Disclaimer : Naruto – Masashi Kishimoto

Pairing : SasuFemNaru

Rated : T

Warning : Genre, OOC, Typos, Alur kecepatan dan lainnya

Summary : Naruto, gadis berparas cantik yang membenci satu hari di hidupnya. Saat semua orang bahagia ketika hari paling spesial di hidup mereka itu datang. Naruto justru sangat membencinya. Ya, dia sangat membenci hari ulang tahunnya. Sangat benci.

Special Gift for You

By

Sentimental Aqumarine

Suasana di bandara siang ini sangat ramai, Naruto menyeret kopernya diikuti oleh Kyuubi yang berada disebelahnya. Untuk pertama kalinya setelah empat tahun Naruto menginjakkan kakinya kembali di Tokyo. Kyuubi memasukkan ponselnya kedalam saku, pemuda itu baru saja menelpon neneknya jika dia baru saja tiba di Tokyo.

"Apa ada yang menjemput kita, Kyuu-nii?" tanya Naruto. "Iya" jawab Kyuubi singkat. "Apa yang menjemput kita itu Iruka-san?" tanya Naruto lagi. "Bagaimana kau tahu?" tanya Kyuubi seraya menoleh kearah Naruto. Naruto menunjukkan ke depan menggunakan dagunya. Kyuubi melihat arah tunjuk Naruto dan dilihatnya Iruka sedang berdiri tidak jauh dari tempat mereka.

"Selamat datang kembali di Tokyo, Kyuubi-sama dan Hime-sama" ujar Iruka seraya membungkukkan badannya. Naruto tersenyum kemudian memeluk tubuh Iruka secara tiba-tiba. "Hime-sama" ujar Iruka kaget dengan apa yang dilakukan oleh Naruto.

"Aku merindukanmu, Iruka-san" ucap Naruto. Iruka tersenyum hangat. "Saya juga merindukan anda, Hime-sama" kata Iruka.

.

.

.

.

.

.

Sasuke sedang berenang di kolam renang rumahnya, hari ini dia tak datang ke sekolah dan itu sudah berlangsung sejak dua hari yang lalu. Pemuda raven itu keluar dari kolam renang, melangkah kearah kursi pantai yang terletak di pinggir kolam renang. Sasuke meraih handuk putih yang tergeletak diatas kursi itu kemudian melilitkannya di pinggannya.

Pemuda itu beranjak pergi meninggalkan tempat itu. Sasuke membuka pintu kamarnya, kaki jenjangnya ia gerakan kearah kamar mandi. Setelah sampai, dia melepaskan handuk yang melilit area bawah tubuhnya. Sasuke membuka keran air, seketika itu air meluncur keluar dari shower dan membasahi tubuh Sasuke yang berada tepat di bawahnya.

Sasuke menumpuhkan kedua tangannya di dinding, kepalanya tertunduk sesaat. Mata sekelam langit malam itu menatap dinding kamar mandi. Beginikah rasanya merindukan seseorang? Beginikah rasanya mencari seseorang yang bahkan kau sendiri tak tahu keberadaannya? Beginikah rasanya? Sakit sekali. Begitu menyesakkan dada.

Pemuda raven itu menempelkan dahinya di dinding. Dingin. Itulah yang pertama kali ia rasakan. Tapi, itu tak sedingin hatinya saat ini. Mungkin hatinya sudah beku sekarang. Sejak dia tahu Naruto tak berada di Tokyo. Sasuke sudah merasakan kosong di hidupnya. Padahal tujuannya kembali ke Tokyo untuk menemui Naruto, meminta maaf pada gadis itu karena tak bisa menepati janjinya untuk selalu berada di sisi si blonde.

Tapi, semua sia-sia. Kepulangannya justru berakhir seperti ini. Dia malah mendapati Naruto tak ada di Tokyo. Dia pergi, gadis itu pergi meninggalkan Sasuke tanpa sempat mendengarkan permohonan maaf dari si bungsu Uchiha itu.

"Bagaimana keadaanmu sekarang, Naru?" ucap Sasuke parau

Neji, Shikamaru, Gaara dan Kiba sedang berada lapangan tembak. Tampak asyik membidik pistol mereka ke sasaran yang berada di ujung lapangan.

