Disclaimer : Naruto – Masashi Kishimoto

Pairing : SasuFemNaru

Rated : T

Warning : Genre, OOC, Typos, Alur kecepatan dan lainnya

Summary : Naruto, gadis berparas cantik yang membenci satu hari di hidupnya. Saat semua orang bahagia ketika hari paling spesial di hidup mereka itu datang. Naruto justru sangat membencinya. Ya, dia sangat membenci hari ulang tahunnya. Sangat benci.

Special Gift for You

By

Sentimental Aqumarine

Los Angeles, United States

Naruto meneguk minuman kalengnya seraya melangkah memasuki area St. Monica High School tempatnya mengenyam pendidikan selama berada di L.A. Gadis beriris sapphire tersebut mengedarkan pandangannya kesekeliling hingga seseorang menepuk bahunya.

"Morning, Naru" sapa seorang pemuda jangkung yang kini merangkul Naruto dengan akrab. "Morning, Menma" ucap Naruto. "Kapan kau kembali dari Venice?" tanya Menma. "Tadi malam" ujar Naruto.

"Kau ini hampir membuatku terkena serangan jantung. Kau tahu, kakakmu yang overprotective itu datang ke rumahku dan menuduhku menyembunyikanmu" omel Menma yang hanya ditanggapi Naruto dengan bergidik bahu.

Naruto dan Menma berjalan beriringan memasuki gedung sekolah mereka, memulai hari seperti biasa. Beberapa murid tampak menyapa Naruto dan Menma saat mereka menginjakkan kakinya di gedung sekolah. Menma sedang mengambil beberapa buku dari dalam lokernya, hari ini dia ada kelas fisika, sedangkan Naruto, gadis itu tengah membersihkan ujung kuas miliknya dengan kedua jarinya.

"Kau ada kelas seni hari ini?" tanya Menma yang dibalas anggukan kecil oleh gadis yang sedikit pendek darinya itu. "Sepertinya aku harus membeli kuas baru" ujar Naruto. Menma melirik kearah Naruto kemudian memasukkan buku-bukunya ke dalam tas.

"Bukankah kuasmu itu masih bagus?" tanya Menma. "Aku merasa kuas ini terlalu berat" jawab Naruto sembari mengayun-ayunkan kuas yang dipegangnya ke udara.

Menma mengernyit bingung. "Maksudmu?" tanya pemuda bersurai pirang seperti Naruto itu. "Setiap kali aku menggunakan kuas ini, aku merasa usapan cat-ku menjadi lebih berantakan" ujar Naruto. "Aku tak mengerti, bukankah memang seperti itu ya?" tanya Menma.

"Tidak, aku selalu melihat usapan cat-ku di kanvas dan sebelum aku menggunakan kuas ini semuanya baik-baik saja dan tidak berantakan. Jariku juga sering mengalami cedera ringan setiap kali menggunakan kuas ini untuk melukis" terang Naruto

"Itu karena kau terlalu bersemangat melukis, lagipula kau melihat usapan cat-mu dengan apa?" tanya Menma. "Kaca pembesar" ujar Naruto polos. Menma melongo tak percaya, mulut pemuda itu terbuka lebar. Naruto yang menyadari hal itu langsung merapatkan kembali mulut temannya tersebut.

"Tutup mulutmu atau lalat akan masuk dan membuat sarang disana" ucap Naruto kemudian berlalu meninggalkan Menma yang masih berdiri mematung di depan lokernya.

Menma membalikkan badannya, menatap punggung gadis berkulit tan itu. "Terkadang aku tak mengerti jalan pikiran seorang pencinta seni sepertimu, Naruto" ucap Menma dan kemudian beranjak pergi menuju kelas fisika-nya.

Naruto tampak serius dengan lukisannya, hari ini guru pembimbing di kelasnya menyuruh semua murid untuk melukis apapun dengan tema 'kenangan'. Jari-jari lentik Naruto yang sudah terlatih itu menari-nari diatas permukaan kanvas. Warna jingga lebih mendominasi lukisan Naruto kali ini. Naruto menatap lukisannya. Dia tidak tahu kenapa dia melukis pemandangan senja dengan dua orang bocah yang tengah duduk diatas bangku taman yang tampak memandang kearah pelangi yang menghiasi langit senja itu.

