Disclaimer : Naruto – Masashi Kishimoto

Pairing : SasuFemNaru

Rated : T

Warning : Genre, OOC, Typos, Alur kecepatan dan lainnya

Summary : Naruto, gadis berparas cantik yang membenci satu hari di hidupnya. Saat semua orang bahagia ketika hari paling spesial di hidup mereka itu datang. Naruto justru sangat membencinya. Ya, dia sangat membenci hari ulang tahunnya. Sangat benci.

Special Gift for You

By

Sentimental Aqumarine

Mata beriris sapphire itu membulat. Nafas Naruto tercekat. Dibalik kain yang baru disibakkannya itu adalah sebuah figura berisi foto keluarga. Keluarga yang sangat dikenalnya.

"Tou-san...Kaa-san..." ucap Naruto pelan

Dengan perlahan Naruto melangkah mundur hingga ia terjatuh dan terduduk di ubin yang dingin. Pandangannya masih tertuju pada figura itu. Figura berisi gambar ayah, ibu, kakak laki-lakinya dan juga dirinya. Foto itu berlatar belakang pantai. Pantai yang sama dengan yang ia dan teman-temannya kunjungi. Untuk beberapa detik Naruto hanya memandangi figura itu, sesekali dia bergumam. Memanggil ayah dan ibunya hingga tiba-tiba Naruto bangkit dan berlari menuju pintu kemudian menutupnya dengan keras sehingga menimbulkan suara brak yang cukup memekakan telinga.

Naruto masih berdiri di depan pintu ruangan itu, kepalanya tertunduk. Dengan perlahan gadis itu melepaskan tangannya dari knop pintu, berjalan lunglai sembari menuruni tangga. Naruto memegangi dadanya, meremas bagian atas kemejanya dengan keras. Mendadak dadanya terasa sesak. Nafanya memburu, Naruto menghentikan langkah kakinya. Disandarkannya

kepalanya pada dinding. Beberapa saat terdiam dalam posisi yang sama Naruto kembali menuruni tangga dan bergerak menuju dapur.

Di dudukkannya tubuhnya dengan kasar disalah satu kursi, meraih gelas dan kemudian mengisinya dengan air yang tersedia di dalam teko. Naruto meneguk air itu sampai tak tersisa. Naruto memejamkan matanya, tangannya menggenggam gelas cukup kuat. Foto itu membuatnya kembali mengingat kedua orangtuanya.

"Tou-san...Kaa-san..." lirih Naruto

Hinata menoleh kebelakang, sudah 20 menit tapi Naruto belum juga kembali. Hinata bangkit dengan perlahan kemudian berjalan menuju vila untuk menyusul Naruto. Gadis indigo itu tampak jelalatan mencari sosok Naruto hingga sepasang mata miliknya menangkap sosok yang ia cari sedang duduk sambil memejamkan matanya.

Hinata melangkah menghampiri Naruto. "Naru-chan." panggilnya pelan. Naruto yang tak menyadari kedatangan Hinata yang tiba-tiba tersentak kaget.

"Apa aku mengagetkanmu, Naru-chan?" tanya Hinata saat dilihatnya tubuh Naruto yang langsung menegang saat dirinya memanggil nama gadis berkulit tan itu.

"Ya." jawab Naruto singkat

"Gomen, aku hanya merasa khawatir karena kau tidak kembali ke pantai. Maka dari itu aku menyusulmu."

"Tidak apa-apa, Hinata."

"Mmmmm...Naru-chan, wajahmu tampak pucat. Apa kau sakit?" tanya Hinata

"Aku baik-baik saja Hinata."

"Kau yakin?" tanya Hinata cemas yang hanya dibalas anggukan lemah oleh Naruto. Keheningan melanda keduanya, Hinata yang sesekali melirik Naruto yang hanya diam sembari menggenggam gelas.

"Sedang apa kalian berdua disini?"

Hinata menoleh dan mendapati Kiba sedang berjalan tertatih kearah mereka berdua. Pemuda jabrik itu menarik salah satu kursi kosong didekat Hinata dan kemudian mendudukan dirinya disana. Kini mereka berdua duduk menghadap kearah Naruto yang masih saja diam.

Naruto memandang kosong gelas dihadapannya. Tidak menyadari jika Kiba dan Hinata memandanginya dengan bingung. "Ada apa dengannya?" tanya Kiba hampir berbisik.

"Aku juga tidak tahu, sejak tadi Naru-chan hanya diam saja." jawab Hinata

Naruto bangkit dari kursi dengan tiba-tiba sehingga membuat kedua temannya terlonjak kaget. Gadis tan itu berjalan keluar dapur dengan lunglai, Naruto menghentikan langkah kakinya. Kepalanya mendadak terasa pusing. Tubuh Naruto oleng, hampir saja gadis itu jatuh kalau saja Menma tidak muncul dan menangkap tubuhnya.

"Naruto!" ucap Menma kaget. "Kau baik-baik saja?" tanyanya khawatir. Naruto mendongakkan kepalanya, menatap pemuda jangkung itu. "I wanna go home." ucap Naruto parau sembari meremas kuat kaus putih yang dikenakan Menma. Naruto semakin kuat meremas kaus Menma. Gadis itu terus bergumam ingin pulang. Menma bingung akan sikap Naruto.

"Ada apa?" tanya Menma heran.

Sebulir air mata menetes disudut mata Naruto dan Menma dapat melihatnya dengan jelas.

"I wanna go home." ucap Naruto hampir tak terdengar. Naruto menatap Menma sejenak kemudian menyembunyikan wajahnya di balik dada bidang Menma. Menma dapat mendengar dengan jelas isakan yang keluar dari bibir gadis yang semakin kuat meremas kausnya itu.

"Menma ada apa? Kenapa Naruto menangis seperti itu?" tanya Sakura yang baru saja masuk dikuti oleh yang lain.

"Aku tidak tahu, tadi aku menemukannya hampir jatuh di tangga. Lalu, dia menangis seperti ini?" terang Menma.

"Naruto ada apa? Jangan menangis seperti ini terus. Kau membuatku khawatir, bodoh!" erang Menma frustasi saat Naruto masih saja terisak didekapannya.