Dor!

Suara pistol menggema di seluruh lapangan di tembak tersebut. Kiba membuka pelindung telinganya, menaruh pistol yang digengamnya ke dalam kotak senjata. Gaara memasukkan kembali peluru kedalam pistolnya, bersiap-siap untuk membidik sasarannya lagi. Pemuda itu sudah tiga kali menembak tapi belum juga mengenai sasaran dengan tepat. Neji tampak sibuk menelpon seseorang dengan Shikamaru yang tertidur disampingnya. Terkadang Neji heran dengan kebiasaan tidur sahabatnya itu. Bagaimana bisa pemuda nanas itu tertidur di tengah suara riuh tembakan pistol begini?

"Kau sedang menelpon siapa, Neji?" tanya Kiba

"Sasuke" jawab Neji singkat

"Lalu, bagaimana? Apa dia mengangkat panggilanmu?" tanya Kiba yang dibalas gelengan kepala oleh Neji. Neji bangkit dari duduknya, memakai pelindung mata dan telinga dan kemudian mengambil pistol yang digunakan Kiba tadi.

Pemuda itu mulai membidik sasarannya. "Taruhan? Aku bisa mengenai sasaran dalam sekali tembakan" ucap Neji pada Gaara. Gaara mendengus keras, dia merasa diremehkan oleh sahabatnya itu. "Apa taruhannya?" tanya Gaara mulai tertarik.

Neji menyeringai. "Berkencan dengan adikmu…. Matsuri" ucap Neji. "In your dream" ujar Gaara dingin. Neji tertawa. "Just kidding, aku ingin mobilmu untuk taruhan ini" ucap Neji.

"Deal" ujar Gaara dan bersamaan dengan itu Neji menekan pelatuk dan timah panas keluar dari pistol itu. Melesat dengan sangat cepat dan bersarang tepat disasaran yang diinginkan oleh Neji. Neji tersenyum bangga kemudian membuka pelindung matanya dan menatap Gaara.

Gaara merogoh saku seragamnya dan melempar kunci mobilnya kearah Neji. "Wow! Kau mendapatkan mobil Gaara, Neji?" pekik Kiba. "Hmm" gumam Neji. "Kalau begitu aku ingin mencobanya, kau tahu sendirikan, Gaara tak mengijinkanku untuk meminjam mobilnya" ujar Kiba.

"Dan kau pikir aku tidak, begitu?" tanya Neji kemudian kembali membidik pistolnya. Kiba hanya memanyunkan bibirnya sebal, Dasar pelit, batin pemuda pencinta anjing itu. Neji tidak pelit Kiba, hanya saja dia terlalu pintar untuk tidak membiarkan mobilnya dikemudikan oleh pemuda sepertimu. Kau ingat, kau sudah merusak lima mobil ayahmu seminggu terakhir ini. Dan Neji tak mau itu terjadi pada mobil yang baru saja ia dapatkan dari Gaara.

.

.

.

.

.

.

Naruto menatap keluar jendela mobil. Tokyo sudah sangat berubah dari terakhir kali ia ingat. Begitu banyak cafe dan restaurant yang menyajikan berbagai makanan di kota ini. Padahal dulu, hanya sedikit cafe yang disini. Naruto juga ingat, dulu belum banyak gedung pencakar langit dan mall. Tapi, sekarang semuanya terasa baru bagi Naruto. Kampung halamannya sudah sangat berubah. Ternyata empat tahun itu bukanlah waktu yang singkat, pikir Naruto.

Naruto mengambil ponselnya dari dalam tas selempangannya, dia baru ingat jika ia harus mengabari sahabat chattingnya itu jika ia sudah tiba di Tokyo.

From : Blue Sapphire

To : Mr. G

Aku sudah tiba di Tokyo

Naruto menekan tombol sent, setelah yakin jika e-mailnya sudah terkirim Naruto memasukkan kembali ponselnya kedalam tasnya. Menyandarkan kepalanya dan memandang keluar jendela lagi.