Naruto juga tidak tahu, kenapa tangannya bergerak sendiri saat melukis tadi. Seakan tangannya punya pikiran sendiri. Naruto pun tak tahu, saat melihat hasil lukisannya itu. Dia merasakan sebuah kehangatan yang menjalari hatinya, seolah-olah dialah gadis kecil yang tengah duduk disamping seorang bocah laki-laki berambur raven tersebut.

"Aku seakan tak asing dengan tempat yang ada di lukisanku ini" ucap Naruto

.

.

.

.

.

.

Menma sedang menunggu Naruto keluar dari kelas seninya. Pemuda bernama lengkap Menma Smith itu adalah teman Naruto. Jika diperhatikan dengan sekilas penampilan fisik Menma dan Naruto itu sangat mirip. Menma memiliki rambut pirang seperti Naruto, pemuda itu juga memiliki sepasang iris sapphire di kedua bola matanya sama halnya dengan Naruto, kulit mereka yang tan juga semakin menambah kadar kemiripan keduanya. Hanya saja Menma tak memiliki tiga garis halus seperti kumis kucing di masing-masing pipinya seperti yang dimiliki oleh Naruto.

Tapi, bagi orang yang tak mengenal keduanya. Mereka akan berpikir jika Menma dan Naruto adalah saudara kembar karena kemiripan fisik yang mereka miliki. Kadang Menma sempat berpikir jika Naruto itu sebenarnya adalah saudara kembarnya. Pemuda yang sudah mengenal Naruto sejak gadis itu datang untuk pertama kalinya di Los Angeles memang selalu berada disekitar Naruto.

Ya, itu juga karena Menma di tugaskan oleh ayahnya yang seorang dokter kejiwaan untuk menjaga Naruto jika sewaktu-waktu trauma Naruto kembali muncul dengan tiba-tiba. Setidaknya, ada seseorang yang berada disisi gadis itu saat traumanya kembali muncul. Menma memang mengetahui masa lalu Naruto, bagaimana temannya itu berusaha keras untuk melawan traumanya. Bagaimana kondisi Naruto yang sangat menyedihkan saat pertama kali datang ke Los Angeles. Tapi, seiring berjalannya waktu, gadis itu mulai kembali menapaki hidupnya. Mulai menjalani hidupnya dari awal lagi.

Menma benar-benar salut akan kegigihan temannya itu untuk sembuh, dia juga tahu bagaimana kerasnya usaha Naruto untuk menyakinkan kakak laki-lakinya, Kyuubi untuk menyetujui keputusannya agar ia dapat menjalankan terapi hipnotis yang membuat Naruto melupakan sebagian memorinya secara permanen.

Walaupun terapi hipnotis itu berhasil dan membuat trauma Naruto berangsur-angsur hilang, tapi satu hal yang Naruto tidak tahu. Terapi itu menghapus semua memorinya akan Sasuke, seseorang yang sangat berharga dalam hidupnya. Andai Naruto tahu konsekuensi yang ia tanggung atas keputusannya tersebut, akankah ia menolak terapi itu dan tetap membiarkan memori-memori dirinya dan Sasuke melekat di dalam otaknya untuk selamanya.

Naruto menepuk bahu Menma, membuat pemuda itu terlonjak kaget. "Kau melamun?" tanya Naruto. "Tidak" ucap Menma. "Hn. Setelah ini kita ada kelas yang sama kan?" tanya Naruto.

"Ya, kita akan sekelas di kelas musik" jawab Menma. "Kalau begitu kita ke kantin sebentar, aku harus memakan sesuatu untuk menambah tenaga sebelum memulai kelas selanjutnya" ucap Naruto.

"Baiklah, kebetulan aku juga lapar" ujar Menma

.

.

.

.

.

.

Kyuubi sedang berkutat dengan beberapa berkas di ruangan kerjanya. Pemuda beriris ruby tersebut tampak sibuk tanpa menyadari kehadiran seorang wanita yang kini tengah berdiri dihadapannya.

