Disclaimer : Naruto – Masashi Kishimoto

Pairing : SasuFemNaru

Rated : T

Warning : Genre, OOC, Typos, Alur kecepatan dan lainnya

Summary : Naruto, gadis berparas cantik yang membenci satu hari di hidupnya. Saat semua orang bahagia ketika hari paling spesial di hidup mereka itu datang. Naruto justru sangat membencinya. Ya, dia sangat membenci hari ulang tahunnya. Sangat benci.

Special Gift for You

By

Sentimental Aqumarine

Sebelumnya

Sasuke cs melangkah menuju tengah lapangan begitu juga dengan team basket dari St. Thomas High School.

"Kapten silakan maju" perintah Guy. Sasuke selaku kapten untuk team basket sekolahnya melangkah maju, sama halnya dengan kapten dari musuhnya.

"Nah, Sasuke dan…"

"Sai" ucap pemuda berkulit pucat itu

"Dan Sai. Ingat, tidak boleh melakukan kekerasan. Kalian harus bermain secara sportif. Dan, saat aku melempar bola ini ke udara, permainan akan di mulai. Kalian mengerti?"

"Mengerti" ucap Sasuke dan Sai bersamaan

"Kalau begitu…." ucapan Guy menggantung. Para pemain lain sudah bersiap-siap. Sasuke dan Sai saling menatap tajam. Kedua kapten itu tampak bersiap-siap untuk melompat dan meraih bola yang akan dilemparkan Guy ke udara.

Priit!

Suara pluit dan lemparan bola yang dilakukan Guy ke udara menandakan pertandingan antara kedua kubu di mulai.

Kedua team saling mengejar dan mencetak skor sebanyak-banyaknya. Oper, lempar, giring, lompat, dan memasukkan bola basket itu ke dalam ring. Peluh sudah membanjiri setiap pemain. Sasuke tak henti-hentinya menarik nafas kemudian menghembuskannya kasar.

Onyx Sasuke dapat melihat Neji mengoper bola kearahnya, dirinya sendiri pun sudah mengambil ancang-ancang untuk menangkap bola itu. Namun…

Bruuk!

Sasuke kehilangan keseimbangan saat pemain bertubuh gempal dari St. Thomas High School menubruk bahu kanannya. Onyx kelamnya memandang tajam pemuda yang baru saja menabraknya.

Pemuda bernama Chouji itu kini memegang kendali bola, lengan berlemaknya terus bergerak untuk mendriblebola menuju ring lawan.

"Chouji, berikan padaku!" seru seorang pemain St. Thomas High School.

Tanpa menunggu lama Chouji segera melemparkan bola pada satu-satunya pemain yang mengenakan kacamata hitam saat bertanding itu. "Shino!"

Shino menerimanya dengan sempurna, pemuda itu segera mendrible bola kearah dimana ring basket musuh berada. Melanjutkan kegiatan teman gempalnya.

Tap!

"A-ah?" gumam Shino heran saat tangannya tak lagi memegang bola. Mata yang tertutup kacamata hitam itu segera mencari siap ayang sudah merbut bolanya.

"Brengsek!" umpat Shino setelah menemukan sosok yang baru saja mengambil bolanya.

Kiba dengan lihai mendrible bolanya. Mata coklat itu kini berkeliaran mencari rekan-rekan setimnya. "Sial, semuanya telah dihadang!" decak Kiba kesal. Jika, sudah begini terpaksa ia harus mendrible bola itu sendiri hingga tiba di ring lawan.

Beberapa detik kemudian, Kiba sudah hampir dekat dengan ring musuh. Pemuda itu sudah membuat kuda-kuda untuk menshoot bola. Tapi, salah satu pemain dari St. Thomas High School yang masih bebas tiba-tiba menghadangnya.

"Tak akan kubiarkan kau mencetak skor." ucap pemuda bernama Juugo itu.

"Benarkah?" tanya Kiba mengejek. Pemuda jabrik itu memutar tubuhnya, beberapa detik setelahnya Kiba sudah berada dibelakang Juugo.

"Bodoh!" teriak Sai

"B-bagaimana mungkin?" ucap Juugo tak percaya, cukup terkejut dengan kecepatan yang dimiliki lawannya. Kiba sudah bersiap untuk memasukkan bola kedalam ring, pemuda itu melompat.

Braakk!

Suara bola menghantam ring terdengar cukup keras. Kiba masih bergelayutan di ring, memberi senyum mengejek pada musuh. Pemuda itu melompat turun, berlari kearah teman setimnya.

"Kyaa! Kiba-kun keren sekali!" teriak seorang gadis dan beberapa detik setelahnya teriakan dari para gadis lain yang mengeluh-eluhkan nama Kiba terdengar semakin keras.

Gaara menempuk pundak kiri Kiba. "Kau hebat." pujinya

"Arigatou."

Sai mendesih tajam, pemuda berkulit pucat itu memandang Kiba dengan sorot mata membunuh. "Singkirkan dia." perintah Sai pada Shino.

"Baik kapten." ucap Shino meneruti perintah Sai.

Priiiittt!

Pertandingan di mulai kembali, kedua tim sudah siap diposisi mereka masing-masing. Sejak pertandingan kembali dimulai, Kiba sama sekali bebas tak ada yang berusaha untuk menghalanginya.

Menma melihat keganjilan dari posisi Kiba yang bebas itu. Otaknya berpikir, terlalu aneh jika kita membiarkan lawan dalam posisi seperti itu. Tidak hanya Menma, Naruto juga berpikiran hal yang sama seperti sahabat jangkungnya itu.

Gaara mendrible bola kemudian memberikannya pada Sasuke. Sasuke tersudut, Sai menghalanginya. Dia harus melempar bola ini secepatnya, jika tidak Sai akan merebutnya. Tapi, bagaimana caranya. Neji, Shikamaru dan Gaara dihadang oleh lawan. Dia tidak mungkin melemparkan bola itu pada salah satu diantaranya, terlalu beresiko.

Mata Sasuke jelalatan. Kiba. Ya, satu-satunya rekan timnya yang masih bebas adalah Kiba. Dimana anak itu? tanya Sasuke dalam hati.

"Sasuke!" seru Kiba. Pemuda itu melambaikan tangannya kearah Sasuke, bermaksud untuk melemparkan bola itu padanya. Tanpa pikir panjang, Sasuke melemparkan bola itu pada Kiba.

Haap!

Kiba menangkap bola itu dengan baik kemudian mendriblenya menuju ring lawan. Shino yang awalnya menghadang Neji kini sudah berlari menyusul Kiba. Shino berlari kearah Kiba, Kiba tersenyum mengejek.