Mobil yang dinaiki Kyuubi dan Naruto sudah sampai di kediaman Uzumaki. Para penjaga mansion itu membukakan pintu untuk Kyuubi dan Naruto kemudian membungkuk untuk memberi hormat pada majikan mereka. Salah satu maid menghampiri Naruto, bermaksud untuk membawakan koper Naruto. Tapi, gadis itu menolaknya dengan halus, mengatakan jika dia bisa membawa kopernya sendiri. Naruto melangkahkan kakinya memasuki massion Uzumaki mengikuti sang kakak yang berada di depannya.

"Selamat datang kembali Naruto" ujar Tsunade seraya menghampiri Naruto dan kemudian memeluk gadis tan itu. Naruto membalas pelukan sang nenek. Tsunade melepaskan pelukannya, memandang wajah gadis dihadapannya. "Nenek tak perlu membuat penyambutan kepulangan Naru dan Kyuu-nii seperti ini, nek" ujar Naruto .

Tsunade tersenyum, wanita itu mengelus wajah Naruto. "Kepulanganmu ini adalah sesuatu yang harus dirayakan, Naru. Kau sudah meninggalkan kediaman ini terlalu lama, lagipula ini hanya perayaan keci-kecilan saja" ujar Tsunade.

"Arigatou" ucap Naruto seraya memeluk Tsunade kembali.

.

.

.

.

.

.

Sakura cs sedang berada di cafeteria saat ini. Ino sedang asyik mematut dirinya di cermin, memperbaiki penampilannya agar tetap sempurna apabila ia bertemu dengan Gaara nanti. Hinata sedang menyantap bekal makan siangnya dalam diam sedangkan Sakura, gadis Haruno itu tampak celingukkan seakan mencari sesuatu.

"Kau sedang mencari apa, Saku-chan?" tanya Hinata. Ino melirik kearah sahabat pinky-nya. "Ya, kau sedang mencari apa? Kulihat sejak tadi kau celingukan begitu" sambung Ino. "Aku mencari Sasuke" ujar Sakura tak sadar dengan apa yang diucapkannya.

"Apa?!" pekik Ino. "Jangan berteriak seperti itu Ino!" bentak Sakura. "Aku tidak salah dengar 'kan? Kau mencari Sasuke? Untuk apa?" tanya Ino bertubi-tubi.

"Aku mencari Sasuke? Memangnya tadi aku bilang begitu?" tanya Sakura seraya menunjuk dirinya sendiri. "Iya, tadi kau bilang kalau kau mencari Sasuke-kun, Sakura" ucap Hinata.

Dahi Sakura berkerut, apa iya tadi ia berkata begitu? Mustahil sekali dia mencari Sasuke, orang yang tidak ia sukai itu. "Lalu?" tanya Ino. "Lalu apa?" tanya Sakura bingung. "Untuk apa kau mencari Sasuke? Bukankah kau sangat membencinya?" tanya Ino.

Sakura memakan rotinya, apa benar dia membenci pemuda itu? Dia dan Sasuke memang tak memiliki masalah apapun, hanya saja kelakuan pemuda itu yang membuat Sakura tidak suka. Jujur saja, sebenarnya Sakura tak sepenuhnya membenci Sasuke. Dia malah mengkhawatirkan pemuda itu sekarang. Apalagi saat dilihatnya raut kesedihan di wajah tampan pemuda itu dua hari yang lalu. Mengingat sudah dua hari pemuda itu tak datang ke sekolah.

'Apa dia baik-baik saja ya?' tanya Sakura dalam hati

#Flashback

Sakura baru saja pulang dari rumah Ino untuk menepati janjinya pada sahabatnya itu agar membantu Ino mengerjakan tugas mata pelajaran Fisika. Saat sedang berjalan melewati taman yang berada di pusat kota, Sakura melihatnya sosok yang sangat ia kenal tengah duduk di sebuah bangku taman. Sakura melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Pukul sepuluh malam.

