Disclaimer : Naruto – Masashi Kishimoto

Pairing : SasuFemNaru

Rated : T

Warning : Genre, OOC, Typos, Alur kecepatan dan lainnya

Summary : Naruto, gadis berparas cantik yang membenci satu hari di hidupnya. Saat semua orang bahagia ketika hari paling spesial di hidup mereka itu datang. Naruto justru sangat membencinya. Ya, dia sangat membenci hari ulang tahunnya. Sangat benci.

Special Gift for You

By

Sentimental Aqumarine

Setelah Naruto selesai memperkenalkan diri, Kurenai mempersilakan murid barunya itu untuk duduk. "Nah, Naruto, kau bisa duduk di bangku kosong disebelah Hinata. Hinata angkat tanganmu" perintah Kurenai. Dengan ragu Hinata mengangkat tangannya, Naruto mengangguk. "Arigatou, sensei" ucap Naruto dan kemudian melangkah ke tempat duduknya.

Naruto menaruh tasnya diatas meja, mengambil buku dan beberapa peralatan tulisnya. Hinata memandang Naruto, Naruto yang merasa jika Hinata sedari tadi memandanginya, menoleh kearah gadis indigo tersebut.

"Ada yang salah denganku?" tanya Naruto pada sembari memiringkan kepalanya. Hinata menggelengkan kepalanya kuat. "Tidak" ucap Hinata.

"Ano… Aku Hinata, Hyuuga Hinata" ujar Hinata seraya mengulurkan tangannya kearah Naruto. Naruto menjulurkan tangannya juga, menjabat tangannya Hinata yang terulur di depannya itu. "Uzumaki Naruto. Senang berkenalan denganmu, Hyuuga-san" ucap Naruto singkat dan kemudian kembali mendengarkan penjelasan Kurenai tentang Logaritma.

Hinata masih memandangi Naruto yang kini tampak asyik menyalin tulisan Kurenai ke buku tulisnya, Sepertinya Naru-chan tak mengenaliku, pikir Hinata. Tak hanya Hinata, Sasuke pun memandangi Naruto dengan intens. Takut jika apa yang dilihatanya itu bukanlah Naruto-nya. Takut jika dia tak terus memandangi Naruto maka gadis itu akan pergi lagi saat dirinya berpaling. Dan di sepanjang pelajaran itupun, Sasuke masih terus memandangi Naruto.

.

.

.

.

.

.

Naruto sedang merapikan bukunya dan berniat memasukkanya ke dalam tas saat dengan tiba-tiba seorang pemuda jabrik dengan tattoo segitiga terbalik di pipinya menghampiri dirinya.

"Hai, aku Inuzuka Kiba. Salam kenal" ucap Kiba seraya memamerkan senyum andalannya. "Uzumaki Naruto, salam kenal juga Inuzuka-san" ujar Naruto sopan. "Panggil aku Kiba saja dan perkenalkan sahabat-sahabatku" ucap Kiba sambil menujuk keempat sahabatnya yang berdiri di belakangnya.

"Hyuuga Neji" ujar Neji seraya mengulurkan tangannya kearah Naruto. "Naruto" ucap Naruto. Shikamaru menguap sejenak kemudian mengulurkan tangannya. "Nara Shikamaru" ujar pemuda itu malas.

"Hai Naruto, senang bertemu denganmu lagi" ujar Gaara. "Aku juga, Gaara" ucap Naruto. "Kalian sudah saling mengenal?" tanya Kiba heran. "Ya, aku bertemu dengan Naruto saat mengunjungi kakakku di L.A. dan dia juga teman chattingku" jawab Gaara yang dibalas 'oh' oleh Kiba.

Naruto memandang kearah Sasuke yang berdiri disamping Shikamaru. "Dan kau, siapa namamu?" tanya Naruto pada Sasuke. Sasuke tak menjawab, pemuda itu hanya menatap Naruto dan setelah itu Sasuke beranjak pergi dari tempat tersebut. Dahi Naruto berkerut, bingung dengan tingkah pemuda raven itu.

"Namanya Uchiha Sasuke, dia memang seperti itu orangnya. Aku harap kau tak tersinggung dengan sikapnya, Uzumaki-san" ucap Neji. "Ah, tidak apa-apa" ujar Naruto seraya menatap punggung Sasuke yang semakin menjauh.

#Sasuke POV

Aku masih tak percaya jika dia berdiri dihadapanku sekarang. Rasanya seperti mimpi saja bisa melihatnya kembali setelah sekian lama kami berpisah. Tapi, satu hal yang membuatku bingung. Naruto seakan tak mengenaliku, apa dia lupa wajahku? Apa wajahku ini terlihat sangat berbeda saat terakhir kali kami bertemu? Tidak, itu tidak mungkin, bahkan aku saja bisa langsung mengenalinya saat melihatnya berdiri di depan kalasku tadi.

Aku tak akan melupakan surai pirangnya itu, kulit tan-nya, suaranya dan juga tiga garis halus seperti kumis kucing di kedua pipinya itu. Aku tak akan pernah melupakan itu walaupun sudah empat tahun kami tak bertemu. Tapi, kenapa dia seakan tak mengenali rupakau? Apa dia sudah tak ingat padaku lagi?

Aku berdiri tak jauh dari tempat Naruto berada, keempat sahabatku sedang berkenalan dengan Naruto walau. Kiba yang memulai perkenalan itu. "Hai, aku Inuzuka Kiba. Salam kenal" ucap Kiba seraya memamerkan senyum andalannya. "Uzumaki Naruto, salam kenal juga Inuzuka-san" ujar Naruto. "Panggil aku Kiba saja dan perkenalkan mereka adalah sahabat-sahabatku" ucap Kiba sambil menujuk kami yang berdiri di belakangnya.

"Hyuuga Neji" ujar Neji seraya mengulurkan tangannya kearah Naruto. "Naruto" ucap Naruto. Aku melirik kearah Shikamaru yang menguap sejenak kemudian mengulurkan tangannya kearah Naruto. "Nara Shikamaru"

"Hai Naruto, senang bertemu denganmu lagi" ujar Gaara. "Aku juga, Gaara" ucap Naruto. Tunggu dulu, Gaara dan Naruto saling kenal. Bagaimana bisa? Aku menoleh kearah Gaara yang sedang tersenyum. Baru kali ini kulihat anak itu tersenyum di depan umum seperti ini.

Kudengar Kiba bertanya pada Gaara. "Kalian sudah saling mengenal?" tanyanya heran. "Ya, aku bertemu dengan Naruto saat mengunjungi kakakku di L.A. dan dia juga teman chattingku " jawab Gaara. Di L.A? Teman chatting? Jadi selama ini Gaara tahu dimana Naruto berada?

"Dan kau, siapa namamu?" tanya Naruto padaku. Aku tak menjawab, lidahku terlalu keluh untuk digerakan. Pertanyaan sederhana Naruto itu, entah kenapa membuat hatiku ngilu. Apa dia benar-benar melupakanku? Aku memutuskan untuk keluar dari ruangan itu. Mungkin aku perlu menenangkan diriku dahulu.

#Sasuke POV End

#Normal POV

Sasuke sedang berada di area kolam reanag yang terletak di lantai 5 gedung Tokyo International High School, berdiri sambil memandangi pemandangan sekolah itu dari balik kaca besar yang mengelilingi area kolam renang tersebut. Sasuke masih berdiri di tempatnya sampai dirasakannya ponselnya bergetar. Sasuke menarik ponselnya dari balik saku seragamnya, satu e-mail masuk.

From : Neji

To : Sasuke

Dimana kau? Kami sudah menunggumu di cafeteria. Cepat susul kami disini, aku sudah memesankan makanan untukmu.

Begitulah bunyi pesan dari Neji. Sasuke memasukan kembali ponselnya ke dalam saku, berdiam sejenak di tempat itu kemudian melangkahkan kakinya menuju cafeteria, tempat keempat sahabatnya menunggunya.

Sakura cs sedang makan di meja tak jauh dari tempat Naruto dan keempat sahabat Sasuke berada. Gadis pink itu tak henti-hentinya memandang Naruto. "Menurutmu, Naruto tak mengenali kita begitu?" tanya Ino pada Hinata.

"Begitulah, tadi saja dia acuh sekali padaku. Seakan-akan dia memang tak mengenaliku" ujar Hinata sambil tertunduk. Sakura bangkit dari kursi, sudah ia putuskan dia akan menghampiri Naruto. Bertanya kenapa gadis itu seolah-olah melupakan mereka bertiga. "Aku akan menghampirinya" ujar Sakura. "T-tapi Saku-chan" ujar Hinata terbata.

"Tidak ada kata tapi, aku harus bertanya padanya kenapa dia bersikap acuh sekali pada kita. Padahal kita ini adalah sahabatnya sewaktu SMP dulu" ujar Sakura kemudian membalikkan tubuhnya dan mulai berjalan kearah Naruto.

