Disclaimer : Naruto – Masashi Kishimoto

Pairing : SasuFemNaru

Rated : T

Warning : Genre, OOC, Typos, Alur kecepatan dan lainnya

Summary : Naruto, gadis berparas cantik yang membenci satu hari di hidupnya. Saat semua orang bahagia ketika hari paling spesial di hidup mereka itu datang. Naruto justru sangat membencinya. Ya, dia sangat membenci hari ulang tahunnya. Sangat benci.

Special Gift for You

By

Sentimental Aqumarine

Sasuke memandang tajam punggung pemuda jangkung yang dengan seenaknya membawa Naruto pergi begitu saja saat dirinya masih mengobrol dengan gadis pirang itu. Sejak kedatangan pemuda jangkung yang selalu berada disekitar Naruto. Sasuke menjadi tak leluasa untuk mendekati gadis itu. Ya, pemuda jangkung itu bernama Menma. Nama seorang pemuda yang akhir-akhir ini sering menempel pada Naruto dan Sasuke benci itu.

#Flashback

Naruto melepaskan pelukannya dari tubuh Menma. Kemudian menatap wajah pemuda dengan tinggi 178 cm itu. "Kenapa kau tak memberitahukanku jika kau akan datang?" tanya Naruto.

"Aku hanya ingin membuat kejutan" jawab Menma

"Ya, dan kau berhasil membuatku terkejut"

Naruto dan Menma terlalu asyik melepas rindu sehingga tak menghiraukan ke delapan manusia yang sedari tadi memandangi mereka berdua.

"Heemm" Neji berdehem membuat Naruto menoleh

"Setidaknya kau perkenalkan dia pada kami, Naruto" ujar Shikamaru

Naruto hanya tersenyum canggung kemudian memperkenalkan Menma kepada teman-temannya yang lain.

"Perkenalkan, dia adalah Menma Smith. Sahabatku sewaktu di L.A" ucap Naruto. "Nah, Menma perkenalkan mereka adalah teman-teman sekelasku. Ini Hinata" lanjut Naruto

Menma mengulurkan tangganya dengan perlahan Hinata meraih tangan yang terulur dihadapannya itu. "I'm Menma Smith, just call Menma. Nice too meet you, lady" ucap Menma seraya mengedipkan sebelah matanya membuat Hinata tersipu malu

"Hyuuga Hinata, salam kenal Menma-san" ucap Hinata sembari menundukkan kepalanya. Naruto hanya memutar bola matanya bosan saat melihat kelakuan sahabat jangkungnya itu.

"Yang duduk disampingnya adalah kakak laki-laki Hinata. Hyuuga Neji" lanjut Naruto

Menma menganggukkan kepalanya pelan begitu juga dengan Neji. "Ini Nara Shikamaru dan Inuzuka Kiba" ucap Naruto seraya menunjuk kedua pemuda itu

"Panggil saja aku Kiba" ujar Kiba

"Pemuda berambut raven, dia adalah Uchiha Sasuke dan yang duduk disebelahnya adalah Sabaku no Gaara" sambung Naruto lagi. Menma memandang wajah Sasuke dengan intens, senyum tipis terukir di wajah tampan Menma.

'Uchiha' gumam Menma dalam hati

"Dan ini adalah Yamanaka Ino dan juga Haruno Sakura" ucap Naruto. Ino bangkit dari posisi duduknya. Gadis Yamanaka itu memperkenalkan dirinya kemudian disusul oleh Sakura.

Gadis pinky itu bangkit dari kursi. "Aku Haruno Sakura, panggil saja Sakura" ucap Sakura kemudian membungkukan tubuhnya. Menma melangkah maju kemudian meraih tangan Sakura. "So beautiful" ujar Menma kemudian mencium tangan Sakura.

Sakura yang refleks dengan cepat menarik tangannya dari genggaman Menma. "Jaga sikapmu Menma. It's not L.A" ucap Naruto. "Maafkan kelakuan sahabatku yang tak sopan ini, Sakura" lanjut Naruto seraya menginjak kaki Menma.

"Aaargh!" teriak Menma kesakitan saat Naruto semakin kuat menginjak kakinya

"T-tidak apa-apa, Naruto"

Naruto melepaskan pijakan kakinya. "Kenapa kau menginjakku?" tanya Menma pada Naruto sembari menahan sakit dikaki kanannya. "Aku tadi melihat ada kecoa dikakimu, makanya aku usir" ujar Naruto.

Menma mendengus keras mendengar perkataan gadis pirang disebelahnya. Naruto mendudukkan dirinya di kursi sembari menahan tawanya agar tak menyembul keluar.

#Flashback End

Dan sehari setelah pekenalan itu, Menma datang keesokan harinya -tanpa koper- tapi dengan seragam Tokyo International High School dan menjadi murid baru di kelas 1-A. Seminggu sejak Menma bersekolah di tempat yang sama dengan Naruto, pemuda itu selalu menempeli gadis pirang tersebut. Dimana ada Naruto pasti ada Menma dan itu membuat Sasuke geram dan jengah. Sasuke merasa jika Menma mencoba untuk menghalanginya untuk berdekatan dengan Naruto. Seperti yang pemuda jangkung itu lakukan beberapa saat lalu ketika Sasuke sedang mengobrol dengan Naruto di depan kelas mereka tapi beberapa menit kemudian Menma datang dan membawa Naruto bersamanya dengan alasan ingin membahas tentang tugas yang diberi oleh Kurenai sensei.

Sasuke menatap kepergian Naruto dan Menma dengan emosi di dadanya, pemuda raven itu kemudian melangkah pergi menyusul keempat sahabatnya yang sudah terlebih dahulu berada di cafeteria.

.

.

.

.

.

.

Menma menarik tangan Naruto dan membawa gadis pirang itu entah kemana. "Menma, perpustakaan ada di sebelah sana" ujar Naruto saat menyadari Menma tak membawanya menuju ke perpustakaan.

"Memangnya siapa yang ingin membawamu ke perpustakaan?" tanya Menma. "Bukankah kau ingin membahas tugas yang diberikan Kurenai sensei?" Naruto berbalik tanya. Menma melepaskan gengaman tangannya dari pergelangan tangan Naruto kemudian berbalik dan menghadap gadis pirang itu.

"Jangan bilang kau membohongiku" tebak Naruto mengenai sasaran. Menma hanya cengengesan sembari menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. "Kenapa kau berbohong seperti itu?" tanya Naruto kemudian melangkahkan kakinya.

Menma menyusul gadis bermarga Uzumaki itu kemudian berkata. "Aku hanya ingin mengerjai si Uchiha itu saja" ujar Menma santai. "Maksudmu Sasuke?" tanya Naruto memastikan sembari menoleh kearah Menma yang berjalan di belakangnya. "Siapa lagi kalau bukan dia" ucap Menma.

"Sifat jailmu itu tidak pernah berubah"

.

.

.

.

.

.

Sakura baru saja keluar dari ruang guru dengan tumpukkan buku yang nyaris menutupi seluaruh wajahnya. Gadis itu mengumpat dalam hati, menyesali keputusannya untuk melewati ruang guru supaya dia bisa lebih cepat menuju cafeteria. Alhasil, beginilah akhirnya. Dia harus membawa buku-buku itu ke perpustakaan seperti apa yang diperintahkan oleh wali kelasnya, Anko.

Sakura berjalan dengan hati-hati disepanjang koridor sekolah. Terdengar suara beberapa orang siswa yang sedang tertawa dan berlari menuju kearahnya. Sakura memiringkan kepalanya ke kanan, mata beriris emerald itu membulat saat salah satu siswa berlari kearahnya dan bersiap-siap akan menabraknya.

Bruk!

Suara benda terjatuh terdengar disusul dengan suara rintihan kesakitan yang keluar dari mulut Sakura. Gadis itu terjatuh bersamaan dengan buku-buku yang tadi dibawanya. "Dasar brengsek! Kemari kau!" teriak Sakura pada siswa yang menabraknya itu.

"Maaf" teriak siswa itu tak kalah keras kemudian berlari menyusul kedua temannya yang sudah jauh berlari. Sakura bangkit dari lantai sembari memegangi bokongnya yang terasa sakit kemudian mengutip buku-buku yang berserakan di lantai.

Sakura kembali berjalan menuju perpustakaan dengan setumpuk buku yang ia bawa. Tapi tiba-tiba gadis itu kehilangan keseimbangan dan tubuhnya oleng ke depan.

"Kyaaa!"

Sakura memejamkan matanya erat, bersiap-siap untuk merasakan sakit apabila tubuhnya terjatuh ke lantai. Tapi sudah beberapa detik berlalu, Sakura tak merasakan sakit di tubuhnya, dia malah merasakan ada sepasangan tangan yang melingkar di pinggangnya.

"Kau baik-baik saja?" tanya seseorang yang berada di belakangnya itu. Sakura membuka kedua matanya kemudian menoleh ke sumber suara. "Sasuke" ucap gadis pinky itu.

Orang yang menolongnya adalah Sasuke. Pemuda itu melepaskan lingkaran tangannya dari pinggang Sakura. Kemudian mengambil beberapa buku yang sempat terjatuh ke lantai. Sakura memandang pemuda raven itu tanpa berkedip, entah mengapa jantungnya berdetak lebih cepat jika Sasuke berada di dekatnya.

Sasuke sudah selesai mengambil buku-buku yang berjatuhan di lantai kemudian berkata. "Kau akan membawa buku-buku ini kemana?" tanya Sasuke pada Sakura. Sakura masih memandangi Sasuke "P-perpustakaan" ujar Sakura terbata-bata.

"Kalau begitu aku akan membantumu membawa buku-buku ini kesana" ucap Sasuke dan beranjak menuju perpustakaan disusul oleh Sakura yang mengekor di belakangnya.