Semua orang yang berada disana juga tak kalah bingung. Naruto yang sejak tadi baik-baik saja kini tengah terisak tanpa tahu penyebab kenapa gadis pirang itu seperti itu.

Suara isakan Naruto terhenti dan bersamaan dengan itu tubuhnya merosot. Menma panik begitu juga dengan yang lain.

Beberapa saat kemudian Naruto sudah terbaring di atas ranjangnya dengan Hinata yang tengah mengompres dahi gadis tan itu. "Apa suhu tubuhnya sudah turun?" tanya Menma dengan nada khawatir.

"Kau sudah lima kali menanyakan hal yang sama Menma-kun." ujar Hinata mengingatkan. "Dan kau pasti sudah tahu jawabannya." ujar Hinata lagi.

Menma yang sedari tadi hanya berdiri diambang pintu mulai melangkahkan kakinya, mendekati ranjang Naruto. Dipandangnya wajah damai gadis yang sudah dianggapnya adik itu. "Naru-chan pasti akan baik-baik saja." hibur Hinata saat dilihatnya raut kekhawatiran masih terlihat jelas di wajah tampan pemuda jangkung disebelahnya.

"Aku akan turun untuk memberitahukan kondisi Naru-chan pada yang lain, mereka pasti sama khawatirnya denganmu." ucap Hinata kemudian beranjak pergi dari ruangan itu.

Menma duduk disamping tubuh Naruto dengan perlahan. Membelai rambut pirang cerah itu dengan lembut. Pikirannya menerawang, dia tak pernah melihat Naruto menangis terisak seperti beberapa saat lalu sejak gadis itu berhasil menjalani hipnoterapi. Dia memang pernah melihat Naruto menangis seperti itu tapi itu dulu, sewaktu dirinya untuk pertama kalinya melihat Naruto. Naruto yang masih dalam kondisi trauma hebat. Mendadak Menma merasakan perasaannya tak tenang.

"Aku harap ini bukan awal dari sesuatu yang buruk." ucap Menma setengah berbisik dan bersamaan dengan berakhirnya ucapan Menma guntur terdengar membahana diluar vila.

Neji menutup tirai berwarna gold itu. Dia dan teman-temannya sedang berada di ruang televisi sembari menunggu Hinata ataupun Menma yang sedang merawat Naruto.

"Sepertinya akan terjadi badai." kata Neji seraya melangkah menuju sofa dan duduk disamping Sasuke yang sejak tadi terus diam.

Semua diam, tak ada yang merespon perkataan Neji hingga Sakura bersuara.

"Hinata." panggilnya. "Bagaimana keadaan Naruto?" tanya Sakura.

Hinata tersenyum lembut. "Dia baik-baik saja, Saku-chan. Mungkin suhu tubuhnya akan turun besok." jelas Hinata.

Keheningan kembali melingkupi mereka. Tak ada yang bersuara. Hingga Sasuke bangkit berdiri dan berlalu meninggalkan ruangan itu. Gaara memandangi punggung pemuda Uchiha itu hingga sepasang mata jade-nya tak bisa lagi menangkap sosok Sasuke.

Sasuke sedang menaiki anak tangga untuk menuju kamar Naruto. Dia ingin melihat keadaan Naruto. Bohong jika ia tidak khawatir akan kondisi gadis itu. Sasuke hendak membuka pintu dihadapannya saat tiba-tiba pintu itu terbuka dan menampilkan sosok pemuda jangkung dibaliknya.

"What are you doing here?" tanya Menma

"Aku ingin melihatnya."

"Tidak bisa, biarkan dia istirahat." tolak Menma

Sasuke tak mengindahkan perkataan Menma. Pemuda itu menerobos masuk ke dalam kamar Naruto.

"Ggggrrr." erang Menma tertahan akan sikap pemuda Uchiha itu.

Sasuke melangkahkan kakinya menuju ranjang Naruto. Tangannya terulur hendak menyentuh helaian surai gadis itu.

"Jangan menyentuhnya." Menma mengintrupsi membuat Sasuke mengurungkan niatnya untuk membelai surai pirang itu.

"Kau sudah melihatnya, sekarang keluarlah."

"Apa dia sering menangis seperti itu?" tanya Sasuke tiba-tiba

"Apa?"

Menma menatap Sasuke yang berdiri disampingnya, meminta penjelasan lebih akan pertanyaan yang diajukan oleh pemuda emo itu. Tapi sepertinya Sasuke enggan berbicara lebih. Anak bungsu dari Uchiha Fugaku itu malah memandangi wajah damai Naruto yang tengah tertidur. Setelah puas dia berlalu pergi dan bergerak menuju kamarnya, meninggalkan Menma yang masih dilingkupi kebingungan.

.

.

.

.

.

.

Seminggu setelah liburan itu Naruto sering terlihat melamun. Dia sering tidak fokus dan hal itu membuat teman-temannya menjadi heran dan bingung. Ada apa dengan Naruto? begitu yang mereka pikirkan.

Naruto tahu akhir-akhir ini dia sering sekali melamun. Pikirannya sering sekali berkelana entah kemana, dia jadi sulit untuk berkonsentrasi. Dia selalu ingin sendirian. Seperti saat ini, dia sedang berada dia taman belakang sekolah. Menikmati jam istirahat di tempat yang jarang dikunjungi siswa lain itu.

Naruto merogoh saku roknya, mengeluarkan earphone berukuran mini miliknya dan kemudian memasangkannya di kedua telinganya. Gadis itu menekan tombol play pada ponselnya. Seketika alunan melodi dari lagu yang ia putar terdengar.

Naruto memejamkan matanya. Menikmati setiap alunan nada dari lagu yang tengah ia putar. Angin bertiup lembut, menerbangkan helaian surai pirangnya.

"Aku merindukan kalian." lirih Naruto dan air mata itu mengalir membasahi pipinya.

Jam pelajaran keempat akan segera dimulai. Naruto melangkah pelan menuju kelasnya. Tak sedikitpun berniat untuk mempercepat langkah kakinya, dia juga sepertinya tak peduli terlambat sampai ke kelas. Bayangan kedua orangtuanya masih saja berputar-putar di kepalanya seolah-olah bayangan mereka adalah sebuah filml

"Apa kau melihat Naruto?" tanya Menma pada Hinata

"Bukankah Naru-chan tadi bersamamu?"