"Sakura/Saku-chan" panggil Ino dan Hinata bersamaan dan mereka berdua menyusul Sakura yang sudah melangkah kearah Naruto.

Sasuke baru saja menginjakkan kakinya di cafeteria saat dilihatnya Sakura tampak berbicara dengan Naruto. Pemuda itu mempercepat langkah kakinya.

"Naruto" panggil Sakura. Naruto menoleh ke sumber suara, melihat seorang gadis berambut pink tengah berdiri di sampingnya. "Iya, ada apa ya?" tanya Naruto bingung. Jujur saja dia tak mengenal gadis pink yang memanggil namanya itu.

Sakura mendekatkan wajahnya kearah Naruto membuat Naruto secara refleks memundurkan kepalanya. "Apa yang kau lakukan Sakura?" tanya Neji. Sakura tak memperdulikan pertanyaan Neji, dia malah semakin intens memandang wajah Naruto.

"Ada apa dengan anda, Nona?" tanya Naruto. "Kau… tak mengenalku, Naruto?" tanya Sakura. "Maaf, anda siapa? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Naruto lagi. Sakura menjauhkan wajahnya dari Naruto dan melangkah mundur.

"Jangan bercanda Baka! Aku ini Sakura, apa kau tak mengenaliku?!" tanya Sakura nyaris berteriak membuat para pengunjung cafeteria menoleh kearah mereka. "Tenangkan dirimu, Sakura" ujar Ino.

Naruto bangkit dari kursinya kemudian memandang Sakura. "Maaf, aku tak mengenalmu Nona" ujar Naruto. Dan pernyataan itu membuat hati Sakura serasa remuk, bagaimana mungkin sahabatnya itu tak mengenali dirinya.

Ino menatap Naruto tak percaya. "Apa kau juga tak mengenaliku, Naruto?" tanya Ino hati-hati. Naruto menggeleng lemah. Suara isak Sakura terdengar, gadis itu menangis tertunduk.

Sasuke mendengar keributan kecil itu, lalu menarik pergelangan tangan Naruto. Membawa gadis itu pergi dari cafeteria. "Lepasakan aku! Kau mau membawaku kemana?" tanya Naruto, gadis itu meringis, menahan sakit di pergelangan tangannya karena digenggam sangat kuat oleh Sasuke. Sasuke menghentikan langkahnya, kemudian membalikkan badannya, menyandarkan punggung Naruto ke dinding. Pemuda itu menatap gadis dihadapannya. Naruto dapat melihat wajah Sasuke dengan sangat jelas, hembusan hangat nafas Sasuke pun bisa dirasakannya. Aroma mint langsung menguar ke indera penciuman Naruto.

Sesaat mereka terdiam, saling memandangi satu sama lain. Onyx bertemu Sapphire. Betapa Sasuke merindukan mata itu. Betapa Sasuke ingin memandangi sepasang bola mata itu lebih lama lagi. "Aku merindukanmu, Naru" ujar Sasuke lirih, menatap gadis dihadapannya dengan pandangan sayu. Senyum tipis terukir di bibir pemuda itu. "Kemana saja kau? Kenapa baru muncul sekarang? Kau marah padaku?" tanya Sasuke bertubi-tubi. "Kau tahu, aku mencarimu selama ini, Naru" ujar Sasuke tertunduk.

Naruto mengernyit, mencarinya, merindukannya. Sebenarnya pemuda dihadapannya ini siapa? Kenapa dia berkata seolah-olah mereka ini pernah bersama sebelumnya? Padahal, Naruto merasa tak mengenal pemuda itu. "Maaf, apa kita pernah bertemu sebelumnya? Kau itu siapa?" tanya Naruto.

Sasuke mendongakkan kepalanya, menatap wajah Naruto lagi. "Kau tak mengenaliku, Naru?" tanya Sasuke. Lagi-lagi Naruto dibuat bingung oleh pemuda itu, Sasuke memanggilnya dengan nama kecilnya. "Aku benar-benar tak mengenalmu. Kau siapa?" tanya Naruto lagi

Bagai petir di siang bolong, Sasuke benar-benar terkejut bukan main mendengar ucapan itu terlontar dari mulut Naruto. Pemuda itu melangkah mundur, beranjak pergi dan meninggalkan Naruto disana dengan seribu kebingungan. Naruto menatap punggung Sasuke yang mulai menjauh itu. Gadis pirang itu masih berdiri di tempatnya berada. Memikirkan semua hal yang terjadi, gadis pink yang bernama Sakura itu dan juga pemuda Uchiha yang tadi menyeretnya sampai diujung koridor yang sepi ini.

"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Naruto dan bersamaan dengan itu angin berhembus lembut, menerbangkan helaian rambut pirangnya

.

.

.

.

.

.

"Bisa kau ceritakan apa yang terjadi disini, Hinata?" tanya Neji pada adik perempuannya tersebut. Hinata mengangguk kecil, gadis itu mengela nafas berat kemudian berkata. "Sebenarnya kami mengenal Naruto" ujar Hinata. "Kalian mengenalnya?" tanya Gaara mulai tertarik. "Ya, kami dulu bersekolah di sekolah yang sama dengannya, Tokyo Junior High School" ucap Hinata.

"Kalau kalian bersekolah di tempat yang sama, kenapa dia bilang dia pindahan dari L.A?" tanya Shikamaru

"Itu karena dia pergi dari Tokyo sehari setelah kami merayakan hari ulang tahunnya" ucap Sakura tiba-tiba. Gadis itu menyeka air matanya dengan kasar. "Naruto mengalami trauma pasca melihat kedua orangtuanya tewas di tangan perampok" ucap Sakura bergetar.

"Kami tak tahu jika Naruto mengalami trauma dan yang lebih parahnya lagi kami merayakan hari ulang tahunnya, padahal Naruto trauma pada hari ulang tahunnya sendiri" sambung Ino. "Orangtuanya meninggal disaat hari ulang tahunnya?" tebak Shikamaru yang dibalas anggukan kepala oleh Ino.

"Naruto tak pernah hadir ke sekolah sejak hari itu, kami sudah datang ke manssion-nya tapi kami selalu diusir oleh panjaga manssion itu" ucap Hinata. "Dan suatu hari kami berhasil menerobos masuk ke dalam manssion itu, di hari itu pula kami tahu rahasia besar tentang Naruto. Rahasia bahwa dia di bawa pergi dari Tokyo oleh kakaknya dan juga tentang Naruto yang sebenarnya adalah….. putri bungsu dari pasangan Namikaze Minato dan Namikaze Kushina" ucap Hinata lagi.

"Bukankah itu pasangan yang meninggal secara tragis beberapa tahun lalu?" tanya Kiba kaget. "Iya, kau benar" sahut Sakura. "Berita kematian tentang mereka terus disiarkan selama tiga minggu berturut-turut" ujar Neji yang sedari tadi diam

"Lalu, kenapa dia tak mengenal kalian? Bukankah kalian adalah teman-temannya?" tanya Shikamaru. Hinata mengela nafas berat. "Kami juga tak tahu kenapa Naru-chan tak mengenali kami seperti itu. Kami tak pernah tahu kabarnya sampai hari ini. Ini adalah pertemuan pertama kami setelah 4 tahun ia menghilang" ucap Hinata.

Semua diam, tak ada yang bersuara setelah Hinata menyelesaikan ceritanya. Mereka terlalu larut dalam pemikirannya masing-masing. Sampai dengan tiba-tiba Gaara beranjak dari posisi duduknya. "Kau mau kemana?" tanya Kiba

"Mencari Naruto dan Sasuke" jawab Gaara singkat dan kemudian melangkahkan kakinya keluar dari cafeteria itu tanpa menyadari bahwa ada sepasangan mata yang menatap kepergiannya.

Pemuda berambut semerah bata itu berjalan di sepanjang koridor, mencari keberadaan Naruto yang tadi sempat dilihatnya diseret secara paksa oleh Sasuke. Gaara mengedarkan pandangannya dan di temukan sosok yang sedang ia cari tengah duduk di bangku kayu di sudut area hijau yang terletak tak jauh dari area pacu kuda. Gaara menghampiri Naruto, dilihatnya gadis itu sedang menatap sebuah kalung yang berada di telapak tangannya.

"Naruto" panggil Gaara. Naruto menoleh dan mendapati Gaara berdiri di sampingnya. "Kau membuatku kaget, Gaara" ujar Naruto seraya memasukkan kalungnya ke dalam saku seragamnya kemudian menggeser tubuhnya, menyisahkan tempat untuk Gaara duduki. Gaara menduduki dirinya di samping Naruto. "Maaf, jika kau mengagetkanmu, Naruto" ujar Gaara.

"Tidak apa-apa" ucap Naruto. Keheningan melanda keduanya Naruto tampak asyik dengan pemikirannya akan Sasuke, pemuda yang beberapa menit lalu menyeretnya dengan paksa dan kemudian bertanya akan sesuatu yang membuatnya bingung. Sedangkan, Gaara, pemuda itu memandang pepohonan yang menghiasi tempat mereka berada sekarang.