Beberapa menit kemudian Sasuke dan Sakura sudah sampai di perpustakaan, menyerahkan buku-buku itu kepada Shizune. Sasuke mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan perpustakaan itu. Tapi tak ditemukannya sosok Naruto maupun Menma. Pemuda raven itu kemudian melangkahkan kakinya menuju pintu, berniat untuk keluar dari sana.

Sakura yang menyadari kepergian Sasuke memutuskan untuk beranjak dari tempat itu juga, setelah sebelumnya berpamitan kepada Shizune selaku penjaga perpustakaan. "Sasuke tunggu aku" ucap Sakura.

Sasuke menghentikan langkah kakinya dan menoleh kepalanya ke belakang. "Terima kasih sudah membantuku" ujar Sakura. "Hn" gumam Sasuke kemudian kembali melangkahkan kakinya. Sakura memandang punggung pemuda raven itu dengan senyum terukir di bibirnya. "Kau memang malaikat penolongku, Sasuke" gumam Sakura seraya tersenyum.

Sasuke sebenarnya merasa sangat kesal saat tidak menemukan sosok Naruto di perpustakaan, padahal niat awal dirinya menolong Sakura tadi hanya sebagai alasan apabila dia bertemu dengan Naruto dan gadis itu menanyakan kenapa dia tiba-tiba berada di perpustakaan. Pemuda itu berjalan dengan santai di sepanjang koridor, melangkahkan kaki jenjangnya menuju cafeteria seperti niat awalnya tadi.

.

.

.

.

.

.

Deidara sedang berada di salah satu restoran ternama di Tokyo bersama dengan Sasori. Pemuda pirang pencinta bom itu tampak sibuk dengan laptopnya begitu pula dengan Sasori yang tampak asyik mencoret-coret buku sketsa miliknya.

"Kau sudah menghubungi Pain?" tanya Deidara pada Sasori. "Aku sudah menghubunginya, dia bilang dia akan sedikit telambat karena ada pasien gawat darurat" jelas Sasori.

Deidara menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, melirik kearah Sasori yang masih berkutat dengan buku sketsa miliknya. "Menurutmu, apa kita tak keterlaluan pada Kyuubi?" tanya Deidara tiba-tiba. Sasori menghentikan pergerakan tangannya kemudian menatap Deidara.

"Maksudmu?" tanya Sasori tidak mengerti

"Maksudku, perkataan kita tempo hari padanya"

"Sepertinya bukan kita tapi kau" koreksi Sasori kemudian kembali dengan kegiatan awalnya. "Baiklah, baiklah. Aku menyesal karena sudah berkata kasar padanya saat itu. Tapi itu semua kulakukan karena aku kesal padanya" ujar Deidara.

Sejenak kedua pemuda itu terdiam sampai Sasori bersuara. "Dei" panggil Sasori. "Apa?" tanya Deidara. "Tidakkah kau penasaran akan keputusan Kyuubi berhenti dari kepolisian dan menghilang selama empat tahun?" tanya Sasori.

"Tentu saja karena si bodoh itu ingin lebih fokus untuk memimpin perusahaan milik mendiang orangtuanya" ujar Deidara. "Aku rasa bukan itu alasannya, Dei" ucap Sasori.

"Maksudmu, Kyuubi memiliki alasan lain sehingga ia memutuskan untuk berhenti dari kepolisian Tokyo?"

"Aku rasa begitu, tapi aku tak tahu apa alasan lain itu" ucap Sasori

"Kita tanyakan saja pada Pain saat ia datang, kupikir dia lebih tahu akan alasan Kyuubi itu"

"Kau benar, Dei"

.

.

.

.

.

.

Bel tanda jam istirahat berakhir sudah berbunyi beberapa saat lalu. Telihat Kiba sedang berlari seperti kesetanan di sepanjang koridor sekolah. Dia baru saja mendapatkan informasi yang sangat penting dan berniat untuk meyampaikannya kepada teman-temannya.

"Gawat! Gawat!" teriak pemuda pencinta anjing itu setelah sampai di kelasnya. Untung saja, guru jam pelajaran keempat belum masuk sehingga sekeras apapun Kiba berteriak tidak ada yang akan menghukumnya kerana sudah berteriak di jam pelajaran.

Menma mengumpat karena kelakuan teman sekelasnya itu. "Apa-apaan temanmu itu, Naruto? Apa dia tak tahu jika teriakannya itu bisa mengganggu pendengaranku?!" ucap Menma kesal

"Seharusnya aku yang berkata begitu padamu. Tidakkah kau bisa berhenti mengoceh? Kau sudah seperti ibu-ibu arisan saja" ucap Naruto. Menma mendengus keras sedangkan Hinata yang duduk disamping Naruto hanya bisa tertawa kecil melihat pertengkaran antara dua sahabat berbeda gender itu.

'Seperti kakak dan adik' batin Hinata sembari tersenyum.

Kiba menghampiri keempat sahabatnya. "Gawat!" teriak pemuda itu untuk kesekian kalinya. "Bisakah kau berhenti berteriak, Kiba?!" protes Shikamaru yang terbangun karena suara teriakan sahabatnya itu.

"Kenapa kau berteriak seperti itu?" tanya Neji

Kiba menghembuskan napasnya perlahan berusaha untuk mengantur nafasnya yang sempat berantakan. Setelah merasa jika nafasnya sudah kembali stabil, pemuda jabrik itu berucap. "Gawat! Jadwal pertandingan basket antar sekolah akan dipercepat" ucap Kiba

"Kau tahu darimana, Kiba?" tanya Gaara

"Aku mendengar percakapan antara Guy sensei dan Orichi-sama di ruang guru saat aku tak sengaja lewat" ujar Kiba menjelaskan.

"Bagaimana ini, Suke? Jika jadwal pertandingan dipercepat, kita tidak punya banyak waktu untuk berlatih" tanya Neji pada ketua mereka. Dan beberapa saat kemudian guru jam pelajaran keempat masuk dan memulai pelajaran.

.

.

.

.

.

.

.

Pain memakirkan mobilnya dan kemudian turun dan segera memasuki restoran tempat dimana kedua sahabatnya sudah menunggu. Pain melangkah menuju salah satu meja yang terdapat di sudut ruangan. "Maaf terlambat" ucap Pain seraya mendudukkannya disalah satu kursi kosong.

Deidara melirik arloji miliknya. "Kau terlambat satu jam tiga puluh menit, Pain" ucap Deidara. "Maafkan aku" ujar Pain penuh sesal. "Sudahlah, yang terpenting kau sudah ada disini. Dan sekarang jelaskan pada kami, kenapa kau meminta bertemu dengan kami disini?" tanya Sasori to the point

"Setidaknya biarkan aku memesan makanan terlebih dahulu" ucap Pain kemudian memanggil pelayan.

Tiga puluh menit kemudian, Pain sudah selesai menyantap makanannya. "Tujuanku meminta kalian bertemu adalah…. aku ingin kalian tahu rahasia yang sudah kujaga selama empat tahun terakhir ini" ujar Pain serius.

"Apa?" tanya Deidara

"Ini mengenai… keputusan Kyuubi berhenti dari kepolisian dan menghilang selama 4 tahun" ucap Pain. Sasori sudah membenarkan posisi duduknya, memasang telinga dan mendengarkan ucapan Pain dengan seksama.

"Jika kalian berpikir Kyuubi berhenti dari kepolisian itu karena dia ingin lebih fokus mengurus perusahaan yang ditinggalkan kedua orangtuanya, kalian salah" ucap Pain. "Itu hanya alasan Kyuubi untuk menutupi alasan sebenarnya kenapa dia berhenti dari kepolisian" lanjut Pain.

"Lalu, apa alasan berhentinya Kyuubi dari kepolisian yang sebenarnya?" tanya Sasori. Pain menghembuskan nafasnya perlahan kemudian memandang satu persatu kedua sahabatnya itu. "Kalian masih ingat dengan Naruto?" tanya Pain pada kedua sahabatnya itu.

"Tentu saja, Naruto adalah adik perempuan Kyuubi" jawab Deidara

"Apa hubungannya Naruto dengan keputusan Kyuubi untuk berhenti dari kepolisian?" tanya Sasori. "Kalian juga pasti tahu, jika Naruto menjadi saksi atas kematian kedua orangtuanya empat tahun lalu" ujar Pain

"…."

"Naruto mengalami trauma hebat pasca kejadian itu. Kyuubi berniat membawa Naruto pergi dari Tokyo, berharap dengan begitu trauma Naruto bisa hilang" ucap Pain

"Kemana Kyuubi membawa Naruto?" tanya Sasori

"Los Angeles"

"Jadi, karena hal itu, Kyuubi memutuskan untuk berhenti dari kepolisian?" tanya Sasori yang dibalas anggukan kepala olrh Pain.

"Lalu, bagaimana keadaan Naruto sekarang?" tanya Deidara penuh kekhawatiran. "Dia baik-baik saja. Kudengar Naruto sudah mulai melupakan traumanya"

"Syukurlah" ucap Deidara lega

"Kenapa dia tak memberitahukan hal sepenting itu pada kami berdua?" tanya Sasori. "Dia bilang, dia tak ingin membuat kalian cemas" ujar Pain

"Dasar bodoh!" umpat Deidara seraya bangkit dari kursinya. "Kau mau kemana, Dei?" tanya Pain.

"Memberi pelajaran pada si bodoh orange itu" ucap Deidara lalu melangkah keluar dari restaurant disusul oleh Sasori.

"Hei, kalian berdua! Siapa yang akan membayar makanan ini?!" teriak Pain. Pain mengambil dompet di saku celananya mengeluarkan beberapa lembar uang menaruhnya diatas meja kemudian berlalu pergi.

"Dasar menyebalkan" umpat dokter muda itu.

.

.

.

.

.

.