"Iya, tapi aku ada urusan sebentar jadi aku meninggalkannya di perpustakaan. Setelah aku kembali dia sudah tidak ada disana." jelas Menma

Anko sensei datang dan memulai pelajaran. Menma tampak gelisah di kursinya.

"Aiish, kemana anak itu?"

Anko tampak menerangkan pelajaran saat dengan tiba-tiba Naruto muncul dengan aura suramnya.

"Kenapa kau terlambat Naruto?" tanya Anko. Naruto tak menjawab, gadis itu masih saja berdiri diambang pintu.

Dahi Anko mengernyit melihat sikap salah satu muridnya itu. "Naruto." panggil Anko. Naruto tetap diam. "Naruto." panggil Anko lagi.

Naruto masih saja diam, tak mengindahkan Anko yang sedari tadi memanggilnya. "Uzumaki Naruto!" teriak Anko kesal.

Naruto tersentak mendengar teriakan Anko. Gadis itu mendongakkan kepalanya yang sedari tadi tertunduk. Menatap guru keseniannya yang berdiri tidak jauh darinya itu. Kemudian diedarkannya pandangannya ke seluruh ruangan kelas. Naruto mendapati teman-teman sekelasnya sedang menatapnya heran.

Naruto mengalihkan pandangannya dan menatap Anko. "Kenapa kau terlambat masuk Naruto?" tanya Anko.

"Aku tadi tidak mendengar suara bel masuk. Maaf sensei." ujar Naruto.

Anko menghela nafas berat. "Baiklah untuk kali ini aku memaafkanmu. Sekarang duduk dikursimu karena pelajaran akan segera dilanjutkan." perintah Anko

Naruto melangkah menuju kursinya. "Darimana saja kau?" tanya Menma. Naruto tidak menjawab pertanyaan Menma dan juga tidak mengindahkan tatapan khawatir dari Hinata. Gadis itu sibuk akan pikirannya sendiri hingga jam pelajaran terakhir itu selesai.

Jam sudah menunjukan pukul dua dini hari tapi Naruto masih saja terjaga. Gadis itu sudah berusaha untuk tidur tapi setiap kali matanya terpejam bayang-bayang kedua orangtuanya selalu saja muncul.

Naruto menyandarkan kepalanya di kepala tempat tidur, tangan tan miliknya meraih ponselnya, mencari nomor telepon seseorang dan kemudian menekan tombol call.

"Sasuke." ucap Naruto saat seseorang diseberang sana mengangkat panggilannya.

Sasuke tidak mengerti dengan pola pikir gadis pirang yang tengah ia bonceng ini. Menelepon dirinya dini hari hanya untuk meminta menemani si pirang ini jalan-jalan.

Sasuke memang tidak keberatan sama sekali akan permintaan gadis pirang alias Naruto itu justru dia sangat senang saat ini tapi tidak bisakah adik dari Uzumaki Kyuubi ini memintanya untuk menemani jalan-jalan di siang hari saja?

Tidakkah si pirang ini tahu jika suhu udara di Tokyo jika dini hari begini akan sangat dingin. Dan Sasuke benci udara dingin.

"Untuk apa kita kesini?" tanya Sasuke saat laju motornya berhenti diatas bukit yang pernah ia kunjungi bersama Naruto tempo hari.

Naruto turun dari atas motor kemudian melangkah. Gadis itu menghentikan langkahnya tepat dibelakang pembatas.

"Aku ingin kesini karena aku tidak bisa tidur."

"Kenapa tidak kau minta si jangkung itu untuk membawamu kesini?"

"Maksudmu Menma?"

"Hn."

"Dia sedang tidur, aku tidak tega membangunkannya."

Oh jadi si pirang ini tidak tega membangunkan manusia jangkung itu karena dia sedang tidur tapi pada dirinya gadis itu tega, begitu.

"Cih, dan menurutmu aku tidak? Kau meneleponku pagi buta begini hanya untuk menemanimu kesini. Kau pikir aku tidak sedang tidur." ucap Sasuke kesal.

Naruto membalikkan badannya dan menghadap Sasuke. "Kenapa kau jadi sewot begitu? Kalau tidak ikhlas menemaniku, sana pulang. Aku tidak butuh kau." ucap Naruto kemudian melangkah pergi.

"Kau mau kemana?" tanya Sasuke.

"Bukan urusanmu, pulang saja sana."

Sasuke mengejar Naruto dan menarik lengan gadis itu. "Jangan macam-macam Naruto. Tokyo bukan kota yang ramah pada gadis ditengah malam." desis Sasuke tajam.

Naruto melepaskan cengkraman tangan Sasuke pada lengannya dengan kasar. "Apa yang kau khawatirkan? Penjahat? Aku bisa menjaga diriku sendiri. Jadi kau pulang saja."

"Baiklah kalau itu maumu, aku akan pulang." ujar Sasuke kemudian berbalik meninggalkan Naruto. Naruto mendengus kesal. Dasar menyebalkan, batinnya.

Naruto terus saja berjalan hingga dirinya sadar dia sudah berada cukup jauh dari bukit tadi. Naruto mengedarkan pandangannya kesekeliling. Oke, dia tidak kenal daerah ini. Naruto merutuki kebiasaan dirinya yang terus saja berjalan saat sedang kesal.

"Dimana ini?" tanyanya entah pada siapa

Dengan perlahan Naruto berjalan, jalan yang ia lewati sangat sepi hanya ada satu lampu penerangan jalan dan itu sekitar beberapa meter dari tempatnya.

Naruto menggesek-gesekan kedua telapak tangannya. Udara Tokyo memang sangat dingin. Gadis itu semakin merapatkan jaket orange miliknya.

Tap..tap..tap..

Naruto menoleh kebelakang saat suara derap langkah sepatu terdengar di telinganya, dan didapatinya seseorang tengah berjalan kearahnya.

Rasa takut mulai melingkupi gadis pirang itu, tanpa pikir panjang ia pun mempercepat langkah kakinya. Naruto menoleh kembali dan mendapati sosok itu masih mengikutinya. Naruto yang mulai ketakutan kemudian berlari.