"Kenapa dia ada disana malam-malam begini?" tanya Sakura. Sakura menghampiri sosok itu, gadis itu mengeratkan jaketnya. Udara malam ini cukup dingin. Jarak Sakura dan sosok itu cukup dekat sehingga membuat Sakura bisa melihat dengan jelas wajah pucat sosok yang tertimpah cahaya lampu taman itu. Sakura melihat sosok itu masih mengenakan seragam Tokyo International High School dan itu membuat Sakura bersimpulan jika sosok yang duduk diam di hadapannya itu tidak kembali ke rumahnya setelah kabur di jam pelajaran.

"Kenapa kau ada disini?" tanya Sakura

"…."

"Kau tidak pulang ke rumahmu?" tanya Sakura lagi

"…."

"Ini sudah malam, kau bisa terkena flu jika terus berada disini" ucap Sakura

"…."

"Hei! Aku berbicara padamu Sasuke!" ucap Sakura naik satu oktaf

"Berisik!" bentak sosok yang ternyata Sasuke itu. Sasuke bangkit dari kursi kemudian menatap nyalang kearah Sakura. Sesaat gadis itu terpesona dengan mata onyx milik Sasuke. Melihat wajah Sasuke dari jarak sedekat ini membuat jantungnya berdegup kencang. Satu kata yang cocok untuk Sasuke dari Sakura. Tampan. Ya, pemuda dihadapannya itu sangat tampan.

Tapi tunggu dulu, Sakura mengeryit saat dilihatnya ada sinar kesedihan di balik bola mata sekelam malam milik Sasuke itu. "Ada apa denganmu?" tanya Sakura saat dilihatnya Sasuke mulai berniat untuk pergi dari taman tersebut.

Langkah Sasuke terhenti saat di dengarnya pertanyaan Sakura yang ditujuhkan padanya itu. Pemuda itu berkata tanpa menoleh sedikitpun kearah Sakura yang tengah berdiri di belakangnya. "Itu bukan urusanmu" ucap Sasuke dingin kemudian berlalu pergi meninggalkan Sakura yang masih berdiri disana.

#Flashback End

Sakura yakin jika saat itu ia melihat pancaran kesedihan dari mata Sasuke. Entah mengapa melihat Sasuke seperti itu membuatnya ikut bersedih juga. Ada apa dengannya? Apa dia mulai menyukai pemuda yang selama dia bersekolah di Tokyo International High School sangat tidak di sukainya itu?

.

.

.

.

.

.

Malam ini semua anggota keluarga Uzumaki sedang menyantap makan malam mereka. Naruto sedikit kikuk saat salah satu maid mengambilkan makanan untuknya. Dia belum terbiasa dilayani seperti ini, bagaimanapun juga selama di Los Angeles ia terbiasa melakukan segala sesuatunya sendiri.

"Kau hanya perlu untuk terbiasa, Naru" ucap Tsunade saat dilihatnya raut wajah Naruto yang merasa tidak enak saat salah satu maid wanita menungkan air minum di gelasnya yang sudah kosong.

Naruto menyantap makan malamnya dalam diam begitupun dengan yang lain sampai Jiraya bersuara. "Kakek sudah mengurus sekolahmu yang baru di sini, Naru. Dan besok kau sudah bisa bersekolah" ujar Jiraya. Tsunade menoleh kearah sang suami. "Apa itu tidak terlalu cepat? Maksudku, Naruto baru saja tiba di Tokyo, dia masih terlalu lelah untuk kembali di sibukkan dengan urusan sekolah seperti itu" ujar Tsunade.

"Tidak apa-apa nek, aku malah senang jika harus bersekolah secepat mungkin" ucap Naruto. "Kau yakin? Jika kau masih lelah, nenek akan meminta pihak sekolah untuk memasukkanmu dua hari lagi" ucap Tsunade. "Tidak nek, aku ingin bersekolah di sekolah baruku besok" ucap Naruto. "Baiklah jika itu keinginanmu, Naru. Besok Iruka akan mengantarmu ke sekolah" ujar Tsunade.

"Biar aku saja yang mengatar Naru ke sekolah barunya, nek" usul Kyuubi yang dibalas anggukan kepala oleh Tsunade. "Kakek memasukkan Naru di sekolah yang mana?" tanya Kyuubi pada sang kakek.