Naruto memasukkan buku pelajarannya ke dalam tas orange miliknya. Kelas sudah sepi beberapa saat lalu, Naruto melangkah keluar kelas. Cukup terkejut saat melihat Gaara berdiri disamping pintu kelas. "Kenapa kau ada disini, Gaara?" tanya Naruto

"Menunggumu" jawab Gaara. "Untuk apa?" tanya Naruto lagi. "Mengantarmu pulang" ucap Gaara singkat.

Dahi Naruto mengernyit. "Kenapa? Aku tak boleh mengantarmu pulang, Naruto?" tanya Gaara. "B-bukan begitu" ucap Naruto

"Jadi, aku boleh mengantarmu pulang?" tanya Gaara lagi. "Nggg… Bagaimana ya?" ujar Naruto bingung. "Ya?" tanya Gaara tidak sabaran. Naruto menghela napas. "Baiklah, kau boleh mengantarku pulang" ucap Naruto.

Gaara tersenyum senang, kemudian menggandeng tangan Naruto dan membawa gadis itu menuju area parkir tempat dimana mobilnya berada. Di ujung koridor sekolah, seorang pemuda raven tampak marah saat melihat pemandangan itu. Pemuda itu adalah Sasuke.

"Merasa kesal Uchiha?" ucap seseorang disamping Sasuke. Sasuke melirik ke sumber suara, dan menemukan Menma berdiri disampingnya.

Menma tertawa. "Sepertinya kau terlambat beberapa langkah dari si Sabaku itu" ucap Menma berusaha memancing emosi Uchiha disebelahnya. "Berusahalah lebih keras lagi Uchiha" ucap Menma seraya menepuk bahu Sasuke pelan kemudian melenggang pergi.

Dalam hati Menma bersorak senang karena dapat menjaili pemuda itu. Terlalu senang sehingga tak menyadari ada aura hitam yang menguar dari tubuh Sasuke.

.

.

.

.

.

.

Deidara memakirkan mobilnya kemudian turun dari dalam mobil dan melangkah memasuki kediaman Uzumaki tanpa menghiraukan beberapa maid yang menghalanginya. Sasori berada tepat di belakang Deidara.

"Deidara-sama, Sasori-sama" ucap Iruka terkejut saat melihat sosok Deidara dan Sasori yang tiba-tiba muncul di kediaman Uzumaki.

"Dimana Kyuubi?" tanya Deidara to the point

"Kyuubi-sama ada di ruang baca" jawab Iruka. Tanpa pikir panjang Deidara langsung melangkah menuju tempat Kyuubi berada disusul oleh Sasori yang mengekor dibelakangnya.

Pain baru saja sampai di kediaman Uzumaki. "Iruka-san" panggil Pain saat melihat Iruka hendak melangkah menuju ruang keluarga. Dokter muda itu berlari kecil untuk menghampiri Iruka. Iruka membungkuk memberi hormat.

"Kau melihat Dei dan Sasori, Iruka-san?" tanya Pain

"Mereka baru saja masuk ke ruang baca, Pain-sama" jawab Iruka

"Kalau begitu aku akan menyusul mereka. Terima kasih, Iruka-san" ucap Pain kemudian berlalu meninggalkan Iruka dan bergegas menuju ruang baca yang terletak di ruang bawah tanah kediaman Uzumaki.

Deidara dan Sasori menuruni setiap anak tangga yang akan membawa mereka ke tempat dimana Kyuubi berada. Kedua pemuda tampan itu kemudian berjalan di sebuah lorong yang hanya diterangi oleh cahaya lilin yang tergantung di dinding, membuat tempat itu terkesan menyeramkan dan misterius.

Langkah kaki Deidara dan Sasori terhenti saat melihat sebuah pintu dengan berwarna coklat dengan berbagai ukiran rumit disetiap sisinya. Deidara melirik kearah Sasori kemudian menyeringai. Tangan pemuda pirang itu terulur, membuka handle pintu yang Deidara yakini berharga ratusan juta itu.

Deidara dan Sasori melangkah memasuki ruangan yang dipenuhi oleh rak-rak buku itu. Mereka berdua dapat melihat seorang pemuda tengah duduk disebuah sofa yang membelakangi mereka. Deidara melangkah maju, berjalan menghampiri sosok Kyuubi.

Kyuubi membalik halaman buku yang sedang dibacanya, tanpa menyadari jika orang lain yang berada diruangan tersebut. Sampai telinganya mendengar suara derap langkah kaki yang sedang mengarah kepadanya. Kyuubi mendongakkan kepalanya dan terkejut saat mendapati Deidara berdiri dihadapannya.

"Dei" ucap Kyuubi terkejut sedangkan sosok yang disebut namanya hanya menatap Kyuubi datar. "Sedang apa kau…." ucapan Kyuubi terputus karena dengan tiba-tiba Deidara mendaratkan pukulannya ke perut Kyuubi.

Kyuubi yang mendapatkan serangan secara tiba-tiba tak bisa menghindar dan akhirnya terjerembap jatuh ke lantai. Kyuubi memegangi perutnya. Dia merasakan sakit di ulu hatinya. Pukulan Deidara masih sama seperti saat pemuda pecinta bom itu masih bergabung sebagai anggota kepolisian Tokyo. Kyuubi bangkit, tapi beberapa detik kemudian Deidara kembali mendaratkan pukulannya kearah Kyuubi membuatnya kembali terjerembap ke lantai.

Kyuubi mengerang kesakitan, darah keluar dari sudut bibirnya. Kyuubi menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya. Perih. Itulah yang pertama kali ia rasakan. Putra sulung Minato itu menatap tajam kearah Deidara. Sedangkan yang dipandang hanya cuek saja.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Kyuubi menahan amarah di dadanya. Kyuubi belum berniat bangkit dari posisinya. Pemuda itu memandang penuh murka kearah Deidara. Bisa-bisanya sahabatnya itu datang ke rumahnya dan memukulinya seperti ini.

"Kenapa kau memukulku, huh?" tanya Kyuubi lagi

"….."

Deidara tak menjawab, membuat Kyuubi semakin geram. Pemuda itu bangkit dan menerjang Deidara. Kyuubi menindih Deidara, memukul wajah sahabatnya itu. Deidara juga tak mau kalah, pemuda itu mendorong tubuh Kyuubi kemudian menghadiahinya dengan pukulan. Sasori tampak asyik membaca buku yang sempat diambilnya dari salah satu rak yang terdapat di ruangan itu. Tak peduli dengan Kyuubi dan Deidara yang saling adu jotos.

Pain baru saja sampai dan terkejut saat melihat Kyuubi dan Deidara berkelahi. Pain melihat Sasori yang tampak santai dan tak berniat untuk melerai kedua sahabat mereka. "Kenapa kau diam saja, huh?!" tanya Pain kesal.

"Memangnya apa yang harus aku lakukan?" tanya Sasori acuh

"Aaargh!" Pain mengerang frustasi melihat kelakuan salah satu sahabatnya itu. Pemuda itu kemudian melangkah kearah Kyuubi dan Deidara, mencoba melerai keduanya.

"Brengsek!" teriak Kyuubi. Dia baru saja mendapatkan pukulan di wajahnya untuk yang kedua kalinya. Kyuubi kembali menerjang Deidara, mengarahkan tendangannya ke perut pemuda itu. Deidara mengerang kesakitan, tendangan Kyuubi tepat mengenai ulu hatinya. Pemuda itu tak tinggal diam, kembali ia mengarahkan tendangannya kearah Kyuubi.

Pain menarik tubuh Kyuubi, beberapa centi sebelum tendangan Deidara mengarah ketulang rusuk pemuda itu. "Lepaskan aku Pain!" rontah Kyuubi yang berada dikuncian Pain.

"Lepaskan! Aku akan menghajar si brengsek itu" teriak Kyuubi. Deidara memandang Kyuubi. Wajahnya sudah babak belur, sama seperti Kyuubi. Sasori melangkahkan kakinya dan berdiri disamping Deidara.

"Kenapa kalian berdua berkelahi?" tanya Pain, masih tetap menahan tubuh Kyuubi yang terus merontah minta dilepaskan.

"Kau tanya saja pada si brengsek itu, kenapa dia menyerangku lebih dulu?!" ucap Kyuubi. Pain menatap tajam Deidara. "Apa maksudmu melakukan hal ini, Dei?" tanya Pain.

Deidara menyeringai kemudian melangkah kearah Kyuubi dan juga Pain. Langkah kaki pemuda itu terhenti. "Aku hanya ingin memberi si bodoh ini pelajaran" ujar Deidara. Kyuubi menatap Deidara tajam, tidak terima karena dirinya disebut bodoh.

"Si bodoh yang menganggap jika ia berhenti dari kepolisian Tokyo, dan pergi tanpa berkata apapun itu adalah keputusan terbaik. Si bodoh yang sok kuat yang memendam semuanya sendiri. Si bodoh yang kepalanya ingin sekali kebenturkan ke dinding" lanjut Deidara dengan tenang tapi mampu menusuk hati Kyuubi.

Pain melonggarkan kunciannya pada tubuh Kyuubi saat merasakan pemuda itu tak berusaha memberontak lagi. Tubuh Kyuubi merosot, dengan kedua lutut yang menopang berat tubuhnya. Pemuda itu menunduk dalam, kata-kata Deidara tadi memang sepenuhnya benar. Dia memang sangat bodoh. Terlalu bodoh.

Kyuubi masih menundukkan kepalanya sampai sebuah tepukkan pelan mendarat di bahunya. Pemuda itu mendongakkan kepalanya, melihat Sasori tengah tersenyum tulus kearahnya. "Aku dan Dei sudah tahu alasan kenapa kau berhenti dari kepolisian Tokyo dan menghilang selama empat tahun" ucap Sasori. "Pain yang menceritakan semuanya padaku dan Sasori" lanjut Deidara saat melihat raut bingung di wajah Kyuubi.

"Maaf sudah salam paham padamu, sobat" ucap Deidara. Kyuubi bangkit, memandang Sasori dan Deidara bergantian. "Dan kami memutuskan untuk…." Ucap Deidara menggantung seraya melirik Sasori. "Kembali bergabung ke dalam Rasenggan" sambung Sasori.

