : Naruto – Masashi Kishimoto

Pairing : SasuFemNaru

Rated : T

Warning : Genre, OOC, Typos, Alur kecepatan dan lainnya

Summary : Naruto, gadis berparas cantik yang membenci satu hari di hidupnya. Saat semua orang bahagia ketika hari paling spesial di hidup mereka itu datang. Naruto justru sangat membencinya. Ya, dia sangat membenci hari ulang tahunnya. Sangat benci.

Special Gift for You

By

Sentimental Aqumarine

Tokyo International High School

MOS sudah selesai kemarin dan hari ini adalah hari pembagaian kelas untuk para siswa baru. Sakura, Ino dan Hinata sedang berdiri di depan mading bersama para murid lain. Melihat di kelas mana mereka akan ditempatkan.

"Kita sekelas!" pekik Ino

"Dimana kelas kita?" tanya Sakura

"1-A" jawab Hinata

"Wah! Kita akan sekelas dengan Sasuke dan teman-temannya. Aku akan bertemu dengan Gaara lagi" ucap Ino girang

"Benarkah? Coba aku lihat" ujar Sakura sembari melangkahkan kakinya untuk dapat melihat dengan jelas siapa saja yang sekelas dengannya

Kelas 1-A

Haruno Sakura

Hyuuga Hinata

Hyuuga Neji

Inuzuka Kiba

Sabaku no Gaara

Uchiha Sasuke

'Kenapa aku harus sekelas dengan mereka?' batin Sakura

Sasuke sedang duduk di sebuah kursi pantai yang terletak tidak jauh dari kolam renang. Rambut yang biasa mencuat ke belakang itu kini lepek karena basah. Sepertinya, pemuda itu baru selesai berenang. Sasuke memadang sebuah foto yang sedang digenggamnya.

"Kau ada dimana?" tanya Sasuke lirih kemudian beranjak menuju ruang ganti

Suasana kelas 1-A tampak riuh di karenakan para siswi yang berteriak histeris saat melihat Sasuke masuk ke kelas dengan rambutnya yang setengah kering itu, membuat pemuda itu semakin tampan saja.

"Kau membuat mereka berteriak seperti orang kesurupan, Sasuke!" protes Kiba saat Sasuke baru saja mendudukan dirinya di kursi

"Kau habis berenang lagi?" tanya Neji

Sasuke hanya diam saja, tak menjawab ucapan kedua sahabatnya tersebut. Ya, ini sudah keempat kalinya dalam seminggu terakhir ini. Pemuda raven itu selalu menghabiskan waktunya untuk berenang. Entah mengapa, dia hanya merasa ada sesuatu yang mendesak keluar dari dalam dadanya. Perasaan yang ia sendiri tak tahu apa itu yang selama ini selalu menyiksanya. Sasuke hanya mencoba untuk menghilangkan rasa nyeri di hatinya itu dengan melakukan hal yang bisa membuatnya menghilangkan sejenak bayang-bayang sosok itu, walaupun itu tetap saja tidak bisa.

.

.

.

.

.

.

Seorang pemuda tampan sedang berdiri memandang kota L.A dari balik jendela ruang kerjanya. Pemandangan kota L.A malam ini sangat indah, lampu warna-warni yang berkelap-kelip, gedung-gedung tinggi yang seolah-olah ingin mencabik langit diatasnya. Pemuda itu baru tahu jika kota yang selama 4 tahun terakhir ini dia tempati begitu menakjubkan begitu saat malam hari.

Pemuda tersebut merogoh saku celananya, mengambil ponselnya. Dia menekan-nekan tombol di ponselnya tersebut, saat sudah yakin orang diseberang sana sudah mengangkat panggilannya. Pemuda itu menjawab.

"…."

"Kau ada dimana, Naru?"

"…."

"Kau sedang tidak berbohong?"

"…."

"Benarkah? Kyuu-nii tidak percaya"

"…."

"Baiklah, Kyuu-nii percaya. Kapan kau sampai?"

"…."

"Kalau begitu Kyuu-nii akan menjemputmu. Kyuu-nii menyayangimu, Naru"

"…."

"Kenapa tidak membalas ucapan Kyuu-nii?"

Pemuda tersebut dapat mendengar jelas jika orang diseberang sana yang tak lain dan tak bukan adalah adik perempuannya sedang menghela nafas. Kemudian senyum terukir di wajah tampan pemuda tersebut saat mendengar adiknya membalas ucapan sayangnya dan mengatakan jika adiknya juga menyayangi dirinya.

