Disclaimer : Naruto – Masashi Kishimoto

Pairing : SasuFemNaru

Rated : T

Warning : Genre, OOC, Typos, Alur kecepatan dan lainnya

Summary : Naruto, gadis berparas cantik yang membenci satu hari di hidupnya. Saat semua orang bahagia ketika hari paling spesial di hidup mereka itu datang. Naruto justru sangat membencinya. Ya, dia sangat membenci hari ulang tahunnya. Sangat benci.

Special Gift for You

By

Sentimental Aqumarine

Mobil sport itu melaju dengan kecepatan sedang melintasi jalanan kota Tokyo yang cukup lenggang pagi ini. Tentu saja lenggang, saat ini jam masih menunjukkan pukul enam tepat. Seorang pemuda tampan tampak fokus mengemudian mobilnya. Pemuda itu adalah Sasuke. Pukul lima pagi tadi, Sasuke sudah bangun dan bersiap-siap untuk pergi. Pagi ini dia berniat untuk menjemput Naruto dan mengajak gadis itu untuk berangkat sekolah bersama.

Naruto hendak melangkah memasuki ruang makan saat dengan tiba-tiba bel di rumahnya berbunyi. Melihat tak ada seorang maid-pun yang berada di sekitarnya, akhirnya gadis pirang itu melangkah menuju pintu dan melihat siapa yang bertamu pagi-pagi begini. Naruto membuka pintu dan cukup terkejut saat dilihatnya seseorang yang dia kenal sedang berdiri di depan pintu rumahnya.

"Sasuke" ucap Naruto

"Hn"

"Sedang apa kau disini?" tanya Naruto

"Tidak baik berbicara di ambang pintu begini, Naru" ujar Sasuke seraya melangkah masuk ke dalam

"Hei! Aku belum mempersilakanmu masuk Sasuke" ujar Naruto kemudian menyusul Sasuke yang kini mengarah ke ruang makan. Dasar menyebalkan, batin Naruto.

Naruto mendengus kesal saat dilihatnya Sasuke sudah duduk dengan santai di ruang makan. "Kenapa kau bertamu ke rumahku pagi-pagi begini, Sasuke?" tanya Naruto sembari berpangku tangan.

"Dimana kakek dan nenekmu?" Sasuke berbalik bertanya

"Ck, kau belum menjawab pertanyaanku, Sasuke" ucap Naruto kesal

"Duduklah, bukankah ini waktunya untuk sarapan? Tidak baik jika kau terus berdiri disana" ujar Sasuke seraya mengambil selembar roti dan mengoleskan selai diatasnya. Naruto melangkahkan kakinya kemudian menarik salah satu kursi kosong dan mendudukinya.

"Kau berkata seolah-olah kaulah tuan rumahnya, Sasuke" ucap Naruto. Sasuke hanya mengangkat bahu mendengar ucapan Naruto. Gadis pirang itu mengoleskan selai diatas rotinya sedangkan Sasuke, pemuda itu memakan rotinya sambil memandangi Naruto.

"Berhenti memandangiku, Sasuke" ucap Naruto

"Hn"

Keheningan melanda keduanya, tak ada yang bersuara. Keduanya tampak sibuk dengan sarapannya masing-masing sampai Sasuke memulai percakapan diantara mereka. "Dimana kakek dan nenekmu?" tanya Sasuke.

Naruto meraih segelas susu sebelum menjawab pertanyaan Sasuke. "Mereka sedang menghadiri pembukaan perusahan dari salah satu kolega mereka di New York" jawab Naruto

"Lalu kakakmu?"

"Entahlah, saat aku datang ke kamarnya tadi. Kyuu-nii sudah tak ada disana"

"Hn"

Naruto meletakkan rotinya diatas piring kemudian memandang Sasuke dengan intens. "Lalu, bagaimana denganmu?"

"Apanya yang bagaimana?" tanya Sasuke

"Kenapa kau bertamu ke rumahku sepagi ini?" tanya Naruto lagi

"Aku ingin mengantarmu ke sekolah" jawab Sasuke

.

.

.

.

.

.

Sakura baru saja sampai di sekolahnya saat mobil sport milik Sasuke melintas tepat di sampingnya. Gadis pink itu memandang kepergian mobil milik Sasuke itu, senyum terukir di bibirnya. Entah kenapa sejak hari dimana Sasuke menyelamatkannya dari kecelakaan itu. Sakura jadi terus memikirkan Sasuke. Mungkinkah jika ia menyukai Sasuke?