Sosok itu pun ikut berlari, mengejar Naruto. Naruto masih terus berlari tanpa arah, berusaha lepas dari sosok yang terus mengejarnya. Naruto membelok ke kanan tapi sial itu ternyata jalan buntu.

Naruto merasa dia sedang dalam bahaya sekarang. Tidak. Sejak awal pun dia memang sudah dalam bahaya. Berjalan sendirian di jalanan Tokyo adalah hal yang berbahaya. Dia jadi teringat akan perkataan Sasuke. Naruto melangkah mundur hingga punggungnya menabrak tembok. Sial dia terjebak.

Sosok itu menyeringai saat Naruto tidak bisa lagi bergerak kemanapun. Sosok itu berjalan mendekat, Naruto semakin terpojok.

"Siapa kau?"

"..."

"Jangan mendekat!"

"..."

"Aku bilang jangan mendekat atau aku akan menelepon polisi!" ancam Naruto tapi sepertinya sosok yang diancam sama sekali tidak terpengaruh.

Naruto ketakutan sekarang, segala kemungkinan mulai berputar-putar di otaknya. Segala kemungkinan yang akan sosok itu lakukan padanya. Tubuh Naruto merosot. "Aku mohon jangan sakiti aku." pinta Naruto.

Sosok itu semakin dekat, tangannya terulur menyentuh helaian rambut pirang Naruto. Naruto menepis tangan sosok itu dengan kasar. "Jangan sakiti aku, kau boleh mengambil semua hartaku, tapi jangan sakiti aku. Kumohon."

Naruto memberontak saat sepasang tangan milik sosok itu memegang kedua lengannya dengan sangat kuat. "Lepaskan aku!" rontah Naruto.

Naruto semakin memberontak bahkan gadis itu mulai menendang-nendangkan kakinya supaya sosok itu menjauh.

"Ini aku, tenanglah!" bentak sosok itu.

Naruto berhenti memberontak, suara itu tidak asing baginya. Didongakkanya kepalanya yang sempat tertunduk dan melihat siapa sosok yang berada dihadapannya itu.

Sosok itu melepaskan cengkramannya pada lengan Naruto kemudian menurunkan tudung jaketnya. "Sa-sasuke."

"Ya, ini aku." ujar Sasuke seraya tersenyum hangat. Naruto memukul lengan pemuda itu kesal. "Kau ingin membunuhku, huh?!" teriaknya

"Kau membuatku takut, bodoh!" teriak Naruto dan bersamaan dengan itu air mata mulai turun dari pelupuk mata gadis beriris sapphire itu.

Sasuke yang merasa bersalah karena sudah menakuti Naruto langsung mendekap gadis pirang itu. "K-ku pikir kau penjahat." ucap Naruto ditengah isakannya.

"Ssstt...tenanglah, ini aku. Maaf sudah membuatmu takut." ucap Sasuke kemudian melepaskan dekapannya pada gadis itu.

"Berhentilah menangis atau wajah jelekmu itu akan semakin jelek." perintah Sasuke.

"Hiks..aku..hiks...tidak bisa."

Sasuke mendengus, didekatkannya wajahnya pada wajah Naruto.

Cup

Sebuah kecupan mendarat dibibir ranum Naruto. Naruto membelalakkan kedua matanya. Terkejut akan perlakuan Sasuke.

"Apa yang kau lakukan?!"

"Menciummu, menurutmu apa lagi?"

"Kenapa kau menciumku?"

"Hn."

"Itu bukan jawaban bodoh!p

"Hn."

"Jawab aku baka!"

"Apa yang harus kujawab?"

"Kenapa kau menciumku?"

"Aku tak suka melihatmu menangis karena itu aku menciummu. Sekarang ayo pergi." ajak Sasuke.

Sasuke bangkit kemudian mulai berjalan sedangkan Naruto, gadis itu masih berada diposisinya. Sasuke menoleh kebelakang. "Kenapa kau masih disana? Kau ingin kutinggal, huh?"

Naruto menatap Sasuke kesal. "Kenapa menatapku seperti itu?"

"Kakiku sakit, aku tidak bisa berjalan."

"Lalu?"

"Dasar tidak peka. Seharusnya kau menggendongku."

"Aku tidak mau." tolak Sasuke

"Kau harus mau, karena kau yang membuatku begini."

"Apa salahku?"

"Jelas-jelas kakiku sakit karenamu, kalau saja kau tidak membuntutiku seperti penjahat, aku tidak mungkin berlari."

"Itu salahmu sendiri."

"Pokoknya kau harus menggendongku."

"Aku tidak mau."

"Sasuke!" panggil Naruto saat dilihatnya Sasuke mulai kembali berjalan. "Menyebalkan." gerutu Naruto.

Gadis itu bangkit, berjalan tertatih menyusul Sasuke yang berada didepannya. 'Dasar tidak punya hati. Brengsek sialan.' umpat Naruto dalam hati.

Naruto meringis kesakitan, kakinya benar-benar pegal saat ini. Dia sudah tidak mampu berjalan lagi. "Sasuke." panggilnya.

"Hn."

"Kakiku sakit." rengek Naruto

"Hn."

"Kalau kau tidak mau menggendongku setidaknya berjalanlah sedikit lebih lambat." pinta Naruto. "Apa kau tidak kasihan padaku?"

"Hn."

"Ck! Berhenti mengatakan hal yang tidak kumengerti." ucap Naruto kesal.

Naruto masih terus mengekor dibelakang Sasuke hingga dengan tiba-tiba pemuda raven itu mendadak berhenti dan berjongkok memunggungi Naruto.

Naruto menatap punggung Sasuke heran. "Cepat naik." perintah Sasuke.

"Eh?"

"Naik kepunggungku, bukankah kau memintaku untuk menggendongmu?"

"B-baiklah." ucap Naruto dan kemudian mengalungkan kedua tangannya dileher Sasuke.

Sepanjang perjalanan mereka saling diam. Sasuke yang diam karena berusaha mengatur detak jantungnya yang berdetak lebih cepat dari biasanya sejak menggendong Naruto sedangkan Naruto, dia merasakan wajahnya terasa panas. Melihat wajah Sasuke sedekat ini membuat jantungnya mendadak berdetak cepat.