Pemuda itu memasukan ponselnya ke dalam saku kemudian kembali menikmati pemandangan kota L.A dari tempatnya berada. Membunuh waktu sebelum satu jam mendatang ia akan menjemput adik perempuannya di bandara.

Seorang gadis pirang sedang duduk di salah satu kursi pesawat sambil membaca majalah fashion, sampai seorang pramugari menghampirinya.

"Apa anda ingin secangkir mocca dan sepiring cake, Nona?" tawar pramugari itu. Gadis pirang itu menoleh. "Tentu" ucap gadis itu seraya mengulurkan tangannya untuk menerima secangkir mocca dan cake yang ditawarkan oleh pramugari tersebut padanya.

"Terima kasih" ucap gadis itu yang kemudian dibalas anggukan pelan oleh pramugari tersebut.

Gadis pirang yang ternyata Naruto itu sedang menyantap cake-nya sambil menunggu pesawat yang ditumpanginya untuk lepas landas saat ponsel di sakunya bergetar dari dalam saku pakaiannya. Naruto mengambil ponselnya, matanya mengerling bosan saat dilihatnya siapa yang menghubunginya.

"Moshi-moshi"

"….."

"Aku sedang berada di pesawat Kyuu-nii"

"….."

"Aku tidak berbohong"

"….."

"Apa aku perlu menyuruh pria berseragam pilot itu untuk berbicara denganmu, agar kau yakin aku sedang ada di pesawat sekarang?"

"….."

"Aku akan tiba satu jam lagi"

"….."

"Baiklah"

"….."

Naruto menghela nafas sejenak kemudian melanjutkan pembicaraannya dengan orang disebrang sana "Iya, iya. Aku menyayangimu juga Kyuu-nii" ucap Naruto kemudian mengakhiri pecakapan tersebut dan tak lupa untuk mematikan ponselnya karena sebentar lagi pesawat yang akan membawanya ke tempat tujuannya akan lepas landas.

Kembali Naruto menyesap mocca-nya dalam diam. Sepertinya saat tiba nanti dia akan diomeli habis-habisan oleh kakaknya yang over protective itu.

.

.

.

.

.

.

Bel tanda istirahat sudah berbunyi beberapa saat lalu. Terlihat kelima pemuda tampan sedang berjalan menuju cafeteria yang terletak di area Utara. Sasuke yang berjalan dengan kedua tangan ia masukan kedalam saku celananya tampak sangat keren di mata para gadis, Gaara yang sedang asyik dengan bukunya berada disamping Sasuke juga tak kalah keren, Neji yang berada disamping kiri Sasuke tampak diam sambil memperhatikan para gadis yang berteriak histeris saat melihat dia dan keempat sahabatnya. Pemuda berambut panjang itu hanya memutar kedua bola matanya bosan. Oh, ayolah dia sedikit muak dengan para gadis yang selalu berteriak itu, membuat telinganya sakit saja. Shikamaru yang berada sisamping Neji hanya menguap disepanjang perjalanan menuju cafeteria sedangkan Kiba, si maniak anjing itu sedang asyik menggoda para gadis yang menurutnya lumayan cantik. Dasar mata kerajang.

Sakura cs sedang duduk disalah satu kursi cafeteria sembari menyantap makanan mereka saat Sasuke dan keempat sahabatnya memasuki cafeteria dan disambut dengan teriakan para gadis. Sakura mendengus keras.

"Dasar gadis-gadis tidak waras" ucap Sakura

"Kau kenapa Sakura?" tanya Ino

"Kau lihat saja, setiap mereka berlima muncul pasti gadis-gadis sinting itu akan berteriak"

"Memangnya kenapa?"