Naruto keluar dari dalam mobil Sasuke sesaat setelah pemuda itu membukakan pintu untuknya. Kemudian melangkahkan kaki menuju kelas dengan Sasuke yang berjalan disampingnya. Dan jangan lupakan Sasuke yang menggandeng tangannya dengan erat sepanjang koridor. Alhasil, pemandangan itu membuat para fans girl Sasuke berteriak histeris. Naruto sebenarnya ingin melepaskan genggaman Sasuke dari tangannya, apalagi saat dilihatnya beberapa tatapan mematikan dari para gadis yang menyebut diri mereka sebagai fans Sasuke mengarah kepadanya. Tapi, belum juga dia menarik tangannya dari genggaman Sasuke. Pemuda raven itu malah semakin mempererat genggamannya sehingga Naruto kesulitan untuk melepaskan tangannya.

"Lepaskan, Sasuke" pinta Naruto

"…."

"Sasuke"

"…."

"Lepasakan tanganku, Sasuke" pinta Naruto lagi. Tapi Sasuke tak menggubris perkataan Naruto. Barulah setelah sampai di kelas mereka, Sasuke melepaskan tangan Naruto.

"Jangan melakukan hal seperti itu lagi"

"Memangnya kenapa?"

"Kau tidak lihat bagaimana fans girl-mu melihatku tadi? Mereka seolah-olah ingin memakanku hidup-hidup, kau tahu!" omel Naruto

"Biarkan saja"

"Aaaargh! Dasar menyebalkan!" teriak Naruto frustasi. Tak sadar jika saat ini dirinya sedang menjadi pusat perhatian di kelasnya. Naruto mendudukan dirinya dengan kasar.

"Ada apa, Naru-chan?" tanya Hinata. Naruto menghembuskan nafasnya pelan sebelum .menjawab pertanyaan Hinata. Hinata tertawa saat Naruto mengakhiri ceritanya.

"Jangan tertawa, Hinata" ucap Naruto. "Hmmpt, gomen" ujar Hinata seraya menahan tawanya agar tak menyembur keluar. Naruto menggembungkan pipinya, kesal.

"Apa yang kau lakukan pada Naruto sampai dia marah seperti itu, Sasuke?" tanya Kiba. "Tidak ada" jawab Sasuke singkat. "Benarkah?" tanya Kiba tak percaya.

Bel berbunyi nyaring dan beberapa saat kemudian seorang pria beralis tebal dan berambut seperti mangkuk terbalik masuk ke dalam kelas 1-A. "Ohayou, minna-san" sapa sang guru yang diketahui bernama Gui itu.

"Ohayou, sensei" ucap para murid serempak. "Sekarang ganti seragam kalian dengan pakaian olahraga, saya akan menunggu kalian di lapangan" ucap Gui dan kemudian beranjak pergi dari kelas. Memberikan waktu untuk para muridnya untuk mengganti pakaiannya mereka.

.

.

.

.

.

.

Kyuubi sedang berada di kantor kepolisian Tokyo. Pemuda itu melempar berkas yang tadi di bacanya keatas meja. Kyuubi menyandarkan kepalanya yang mendadak pusing ke kepala kursi. Matanya beriris ruby itu menerawang jauh, ketukan pintu membuyarkan lamunan Kyuubi.

"Masuk" ucap Kyuubi. Terlihat seorang pemuda berambut orange membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan tempat Kyuubi berada. "Kau sudah membaca berkas yang kuberikan padamu?" tanya pemuda itu.

"Ya" ucap Kyuubi singkat

"Lalu, apa tindakanmu selanjutnya?" tanya pemuda itu lagi. Kyuubi menatap pemuda yang dua tahun lebih tua darinya itu. "Kumpulkan semua orang yang pernah bergabung ke dalam pasukan Rasenggan" perintah Kyuubi.

Pemuda yang duduk dihadapan Kyuubi itu menyeringai. "Sudah kuduga kau akan melakukan hal itu" ucap pemuda itu. "Baiklah, aku akan mengumpulkan semua anggota Rasenggan" lanjut pemuda itu lalu pergi meninggalkan ruangan Kyuubi.

Kyuubi meraih pigura berisikan foto kedua orangtuanya, membelai permukaan pigura itu dengan penuh perasaan. "Kyuu berjanji akan menangkapnya Kaa-san, Tou-san. Kyuu janji" ucap Kyuubi lirih dan penuh tekad.

Naruto dan Hinata sudah selesai mengganti pakaiannya mereka dan melangkah menuju lapangan. "Naruto, Hinata" panggil seseorang. Naruto menoleh ke belakang begitu juga Hinata. Ino dan Sakura tampak berlari menghampiri mereka berdua. Keempat gadis itupun berjalan menuju lapangan bersama-sama.

Beberapa siswa sudah berada di lapangan begitu juga dengan Sasuke cs. Kelima pemuda tampan itu kini dengan berdiri di tegah lapangan dengan Gui yang tampak berbincang dengan mereka. Naruto dan ketiga sahabatnya sedang duduk di pinggir lapangan.