"Sepertinya kau sangat sibuk sehingga tak menyadari kehadiranku, Kyuu" ujar wanita itu. Kyuubi terlonjak kaget saat mendapati neneknya berada di dalam ruang kerjanya. "Nenek, kenapa kau ada disini?" tanya Kyuubi heran.

Tsunade mendudukan dirinya di kursi yang berada dihadapan meja kerja Kyuubi, wanita paruh baya yang masih kelihatan cantik itu memandang tajam kearah cucunya. "Apa seperti itu sambutanmu kepadaku?" tanya Tsunade

Kyuubi bangkit dari posisinya kemudian menghampiri Tsunade dan memeluk Tsunade. "Maaf, aku hanya kaget melihat nenek ada disini" ujar pemuda itu kemudian mengecup dahi Tsunade.

Tsunade mengela nafas panjang. "Kau tahu aku tak bisa memarahimu 'kan?" kata Tsunade yang membuat Kyuubi tertawa geli. "Kenapa nenek ada disini? Bukankah kudengar nenek sedang berada di New York bersama kakek?" tanya Kyuubi

"Tentu saja untuk menemuimu dan Naruto, aku sangat merindukan kalian terutama adikmu itu" ucap Tsunade. Kyuubi hanya mengerlingkan matanya saat mendengar penuturan sang nenek.

"Apa Naruto sudah pulang dari sekolah?" tanya Tsunade. Kyuubi melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. "Tiga puluh menit lagi jam pelajaran terakhir akan berakhir" ujar Kyuubi. Tsunade bangkit dari kursi. "Kalau begitu nenek akan menjemputnya" ucap Tsunade.

"Baiklah, hati-hati di jalan nek" kata Kyuubi dan bersamaan dengan itu Tsunade keluar dari dalam ruangann tersebut.

Menma dan Naruto baru saja keluar dari kelas musik dan kini mereka berjalan menuju loker. "Permainan piano-mu benar-benar menakjubkan Naruto" ujar Menma. "Kau sudah mengatakan hal itu tiga kali Menma" tutur Naruto. "Tapi aku mengatakan hal yang sebenarnya, permainan piano-mu itu benar-benar bagus" ucap Menma.

Naruto membuka lokernya, mengambil jurnal miliknya kemudian menutup kembali lokernya itu. Menma menatap kearah temannya tersebut. "Berhenti memandangiku Menma atau kau ingin aku meninggalkanmu disini" ucap Naruto seraya beranjak dari tempatnya berdiri.

Tsunade sudah sampai di sekolah Naruto, wanita itu keluar dari dalam mobil. Melangkahkan kakinya untuk mencari Naruto dan senyum terukir di bibirnya saat dilihatnya sang cucu sedang berjalan bersama dengan temannya.

"Naruto" panggil Tsunade. "Nenek" ucap Naruto kaget. Tsunade menghampiri Naruto kemudian memeluk cucu pirangnya tersebut. "Bagaiman kabarmu Naru?" tanya Tsunade.

"Aku baik nek" jawab Naruto. "Good afternoon, Mrs. Uzumaki" sapa Menma. "Good afternoon, Menma. Terima kasih sudah menjaga Naruto ya" ucap Tsunade. "Itu sudah menjadi tugasku, Mrs. Uzumaki" ucap Menma yang dibalas senyuman oleh Tsunade

"Kalian sudah tidak ada jam pelajaran lagi 'kan?" tanya Tsunade yang dibalas gelengan kepala oleh Naruto dan Menma. "Kalau begitu, ayo kita mencari makan dahulu setelah itu kita pulang dan Menma kau juga ikut" perintah Tsunade. "Baiklah, Mrs Uzumaki" ujar Menma

.

.

.

.

.

.

Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam waktu setempat. Naruto sedang menikmati makan malamnya bersama Tsunade dan juga Kyuubi. Gadis itu menyantap makan malamnya dengan tenang. "Kapan kalian akan kembali ke Tokyo?" tanya Tsunade.

