Pairing : SasuFemNaru
Rated : T
Warning : Genre, OOC, Typos, Alur kecepatan dan lainnya
Summary : Naruto, gadis berparas cantik yang membenci satu hari di hidupnya. Saat semua orang bahagia ketika hari paling spesial di hidup mereka itu datang. Naruto justru sangat membencinya. Ya, dia sangat membenci hari ulang tahunnya. Sangat benci.
Special Gift for You
By
Sentimental Aqumarine
Chapter Sebelumnya…
Sasuke hendak menuju ke cafetaria saat dengan tiba-tiba Gaara datang. "Ada yang ingin aku bicarakan denganmu, Sasuke." ucap Gaara yang dibalas anggukan kepala oleh pemuda raven itu. Dan disinilah mereka berdua berada, di lantai lima gedung sekolah mereka. Area kolam renang.
Keduanya diam, tidak ada yang bersuara. Mereka tampak asyik memandangi pemandangan sekolah dari balik kaca besar yang mengelilingi kolam renang tempat mereka berada. Sasuke melirik sekilas kearah sahabat merahnya itu. Sesuatu yang langka jika Gaara memintanya seperti ini, pasti ini masalah yang serius, pikir Sasuke.
Kehenginan masih melanda keduanya, Sasuke masih menunggu Gaara untuk berbicara. "Aku tahu jika kau menyukainya." ucap Gaara setelah sekian lama diam. Sasuke menyernyit. "Apa maksudmu?" tanya Sasuke.
"Aku tahu kau menyukai, Naruto."
"Itu bukan urusanmu." ujar Sasuke sinis
"Tentu saja itu menjadi urusanku, karena akupun menyukainya." ucap Gaara datar seraya menatap Sasuke.
"Apa maumu?" tanya Sasuke mulai mengerti arah pembicaraan Gaara. Gaara tersenyum tipis, cukup mudah memberitahukan apa maunya kepada Sasuke tanpa harus menjelaskan panjang lebar pada pemuda raven itu.
"Aku mau kau menjauhinya, tapi aku yakin kau tidak akan mau melakukannya. Karena itu aku ingin kita bersaing." ucap Gaara memberi jeda. "Kita bersaing untuk mendapatkannya. Bagaimana?" tanya Gaara.
Sasuke mendengus geli. "Kau yakin ingin bersaing denganku?" tanya Sasuke meremehkan. "Tentu saja aku yakin. Apa kau tidak bisa melihatnya?" tanya Gaara.
Sasuke menyeringai sebelum akhirnya menjabat tangan Gaara yang sedari tadi mengambang di udara. Menyetujui ajakan pemuda Sabaku itu untuk bersaing mendapatkan Naruto.
Beberapa saat kemudian Gaara memutuskan untuk pergi, meninggalkan Sasuke yang masih berdiri di tempat yang sama. Untuk beberapa menit pemuda raven itu hanya memandang datar pemandangan sekolah dari balik kaca besar itu. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celana.
"Kau tidak bisa mendapatkan apa yang sudah menjadi milikku, Gaara."
Gaara menuruni setiap anak tangga dengan santai, sebuah senyum tipis terukir dibibir pemilik iris mata jade itu. "Kau milikku Naruto dan harus menjadi milikku."
.
.
.
.
.
.
Menma menghampiri Naruto dan Hinata yang sedang duduk disalah satu bangku di sudut cafeteria. "Kalian sedang membicarakan apa?" tanya Menma tiba-tiba setelah mendudukan dirinya disamping Naruto. "Hentikan kebiasaanmu yang sering muncul tiba-tiba seperti itu, Menma."
"Kau membuatku kaget, Menma-kun."
"Maaf, aku tidak bermaksud seperti itu. Kalian saja yang terlalu serius mengobrol."
"Kenapa kau ada disini? Bukankah tadi kau bilang padaku akan menemui Guy sensei." tanya Naruto
"Guy sensei sedang berbicara dengan Sasuke saat aku datang ke ruang olahraga. Aku tahu itu akan sangat lama, daripada aku menunggu mereka lebih baik aku pergi." jawab Menma yang dibalas gumaman tidak jelas oleh Naruto.
"Ngomong-ngomong band kalian akan tampilkan saat festival musim panas nanti?" tanya Hinata.
Dahi Menma mengernyit, "Festival musim panas apa?" tanya Menma bingung.
"Anko sensei tidak memberitahukannya?" tanya Hinata
Menma menggeleng. "Setiap tahun diawal musim panas, sekolah kita akan mengadakan festival musim panas selama lima hari. Mulai dari konser mini, pertunjukan seni, berbagai bazar dan sebagainya, lalu di hari terakhir festival akan diadakan malam seribu cahaya."
"Malam seribu cahaya?" tanya Menma dan Naruto bersamaan.
Hinata mengangguk sebelum menjawab pertanyaan keduanya. "Tepat di jam dua belas malam, panitia akan menyalakan dan melesatkan seribu kembang api ke langit. Karena itu kami menyebutnya malam seribu cahaya." terang Hinata.