"Kudengar, Sasuke terpilih menjadi ketua team basket" ucap Ino memulai perbincangan diantara mereka. "Kau tahu darimana, Ino?" tanya Naruto sedangkan yang ditanya hanya tersenyum centil membuat Naruto mengernyit bingung.

"Jangan meragukan kemampuannya dalam mencari informasi, Naruto" ujar Saskura saat dilihatnya raut bingung di wajah Naruto. "Kau tahu, dulu sewaktu SMP. Dia dijuluki sebagai Ratu Gosip" lanjut Sakura.

"Benarkah?" tanya Naruto

"Tentu saja, informasi yang kudapatkan selalu benar dan berasal dari sumber terpercaya" ucap Ino bangga. Sakura memutar bola matanya bosan. "Ya, si biang gosip yang diam-diam mencari informasi pemuda yang disukainya tapi tak pernah berhasil" ujar Sakura.

"Hei" suara Ino naik satu oktaf kemudian mengejar Sakura yang sudah berlari menuju ke tengah lapangan. Kemudian disusul oleh Naruto dan Hinata. Semua siswa sudah berkumpul dan berbaris ditengah-tengah lapangan. Gui menjelaskan bahwa para muridnya bisa bermain basket maupun voli. Setelah selesai menjelaskan dan mengetahui jika para muridnya sudah mengerti akhirnya Gui meniup pluitnya dan memperintahkan anak-anak didiknya untuk membubarkan barisan.

Sakura dan Ino tampak asyik bermain voli bersama para siswi lain. Naruto dan Hinata berdiri di pinggir lapangan, bingung ingin bermain basket atau voli. "Menurutmu, kita sebaiknya bermain apa?" tanya Naruto

"Bagaimana dengan voli?" tanya Hinata. Naruto menggelengkan kepalanya. "Aku tak bisa bermain voli" ucap Naruto jujur. "Kalau basket, bagaimana?" tanya Hinata lagi. Naruto tampak berpikir sejenak. "Baiklah, mungkin aku bisa" ujar Naruto seraya meraih bola basket dan mendribblenya ke tengah lapangan.

Naruto mengoper bola basket itu kearah Hinata. "Tangkap bola ini, Hinata" teriak Naruto. Hinata menangkap operan Naruto dengan mudah kemudian mendribble bole itu. Naruto melambaikan tangannya ke udara, bermaksud memberikan Hinata pentunjuk untuk melemper bola basket itu padanya.

Hinata yang mengerti maksud Naruto langsung melempar bola basket itu kearah Naruto. Naruto melompat, meraih bola basket yang berada diatasnya. "Dapat" ucap Naruto di tengah-tengah aksinya.

Naruto mendarat dengan mulus ke tanah. Gadis pirang itu mendribble bola basket itu menuju ring. Sasuke cs yang sempat asyik bermain basket di menghentikan permainan mereka saat Kiba menghentikan niatnya untuk mengoper bola yang ada padanya kearah Gaara, saat melihat lompatan indah Naruto. Gui yang berdiri di pinggir lapangan sudah sedari tadi melihat permainan basket Naruto dan Hinata. Pria pecinta warna hijau itu sempat berpikir jika Naruto tak akan mungkin bisa meraih bola yang berada tinggi diatas kepalanya itu. tapi, pemikirannya salah. Gadis itu dengan mudah dapat meraih bola itu dan mendarat dengan sangat mulus ke tanah.

Beberapa meter dari ring, Naruto sudah siap untuk melakukan shooting. Gadis itu melempar bola basket itu kearah ring. Bola itu melayang. Shikamaru menguap. Kiba melirik kearah Gaara, sambil sesekali memandang lemparan bola Naruto.

"Apa menurut kalian bola itu akan masuk?" tanya Kiba

"Aku rasa tidak" jawab Neji

Sasuke memadang bola yang melayang menuju ring itu sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Naruto menggigit bibirnya, saat dilihatnya bola yang dirinya lempar tak kunjung masuk.

Brak!

Suara bola basket yang membentur ring terdengar. Naruto menghentakkan kakinya ke tanah. Gadis itu menedangkan kakinya ke udara. Kesal, karena eksekusinya tak berjalan dengan lancar. Padahal dia sudah sangat berkonsentrasi saat melakukan shooting tadi.

"Shit!" umpat Naruto

Sasuke menyeringai, dia sudah menebak bahwa lemparan bola Naruto tadi tak akan berhasil masuk dan malah membentur ring. Tapi dia akui, bahwa gadis itu berbakat dalam bermain basket. Gui yang sedari tadi berada di pinggir lapangan, melangkahkan kakinya menuju Naruto yang kini masih kesal karena lemparannya gagal mengenai sasaran.