"Sampai berkas kepindahan Naruto dari sekolahnya selesai, nek" sahut Kyuubi. "Naruto, kau benar-benar yakin akan kembali ke Tokyo?" tanya Tsunade. "Aku yakin, nek. Tokyo adalah kampung halamanku, jadi aku haru kembali kesana" ucap Naruto seraya tersenyum kearah neneknya itu.

Makan malam sudah selesai tiga puluh menit yang lalu, Tsunade sedang duduk di ruang keluarga bersama dengan Kyuubi. Tsunade menyesap tehnya kemudian menaruh cangkir the itu keatas meja. "Apa kondisi Naruto sudah memungkinkan untuknya kembali ke Tokyo, Kyuu?" tanya Tsunade. "Aku rasa begitu, nek. Lagipula, Dr. Smith bilang jika trauma Naruto sudah mulai berangsur-angsur hilang tapi itu tak menutup kemungkinan trauma Naruto itu kembali muncul jika Naruto mengalami hal yang membuatnya mengingat kejadian itu lagi" ujar Kyuubi.

"Lalu bagaimana dengan efek dari terapi hipnotis yang dilakukan Naruto setahun yang lalu?" tanya Tsunade lagi. "Naruto melupakan sebagian dari memorinya, dia melupakan memorinya bersama… Sasuke" ucap Kyuubi

Naruto memandang langit-langit kamarnya, jari-jarinya bergerak-gerak diudara. Seakan menulis sesuatu disana. Naruto menghela nafas panjang. "Sebentar lagi aku akan kembali ke Tokyo dan meninggalkan kota ini" ucap Naruto entah pada siapa.

Tanpa sengaja tangan Naruto menyentuh kalung yan dikenakan di lehernya. Naruto melepaskan kalung itu dan kemudian memandangnya. "Aku tak pernah ingat sejak kapan aku memiliki kalung ini" ujar Naruto seraya mengeratkan genggamannya pada kalung berbandul batu hitam tersebut.

.

.

.

.

.

.

Tokyo, Japan

Jam pelajaran ketiga sudah di mulai beberapa menit yang lalu. Para siswa di kelas 1-A sedang mengerjakan soal yang diberikan guru mereka. Sasuke bangkit dari kursinya membuat keempat sahabatnya menoleh kaget kearahnya tak terkecuali para siswa lain.

Sasuke melangkahkan kakinya berniat untuk keluar dari kelas yang sangat membosankan itu sampai suara Asuma, selaku guru yang mengajar saat itu menghentikan langkah kakinya.

"Kau mau kemana Sasuke?" tanya Asuma

"Keluar dari kelas memuakkan ini dan jangan coba-coba untuk menghalangiku" desis Sasuke tajam. "Tapi kau harus menyelesaikan tugas yang kuberikan sebelum kau keluar dari kelasku" ucap Asuma

"Sasuke sudah menyelesaikan tugas yang anda berikan, sensei" sambung Kiba seraya menunjukkan buku tulis Sasuke yang sudah penuh dengan jawaban.

Asuma melihat kearah Kiba kemuadian berucap. "Kalau begitu kau boleh pergi, Sasuke" ucap Asuma sembari menoleh kearah Sasuke, tapi sayang pemuda itu sudah menghilang dari tempatnya berdiri tadi. Asuma menghela nafas berat melihat kelakuan putra bungsu dari pemilik sekolah tempatnya mengajar itu.

"Asuma sensei belum menyuruhnya untuk keluar kelas tapi dia sudah keluar duluan, dasar tidak sopan" ucap Sakura

"Apa itu sebuah masalah untukmu Sakura?" tanya Ino

"Tentu saja itu sebuah masalah untukku, kelas kita jadi tercoreng karena kelakuannya"

Ino mengernyit. "Sebenarnya kau ada masalah apa dengan Sasuke?" tanya Ino. "Tidak ada" jawab Sakura seadanya. "Lalu, kenapa kau terlihat repot sekali?" tanya Ino lagi.

"Aku hanya tidak suka melihat kelakuan tidak sopannya pada guru, dia pikir dia itu siapa, huh?" ucap Sakura kesal. Ino melirik kearah sahabat pinknya itu kemudian memukul kepala Sakura dengan ujung pensil. "Kenapa kau memukulku?" tanya Sakura sengit.