"Kau tanya 'memangnya kenapa' padaku? Teriakan mereka itu mengganggu sekali, Ino"

"Mengganggu bagaimana? Menurutku itu wajar, aku menganggap teriakan mereka itu semua adalah bagian dari pengekspersian diri karena melihat sesuatu yang sangat mempesona"

Sakura mendengus geli. "Kau bilang mempesona? Menurutku kelima orang itu tak lebih dari pemuda-pemuda sok tampan"

"Dan salah satu dari kelima pemuda yang kau maksud itu adalah kakakku, Saku-chan" ucap Hinata yang sedikit tersinggung dengan ucapan Sakura

"Maaf, aku tak bermaksud seperti itu Hinata" ujar Sakura

"Kau itu terlalu berlebihan Sakura" ucap Ino

"Kau berkata seperti itu karena kau menyukai salah satu dari mereka" cibir Sakura pada Ino. "Hei, itu tidak ada hubungannya dengan kekesalanmu pada fans girl mereka, Sakura" sambung Ino. "Tentu saja ada, karena kau juga salah satu dari fans girl mereka"

Ino mendengus kesal. "Suatu hari kau pasti akan menyukai salah satu diantara mereka" ucap Ino sebal. "Never" ujar Sakura santai kemudian kembali meminum colanya.

Kiba dan Neji sedang membawa nampan berisi makanan untuk mereka berdua dan juga ketiga sahabat mereka yang sudah duduk santai di salah satu kursi di cafeteria.

"Kurang ajar, mereka menyentuh bokongku" ucap Kiba kesal sembari menaruh nampan yang dibawanya ke atas meja.

"Bukankah kau menyukainya?" tanya Shikamaru yang terbangun karena suara cempereng Kiba

"Apa maksudmu kalau akau menyukainya nanas?" tanya Kiba pada Shikamaru. Shikamaru hanya menguap sambil mengangkat bahunya. Kiba mendengus kesal kemudian mendudukan dirinya seraya mengaduk makanan pesanananya.

Sasuke melirik kearah Kiba, lebih tepatnya melirik kearah makanan yang sedang sahabatnya santap itu. Ramen, makanan itu mengingatkannya akan sosok yang ia rindukan saat ini. Akan sosok yang sampai saat ini tak ia ketahu keberadaannya.

"Kau kenapa Sasuke?" tanya Gaara yang sedari tadi melihat Sasuke tengah memandang ramen yang sedang di makan oleh Kiba. Ketiga orang lainnya menoleh kearah Sasuke yang kini masih terus memandang ramen Kiba.

"Sasuke" panggil Neji. Sasuke terlonjak kaget "Ada apa denganmu?" tanya Gaara lagi. Sasuke tak menjawab, pemuda itu bangkit dan kemudian berlalu meninggalkan keempat sahabatnya yang tampak bingung dengan kepergiannya tersebut.

"Ada apa dengannya?" tanya Kiba kepada tiga sahabatnya yang lain. Neji mengangkat bahunya tanda tak tahu sedangkan Gaara melirik punggung Sasuke yang mulai menjauh itu sedangkan Shikmaru, pemuda nanas itu sudah menelungkupkan wajahnya diatas kedua tangannya.

Seperti kegiatannya beberapa hari yang lalu, saat ini Sasuke sedang duduk di salah satu kursi di dekat kolam renang. Memandang nanar kearah kolam tersebut. Suasana kolam saat ini sangat sepi hanya ada dirinya saja yang berada di kolam tersebut. Sepi seperti suasana hatinya saat ini. Sasuke memejamkan kedua matanya dan bersamaan dengan itu, potongan-potongan kenangan dirinya bersama sosok yang sangat dirindukannya tersebut berputar-putar di otakknya.

Wajah itu, senyum itu, rambut pirang itu, tawa itu semuanya terasa sangat nyata untuknya. Sasuke membuka matanya, merasakan ada sesuatu yang ingin keluar dari pelupuk matanya. Pemuda itu menundukkan kepalanya, membuat rambut ravennya menutupi wajah tampannya. Tangannya mengenggam erat kalung yang ia kenakan.

"Aku merindukanmu, Naru" bisik Sasuke lirih dan bersamaan dengan itu setetes air mata jatuh dari pelupuk mata Sasuke. Tak ada yang tahu jika dibalik sosok sedingin, seangkuh dan searogan Sasuke ternyata adalah sosok yang sangat rapuh.

.

.

.

.

.

.

Naruto baru saja sampai di Los Angles, gadis bersurai pirang tersebut sedang mencari sosok yang akan menjemputnya dan di tengah hiruk pikuk bandara ia melihat siluet pemuda yang sangat di kenalnya tengah berdiri tak jauh dari terminal kedatangan internasional sambil memangku kedua tangannya di depan dada. Naruto tahu sosok itu kini sedang menatap tajam kedatangannya. Naruto menghela nafas berat kemudian menghampiri sosok itu.