Menma dan Naruto menganggukan kepala mereka tanda mengerti. "Jadi, apa kalian akan tampil?" tanya Hinata penasaran.
"Kami tidak tahu, Anko sensei belum memberitahukan hal itu pada kami." jawab Naruto.
"Ngomong-ngomong kau tahu darimana jika kami membentuk band atas usulan Anko sensei?" tanya Menma.
"Naru-chan memberitahukannya padaku." jawab HInata.
Menma menepuk pelan puncak kepala Naruto. "Kau ini, benar-benar tidak bisa menjaga rahasia ya." ucapnya gemas kemudian menarik Naruto dan mengapit kepala gadis pirang itu diketiaknya.
"Lepaskan Menma, ketiakmu benar-benar tidak enak."
"Benarkah? Ciumlah dengan lebih baik lagi, ketiakku ini ketiak paling wangi lho."
"Lepaskan aku Menma!" rontah Naruto yang akhirnya berhasil terlepas dari aroma tidak sedap milik sahabatnya itu.
"Kau menjijikan, aku bisa keracunan karena aroma dari salah satu bagian tubuhmu itu." komentar Naruto.
"Kau itu berlebihan sekali Naruto." cibir Menma
"Aku tidak berlebihan." sahut Naruto seraya bangkit dari posisi duduknya kemudian melangkah pergi. "Aku harus mencuci rambutku lagi nanti." omel Naruto.
Gadis itu terus menggerutu tidak jelas. Hinata mengekor dibelakang gadis itu, sedangkan Menma. Putra tunggal dari itu masih berada diposisinya, diangkatnya lengannya kemudian mencium ketiaknya itu. "Tidak bau." ucapnya lalu beranjak pergi menyusul kedua gadis yang sudah lebih dulu meninggalkan cafeteria.
Pelajaran hari ini ditutup dengan mata pelajaran Sejarah. Cukup membosankan karena harus membahas mengenai sejarah Jepang dan kemerdekaannya, tapi itu lebih baik daripada harus berkutat dengan rumus atau tabel periodik di pelajaran Kimia. Membuat kepala serasa berputar-putar.
Menma, Naruto dan Hinata sedang berjalan beriringan disepanjang koridor sekolah hingga Naruto berteriak keras dan menghentikan langkah kedua sahabatnya. "Kenapa kau berteriak seperti itu?" tanya Menma kesal.
"Aku lupa."
"Kau melupakan apa Naru-chan?"
"Aku ada janji dengan seseorang."
"Siapa?" tanya Menma curiga
"Aku harus pergi, kalian pulang saja duluan. Jaa." ucap Naruto lalu berlari meninggalkan Menma dan Hinata.
"Hei Naruto! Siapa orang itu, huh?!" teriak Menma yang tentu saja tidak didengar oleh orang yang bersangkutan. "Anak itu." geram Menma.
"Sepertinya Naru-chan janjian dengan Sasuke." ucap Hinata yang membuat Menma memekik kaget. "Apa?!"
Naruto berlari menuju area parkir, tempat dimana Sasuke menunggunya. Ya, dia akan menemui Uchiha satu itu. Tadi pagi saat sedang menuju ke kelas bersama Hinata, Sasuke memintanya untuk datang ke area parkir sekolah. Awalnya Naruto tampak ragu untuk mengiyakan permintan pemuda itu. Mengingat apa yang dilakukan si raven itu padanya dini hari tadi. Bahkan seharian ini, dia berusaha menghindari pemuda itu. Dia sangat malu melihat wajah Sasuke membuatnya mengingat ciuman mereka.
Sasuke sedang bersandar di pintu penumpang saat Naruto datang dengan napas yang terengah-engah. "Kau berlari?" tanya Sasuke yang dibalas anggukan kepala oleh gadis pirang itu.
"Dobe, seharusnya kau tidak perlu berlari seperti itu."
"Setidaknya ucapkan terima kasihlah karena aku sudah mau datang, aku melakukan ini karena tidak ingin kau menunggu lama." ucap Naruto kesal akan sikap Sasuke yang menurutnya sangat menyebalkan itu. Sia-sia saja dia berlari jika tahunya akan seperti ini.
"Selama apapun kau datang, aku akan menunggumu." ujar Sasuke dan bersamaan dengan itu angin berhembus lembut dan menerbangkan helaian rambut Sasuke.
Indah, batin Naruto saat melihat wajah Sasuke dan helaian rambut ravennya yang berterbangan karena tertiup angin.
"Masuklah." perintah Sasuke yang membuat Naruto tersentak dari lamunannya. Naruto melangkah maju kearah Sasuke, masuk ke dalam mobil yang pintunya sudah dibukakan oleh pemuda itu.
"Kita mau kemana?" tanya Naruto sesaat setelah Sasuke sudah berada dibelakang kemudi. Sasuke menatap Naruto sekilas. "Kita akan ke rumahku." ucapnya kemudian menekan pedal gas dan melajukan mobil sport merah itu.