"Mencoba menghalangiku, heh? Coba saja kalau kau bisa." Gumam Kiba masih tetap mendrible bola.

Mata beriris biru milik Menma membulat, otaknya sudah menemukan keganjilan itu. Trik dan strategi yang digunakan oleh pemain St. Thomas High School begitu dikenalnya.

Kiba masih mendrible bola saat Shino masih berlari kearahnya. Shino menatap tajam Kiba dibalik kacamata hitam miliknya. Mati kau, Inuzuka, batin Shino.

Kiba cukup terkejut dengan Shino yang bukannya menghalanginya malah berlari melewatinya. Ada apa dengannya? tanya Kiba dalam hati. Heran dengan kelakuan tak biasa lawannya.

Tidak hanya Kiba. Sasuke dan juga pemain Tokyo International High School juga terheran-heran dengan aksi Shino.

"Dasar bodoh," gumam Kiba

Kiba kembali mendrible bola itu tanpa menyadari jika Shino membayanginya dari belakang. Naruto yang berdiri dipinggir lapangan tampak mengigit bibir bawahnya. Dia tahu trik ini. Sangat tahu. Dia pernah melihatnya saat pertandingan basket antar sekolah saat dia masih bersekolah di Los Angeles dulu.

Kiba melompat, bersiap-siap untuk melakukan shooting. Kiba menoleh, cukup terkejut saat mendapati Shino berada disampingnya tengah meraih bola yang sebentar lagi akan masuk kedalam ring musuh.

"Kau kaget, Inuzuka?" tanya Shino

Dengan cepat Shino meraih bola itu. Menyikut perut pemuda jabrik itu dengan keras mengakibatkan Kiba kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Tak ada yang melihat hal yang dilakukan oleh Shino itu karena gerakannya yang sangat cepat.

"Aaargh!" erang Kiba saat sikut Shino mengenai ulu hatinya.

"Kiba, awas!" seru Menma dan Naruto dari pinggir lapangan.

Kiba terjatuh dengan sangat keras kebawah. Pemuda itu memegangi perutnya yang sakit.

Kreekk!

Shino menginjak kaki dan tangan kanan Kiba sesaat setelah pemuda itu terjatuh.

"Aaarrgh!" erang Kiba lagi.

Shino menyeringai kemudian mendribble bola itu dan memberikannya pada Sai yang entah sejak kapan sudah berada beberapa meter di depan ring lawan.

Braak!

Bola masuk kedalam ring dengan sempurna. Dua point untuk tim St. Thomas High School. "Kerja bagus, Shino." puji Sai pada rekannya itu.

Kiba masih mengerang kesakitan di tengah lapangan. Keempat rekan tim yang lain menghampiri Kiba yang sedang diperiksa oleh tim medis. "Kau baik-baik saja, Kiba?" tanya Gaara.

"Kakiku. Kakiku sakit sekali." ucap Kiba menahan sakit

"Tulang keringnya retak, tangan kanannya juga patah. Sepertinya dia tidak bisa melanjutkan pertandingan." ucap pria bertage name Suigetsu itu.

"Aaargh!"erang Kiba kembali

"Kami harus membawanya ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan." ucapnya kemudian menyuruh teman-teman tim medis yang lain untuk mengangkat Kiba keatas tandu.

Guy memberikan time out kepada kedua tim. Sasuke tengah meneguk minumannya. Ketiga pemuda yang lain juga melakukan hal yang sama.

"Bagaimana keadaan, Kiba?" tanya Naruto yang muncul secara tiba-tiba bersama Hinata dan Menma.

"Parah," jawab Neji

"Maksudmu?" tanya Sakura yang juga datang bersama Ino

"Tulang keringnya retak dan tangan kanannya patah." sambung Shikamaru

"Brengsek! Sudah kuduga hal ini akan terjadi." geram Menma

"Apa maksud perkataanmu jika kau sudah menduga hal ini akan terjadi?" tanya Neji

"Aku dan Menma sudah curiga saat babak ketiga dimulai, terlalu aneh jika Kiba yang baru saja mencetak angka dipapan skor dibiarkan bebas begitu saja oleh lawan. Kami yakin jika itu adalah taktik mereka untuk menyingkirkan Kiba dari pertandingan," tutur Naruto

"Bagaimana mungkin, bukankah Kiba cedera karena terjatuh saat akan melakukan shooting?" tanya Ino

"Itu hanya kamuflase dari perbuatan yang dilakukan pemuda berkacamata itu pada Kiba." Jawab Menma.

"Bukankah itu suatu pelanggaran? Kenapa tidak katakan saja pada wasit?' usul Sakura.

"Percuma, Sakura. Karena wasit tidak melihatnya." Jelas Naruto

Keheningan menghampiri mereka. Semuanya sibuk dengan pemikiran mereka masing-masing. Hingga Guy datang dan memecah keheningan itu.

"Tim sekolah kita kekurangan satu pemain, kita juga tidak memiliki pemain cadangan. Kalau begini caranya, tim basket kita akan di diskualifikasi dan dinyatakan kalah." tutur Guy.

"Kalian harus mendapatkan pemain cadangan dalam waktu 5 menit, kalau tidak kalian tahu apa akibatnya." Sesal Guy kemudian berlalu pergi.

"Bagaimana mungkin kita bisa mendapatkan pemain cadangan dalam waktu 5 menit, Suke." ucap Shikamaru.

Naruto melirik kearah Menma. Menma yang merasa ada yang memperhatikannya langsung menoleh kearah Naruto. Dan, benar saja, gadia pirang itu tengah melihatnya dengan mata birunya itu.

Menma tahu arti tatapan Naruto yang tertuju padanya itu. Tanpa bersuara Menma mengatakan tidak. Pemuda jangkung itu kemudian pergi disusul oleh Naruto yang tampak berlari dibelakangnya.

"Menma." panggil Naruto

Menma masih saja berjalan di koridor yang sepi itu. "Menma." Panggil Naruto lagi

"Tidak, Naruto. Apapun yang ada didalam kepala kuningmu itu aku akan bilang tidak."

"Tapi aku belum bicara apapun."

"Karena aku sudah tahu apa yang ada di kepalamu itu, my little sister."

"Oh ya?"

"Tentu saja. Kau pasti akan memintaku untuk menggantikan Kiba dalam pertandingan itu." ucap Menma.

"Ayolah, kali ini saja." Pinta Naruto

"No."

"Menma, please."

"No."

"Bukankah kau bilang aku ini little sister-mu?"

"Tentu saja kau little sister-ku, Naruto."

"Kalau begitu kenapa kau tidak bisa menuruti permintaanku yang mudah ini?" tanya Naruto.