Hinata sudah berdiri disamping Naruto, menatap wajah Naruto yang tampak kesal. Lucu, batin Hinata gila.

"Aku tak tahu jika kau bisa bermain basket, Naruto" ucap Gui mengagetkan Naruto. "Sensei melihatnya?" tanya Naruto polos. "Kami juga melihatnya" ucap Neji. Naruto tampak terkejut, tak mengira permaianannya tadi dilihat oleh gurunya dan juga Sasuke cs.

"Lompatan yang indah, Naruto" puji Kiba seraya merangkul bahu Naruto. Sasuke mendelik tajam kearah Kiba saat sahabatnya itu merangkul Naruto dengan seenaknya. Sedangkan Gaara, pemuda itu memandang perlakuan Kiba dengan datar. Tapi tak begitu dengan perasaannya, ingin rasanya dia melempar pecinta anjing itu ke planet lain karena sudah berani merangkul gadis yang disukainya itu.

Kiba masih saja merangkul Naruto. Tanpa tahu jika aura gelap sudah melingkupi tubuh Sasuke maupun Gaara.

.

.

.

.

.

.

Di sebuah ruangan Kyuubi dan ketiga pemuda lainnya sedang duduk diam tanpa sedikitpun berniat untuk membuka mulut mereka. Sampai seorang pemuda berambut pirang yang sedang ayik dengan gantungan kunci berbentuk granat miliknya bersuara.

"Kenapa kau mengumpulkan kami kembali, Kyuu?" tanya pemuda itu tanpa sedikitpun mengalihkan perhatiannya dari gatungan kunci itu. Seorang pemuda berambut merah menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi dan kemudian menatap Kyuubi yang sedari tadi diam sejak mereka berempat masuk ke dalam ruangan ini.

"Aku juga ingin tahu apa tujuanmu memanggil dan mengumpulkan kami disini" ucap pemuda berambut merah itu.

Kyuubi menatap ketiga pemuda yang dulu adalah rekannya dalam satuan kepolisian Tokyo dengan seksama. Pemuda bermarga Uzumaki itu meraih sebuah anak panah dan melemparkannya kearah papan sasaran yang terletak di seberang meja.

Brak!

Anak panah itu tepat mengenai sasaran. Kyuubi menyeringai. Pemuda berambut pirang yang sedari asyik dengan mainannya langsung melirik kearah Kyuubi saat dirasakannya aura membunuh menguar dari tubuh Kyuubi. Dan benar saja, dilihatnya Kyuubi menyeringai. Ku harap, seringaian itu bukan menjadi awal pertanda yang buruk, batin pemuda itu.

Kyuubi kembali melempar anak panah itu dan anak panah itu tepat mengenai sasaran kembali. "Aku ingin membentuk Rasenggan kembali" ujar Kyuubi

"Kau sudah gila? Apa kau lupa jika kami bukan anggota kepolisian lagi?" tanya pemuda pirang bernama Deidara itu. "Ah! Aku lupa. Kau 'kan sudah pergi saat kami di nonaktifkan dari anggota kepolisan Tokyo" cibir Deidara.

"Untuk apa kau membentuk Rasenggan kembali?" tanya Sasori, pemuda berambut merah seraya melirik kearah Kyuubi.

"Berikan berkas itu, Pain" perintah Kyuubi pada seorang pemuda berambut orange yang duduk dihadapan Sasori. Pain menyodorkan berkas itu kearah Sasori dan Deidara. Sasori dan Deidara menerimanya. Kedua pemuda itu membaca berkas itu, beberapa saat kemudian dahi Sasori mengernyit.

"Jadi, karena ini kau memanggil kami?" tanya Deidara. Sasori meletakkan berkas itu keatas meja. "Setelah kau menghilang tanpa ada kabar dan membiarkan Rasenggan tanpa pemimpin. Kau meminta kami kembali, begitu?" tanya Deidara lagi.

"Aku tidak akan kembali dan tidak berniat untuk kembali. Jadi, kau buang saja keinginanmu untuk membentuk kembali Rasenggan!" ucap Deidara tajam kemudian meninggalkan ruangan itu. Sasori juga mengikuti langkah Deidara untuk meninggalkan ruangan tersebut.

Tinggallah Kyuubi dan Pain di dalam ruangan itu. Kyuubi tak bersuara. Ini memang salah dirinya yang meninggalkan ketiga rekannya dan memutuskan untuk berhenti dari anggota kepolisian Tokyo dan juga berhenti dari jabatannya sebagai pemimpin dari Rasenggan. Ini memang salah dirinya, yang pergi tanpa sepengetahuan ketiga rekannya. Semuanya salah dirinya. Salahnya yang berpikir jika tanpanya, ketiga rekannya bisa membuat Rasenggan terus berjalan. Ternyata pemikirannya salah.