"Tokyo International High School" jawab Jiraya

Naruto berguling-guling diatas ranjangnya, jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, tapi dia masih belum tertidur juga. Gadis itu bangkit dari tempat tidur, mungkin segelas susu hangat bisa membuatnya tidur. Naruto memakai sandal rumahnya kemudian melangkah kearah pintu kamar, menuruni tangga dan berjalan kearah dapur.

Naruto sedang menuang air panas kedalam gelas saat Iruka masuk ke dapur. "Anda sedang membuat apa, Hime?" tanya Iruka. Naruto menoleh kearah Iruka yang saat itu sedang membuka lemari pendingin. "Aku tidak bisa tidur, jadi kuputuskan untuk membuat susu hangat" ujar Naruto.

"Kenapa tidak menyuruh saya untuk membuatkannya untuk anda, Hime?" tanya Iruka lagi. Naruto tersenyum tipis kemudian mengaduk susu yang dibuatnya. "Aku tidak ingin merepotkanmu, Iruka-san. Pekerjaanmu sudah cukup banyak di kediaman ini" ujar Naruto. "Itu adalah pekerjaan seorang maid seperti saya, Hime" ucap Iruka.

"Apa termasuk membuat susu hangat seperti ini?" tanya Naruto polos seraya menunjuk susu hangat yang telah dibuatnya. Iruka tersenyum kearah Naruto. "Tentu saja, Hime" ujar Iruka.

Naruto tertawa sambil menunduk membuat rambut pirangnya yang tergerai jatuh menutupi wajah cantiknya. "Kenapa anda tertawa, Hime? Apa ada yang lucu?" tanya Iruka heran. Naruto menggelengkan kepalanya kuat. "Tidak, aku hanya mengingat saat kau selalu membuatkanku susu hangat jika aku tak bisa tidur" ujar Naruto seraya menerawang ke masa lalu, saat Iruka selalu membuatkannya susu hangat ketika ia tak bisa tertidur.

"Kini aku sudah besar, Iruka-san. Aku tak ingin merepotkanmu untuk segala sesuatu yang bisa kulakukan sendiri" ujar Naruto sembari menatap pria berumur tiga puluh tahun itu.

Iruka memandang gadis yang berdiri dihadapannya itu. Dia sadar, Hime kecilnya sudah tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik. Tidak ada lagi gadis kecil yang selalu meregek padanya untuk menemaninya bermain bersama, tidak ada lagi gadis kecil yang selalu mengganggunya saat membersihkan rumah hanya untuk memintanya mengantarnya ke taman, tidak ada lagi gadis kecil yang mengetuk pintu kamarnya tengah malam hanya untuk membuatkan susu hangat jika gadis kecil itu tak bisa tidur.

Iruka tersenyum di tengah lamunannya. Melihat Hime-nya sekarang membuatnya ingin menangis, begitu banyak hal yang sudah dialami oleh Hime-nya itu. Bagaikan mimpi saja melihat Hime-nya berdiri dihadapannya, dia pikir Hime-nya itu akan akan kembali lagi ke Tokyo.

"Iruka-san" panggil Naruto

"Y-ya Hime, ada apa?"

"Aku akan kembali ke kamar, sepertinya aku sudah mulai mengantuk" ujar Naruto dan kemudian menutup mulutnya karena tiba-tiba saja dia menguap. "Baiklah, oyasumi Hime" ujar Iruka. "Oyasumi, Iruka-san" ucap Naruto kemudian melangkahkan kakinya menuju kamarnya.

Iruka mentap punggung Naruto yang mulai menjauh itu kemudian meraih gelas yang dipakai Naruto untuk membuat susu hangatnya dan mencucinya.

.

.

.

.

.

.

Naruto dan Kyuubi sedang dalam perjalanan menuju sekolah baru Naruto yaitu, Tokyo International High School. Naruto memasang earphone, memutar lagu dari salah satu band favoritnya. Berusaha mengusir rasa gugup yang tiba-tiba mengusiknya. Jujur saja, dia benar-benar gugup saat ini. Bagaimanapun juga ia akan bertemu dengan orang-orang yang sama sekali belum dikenalnya. Dan menurutnya ia adalah tipe pemalu jika bertemu dengan orang baru. Haah~ andai kau tahu siapa saja yang akan kau temui nantinya Naruto, kau pasti tak akan segugup sekarang.