Perkataan Sasori tadi benar-benar membuat Kyuubi senang. "Kalian serius?" tanya Kyuubi memastikan, bagaimanapun juga ini adalah keputusan yang cukup berat menurutnya. Dia tak ingin sahabat-sahabatnya memilih untuk kembali bergabung hanya karena terpaksa atau bahkan merasa kasihan padanya. Kyuubi tak mau itu.

"Tentu saja kami serius" jawab Deidara. Kyuubi tersenyum tulus. "Arigatou" ucapnya pelan tapi dapat didengar oleh ketiga sahabatnya itu.

.

.

.

.

.

.

Mobil milik Gaara baru saja memasuki kediaman Uzumaki. Naruto melepas safe belt kemudian berkata. "Terima kasih sudah mengatarku pulang Gaara" ucapnya. "Sama-sama" ujar Gaara.

"Kalau begitu aku turun, sekali lagi terima kasih" ucap Naruto lagi. Gadis pirang itu hendak membuka pintu mobil saat Gaara memanggil namanya.

"Naruto" panggil Gaara. Naruto menoleh. "Ya" ucap gadis itu. "Apa besok kau ada acara?" tanya Gaara.

"Tidak ada, memangnya kenapa?"

"Aku ingin mengajakmu ke taman bermain. Kau mau?" ajak Gaara

"Taman bermain?"

"Ya, taman bermain. Kau mau?"

Naruto tersenyum kemudian berkata. "Tentu saja aku mau. Aku suka sekali taman bermain" ucap Naruto. "Kalau begitu sampai jumpa besok" lanjut Naruto lagi kemudian membuka pintu mobil dan keluar.

Gadis itu menutup pintu mobil. Beberapa detik setelahnya, kaca mobil itu terbuka. Gaara menundukkan kepalanya, melihat Naruto yang berdiri di samping mobilnya. "Aku pamit pulang, Naruto. Sampai jumpa besok" ucap pemuda berambut semerah bata itu.

"Hati-hati Gaara" ucap Naruto yang dibalas anggukan kecil dari Gaara. Kaca mobil itu kembali tertutup. Naruto melambaikan tangannya, dan mobil Gaara melaju meninggalkan kediaman Uzumaki dengan perasaan senang yang menyelimuti hatinya.

'Berkencan, huh?' batin Gaara. Dan disepanjang jalan itu, senyum tak henti-hentinya terkembang dari bibir si bungsu Sabaku itu.

Setelah kepergian Gaara, Naruto melangkahkan kakinya dan masuk ke dalam rumah. Menyapa kepada setiap maid yang ia jumpai, sampai langkahnya terhenti saat mendengar suara seseorang yang tengah merintih kesakitan dari arah ruang tamu. Naruto bergegas untuk melihat siapa yang sedang merintih itu.

"Kyuu-nii" panggil Naruto saat dilihatnya seorang maid tengah membersihkan luka di wajah sang kakak. Kyuubi menoleh ke sumber suara. "Naru" ucap pemuda itu.

"Apa yang terjadi? Kenapa wajah nii-san penuh lebam begini? Dan siapa mereka?" tanya Naruto bertubi-tubi seraya menunjuk kearah Pain, Deidara dan juga Sasori.

"Tidak terjadi apa-apa, Naru. Dan mereka bertiga adalah sahabat-sahabat nii-san. Pain, Deidara dan Sasori" ucap Kyuubi.

"Hai, Naru-chan. Senang bisa bertemu denganmu lagi" sapa Deidara

Naruto tak membalas sapaan Deidara, gadis itu malah menatap Deidara dengan intens. Naruto seperti tak asing dengan wajah pemuda dihadapannya itu. "Kau tak ingat denganku, Naru-chan?" tanya Deidara.

Naruto menatap sosok dihadapannya tanpa berkedip. "Dei-nii" ucap Naruto pelan nyaris berbisik. Ya, dia sudah ingat sekarang. Sosok yang berdiri dihadapannya itu adalah Deidara, salah satu rekan sang kakak saat masih bertugas di satuan kepolisian Tokyo.

Naruto melangkahkan kakinya menuju Deidara, mendongakkan kepalanya untuk dapat melihat lebih jelas wajah pemuda itu. Tapi tiba-tiba, gadis itu memukul lengan Deidara.

"Aaargh! Kenapa kau memukulku, Naru?" tanya Deidara. Naruto menatap Deidara sebal, gadis itu memanyunkan bibirnya. "Itu balasan karena Dei-nii sudah membuat nii-san jadi seperti itu" ucap Naruto seraya menunjuk Kyuubi yang sedang menahan rasa sakit saat seorang maid membersihkan luka di wajahnya.

"Kakakmu pantas mendapatkan hadiah dariku itu, Naru-chan" ucap Deidara membela diri. Naruto mengembungkan pipinya, kesal. Kemudian melangkah mendekati sang kakak, memberikan kecupan ringan di pipi Kyuubi lalu beranjak pergi menuju kamarnya.

Deidara terkikik melihat raut kesal di wajah manis adik perempuan sahabatnya itu. "Naru-chan manis sekali, membuatku ingin mengencaninya" ucap Deidara ngawur yang dihadiahi lemparan bantal sofa oleh Kyuubi. "Jangan macam-macam, atau kau akan menyesal, Dei" ujar Kyuubi memperingatkan.

Deidara mendengus keras kemudian mendudukan dirinya kembali di sofa, membiarkan maid menaruh perban pada lukanya.

Bulan sudah mulai tampak, menggantikan matahari yang kembali keparaduannya. Naruto melangkah menuju ruang makan, malam ini kediaman Uzumaki tampak ramai. Tsunade dan Jiraya baru saja pulang dari New York, Pain, Deidara dan Sasori juga ikut makan malam bersama. Dan ada seorang pemuda jangkung yang duduk disamping Kyuubi, dia adalah Menma. Ya, selama dia berada di Tokyo, pemuda itu akan tinggal di kediaman Uzumaki.

"Jadi kau bukan kekasih, Naru-chan?" tanya Deidara tiba-tiba. Naruto nyaris menyemburkan minumannya saat mendengar pertanyaan Deidara itu. "Tentu saja bukan" sambung Naruto cepat.

"Naruto hanya menganggapku sebagai teman, padahal aku menganggapnya lebih" ucap Menma dengan ekspresi terluka. "Jangan berkata yang tidak-tidak Menma!" ujar Naruto. "Bukankan kenyataannya seperti itu?" tanya Menma dengan raut wajah sedih.

Naruto memutar bola matanya, bosan. Gadis itu meraih sumpit dan memukulkannya ke kepala Menma membuat pemuda jangkung itu meringis kesakitan. "Hentikan ocehan tidak jelasmu itu" ujar Naruto datar, kemudian memakan makan malamnya kembali.

Deidara tertawa melihat kelakuan keduanya, begitu juga dengan semua orang yang ada ruang makan itu. Dan, makan malam itu dihiasi dengan pertengkaran kecil antara Naruto dan Menma. Serta percakapan ringan antara Tsunade, Jiraya dan juga Kyuubi tentang perkembangan perusahaan mereka. Sedangkan Pain, Deidara dan Sasori mereka hanya berbicara sesekali saja.

.

.

.

.

.

.

"Kau mau kemana, Naruto?" tanya Menma saat melihat sahabatnya sudah berpakaian rapi pagi ini. "Ketuklah pintu sebelum kau masuk ke kamar orang, Menma" tegur Naruto. Menma hanya mengangkat bahu mendengar perkataan sahabatnya itu. "Jadi, kau mau pergi kemana?" tanya Menma lagi.

"Aku akan pergi bersama Gaara" jawab Naruto seraya merapikan dress selututnya.

"Kalian akan pergi berkencan?" tanya Menma penuh selidik sembari menyandarkan kepalanya di daun pintu kamar Naruto. "Tentu saja tidak, aku dan Gaara hanya pergi ke taman bermain" jawab Naruto cepat. "Aku tak menyangka kau akan pergi berkencan dengan manusia panda itu" cibir Menma.

Naruto melempar botol parfum kearah Menma, tapi dengan sigap pemuda itu menangkapnya. "Aku kan sudah bilang, aku tidak sedang pergi berkencan" ujar Naruto kesal.

"Kalau tidak, tak perlu semarah itu 'kan? Aku jadi curiga, jangan-jangan kau memang memiliki hubungan khusus dengannya" ucap Menma dan melangkah menghampiri Naruto yang masih berkutat di depan cermin.

"Stopped!" bentak Naruto pada sahabat jangkungnya itu.

"Kau melihat Kyuu-nii? Aku ingin berpamitan padanya" tanya Naruto kemudian memasukkan kalung berbandul hitam miliknya ke dalam tas.

"Dia sudah pergi beberapa jam yang lalu" jawab Menma seraya meletakkan botol parfum itu keatas meja rias Naruto.

"Kemana?"

"Entahlah, kakakmu tak memberitahukanku kemana dia pergi"

Iruka masuk memberitahukan jika Gaara sudah datang dan menunggunya di ruang tamu. Naruto bergegas keluar dari kamar, menuruni setiap anak tangga dan berjalan kearah ruang tamu. Menma menyusul dari belakang.

"Kau sudah lama menunggu?" tanya Naruto. "T-tidak" jawab Gaara, cukup terpukam akan penampilan Naruto. Dress berwarna peach selutut yang ia kenakan, falt shoes yang menghiasi kaki jenjangnya dan rambut pirangnya yang sengaja ia gerai, membuat sosok Naruto sangat cantik di matanya.

"Kita akan pergi sekarang?" tanya Naruto membuyarkan lamunan Gaara. "Ya" jawab Gaara. Mereka hendak keluar dari ruang tamu, saat dengan tiba-tiba Menma muncul.