Setelah setahun kepergian Kyuubi, Rasenggan mengalami kehancuran. Beberapa kasus yang ketiga rekannya tangani selalu berakhir dengan kegagalan. Rasenggan terpuruk, itulah kenapa pemimpian kepolisaian Tokyo, Hiruzen Surotobi meminta mereka membubarkan Rasenggan dan menonaktifkan ketiga rekannya, Pain, Deidara dan Sasori dari anggota kepolisian Tokyo.

Dua tahun berselang sejak mereka di nonaktifkan. Pain memilih untuk meraih cita-citanya sebagai dokter, dan kini pemuda berambut orange itu sudah menjadi seorang dokter di salah satu rumah sakit ternama di Tokyo. Pemuda itu juga sudah setahun belakangan ini menjadi dokter keluarga Uchiha.

Deidara, pemuda berambut pirang itu adalah mantan anggota kepolisian Tokyo yang memiliki bakat yang sangat unik. Pemuda itu bisa merakit bom yang biasa digunakan markas utama kepolisian Tokyo jika sedang menjalankan misi berbahaya. Sekarang, Deidara memiliki sebuah perusahaan senjata api legal yang diakui oleh negara.

Sedangkan Sasori, pemuda itu memilih untuk menjadi seniman. Rencananya dia akan terbang ke Paris untuk mengikuti pagelaran seni yang diadakan oleh kota dengan sejuta seniman itu. Tapi, penerbangannya terpaksa dia tunda saat Pain menelponnya dan memberi kabar bahwa Kyuubi sudah kembali ke Tokyo dan ingin bertemu dengan mereka. Dia sangat senang saat menerima kabar itu, tapi setelah bertemu dengan Kyuubi dan mengetahui alasan sahabat dan mantan rekannya itu meminta dirinya dan Deidara bertemu membuatnya kecewa. Ya, dia sangat kecewa. Setelah empat tahun menghilang dan tak ada kabar, sahabatanya itu malah meminta dirinya untuk bergabung dan membentuk kembali Rasenggan.

"Beri mereka waktu untuk berpikir, Kyuu. Bagaimanapun juga, ini terlalu mendadak untuk mereka" ucap Pain menghibur sahabatnya itu

Kyuubi tak menjawab, pemuda itu hanya memandang datar pigura berisikan dirinya dan ketiga rekannya lengkap dengan seragam kepolisian Tokyo yang terpampang jelas di sudut ruangan.

.

.

.

.

.

.

Naruto berjalan menuju ruang musik tempat dimana Anko menunggunya. Tadi siang setelah jam makan siang selesai, gurunya itu memintanya untuk menemuinya di ruang musik sepulang sekolah. Naruto membuka pintu dihadapannya dengan pelan.

Ceklek!

Anko menolehkan kepalanya kearah pintu dan tersenyum saat mendapati Naruto yang membuka pintu itu. "Kemarilah" perintah Anko kepada muridnya itu. naruto menuruti perintah sang guru. "Ada yang ingin sensei bicarakan denganmu" ucap Anko

"Apa itu, sensei?"

"Sensei ingin kau menjadi salah satu anggota dari EXO "

"EXO?" beo Naruto

"Ya, EXO. Itu adalah nama band yang sensei ciptakan." ucap Anko memperjelas

"Band?" beo Naruto lagi. "Tapi, sensei. Saya belum pernah bermain dalam band sebelumnya"

"Karena itulah sensei ada disini" ucap Anko. Dahi Naruto mengernyit. "Sensei akan mengajarimu dan anggota yang lain" lanjut Anko.

"Jadi, bagaimana? Kau setuju 'kan, Naruto?" tanya Anko penuh harap

"Hmm… a-aku.." ucap Naruto gugup. Anko menggenggam tangan Naruto. Naruto yang tak tega melihat raut wajah penuh pengharapan itu, akhinya memutuskan untuk mengiyakan ajakan senseinya itu. "Baiklah, sensei. Aku setuju" ucap Naruto

Anko bersorak kegirangan tak menyadari jika imej-nya telah hancur dihadapan muridnya sendiri. "Jadi, siapa-siapa saja anggota EXO itu, sensei?" tanya Naruto. Anko menghentikan kegilaannya bersorak-sorak ria.

"Sensei sudah ada kandidatnya" ucap Anko sembari menyeringai

Hari sudah gelap, Naruto baru saja pulang. "Terima kasih sudah mengantarku pulang, sensei" ucap Naruto seraya membungkukan badannya member hormat kepada Anko.