"Bukan begitu Naruto."

"Lalu?"

"Aku hanya sudah lama tidak bermain lagi dan kau tahu itu." ucap Menma seraya membalikkan badannya dan memunggungi Naruto.

Naruto masih mengingat kejadian itu. Ya, kejadian 2 tahun lalu. 2 tahun lalu ketika mereka masih duduk dibangku Junior High School dan saat Menma masih menjadi kapten dari tim basket di sekolah mereka dulu. Saat itu, dipertengahan musim semi, sekolah meraka mengadakan pertandingan basket persahabatn antar sekolah. Semuanya berjalan dengan lancar, kedua tim menunjukkan performa mereka masing-masing. Hingga di babak terakhir, tim lawan melakukan sesuatu yang tidak terduga.

Salah satu pemain dari tim Menma mengalami cedara parah karena taktik yang dilakukan oleh tim lawan. Taktik yang sama yang dilakukan oleh tim St. Thomas High School pada Kiba. Rekan Menma itu mengalami pendarahan dalam karena kepalanya terlalu keras membentur lantai lapangan, tidak hanya itu rekan Menma bernama Tobi itu juga mengalami patah tulang rusuk dan kaki karena perbuatan salah satu pemain dari tim lawan yang sengaja menyikut dan menginjak bagian vital rekannya itu.

Karena cedera yang parah itu, Tobi tidak bisa tertolong. Rekan setim juga sahabat Menma dari kecil itu menghembuskan nafas terakhirnya saat ambulance membawanya menuju ke rumah sakit. Sejak saat itu pula, Menma melepas jabatannya sebagai ketua tim basket di sekolahnya dan berniat untuk tidak bermain basket lagi. Dia merasa bukan kapten yang baik karena tidak bisa menjaga tim-nya sendiri. Dia gagal. Dia merasa bersalah pada keluarga Tobi, walaupun orangtua sahabatnya itu sudah merelakan kepergian putra mereka dan tidak pernah sekaliapun menyalakan Menma atas kejadian yang menimpah Tobi, tapi tetap saja Menma merasa bersalah.

Naruto menepuk pundak Menma pelan. "Aku tahu. Maaf, sudah memintamu melakukan hal itu." sesal Naruto

Menma membalikkan badannya, menatap wajah Naruto. Pemuda itu tersenyum kemudian mengacak rambut pirang Naruto.

"Terima kasih karena kau sudah mengerti, Naruto." ucap Menma

Di lapangan, Sai tampak bermesraan dengan kekasihnya Karin. "Kau yakin mereka tak punya pemain cadangan, Sai?" tanya Juugo

"Tentu saja aku yakin." ucap Sai mantap seraya memeluk pinggang Karin erat

"Kalau begitu, kita akan menang dengan mudah." komentar Chouji

"Semangat masa muda!" teriak Lee yang kemudian dihadiahi jitakan manis dari kekasih kaptennya. "Berisik, baka!" ucap gadis itu tajam.

Sedangkan disisi lain lapangan. Tim basket yang diketuai oleh Sasuke tampak gelisah, pasalnya beberapa menit lagi mereka harus mendapatkan pemain cadangan. Neji dan Gaara sudah pergi sedari tadi dan mencari siapa saja siswa yang berniat untuk menjadi pemain cadangan mereka.

Sakura dan ino sudah kembali kebarisan mereka, berkumpul dengan pemandu sorak lainnya. Dalam hati, kedua gadis itu sedang merapalkan doa, semoga saja Neji dan Gaara berhasil mendapatkan pemain dan mereka tidak di diskualifikasi karena kekurangan pemain.

Walau diam, sebenarnya Sasuke juga merasa panik tapi itu berhasil ditutupinya dengan baik dengan tampang Uchiha-nya itu. Pemuda raven itu melihat ke papan skor. Mereka tertinggal dua angka. Hanya tinggal satu babak lagi, dia tidak mungkin menyerah begitu saja. Karena kata menyerah tidak ada didalam kamus hidupnya, jika Neji dan Gaara tidak menemukan pemain cadangan maka dia akan menarik siapapun yang berada di pinggir lapangan dan menyeretnya untuk bermain bersama tim-nya.

Tidak peduli jika orang akan dia seret itu pandai atau tidak dalam hal bermain basket, setidaknya tim-nya tidak kekurangan pemain. Neji dan Gaara kembali, wajah kedua pemuda itu tampak lesu. Neji menggelengkan kepalanya lemah begitu juga dengan Gaara. Sasuke bangkit dari tempat duduknya.

"Kau mau kemana, Suke?" tanya Neji

Sasuke tidak menjawab, pemuda itu memandang satu per satu siswa yang bisa dijangkau oleh penglihatannya. Mencari siapa yang cocok menjadi pemain cadangan. Ya, ini adalah satu-satunya cara agar mereka tetap bermain. Sasuke hendak melangkahkan kakinya saat Menma datang bersama dengan Naruto.

"Masukkan aku ke dalam tim kalian." ucapnya

"Menma." ucap Naruto tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

"Jangan bercanda." ucap Sasuke datar

"Aku tidak bercanda Uchiha. Masukkan aku, kalian tidak punya pilihan lain."

"Dia benar Sasuke, kita tidak punya pilihan lain." sambung Gaara

"Hn" gumam Sasuke tidak jelas kemudian kembali ke tempat duduknya

Neji menyodorkan seragam tim basket mereka pada Menma. "Cepat pakai, kita tidak punya banyak waktu lagi." ucap Neji yang dibalas anggukan kepala oleh Menma

Menma sedang memakai seragam basket yang diberikan Neji di ruang ganti, sedangkan Naruto, dia berdiri diluar menunggu Menma selesai berpakaian. Menma keluar, pemuda itu tampak tampan dengan seragam yang ia kenakan.

"Sudah lama aku tak melihatmu menggunakan seragam basket lagi. You're so awesome." puji Naruto

"I know it."

"Kau yakin akan melakukan ini?"

"Tentu."

"Bukankah kau pernah bilang untuk tidak akan menyentuh dunia basket lagi?"

"Ya, aku mengatakan hal itu sebelum aku menyadari jika aku tidak bisa hidup tanpa basket. Lagipula...aku tidak bisa menolak permintaan little sister-ku 'kan?"

"Terima kasih." ucap Naruto seraya mengahambur kepelukan Menma

Menma melepaskan pelukan Naruto dari tubuhnya. "Tapi kau harus membantuku, Naruto." ucap Menma.

"Apa?" tanya Naruto

"Berikan aku saran dan susun strategi." pinta Menma

"Tentu saja, yellow flash." ucap Naruto seraya menyebut sebutan Menma saat pemuda itu masih menjabat sebagi kapten basket di sekolah mereka dulu.