"Jangan menatapku seolah-olah aku ini seorang narapidana yang kabur dari penjara, Nii-san" protes Naruto saat dilihatnya sang kakak masih saja memandangnya dengan tajam

"Kau pantas mendapatkan itu, Naru"

"Oh, ayolah! Aku hanya berjalan-jalan saja di Venice. Apa itu salah?" tanya Naruto

"Tentu saja itu salah, karena kau pergi tanpa sepengatuhan Nii-san. Bagaimana jika terjadi sesuatu denganmu?"

"…."

"Kau tidak punya siapa-siapa disana"

"Aku baik-baik saja Kyuu-nii, buktinya sekarang aku masih bisa berdiri dihadapan Kyuu-nii" elak Naruto

"Itu karena kau beruntung, tapi bagaimana jika tidak. Kau harus pergi dengan ijin Nii-san, bila perlu Nii-san akan menemanimu kemanapun kau pergi"

Naruto memutar bola matanya bosan kemudian melangkahkan kakinya seraya menyeret koper miliknya. "Hei, Nii-san belum selesai bicara, Naru" ucap Kyuubi kemudian menyusul adiknya yang kini berjalan menuju mobil yang terparkir diluar bandara.

Kyuubi membuka pintu mobil, melirik kearah Naruto yang sedang duduk manis sembari menguyah permen karetnya. "Jangan pergi sebelum Nii-san selesai bicara, Naru" ujar Kyuubi. "Hn" gumam Naruto tak jelas.

"Nii-san hanya tak mau kau pergi sendirian, Naru"

"Hn"

"Kau ini sebenarnya mendengar Nii-san atau tidak?" ucap Kyuubi naik satu oktaf

Kyuubi mendengus kesal saat dilihatnya telinga Naruto terpasang earphone. Adiknya itu malah asyik mendengarkan lagu dari ipod-nya. Kyuubi hanya bisa menahan emosinya saat melihat Naruto bersikap tak peduli begitu. Kyuubi memijit pangkal hidungnya. Tiba-tiba, pusing melanda kepalanya.

'Sejak kapan dia bersikap kurang ajar begini?' batin Kyuubi kemudian melajukan mobilnya membelah kota Los Angels malam itu.

Naruto langsung melangkahkan kakinya menuju kamarnya setelah sampai di apartemen miliknya dan Kyuubi. Gadis itu menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur, menatap langit-langit kamarnya sejenak kemudian bangkit dari posisi berbaringnya. Melangkah kearah meja belajar miliknya, menyalakan laptop kemudian mengetik sesuatu disana.

From : Blue Sapphire

To : Mr. G

Aku sudah berada di L.A

Naruto menekan tombol sent dan beberapa detik kemudian e-mail yang ia tulis terkirim. Naruto menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Menunggu dengan sabar balasan dari orang yang di kirim e-mail olehnya. Beberapa menit berlalu dan satu pesan masuk. Naruto langsung membuka pesan tersebut.

From : Mr. G

To : Blue Sapphire

Benarkah? Kapan kau sampai?

Jari-jari lentik Naruto kembali menari-nari diatas keyboard, membalas pesan dari seorang bernama Mr. G tersebut.

From : Blue Sapphire

To : Mr. G

Aku baru tiba beberapa jam yang lalu

Ping! Suara pesan masuk.

From : Mr. G

To : Blue Sapphire

Bagaimana perjalananmu di Venice?

Naruto kembali membalas e-mail tersebut.

From : Blue Sapphire

To : Mr. G

Sangat menakjubkan, aku suka sekali tempat itu. Bagaimana bisa kau tahu kota seindah itu?

Ping!

From : Mr. G

To : Blue Sapphire

Syukurlah, jika kau suka. Aku pernah berkunjung kesana saat liburan musim panas bersama keluargaku

Naruto melangkah kearah lemari pendingin mininya yang terletak disudut kamarnya. Mengambil minuman bersoda kemudian kembali mendudukan dirinya di depan laptop untuk membalas pesan dari teman chatingnya tersebut.

From : Blue Sapphire

To : Mr. G

Terima kasih sudah menyarankan tempat itu padaku

Ping!

From : Mr. G

To : Blue Sapphire

Sama-sama

Naruto meneguk minumannya kemudian membalas pesan itu kembali.