"Seharusnya akulah yang mengucapkan terima kasih karena kau sudah bersedia menjadi anggota EXO, Naruto" ucap Anko. Naruto tersenyum. "Sekarang masuklah, jangan tidur terlalu malam dan kerjakan PR-mu" perintah Anko

"Siap, sensei" ucap Naruto.

"Kalau begitu aku pulang dulu, Naruto. Jaa" pamit Anko

"Jaa, sensei" ucap Naruto seraya melambaikan tangannya

Setelah mobil Anko sudah tak terlihat lagi, Naruto melangkahkan kainya masuk ke dalam kediaman Uzumaki. Dilihatnya mobil sang kakak sudah terparkir rapi di dalam bagasi. "Sepertinya Kyuu-nii sudah pulang" ujar Nrauto kemudian melangkahkan kembali kedua kakinya.

Naruto melangkahkan kakinya meuju kamar saat dilihat Kyuubi sedang melamun di ruang keluarga. Naruto menghampiri pemuda yang 10 tahun lebih tua darinya itu. "Nii-san" panggil Naruto. Kyuubi tak menjawab.

"Nii-san" panggil Naruto lagi

"…."

"Nii-san"

"…."

Naruto menyentuh bahu Kyuubi, membuat pemuda itu terlonjak kaget. "Nii-san melamun?" tanya Naruto. "Tidak, Naru. Nii-san tidak sedang melamun" elak Kyuubi.

"Jangan membohongi Naru, Nii-san. Ada apa? Apa Nii-san ada masalah?" tanya Naruto cemas. Kyuubi menatap adik perempuannya itu, senyum terukir di bibirnya. Pemuda itu mengacak rambut pirang Naruto.

"Nii-san baik-baik saja. Seharusnya Nii-san yang bertanya, kenapa kau pulang semalam ini?" tanya Kyuubi.

Naruto memutar bola matanya bosan. "Ini masih jam tujuh Nii-san" ucap Naruto. "Tetap saja ini sudah malam" ucap Kyuubi tak mau kalah. Naruto memanyunkan bibirnya.

"Jadi, kenapa kau pulang semalam ini? Bukankah, sekolah sudah bubar sejak jam dua siang?" tanya Kyuubi. "Aku ada eskul musik, Nii-san" jawab Naruto seraya mendudukkan dirinya disamping sang kakak.

Kyuubi mengajak rambut adik perempuannya kembali. "Kau tak boleh terlalu lelah, Naru. Kau ingat itu?" perintah Kyuubi. "I knoow" ucap Naruto acuh.

"Kau ini. Sekarang mandi dan kita kan makan malam bersama" perintah Kyuubi. "Baiklah" ucap Naruto menurut. Sebelum beranjak pergi dari ruangan itu, Naruto mendaratkan sebuah kecupan di pipi sang kakak. "Aku menyayangimu, Nii-san" teriak Naruto setelah gadis itu keluar dari ruangan tersebut.

Kyuubi hanya tersenyum melihat tingkah adik permpuannya itu. "Nii-san juga menyayangimu, Naru" ucap Kyuubi pelan.

.

.

.

.

.

.

Seorang pemuda keluar dari bandara, dia membuka kacamata hitam yang ia gunakan. Sepasang mata beriris biru terlihat. "Welcome to Tokyo" ucap pemuda. Pemuda itu melangkahkan kembali kaki jenjangnya, mencari taxi yang bisa ia tumpangi. Setelah menemukan taxi. Pemuda itu memberikan alamat yang ingin ia tuju kepada supir taxi yang ia tumpangi. Pemuda itu tersenyum. "I'm coming my little sister" ucap pemuda itu kemudian menatap jalanan kota Tokyo dari jendela taxi.

Jam istirahat akan berbunyi beberapa menit lagi. Tapi beberapa menit itu terasa sangat lama bagi para siswa yang sangat membenci pelajaran Biologi. "Bisakah, si tua bangka itu menghentikan celotehan tidak jelasnya?" protes Kiba.

Shikamaru hanya tidur di sepanjang pelajaran. Sasuke, Gaara dan Neji hanya acuh mendengarkan penjelasan dari guru paling membosankan itu. Ya, Orochimaru. Pria paruh baya itu adalah guru Biologi sekaligus kepala sekolah di sekolah ini.

Ino sedang ayik dengan cermin miliknya. Sakura terlalu sibuk mencoret-corert buku tulisnya tanpa sadar bahwa dia sedang menulis nama Sasuke disana. Baru setelah sadar, gadis itu menghapusnya dengan cepat. Kenapa aku bisa menulis namanya disini? Tanya Sakura dalam hati.

Hinata tampak serius mendengarkan penjelasan dari Orochimaru. Ya, gadis indigo itu bercita-cita menjadi seorang dokter. Jadi, sebosan apapun cara gurunya itu menjelaskan. Hinata tetap akan mendengarkan dengan serius. Sedangkan Naruto, gadis itu sudah membayangkan semangkuk ramen yang akan ia santap sebentar lagi. Membayangkannya saja sudah membuat liurnya hampir menetes.