Juugo sedang berdiri dipinggir lapangan, memandang tim Sasukeyang berada diseberang tim-nya. Pemuda berambut orange itu berkata.

"Kau bilang mereka tidak memiliki pemain cadangan. Jadi, apa maksudnya itu, heh?" tanya Juugo.

Sai bangkit dari posisi duduknya, memandang ke sisi lain lapangan melihat seorang pemuda jangkung berambut kuning memakai seragam basket Tokyo International High School.

"Brengsek!" umpat Sai

"Apa yang akan kau lakukan sekarang, sayang?" tanya Karin

"Shino!" panggil Sai

"Ya, kapten." sahut Shino

"Lakukan rencana B." perintah Sai pada Shino

"Baik!" ucap Shino kemudian berlalu dan menghampiri pemain lain untuk memberitahukan tentang rencana B mereka.

Guy menghampiri tim Sasuke. "Babak keempat akan dimulai 2 menit lagi. Bersiaplah!" ujarnya kemudian pergi.

"Dengar! Kita hanya tinggal bermain satu babak lagi. Kita tertinggal 2 point, jangan biarkan mereka mengendalikan bola. Kalian paham?" tanya Sasuke

"Kami paham!"

"Boleh aku memberi saran?" tanya Menma

"Apa?" Sasuke berbalik tanya

"Naruto silakan." ucap Menma mempersilahkan Naruto untuk berbicara. Shikmaru dan Neji melirik Menma bersamaan. Aku pikir dia yang akan bicara, batin keduanya.

"Aku sarankan kalian berhati-hati pada pemuda berkacamata itu," ucap Naruto. "Mengingat apa yang dilakukannya pada Kiba." Lanjutnya

"Lalu apa saranmu, Naruto?" tanya Shikamaru.

"Melihat kemampuan yang kalian miliki, aku menyimpulkan...Sasuke dan Gaara dapat menciptakan kombinasi yang hebat lewat drible mereka..." jelas Naruto.

"...Neji memiliki kemampuan bertahan yang kuat dan Shikamaru memiliki otak untuk menyusun strategi dalam kondisi genting sekalipun, serta Menma, dia memiliki kecepatan jauh diatas Kiba." Naruto menatap lurus kelima pemuda tampan itu. "Kurasa dengan begitu formasi tim akan sempurna."

"Great, Naruto!" seru Menma

"Tapi..."

"Tapi apa?" tanya Sasuke

"Tapi formasi sempurna saja tidak cukup."

"Apa maksudmu, Naruto?" tanya Menma tidak mengerti

"Aku ingin kalian berhadapan dengan mereka secara one on one. Neji, kau menempellah terus pada si rambut mangkuk itu, Shikamaru, urusi pemuda gempal itu. Gaara, aku ingin kau menghadang si rambut orange." ucap Naruto yang dibalas anggukan kepala oleh Neji, Shikamaru dan juga Gaara.

"Untuk kalian berdua. Menma, tolong persempit pergerakan pemuda berkacamata itu, jangan sampai ada ruang antara dirinya dan juga sang kapten. Dan, kau Sasuke...urusi kapten mereka, buat dia tidak bisa bergerak sesenti pun."

"Setelah itu aku akan memberi kode untuk kalian melakukan formasi. Kalian mengerti?" tanya Naruto

"Dimengerti." ucap kelimanya serempak.

.

.

.

.

.

.

Babak keempat di mulai, beberapa penonton tampak terkejut saat mendapati ada pemain baru dalam tin yang diketuai oleh Sasuke.

"Bukankah itu Menma?" tanya Sakura

"Iya, itu Menma. Tidak salah lagi, itu pasti Menma."

"Aku tidak tahu kalau dia bisa bermain basket. Aku harap dengan kehadirannya, tim kita akan menang."

"Aku juga berharap begitu, Sakura."

Babak kali ini, tim Sasuke lebih agresif daripada babak sebelumnya. Terlihat dari mereka yang lebih mendominasi permainan dan menguasai bola. Shikamaru dengan lihai mendrible bola, gerakannya yang terlihat santai namun cepat cukup membuat beberapa penonton wanita berdecak kagum akan gaya pemuda Nara itu. namun, Shikamaru tidak memperdulikan itu, kini mata kuacinya berkeliaran mencari kawan-kawannya.

"Shikamaru!" panggil Menma. "Cepat lempar bolanya!"

Shikamaru tersenyum tipis. "Baiklah!"

Grep!

Menma melompat dan berhasil menerima operan dari Shikamaru, pemuda jangkung itu mendrible dengan cepat hingga ia hampir sampai di depan ring jika saja seseorang tidak menghadangnya.

"Kau tidak akan bisa melewatiku."

Sapphire itu menunjukkan bahwa ia cukup terkejut akan kedatangan Shino. Tapi, keterkejutan itu langsung hilang dan terganti dengan sebuah seringaian. "Benarkah?"

Naruto yang melihat Menma terus berdiam merasa geram. "Move! Move!"

Mendengar teriakan Naruto, pemuda itu memperlebar seringainnya. "Stupid."

Dengan gesit Menma melakukan pivot yang sukses melewati Shino. Pemuda itu sangat cepat untuk bisa melewati hadangan Shino.

"Wow!" teriakan para penonton yang kagum akan aksi Menma yang kini tengah mendrible bola.

Menma merasa Shino terus mengejarnya, sapphirenya melirik pemuda itu melalui ekor matanya. "Kau terlambat." Ucap Menma sinis. Tangan tan itu terangkat dan melemparkan bolanya kearah ring musuh.

"Tidak, jaraknya cukup jauh!" ucap Neji saat melihat rekan barunya itu telah melemparkan bola. "Dia begitu bodoh!"

Dengan gerakan slow motion, bola terus melambung kearah ring. Semua pasang mata menatapnya dengan rasa penasaran. Nafas mereka tercekat, menyaksikan detik-detik bola itu akan berakhir masuk kedalam ring atau malah membentur bibir ring.

3 meter….

2 meter….

1 meter…

10 cm…

8 cm….

6 cm…

3 cm…

2 cm…

1 cm…

"Yeah!" seru para penonton saat bola hasil lemparan Menma itu berhasil masuk kedalam ring. Three poin untuk tim Sasuke.

Seluruh anggota tim tersenyum lebar. Mereka kembali ke bangku regunya masing-masing karena regu lawan mereka meminta untuk diberikan waktu time out.

"Menma, kau hebat!" seru Naruto seraya memeluk sahabat jangkungnya itu, membuat Sasuke mendelik tajam kearah keduanya.