"Ke rumahmu? Untuk apa?" tanya Naruto
"Nanti juga kau akan tahu." jawab Sasuke tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan.
.
.
.
.
.
.
Perjalanan dari sekolah menuju kediaman Uchiha memang memakan waktu yang cukup lama, ditambah lagi Naruto yang meminta Sasuke untuk menghentikan mobilnya didepan sebuah toko bunga. Gadis itu berniat membelikan serangkai bunga untuk ibu Sasuke itu.
Tiin..Tiin
Suara klakson yang berasal dari mobil sport si Uchiha bungsu itu menggema nyaring dan beberapa saat kemudian gerbang bercat putih dengan lambang kipas ditengahnya itu terbuka lebar.
Sasuke kembali menekan pedal gas, membawa mobil sport merahnya itu memasuki pekarangan kediamannya. Naruto keluar sesaat setelah Sasuke membukakan pintu mobil itu untuknya. "Terima kasih." ucapnya atas perlakukan manis yang dilakukan si bungsu itu padanya.
Naruto mengikuti langkah Sasuke yang berada didepannya, tangannya memegang rangkaian bunga yang tadi sempat ia beli dengan hati-hati. "Tunggulah disini, aku akan memanggil kaa-san sebentar." perintah Sasuke yang dibalas anggukan kecil oleh Naruto.
Naruto mendudukan dirinya di sofa setelah kepergian Sasuke. Diedarkannya pandangannya ke seluruh ruangan tempatnya berada. Sebuah sofa besar yang menghadap langsung ke arah televisi layar datar, sebuah figura berisi keluarga Sasuke terpampang megah di tengah ruangan, sebuah pintu besar yang terbuat dari kaca yang Naruto yakini berhubungan langsung dengan kebun bunga milik ibu Sasuke. Ruangan tempatnya berada didominasi oleh warna putih, cukup sederhana dan tampak nyaman untuk terus berlama-lama disana.
Gadis itu bangkit dari sofa, melangkahkan kakinya menuju pintu kaca yang terbuka itu. Dan seketika sinar matahari menyinari wajah cantiknya. Naruto mengangkat tangannya, berusaha menghalau sinar matahari yang membuat matanya silau. Dapat dilihatnya sebuah taman bunga mini dari tempatnya berdiri. Berbagai jenis bunga ada disana. Taman yang begitu terawat, sederhana tapi sangat cantik. Senyum tipis terukir diwajah cantiknya. Bunga, ternyata ibu Sasuke juga suka berkebun sama halnya dengan mendiang ibunya. Haah~ mengingat ibunya membuatnya kembali bersedih.
Naruto terlalu asyik melamun sehingga tidak menyadari kehadiran Mikoto. "Naru-chan." panggil wanita cantik itu. Naruto menoleh dan mendapati Mikoto tengah berjalan menghampirinya. Wanita itu tersenyum hangat, merentangkan kedua tangannya dan memeluk tubuh mungil Naruto.
Naruto tersekiap saat Mikoto memeluknya, rasanya benar-benar nyaman. Sudah lama sekali dia tidak dipeluk oleh seorang...ibu. Rasanya hangat dan damai. "Bibi merindukanmu, Naru-chan." ujar Mikoto seraya melepaskan pelukannya dari tubuh Naruto.
"Aku juga merindukan bibi."
"Bagaimana sekolahmu, Naru-chan?" tanya Mikoto sembari menggandeng tangan Naruto dan menuntun gadis itu untuk duduk di sofa. "Baik-baik saja, bi." jawab Naruto.
"Kau betah tinggal di Tokyo?" tanya Mikoto lagi tanpa sekalipun melepaskan pandangannya dari wajah gadis dihadapnnya itu.
"Aku betah. Tokyo jauh lebih menyenangkan dari terakhir kali aku mengingatnya."
Mikoto membelai helaian rambut Naruto. Wanita itu tersenyum sembari menatap lekat wajah gadis itu. Dia tumbuh menjadi gadis yang cantik, Kushina. Kau pasti bangga telah melahirkannya, batin Mikoto.
Sasuke melangkah masuk ke dalam ruangan tempat dimana ia meninggalkan Naruto tadi. "Ekhm." Sasuke berdehem merasa terbaikan oleh kedua wanita berbeda warna rambut itu.
"Akh, Sasuke-kun."
"Hn." gumam Sasuke tidak jelas
Naruto memandang takjub penampilan Sasuke, kaus oblong berwana putih dan celana pendek selutut berwana drak blue tampak sangat pas di tubuh pemuda itu. Sederhana sekali tapi tetap tidak mengurangi kadar ketampanannya. Naruto menggelengkan kepalanya pelan, membuang jauh-jauh pemikirannya akan Sasuke dari otaknya.
Sepertinya aku sudah gila, batinnya. Naruto meraih rangkaian bunga yang ia beli tadi dan memberikannya pada Mikoto. Mikoto tampak sangat senang menerima hadiah pemberian dari anak sahabatnya itu.