From : Blue Sapphire

To : Mr. G

Ah! Bagaimana kabarmu di Tokyo? Bukankah saat ini sudah tahun ajaran baru?

Ping!

From : Mr. G

To : Blue Sapphire

Aku baik-baik saja. Bagaimana bisa kau tahu jika saat ini adalah tahun ajaran baru?

Suara jari Narutoo yang beradu pada keyboard menggema di penjuru kamar bernuasa silver tersebut.

From : Blue Sapphire

To : Mr. G

Tentu saja aku tahu, aku lahir dan tinggal di Tokyo sampai usiaku 12 tahun

Ping!

From : Mr. G

To : Blue Sapphire

Benarkah? Kenapa kau baru memberitahukanku sekarang?

Naruto meletakkan kaleng minumannya diatas meja kemudian kembali menekuni dirinya untuk membalas pesan yang baru saja masuk.

From : Blue Sapphire

To : Mr. G

Karena bagiku itu tidak terlalu penting untuk diberitahukan

Ping!

From : Mr. G

To : Blue Sapphire

Lalu, apa kau ada rencana untuk kembali ke Tokyo?

Naruto membaca pesan tersebut sejenak kemudian membalas pesan tersebut.

From : Blue Sapphire

To : Mr. G

Nii-san berencana untuk kembali ke Tokyo dan aku rasa aku juga akan ikut dengannya

Ping!

From : Mr. G

To : Blue Sapphire

Kapan?

Naruto menatap layar monitor laptopnya kemudian membalas pesan itu kembali.

From : Blue Sapphire

To : Mr. G

Entahlah, aku tak tahu

Ping!

From : Mr. G

To : Blue Sapphire

Jika kau kembali ke Tokyo. Aku ingin sekali bertemu denganmu

Naruto meneguk minumannya yang sudah hampir habis tersebut, menatap layar monitornya sejenak kemudian kembali mengetik kata demi kata untuk membalas pesan dari orang diseberang sana.

From : Blue Sapphire

To : Mr. G

Aku akan memberitahukanmu jika aku kembali ke Tokyo

Ping!

From : Mr. G

To : Blue Sapphire

Aku menunggu. Ah, bel sudah berbunyi, aku harus kembali ke kelas. Kita akan menyambung percakapan ini sepulang sekolahku nanti. Jaa..

From : Blue Sapphire

To : Mr. G

Baiklah, jaa

Naruto kembali menekan tombol sent, setelah yakin jika pesannya siudah benar-benar terkirim. Naruto mematikan laptopnya kemudian bangkit dari posisinya dan melangkah menuju ranjangnya. Naruto merebahkan tubuhnya disana dan beberapa menit kemudian dia sudah terlelap.

.

.

.

.

.

.

Sasuke masih setia berada di area kolam renang yang terletak di lantai 5 gedung sekolah Tokyo Internatonal High School. Tidak peduli dengan bel yang sudah berbunyi beberapa saat lalu, saat dengan tiba-tiba suara seseorang yang dikenalnya terdengar oleh indera pendengarannya.

"Sudah kuduga kau ada disini, Sasuke"

"Kenapa kau ada disini Shika, bukankah bel sudah berbunyi ?" tanya Sasuke

"Kau sendiri kenapa masih ada disini?" tanya Shikamaru sembari mendudukan dirinya disalah satu kursi pantai disebelah Sasuke

"…."

"Kau ada masalah? Kulihat akhir-akhir ini kau sering sekali melamun" ucap Shikamaru menyuarakan kejanggalan hatinya akan sikap salah satu sahabatnya itu

"….."

"Jangan menyimpan semuanya sendiri Sasuke, kau masih ada aku dan yang lain sebagai tempatmu untuk berbagi" ujar Shikamaru

"….."

Shikamaru melirik kearah Sasuke yang masih belum berniat untuk menceritakan masalah yang tengah membelilitnya. Menghampiri sang sahabat kemudian menepuk bahu Sasuke.

"Aku akan menunggu sampai kau siap untuk menceritakan masalahmu itu. Sekarang ayo kembali ke kelas, sebentar lagi pelajaran Anko sensei akan di mulai. Aku tak mau berurusan dengan guru merepotkan itu" ujar Shikamaru panjang lebar

"Hn" gumam Sasuke seraya bangkit dari posisinya dan kemudian melangkah mendahului Shikamaru yang tengah menguap dibelakangnya.