"Menma" panggil Gaara, cukup terkejut saat melihat Menma berada di kediaman Uzumaki. "Jangan terkejut begitu, sobat. Kau seperti melihat hantu saja" ujar Menma seraya menepuk pelan bahu Gaara.

"Menma akan tinggal disini selama dia berada di Tokyo" ucap Naruto memberikan penjelasan kepada Gaara, kenapa pemuda jangkung itu berada di rumahnya. "Kalau begitu, ayo kita pergi" ajak Naruto dan menarik lengan Gaara.

"Menma, sampaikan pada Kyuu-nii jika aku pergi ke taman bermain bersama Gaara" ucap Naruto sebelum akhirnya gadis itu keluar dari ruang tamu bersama dengan Gaara. Menma menatap kepergian keduanya, kemudian melangkah ke dapur untuk mengambil minuman.

Naruto dan Gaara hanya dia sepanjang perjalanan menuju taman bermain. Gaara yang fokus menyetir sedangkan Naruto tampak asyik memandang keluar jendela. Gaara melirik gadis yang duduk disampingnya. "Kau sudah pernah pergi ke taman bermain sebelumnya, Naruto?" tanya Gaara setelah sekian lama mereka saling diam.

Naruto menoleh kearah Gaara. Gadis itu mengangguk pelan. "Aku pernah pergi ke taman bermain saat usiaku 9 tahun, bersama Kaa-san dan Tou-san" ucap Naruto lirih sembari menunduk. Gaara dapat melihat dengan jelas raut sedih di wajah gadis cantik itu. "Itu adalah kenangan terakhirku sebelum mereka pergi untuk selamanya" lanjut Naruto lagi.

Gaara mengelus pelan pucuk kepala Naruto mendongakkan kepalanya, menatap Gaara yang tengah tersenyum kearahnya. "Aku tak ingin melihatmu bersedih, Naruto. Tersenyumlah" ucap Gaara lembut.

Menma sedang menonton televisi saat Sasuke datang dengan tiba-tiba. "Naruto" panggil Sasuke. Tak perlu melihat siapa yang berteriak memanggil Naruto itu karena Menma sudah mengenal siapa pemilik suara itu. "Bisakah kau tidak berteriak seperti itu, Uchiha?" ucap Menma kesal saat suara Sasuke mengganggu kegiatannya menonton televise.

"Sedang apa kau disini?" tanya Sasuke tak sopan

"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu, kenapa kau ada disini pagi-pagi begini?"

"Dimana Naruto?" tanya Sasuke lagi

"Dia tidak ada"

"Apa maksudmu dengan Naruto tidak ada?"

"Ck! Dia pergi bersama Gaara ke taman bermain" ucap Menma. Pemuda itu melirik kearah Sasuke. Senyum tipis terukir di wajah Menma. Pengendalian emosi yang bagus, batin Menma. Sasuke melangkah pergi dari ruangan itu.

"Hei, kau mau kemana?" tanya Menma. Pemuda itu menyambar remote tv dan mematikannya. Berniat untuk menyusul Sasuke.

Sasuke hendak membuka pintu mobil, saat Menma juga melakukan hal yang sama. "Apa yang kau lakukan?" tanya Sasuke sinis. "Ikut denganmu. Aku tahu kau akan menyusul Naruto dan Gaara ke taman bermain" jawab Menma dan kemudian pemuda itu masuk ke dalam mobil.

"Aku belum mengatakan setuju untuk kau ikut denganku atau tidak" ucap Sasuke tajam saat dirinya sudah berada dibelakang kemudi. "Kau pikir aku peduli? Sekarang, jalankan saja mobilmu, kau tak ingin 'kan Gaara bermesraan dengan Naruto?"

Sasuke mendengus keras menyalakan mobilnya dan meninggalkan kediaman Uzumaki untuk menyusul Naruto dan Gaara. Menma menyeringai penuh kemenangan. Sepertinya ini akan sangat menarik, pikirnya.

.

.

.

.

.

.

Kiba dan Shikamaru sedang berada di restoran milik keluarga Hyuuga. Shikamaru yang tertidur dengan kedua tangan terlipat yang ia jadikan sebagai bantal sedangkan Kiba, pemuda itu masih ayik memandang Hinata yang berada dibelakang meja counter sejak kedatangannya bersama dengan Shikamaru 30 menit yang lalu.

"Jika kalian datang kesini tidak untuk memesan sebaiknya pergi saja" ucap Neji pedas. Kiba menoleh kearah Neji cepat. "Apa maksudmu iklan shampoo?" tanya Kiba tak suka.

"Asal kau tahu saja, kami tadi memesan" lanjut Kiba

"Ya, memesan dua gelas air putih" ucap Neji dengan sedikit penekanan di setiap katanya. Pemuda itu kemudian berlalu meinggalkan kedua sahabatnya dan melangkah menuju dapur. Disetap hari libur, Neji dan Hinata akan datang ke restoran milik keluarga mereka untuk mengecek dan memantau perkembangan restoran mereka. Ya, walaupun sebenarnya itu adalah perintah dari sang ayah.

Kiba masih saja memandangi Hinata yang kini sedang melayani pengunjung restaurant. Senyum terkembang di wajah pemuda jabrik itu.

"Kenapa kau tak katakan jika kau menyukainya?" tanya Shikamaru

"Aku terlalu takut untuk ditolak olehnya, Shika. Lagipula, kau tahu sendiri 'kan bagaimana sikap Neji padaku?"

"Itu karena ulahmu sendiri. Kau yang membuat image-mu buruk dimata Neji"

Kiba menghembuskan napanya pelan, pemuda itu kini sudah tak memandangi Hinata lagi. Dia malah asyik memainkan bibir gelas dengan ujung jari telunjuknya. "Aku tahu aku tak akan mungkin bisa mendapatkannya, maka dari itu aku mengencani semua gadis yang kutemui, berharap bisa menemukan sosok Hinata di dalam diri setiap gadis-gadis yang kukencani, tapi tak ada satupun dari mereka yang mirip dengan Hinata" ucap Kiba. "Aku menyukainya. Tidak, aku bahkan berpikir jika aku mencintainya. Aku tak berani menyatakan perasaanku, aku takut dia menolakku karena citraku yang buruk" lanjut Kiba.

Shikamaru bangkit dari kursi, menepuk bahu Kiba pelan. "Kalau begitu, berhentilah mengencani para gadis. Dan yakinkan Hinata jika kau benar-benar mencintainya" ucap Shikamaru dan setelah itu, pemuda Nara itu melangkah keluar dari restoran. Meninggalkan Kiba yang kembali setia memandangi Hinata dari tempatnya berada.

Ino sedang berbaring diatas ranjangnya, menatap layar monitor laptop miliknya. Senyum lebar terbingkai di wajah gadis Yamanaka itu. Dia sedang membaca sebuah artikel tentang 'Tips jitu mendekati seorang pria'.

"Aku akan memulai tips ini besok" ucap Ino. Gadis itu bangkit dari atas ranjang kemudian meraih ponsel miliknya. Terlihat wajah tampan Gaara di layar ponsel itu. "And then.. I'll got you, Gaara" lanjut Ino.

Sakura tampak sibuk membuat kue di dapur rumahnya. Wajah gadis penyuka warna pink itu sudah belepotan tepung. Sakura sedang mengoleskan cream pada permukaan kue yang ia buat. Menaruh taburan coklat parut dan terakhir memberikan dua buah cherry diatas kuenya. Gadis itu tersenyum senang dengan kue hasil buatannya.

"Semoga kau suka" ujar gadis itu.

.

.

.

.

.

.

Naruto dan Gaara sudah sampai di taman bermain. Gaara sedang mengantri untuk mendapatkan tiket masuk, setelah mendapatkannya mereka berdua segera masuk dan mulai memilih wahana apa yang akan mereka coba terlebih dahulu. "Bagaimana jika kita naik perahu dayung dahulu?" tawar Gaara. "Ide bagus, ayo kita kesana" ajak Naruto dan tanpa sadar jika dia menggenggam tangan Gaara.

Gaara cukup terkejut dengan tindakan Naruto, tapi dia merasa senang. Bagaikan mimpi saja dirinya bisa sedekat ini dengan Naruto.

Setelah memarkirkan mobilnya, Sasuke bergegas turun dari dalam mobil dan disusul oleh Menma. "Cepat mengantri" perintah Sasuke. "Kenapa harus aku?" tanya Menma tak terima dengan sikap bossy Sasuke.

"Karena kau yang meminta untuk ikut bersamaku" jawab Sasuke datar

Menma mendengus keras. "Aku beri kau waktu lima menit untuk mendapatkan tiket itu" ucap Sasuke lagi kemudian berlalu meninggalkan Menma yang tampak menahan emosinya agar tidak meledak keluar.

"Dasar Uchiha, brengsek!" umpat Menma. Pemuda itu pun beranjak menuju tempat antrian.

Beberapa menit kemudian, Menma datang dengan dua tiket ditangannya. Pemuda itu menatap tajam kearah Sasuke yang dengan santai duduk disalah satu kursi sembari meneguk minuman kalengnya.

"Ini tiketmu" ujar Menma seraya menyodorkan salah satu tiket kepada Sasuke. Sasuke mengambil tiket yang disodorkan kearahnya. "Kau lama sekali" ujar Sasuke kemudian membuang minuman kalengnya ke dalam tong sampah.

"Kau pikir mudah mendapatkan tiket di tengah antrian sepanjang itu?!" protes Menma. "Hn" gumam Sasuke kemudian melangkah masuk ke dalam taman bermain.

"Setidaknya ucapkanlah terima kasih, padaku. Dasar brengsek!" ucap Menma kesal kemudian menyusul Sasuke yang sudah jauh didepannya.

Sasuke mengedarkan pandangannya, mencari sosok Naruto dan iris onyx itu menangkap sosok yang sedang dicarinya sedang berjalan menuju wahana air dengan Gaara yang berada disampingnya.