"Aku tidak tahu apa yang bibi sukai, saat aku bertanya pada Sasuke, dia juga tidak mau menjawab. Jadi aku putuskan untuk membelikan bibi rangkaian bunga saja. Aku memilih Lilly karena itu bunga kesukaan kaa-san. Aku harap bibi menyukainya." ucap Naruto sedikit serak saat mengatakan bahwa Lilly adalah bunga kesukaan ibunya.
Mikoto dapat menangkap raut kesedihat dibalik sepasang mata beriris sapphire itu walau Naruto berusaha menutupinya dengan senyuman. Mikoto memeluk tubuh Naruto. "Kau manis sekali, Naru-chan. Bibi menyukainya sangat menyukainya. Terima kasih ya." ucap Mikoto tulus.
Sasuke yang sedari tadi hanya bersandar di dinding tampak tersenyum. "Bibi sudah menyiapkan makan siang untuk kalian berdua. Ayo ke ruang makan." ajak Mikoto setelah melepaskan pelukannya dari tubuh Naruto.
Makan siang pertama Naruto di kediaman Uchiha berjalan dengan sangat menyenangkan. Mikoto melayani Naruto, menaruh nasi ke piring gadis itu, mengisi gelas milik Naruto dengan air bila gelas itu sudah kosong bahkan Mikoto sempat menyuapi gadis pirang itu. Naruto yang mendapatkan perlakuan demikian merasa tidak enak.
Naruto sedang duduk di teras samping dekat taman bunga milik ibu Sasuke. Gadis itu mengenggam erat gelas berisi jus jeruk yang tadi dibuatkan oleh Mikoto ditangannya. Meneguknya sedikit kemudian kembali memandangi kebun bunga dihadapnnya dengan penuh nikmat. Sasuke melangkah mendekati gadis yang duduk membelakanginya. Kemudian duduk disamping gadis itu.
"Kaa-sanku suka sekali berkebun sama seperti ibumu, Sasuke." ucap Naruto tiba-tiba. Sasuke melirik gadis disampingnya itu. "Aku ingat saat kaa-san mengajakku untuk berkebun bersamanya, kaa-san mengajariku cara menanam benih, cara menyiram yang baik. Dia mengajari semua hal tentang berkebun padaku walau dia tahu aku sama sekali tidak tertarik akan dunianya itu." ujar Naruto. Sasuke diam, tidak berkomentar sama sekali. Dia tahu, Naruto sedang merindukan ibunya, karena itu dia membiarkan gadis pirang itu bercerita semaunya.
Naruto tersenyum getir kemudian memainkan bibir gelas berisi jus jeruk itu dengan ujung jari telunjuknya. "Aku selalu menolak jika dia memintaku untuk membantunya menyiram bunga-bunga di kebunnya. Bagiku, menyiram bunga bukan hal yang menyenangkan. Kaa-san sangat mencintai bunga-bunganya dan aku tidak suka itu. Dia mengabaikanku dan lebih memilih merawat kebunnya. Aku marah, jadi aku merusak kebunnya. Memotong semua bunga-bunga yang baru mekar itu. Aku kesal karena kaa-san lebih sering menghabiskan waktunya dengan berkebun daripada bermain denganku." ujar Naruto sembari menerawang ke masa itu, masa dimana ibunya masih hidup.
"Kaa-san marah dan membentakku, dia marah kerena aku merusak kebun bunganya." Sasuke memandang Naruto dalam, dia tahu kejadian itu karena waktu itu dia juga ikut membantu Naruto untuk merusak kebun milik mendiang Kushina. Kushina marah besar, wanita itu hampir menampar Naruto kalau saja Mikoto tidak datang dan menjauhkan Kushina dari Naruto. Itu kejadian yang paling mengerikan. Sasuke tahu ibu Naruto itu galak, tapi Sasuke tidak pernah melihat wanita itu marah seperti itu.
"Aku menyesal, karena tidak pernah minta maaf padanya soal hal itu. Padahal kaa-san bilang, jika aku menyesal dan meminta maaf, dia akan melupakan kejadian itu. Tapi aku tidak peduli, aku merasa tidak bersalah karena sudah merusak kebun milikknya. Hingga aku sadar...aku sadar saat semuanya sudah terlambat. Aku menyesal, aku ingin minta maaf padanya." ucap Naruto sembari terisak.
Sasuke meraih gadis itu ke dalam dekapannya. Tubuh Naruto bergetar dalam dekapan Sasuke. "Kaa-san sudah pergi, aku tidak sempat minta maaf padanya, Sasuke." lirih Naruto ditengah tangisannya.
Sasuke melepaskan tubuh Naruto dari dekapannya, menatap wajah yang sudah dibasahi air mata itu dengan lembut kemudian menangkupnya dengan kedua tangannya. "Aku yakin kaa-sanmu sudah memafkanmu jauh sebelum kau memintanya, Naru." ucap Sasuke.