"Tentu saja aku hebat." ucapnya narsis

"Kupikir kau melakukan tindakan bodoh." ucap Neji datar.

Menma melepaskan pelukannya pada tubuh Naruto kemudian menatap Neji. "Never."

"Yosh!" seru Naruto. "Bisa kita bicarakan strategi kita selanjutnya?" tanya Naruto

Semuanya mengangguk dan mendekat kearah Naruto, mendengar dengan seksama apa yang akan dikatakan gadia pirang dihadapan mereka ini.

"Kalian lihat tadi 'kan?" ujar Naruto. "Shino cukup berbahaya, jika Menma tidak memiliki kecepatan diatas rata-rata seperti itu. Aku yakin, Menma tidak akan bisa melewatinya dan mencetak three point untuk tim kita."

"Jadi, setelah time out ini. Aku minta kalian jalankan tugas yang kuberikan pada kalian tadi. Hadang mereka, buat mereka tidak bisa bergerak. Dan kau Menma, jauhkan Shino dari Sai!"

Priit!

Priit!

Wasit kembali meniup peluitnya, pertanda bahwa waktu time out sudah habis. Kedua tim segera memasuki lapangan kembali. Sai berjalan beriringan dengan Shino.

"Percepat eksekusinya." ucap Sai memerintah.

"Baik, kapten."

Peluit sudah ditiup beberapa detik lalu. Namun, masih belum ada pergerakan dari kedua tim. Penonton mulai berbisik karena mereka sama sekali tidak bergerak.

Tiba-tiba Gaara bergerak cepat, melakukan chest past kearah Sasuke. Ya, mereka sudah memulai kombinasi mereka sekarang.

"Semuanya, bergerak!" titah Naruto yang berada dipinggir lapangan bersama Hinata.

Sasuke masih terus mendrible bola, kemudian melemparnya pada Gaara saat Sai mulai menghadangnya.

Gaara mendrible bola tapi sayang dengan gesit Juugo sudah membuat bola itu berpindah padanya. "Shino!" panggilnya dan kemudian melempar bola itu pada Shino.

Shino menangkap bola itu, Menma cukup terkejut dengan aksi Shino yang tidak sesuai dengan dugaannya. Pemuda jangkung itu mengejar Shino yang tengah mendrible bola menuju ring. Shino menyeringai saat tahu ternyata Menma mengejarnya.

"Shit! Menma kembali! Itu jebakan!" teriak gadis pirang itu. Menma berhenti mengejar Shino saat mendengar teriakan Naruto. Menyadari kebodohannya.

"Sudah terlambat." ucap Shino kemudian mengoper bola itu kepada Sai. Sasuke melihat ke kiri dan ke kanan. Sial dia kecolongan dengan cepat pemuda raven itu mengejar Sai.

Sai mendrible bola itu hingga di depan ring lawan, pemuda berkulit pucat itu membuat ancang –ancang untuk melompat. Dan bersamaan dengan itu Sasuke juga melakukan hal yang sama, keduanya saling merebut dan mempertahankan bola di udara. Hingga dengan sengaja Sai menubruk bahu Sasuke keras sehingga pemuda raven itu terjatuh dan dahinya terbentur lantai lapangan.

"Sasuke!" pekik Sakura

Sai memasukkan bola kedalam ring. Dua point untuk tim Sai. Sasuke mencoba bangkit dari posisinya. Dia merasakan sakit di kepalanya. Dengan sempoyongan Sasuke berdiri, menatap tajam kearah Sai yang berjalan melewatinya dengan santai. Sasuke dapat melihat jika Sai baru saja tersenyum mengejek kearahnya.

Keempat rekannya yang lain menghampirinya. "Kepalamu berdarah Sasuke." ucap Gaara.

Menma menghampiri wasit meminta time out untuk timnya. Pemuda itu kemudian menyusul timnya yang sudah berada di bangku regu.

"Kau baik-baik saja?" tanya Naruto pada Sasuke.

"Hn."

"Hinata bisa kau ambilkan kotak P3K."

"Baik." sahut Hinata

Hinata menyerahkan kotak berwarna putih itu pada Naruto. Dengan cekatan gadis itu membersihkan luka di dahi Sasuke.

"Aaargh!" erang Sasuke

"Tahanlah, ini tak akan lama." ucap Naruto seraya meniup dahi Sasuke yang terluka.

Gaara memandang datar momen diantara Sasuke dan Naruto itu. Pemuda itu mengalihkan perhatiannya, tangannya terkepal erat. Dia cemburu. Sakura baru saja tiba di bangku regu untuk tim sekolahnya. Dia sangat khawatir akan kondisi Sasuke. Gadis itu hendak menayakan keadaan Sasuke tapi niatnya batal saat melihat Naruto sedang mengobati Sasuke yang terluka.

Sakura meremas pom yang ia pegang, mendadak hatinya terasa sakit saat melihat pemandangan itu.

"Sudah selesai." ujar Naruto setelah menempelkan perban di luka Sasuke.

Priit !

Priiit!

Time out sudah selesai, kedua tim kembali ke dalam lapangan. Naruto menepuk pundak Menma pelan saat pemuda itu hendak melangkah masuk ke dalam lapangan. Menma menoleh kebelakang. "Berjuanglah." ucap Naruto menyemangati sahabatnya itu.

"Tentu saja." ujar Menma seraya mengelus lembut tangan Naruto yang masih menempel di pundaknya.

Permainan kembali dimulai, kedua tim saling berebut bola. Neji masih terus mendrible bola kemudian melemparnya pada Gaara saat Lee mulai menghadangnya.

"Formasi!" seru Naruto lantang. Sasuke, Menma, Gaara, Shikamaru dan Neji mengangguk paham.

"Sasuke!" panggil Gaara seraya melempar bola kearah Sasuke. Sasuke menerimanya dengan baik dan kembali mendrible bola.

Syuut!

Sasuke tersentak, Sai begitu cepat merebut bolanya. "Shit!" umpatnya. Tak mau menunggu lama Sasuke segera berbalik dan berlari mengejar Sai yang kini mendrible bola kearah ringnya.

"Juugo!" Sai melempar bola pada Juugo. Juugo menerimanya dan mendrible bola bundar itu dengan cepat.

Sasuke melihat kearah papan skor. Waktu mereka tidak banyak dan mereka tertinggal satu angka dari lawan. Kalau begini, timnya akan kalah.

"Neji!" seru Shikamaru seraya memberikan kode yang hanya mereka berdua yang tahu.