"Itu untuk menjawab pertanyaan bodohmu barusan, Sakura" ujar Ino dan kemudian melanjutkan mengejarkan tugas yang diberikan oleh Asuma. Tak memperdulikan Sakura yang tengah memandangnya dengan tajam.

Sasuke sedang berada di area parkir sekolah. Pemuda itu berjalan kearah sebuah mobil sport berwarna merah yang terparkir tidak jauh dari tempatnya berada sekarang. Sasuke membuka pintu mobil tersebut, memundurkan perseneling kemudian menekan pedal gas. Mobil sport itu melaju meninggalkan area Tokyo International High School.

Sasuke mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Pikirannya benar-benar kacau saat ini, jadi dia memutuskan untuk pergi dari sekolah dan menenangkan pikirannya sejenak. Sasuke membelokkan mobilnya ke sebuah taman. Sasuke keluar dari dalam mobil melangkahkan kakinya menyusuri taman tempatnya berada.

Pemuda itu duduk disalah satu kursi, mata onyx itu menyapu sekeliling. Sasuke tahu tempat ini. Dia sangat kenal taman ini, kursi-kursi taman, pohon-pohon mepel yang berada di taman ini masih tetap sama seperti terakhir kali dia mengunjunginya bersama dengan Naruto 4 tahun lalu. Sasuke memejamkan matanya dan bersamaan dengan itu angin berhembus menerpa wajah pucatnya.

Bel pertanda istirahat di muali sudah berbunyi beberapa saat lalu. Disudut cafeteria telihat Neji yang tampak gelisah, sudah berulang kali pemuda itu menelpon Sasuke tapi sahabatnya itu tak mau menjawab panggilannya dan sekarang ponselnya malah tidak aktif.

"Bagaimana? Kau sudah bisa menghubunginya?" tanya Kiba

"Ponselnya tidak aktif"

"Sebenarnya ada apa dengannya? Akhir-akhir ini dia selalu menyendiri, aku jadi khawatir" ujar Kiba

"Entahlah, aku rasa Sasuke punya masalah yang cukup berat" ujar Neji

"Kita tunggu saja sampai Sasuke siap untuk menceritakan masalahnya" sambung Shikamaru. "Aku setuju" ucap Kiba yang diikuti anggukan kepala dari Gaara dan Neji.

.

.

.

.

.

.

Sasuke berjalan gontai menuju kamarnya, pemuda itu baru saja pulang setelah seharian menghabiskan waktunya di taman tempat kenangannya bersama Naruto, walau dia hanya duduk diam seperti patung disana sampai malam. Sasuke membuka pintu kamarnya melangkah kearah ranjang dan kemudian merebahkan tubuhnya disana. Tak peduli dengan seragam yang masih melekat di tubuhnya.

Tubuhnya benar-benar lelah sekarang bahkan batinnya juga. Sasuke memejamkan matanya, mungkin tidur adalah pilihan yang terbaik. Dan malam ini Sasuke tertidur, berharap dia dapat bertemu dengan Naruto di alam mimpi. Berharap dengan bertemu Naruto, rindunya dapat terobati. Walau itu hanya sebatas mimpi saja.

Itachi membuka pintu kamar Sasuke, melihat sang adik yang tengah tertidur masih dengan menggunakan seragam sekolahnya. Itachi melangkah pelan menghampiri ranjang Sasuke, berjongkok untuk membuka kaus kaki Sasuke, kemudian mengganti seragam itu dengan baju tidur kemudian menyelimuti Sasuke sampai sebatas dada. Itachi memandang wajah Sasuke sejenak. Wajah itu terlihat lebih pucat dari biasanya bahkan penampilan Sasuke yang sempat dilihat sebelum pemuda itu masuk ke kamar begitu sangat berantakan. Itachi tersenyum miris menatap wajah pucat Sasuke, si sulung Uchiha itu kemudian melangkah menuju saklar lampu dan mematikannya. Itachi menoleh kearah Sasuke dari ambang pintu.

"Oyasumi, otoutou" ucap Itachi pelan kemudian melangkah keluar dari kamar adiknya itu. Menutup pintu sepelan mungkin agar tak mengganggu Sasuke yang tengah tertidur.