Naruto masih terisak sembari memandangi wajah Sasuke yang berada dihadapannya. Sasuke mulai mendekati wajah Naruto, semakin dekat hingga jarak diantara keduanya semakin tipis. Naruto memejamkan matanya saat bibir mereka saling bertemu. Hanya sebuah ciuman ringan. Sama sekali tanpa nafsu, tapi entah kenapa ciuman itu bagaikan obat penenang yang sangat baik untuknya.
Sasuke melepaskan ciuman itu kemudian menangkup wajah gadis dihadapnnya. Pemuda raven itu menempelkan kedua dahi mereka, menatap tepat sepasang mata indah itu. "Aku tak suka melihatmu menangis. Jadi, jangan menangis lagi." ucap Sasuke nyaris berbisik.
Malam datang begitu cepat bagi Naruto, kini dia sedang berada di ruang makan bersama anggota keluarga Uchiha untuk menyantap makan malam. Ini makan malam keduanya bersama keluarga Sasuke.
"Nah, Naru-chan kau harus makan yang banyak. Bibi sudah menyiapkan semua ini untukmu." ujar Mikoto seraya menaruh nasi di piring milik Naruto.
"Bibi tidak perlu repot-repot seperti ini. Aku merasa tidak enak."
"Bibi tidak merasa direpotkan, Naru-chan. Jadi, kau tidak perlu merasa tidak enak seperti itu." ujar Mikoto seraya tersenyum.
"Ibuku benar Naru-chan, kau tidak perlu merasa tidak enak. Anggap saja ini adalah rumahmu dan kami keluargamu." ucap Itachi.
"Arigatou."
Makan malam kali ini terasa sangat menyenangkan, keluarga Sasuke memperlakukannya dengan sangat baik. Fugaku yang Naruto pikir adalah pribadi yang kaku menjadi sosok yang hangat dan penyayang ditengah keluarganya, terlihat dari pria paruh baya yang terkesan keras itu tertawa saat putra sulungnya membuat lelucon. Sasuke yang terkenal sangat dingin disekolah itupun terkadang tertawa kecil menanggapi lelucon garing sang kakak. Tak jarang pemuda raven itu mengomentari lelucon kakanya dengan pedas seperti "Baka aniki." atau "Leluconmu segaring kerupuk."
Naruto menikmati kebersamaan yang ia dapatkan bersama dengan keluarga Sasuke. Tertawa, bercanda dan menikmati pelukan hangat dari Mikoto yang membuatnya merasakan jika yang tengah memelukknya adalah ibunya sendiri. Setelah makan malam selesai, mereka semua beranjak dari ruang makan dan bergerak menuju ruang keluarga kediaman Uchiha, mengobrol apa saja yang sebenarnya lebih banyak didominasi oleh Mikoto dan Itachi. Fugaku sedang membaca bukunya dengan santai, Sasuke tampak diam disamping Naruto yang juga sama diamnya seperti dirinya. Naruto menatap Mikoto yang tengah dipeluk oleh Itachi itu.
Gadis itu mengalihkan pandangannya kearah lain. Melihat adegan berpelukan antara ibu dan anak itu entah mengapa membuat wajahnya panas dan merasakan ada sesuatu yang akan mendesak keluar dari pelupuk matanya. Aku benar-benar merindukan kalian...tou-san...kaa-san, batin Naruto.
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam saat Naruto tiba di kediaman Uzumaki dengan Sasuke yang mengantarnya pulang. "Terima kasih untuk hari ini, Sasuke." ucap Naruto dengan menundukkan kepalanya.
"Hn." sahut Sasuke.
"Kalau begitu aku masuk ke dalam." ucap Naruto seraya membuka pintu mobil, tapi sebelum dirinya benar-benar keluar dari mobil. Sasuke memanggilnya membuatnya menoleh dan pemuda itu langsung mendaratkan sebuah ciuman di dahinya.
"Sekarang masuklah. Jangan tidur terlalu larut." ujar Sasuke sembari mengusap puncak kepala Naruto. Naruto mengangguk kemudian turun dari dalam mobil. Sasuke membuka kaca mobil miliknya saat Naruto benar-benar sudah turun. "Aku pulang, Naru. Ingat pesanku." ucap Sasuke.
"Ya, aku mengingatnya. Hati-hati dijalan Sasuke." ucap Naruto dan beberapa detik setelahnya mobil sport merah itu melaju pergi meninggalkan kediaman Uzumaki dan Naruto yang masih berdiri memandang kepergian Sasuke dengan senyum yang terkembang di wajahnya.
.
.
.
.
.
.
.
Keesokan harinya...
Ino kembali mematut penampilannya dicermin besar itu. Berputar-putar sebentar dan kemudian merapikan tatanan rambutnya. "Hari ini kau benar-benar cantik, Ino." pujinya pada dirinya sendiri lalu gadis itu terkikik, menyadari bahwa kadar kenarsisannya semakin bertambah saja di setiap harinya. Gadis berponi tail itu beranjak keluar dari kamarnya, melangkah ke ruang makan dan beberapa menit setelahnya berpamitan pada sang ibu.
"Aku berangkat, kaa-san." pamitnya seraya mengecup pipi sang ibu.
"Iya, hati-hati sayang."