Kring!

Kring!

Bunyi bel terdengar nyaring ke seluruh penjuru sekolah. Para siswa di kelas 1-A bersorak senang karena sudah terbebas dari pelajran paling membosankan sejagad itu. Naruto dan juga ketiga sahabatnya sudah menghambur ke cafeteria sejak bel berbunyi beberapa saat lalu. Keempat gadis itu memilih untuk duduk di salah satu kursi di sudut cafeteria. Sakura dan Ino melangkah ke counter makanan untuk memesan makanan.

Suara teriakan para gadis menandai kedatangan Sasuke cs. Naruto tampak asyik dengan kamera digital Hinata, tak peduli dengan kedatangan Sasuke cs. Sasuke dan yang lainnya berniat untuk bergabung dengan Naruto.

Naruto masih terlalu asyik dengan kamera milik Hinata, sehingga tak menyadari jika Sasuke cs sudah sudah duduk manis di meja mereka. Naruto mendonagkkan kepala, saat di dengarnya suara Kiba. "Sejak kapan kalian ada disini?" tanya Naruto

"Sejak tadi, Naruto" jawab Kiba

Sakura dan Ino datang bersamaan dengan Neji dan Shikamaru yang sedang membawa nampan berisikan makanan pesanan teman-teman mereka. Naruto mengambil ramen miliknya dari nampan Sakura.

"Arigatou, Sakura" ucap Naruto. "Sama-sama" balas Sakura. Naruto memejamkan matanya sejenak, merangakai doa. Setelah itu, gadis pirang itu meraih sumpit yang berada disamping mangkuk ramennya.

"Itadaikimasu" ucap Naruto dan bebrapa saat setelahnya gadis itu sudah menyantap ramennya.

"Kita sudah sampai di Tokyo International High School, tuan" ucap supir taxi itu

"Yeah" ucap pemuda itu seraya keluar dari dalam taxi. Pemuda itu memandang takjub gedung sekolah yang berdiri di hadapannya. "It's amazing" pujinya.

"This your case, sir" ucap supir taxi itu seraya menaruh koper disamping pemuda itu. "Ah! Thank you" ucap pemuda itu seraya merogoh saku celananya dan menyodorkan beberapa lembar uang yen kepada sang supir.

Setelah taxi yang di tumpanginya sudah pergi. Pemuda itu melangkahkan kaki jenjangnya dan menyeret koper miliknya. Berniat untuk berjalan-jalan di sekolah barunya. Pemuda itu berjalan dengan santai, tak peduli dengan tatapan para siswa yang memandangnya aneh karena menyeret koper di area sekolah mereka.

Para gadis yang melihat wajah tampan pemuda itu setelah pemuda itu melepas kacamata hitamnya langsung berteriak histeris. Pemuda itu mendengus geli. "Crazy girls" ucap pemuda yang tak di ketahui namanya itu.

Naruto mendorong mangkuk ramennya yang sudah kosong. "Kalian tahu, 3 minggu lagi tem basket sekolah kita akan bertanding melawan tem basket dari sekolah St. Thomas High School" ujar Kiba kemudian menyedot lemon tea ice miliknya.

"Benarkah?" tanya Sakura

"Kau tahu darimana Kiba?" tanya Ino

"Gui sensei memberitahukan hal ini kepada kami di jam olahraga kemarin" jawab Kiba. "Jadi, kalian akan mewakili team basket sekolah kita untuk pertandingan itu?" tanya Naruto yang dibalas anggukan dari Kiba. "Dan Sasuke akan menjadi kapten kami" lanjut Kiba.

"Permisi, apa kalian bisa membantuku?" tanya pemuda pirang itu kepada beberapa siswi yang berdiri di koridor sekolah. Ketiga siswi itu menggangguk bersamaan.

"Aku bermaksud ingin mencari makanan. Kalian bisa membantuku untuk menujukkan letak cafeteria disini?" tanya pemuda itu lagi.

"T-tentu saja" ucap salah satu gadis berambut hitam dengan terbata-bata.

"K-kau hanya lurus saja, kemudian k-kau berbelok ke kiri" ujar gadis berambut ungu

"D-dan kau akan sampai di cafeteria" sambung gadis berlesung pipi itu

Pemuda itu tersenyum ramah. "Arigatou" ucapnya kemudian pergi meninggalkan ketiga gadis yang membeku karena senyumannya itu.

"Dia tampan sekali" ucap gadis berambut ungu bertage name, Konan. "Senyumannya benar-benar manis" sambung gadis berambut hitam. "Aku akan kehabisan darah jika terus menerus melihat pemuda tampan sepertinya" ujar gadis berlesung pipi.