"Kulihat tadi Sasuke membawamu pergi dari cafeteria, apa kau mengenalnya?" tanya Gaara. "Tidak, aku baru pertama kali melihatnya" ucap Naruto. "Lalu, apa kalian membicarakan sesuatu?" tanya Gaara lagi. "Tidak" kata Naruto berbohong.

Sasuke sedang berada di toilet sekolah setelah sebelumnya mengusir semua orang yang berada di dalam toilet itu dengan paksa, nafasnya memburu. Terlihat cermin dihadapannya retak, tangan kanannya terluka dan darah segar keluar dari sana. Sasuke memandang dirinya dari pantulan cermin yang retak karena ulahnya tersebut.

"Kenapa kau tak mengenaliku? Apa kau membenciku, Naru? Sehingga kau melupakanku, begitu?" tanya Sasuke parau

Sakit. Sakit sekali, saat Naruto berkata jika dia tak mengenal dirinya. Bahkan ini lebih sakit daripada saat dirinya merindukan si blonde itu. Bagaimana mungkin kau tak merasakan sakit saat seseorang yang kau tunggu kehadirannya malah melupakanmu dan mengatakan jika dia tak mengenalmu. Bagaimana mungkin kau tak merasa sakit saat seseorang yang kau rindukan malah menganggapmu sebagai orang asing. Bagaimana mungkin kau tak merasakan sakit saat orang itu berdiri dihadapanmu tapi dia tak menyapamu atau memelukmu, mengatakan jika dia merindukanmu. Ya, begitulah yang dirasakan oleh Sasuke saat ini. Begitu sakitnya, sehingga ia tak dapat menahan air matanya untuk tidak keluar. Untuk kesekian kalinya, pemuda itu meneteskan air matanya.

Sasuke melangkah masuk ke dalam kelasnya. Bel sudah berbunyi lima belas menit yang lalu. Pemuda itu berjalan kearah tempat duduknya, tak peduli dengan pandangan semua orang yang mengarah ke tangannya yang terluka dan meneteskan darah yang mengotori lantai.

"Sasuke, kenapa dengan tanganmu?" tanya Anko khawatir saat dilihatnya tangan salah satu muridnya itu terluka dan mengeluarkan darah yang cukup banyak. Sasuke tak menjawab, pemuda itu seakan mengacuhkan pertanyaan sang guru.

"Kau harus membersihkan lukamu atau itu akan menjadi infeksi, Sasuke" ucap Anko lagi. Karena tak mendapatkan respon dari muridnya itu akhirnya Anko memutuskan untuk menyuruh Shikamru membawa pemuda raven itu ke UKS. Dan disinilah mereka berdua berada, di ruangan UKS dengan Shikamaru yang tengah membersihkan luka Sasuke.

"Kau benar-benar merepotkan, Sasuke" komentar Shikamaru. Sasuke tak mengubris perkataan sahabatnya itu, dia masih terus memandang keluar jendela. Entah apa yang sedari tadi dilihatnya.

Shikamaru meneteskan obat merah ke luka Sasuke kemudian membalut luka di tangan Sasuke itu dengan perban. Pemuda Nara itu berjalan ke lemari kaca yang terletak di sudut ruangan, menaruh kembali kotak P3K yang digunakannya tadi disana. Shikamaru menarik kursi yang terdapat di ruangan itu dan mendudukkan dirinya di samping ranjang panjang tempat Sasuke duduk.

"Dia tak mengenaliku, Shika" ujar Sasuke tiba-tiba. Shikamaru menoleh kearah Sasuke yang masih saja memandang ke jendela. Mendengar dengan penuh khidmat akan penuturan sahabatnya selanjutnya. Jarang-jarang 'kan sahabatnya yang minim ekspresi itu curhat begitu pada orang lain. "Dia tak mengenaliku" lirih Sasuke. "Siapa yang kau maksud, Sasuke?" tanya Shikamaru.

"Aku menunggunya, tapi saat dia kembali, dia malah tak mengingatku" ucap Sasuke. pemuda itu sudah mengalihkan perhatiannya dan kini tengah menatap dinding UKS yang berwarna putih itu dengan nanar. Apa yang dia maksud itu Naruro? pikir Shikamaru

"Apa yang harus kulakukan, Shika?" tanya Sasuke lirih. "Apa 'dia' yang kau maksud itu adalah Naruto?" Shikamaru berbalik bertanya. Bingung dengan kata 'dia' yang selalu disebutkan oleh Sasuke. Sasuke menoleh kearah pemuda Nara itu, menatap sang sahabat dengan pandangan yang tak bisa diartikan. "Ya" ucap Sasuke singkat.

Keheningan tiba-tiba melanda keduanya, tak ada yang bersuara. Hanya suara denting jam yang terdengar di ruangan itu. Sepertinya akan terjadi sesuatu yang merepotkan, batin Shikamaru.

.

.

.

.

.

.

Naruto berjalan dengan santai di sepanjang koridor sekolah, bel tanda pelajaran terakhir telah usai, sudah berbunyi lima belas menit yang lalu. "Naruto" panggil seseorang. Naruto menoleh ke belakang dan didapatinya Gaara sedang berlari-lari kecil untuk menghampirinya.

"Kau sudah ingin pulang?" tanya Gaara. "Tidak juga, hari ini aku berencana untuk jalan-jalan. Mengingat aku sudah lama meninggalkan Tokyo" ucap Naruto.

Ya, gadis pirang itu memang berencana untuk berjalan-jalan sebelum kembali ke rumah. Tadi dia sudah memberitahukan niatnya itu pada sang nenek dan neneknya mengijinkannya, walau harus dengan sedikit rayuan tentunya. Secara neneknya itu sama overprotective-nya dengan sang kakak.

"Kalau begitu, bagaimana kalau aku menemanimu?" tawar Gaara. Naruto menoleh kearah Gaara yang berada disampingnya. "Aku tak punya niat apa-apa. Sungguh. Aku hanya ingin menemanimu saja, aku takut kau tersesat. Kau 'kan baru tiba di Tokyo" ucap Gaara cepat saat dilihatnya raut keraguan di wajah manis gadis di sebelahnya.

Naruto menimbang-nimbang tawaran Gaara tersebut. Gadis itu membenarkan perkataan Gaara, dia memang tak terlalu mengenal jalanan Tokyo dan itu bisa saja membuatnya tersesat. Akhirnya gadis pirang itu memutuskan untuk….

"Baiklah, aku menerima tawaranmu untuk menemaniku" ucap Naruto. Gaara tersenyum senang saat Naruto menerima tawarannya tersebut. "Kita naik mobilku saja, bagaimana?" tanya Gaara yang dibalas anggukan kecil oleh Naruto.

Gaara membukakan pintu mobil untuk Naruto dan dengan senang hati Naruto masuk ke dalam mobil sport berwarna hitam milik Gaara itu. Gaara menutup pintu mobil kemudian melangkah kakinya memutari mobil untuk masuk ke pintu mobil sataunya. Dalam hati Gaara bersorak kegirangan, hal itu terlihat dari senyum yang tak henti-hentinya terukir di wajah tampan pemuda Sabaku itu.

Gaara sudah duduk di belakang kemudi. "Kau sudah siap Naruto?" tanya Gaara. "Ya, aku sudah siap" ucap Naruto. "Kalau begitu ayo kita pergi" seru Gaara dan bersamaan dengan itu Gaara menekan pedal gas, melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu. Tanpa mereka tahu jika Sasuke menatap kepergian mereka berdua. Wajah tampan itu mengeras, tangan itu terkepal sangat kuat membuat buku-buku jarinya memutih.

Saat ini Gaara dan Naruto sedang berada di pusat permainan terbesar di Tokyo, mereka berdua tengah mengantri membeli ice cream. "Kau ingin ice cream rasa apa, Naruto?" tanya Gaara sambil melihat papan bertuliskan berbagai jenis ice cream dan rasanya. "Rasa ramen" ujar Naruto. Gaara menoleh kearah Naruto. "Kau yakin ingin ingin memesan ice cream rasa itu?" tanya Gaara heran.

"Iya, memangnya kenapa?" tanya Naruto pada Gaara. "Tidak" ucap Gaara seraya menggelengkan kepalanya. Gaara memesan ice cream rasa ramen untuk Naruto dan rasa vanilla untuk dirinya, setelah itu mereka berdua mencari tempat untuk menikmati ice cream mereka. Dan di sinilah mereka sekarang, duduk di sebuah kursi panjang di bawah pohon sakura.

Naruto menjilati ice creamnya dalam diam sedangkan Gaara, pemuda itu tampak asyik melirik Naruto melalui ekor matanya dan melupakan ice creamnya yang hampir mencair itu. Melihat cara gadis itu menjilat ice creamnya membuat si sulung Sabaku itu terkikik geli. Naruto menoleh ke arah Gaara.