Sasuke dan Shikmaru sudah sampai di kelas mereka. Syukurlah, guru saat itu belum hadir. Sasuke melangkah menuju kursinya yang berada di depan meja Kiba. Sasuke melirik keluar jendela sepertinya hari-harinya akan terasa sangat berat mulai sekarang.

.

.

.

.

.

.

Jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi waktu Los Angles. Naruto dan Kyuubi sedang menyantap sarapan mereka dalam diam sampai Kyuubi membuka percakapan.

"Kau sudah yakin untuk menyetujui usul Baa-san agar kembali ke Tokyo, Naru?" tanya Kyuubi

"Ya"

"Kau yakin? Jika kau belum yakin, Nii-san tak keberatan untuk tetap tinggal disini sampai kau benar-benar siap, Naru" ujar Kyuubi

Naruto meletakkan rotinya diatas piring kemudian menatap sang kakak. "Aku tak ingin Kyuu-nii menjadi perjaka tua karena terlalu sibuk mengurusiku" ucap Naruto.

"Nii-san tak keberatan mengenai itu" ucap Kyuubi

"Tapi aku keberatan Nii-san, kau memiliki kehidupan dan tak selayakknya kau selalu mengurusiku" ujar Naruto. "Kau adikku dan hanya kau yang kupunya, Naru. Jadi, wajar jika aku harus mengurusimu" ucap Kyuubi

Naruto menggelengkan kepalanya pelan. " Tidak Kyuu-nii, aku tak ingin gara-gara mengurusiku, Kyuu-nii lupa untuk menikah bahkan selama kita tinggal disini, aku tak pernah melihat Kyuu-nii berkencan dengan wanita manapun" ujar Naruto

"Itu karena wanita yang mendekatiku hanya mengincar harta keluarga kita, Naru" sahut Kyuubi.

"Lagipula, cepat atau lambat aku juga akan kembali ke Tokyo. Jadi, Kyuu-nii tak perlu khawatir" ujar Naruto

"Baiklah jika itu keputusanmu. Nii-san akan mengurus semuanya termasuk kepindahanmu dari sekolah dan mungkin akan membutuhkan waktu dua sampai tiga hari" ujar Kyuubi yang dibalas anggukan kecil oleh Naruto.

"Kyuu-nii" panggil Naruto

"Ya"

"Maaf, sudah pergi ke Venice tanpa sepengetahuanmu dan juga membuatmu khawatir karenanya" ucap Naruto dengan nada sesal yang ketara

Kyuubi tersenyum. "Nii-san memaafkanmu, Naru" ucap Kyuubi. "Arigatou" ucap Naruto

"Sekarang selesaikan sarapanmu setelah itu Kyuu-nii akan mengantarmu ke sekolah"

"Baik"

.

.

.

.

.

.

Hari sudah menjelang malam, keluarga Uchiha sedang menyantap makan malam mereka dalam diam. Sasuke menyelesaikan makan malamnya dengan cepat malam ini.

"Aku sudah selesai" ucap Sasuke kemudian bangkit dari kursi dan berlalu meninggalkan anggota keluarga yang lain. Itachi memandang punggung adiknya yang semakin menjauh itu. Melihat sosok adiknya yang terlihat murung selama makan malam itu membuat Itachi menyimpulkan sesuatu. Ya, dia tahu penyebab kemurungan adiknya itu. Dan penyebabnya itu tidak jauh-jauh dari sosok yang tak di ketahui keberadaannya sekarang.

'Sepertinya dia memikirkan Naru-chan lagi' batin Itachi

Sasuke sedang berbaring diatas ranjangnya sembari memandang kalung berbandul batu biru yang tengah digenggamnya. Seulas senyum terukir di bibir pemuda itu.

"Apa kau merasakan hal yang sama denganku, Naru? Perasaan rindu, ya, aku sangat merindukanmu. Dan perasaan itu sangat menyiksaku" ujar Sasuke lirih.

To be Countinue

Pojok Suara :

Maaf karena lama update. Terima kasih untuk para pembaca yang sudah bersedia mereview dan membaca fic ini. Saya sudah membaca review kalian semua dan itu membuat saya terharu. Kalian benar-benar penyemangat untuk saya agar menyelesaikan fic ini. Sekali lagi terima kasih.

Akhir kata saya ucapkan terima kasih

Sentimental Aqumarine pamit,

See you and bye bye bye

Mind to review?