Bruk!

Gadis berlesung pipi itu jatuh. "Tayuya!" teriak kedua gadis itu saat dilihatnya temannya pingsan dengan darah yang mengalir deras dari hidungnya.

Pemuda berambut pirang itu melangkah menuju cafeteria dengan koper yang masih setia diseret olehnya. Pemuda itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling saat dia sudah sampai di cafeteria. Namun, pandangannya tak lagi terfokus pada suasana cafeteria siang itu. Melainkan pada sosok yang tengah duduk sambil mengobrol dengan teman-temannya.

"My little sister" ucapnya kemudian melangkahkan kakinya menuju sosok itu.

Naruto sedang mengobrol dengan teman-temannya saat seseorang memanggil namanya. "Naruto" panggil sosok itu. Naruto menolehkan kepalanya ke belakang melihat sosok yang tengah berdiri tepat di belakangnya. Tak berbeda dengan Naruto, teman-temannya pun melihat sosok yang memanggil nama Naruto itu dengan bingung.

Pemuda bertubuh jangkung dengan rambut pirang. Sweter berwarna gelap dengan dalaman berwarna putih, jeans berwarna drak blue serta sepasang sepatu kets berwarna hitam dengan garis putih di kedua sisinya. Dan jangan lupakan koper yang pemuda itu bawa. Dahi Naruto berkerut, bingung dengan sosok yang berdiri dihadapannya ini.

"Siapa kau?" tanya Naruto pada pemuda tersebut. Pemuda itu melepaskan kacamatanya. Menampilkan sepasang iris biru miliknya. Pemuda itu tersenyum kemudian berucap. "Do you remember me?"

Naruto mengedipkan matanya saat melihat sosok yang sangat ia kenal sedang berdiri dihadapannya. Teman-teman Naruto memnadang tak percaya. Fisik pemuda itu mirip sekali dengan Naruto. "Apa itu saudara kembarnya, Naruto?" tanya Kiba.

Pemuda itu meregangkan kedua tangannya lebar. Bersiap-siap untuk memeluk Naruto. naruto menghambur ke dalam pelukan pemuda itu. Membuat Sasuke merasa napasnya tercekat.

"Menma" ucap Naruto di dalam pelukan sosok yang ternyata Menma itu

"Menma?" beo teman-teman Naruto, minus Sasuke, Gaara, Neji dan juga Shikamaru

"Yes, this is me, Naruto" ujar Menma, memeluk tubuh gadis yang lebih pendek darinya itu. "I miss you so much, dear" ucap Naruto seraya mengeratkan pelukannnya. Menma tersenyum sebelum akhirnya membalas ucapan Naruto. "I miss you too, my little sister" ucap Menma setengah berbisik.

Ingin rasanya Sasuke menjauhkan pemuda jangkung itu dari Naruto. Seenaknya saja dia memeluk Naruto-nya. Tak hanya Sasuke, Gaara pun berpikiran hal yang sama. Bagaimanapun juga dia menyukai Naruto dan dia tak akan rela jika ada satu orangpun yang berani menyentuh bahkan memeluk gadisnya sepertinya tengah pemuda bernama Menma itu lakukan.

.

.

.

.

.

.

Seorang pemuda tengah berdiri di sebuah ruangan dengan pencahayan yang rendah. Pemuda itu melangkahkan kakinya menuju sebuah ranjang tempat sosok yang sangat dikenalnya tengah terbaring tak berdaya. Pemuda itu membelai surai itu dengan lembut.

"Aku akan membalaskan perbuatan mereka padamu, Nii-san" ucap pemuda itu. "Aku akan membalasnya, karena itu bangunlah Nii-san" lanjut pemuda itu.

To be Countinue

Pojok Suara :

Maaf telat update. Karena sebentar lagi pergantian tahun, pekerjaan jadi semakin menumpuk sehingga menyita waktu saya. Karena saya telat update, jadi saya membuat fic baru untuk menebus ketelambatan saya.

Oke, kembali ke cerita. Bagaimana dengan chapter kali ini? Sakura belum menyadari perasaannya tuh, Gaara juga belum mendekati Naruto, padahal Sasuke sudah memulai aksinya. Ino juga begitu, gadis itu masih belum mendekati Gaara secara langsung.

Menma sudah muncul. Wow! Sepertinya persaingan antar tokoh sudah mulai terlihat. Btw, di scene terakhir itu siapa ya? Dan maaf untuk penggemar EXO, saya meminjam nama EXO sebentar untuk kelancaran fic ini.

Akhir kata saya ucapkan terima kasih

Sentimental Aquamarine pamit

See you and bye, bye, bye

Mind to review?