Segera saja Shikamaru berlari cepat kearah Juugo, kemudian menghadang pemuda itu dan mencoba untuk merebut bolanya. Dan sesuai dengan perkiraan Shikamaru, pemuda dihadapnnya itu terpancing dan mencoba untuk mempertahankan bolanya. Karena merasa terus di desak oleh Shikamaru, Juugo segera melempar bolanya pada Lee yang berada tak jauh darinya.

"Kena kau." Gumam Shikamaru pelan

Neji yang berada disana memotong proses pengoperan tersebut.

"Shit!" umpat Juugo kesal. Shikamru menyeringai lebar, rencananya berhasil.

Neji mengambil alih bola dan mendriblenya, kemudian melemparnya pada Menma yang kebetulan tidak jauh darinya. Menma menangkapnya dengan lihai dan kembali mendriblenya hingga sampai pada daerah tembakan.

"Jangan biarkan dia mencetak angka!" seru Sai pada rekan-rekannya.

Merasa waktunya sudah tepat, Menma melakukan lompatan yang membuat seluruh penonton yang berada disana terdiam. Tapi sayang, saat dia melompat salah satu tim lawan juga ikut melompat. Menma masih mempertahankan bolanya, pemuda itu melihat kesekeliling.

"Sasuke!" panggil Menma dan kemudian melempar bola itu kearah sang kapten

Dibalik kacamata hitamnya Shino membelakkan matanya. Karena masih terkejut akan aksi Menma yang melempar bolanya diatas udara seperti itu, Shino tidak menyadari jika Menma menyikut perutnya dengan keras menyebabkan pemuda itu jatuh terjerembap ke lantai lapangan yang kasar.

"Aaargh!" erang Shino

Setelah berhasil menerima bola pemberian dari Menma, Sasuke dengan lihai mendrible bola itu menuju daerah tembakan. Pemuda raven itu melakukan lay up. Para penonton harap-harap cemas.

"Sasuke." gumam Shikamaru menatap penuh harap

1…

2…

3…

Syuut!

"Yeeeahh!" seru seluruh penonton membahana. Dua point untuk tim Tokyo International High School.

Seluruh pemain Tokyo International High School bersorak gembira. Sasuke memandang ring basket itu dengan nafas memburu. Senyum terukir di wajah tampannya. Shikamru, Neji dan Gaara menghampiri keapten mereka memberika pujian akan eksekusi Sasuke tadi.

Menma yang tadi sempat berbaring dilapangan akibat tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya saat melompat di udara tadi mulai bangkit. Mata beriris biru itu menatap Shino yang masih meritih kesakitan karena ulah Menma yang menyikut perutnya.

"Anggap saja itu balasan karena kau sudah melukai temanku." ucap Menma kemudian berlalu meninggalkan Shino yang masih tergeletak.

Pemuda jangkung itu merentangkan kedua tangannya lebar, menyambut kedatangan Naruto yang mengarah padanya. Naruto tersenyum kemudian menghambur kedalam pelukan pemuda yang lebih tua beberapa bulan darinya itu.

"Kau sangat luar biasa." puji Naruto

"Ya, dan kau tahu. Aku merasa seperti terlahir kembali." ucap Menma.

Hinata yang berdiri didekat keduanya hanya tersenyum kecil. Menma melepaskan pelukannya pada tubuh Naruto. "Kau tidak ingin memelukku, Hinata?" tanya Menma.

"A-aku…"

"Kemarilah." ajak Menma seraya menarik gadis indigo itu dan membawanya kedalam dekapannya. Naruto tertawa saat melihat wajah Hinata memerah. Dan ketiganya berpelukkan, walau Hinata tampak ragu untuk memeluk Menma.

Sakura dan Ino menghampiri pemain lainnya yang sedang bersama dengan Sasuke. memberikan selamat atas kemenangan mereka. Sedangkan tim Sai tampak berdiri tidak jauh dari kerumunan yang sedang memberikan selamat pada kemenangan musuhnya itu.

"Kita kalah ya?" tanya Lee

"Sepertinya begitu." jawab Chouji santai

"Itu karena Juugo terpancing dengan umpan lawan." sindir Lee

"Apa maksudmu, kepala mangkuk?"

"Sudahlah, ayo kita pulang." ajak Sai

"Baik, kapten" sahut ketiganya

"Ngomong-ngomong dimana Shino?" tanya Chouji

"Aku disini." jawab Shino yang muncul dengan tiba-tiba

"Ada apa denganmu, Shino?" tanya Sai yang melihat Shino berjalan tertatih dengan tangan yang memegangi perutnya.

"Hanya mendapatkan 'salam' dari seseorang, kapten." jawab Shino kemudian berjalan beriringan bersama sang kapten disusul oleh ketiga temannya yang lain.

.

.

.

.

.

.

Seminggu setelah kemenangan tim basket yang diketuai Sasuke saat melawan tim basket dari St. Thomas High School, Guy menawarkan Menma untuk bergabung dan menjadi pemain inti di tim basket sekolah mereka. Awalnya Menma menolak, tapi karena desakan dari Naruto akhirnya pemuda itu menyetujui tawaran dari Guy. Kondisi Kiba juga sudah berangsur-angsur pulih, walau dia masih harus menggunakan tongkat untuk berjalan dan gips yang membungkus tangan kanannya sampai beberapa minggu ke depan.

"Ayo bangun pemalas." ucap Menma seraya menarik selimut yang membungkus tubuh Naruto.

"Sebentar lagi, aku masih mengantuk."

"Ini sudah lewat jam 8. Ayo cepat bangun."

"Dan ini hari libur, biarkan aku tidur lebih lama lagi." protes Naruto

"Baiklah, tapi jangan salahkan aku jika aku dan yang lain berangkat tanpamu ." ujar Menma

Naruto langsung bangkit setelah mendengar perkataan Menma. "Astaga! Aku lupa jika kita akan pergi hari ini." teriak Naruto yang kemudian melompat dari atas tempat tidur, menyambar handuk dan melesat masuk ke dalam kabar mandi.

Bruuk!

"Ittai!" Naruto meringis karena terpelesat di dalam kamar mandi.

Menma yang mendengar suara gaduh itu hanya menggelengkan kepalanya, tidak mengerti akan tingkat kecerobohan sahabatnya yang sudah berada dibatas normal itu.

"Selalu seperti itu." gumamnya kemudian melangkah pergi dari kamar Naruto.

Naruto dan Menma sedang berada didepan kediaman Shikamaru bersama teman-teman mereka yang lain. Hari ini mereka akan pergi berlibur di vila milik keluarga Nara selama dua hari.