Ino tampak asyik mendengarkan lagu dari playlist yang ia pasang di mobilnya. Sebuah lagu pop dari salah satu girlband ternama Korea Selatan, 2NE1. Ino mengetuk-ngetuk kemudi mobilnya dengan ujung jari telunjuknya pelan, menikmati lagu yang ia dengar. Gadis itu menginjak rem saat lampu lalu lintas berubah warna menjadi merah.
Gadis itu melirik ke kanan dan ke kiri, kemudian memutar volume suara dari mp3 player itu. Seketika lagu beraliran regge itu menggema ke seluruh penjuru mobil mini berwarna ungu itu.
"I keep falling in love...falling in love...uoooohh" Ino berteriak tidak jelas, berusaha mengikuti lirik dari lagu yang tengah ia putar walaupun lirik yang ia ucapkan itu salah. Who's care? Toh, tidak ada yang mendengar suara fals bin cempreng miliknya itu.
Gadis yang ternyata penggila lagu-lagu k-pop itu menekan pedal gas saat lampu berubah warna menjadi hijau. Ino kembali mengikuti lirik dari lagu itu, kali ini dengan ekspresi yang tampak berlebihan.
"Touccch me over there...touchh me over there..Garaaa.." ucap gadis itu sinting seraya menekan-nekan dadanya kuat, mengeyampingkan fakta bahwa dia sedang mengemudi sekarang.
Sepertinya gadis ini benar-benar sudah gila karena seorang Sabaku no Gaara.
Sasuke melangkahkan kaki jenjang yang dibalut celana hitam itu dengan santai, tangan kanannya ia taruh didalam saku. Keren. Ya, satu kata yang dapat mewakili betapa memukaunya penampilan si bungsu itu pagi ini. Sasuke menghentikan langkah kakinya saat ia dan Gaara berpapasan tepat di ambang pintu kelas mereka.
Keduanya sama-sama memandang tidak suka. "Jangan lupakan soal persaingan itu, Sasuke." ucap Gaara. Sasuke mendengus kemudian menatap kedepan dengan angkuh. "Tidak akan pernah." ujar Sasuke datar nan dingin lalu berlalu pergi ke bangkunya.
Naruto menguap untuk yang sekian kalinya pagi ini. Matanya benar-benar sangat berat, rasanya ia ingin tidur detik ini juga. Salahkan saja daya ingatnya yang tidak bagus itu sehingga melupakan tugas dari Kurenai, membuatnya harus begadang karena mengerjakan tugas dari sensei galak itu sampai jam satu dini hari.
Naruto menggosok-gosok matanya, berharap kantuk itu segera lenyap. Tapi semakin dia menggosok matanya, semakin besar pula rasa kantuk itu menyerangnya. Sial! Aku harus ke toilet, ucap Naruto dalam hati kemudian bergegas menuju toilet wanita.
Naruto melangkah cepat menuju wastafel setelah masuk ke dalam toilet. Gadis itu memutar keran air dan kemudian membasuh wajahnya beberapa. Naruto memandangi wajahnya dari balik cermin lalu berucap. "Aku harap aku bisa bertahan sampai jam istirahat nanti." katanya lalu beranjak keluar dari dalam toilet.
Jam pelajaran hari ini baru akan dimulai tiga puluh menit lagi karena itu Naruto memutuskan untuk berkeliling sebentar di sekolahnya. Naruto melangkah santai menuju area hijau yang tidak terlalu jauh dari area olahraga. Gadis itu duduk disalah satu bangku kayu, angin pagi bertiup lembut dan menerbangkan beberapa helaian rambutnya. Membuatnya merasa nyaman dan tenang disaat yang bersamaan.
Naruto menghirup udara disekelilingnya dalam-dalam, kedua matanya terpejam. Dan tiba-tiba ia teringat kejadian dirumah Sasuke tadi malam. Kejadian dimana ia dengan gamblangnya menceritakan masa lalunya pada Sasuke dan yang lebih memalukan lagi adalah dia menangis dihadapan pemuda itu. Naruto tidak pernah habis pikir, kenapa saat bersama Sasuke dia merasa sangat nyaman dan aman. Seolah-olah ia dan pemuda itu sudah lama saling mengenal. Naruto tersenyum kemudian mendudukan kepalanya. Itu ciuman keduanya bersama Sasuke. Rasanya seperti ada kupu-kupu yang berterbangan di perutnya saat bibirnya bertemu dengan bibir pemuda itu. Tiba-tiba Naruto merasakan kedua pipinya memanas. Gadis itu mengela napas berat. "Aku malu." ucapnya pelan.
Bel berbunyi nyaring, beberapa siswa dan siswi yang masih berada diluar kelas langsung bergegas masuk ke dalam kelas mereka masing-masing. Naruto melangkah masuk ke dalam kelasnya dan bergerak ke arah tempat duduknya. Anko datang beberapa detik setelahnya, mengucapkan selamat pagi, duduk di kursinya, mengabsen para murid kemudian melangkah ke depan kelas.