"Kenapa kau tertawa, Gaara?" tanya Naruto. Gaara menggeleng pelan. "Aku tidak menyangka gadis sepertimu menyukai ice cream itu" ucap Gaara. "Memangnya kenapa dengan ice cream ini?" tanya Naruto bingung. "Tidak ada yang memesan ice cream yang sedang kau makan itu sebelumnya" jawab Gaara. "Benarkah? Padahal ice cream ini rasanya enak lho" ujar Naruto sembari memandang ice cream-nya.

"Kau pernah mencoba ice cream ini, Gaara?" tanya Naruto. "Belum" ucap Gaara kemudian menjilat ice cream-nya yang mulai menetes itu. "Kalau begitu cobalah" perintah Naruto. Gadis itu menyodorkan ice cream miliknya kearah Gaara. "Aku tidak mau, Naru" ujar Gaara.

"Kenapa?" tanya Naruto. "Karena menurut mereka yang pernah mencobanya, rasa ice cream ini tidak enak" ujar Gaara. "Jangan berkata tidak sebelum kau mencobanya, Gaara" ujar Naruto. "T-tapi.." ucap Gaara gugup.

"Cicipilah sedikit dan kau akan tahu rasanya" ucap Naruto. Gaara menatap ice cream di hadapannya dengan ragu kemudian memandang Naruto. Naruto mengangguk menyakinkan. "Aku pastikan ice cream ini tidak beracun, Gaara" ucap Naruto mantap. Tentu saja gadis itu berkata seperti itu mengingat ice cream itu sudah menjadi ice cream favoritnya sejak ia kecil. Dan selama dia memakan ice cream itu, tidak ada hal-hal yang aneh terjadi padanya. Berarti, ice cream dengan rasa tak wajar itu bisa di konsumsi 'kan?

Gaara memakan ice cream dengan ragu, rasa khas dari ice cream itu langsung menguar di lidahnya. Gaara mengernyit. "Bagaimana rasanya?" tanya Naruto saat dilihatnya Gaara tak bereaksi apa-apa setelah mencicipi ice cream rasa ramen-nya itu. "Not bad" ujar Gaara. Naruto tersenyum puas. "Apa kubilang" ucap Naruto kemudian kembali menikmati ice cream miliknya.

Gaara tersenyum tipis, jujur saja sejak pertemuan mereka yang tak sengaja itu di Los Angeles, dia memang sudah menyukai gadis pirang bermarga Uzumaki tersebut. Bahkan ia rela menunda kepulangannya ke Tokyo hanya untuk bisa menghabiskan waktunya bersama dengan Naruto. Ya, Naruto memang berhasil mengalihkan dunia Gaara seutuhnya. Mampu membuat pemuda itu menghentikan sejenak kegiatan membacanya sekadar untuk membalas e-mail Naruto. Meluangkan waktu berharganya untuk menemani gadis itu jalan-jalan dan makan ice cream seperti saat ini.

'Sepertinya aku benar-benar menyukaimu, Naruto' batin Gaara seraya memakan ice creamnya yang mulai mencair. Dan hari itu mereka berdua habiskan dengan saling mengobrol. Sesekali Naruto membuat lelucon yang membuat Gaara tertawa.

.

.

.

.

.

.

Sasuke merebahkan tubuhnya di atas ranjang, kenyataan bahwa Naruto tak mengenalinya dan juga tentang Gaara yang ternyata pernah bertemu dengan Naruto mengusik pikirannya. Pemuda itu menatap langit-langit kamarnya, otak jeniusnya berpikir, berpikir jika Naruto hanya berpura-pura tak mengenalinya. Mungkin saja, gadis itu marah padanya karena kepergiannya ke New York sehingga gadis itu ingin membalasnya dengan cara berpura-pura melupakannya. Ya, mungkin saja begitu.

Kyuubi mengetuk pintu kamar Naruto. "Naru, kau sudah tidur?" tanya Kyuubi dari balik pintu. "Belum Kyuu-nii, masuk saja" ucap Naruto. Kyuubi membuka pintu kamar itu, melihat sang adik yang tengah menulis seseuatu di meja belajarnya. Kyuubi menghampiri Naruto. "Kau sedang menulis apa Naru?" tanya Kyuubi sembari mencondongkan tubuhnya, mencoba melihat apa yang sedang di tulis oleh Naruto.

Naruto menutup buku bersampul biru itu dengan cepat dan menatap Kyuubi. "Naru sedang tidak menulis apa-apa" ucap Naruto gugup. Kyuubi mengernyit. "Benarkah?" tanya Kyuubi. "T-tentu saja" ujar Naruto. "Kalau begitu, kenapa kau gugup begitu?" goda Kyuubi.

"Naru tidak gugup" ucap Naruto naik satu oktaf. Kyuubi menggangkat bahu. "Terserah" ujar Kyuubi kemudian mebalikkan tubuhnya dan berjalan kearah ranjang Naruto. Pemuda itu duduk di tepian ranjang, menyilangkan kakinya. "Bagaimana hari pertamamu di sekolah barumu, Naru?" tanya Kyuubi.

"Cukup menyenangkan" ujar Naruto seraya memasukkan buku bersampul biru tadi ke dalam laci meja belajarnya. "Kau sudah mendapat teman baru?" tanya Kyuubi lagi yang dibalas anggukan kepala oleh Naruto. Gadis itu melangkahkan kakinya kemudian merebahkan tubuhnya di sebelah Kyuubi. Kyuubi pun melakukan hal yang sama. Pemuda itu menjadikan kedua tangannya sebagai bantalan. Sesaat mereka terdiam, menatap langit-langit kamar Naruto yang sepertinya menarik itu."Kyuu-nii ingat dengan Gaara?" tanya Naruto setelah sekian lama mereka berdua diam. "Pemuda berambut merah yang kau temui di Los Angeles itu?" tanya Kyuubi memastikan. "Iya, dan Kyuu-nii tahu. Dia sekelas dengan, Naru" ucap Naruto.

"Dia juga tadi menemani Naru jalan-jalan" ucap Naruto lagi. "Apa?!" teriak Kyuubi kemudian bangkit dari posisi berbaringnya. "Kenapa Kyuu-nii berteriak seperti itu?" tanya Naruto. "Kenapa kau pergi berduaan dengan seorang pria?" Kyuubi berbalik tanya. Alis Naruto berkerut. Gadis itu bangkit kemudian menatap sang kakak yang kini berdiri sembari memangku kedua tangannya di depan dada. "Kyuu-nii tak suka kau pergi berduaan dengan seorang pria, Naru" ucap Kyuubi.

"Kami hanya mampir di Tokyo Land dan makan ice cream, Kyuu-nii" ujar Naruto. "Tetap saja Kyuu-nii tak suka itu" ujar Kyuubi. "Kenapa? Apa karena Gaara seorang laki-laki?" tanya Naruto. "Iya" ucap Kyuubi singkat. "Ayolah, Kyuu-nii. Aku dan Gaara itu hanya berteman saja dan kami juga tidak melakukan hal-hal yang aneh" ucap Naruto. "Kyuu-nii tak peduli, yang jelas kau tak boleh terlalu dekat dengan pria manapun tanpa sepengetahuan Kyuu-nii" perintah Kyuubi.

Naruto mendengus keras. "Kyuu-nii tak bisa mengaturku" ujar Naruto. "Tentu saja bisa, karena kau adalah tanggung jawab Kyuu-nii" ucap Kyuubi tak mau kalah. "Itu bukan alasan untuk Kyuu-nii melarangku berteman dengan laki-laki" ucap Naruto. "Kyuu-nii bilang tidak tetap tidak. Sekarang tidurlah, besok kau harus sekolah" ujar Kyuubi kemudian melangkahkan kakinya menuju pintu. Pemuda itu menolah kearah sang adik yang kini memandangnya dengan kesal.

"Satu hal lagi, jika kau ingin jalan-jalan. Kau bisa meminta Kyuu-nii untuk menemanimu" ucap Kyuubi dan kemudian menutup pintu kamar itu. Meninggalkan Naruo yang tampak kesal dengan sikap kakaknya itu.

.

.

.

.

.

.

Sasuke sedang menyantap sarapannnya dalam diam, memasukkan satu demi satu suapan ke dalam mulutnya. Pagi ini hanya ia dan kakak laki-lakinya saja yang berada di ruang makan. Tadi malam sekitar pukul sepuluh, ayah dan ibunya berangkat ke New York untuk urusan bisnis dan akan kembali tiga hari lagi. Sasuke meraih gelas berisi air kemudian menegukknya hingga habis. Meletakkan serbet yang berada di panggukannya diatas meja. "Aku sudah selesai" ucap Sasuke kemudian bangkit. Meninggalkan Itachi yang tengah memotong rotinya dan kemudian memasukkan potongan roti itu ke dalam mulutnya.