Sasuke mempercepat langkah kakinya menuju wahana yang dituju Naruto dan Gaara. Langkah kaki itu semakin cepat saat dilihatnya, Tangan Naruto dan Gaara saling bergandengan. "Hei, Uchiha! Bisakah kau berjalan lebih lambat?!" teriak Menma yang sama sekali tak dihiraukan oleh Sasuke

Menma menyesali keputusannya untuk ikut menyusul Naruto dan Gaara bersama dengan Sasuke. Pemuda itu mempercepat langkahnya kembali, menyusul Sasuke yang semakin jauh dihadapannya.

Naruto dan Gaara sudah duduk disalah satu perahu berbentuk angsa. Beberapa saat kemudian perahu yang ditumpangi Naruto dan Gaara mulai bergerak. Sasuke mengumpat dalam hati saat perahu itu melaju.

"Kau harus memiliki pasangan jika ingin naik, anak muda" ucap penjaga wahana

Menma baru saja berhasil menyusul Sasuke, nafas pemuda itu memburu. Tanpa banyak waktu, Sasuke menarik Menma agar masuk ke dalam perahu angsa itu. "Cepat kayuh!" perintah Sasuke saat dirinya dan Menma sudah duduk. "Kenapa tidak kau saja, huh?" tanya Menma mulai kesal.

"Cepat kayuh, bodoh! Kita bisa kehilangan jejak mereka" ucap Sasuke lagi.

"Aaaarg! Baiklah baiklah!" erang Menma frustasi

Penjaga wahana itu hanya menggelangkan kepala melihat keributan yang dibuat oleh Sasuke dan Menma. "Dasar anak muda jaman sekarang" ucap penjaga paruh baya itu."Ayo, siapa lagi yang ingin naik?" tanyanya pada pasangan-pasangan muda lainnya.

Menma mulai mendayuh, tapi karena lelah pemuda itu hanya bisa mendayuh dengan pelan. "Bisakah kau mendayuh lebih cepat?" tanya Sasuke datar. "Bisakah kau ikut mendayuh sepertiku, Uchiha?!' bentak Menma.

Kesabarannya sudah habis, melihat tingkah Sasuke yang menyebalkan membuatnya ingin menceburkan pemuda itu ke dalam air. Biarkan saja dia tewas tenggelam dan menjadi arwah gentayangan di wahan air ini. Sasuke mendengus kesal, kemudian ikut mendayuh seperti Menma.

.

.

.

.

.

.

Naruto dan Gaara tampak asyik mendayuh, sesekali mereka tertawa. Tanpa menyadari jika Sasuke dan Menma juga berada di wahana tersebut. Naruto dan Gaara berhenti mengayuh ketika mereka sudah sampai di pemberhentian, Gaara keluar dari dalam perahu, mengulurkan tangannya untuk membantu Naruto keluar. Naruto menyambut uluran tangan Gaara. Dengan hati-hati gadis itu melangkah, tapi saat hampir keluar dari perahu, kaki Naruto tersandung pedal perahu dan membuat gadia itu kehilangan keseimbangan. Beruntung Gaara yang memiliki refleks bagus, dengan sigap menangkap tubuh Naruto yang limbung.

"Aaargh!" teriak Naruto

Gaara mendekap tubuh mungil Naruto. Sapphire dan Jade bertemu, beberapa detik mereka berdua saling memandang. Dengan perlahan, Gaara mendekatkan wajahnya kearah Naruto. Meminimalisir jarak diantara keduanya. Gaara berniat mencium Naruto, saat jarak itu semakin menipis, Naruto mendorong dada bidang Gaara dan melepaskan dekapan pemuda itu dari tubuhnya.

Rasa canggung terjadi diantara keduanya. Gaara merasa bersalah karena hampir mencium gadis itu. "Naruto, maafkan aku. Tak seharusnya aku bertindak seperti itu" ucapnya menyesal. "Tidak apa-apa, Gaara. Sekarang ayo keluar dari sini" ajak Naruto kemudian melangkah pergi.

Sasuke mengepalkan tangannya kuat. Pemuda itu melihat dengan jelas, bagaimana Gaara mendekap Naruto, dan bagaimana Gaara berusaha mencium gadis itu. Kalau saja dia ingat jika ia masih berada diatas perahu, sudah dipastikan pemuda itu akan menerjang pemuda yang berstatus sebagai sahabatnya itu dan menghadiahinya dengan pukulan khas seorang Uchiha.

Menma melirik Sasuke melalui ekor matanya. Menma tahu, pemuda itu tengah menahan emosi dibalik wajah stoic-nya. Menma kembali mendayuh perahu yang ia tumpangi bersama dengan Sasuke saat tak mendapati pergerakan yang berarti dari pemuda disampingnya.

Naruto dan Gaara sudah keluar dari wahana tersebut dan berniat untuk melanjutkan ke wahan berikutnya. Gaara menarik pergelangan tangan Naruto saat dilihatnya Naruto hanya diam saja sejak kejadian di dalam wahana air itu.

"Maaf" ucap Gaara lirih. "Sudahlah, tidak apa-apa. Anggap saja kejadian tadi hanya sebuah kecelakaan" ucap Naruto. "Sekarang, ayo kita lanjutkan perjalanan kita lagi. Aku ingin naik wahana itu" ucap Naruto seraya menunjuk wahana roller coaster.

Sasuke dan Menma mengikuti Naruto dan Gaara menuju wahana ekstrim yang terletak di bagian barat taman bermain itu. Naruto dan Gaara tengah mengantri untuk menaiki wahana itu bersama dengan pengunjung lain termasuk dengan Sasuke dan juga Menma.

"Kau yakin kita akan menaiki ini?" tanya Menma ngeri.

"Hn" gumam Sasuke tidak jelas

"Aku pergi saja. Aku tak ingin naik wahana ini" ucap Menma dan bergegas untuk kabur tapi pergerakaannya kalah cepat dari Sasuke. Pemuda itu menarik kerah kemeja Menma, membuat pemuda jangkung itu tak bisa bergerak.

"Lepaskan aku, Uchiha!" rontah Menma

"Kau yang meminta ikut denganku ke tempat ini, jadi kau harus ikut kemanapun aku pergi" perintah Sasuke mutlak.

Antiran mulai bergerak, Naruto dan Gaara duduk disalah satu kursi tak jauh dari tempat mereka berdua duduk terdapat Sasuke dan Menma. Wahana itu mulai bergerak, Naruto berteriak-teriak keras bersama para orang-orang yang mencoba permainan itu. Wahana itu meluncur dengan kecepatan tinggi, membuat jantung Menma seperti lepas dari tempatnya. Menma terdiam selama permainan berlangsung. Dia ingin permainan ini segera berakhir. Perutnya sudah seperti diaduk-aduk. Kepalanya pusing dan pandangannya mulai kabur. Sepertinya, sebentar lagi dia aku akan pingsan, pikir Menma

Wahana itu berhenti, Naruto dan Gaara turun dari permainan itu, disusul oleh Sasuke dan Menma. Menma berjalan gontai menuju tempat sampah, pemuda itu menutup mulut dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya, menyentuh perutnya berusaha menahan agar isi perutnya tak keluar sebelum dia menemukan tempat sampah terdekat.

"Seru sekali! Aku ingin menaikinya lagi" ucap Naruto

Menma langsung memuntahkan isi perutnya saat menemukan tempat sampah terdekat. Tak jauh dari tempatnya berada, Naruto dan Gaara juga berada disana.

"Oeek"

Dahi Naruto mengernyit saat mendengar suara itu. Gadis itu menoleh kebelakang dan terkejut mendapati Menma berada dibelakangnya.

"Menma" panggilnya. Naruto menghampiri pemuda jangkung itu. "Ada apa denganmu?" tanya Naruto cemas saat melihat Menma kembali memuntahkan isi perutnya. Naruto menuntun Menma untuk duduk di bangku terdekat. Wajah pemuda itu tampak pucat. Naruto merogoh tas miliknya, mengeluarkan minyak angin dan mengoleskannya pada tubuh Menma.

Gaara menyodorkan sebotol air mineral kearah Naruto. Naruto membuka tutup botol itu kemudian mengarahkannya pada Menma. Menma meneguk air itu. Beberapa saat kemudian Sasuke datang membawakan obat dan menyodorkannya kepada Naruto.

Gadis itu menyuruh Menma untuk meminum obat pemberian dari Sasuke. Gaara melirik kearah Sasuke. Bukan sebuah kebetulan jika Sasuke dan Menma berada di taman bermain seperti mereka berdua, itulah yang setidaknya yang dipikirkan oleh Gaara.

"Kau sudah merasa lebih baik?" tanya Naruto yang dibalas anggukan kepala oleh pemuda itu.

"Kau dan Sasuke mengikuti kami kemari?" tanya Naruto yang dibalas anggukan lemah oleh Menma. "Untuk apa kalian melakukan itu?" tanya Naruto heran.

"Kenapa kau memaksakan diri untuk menaiki wahana itu? Kau tahu 'kan kau tak bisa menaikinya?" tanya Naruto. "Dia memaksaku untuk naik" ucap Menma kesal seraya menunjuk Sasuke.

Naruto menoleh kearah Sasuke. "Apa?" tanya Sasuke tak merasa bersalah. "Aku ingin pulang. Temani aku, Naruto" pinta Menma dengan suara lemah. Rasa pusing dan mual mulai ia rasakan lagi.

"Baiklah" ucap Naruto mengabulkan permintaan Menma. Gadis itu menggandeng lengan Menma, menuntun pemuda itu untuk berjalan. Sasuke melangkah pergi berniat untuk menyusul Naruto dan Menma saat ucapan Gaara menghentikan langkah kakinya.

"Kenapa kau menguntit kami?" tanya Gaara

"Bukan urusanmu" ucap Sasuke datar kemudian kembali melangkah pergi

"Bisa kita mampir sebentar di kedai makanan, Naruto?" tanya Menma. "Baiklah" jawab Naruto. Naruto dan Menma masuk ke dalam sebuah kedai makanan terdekat, memilih salah satu kursi kosong yang terletak disudut ruangan.