"Seharusnya kau tetap berada di rumah, Kiba." ujar Neji

"Dan membiarkan kalian bersenang-senang tanpa aku? Tidak." ucap Kiba

"Terserah kau saja, tapi jika terjadi sesuatu denganmu. Kami tak akan bertanggung jawab." kata Neji

"Ya, ya,ya." ucap Kiba acuh

Hinata melihat kearah Naruto yang sedang tertidur di dalam mobil. "Apa Naru-chan baik-baik saja?" tanyanya pada Menma.

"Dia baik-baik saja, tidak perlu khawatir. Dia memang seperti itu jika akan pergi ke suatu tempat, Hinata." jelas Menma.

Sasuke yang sedang bersandar di mobil sport miliknya tampak tersenyum melihat kebiasaan Naruto itu. Kau tidak pernah berubah dobe, batinnya.

"Ayo kita berangkat." ajak Shikamaru seraya membuka pintu mobilnya.

Shikamaru melajukan mobilnya disusul oleh Sasuke dan Gaara, mereka berdua membawa mobil sendiri. Kiba yang sedang dalam masa pemulihan terpaksa menumpang di mobil Shikamaru. Sedangkan Sakura dan Ino satu mobil dengan Neji dan Hinata.

Menma mengikuti dari belakang keempat mobil lainnya. Pemuda itu tidak begitu paham akan jalanan kota Tokyo. Sesekali dia melirik kearah Naruto yang masih tertidur pulas disampingnya, kadang pula Menma membenarkan posisi tidur Naruto.

"Dasar tukang tidur." gumam Menma pelan kemudian kembali fokus mengemudikan mobilnya.

Setelah dua jam berada diperjalanan akhirnya mereka samapi di villa keluarga Nara. Villa itu terletak tidak jauh dari pantai. Beberapa maid menyambut kedatangan mereka. Naruto baru saja turun dari dalam mobil, membuka bagasi dan menurunkan koper mininya.

Naruto melangkahkan kakinya mengikuti teman-temannya yang lain. Naruto mengedarkan pandanganya kesekeliling, merasa tak asing dengan tempat yang ia datangi ini.

"Sedang apa kau disana, Naruto? Ayo masuk." ajak Shikamaru

"Iya." sahut Naruto kemudian kembali menyeret kopernya masuk ke dalam villa

Naruto masih mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru villa milik keluarga Shikamaru.

"Villa yang bagus, Shika." puji Ino

"Ya, keluargaku membeli villa ini 3 tahun lalu dan sama sekali belum pernah di renovasi. Semuanya masih sama seperti yang ditinggalkan pemilik lamanya." ujar Shikamaru.

"Disini tersedia 14 kamar tidur, jadi kalian bisa memilih sendiri dimana kalian akan beristirahat. Tapi ingat, jangan masuk ke dalam kamar yang berada di ujung lorong lantai 3." terang Shikamaru.

"Kenapa?" tanya Sakura penasaran

"Aku tidak tahu kenapa, yang pasti penjual villa ini bilang ruangan itu adalah kamar rahasia dari anak pemilik villa sebelumnya." ucap Shikamaru.

Naruto masih diam sembari memperhatikan seluruh ruangan tempatnya berada sekarang. Hingga tepukan Menma di bahu kirinya membuatnya tersadar.

"Kau baik-baik saja?" tanya Menma yang merasa ada yang aneh pada sahabatnya sejak mereka sampai di villa ini beberapa saat lalu.

"Ya, aku baik-baik saja."

"Kalau begitu, ayo kita pilih kamarmu." ucap Menma yang dibalas anggukan kepala oleh Naruto.

Naruto memilih kamar di lantai 3 disamping kamar Hinata. Naruto membuka pintu kamar itu dan membiarkannya terbuka. Gadis itu menyert kopernya dan menaruhnya di dekat ranjang kemudian melangkah kearah jendela, menyibak tirai berwarna jingga itu. Naruto terpekik kecil saat melihat dengan jelas pemandangan dibalik jendela kamarnya. Pantai. Kamarnya menghadap langsung kearah pantai.

"Pilihan yang bagus." ujar Shikamaru yang berdiri diambang pintu.

"Shikamaru."

"Boleh aku masuk?" tanya pemuda Nara itu

"Tentu saja."

Shikamaru melangkah kearah Naruto dan berdiri disamping gadis pirang itu. Menikmati pemandangan pantai dari balik jendela.

"Aku dan keluargaku sudah lama membeli villa ini tapi kami tak pernah sekalipun tahu jika salah satu kamar disini menghadap langsung ke pantai. Sedangkan kau, yang notabennya baru pertama kali berkunjung langsung menemukan kamar ini" ucap Shikamaru.

"Anggap saja aku sedang beruntung." ujar Naruto ringan

Keheningan melanda keduanya hingga suara deheman seseorang membuat mereka menoleh ke sumber suara dan mendapati sosok yang sangat mereka kenal sedang berdiri diambang pintu.

"Sasuke." panggil Naruto

"Hn."

"Mendukosei, sebaiknya aku pergi Naruto. Masih banyak yang harus kulakukan." ujar Shikamaru.

"Baiklah."

Sasuke menyandarkan tubuhnya di daun pintu, memperhatikan Naruto yang sedang membereskan dan memasukkan pakaiannya ke dalam lemari. "Jangan memandangku seperti itu, Sasuke. Kau membuatku risih." protes Naruto.

"Hn."

Pemuda raven itu melangkahkan kakinya untuk menghampiri Naruto. "Sudah selesai?" tanyanya.

"Menurutmu?" Naruto berbalik tanya.

"Mau ikut denganku ke pantai?" tawar Sasuke

"Tentu." jawab Naruto kemudian melangkahkan kakinya keluar kamar meninggalkan Sasuke yang masih berlum bergerak sedikitpun.

Naruto melepaskan alas kakinya kemudian berlari menuju pantai. Merasakan halusnya pasir putih yang menyetuh telapak kakinya. Naruto merentangkan kedua tangannya lebar, menghirup udara pantai yang begitu sangat ia sukai.

Putri bungsu dari mendiang Minato itu kemudian berlari menuju air. Gadis itu menendang-nendang air dihadapannya. Sasuke yang melihat tingkah kekanakan Naruto itu hanya mendengus geli. Sudah lama sekali dia tidak melihat pemandangan seperti ini. Melihat sisi kekanakan Naruto yang sangat dia sukai.

Sasuke mendudukan dirinya diatas pasir, masih dengan memandangi Naruto yang asyik bermain dengan air. Naruto melihat kearah Sasuke.

"Kemari Sasuke." ajak Naruto

"Tidak." tolak Sasuke

"Ayolah." ajak Naruto lagi

"Tidak."

Naruto mengembungkan pipinya, menandakan bahwa dia sedang kesal. "Ya sudah kalau tidak mau." ucapnya kemudian kembali menendang-nendang air dihadapannya.