Mobil sport merah milik Sasuke memasuki area Tokyo International High School (TIHS), pemuda itu membelokkan mobilnya ke area parker sekolah itu kemudian memarkirkan mobilnya disana. Sasuke keluar dari dalam mobil dan beberapa siswi yang berada disana langsung berteriak histeris. Sasuke berjalan angkuh melewati gadis-gadis itu tanpa menoleh sedikit pun kearah mereka. Sasuke berdiri di ambang pintu kelasnya, melirik kearah Naruto yang sedang mengobrol dengan Gaara. Shikamaru menepuk bahu Sasuke. "Kau menghalangi jalan masuk, Sasuke" ucap Shikamaru yang baru saja tiba.

Sasuke menoleh sejenak kearah Shikamaru kemudian melangkah kearah tempat duduknya tanpa sedikitpun melepaskan arah pandangannya pada Naruto dan Gaara. Naruto yang merasa diawasi langsung menoleh dan didapatinya Sasuke yang sedang menatapnya. Sesaat mereka saling menatap hingga Naruto memutuskan kegiatan saling menatap itu.

Bel berbunyi nyaring, Gaara sudah kembali ke tempat duduknya. "Kau akrab sekali dengan gadis itu, Gaara" ucap Kiba. Gaara tak menanggapi perkataan Kiba, pemuda itu malah asyik memutar-mutar pena dengan jari telunjuk dan jari tengahnya. Beberapa saat kemudian Anko masuk ke dalam kelas itu, mengabsen setiap muridnya sebelum memulai pelajaran.

"Karena semuanya hadir, jadi hari ini saya putuskan untuk mengadakan ujian praktek memainkan alat musik" ujar Anko seraya menaruh sebuah gitar diatas meja. Kelas yang tadinya tenang itu mendadak ribut, ada yang mengatakan untuk membatalkan ujian mendadak tersebut, ada juga yang menggerutu.

"Diam! Atau kalian ingin mendapat nilai D untuk mata pelajaran ini?" ancam Anko dan kelas itu menjadi tenang kembali. "Bagus, kalau begitu sensei akan memanggil siapa yang akan maju pertama kali" ucap Anko sembari memandang anak didiknya. Anko tertawa dalam hati saat dilihatnya ekspresi tegang di wajah para muridnya. Ada yang menutup wajahnya dengan buku, ada yang menunduk, ada yang pura-pura tidak peduli, dan ada juga yang tampak tenang seperti halnya Naruto. Mulut Kiba tampak berkomat-kamit, sepertinya pemuda itu berdoa supaya bukan dialah yang dipanggil untuk pertama kali. Wajar saja, dia seperti itu. Mengingat pemuda itu hanya bisa menggebuk drum saja.

"Uzumaki Naruto" panggil Anko. Naruto mendongakkan kepalanya. "Ya, sensei" ucap Naruto. "Majulah, aku ingin mendengarkan permainan gitarmu" ujar Anko. Bangkit dari kursi kemudian melangkah kakinya ke depan kelas. Kiba menghela nafas lega, berterima kasih pada Tuhan karena bukan namanya yang dipanggil.

Anko menyodorkan gitar akustik itu kearah Naruto. Naruto menerimanya kemudian memasang tali itu ke tubuhnya. Anko mempersilakan Naruto untuk memulai. Gadis itu memandang teman sekelasnya sejenak kemudian memejamkan matanya.

Suara petikan gitar Naruto terdengar di seluruh penjuru ruangan itu. beberapa detik kemudian suara merdu Naruto pun terdengar.

Biarkan saja kekasihmu pergi

Teruskan saja mimpi yang kau tunda

Kita temukan tempat yang layak

Sahabatku

Kupercayakan langkah bersamamu

Tak kuragukan berbagi denganmu

Kita temukan tepat yang layak

Sahabatku

Kita mencari jati diri

Teman lautan mimpi

Aku bernyanyi untuk sahabat

Aku berbagi untuk sahabat

Kita bisa jika bersama

Kita berbagi untuk sahabat

Kita bernyanyi untuk sahabat

Kita bisa jika bersama

Jari-jari lentik Naruto beradu dengan senar gitar, petikan gitar itu mengalun merdu. Semua yang berada di ruangan tersebut menikmati permainan gitar Naruto. Entah siapa yang memulai, kini para siswa itu bertepuk tangan, mengikuti irama gitar Naruto.

"Kau ingat lagu itu, Ino?" tanya Sakura. "Iya, aku sangat mengingatnya. Lagu itu adalah lagu yang biasa kita nyanyikan dulu" ucap Ino. "Aku tak percaya akan mendengar lagu itu lagi" ujar Sakura. "Aku juga" sambung Ino.

Tiba waktunya kita untuk berbagi

Untuk saling memberi

Aku bernyanyi untuk sahabat

Aku berbagi untuk sahabat

Kita bisa jika bersama

Kita berbagi untuk sahabat

Kita bernyanyi untuk sahabat

Kita bisa jika bersama

Na na na na na na

Na na na na na na

Ouh ouh ouh ouh

Dan Naruto mengakhiri penampilannya tersebut. Membungkuk dan mengucapkan terima kasih. Kiba berdiri, member standing applause pada gadis itu. "Penampilanmu bagus Naruto" ucap Kiba. "Terima kasih" ujar Naruto. Gadis itu memberikan gitar yang di mainkannya tadi kepada Anko.

"Good job, Naruto. Dan sepertinya kau sangat menikmati sekali lagu itu. Apa lagu itu mempunyai makna khusus untukmu?" tanya Anko. "Terima kasih sensei. Lagu ini tak punya makna khusus bagi saya, saya hanya merasa pernah menyanyikan lagu ini sebelumnya. Entah kapan dan dengan siapa, saya tak ingat" ujar Naruto.

"Baiklah, kalau begitu berikan tepuk tangan sekali lagi kepada Naruto atas penampilannya itu" ujar Anko. Suara tepuk tangan kembali terdengar. "Kalau begitu, kau boleh kembali ke tempat dudukmu, Naruto" ucap Anko. Naruto mengangguk. "Terima kasih" ujar Naruto dan melangkah ke kursinya.

"Dan selanjutnya adalah Inuzuka Kiba" ucap Anko. Kiba kaget saat namanya disebut. "Aku?" tanya Kiba. "Ya, kau Kiba. Sekarang majulah dan berikan penampilan terbaikmu pada kami" ujar Anki. "T-tapi, aku tak bisa bermain gitar, sensei" ucap Kiba.

"Aku tidak peduli itu, sekarang majulah atau kau ingin namamu masuk ke dalam siswa tak lulus di mata pelajaranku" ancam Anko. Dan dengan lunglai akhirnya Kiba bangkit dari kursinya dan melangkah ke depan kelas.

'Shit' umpat pemuda jabrik itu

.

.

.

.

.

.

Naruto sedang berjalan menuju perpustakaan saat dengan tiba-tiba seseorang menariknya dan membawanya pergi entah kemana. "Bisa kau lepaskan aku, Uchiha-san?" pinta Naruto. Kini dirinya tengah dibawa Sasuke menuju area kolam renang yang berada di lantai 5 gedung TIHS. Sasuke membuka pintu dihadapannya dengan paksa, membawa Naruto masuk. Sasuke melepaskan pegangannya dari pergelangan tangan Naruto. Naruto tersentak kaget saat dengan tiba-tiba Sasuke memeluknya. Gadis itu berusaha melepaskan pelukan Sasuke.

"Aku mohon, biarkan aku memelukmu, Naru. Sebentar saja" ucap Sasuke dan Naruto pun menuruti perkataan pemuda yang tengah memeluknya tersebut. Untuk sesaat mereka terdiam, Sasuke masih memeluknya bahkan pelukannya semakin erat. "Aku merindukanmu, Naru" ucap Sasuke lirih.

Naruto bingung dengan sikap pemuda ini. Kemarin pemuda itu menayakan pertanyaan 'apa kau mengenaliku, Naru?' dan sekarang pemuda itu memeluknya dan mengatakan jika ia merindukannya. "Kau marah padaku, Naru?" tanya Sasuke. naruto yang tak tahu arah pembicaraan Sasuke hanya diam saja.

"Maafkan aku, maaf sudah pergi dan meninggalkanmu disini" ucap Sasuke lagi. Naruto tetap diam tak tahu harus mengatakan apa. "Aku tahu kau marah, tapi aku mohon jangan berpura-pura jika kau tak mengenaliku, Naru" ujar Sasuke. Naruto melepaskan pelukan Sasuke darinya. Menatap wajah pemuda itu. "Aku sama sekali tak mengerti maksudmu, Uchiha-san" ujar Naruto.

"Aku bahkan tak pernah ingat jika aku mengenalmu" ucap Naruto lagi. Sasuke mendongakkan kepalanya, menatap Naruto. Melihat apakah gadis yang berdiri dihadapannya itu berbohong atau tidak. Dan Sasuke tak menemukan sinar kebohongan itu di mata Naruto. Gadis itu jujur, gadis itu mengatakan yang sebenarnya.