.

.

.

.

.

.

.

Dua hari berlalu dan nanti malam Naruto akan berangkat ke Tokyo. Itu artinya ini hari terakhirnya ia bersekolah di St Monica High School. Naruto sedang membereskan isi lokernya dibantu oleh Menma, sahabatnya. "Aku akan sangat merindukanmu, Naruto" lirih Menma. "Kau bisa mengirimiku e-mail jika kau merindukanku" ucap Naruto.

"Tapi itu tak akan sama, Naru" ujar Menma. Naruto menghela nafas berat kemudian menatap Menma. "Kau bisa mengunjungiku saat liburan musim panas" kata Naruto. "Ya, kau benar" ucap Menma seraya tersenyum tipis kearah Naruto. Naruto mengacak-acak rambut Menma, untung saja saat itu Menma sedang bersandar pada loker jadi memudahkannya untuk mengacak rambut pemuda jangkung itu.

"Kau membuat rambutku berantakan" ucap Menma naik satu oktaf. Naruto hanya tertawa menanggapi perkataan sahabatnya itu. Gadis itu menatap Menma yang sedang merapikan rambutnya, Aku pasti akan merindukan semua hal yang ada disini, batin Naruto.

Kyuubi sedang membereskan beberapa barang yang akan ia bawa ke Tokyo nanti ke dalam koper. Kyuubi tersenyum bangga dengan asli kerjanya. "Semuanya sudah beres" ucap Kyuubi seraya berkacak pinggang.

Beep! Beep!

Ponsel Kyuubi bergetar di balik saku celananya. Kyuubi menarik ponselnya melihat siapa yang menghubunginya itu dan tulisan 'GrandMa' tertera di layar ponselnya.

"Moshi-moshi"

"Kapan kalian akan berangkat, Kyuu?" tanya Tsunade

"Malam ini, nek"

"Baiklah, nenek akan membuat acara penyambutan kedatangan kalian berdua. Dan Iruka akan menjemput kalian di bandara nanti" ujar Tsunade

"Baik, nek" ucap Kyuubi seraya mengangguk dan bersamaan dengan itu Kyuubi memutuskan percakapannya dengan sang nenek.

Kyuubi melakukan peregangan ringan, setelah itu melangkah menuju kamarnya. Masih ada waktu 6 jam sebelum ia dan Naruto berangkat ke bandara jadi pemuda itu memutuskan untuk tidur sejenak. Mengistirahatkan tubuhnya yang lelah itu.

Naruto sedang duduk disalah satu kursi taman, menunggu Menma yang sedang membeli ice cream untuknya. "Ini ice cream milikmu, Naru" ujar Menma seraya menyodorkan ice cream kearah Naruto. "Terima kasih" ucap Naruto sembari negulurkan tangannya untuk mengambil ice cream yang disodorkan oleh Menma.

Keheningan melanda keduanya, Menma asyik memakan hot dog miliknya sedangkan Naruto, gadis itu memakan ice cream-nya dengan tenang. Sampai Menma memecah kehingannya diantara mereka berdua.

"Aku akan merindukan waktu-waktu bersamamu, Naru" ucap Menma sembari memandang nanar air mancur yang tak jauh dari tempat mereka berdua berada. Naruto melirik sahabatnya itu. "Jangan berkata seolah-olah aku ini akan pergi jauh, Menma" ujar Naruto.

Menma mendengus geli. "Kau memang akan pergi jauh, Naruto" ucap Menma sembari menoleh kearah Naruto. "Hei, aku ini hanya pergi ke Tokyo bukan ke surga Seperti yang kukatakan padamu, kau bisa mengunjungiku saat liburan musim panas" tutur Naruto kemudian kembali menjilati ice cream-nya.

"Tapi hari-hariku akan sepi tanpamu" ucap Menma lagi. Naruto tertawa geli melihat tingkah kekanak-kanakan sahabatnya ini. "Kenapa kau tertawa?" tanya Menma heran.