"Sebentar lagi musim panas akan datang, karena itu sekolah akan mengadakan festival musim panas. Sensei berharap kelas kita ikut meramaikan festival musim panas tahun ini." ucap Anko memberi jeda. "Jadi, apa kalian punya ide?" tanyanya.
Tampak para murid saling berdiskusi, membicarakan hal apa yang akan kelas mereka tampilkan di festival musim panas tahun ini. Hingga Shikamaru selaku si ketua kelas berucap dengan tampang malasnya. "Merepotkan, kami tidak tahu harus melakukan apa sensei. Semua yang kami bahas sudah dipilih oleh kelas lain." ujarnya. "Jadi, kami memutuskan untuk tidak melakukan apa-apa." lanjut Shikamaru.
Anko mengernyitkan dahi, bingung dengan murid di kelasnya ini. Dari sekian banyak pilihan yang bisa siswanya ambil, kenapa mereka memutuskan untuk tidak melakukan apa-apa. Guru muda itu menghela nafas panjang kemudian berucap. "Baiklah, kita mulai saja pelajaran kita hari ini. Sekarang keluarkan buku pelajaran kalian." perintahnya.
Jam pelajaran sudah selesai beberapa menit yang lalu, Naruto sedang berjalan santai menuju cafetaria sendirian, sampai sebuah tangan menarik pergelangan tangannya. "Sasuke, apa yang kau lakukan? Kenapa menarikku seperti ini?"
"Temani aku makan siang." ucap Sasuke mutlak
"Tapi..."
"Aku tidak menerima penolakan, Naru." ucapnya memotong perkataan Naruto
Dan sampailah mereka di belakang gedung sekolah, Sasuke menuntun gadis pirang itu ke salah satu kursi kayu dan menyuruhnya duduk. "Kenapa kita makan disini? Kenapa tidak di cafetaria saja?" tanya Naruto.
"Disana terlalu berisik, aku tidak suka." jawab Sasuke datar, menyembunyikan alasan sebenarnya kenapa ia membawa gadis itu kesini. Alasannya hanya satu, dia ingin berdua dengan gadis itu, tanpa gangguan teman-temannya apalagi saingannya, Gaara.
Sasuke menyodorkan kotak bekal makan siangnya ke arah Naruto. Gadis itu mengernyit heran. "Apa?" tanyanya bingung. "Suapi aku." perintah Sasuke.
Naruto mendengus keras. "Kau makan saja sendiri." ucap Naruto kesal, membuat Sasuke menoleh tidak suka kearahnya. "Suapi aku atau..." ucap Sasuke menggantung seraya mendekatkan wajahnya kearah Naruto. Naruto secara refleks memundurkan kepalanya. Otaknya mengirimkan sinyal-sinyal bahaya pada tubuhnya.
"A-atau apa?" tanyanya gugup
"...atau aku akan menciummu." sambung Sasuke membuat Naruto terbelalak kaget kemudian dengan cepat gadis itu meraih kotak bekal makan siang milik Sasuke.
"Baiklah, ayo makan!" serunya lantang. "Buka muka mulutmu, Sasuke. Say aahhh..."
Sasuke menatap Naruto kesal. "Apa?" tanya Naruto polos.
Sasuke mendengus keras, apa-apaan dia ini, kenapa dia bereaksi seperti itu? Apa dia tidak ingin aku menciumnya, batin Sasuke.
"Ayo makan Sasuke." ucap Naruto seraya menyodorkan telur gulung dihadapan Sasuke, dengan malas Sasuke membuka mulutnya dan memakannya.
Naruto kembali menyuapi pemuda raven itu, dalam hati ia berucap. "Bisa gawat jika dia menciumku lagi."
.
.
.
.
.
.
Kyuubi melangkah gagah disepanjang koridor kantor kepolisian Tokyo. Beberapa pasang mata memandang penuh kekaguman padanya, wajah tampan itu benar-benar memiliki daya pikat yang sangat besar. Kyuubi menghentikan langkah kakinya saat dirinya berada di depan sebuah ruangan berpintu coklat tua. Sejenak ia terdiam, menghembuskan nafasnyanya perlahan sebelum akhirnya ia meraih handle pintu dan membuka pintu dihadapannya.
"Kau lama, Kyuu." suara itu yang pertama kali ia dengar saat dirinya masuk ke dalam ruangan bercat putih dengan meja bundar dan beberapa kursi disana. Kyuubi menutup pintu dibelakanganya, memandang datar pada pemilik suara barusan.
"Aku harus menyelesaikan beberapa hal di kantor sebelum datang kemari." ujarnya.
Deidara mendengus sebal. "Ya, ya, ya. Aku paham itu tuan sok sibuk." cibirnya yang kemudian dihadiahi sebuah pukulan oleh Sasori.
"Nenekmu sudah memberikan ijin atas keputusanmu ini, Kyuu?" tanya Pain sedangkan yang ditanya hanya diam saja. "Jangan bilang kau belum memberitahukannya." tebak Sasori.