"Maaf, sepertinya aku harus pergi" ucap Naruto dan beranjak pergi dari tempat itu, meninggalkan Sasuke sendirian disana. Sesaat setelah Naruto pergi, Sasuke merasakan lutunya lemas, dia tak sanggup untuk berdiri dan pemuda itu jatuh terduduk di lantai dingin itu.

"Semudah itukah kau melupakanku, Naru?" lirih Sasuke

Kyuubi sedang mencari restaurant, kebetulan ini sudah waktunya jam makan siang. Dan pemuda itu memberhentikan mobilnya di sebuah restaurant yang menyediakan masakan western. Kyuubi memarkirkan mobilnya di depan restarurant tersebut, keluar dari dalam mobil dan melangkah memasuki restaurant itu. Memilih tempat yang nyaman dan pilihannya jatuh pada kursi nomor 10 yang berada di dekat jendela dan sedikit menyudut. Kyuubi sudah duduk di tempatnya, memanggil pelayan agar dia bisa cepat memesan makanan.

"Pelayan" panggil Kyuubi

Itachi menyesap kopinya, sudah tiga jam dia berada di restaurant ini. Sebelumnya dia bertemu dengan client-nya, membicarakan bisnis tentunya. Dan pemuda itu tetap disana walaupun client-nya sudah pergi dari dua jam yang lalu. Dia memutuskan untuk berada disana sembari menunggu jam makan siang. Itachi sedang membaca Koran saat di dengarnya suara yang sangat ia kenal.

'Suara itu? Tidak, tidak mungkin, Kyuubi ada disini' batin Itachi tapi pemikirannya itu salah saat dilihatnya sosok Kyuubi sedang duduk tak jauh dari tempatnya berada. "Kyuubi" ucap Itachi tak percaya. Itachi memperjelas penglihataannya, mungkinkah yang dilihatnya itu Kyuubi? Ya, itu pasti Kyuubi. Dia tak mungkin salah mengenali seseorang. Itachi menghampiri meja Kyuubi.

"Kyuu" panggil Itachi. Kyuubi menoleh dan dia cukup terkejut saat di dapatinya Itachi berdiri dihadapannya. "Itachi" ucap Kyuubi.

Naruto kembali ke kelasnya membatalkan niatnya yang tadi ingin ke perpustakaan. Gadis itu melangkah menuju kursinya. Duduk disana, memejamkan matanya sejenak. Naruto menarik nafas dan menghembuskan perlahan. Setelah sudah cukup tenang, Naruto mengambil earphone di dalam tasnya, menyalakan i-pod miliknya kemudian memutar lagu dari salah satu penyanyi favoritnya. Mungkin dengan memutar lagu itu dapat membuat pikirannya yang sempat kacau karena kejadian di area kolam renang tadi, dan dia berharap bisa melupakannya.

Sakura masuk ke dalam kelas dan mendapati Naruto sedang duduk di kursinya tampak asyik mendengarkan lagu. Sakura menghampiri Naruto. Gadis pinky itu berharap Naruto mengingatnya. Sakura menyentuh lengan Naruto, membuat gadis pirang itu sedikit terkejut. Naruto melepaskan earphone-nya. "Ada apa?" tanya Naruto sedikit kesal karena diganggu oleh gadis dihadapannya itu.

"Maaf, jika aku mengagetkanmu, Naruto" sesal Sakura. "Tidak apa-apa. Lalu, kenapa kau mengangguku? Ada yang ingin kau bicarakan?" tanya Naruto datar. Sakura menelan ludahnya, mendadak lidahnya menjadi keluh. Padahal tadi dia sudah berniat untuk berbicara dengan Naruto.

Naruto mengernyit bingung saat dilihatnya Sakura hanya diam saja. "Kalau tidak ada yang ingin kau bicarakan, bisakah kau tak mengangguku sebentar? Aku sedang mendengarkan lagu" ujar Naruto dan bersiap-siap untuk memasang earphone-nya kembali.

"T-tunggu" ujar Sakura. Naruto menaruh kembali earphone-nya diatas meja. "S-sebenarnya aku ingin bertanya seseuatu padamu, Naruto" ucap Sakura. "Apa?" tanya Naruto. Sakura memberanikan diri menatap Naruto. "Apa kau benar-benar tak mengenaliku?" tanya Sakura.

Naruto menghela nafas berat. Kenapa sejak ia masuk ke sekolah barunya ini. Baik Sasuke maupun gadis bernama Sakura yang sekarang tengah berdiri dihadapannya selalu menanyakan perkataan yang sama. "Dengar Sakura, aku baru saja mendapatkan pertanyaan yang sama tadi. Dan sekarang kau bertanya tentang hal itu juga, jujur saja, aku tak mengenalmu. Sama sekali tak pernah mengenalmu atau mungkin kita pernah bertemu dan aku melupakannya. Entahlah, aku tak tahu itu. Yang ku tahu hanya satu, aku bertemu denganmu untuk yang pertama kalinya di sekolah ini" ucap Naruto

"Aku ini sahabatmu, kenapa kau melupakanku?" tanya Sakura. Gadis itu mulai terisak, menatap Naruto. Naruto dapat melihat jika mata Sakura mulai berkaca-kaca. Gadis Haruno itu kemudian berlari keluar kelas, meninggalkan Naruto yang menatap kepergian Sakura. Perasaan bersalah menghinggapi hatinya, Apa kata-kataku terlalu kasar? tanya Naruto dalam hati.

"Bagaimana kabarmu, Kyuu?" tanya Itachi. "Baik, kau sendiri?" tanya Kyuubi. "Seperti yang kau lihat. Aku sangat baik" jawab Itachi. Kyuubi memotong steak-nya kemudian menusukknya dengan garpu dan memasukannya ke dalam mulut. "Selama ini kau ada dimana? Sasuke mendatangi kediaman Uzumaki sebulan yang lalu dan Iruka-san bilang kau pergi membawa Naruto empat tahun lalu. Sebenarnya ada yang terjadi sejak kepergian kami ke New York?" tanya Itachi. Kyuubi meneguk jusnya, kemudian menatap Itachi.

"Sebenarnya aku tak ingin menceritakan hal ini padamu. Tapi, kau harus mengetahui hal ini" ucap Kyuubi. Itachi sudah siap mendengarkan cerita Kyuubi. "Kau pasti sudah tahu jika Naruto mengalami trauma karena kematian orangtua kami" ucap Kyuubi yang dibalas anggukan oleh Itachi.

"Kau juga tahu jika kehadiran Sasuke membuat Naruto kembali ceria lagi, tapi semenjak kepergian Sasuke, Naruto kembali mengurung dirinya di kamar. Dia tak mau makan, dia hanya duduk diam di kamar. Dan itu membuat nenek mengusulkan untuk membawa Naruto ke psikater, aku tentu saja menolaknya. Naruto itu tidak gila, dia hanya belum siap untuk kehilangan orang-orang yang dicintainya" ucap Kyuubi.

Itachi memandang Kyuubi yang tengah tertunduk itu. "Kami tak tahu jika Naruto mendengar percakapan kami itu, besoknya dengan tiba-tiba, dia sudah berada di ruang makan menyiapkan sarapan untuk kami bahkan dia membantuku mengenakan dasi. Aku tentu saja kaget, melihat adikku yang berberapa bulan hanya duduk diam dan menatap kosong keluar jendela saat itu berdiri dihadapanku" ujar Kyuubi seraya tersenyum getir mengingat kejadian itu.

"Beberapa hari berlalu, aku mengunjungi kamarnya bermaksud untuk memberikannya boneka. Tapi, kau tahu apa yang kulihat, Itachi?" tanya Kyuubi pada Itachi . "Aku melihat Naruto sedang makan seperti orang kesetanan. Aku menghampirinya, menanyakan kenapa dia seperti itu." ujar Kyuubi.

"Dan kau tahu apa yang dia jawab? Dia bilang dia melakukan hal itu supaya kami tak membawanya ke rumah sakit jiwa. Dia bilang jika dia makan banyak, dia tak akan dianggap gila dan kami tak akan membawanya ke rumah sakit jiwa" ucap Kyuubi.

"Setahun berlalu, Naruto mulai mau berkomunikasi dengan orang lain dia bahkan bersekolah di tempat formal dan tak menjalani home schooling. Aku senang, setidaknya Naruto bisa melupakan trauma-nya sedikit demi sedikit, tapi aku salah. Tepat di hari ulang tahunnya yang ke-12, kami baru tahu. Selama itu, Naruto menyembunyikan trauma-nya sendiri berusaha menutupi ketakutanya demi tak membuat kami khawatir. Hari itu, Naruto mengamuk. Trauma-nya kembali muncul, karena hal itulah aku berniat membawa Naruto pergi dari Tokyo. Berharap dia menyembuhkan traum-nya" ucap Kyuubi.