Sasuke melangkah memasuki kelasnya. Para gadis yang melihat kemunculan Sasuke setelah dua hari pemuda itu tak hadir di sekolah sontak berteriak. Sakura menoleh kearah Sasuke yang kini sudah duduk di kursinya. Senyum terukir di bibirnya saat dilihatnya wajah Sasuke sudah terlihat lebih segar daripada saat terakhir pertemuan mereka di taman malam itu.

"Kau mulai menyukainya?" tanya Ino tiba-tiba. "A-apa maksudmu Ino?" tanya Sakura bingung. "Jangan pura-pura tidak tahu. Aku melihatmu memandanginya sejak dia masuk ke kelas, Sakura" ujar Ino

"Memandang siapa?" tanya Sakura pura-pura bodoh. Ino mendengus keras. "Tentu saja memandang Sasuke" ucap gadis pirang itu. "Tidak, aku tidak sedang memandang dia" elak Sakura. "Kau bisa membohongi orang lain tapi tidak padaku, Haruno Sakura" ucap Ino dengan beberapa penekanan di beberapa kata.

Sasuke sedang duduk di kursi sambil memandang keluar jendela. "Kau darimana saja, Sasuke? Kenapa baru muncul sekarang?" tanya Neji tapi tak mendapat tanggapan dari teman sejawatnya itu. Sasuke masih terlalu sibuk dengan pemikirannya akan Naruto. Terlalu sibuk memikirkan dimana tempat yang paling mungkin ditinggali gadis itu.

Naruto tengah duduk di ruang kepala sekolah, menunggu dengan sabar akan ditempatkan di kelas mana dia selama tiga tahun kedepan. "Aku sudah membaca arsif mengenai dirimu, Uzumaki-san. Dan aku cukup kagum dengan kemampuanmu di bidang seni terutama kemahiranmu dalam memainkan piano, dengan bakatmu itu aku rasa kau bisa mewakili sekolah ini untuk ajang kompetisi piano se-nasional tahun depan" ujar pria bernama Orochimaru tersebut.

"Terima kasih atas sanjungnnya, Orochi-san. Saya merasa permainan piano saya masih jelek" ucap Naruto. "Kau terlalu merendah, Uzumaki-san. Aku yakin permainan pianomu itu sangat bagus, melihat begitu banyak prestasi yang kau raih di bidang itu" ujar Orochimaru.

Orochimaru menaruh lembaran kertas yang dipegangnya keatas meja, menyandarkan punggungnya kesandaran kursi kemudian memanggil seorang wanita bernama Anko untuk masuk ke dalm ruangannya. Beberapa menit setelahnya, seorang wanita berambut hitam pendek memasuki ruangan. "Nah, Uzumaki-san wanita ini adalah wali kelasmu, Mitarashi Anko. Dia yang akan mengantarmu ke kelasmu" ucap Orochimaru yang dibalas anggukan kecil oleh Naruto.

Naruto sudah keluar dari ruamg kepala sekolah bersama dengan Anko saat ini mereka sedang berjalan menuju kelas yang akan di tempati oleh Naruto. "Kudengar kau pindahan dari L.A, begitu Uzumaki-san?" tanya Anko. "Ya, begitulah. Dan panggil saja aku Naruto, Anko-san" ujar Anko.

"Dan panggil aku dengan sebutan sensei, Naruto" ucap Anko. "Nah, tunggulah disini sebentar Naruto. Aku akan masuk terlebih dahulu setelah kupanggil baru kau boleh masuk, mengerti?" tanya Anko. "Aku mengerti, sensei"

Anko masuk kedalam kelas itu, berbisik pada guru yang sedang mengajar. Setelah mendapat ijin Anko pun keluar dan menghampiri Naruto yang tengah berdiri diluar kelas. Menunggu dengan sabar sampai ia diperbolehkan masuk.