"Sasuke."

"Hn."

"Kenapa kau mengikutiku? Bukankah kau bilang kau akan pulang."

"Dan kau percaya perkataanku?"

"Ya."

"Dobe."

"Hei! Kau itu yang dobe." ucap Naruto kesal, tidak terima akan perkataan Sasuke yang menyebutnya bodoh.

"Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian lagi, dobe. Tidak akan." ujar Sasuke pelan.

Dan Naruto terdiam setelah mendengar perkataan Sasuke. Beberapa menit kemudian mereka sudah berada diatas motor Sasuke untuk menuju kediaman Uzumaki.

Naruto memeluk erat pinggang Sasuke. Mendadak ia merasakan kehangatan ditengah dinginnya udara kota Tokyo dan Naruto tak tahu mengapa dia seperti ini.

.

.

.

.

.

.

Jam menunjukan pukul lima pagi dan sebentar lagi matahari akan terbit. Naruto merebahkan dirinya dikasur. Dia tersenyum geli mengingat saat Sasuke menciumnya.

Naruto menyentuh ujung bibirnya. Itu ciuman pertamanya dengan seorang lelaki. Seharusnya dia marahkan, karena Sasuke mengambilnya dengan seenaknya saja tapi kenapa sekarang dia malah tampak senang. Apa karena alasan yang diberikan Sasuke saat ia bertanya kenapa pemuda itu menciumnya atau apa karena dia senang karena Sasukelah yang mengambil ciuman pertamanya?

Entahlah, Naruto pun tidak tahu apa jawabannya. Setidaknya dengan ini dia dapat melupakan sejenak bayangan kedua orangtuanya 'kan.

Sasuke baru saja keluar dari dalam kamar mandi. Mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk dan bergerak menuju lemari pakaian dan mengambil seragam sekolahnya.

Sasuke mendengus geli saat otak jeniusnya mengingat kembali kejadian beberapa jam yang lalu antara dirinya dan Naruto. Pemuda emo itu menghentikan kegiatan mengeringkan rambutnya. Senyum terukir diwajah tampan adik Uchiha Itachi itu.

Digenggamnya kalung berbandul batu biru yang setia melingkar dilehernya. Didalam hati Sasuke bertekad, bertekad menjadikan Naruto miliknya seorang.

Kyuubi sedang berada di dalam ruang kerja neneknya. Wajah Jiraya dan Tsunade terlihat mengeras. Tampaknya pasangan suami istri itu terlibat percakapan serius dengan cucu mereka.

"Nenek tidak setuju kau kembali bergabung dengan anggota kepolisian Tokyo."

"Kenapa?"

"Karena kau bukan lagi Namikaze Kyuubi anggota kepolisian Tokyo, kau adalah Uzumaki Kyuubi. Penerus aku dan kakekmu."

"Aku memang seorang Uzumaki tapi darahku masih tetap Namikaze."

"Jangan kembali kesana Kyuu." mohon Tsunade

"Dan melupakan apa yang sudah si brengsek itu lakukan pada orangtuaku, begitu? Tidak nek."

"Tapi Kyuu..."

"Biar aku ingatkan padamu nek. Dia yang sudah membunuh anak dan menantumu, yang membuat kedua cucumu menjadi yatim piatu dan dia juga yang membuat Naruto menderita. Apa kau tak ingat nek?" ucap Kyuubi emosi.

"Aku ingat itu Kyuu.."ucap Tsunade lirih.

Bagaimana mungkin dia melupakan kematian anak dan menantunya itu. Itu tragedi paling memilukan disepanjang hidupnya. Belum lagi dia harus menyaksikan penderitaan cucu perempuannya. Dia tidak mungkin melupakan itu sekalipun dia berharap mimpi buruk itu lenyap saat dia tidur.

"Lalu kenapa nenek tidak mengizinkanku untuk kembali ke kepolisian Tokyo?" suara Kyuubi melembut.

"Nenek hanya takut Kyuu. Musuh yang kau hadapi itu adalah Yakuza paling sadis di Tokyo." jelas Tsunade. "Nenek takut kehilanganmu Kyuu. Cukup ayah dan ibumu saja yang pergi, tidak kau tidak Naruto dan tidak siapapun. Nenek tidak siap untuk kehilangan lagi Kyuu." lanjut Tsunade parau.

Kyuubi diam. Dia tahu apa yang dirasakan neneknya sekarang. Selain ia dan Naruto, neneknya juga orang yang merasa paling kehilangan atas kematian ayah dan ibunya.

.

.

.

.

.

.

Orochimaru baru saja selesai mengajar di kelas Sasuke dkk. Jam pelajaran hari ini memang melelahkan. Setelah pelajaran matematika di jam pertama dan kedua, para murid harus disibukan kembali dengan pelajaran Fisika lalu di jam berikutnya mereka harus berkutat dengan sel-sel di pelajaran Biologi. Sungguh hari yang melelahkan di hari secerah ini.

"Kepalaku terasa penuh, rasanya aku ingin muntah." ujar Kiba.

"Pelajaran hari ini memang sangat menakjubkan." sahut Sakura.

"Ya, aku bahkan merasa wajah kalian sudah seperti rumus pythagoras dihadapanku." ujar Ino

"Dan kau seperti aljabar yang memaksaku untuk memecahkanmu." komentar Menma.

Kiba, Sakura dan Hinata tertawa saat melihat wajah Ino memerah karena rayuan absurd dari Menma.

"Berhenti menertawakanku!" bentak Ino tidak terima karena ditertawakan oleh teman-temannya.

"Wajahmu memerah pig." ujar Sakura disela tawanya.

"Wajahku tidak memerah."

"Menma kau hebat sekali bisa membuatnya seperti itu, hahahaha." puji Sakura.

"Hentikan Sakura!" ucap Ino kesal. Ino melirik kearah Gaara yang sedang menyedot minumannya dengan santai.

Wajah Ino sedikit khawatir. Bagaimana jika Gaara berpikiran ia dan Menma memiliki hubungan. Bisa gagal rencananya untuk mendapatkan pemuda Sabaku itu.

"Ngomong-ngomong dimana Naruto?" tanya Kiba

"Anko sensei memanggilnya tadi." jawab Neji yang dibalas 'oh' oleh Kiba.