"Kau membawa Naru-chan kemana?" tanya Itachi. "Los Angeles, disana Naruto menjalani hipno-terapi" ucap Kyuubi. "Apa itu berhasil?" tanya Itachi lagi. "Iya, tapi setiap pengobatan pasti ada konskuensinya, bukan?" ujar Kyuubi.

"Konsekuensinya?" tanya Itachi bingung. Kyuubi mengangguk pelan. "Naruto melupakan sebagian dari ingatannya" kata Kyuubi. "Dan Naruto melupakan kenangannya bersama dengan Sasuke" sambung Kyuubi lagi. Itachi menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, memijit pangkal hidungnya. "Dimana Naru-chan sekarang?" tanya Itachi.

Kyuubi melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Dia masih ada di sekolah barunya" jawab Kyuubi. "Sekolah?" beo Itachi. "Ya, dia baru dua hari berada di sekolah barunya" ujar Kyuubi. "Dimana?"

"Tokyo International High School" ucap Kyuubi singkat. Itachi menghela nafas berat saat mendengar ucapan Kyuubi. "Ada apa?" tanya Kyuubi saat melihat raut wajah cemas di wajah pucat si sulung Uchiha itu. "Sasuke juga bersekolah disana" ucap Itachi pelan. "Apa?!" ucap Kyuubi kaget.

.

.

.

.

.

.

Sakura sedang berjalan menuju rumahnya. Pikirannya menerawang saat dia berbicara dengan Naruto di sekolah tadi. Gadis itu terus melamun tanpa mengatahui jika sebuah mobil tengah melaju di depannya. Suara klakson terdengar nyaring di telinganya. Sakura melihat sebuah mobil sedang melaju di depan matanya. Sakura menutup matanya kuat-kuat, takut melihat kejadian mengerikan tersebut. Namun, dengan tiba-tiba sebuah tangan kekar menarik tubuhnya menjauh dari jalan raya. Sakura dapat merasakan tubuhnya jatuh ke tanah.

Gadis itu membuka matanya perlahan dan melihat siapa yang menyelamatkannya dari maut. "S-sasuke" ucapnya pelan. Sasuke bangkit, membersihkan seragammnya yang kotor. "Apa kau ingin mati, huh?" tanya Sasuke ketus."A-aku tadi sedang melamun" ujar Sakura.

"Hanya orang bodoh yang melamun saat menyebrang" ucap Sasuke. "Maaf" ucap Sakura. "Dasar gadis bodoh" ujar Sasuke sinis. Sasuke berniat pergi dari tempat itu saat mendengar Sakura meringis kesakitan. "Kenapa dengan lututmu?" tanya Sasuke datar. "Sepertinya terkena batu saat kau menyelamatkanku tadi" ujar Sakura.

"Kau bisa berjalan?" tanya Sasuke. "Sepertinya tidak, kakiku juga terkilir" ujar Sakura. Dengan terpaksa akhirnya, Sasuke menggendong Sakura ala bride style. "Aaargh! Kau mau membawaku kemana Sasuke?!" tanya Sakura kaget. "Diam dan jangan banyak bergerak!" bentak Sasuke dan itu sukses membuat Sakura menutup mulutnya. Sakura yang malu karena orang-orang melihatnya, hanya menyembunyikan wajahnya di dada bidang Sasuke. Sakura dapat mencium aroma tubuh Sasuke yang menguar. Entah kenapa aroma tubuh Sasuke membuatnya nyaman.

Sasuke dan Sakura sedang berada di klinik terdekat untuk mengobati kaki Sakura. "Nah, sudah selesai. Luka di lututmu tidak parah nona, tapi aku sarankan untuk kau menggunakan tongkat agar kakimu yang cedera tidak semakin parah" ujar perawat itu. "Baiklah, arigatou" ucap Sakura.

Sakura keluar dari ruangan pemeriksaan, melihat Sasuke yang sedang duduk diam menunggungnya. "Aku sudah membayar pengobatanmu, sekarang beritahu aku alamat rumahmu. Aku akan mengantarmu pulang" ucap Sasuke datar.

Dan disinilah Sakura, berada di dalam mobil Sasuke. "Yang mana rumahmu?" tanya Sasuke. "Nomor 10, rumah berpagar putih" jawab Sakura. Sasuke memberhentikan mobilnya di depan sebuah rumah bergaya minimalis. "Turunlah" perintah Sasuke. "Ano… terima kasih sudah menolongku dan mengantarku pulang" ucap Sakura. "Hn, sekarang turunlah" ujar Sasuke. Sakura membuka pintu mobil Sasuke tapi sebelum dia keluar, gadis itu berkata. "Hati-hati di jalan Sasuke"

Sasuke tak menjawab setelah Sakura turun dan menutup pintu mobilnya, pemuda itu langsung menekan pedal gas dan melajukan mobilnya tanpa terlebih dahulu berpamitan pada Sakura. Sakura menatap kepergian Sasuke. "Ternyata Sasuke itu orang yang sangat baik, walau terkesan dingin dan sombong" ujar Sakura seraya tersenyum.

Gadis itu melangkah masuk ke dalam rumahnya. "Aww! Kakiku" pekik Sakura.

.

.

.

.

.

.

Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam, Sasuke langsung melangkah menuju kamarnya tanpa terlebih dahulu ikut makan malam bersama dengan kakaknya. Itachi yang tahu jika Sasuke sudah pulang berniat menemui adiknya itu setelah dia menyelesaikan makan malamnya.

Sasuke masuk ke kamar mandi, menyalakan shower tak peduli jika saat ini dia masih mengenakan seragam sekolah. Pertanyaan kenapa Naruto melupakannya terus berputar-putar di kepalanya. Sasuke jatuh terduduk di ubin kamar mandi miliknya, air membasahi wajah tampannya. "Aaargh!" erang Sasuke. Sasuke bangkit berjalan kearah wastafel. Sasuke memukul cermin dihadapannya hingga retak. "Aaargh! Kenapa kau melupakanku, Naru? Kenapa?!" teriak Sasuke. Belum puas dengan cermin yang sudah ia retakkan, Sasuke kembali memukul dinding, menendangnya tanpa memperdulikan rasa sakit yang menjalari tubuhnya. Saat ini dia ingin menyalurkan amarahnya.

"Kenapa kau melupakanku, Naru?!" tanya Sasuke lirih. Sasuke menyandarkan punggungnya ke dinding, tubuh itu merosot. Darah menetes dari tangannya yang dibalut perban itu. Padahal luka yang dibuatnya kemarin belum sembuh bisa-bisanya dia kembali membuat luka di tempat yang sama. Seragam itu sudah basah kuyub, rambut raven itu sudah lepek. Sasuke menunduk, memejamkan matanya.

Itachi masuk ke kamar mandi itu dengan tergesa-gesa saat mendengar teriakan Sasuke itu. "Sasuke" panggil Itachi. Itachi menghampiri sang adik, pemuda itu melangkah perlahan. Menyentuh bahu Sasuke, dia dapat merasakan jika saat ini tubuh Sasuke bergetar. "Sasuke" panggil Itachi. Sasuke menoleh, menatap sang kakak dengan pandangan yang menurut Itachi itu sangat menyedihkan. "Naruto melupakanku, Aniki" lirih Sasuke dan sesaat kemudian tubuh itu ambruk. Sasuke pingsan, untung saja Itachi dengan sigap menangkap tubuh itu. Membawa tubuh Sasuke keatas ranjang setelah sebelumnya mengganti seragam yang sudah basah itu dengan pakaian kering.

Dokter pribadi keluarga Uchiha sedang memeriksa keadaan Sasuke. Dokter itu melepas stetoskop-nya. "Bagaimana keadaannya?" tanya Itachi. "Suhu tubuhnya tinggi, Sasuke juga mengalami stress yang cukup berat" ujar dokter ber-tage name Pain tersebut. "Lalu, bagaimana dengan luka di tangannya?" tanya Itachi. "Lukanya tidak cukup parah, saya sudah membersihkannya dan membalutnya, Itachi-san" ucap dokter itu.

Itachi memandang wajah Sasuke. "Ini resep yang sudah saya tulis untuk Sasuke" ujar Pain. "Terima kasih dokter" ucap Itachi. "Sama-sama. Baiklah, kalau begitu saya permisi" ujar Pain. "Mari saya antar" sambung Itachi.

.

.

.

.

.

.

1 minggu kemudian….

Sudah seminggu lamanya, Sasuke tak hadir ke sekolah dan itu membuat Anko cemas. Jadi, dia dan beberapa murid berniat untuk mengunjungi Sasuke. anko dan kedelapan muridnya sudah berada di kediaman Uchiha. Naruto yang ikut serta dalam hal ini, tampak tak asing dengan kediaman itu. Padahal, ini pertama kalinya dia menginjakkan kakinya di tempat itu.