Kyuubi masih diam membuat Deidara bereaksi. "You're crazy, man!" serunya, ia cukup tahu jika kediaman Kyuubi itu artinya iya. "Bagaimana mungkin kau tidak memberitahukan hal sepenting ini pada beliau?"
"Aku sudah memberitahunya."
"Lalu?" tanya Pain
"Dia tidak mengijinkan aku kembali kesini."
Sasori dan Deidara saling pandang. "Tapi, sekalipun beliau tidak memberi restu...aku akan tetap kembali, dan menangkap bajingan itu."
Beberapa menit keempat pemud aitu saling diam hingga suara pintu terbuka, membuat mereka berempat bangkit dari posisi masing-masing dan berdiri tegak. Seorang pria bertubuh tegap berseragam kepolisian Tokyo masuk, membungkuk hormat sebelum akhirnya berbicara.
"Jenderal menunggu kalian diruangannya." ucap pria bertage name Kouta
"Baiklah, kami akan segera kesana. Terima kasih atas pemberitahuannya Kouta-san." ujar Pain
"Sama-sama, kalau begitu saya permisi." Ucapnya kemudian melangkah pergi.
"Baiklah! Ayo kita temui jenderal tua itu!" seru Deidara bersemangat.
"Jaga ucapanmu, Dei." ujar Sasori mengingatkan
"Apa? Dia 'kan memang sudah tua." timbal Deidara
Dan keempat pemuda itu bergerak menuju ke ruangan jenderal kepolisian Tokyo itu. Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mereka sampai di ruangan yang mereka tuju. Dua orang penjaga pintu membungkuk hormat. "Jenderal sudah menunggu kalian. Mari masuk." ucap salah satu penjaga pintu itu.
"Dia masih saja mempekerjakan orang untuk menjaga ruangannya. Dasar kakek tua." ucap Deidara nyaris berbisik pada Sasori. Lalu, keempat pemuda itu melangkah masuk ke dalam. Sebuah ruangan besar bercat cream dengan meja kerja, sebuah sofa dan sebuah mini bar, dan bebrapa rak buku.
"Anda sudah tua, jangan terlalu banyak minum, Jenderal." ucap Pain saat mendapati seorang pria tua tengah menenggak sakenya.
Pria tua itu menoleh. "Pain." Panggilnya. "Aku tidak menyadari kehadiran kalian."
"Itu karena kau sudah tua." ucap Deidara
"Ucapanmu selalu saja pedas, Dei."
"Bagaimana kabar anda, Jenderal?" tanya Sasori
"Aku baik-baik saja, dan kau selalu saja sopan seperti biasa, Sasori." jawabnya
Pria tua itu melangkah maju dan menghampiri Kyuubi, sejenak pria tua itu tersenyum hangat sebelum akhirnya memukul kepala Kyuubi. "Kemana saja kau?" tanyanya. "Pergi tanpa memberitahukanku lalu tiba-tiba datang dan memintaku untuk mengijinkanmu kembali menjadi anggota kepolisian Tokyo. Dasar anak nakal!"
"Kau tidak tahu betapa aku mengkhawatirkanmu dan juga adikmu itu. Kakek dan nenekmu juga tidak bersedia membuka mulut mereka saat aku bertanya tentang keberadaanmu." ucapnya. "Jadi, dimana selama ini kau bersembunyi?"
"Los angeles." jawab Kyuubi singkat
Pria tua itu menghembuskan nafasnya kasar. "Dasar penyembunyi yang handal." ucapnya kesal.
Pria tua bernama Senju Hashirama memijit pangkal hidungnya. Mendadak kepalanya terasa pusing. "Jadi, apa kau akan mengijinkan kami kembali?" tanya Kyuubi.
"Aku tahu kau Kyuubi, sangat tahu. Kau dan kekeras kepalaanmu itu. Kau akan bergerak sendiri sekalipun kau tidak mendapatkan ijin dariku. Jadi aku bisa apa selain mengijinkan kau dan ketiga temanmu kembali dan menjadi bagian dari organisasi ini."
Pria tua itu memandang lembut keempatnya kemudian merentangkan kedua tangannya lebar. "Selamat datang kembali. Selamat datang di dunia lama kalian lagi, Rasenggan."
To be Coutinue
Pojok Suara :
Fic ini genap setahun. Rasanya cepat sekali. Terima kasih untuk para pembaca yang masih setia membaca kelanjutan fic ini. Terima kasih juga untuk yang masih bersedia menunggu, walaupun saya tahu, fic ini semakin lama semakin bergerak –sangat- lambat dan terkesan monoton.
Apa boleh buat, untuk sementara alurnya memang saya buat seperti itu dulu, sebelum sampai pada titik klimaks.
Maaf juga karena baru bisa update sekarang. Saya sibuk ditambah beberapa hari belakangan ini, laptop saya sedikit bermasalah. Jadi, waktu update jadi diundur sampai laptop saya benar-benar pulih.
Akhir kata saya ucapkan terima kasih.
Sentimental Aqumarine pamit
See you and bye bye bye
Mind to review?