Naruto baru saja masuk kedalam ruangan Anko. Melihat sekeliling apakah gurunya itu ada didalam atau tidak.

"Sensei." panggilnya

"Masuk saja Naruto." jawab Anko yang tiba-tiba menyembul keluar dari balik meja kerjanya.

"Sensei memanggilku?" tanya Naruto

"Ya, ada yang ingin sensei bicarakan padamu."

"Apa itu sensei?" tanya Naruto penasaran

"Ini mengenai band yang pernah sensei bicarakan padamu." jawab Anko seraya mendudukan dirinya diatas kursi. "Sensei sudah memberitahukan perihal ini kepada kepala sekolah dan beliau menyetujuinya." lanjut Anko.

Naruto masih mendengarkan dengan seksama apa yang dikatakan guru muda dihadapannya ini karena dia yakin guru sekaligus wali kelasnya itu belum selesai bicara. "Maka dari itu besok sensei akan memperkenalkanmu pada kedua anggota band EXO yang lain."

"Kedua anggota yang lain? Sensei sudah menemukannya? Kenapa tidak memberitahukannya padamu? Lalu siapa kedua anggota itu?" tanya Naruto bertubi-tubi.

"Wow! Kau antusias sekali Naruto. Sensei menemukan mereka tanpa sengaja. Dan soal siapa mereka, kau bisa mengetahuinya besok." jawab Anko.

Gaara melangkah santai disepanjang koridor yang mulai sepi. Beberapa menit lagi bel masuk akan berbunyi. Bersamaan dengan itu Ino juga baru saja keluar dari toilet. Ino yang sedang merapikan seragamnya tidak menyadari jika Gaara juga berada diarah yang berlawanan dengannya, alhasil mereka berdua bertabrakan.

Bruk!

"Aargh!" teriak Ino

Gaara yang memiliki refleks cepat langsung menangkap tubuh Ino yang terhuyung ke belakang.

Kedip. Tatap. Diam. Ino merasakan jantungnya berdetak lebih cepat. Dapat melihat Gaara dengan jarak sedekat ini benar-benar tidak pernah diterlintas di otaknya.

Dia tampan sekali, batin Ino. Gaara yang sadar Ino menatapnya berdehem pelan. Dengan sigap Ino melepaskan dirinya dari dekapan Gaara dan membenarkan posisinya.

"Terima kasih sudah menolongku." ucap Ino sembari menunduk, menyembunyikan wajahnya yang memerah.

"Lebih berhati-hatilah saat berjalan." ujar Gaara datar kemudian berlalu melewati Ino begitu saja.

Ino berbalik menatap punggung Gaara yang mulai menjauh. Gadis itu tampak tersenyum dan beberapa saat kemudian melompat kegirangan.

"Aaargh! Aku menyukaimu Gaara, benar-benar menyukaimu." teriak Ino lalu berlari menuju kelasnya.

Untung saja saat itu koridor tempatnya berada benar-benar sepi sehingga tidak ada yang bisa mendengar suara teriakan gadis Yamanaka itu.

Ino masuk ke kelas dengan wajah sumringah membuat Sakura mengernyit heran.

"Ada apa denganmu? Kenapa kau senyum-senyum begitu?" tanya Sakura

Ino tidak menjawab pertanyaan Sakura, dia malah tertawa kemudian tersenyum-senyum sendiri.

"Kau tidak kerasukan hantu penghuni toilet 'kan?" tanya Sakura mulai khawatir akan kewarasan Ino.

Ino menoleh kearah Sakura, menggenggam kedua lengan Sakura. Menatap gadis pinky itu dengan intens membuat yang ditatap merasa takut.

"Ya, aku memang kerasukan hantu. Hantu bersurai merah yang tampan." jawab Ino ngawur kemudian melepaskan genggaman tangannya pada kedua lengan Sakura dan mulai mengingat kejadian diantara dirinya dan Gaara beberapa saat lalu.

Sakura menatap Ino miris. Bibi, anakmu sudah tidak waras, batin Sakura. Dan beberapa detik kemudian guru pelajaran selanjutnya datang dan memulai pelajarannya hingga jam pelajaran hari itu usai.

.

.

.

.

.

.

Seusai pulang sekolah tadi Menma sudah menyeret paksa Naruto untuk meminta gadis itu menemaninya membeli beberapa buku dan juga ponsel baru mengingat ponselnya terjatuh dan masuk ke dalam kloset saat ia mandi tadi pagi. Salah dia sendiri sih, membawa ponsel saat mandi.

"Kau membeli ponsel baru? Ponselmu yang lama kemana?" tanya Naruto heran. Jarang-jarang sahabatnya ini membeli ponsel baru jika tidak sedang terpaksa.

"Jatuh." jawab Menma sembari memilih beberapa ponsel yang sesuai sedang seleranya.

"Dimana?"

"Didalam kloset."

"Dasar ceroboh." cibir Naruto

"Seperti kau tidak saja." sahut Menma. "Aku sudah menemukan yang cocok, ayo ke kasir." ucap Menma cepat sebelum Naruto membalas ucapannya dan itu pasti memakan waktu lama.

Setelah membayar dan keluar dari toko, Menma mengajak Naruto untuk makan siang. Dan disinilah mereka berada, disalah satu restoran yang menyajikan makanan-makanan western.

"Akhirnya setelah sekian lama, aku bisa menikmati makanan ini juga." ucapa Menma seraya melahap potongan daging dihadapannya.

"Kalau hanya makanan itu, kau bisa meminta para maid dirumahku untuk membuatkannya untukmu."

"Aku menumpang dirumahmu ingat? Aku tidak mungkin meminta-minta dengan seenakku begitu."

"Dan kau sudah kuanggap sebagai saudaraku." ucap Naruto mengingatkan.

Menma tersenyum kemudian mengacak-acak rambut Naruto. "Iya adikku, sekarang habiskan makananmu. Aku sudah rela menghabiskan uang jajanku untuk mentraktirmu disini."

"Aku tidak memintanya. Kau yang secara sukarela melakukannya untukku." ucap Naruto santai sembari memotong daging dihadapannya.

"Iish, kau ini. Dasar tidak tahu terima kasih."