"Karena kau seperti anak kecil, Menma" kata Naruto. "Kau ini merusak suasana saja" ucap Menma merajuk. Naruto tak memperdulikan sahabatnya itu, dia masih asyik menjilati ice cream-nya sambil menikmati senja terakhirnya di Los Angeles.

.

.

.

.

.

.

Kyuubi dan Naruto sudah berada di dalam bandara, bersiap-siap untuk berangkat ke Tokyo. Menma dan kedua orangtuanya mengantar kepergian Kyuubi dan Naruto.

"Terima kasih untuk semua hal yang anda lakukan untuk keluarga saya, Dr. Smith" ucap Kyuubi pada pria paruh baya berkacamata. "Tidak perlu berterima kasih begitu padaku, Kyuu. Aku senang membantumu dan juga keluargamu" ujar pria tersebut.

"Bibi akan sangat merindukanmu, Naru" ucap seorang wanita berambut pirang yang kini tengah memeluk Naruto. "Aku juga akan sangat merindukanmu, bibi" ujar Naruto.

Wanita itu melepas pelukannya dari tubuh Naruto kemudian menangkup pipi Naruto. "Berjanjilah kau akan selalu member kabar pada bibi, Naru" ujar wanita itu. "Aku janji, bi" kata Naruto.

Naruto menatap sahabatnya Menma yang sedari tadi hanya diam saja. "Kau tak ingin mengucapkan salam perpisahan padaku?" tanya Naruto pada Menma. Menma memalingkan wajahnya berusaha menahan air matanya agar tidak tumpah. Dia tidak mau terlihat cengeng di depan sahabatnya itu, selama ini dia selalu berusaha tampak cool di depan Naruto.

Naruto menghembuskan nafas panjang, dia tahu jika saat ini sahabatnya itu tengah menahan tangisnya. Naruto melangkah kearah Menma, memeluk tubuh jangkung itu. membuat Menma terlonjak kaget dengan perlakuan Naruto tersebut. "Aku akan merindukanmu" bisik Naruto. Denagn perlahan Menma mengalungkan tangannya ke punggung Naruto, memeluk tubuh gadis itu cukup erat. "Aku juga akan merindukanmu" ucap Menma.

Ketiga orang dewasa yang berada di sekitar keduanya hanya tersenyum melihat pemandangan tersebut. Kyuubi melihat betapa Naruto sangat menyayangi sahabat jangkungnya itu, karena bagaimanapun juga selama beberapa tahun terakhir ini Menma yang selalu menemani Naruto. Menemani hari-hari adik tercintanya itu.

Dan tibalah Naruto dan Kyuubi harus segera masuk ke dalam pesawat karena beberapa menit lagi pesawat yang mereka tumpangi akan lepas landas. Menma melambaikan tangannya kearah Naruto yang dibalas lambainya tangan juga oleh gadis pirang tersebut.

'Aku akan mengunjungimu, Naru. Aku janji' batin Menma seraya menatap sosok Naruto yang mulai menjauh dari jangkuan matanya.

Naruto sudah duduk manis disalah satu kursi penumpang dengan Kyuubi berada disebelahnya. Gadis itu melihat keluar jendela, menatap daratan di bawahnya. Dia akan merindukan kota paling sibuk di benua Amerika itu. Merindukan makanannya, orang-orangnya, tamannya, sekolahnya dan juga para penjual bunga yang sering ia kunjungi setiap akhir pekan. Naruto akan merindukan itu semua dan yang paling membuatnya merindukan Los Angeles adalah dia akan merindukan pemuda jangkung itu. Ya, siapa lagi jika bukan Menma. Sahabatnya yang berisik dan penuh kejutan itu.

'Good bye, L.A.' ucap Naruto dalam hati

To be Countinue

Pojok Suara :

Maaf kalau chapter ini masih belum juga mempertemukan Sasuke dan Naruto. But, I'm promises, di chapter depan mereka akan bertemu. Terima kasih pada pembaca yang sudah bersedia mereview, terima kasih juga untuk silent readers yang bersedia meluangkan waktu untuk membaca fic saya. Jangan bosan untuk membaca fic saya ini.

Akhir kata saya ucapkan terima kasih

Sentimental Aqumarine pamit,

See you and bye bye bye

Mind to review?