"Anak-anak, hari ini kita kedatangan murid baru. Dia pindahan dari L.A. Ayo, masuklah dan perkenalkan dirimu" ujar wanita bernama Yuhi Kurenai tersebut. Naruto melangkahkan kakinya, berjalan dengan kepala sedikit tertunduk.

"Silakan perkenalkan dirimu" ujar Kurenai. Naruto mendongakkan kepalanya, menatap keseluruh penjuru keras. Sampai tatapannya tertuju pada seorang pemuda raven yang duduk di dekat jendela yang tampak asyik memandang keluar jendela. Naruto memincingkan matanya, dia merasa tak asing dengan pemuda raven itu. Sakura, Ino dan Hinata menatap sosok yang tengah berdiri di depan kelas mereka dengan syok.

Sosok itu adalah sosok yang selama ini menghilang, yang selama ini mereka tunggu kedatangannya. "A-apa itu Naru-chan?" ucap Hinata tak percaya. Ino menelan ludahnya paksa sedangkan Sakura, gadis itu merasa nafasnya tercekat.

"Perkenalkan saya adalah Uzumaki Naruto, pindahan dari L.A. Saya sudah tinggal disana selama empat tahun dan baru kembali ke Tokyo kemarin. Mohon bantuannya" ucap Naruto kemudian membungkukkan badannya untuk memberi hormat.

Sasuke yang sedari tadi memandang keluar jendela langsung menoleh saat indera pendengarannya mendengar ada yang menyebut nama seseorang yang selama ini dirindukannya dan sepasang mata onyx itu membulat saat dilihatnya sosok itu sedang berdiri di depan kelasnya.

"Naruto" ucap Sasuke tak percaya

To be Countinue

Pojok Suara :

Sebelumnya saya minta maaf karena baru bisa mempertemukan Sasuke dan Naruto sekarang. Saya hanya ingin menceritakan kehidupan Naruto di L.A. dahulu, sebelum gadis itu kembali ke Tokyo dan bertemu dengan Sasuke disana. Sekali lagi saya minta maaf karena membuat pembaca menunggu lama pertemuan diantara mereka berdua.

Sudah dua chapter saya tidak membalas review para pembaca, gomen ne.. tapi, dia chapter ini saya akan membalas review kalian. Yeeyy! Ini dia balasan review dari saya. Check this out!

Me to BlackRose783 : Terima kasih sudah mereview fic saya, ini sudah saya lanjutkan

Me to Monkey D Nico : Saya bingung kamu mereview apa, tapi terima kasih sudah membaca dan mereview walau kamu hanya mereview tanda titik saja. Arigatou ne..

Me to Wildapolaris : Sasuke memang akan shock saat tahu Naruto melupakannya dan keterkejutannya juga semakin bertambah saat dia tahu tentang rahasia antara Gaara dan Naruto. Ckckckc, sepertinya setelah Naruto, Sasuke juga akan ikut depresi deh.

Me to Guest : Bagaimana caranya saya mengeluarkan kamu dari lingkaran galau yang saya ciptakan? jika tokoh utama pria-nya saja belum berniat saya keluarkan dari sana. Hohoho, sepertinya saya kejam sekali pada Sasuke yaa~ -_-

Me to Hn-kun : Yeep~ saya sudah mempertemukan mereka berdua (walau mereka belum saling berinteraksi sih), terima kasih sudah mereview yaa..

Me to Hanazawa Kay : Naruto memang melupakan masa lalunya, baik itu masa lalunya dengan Sasuke maupun dengan Sakura cs, tapi, samar-samar kenangan dirinya dengan mereka mulai muncul. Terima kasih sudah mereview.

Me to Zen Ikkika : Penderitaan Sasuke di chapter sebelumnya belum seberapa, saya berniat untuk membuat pemuda itu lebih menderita. Setidaknya dia harus merasakan penderitaan Naruto waktu ditinggal olehnya. Hahahaha (ketawa kesetanan)

Me to Guest : Saya akui kalau chapter kemarin memang flat banget, nggak ada konfliknya sama sekali. Tapi, saya memang sengaja tak menghadirkan konflik di chapter kemarin, itu karena saya ingin menampilkan kehidupan tenang Naruto di L.A. sebelum gadis itu kembali ke Tokyo dan disanalah segala bentuk konflik akan bermunculan. Terima kasih sudah mereview ya.