"Hahahaha, aku hanya bercanda. Terima kasih sudah mentraktirku, nii-san." ucap Naruto yang membuat senyum kembali terukir diwajah pemuda jangkung itu.

.

.

.

.

.

.

Mikoto mengetuk pintu kamar putra bungsunya. "Sasuke, sudah waktunya makan malam sayang. Turunlah." kata Mikoto

"Baik kaa-san." sahut Sasuke dari balik pintu.

Beberapa saat kemudian Mikoto sudah berada di meja makan, bergabung dengan suami dan anak sulungnya begitu juga dengan Sasuke yang datang beberapa detik setelahnya.

Suasana tampak hening, tiada yang bersuara. Semuanya tampak asyik dengan makan malam mereka.

"Apa kaa-san yang memasak makan malam kita hari ini?" tanya Itachi memecah keheningan.

"Iya, memangnya kenapa? Apa rasanya tidak enak?" tanya Mikoto was-was

"Pantas saja makanan ini enak sekali, ternyata kaa-san yang membuatnya. Kaa-san memang ibu yang hebat." puji Itachi.

"Kau ini pintar sekali memuji, Itachi."

"Itu memang kenyataannya kaa-san. Bukan begitu, tou-san?"

"Hn." gumam Fugaku mengiyakan dan itu membuat pipi Mikoto merona malu.

"Ngomong-ngomong bagaimana kabar Naru-chan, Sasuke?" tanya Mikoto

"Dia baik-baik saja kaa-san."

"Bagaimana kalau kau ajak Naru-chan untuk makan malam bersama kita besok malam?" tanya Mikoto. "Kaa-san merindukannya." lanjut Mikoto.

"Bagaimana menurutmu, anata?" tanya Mikoto pada Fugaku. "Itu ide yang bagus." jawab Fugaku.

"Nah, kalau begitu besok kau ajak Naru-chan ya Sasuke." pinta Mikoto.

"Baik kaa-san."

.

.

.

.

.

.

Keesokan harinya...

Naruto sedang berjalan menuju ruang musik, Shikamaru memberitahukannya jika Anko sensei menyuruhnya untuk datang ke ruang musik tadi. Gadis berparas cantik itu membuka pintu dihadapannya.

Naruto cukup terkejut saat mendapati dua orang yang dikenalnya berada di ruang musik bersamanya.

"Sedang apa kalian disini?" tanya Naruto pada keduanya.

"Anko sensei meminta kami untuk datang kesini." jawab Kiba

Ceklek!

Pintu ruang musik terbuka dan masuk Anko. "Kalian sudah datang ternyata." ucap Anko seraya berjalan menghampiri ketiganya.

Menma yang sempat duduk langsung berdiri saat Anko mulai menghampiri mereka.

"Kalian sudah tahu kenapa sensei menyuruh kalian datang kesini?" tanya Anko yang dibalas gelengan kepala oleh ketiganya.

"Ini tentang band yang sensei ceritakan pada kalian."

"Jangan-jangan kami bertiga adalah...anggota band yang sensei bicarakan itu?" tebak Menma.

"Kau pintar sekali Menma. Kalian bertiga memang anggota dari EXO."

"Bagaimana bisa?" tanya Kiba. "Kalau Naruto aku bisa terima, dia memiliki suara yang bagus dan menguasai beberapa alat musik. Tapi, kalau dia..." ucap Kiba menggantung sembari melirik kearah Menma.

"Kalau aku apa? Kau meremehkanku ya? Asal kau tahu saja, aku pemain gitar dan seorang rapper handal di negara asalku." ucap Menma kesal.

"Sudahlah Menma." lerai Naruto sebelum keduanya saling adu mulut.

Anko menghela nafas berat, sepertinya akan repot jika awalnya saja sudah seperti ini.

"Sensei memilih kalian karena kemampuan kalian bertiga dibidang musik lebih hebat dibandingkan murid yang lain." terang Anko. "Kiba dengan kehebatannya di alat musik drum."

"Cih, hanya drum." cibir Menma

"Apa maksudmu hanya dengan drum, huh?"

"Ya, hanya drum. Kupikir kau menguasai alat musik yang keren sehingga kau bisa sesombong itu."

"Gggrr... bermain drum tak semudah kelihatannya."

"Tentu saja mudah, kau hanya memukul-mukulnya dengan stickmu saja. Itu sama mudahnya dengan memukul meja."

"Kau!" desis Kiba tajam tidak terima keahliannya diremehkan seperti itu.

"Hentikan!" bentak Anko membuat Menma dan Kiba diam.

"Sensei ingin kalian akur antar sesama anggota."

"Aku tidak mau/aku tidak sudi." ucap Kiba dan Menma bersamaan.

"Kalau kalian tidak mau, sensei pastikan nilai ulangan kesenian kalian berdua dibawah angka lima." ancam Anko.

"Itu tidak adil sensei." protes Kiba

"Semua adil jika menyangkut mata pelajaran sensei." ucap Anko ringan. "Baiklah, sensei akan membagi posisi kalian dalam band. Naruto kau sebagai vokalis satu dan juga gitaris dua, Menma kau sebagai gitaris satu dan vokalis dua dan Kiba kau sebagai drummer. Kalian bisa bertukar posisi jika lagu yang kalian bawakan memaksa kalian melakukannya. Kalian mengerti?"

"Mengerti sensei."

"Soal jadwal latihan, kalian akan berlatih tiga kali dalam seminggu di ruang musik ini. Jika kalian ingin berlatih diluar jadwal, itu terserah kalian. Dan satu hal lagi, ruang musik ini sudah menjadi hak kalian." terang Anko. ''Kalian mengerti?" tanya Anko yang dibalas anggukan kepala oleh ketiga murid didiknya itu.

Naruto, Menma dan Kiba berjalan beriringan menuju ke kelas mereka. Sesekali kedua pemuda itu saling adu mulut, naruto yang terlalu lelah untuk melerai keduanya hanya bisa diam dan membiarkan keduanya saja.

"Kalau Anko sensei tidak mengancam akan membuat nilai kesenianku dibawah angka lima, aku tidak akan sudi menerimamu dalam band." ujar Kiba sembari melirik kearah Menma.