"Kau bilang ingin pulang, kenapa kita malah ada disini, Menma?" tanya Naruto

"Aku sudah memuntahkan sarapanku, dan sekarang aku butuh tenaga sebelum kembali ke rumah" ucap Menma. "Terserah kau saja" ujar Naruto tak peduli.

Menma memanggil pelayan, beberapa detik kemudian seorang pelayan datang dan mencatat makanan yang dipesan oleh Menma. "Sekarang beritahu aku, kenapa kau dan Sasuke bisa berada disini?" tanya Naruto

Menma meraih minuman dihadapnnya, meneguk isinya sebelum menjawab pertanyaan dari Naruto. Menma itu hampir membuka mulutnya saat suara Sasuke mengintrupsi ucapannya.

"Sedang apa kalian disini?" tanya Sasuke yang berdiri dibelakang Naruto. Naruto menoleh. "Seharusnya aku yang bertanya begitu padamu, Sasuke" ujar Naruto.

"Bukankah kau bilang ingin pulang, Menma?" tanya Sasuke. Menma tak mempedulikan pertanyaan Sasuke, pemuda itu malah menyantap makanannya kembali. Dan beberapa saat setelah kehadiran Sasuke, Gaara muncul. Gaara menarik salah satu kursi dan duduk dikursi itu, saling berhadapan dengan Sasuke.

Menma melirik ke kanan dan ke kiri, melihat Sasuke dan Gaara yang saling melempar tatapan maut mereka. Menma dapat merasakan aura persaingan menguar dari kedua pemuda itu. Menma mendorong pelan piring kosong itu, meneguk sisa minuman pesanannya.

"Aku sudah selesai. Ayo, kita coba permainan lain, Naruto" ajak Menma seraya bangkit dari kursi. "Bagaimana dengan kondisimu?" tanya Naruto. "Aku sudah merasa lebih baik" ujar Menma seraya menarik Naruto untuk keluar dari kedai makanan itu.

.

.

.

.

.

.

Menma menarik Naruto ke salah satu wahana di taman bermain itu. Sasuke dan Gaara yang berjalan dibelakang mereka hanya mengumpat dalam hati melihat kelakuan Menma yang sengaja memonopoli Naruto untuk dirinya sendiri. Sasuke berjalan lebih cepat, menarik Naruto dari Menma. Menma terdiam sesaat dengan aksi tiba-tiba Sasuke itu.

"Sasuke, apa yang kau lakukan?" tanya Naruto

"Hn"

Sasuke masih menarik gadis itu, membawanya entah kemana. Gaara tidak tinggal diam, pemuda itu menyusul keduanya. Menma yang baru tersadar dari terkejutannya, langsung berlari menyusul mereka bertiga yang sudah jauh dihadapnnya.

Gaara menjulurkan tangannya, berusaha meraih lengan Naruto. Dapat. Naruto tersentak saat sebuah tangan menariknya kebelakang. Naruto yang kehilangan keseimbangan langsung menubruk dada bidang Gaara. Gaara menatap tajam Sasuke, sedangkan yang bersangkutan juga menatap dengan tajam. Sasuke mendengus keras, kemudian menarik Naruto kembali.

Gaara tak mau kalah, pemuda Sabaku itu juga menarik Naruto kearahnya. Dan, terjadilah aksi tarik menarik itu. "Berikan dia padaku, Sasuke" ucap Gaara kemudian menarik Naruto kembali kearahnya. "Tidak akan pernah" ucap Sasuke seraya menarik Naruto kearahnya.

"Lepaskan aku!" pinta Naruto tapi sepertinya kedua pemuda yang sedang memperebutkan dirinya tak mengindahkan permintaannya. Gaara memicingkan mata dan kembali menarik pergelangan tangan kiri Naruto keras. "Aww" rintih Naruto kesakitan.

"Kalian ini apa-apaan!" bentak Menma yang tiba-tiba datang. Menma melepaskan gengaman Gaara dari pergelangan tangan kiri Naruto dan membawa gadis itu kedekapannya."Perbuatan kalian menyakiti, Naruto" ucap Menma. "Apa kalian tidak dengar, dia sudah merintih kesakitan?" tanya Menma kesal akan sifat kekanakan kedua pemuda dihadapannya.

Sasuke dan Gaara berkata lirih dan membuang muka. "Maaf.." Naruto menatap tajam keduanya dan berkata keras. "Kalian ini kenapa? Dan kau, tidak biasanya kau bersikap seperti ini, Gaara" tukas Naruto menatap pergelangan tangan kirinya yang memerah

Jujur saja, Naruto sedikit terkejut dengan sikap Gaara yang sedikit kasar saat menarik pergelangan tangannya itu. Walaupun belum lama mengenal pemuda itu, Naruto yakin Gaara tidak mungkin bersikap kasar pada orang lain apalagi pada seorang wanita.

Sasuke dan Gaara masih saling menatap, mengantarkan keteganganpada setiap orang yang berada disekitar mereka. Mereka jelas saling tidak menyukai satu sama lain, mengenyampingkan fakta bahwa mereka adalah sahabat. Menma menghela napas panjang kemudian menatap Naruto yang masih merintih kesakitaan.

"Sakit?" tanya Menma lembut lalu meraih pergelangan tangan kiri Naruto dan meniupnya pelan. Sasuke menatap Menma dengan tatapan dingin dan menusuk. Menma yang merasa ada yang memperhatikannya, melirik kearah Sasuke, dan benar saja. Sasuke menatapnya dengan tatapan membunuh kearahnya, Menma tahu betul arti tatapan itu, tapi dia tak peduli. Dia masih terus meniup pelan pergelangan tangan kiri Naruto.

Setelah kejadian itu, keempatnya melanjutkan menikmati setiap wahana yang disediakan oleh taman bermain itu. Menma selalu menempel pada Naruto, tak sedikitpun membiarkan Naruto jauh-jauh darinya, apalagi sampai berdekatan dengan dua pemuda yang masih setia mengekor dibelakang mereka.

Menma tahu, nyawa Naruto tak akan selamat jika berada diantara Sasuke dan Gaara. Mengingat, keduanya memiliki perasaan pada gadis pirang itu. Jadi, daripada hal-hal yang tidak diinginkan terjadi, seperti beberapa saat lalu, lebih baik Menma menjauhkan Naruto dari mereka. Hitung-hitung juga sebagai pembalasan akan sikap menyebalkan Sasuke padanya.

Jam sudah menunjukkan pukul lima sore, Naruto dan ketiga pemuda tampan itu sedang duduk disalah satu bangku sembari menikmati senja. Naruto tampak asyik menjilati ice creamnya dengan Sasuke dan Gaara yang menghimpit di kedua sisi gadis itu. Sedangkan Menma, pemuda itu duduk diujung bangku taman tepat di samping tempat sampah. Brengsek! umpat pemuda itu dalam hati.

Sasuke menjulurkan tangannya, menyentuh bibir Naruto yang kotor karena ice cream. Naruto terkesiap dengan perlakuan tiba-tiba Sasuke. Gadis itu menatap Sasuke. Jantungnya mendadak berdetak lebih kencang saat jemari Sasuke mengusap ujung bibirnya dengan lembut. Gaara yang duduk disamping kiri Naruto hanya bisa memandang tak suka dengan tindakan Sasuke itu.

"Lain kali kau harus membawa tisu jika ingin makan ice cream, Naru" ucap Sasuke. Entah perasaannya saja atau dia seperti pernah mendengar kalimat itu sebelumnya. Naruto tak tahu, yang jelas, dia merasa pernah mengalami kejadian ini sebelumnya.

Dejavukah?

.

.

.

.

.

.

Gaara merebahkan tubuhnya yang lelah diatas ranjang. Pemuda itu memejamkan kedua matanya kemudian membukanya perlahan. Tangan kirinya ia tempelkan diatas dahi. Gaara menatap langit-langit kamarnya dalam diam. Satu jam lalu, dia mengantarkan Naruto pulang berserta dengan Menma tentunya, dan jangan lupakan mobil Sasuke yang terus mengekorinya dari belakang.

Pikirannya menerawang. Hanya orang bodoh yang tak peka jika sahabatnya itu juga memiliki perasaan yang sama seperti yang ia miliki terhadap Naruto. Gaara bangkit dari atas ranjang, melangkah kearah lemari pendingin mini miliknya, mengambil soft drink dan kemudian beranjak menuju jendela kamarnya. Menyibak tirai yang menutupi jendela. Gaara membuka jendela itu, membuat angin malam leluasa masuk ke kamarnya.

Dia melangkah maju, mengarah ke balkon. Gaara berdiri disana cukup lama, tak peduli dengan udara malam yang kian dingin. Pemuda itu meneguk soft drink-nya kemudian memutar-mutar kaleng minumannya. Gaara mendengus geli.

"Kita akan bersaing untuk mendapatkannya, Sasuke" ujarnya pelan dan kemudian menatap langit malam yang hari itu tampak cerah.

.

.

.

.

.

.

Sakura berjalan tergesa-gesa menuju lapangan tempat Sasuke dan teman-temannya berlatih basket untuk pertandingan yang akan diadakan seminggu lagi. Gadis itu tampak membawa sebuah kotak berukuran sedang. Sakura berdiri ditepi lapangan, mata emerald-nya jelalatan mencari sosok Sasuke.

"Kau sedang mencari siapa, Sakura?" tanya Kiba yang keluar dari lapangan untuk mengambil botol air mineral miliknya.

"Apa kau melihat Sasuke?" Sakura berbalik tanya. Dahi Kiba mengernyit. "Untuk apa kau mencarinya?" kali ini Kiba yang berbalik bertanya.