Beberapa menit kemudian Naruto kembali dan mendudukan dirinya disamping Sasuke. "Lelah?" tanya Sasuke yang dibalas anggukan kepala oleh Naruto.

"Tidurlah."

"Aku tidak mengantuk Sasuke." ucap Naruto seraya melirik Sasuke melaui ekor matanya.

Untuk beberapa menit keduanya saling diam, hingga Sasuke merasakan ada sesuatu yang berat di bahunya. Dan, saat dia menoleh dia mendapati Naruto tengah tertidur dan menyandarkan kepalanya di bahunya.

"Dobe." gumam Sasuke pelan

.

.

.

.

.

.

Naruto mengerjapkan matanya berkali-kali. Gadis itu menguap sesaat kemudian melirik kearah jam yang terletak dengan rapi di meja disamping ranjangnya. "Jam 10 malam." ucapnya kaget. "Sudah berapa jam aku tertidur?" tanyanya entah pada siapa.

Naruto meringis saat dirasakannya perutnya berbunyi. Dia baru ingat jika seharian ini belum makan apapun. Dengan malas, gadis itu bangkit dari ranjang kemudian melangkah keluar kamar. Naruto menuruni anak tangga kemudian menuju dapur.

Naruto membuka lemari pendingin, mengambil sekotak susu dan dua lembar roti. Naruto menuang susu itu ke dalam gelas kemudian mengoleskan selai diatas rotinya.

"Kejam sekali, mereka tidak menyisakan apapun untukku." ucap Naruto

Gadis itu kembali melangkah menuju kamarnya yang terletak di lantai 3. Dia menggigit rotinya dan menguyahnya pelan. Naruto hendak membuka knop pintu saat tanpa sengaja melihat ruangan diujung lorong yang tidak jauh dari kamarnya.

Naruto jadi teringat akan perkataan Shikamaru mengenai ruangan itu, dengan perlahan dan juga rasa penasaran Naruto akhirnya melangkah menuju pintu itu. Tapi sial, saat dia hendak membuka pintu ruangan itu. Pintu itu ternyata terkunci.

Akhirnya dengan sangat terpaksa Naruto kembali ke dalam kamarnya. Meneguk susu yang dibawanya hingga habis dan setelah itu dia pun terlelap.

.

.

.

.

.

.

Keseokan harinya di tepi pantai…

Para gadis sedang memperhatikan kedua tim yang sedang bertanding bola voli itu. Disudut kiri ada Sasuke dan Neji sedangkan disudut kanan ada Gaara dan Shikamaru. Menma bertugas sebagai wasit. Kiba tampak cemberut karena tidak bisa ikut bermain bersama yang lain.

Suara teriakan Sakura dan Ino terdengar keras. Naruto membisikan sesuatu ke telinga Hinata.

"Aku ke toilet sebentar." bisiknya kemudian bangkit dan berjalan masuk ke dalam villa

Naruto baru saja hendak kembali ke pantai saat rasa penasaran akan ruangan yang berada diujung lorong lantai 3 kembali muncul. Gadis itu melangkah menuju jandela besar, melihat teman-temannya yang lain masih asyik dengan pertandingan voli yang meraka adakan. Naruto menghembuskan napasnya pelan lalu beranjak dari tempat itu untuk pergi menuju ruangan yang menjadi objek penasarannya tersebut.

Naruto sudah sampai di depan ruangan itu. Pintu dihadapannya masih terkunci. Naruto berpikir sejenak bagaimana caranya agar dia bisa masuk ke dalam. Gadis itu menyelipkan helaian rambut pirangnya di belakang telinga dan tanpa sengaja menyentuh jepitan rambut miliknya.

Naruto tersenyum penuh arti, dengan perlahan dilepaskannya jepitan itu dari rambutnya kemudian memasukkan ujung jepitan itu ke dalam lubang kunci. Semoga berhasil, batinnya. Dan beberapa saat kemudian Naruto berhasil membuka pintu ruangan dihadapannya.

Naruto melongok ke dalam, ruangan itu sangat gelap. Dengan perlahan gadis itu menutup pintu dibelakangnya kemudian meraba-raba mencari saklar lampu. Naruto menutup matanya dengan punggung tangan saat bias cahaya lampu yang baru saja dinyalakannya menyilaukan penglihatannya.

Ruangan itu adalah sebuah kamar. Naruto mengedarkan pandangannya pada kamar yang didominasi warna jingga itu. Dilangkahkan kaki jenjangnya itu menuju sebuah benda yang ditutupi oleh kain putih. Naruto menjulurkan tangannya, meraih kain yang menutupi benda itu.

Sreek!

Naruto menarik kain putih itu kemudian menaruhnya di lantai, dan mata beriris sapphire itu membulat seketika saat melihat apa yang ada dibalik penutup kain tersebut.

To be Countinue

Pojok Suara :

Maaf telat update. Jangan bunuh saya. Saya hanya manusia biasa yang juga punya kehidupan. Hehehe.. #kembali-ke-cerita

Semakin kesini semakin terasa bahwa alur fic ini mulai melambat dan membosankan. Saya pikir jika saya saja yang merasakan hal itu ternyata reader juga merasakan hal yang sama. Dan juga mengenai waktu update yang lama, sebenarnya bukan keinginan saya. Hanya saja keterbatasan waktu dan ide yang membuat fic ini lama untuk diselesaikan. Fic ini akan saya selesaikan sampai akhir, walau harus memakan waktu yang sedikit lama.

Nah, -sedikit bocoran- chapter 13 ini sebenarnya adalah awal dari dimulainya kembali ingatan Naruto di masa lalu. Walau hanya terkesan samar-samar tapi memori-memori itu akan mulai mengganggu Naruto hingga sampailah pada titik dimana inti cerita dari fic saya ini.

Kemudian, di chapter-chapter yang akan datang nuansa romance yang dibumbuhi oleh persaingan akan menghiasi fic ini. Antar tokoh akan terjebak dalam lingkaran kegaluan. Itu aja dulu kebocoran yang saya beri. Semoga reader tidak bosan membaca fic saya ini.

So, terima kasih banyak untuk para readers dan reviewers yang sudah berkenan untuk membaca dan meninggalkan jejak di kolom review. Maaf, nggak bisa dibalas satu per satu tapi semua review dari kalian saya baca kok. Serius deh..

Sekali lagi minta maaf kalau chapter ini tidak sesuai dengan keinginan readers dan mungkin mengecewakan.

Akhir kata saya ucapkan terima kasih.

Sentimental Aqumarine pamit

See you and bye bye bye

Mind to review?