"Kau pikir aku tidak? Asal kau tahu saja, aku juga terpaksa menerimamu!" ucap Menma tidak kalah sengit.

Dan pertengkaran kekanakan itu kembali terjadi, Naruto hanya mengerling bosan. "Hentikan pertengkaran konyol kalian itu. Kita sudah sampai di kelas." tegur Naruto kemudian melangkah masuk ke dalam kelas.

"Minggir!" perintah Kiba pada Menma yang berdiri diambang pintu bersamanya. "Kau saja yang minggir."

"Aku yang berada disini terlebih dahulu."

"Lalu?" tanya Menma polos.

"Itu artinya kau yang harus minggir." ucap Kiba

"Ooo, begituuu..." ujar Menma acuh kemudian menarik kerah seragam Kiba kebelakang dan bergerak masuk ke dalam kelas.

"Brengsek!" ucap Kiba

"Siapa yang brengsek Inuzuka?" tanya Asuma yang berdiri tepat dibelakang Kiba. Kiba menoleh dan mendapati guru killer itu berdiri dibelakangnya. "Hehehe, pagi sensei." sapa Kiba.

"Setelah pelajaran selesai, datang keruangan saya." perintah Asuma dan mulai melangkah masuk.

"Baik sensei." sahut Kiba lalu menyusul Asuma yang sudah masuk ke dalam kelas dan bersiap-siap untuk memulai pelajarannya.

Kiba sudah duduk di bangkunya, menatap kesal kearah Menma. Awas kau jangkung, batin Kiba.

.

.

.

.

.

.

Hinata sedang menunggu Naruto diluar toilet, gadis itu tampak asyik dengan kamera digitalnya hingga tepukan sesorang di bahunya membuatnya menoleh. "Sudah selesai, Naru-chan?" tanyanya. "Sudah, ayo ke kantin. Aku sudah lapar sekali." ajak Naruto.

"Baiklah." sahut Hinata seraya mengalungkan tali kamera digital miliknya di lehernya. Naruto dan Hinata memasuki cafetaria, memesan makanan kemudian mencari tempat kosong untuk menikmati makan siang mereka.

"Bagaimana dengan eskul fotography-mu, Hinata?" tanya Naruto kemudian memasukan makanannya ke dalam mulut. "Berjalan dengan lancar, minggu depan aku akan ikut perjalanan kakak kelas ke museum yang ada di Kyoto, untuk bahan mading sekolah." jawab Hinata.

"Wow! kau hebat sekali, Hinata." puji Naruto.

"Jangan memujiku seperti itu Naru-chan. Kau membuatku malu."

Sasuke melangkah keluar dari dalam ruang olahraga, dia baru saja menemui Guy sensei untuk membahas mengenai pertandingan basket antar siswa yang akan diselenggarakan di festival musim panas nanti.

Sasuke hendak menuju ke cafetaria saat dengan tiba-tiba Gaara datang. "Ada yang ingin aku bicarakan denganmu, Sasuke." ucap Gaara yang dibalas anggukan kepala oleh pemuda raven itu. Dan disinilah mereka berdua berada, di lantai lima gedung sekolah mereka. Area kolam renang.

Keduanya diam, tidak ada yang bersuara. Mereka tampak asyik memandangi pemandangan sekolah dari balik kaca besar yang mengelilingi kolam renang tempat mereka berada. Sasuke melirik sekilas kearah sahabat merahnya itu. Sesuatu yang langka jika Gaara memintanya seperti ini, pasti ini masalah yang serius, pikir Sasuke.

Kehenginan masih melanda keduanya, Sasuke masih menunggu Gaara untuk berbicara. "Aku tahu jika kau menyukainya." ucap Gaara setelah sekian lama diam. Sasuke menyernyit. "Apa maksudmu?" tanya Sasuke.

"Aku tahu kau menyukai, Naruto."

"Itu bukan urusanmu." ujar Sasuke sinis

"Tentu saja itu menjadi urusanku, karena akupun menyukainya." ucap Gaara datar seraya menatap Sasuke.

"Apa maumu?" tanya Sasuke mulai mengerti arah pembicaraan Gaara. Gaara tersenyum tipis, cukup mudah memberitahukan apa maunya kepada Sasuke tanpa harus menjelaskan panjang lebar pada pemuda raven itu.

"Aku mau kau menjauhinya, tapi aku yakin kau tidak akan mau melakukannya. Karena itu aku ingin kita bersaing." ucap Gaara memberi jeda. "Kita bersaing untuk mendapatkannya. Bagaimana?" tanya Gaara.

Sasuke mendengus geli. "Kau yakin ingin bersaing denganku?" tanya Sasuke meremehkan. "Tentu saja aku yakin. Apa kau tidak bisa melihatnya?" tanya Gaara.

Sasuke menyeringai sebelum akhirnya menjabat tangan Gaara yang sedari tadi mengambang di udara. Menyetujui ajakan pemuda Sabaku itu untuk bersaing mendapatkan Naruto.

Beberapa saat kemudian Gaara memutuskan untuk pergi, meninggalkan Sasuke yang masih berdiri di tempat yang sama. Untuk beberapa menit pemuda raven itu hanya memandang datar pemandangan sekolah dari balik kaca besar itu. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celana.

"Kau tidak bisa mendapatkan apa yang sudah menjadi milikku, Gaara."

Gaara menuruni setiap anak tangga dengan santai, sebuah senyum tipis terukir dibibir pemilik iris mata jade itu. "Kau milikku Naruto dan harus menjadi milikku."

To be Countinue

Pojok Suara :

Huuuft… setelah sekian lama bermeditasi untuk mendapatkan hidayah akan kelanjutan fic ini, akhirnya saya muncul juga. Hahahaha… gomen untuk para readers yang sudah lama menunggu. Maklumkan saja keterbatasan otak saya dalam menemukan ide-ide, ditambah lagi pekerjaan yang semakin menumpuk setiap hari. Membuat saya galau setiap harinya.

So, bagaimana pendapat readers akan chapter kali ini?

Saya harap ini dapat menebus dosa saya yang sudah beberapa bulan membuat readers menunggu.

Akhir kata saya ucapkan terima kasih.

Sentimental Aqumarine pamit

See you and bye bye bye

Mind to review?