"Itachi-sama akan menemui kalian sebentar lagi" ucap maid bernama Kabuto itu. "Arigatou, Kabuto-san" ujar Anko. "Sama-sama. Naruto-sama senang sekali anda bisa berkunjung ke kediaman ini lagi" ucap Kabuto. "Kau tahu namaku?" tanya Naruto heran. "Tentu saja, Naruto-sama. Bukankah, anda sering berkunjung ke kediaman ini dulu" ujar Kabuto. Naruto mengernyit, saat ia ingin menanggapi perkataan Kabuto. Itachi datang. "Kabuto aku ingin berbicara denganmu setelah ini" ucap Itachi.

"Baik Itachi-sama. Kalau begitu saya permisi" ujar Kabuto. Itachi melihat kearah Naruto sejenak. "Maaf sudah menunggu lama" ujar Itachi. "Tidak apa-apa, Itachi-san" jawab Anko. "Sasuke sudah bisa di temui, kalau begitu mari saya antar" tawar Itachi.

Kedelapan siswa itu masuk bergantiann. Yang pertama adalah teman-teman Sasuke, kemudian disusul oleh Sakura cs. Naruto mendapat giliran terakhir. Gaara dan Kiba sudah pulang terlebih dahulu, disusul oleh Neji dan Shikamaru. Begitu juga dengan Sakura cs, jadilah dia sendiri. Naruto berdiri di depan pintu kamar Sasuke. Tiba-tiba pintu itu terbuka, Anko keluar menyuruh Naruto untuk masuk. Dengan perlahan Naruto melangkahkan kakinya. Di ruangan itu ada Itachi yang sedang berdiri di samping ranjang Sasuke, Anko yang berdiri di depan ranjang Sasuke dan sosok yang sedang sakit itu, duduk diatas ranjang dengan selimut yang menutupi kaki dan bagian perutnya.

Itachi mengajak Anko untuk keluar, memberikan privasi untuk keduanya. Naruto tak tahu harus berkata apa-apa. Dia hanya menatap lantai yang berada di bawahnya sedangkan Sasuke, pemuda itu tersenyum tipis melihat tingkah Naruto yang masih saja seperti yang dulu. Sasuke sudah tahu jika Naruto melupakannya karena efek dari hipno-terapi yang dijalani gadis itu. setidaknya dia cukup lega, karena Naruto melupakannya bukan karena keinginan gadis itu. "Apa kau akan dia saja disitu?" tanya Sasuke. Naruto mendonagkakn kepalanya, menatap Sasuke.

"Kau sudah merasa lebih baik, Uchiha-san?" tanya Naruto. "Kalau aku merasa tidak baik, untuk apa aku membiarkan kalian masuk ke dalam kamarku?" Sasuke bertanya balik. Naruto mengambil sesuatu dari dalam tas selempangannya. Naruto berjalan ke sisi tempat tidur Sasuke, menyodorkan sebuah kotak persegi panjang cukup besar kearah Sasuke. "Apa ini?" tanya Sasuke. "Buka saja" jawab Naruto.

Sasuke membuka kotak itu dan menemukan sebuah sweater berwarna drak blue di dalamnya. Sasuke mengambil sweater itu dan ternyata ada sebuah kartu ucapan di bawahnya. Sasuke membuka kartu ucapan yang berisi kata-kata.

Semoga Lekas Sembuh, Uchiha-san.

Salam,

Naru

"Kenapa kau memberikan aku ini?" tanya Sasuke. "Uchiha-san tak suka hadiah dariku?" tanya Naruto. "Jawab saja pertanyaanku, Naru" ucap Sasuke. "I-itu karena aku tak tahu harus memberi apa untuk Uchiha-san. Apa Uchiha-san tak suka?"

"Aku suka" ujar Sasuke. "Benarkah?" tanya Naruto. "Hn" gumam Sasuke. Entah kenapa, Naruto bisa mengartikan arti 'Hn' milik Sasuke itu. Naruto melihat nampan berisi makanan diatas meja. "Uchiha-san belum makan?" tanya Naruto. "Hn" gumam Sasuke lagi. "Uchiha-san harus cepat makan, agar lekas sembuh" ujar Naruto.

"Aku akan makan tapi dengan syarat" ucap Sasuke. "Apa?" tanya Naruto. "Kau menyuapiku dan berhenti memanggilku dengan Uchiha-san" ucap Sasuke. Naruto baru saja akan protes saat Sasuke mendahuluinya. "Aku tak menerima penolakkan" ujar Sasuke dan dengan terpaksa Naruto menuruti perkataan Sasuke.

Anko sedang mengobrol dengan Itachi di ruang tamu. "Hari sudah sore, sebaiknya saya memanggil Naruto" ucap Anko. "Tidak perlu, Anko-san. Biar saya saja yang akan mengantarya pulang, kebetulan keluarga Naruto dekat dengan keluarga kami" ucap Itachi.

"Oh, begitu. Kalau begitu saya pamit Itachi-san dan tolong sampaikan pada Narut jika sayapulang terlebih dahulu" ujar Anko. "Baiklah" ucap Itachi.

Naruto menaruh piring kosong itu keatas nampan, Sasuke menghabiskan makanannya sampai tak tersisa, padahal selama sakit dia tak pernah menyentuh makanan yang di bawakan oleh kakaknya itu. Haah~ sepertinya kehadiran Naruto memberikan dampak besak untuk kesembuhan pemuda itu.

Itachi masuk ke kamar Sasuke, secara refleks Naruto langsung bangkit dari sisi tempat tidur itu. "Anko-san sudah pulang, tapi tenang saja. Aku akan mengantarmu pulang, Naru-chan" ucap Itachi. "Tidak perlu Itachi-nii, maaf, maksud saya Itachi-san. Saya bisa menelpon Nii-san untuk menjemput saya disini" ucap Naruto.

"Aku sudah menelpon kakakmu dan dia bilang tidak bisa menjemput karena sedang berada di Kyoto" ujar Itachi. "Itachi-san mengenal Kyuu-nii?" tanya Itachi. Itachi hanya tersenyum kemudian mengambil nampan diatas meja dan beranjak dari sana. Sebelum menghilang dibalik pintu, Itachi menoleh kearah Naruto. "Panggil aku Itachi-nii saja, Naru-chan" ucap pemuda itu dan menghilang di balik pintu.

Anggota Uchiha sedang menyantap makan malam mereka, kali ini dengan formasi yang lengkap. Ada Fugaku, Mikoto, Itachi, Sasuke dan sseorang gadis berambut pirang yang tampak kontras diantara yang lainnya. Siapa lagi jika bukan Naruto. Sebenarnya dia ingin cepat-cepat pulang kalau saja sang nyonya Uchiha tak membujuknyauntuk makan malam bersama. Naruto tak tega untuk mengatakan kata selain 'iya' pada wanita itu.

Sasuke menyantap makan malamnya, malam ini dia tampak sangat segar. Pemuda itu mengenakan sweater pemberian dari Naruto. Padahal Naruto meminta pemuda itu untuk tidak memakainya sekarang tapi pemuda itu keras kepala dan tetap keukeuh ingin memakai sweater itu. Akhirnya Naruto mengalah dan membiarkan Sasuke memakainya.

"Bagaimana kabar kakek dan nenekmu, Naruto?" tanya Fugaku. "Mereka baik-baik saja, paman" jawab Naruto. "Dan kakakmu, Kyuubi?" tanya Fugaku lagi. "Kyuu-nii juga baik-baik saja, sekarang Kyuu-nii sedang menjalankan Uzumaki Corp, menggantikan posisi kakek disana" ujar Naruto. Sebenarnya dia masih tak mengerti kenapa keluarga Sasuke begitu sangat mengenal keluarganya, padahal ia baru pertama kali bertemu keluarga itu.

"Setelah ini aku akan mengantarmu pulang, Naru-chan" ucap Itachi. "Baik" sahut Naruto. "Biar aku saja yang mengantar Naruto pulang" sambar Sasuke. "Tidak Sasuke, kau masih belum pulih. Kaa-san tak mau terjadi sesuatu jika kau membawa mobil. Biarkan saja aniki-mu yang menatar Naru-chan pulang. Bukan begitu anata?" tanya Mikoto pada sang suami. "Kaa-san mu benar, Sasuke. terlalu berbahaya jika kau membawa mobil dalam kondisi seperti ini" ucap Fugaku.

Sasuke mendengus sebal sedangkan Itachi tersenyum mengejek kearah adik laki-lakinya itu. Mereka berdua sudah seperti bersaing untuk mendapatkan Naruto saja.

To be Countinue

Pojok Suara :

Chapter kali ini panjang sekali. Jari saya sampai keriting, hahaha. Semoga kalian suka.

Saya nggak bisa balas review para pembaca, karena saya update-nya buru-buru, musti berangkat ke Surabaya soalnya. Nanti ketinggalan pesawat. Oke. sampai ketemu di chapter depan. Jaa nee..

Mind to review