"Ck! Katakan saja, kau melihatnya atau tidak?" tanya Sakura mulai kesal

"Dia ada di ruang ganti" jawab Kiba

"Arigatou" ucap Sakura lalu berlari kecil menuju ruang ganti tempat dimana Sasuke berada. Kiba menatap kepergian Sakura dengan heran. "Dasar gadis aneh" gumamnya dan kemudian masuk ke dalam lapangan dan kembali berlatih.

Sasuke baru saja keluar dari ruang ganti saat Sakura berdiri dengan membawa kotak berwarna merah di depan ruang ganti pria. "Sedang apa kau disini?" tanya Sasuke.

"Untukmu" ucap Sakura menundukkan kepalanya dan menyodorkan kotak itu kearah Sasuke. "Apa ini?" tanya Sasuke lagi.

"Ini kue buatanku, terimalah" ucap Sakura masih dengan menundukkan kepalanya, berusaha menyembunyikan rona merah di wajahnya. "Aku tak suka makanan manis, kau berikan saja pada orang lain" ujar Sasuke datar kemudian beranjak pergi.

Sakura mendongakkan kepalanya saat mendengar langkah kaki yang mulai menjauh. Dan, benar saja langkah kaki itu adalah milik Sasuke. Gadis itu tertunduk lesu. "Gagal" ucapnya lirih.

Sakura berjalan gontai menuju kelasnya. Gadis itu masuk ke kelasnya dan kemudian duduk di bangkunya. "Kau kenapa, Saku-chan?" tanya Hinata. Sakura mengehela napas berat. "Aku tidak apa-apa" dustanya. "Kalau tidak ada apa-apa, kenapa kau lesu begitu?" tanya Naruto

"Kau sakit?" tanya Naruto khawatir

"Aku baik-baik saja, terima kasih sudah mengkhawatirkanku" ucap Sakura

"Tidak perlu berterima kasih begitu, wajar saja jika aku dan Hinata mengkhawatirkanmu. Kau 'kan sahabat kami" ucap Naruto. Sakura tersenyum. "Kalian mau kue?" tanyanya kemudian meraih kotak yang tadi dibawanya dan membukanya.

"Wah! Sepertinya ini lezat. Kau yang membuatnya?" tanya Naruto takjub yang dibalas anggukan kepala oleh Sakura.

Naruto dan Hinata mengambil potongan kue itu, kemudian memakannya. "Rasanya enak. Tak kusangka kau pintar memasak, Sakura" ujar Naruto yang disetujui oleh Hinata.

"Arigatou. Ngomong-ngomong, dimana Ino?" tanya Sakura

"Ino sedang ada di toliet" jawab Hinata yang dibalas 'oh' ria oleh Sakura.

Gaara sedang berada didepan loker miliknya saat Ino muncul tiba-tiba. "Hai, namaku Yamanaka Ino" ucap gadis itu seraya mengulurkan tangannya. Gaara menatap gadis itu datar. "Kita sudah menjadi teman sekelas selama hampir 1 bulan, untuk apa kau memperkenalkan dirimu lagi padaku?" tanya Gaara

Ino hanya tertawa canggung, merutuki kebodohannya itu. "Ada yang ingin kau bicarakan lagi? Jika tidak, aku akan pergi" ucap Gaara datar. Baru saja Ino akan membuka mulutnya, tiba-tiba ponsel Gaara berbunyi, pemuda itu menarik ponselnya dari dalam saku. Mengangkat panggilan itu dan kemudian melangkah pergi, meninggalkan Ino yang tertunduk lesu.

"Haah~ Gagal" ucapnya

.

.

.

.

.

.

Seminggu berlalu, team basket Tokyo International High School sudah siap untuk bertanding dengan team basket dari High School. Sakura, Ino dan juga para pemandu sorak untuk team basket sekolah mereka sudah siap ditepi lapangan. Naruto, Hinata dan Menma berdiri ditepi lapangan bersama para siswa lain untuk melihat pertandingan antara sekolah yang memiliki catatan sebagai musuh bebuyutan di daratan Tokyo itu.

Hinata mengarahkan lensa kameranya kearah salah satu pemain dari team basket St. Thomas High School. Seorang pemuda berkulit pucat dan berambut hitam dengan ban kapten berwarna merah di lengannya.

"Pemuda itu mirip sekali dengan Sasuke" ucap Naruto

"Aku juga berpikiran hal yang sama Naru-chan" sambung Hinata

"Itu artinya, wajah si Uchiha itu pasaran. Tidak sepertiku yang hanya ada satu di dunia" timpal Menma. "Itu karena kau salah satu spesies langka, Menma" ucap Naruto datar.

"Apa? Spesies langka katamu? Kau pikir aku ini hewan?!" ucap Menma tak terima akan ucapan sahabat pirangnya. Naruto mengangkat bahu membuat Menma medengus kesal dan membuang muka. Memasang wajah ngambek.

"Sepertinya dia marah" bisik Hinata di telinga Naruto. "Biarkan saja" ucap Naruto ringan.

Sasuke mengedarkan pandangannya ke penjuru lapangan, mencari sosok Naruto. Dan, dia menemukan Naruto sedang bersama kedua temannya di pinggir lapangan. Sasuke memakai ban kapten berwarna biru miliknya. Keempat temannya yang lain sedang melakukan pemanasan.

Gui menepuk pelan bahu Sasuke, membuat pemuda itu menoleh kearahnya. "Menangkan pertandingan ini, Sasuke" pinta Guy. "Pasti" ucap Sasuke penuh keyakinan. Guy melangkah pergi menuju tengah lapangan, bersiap untuk memulai pertandingan.

Dipinggir lapangan lain, team basket dari St. Thomas High School tampak bersiap-siap. Seorang gadis berambut merah dari barisan pemandu sorak menghampiri salah satu pemain. "Menangkan pertandingan ini, sayang" ucapnya kemudian mengecup bibir pemuda dihadapnnya sekilas.

"Your wish is my command, lady" ucap pemuda itu kemudian mencium sang gadis tepat di bibirnya, mengabaikan bahwa mereka sedang berada di tempat umum.

Sakura dan Ino menatap horor pemandangan yang tersaji dihadapan mereka. "Dasar tidak tahu malu" gumam kedua gadis itu bersamaan.

Kiba menyemburkan minumannya. Pemuda itu menyeka air yang masih keluar saat ia tak sengaja menyemburkan air itu. "Apa-apaan mereka? Bertindak seperti itu didepan umum" ucap Kiba merinding.

Menma menutup mata Naruto dengan telapak tangannya. "Kau tidak boleh melihat hal-hal seperti itu, Naruto" ucapnya setengah berbisik. "M-mereka sa-sangat berani" komentar Hinata.

"Lepaskan tanganmu dari mataku, Menma" perintah Naruto tapi Menma tak mengindahkannya. Dia tak mau pemandangan itu merusak otak polos little sister-nya.

Salah satu pemain berambut seperti mangkuk dari team basket St. Thomas High School itu menutup matanya dengan kedua telapak tangannya. "Bisahkah kalian tidah berciuman di tempat umum? Kasihan Lee yang sudah menjomblo sejak bayi itu" cibir seorang pemuda bertubuh gempal sembari melirik temannya yang masih menutup kedua matanya.

"Urusi saja keripik-keripikmu itu, Chouji" protes sang gadis kemudian melenggang pergi

Sedangkan yang dimaksud hanya diam saja dan masih asyik memakan keripik kentang miliknya. "Hentikan acara makanmu itu, Chouji. Kita akan segera bertanding" tegur seorang pemuda berambut orange bernama Juugo.

Salah satu pemuda yang sedari tadi diam, tampak menghampiri kapten mereka. "Bagaimana?" tanyanya. Orang yang ditanya hanya menyeringai. "Lakukan seperti yang biasa kita lakukan" ucap pemuda berkulit pucat itu.

Guy menggelengkan kepalanya. "Dasar anak muda jaman sekarang" ucap pria penyuka warna hijau itu kemudian meniup pluitnya. Tanda untuk para pemain berkumpul ditengah lapangan. Sasuke cs melangkah menuju tengah lapangan begitu juga dengan team basket dari St. Thomas High School.

"Kapten silakan maju" perintah Guy. Sasuke selaku kapten untuk team basket sekolahnya melangkah maju, sama halnya dengan kapten dari musuhnya.

"Nah, Sasuke dan…"

"Sai" ucap pemuda berkulit pucat itu

"Dan Sai. Ingat, tidak boleh melakukan kekerasan. Kalian harus bermain secara sportif. Dan, saat aku melempar bola ini ke udara, permainan akan di mulai. Kalian mengerti?"

"Mengerti" ucap Sasuke dan Sai bersamaan

"Kalau begitu…." ucapan Guy menggantung. Para pemain lain sudah bersiap-siap. Sasuke dan Sai saling menatap tajam. Kedua kapten itu tampak bersiap-siap untuk melompat dan meraih bola yang akan dilemparkan Guy ke udara.

Priit!

Suara pluit dan lemparan bola yang dilakukan Guy ke udara menandakan pertandingan antara kedua kubu di mulai.

To be Countinue

Pojok Suara :

Setelah sebulan nggak update, akhirnya chapter ini selesai juga. Maaf banget, tiba-tiba saya kehilangan ide, ditambah pekerjaan yang semakin menumpuk. Saya sempet frustasi gara-gara ini.

Terima kasih banyak untuk para readers dan reviewers, yang sudah berkenan untuk membaca dan meninggalkan jejak di kolom review. Maaf, nggak bisa dibalas satu per satu tapi semua review dari kalian saya baca kok. Serius deh..

Sekali lagi minta maaf kalau chapter ini tidak sesuai dengan keinginan readers dan mungkin mengecewakan. Atau juga tokoh yang semakin bertambah. Gomenasai, itu cuma demi kepentingan fic ini saja.

Akhir kata saya ucapkan terima kasih.

Sentimental Aqumarine pamit

See you and bye bye bye

Mind to review?