Me to Uchiha Nayari : Kalau Menma menyukai Naruto, ntar ceritanya makin tambah rumit dan itu akan menjadi cinta segibanyak. Saya tidak mau Naruto diperebutkan oleh banyak pemuda tampan nan sexy (soalnya saya ngiri), lagipula kasihan juga Sasuke kalau saingannya untuk mendapatkan Naruto semakin banyak. Saya takut ntar dikeroyok fans Sasuke kalau membuat pemuda itu terlalu menderita (padahal itu memang rencana saya). Suatu saat nanti, Naruto bakal ingat kok sama Sasuke, jadi tetap setia membaca fic ini. Perjuangan cinta Ino yaa, hmmm, saya masih mikir sih gimana caranya buat gadis Yamanaka itu untuk mendekati si Sabaku, secara Gaara itu lebih susah banget buat di dekati. Tapi tenang, ada satu chapter yang bakal membahas tentang perjuangan Ino untuk mendapatkan Gaara kok. Thank you for your review.

Me to Raya Puspita : Sasuke memang akan semakin galau, bahkan kadar kegalauan Sasuke akan semakin meningkat ketika tak didapatinya tanda-tanda jika Naruto akan mengingatnya kembali.

Me to Akbar123 : Ini sudah saya lanjutkan, arigatou ne.

Me to LNaruSasu : Sebenarnya alasan saya untuk membuat Naruto melupakan Sasuke itu nggak muluk-muluk kok. Saya cuma ingin balas dendam sama Sasuke karena sudah meninggalkan Naruto dan pergi tanpa kabar ke New York. Itu memang rencana saya untuk membuat Sasuke depresi karena Naruto melupakannya, hahahah.

Sebenarnya saya sedikit bingung tentang terapi hipnotis itu, saya sudah membaca artikel-artikel yang membahas mengenai hal tersebut dan semuanya memberikan penjelasan yang berbeda-beda. Salah satu artikel ada yang mengatakan jika terapi yang memfokuskan untuk penyembuhan trauma, akan membuat sang pasien melupakan sebagian ingatannya secara permanen tapi ada juga yang mengatakan jika itu ada jangka waktu tertentunya. Haah~ saya jadi bingung. Tapi, terima kasih sudah memberi penjelasan yang singkat, padat dan jelas tentang terapi hipnotis itu pada saya dan terima kasih sudah membaca dan bersedia mereview.

Me to Luca Marvell : Mereka berdua sudah bertemu kok, dan masalah konflik, yep! Saya akan menghadirkan konflik di fic ini dan itu tak terlepas dari persoalan Sasuke dan Naruto yang menimbulkan konflik-konflik baru karenanya. Terima kasih sudah mereview ya.

Me to Uzumaki Prince Dobe-Nii : Reaksi Sasuke untuk pertama kalinya yang pasti Shock berat. Thank ypu for your review.

Me to Zara Zahra : Terma kasih sudah mereview, Sasuke akan shock berat saat tahu Naruto melupakannya.

Me to Runa Gami : Menma nggak akan jadi saingannya Sasuke, kerena itu akan membuat Sasuke makin kesulitan untuk mendapatkan Naruto-nya kembali. Lagipula, Menma itu sudah punya pacar dan Naruto tak mau merusak hubungan sang sahabat dengan pacarnya.

Me to Mitsuka Sakurai : Salam kenal Mitsuka, terima kasih sudah mereview, ini sudah saya lanjutkan.

Me to Nitya-chan " Ini sudah saya lanjutkan, arigatou ne.

Me to Aiska Hime-chan : Ini sudah saya lanjutkan, terima kasih sudah mereview ya, Aiska Hime-chan (nama kamu sering tiba-tiba hilang setiap kali saya membalas review kamu, jadinya bukan Aiska Hime-chan tapi –chan doing, saya jadi bête gara-gara itu -_-)

Akhir kata saya ucapkan terima kasih.

Sentimental Aqumarine pamit

See you and bye bye bye

Mind to review?