Home

.

.

.

.

.

Disclaimer : Mereka hanya milik Tuhan

Cast : DBSK Family, dll

Genre : Family, Romance, Drama, hurt/comfort

Typos bertebaran, membosankan, alur suka"

Rate : T

Peringatan : Ada FLASHBACK yang tidak ada tandanya, jadi… Bacanya hati – hati ne?

.

.

.

.

.

~ Chapter 1 ~

.

.

.

.

.

.

" Eooommmmaaaa!" Pekikan itu datang dari dalam kamar, Jaejoong yang mendengarnya segera bangkit dari duduknya dan masuk ke dalam kamar sedangkan kedua orang paruh baya yang ada di dekatnya langsung tersentak kaget karena belum biasa mendengar pekikan menyakitkan hati pagi - pagi itu

Dia melihat anaknya menangis diatas tempat tidur mereka, sang anak terlihat mengusap kasar matanya.

" Minnie sudah bangun hmm?" Tanya Jaejoong sembari berjalan mendekat

" Eommmaaa~~ Huweee... Eom-eomma dali mana hiks... Min cali gak ada pas bangun tadi hiks"

" Aigo... Anak manja" Jaejoong langsung meraih Changmin kedalam pelukannya dan menenangkan sang anak

Anaknya memang memiliki kebiasaan bangun tidur yang bisa dikatakan unik. Sang anak akan menangis dan berteriak jika sang eomma tidak ada disampingnya saat bangun tidur.

" Hiks... Huwwaaa..."

" Eomma disini baby, kenapa menangis hmmm? Sudah... Ayo kita temui haraboji dan halmoni"

Jaejoong kemudian membawa sang anak yang masih menangis itu keluar kamar dan menghampiri kedua orang yang sudah dia anggap orangtuanya.

" Minnie ah... Sudah bangun ne? Jangan menangis lagi baby" Ucap Mrs. Jung pelan kemudian mengelus punggung cucunya

" Eommaaa..."

" Ne baby, eomma disini cup cup cup baby" Jaejoong masih menenangkan Changmin yang ada didalam dekapannya

Awalnya Mr. dan Mrs. Jung kaget juga dengan kebiasaan cucunya itu tapi yah... Mau bagaimana lagi, Changmin bangun selalu dalam dekapan eommanya.

Seringkali sang eomma bangun terlebih dahulu untuk bersiap - siap dan memasak setelahnya dia kembali ke kamar dan menunggu anaknya bangun barulah dia memulai aktifitasnya kembali. Jaejoong selalu mengutamakan anaknya sebelum melakukan semua pekerjaannya.

" Kapan Suie dan Chunie datang Joongie ah?" Tanya Mrs. Jung

" Mereka akan datang besok, Suie masih harus mengurus keperluannya di Jepang bersama Chunie" Jawab Jaejoong

" Oh, baiklah... Bagaimana kalau kita sarapan saja sekarang? Apa Minnie masih menangis?" Tanya Mrs. Jung

Jaejoong menunduk dan melihat anaknya tengah mengisap ibu jarinya. Changmin juga memegang erat pakaian yang dipakai eommanya dengan tangannya yang bebas.

" Tidak eomma, kalian makan saja terlebih dahulu. Aku akan memandikan Minnie" Ucap Jaejoong

" Kami akan menunggu kalian" Ucap Mr. Jung kemudian matanya beralih pada Changmin " Minnie ah, tidak mau poppo haraboji?"

Changmin masih dalam mode sleepy itu hanya menggeleng pelan, dia kemudian menatap eommanya.

" Minnie ah... Kajja mandi, tapi kau harus mencium haraboji dan halmoni dulu?"

Changmin melepaskan ibu jarinya dari mulut dan mengerucutkan bibirnya.

" Aigo... Apa anak ini merajuk hmm?" Mrs. Jung mengambil Changmin dari pangkuan Jaejoong dan mencium pipi anak gembul itu begitu pula sang haraboji

Jaejoong tersenyum melihat pemandangan indah itu, hidupnya yang sekarang memang membaik tapi... Dia masih membutuhkan namja itu untuk melengkapi semuanya. Changmin membutuhkan sosok appa walaupun Jaejoong sendiri seorang namja.

.

.

.

.

.

Seorang namja bangun pagi ini dengan keringat menetes dipelipisnya. Mimpi buruk itu mendatanginya kembali, mimpi dimana dia mendorong sang istri dari tangga lantai dua rumahnya dulu. Dia jelas melihat ekspresi sang istri saat dia mendorongnya.

Namja itu, Yunho. Dia bangkit dan berjalan menuju kamar mandi flatnya dan membasuh seluruh tubuhnya dipagi buta ini. Setelahnya, dia meminum air putih dan keluar dari flat menuju tempat kerja sambilan paginya mengantarkan koran dan susu.

Berkeliling mengunakan sepeda untuk mengantarkan itu semua dan dia mendapatkan upah berupa dua kotak susu yang biasanya dia minum sebagai sarapan dan beberapa koin dan selembar uang won diterimanya.

Setelahnya dia tidak pulang namun langsung menuju kafe tempatnya bekerja hingga sore. Dia memarkirkan sepedanya dibelakang kafe seperti biasa dan masuk melalui pintu belakang kafe untuk mengganti pakaiannya dengan seragam.

" Pagi ahjusshi" Sapa Yunho pada sang boss, Mr. Go yang memang hanya ingin dipanggil hyung oleh Yunho

" Pagi Yun, kau datang pagi sekali?"

" Hmm?" Yunho melirik jam tangan usangnya " Hanya lima belas menit lebih awal"

" Aku bahkan baru bersiap membuka kafe"

" Aku akan segera keluar untuk membersihkan kacanya"

" Baiklah"

Harus Mr. Go akui bahwa Yunho merupakan satu - satunya pegawai kafe yang rajin dan pandai. Terbukti kadang Yunho membantunya dalam urusan keuangan kafe dan beberapa promosi. Yunho begitu pandai membaca kondisi dan situasi agar kafenya tetap ramai.

Dulu, Yunho datang padanya hampir lima tahun yang lalu. Kondisinya cukup memprihatinkan, merasa kasihan akhirnya dia memberikan pekerjaan untuk Yunho dan Yunho bekerja sampai sekarang untuknya. Dulu ketika ditanya masalah keluarga Yunho akan diam dna auranya menggelap, maka dari itu Mr. Go tidak pernah bertanya lagi tentang keluarga Yunho.

Yunho yang sudah mengganti pakaiannya langsung membawa alat pembersih kaca dan mulai membersihkan kaca depan kafe dengan teliti.

Yunho membersihkan kaca itu, sesekali dia melihat pantulan dirinya dikaca itu. Awalnya tidak menyangka dia bisa hidup seperti ini, tapi... Setelah menjalaninya dia malah terbiasa hidup dibawah kata sederhana ini. Dia hanya ingin hidup tenang setelah dulu melakukan banyak kekacauan pada keluarganya.

Mungkin keluarganya sudah tenang dengan kepergiannya saat ini, apalagi sang haraboji...

Ah... Tidak, matanya kembali berembun mengingat namja yang merupakan keluarganya itu.

.

.

.

.

.

" Eoooommmmaaaa..."

Namja kecil itu berteriak saat melihat eommanya digerbang sekolah barunya. Jaejoong tersenyum melihat anaknya berlari menghampirinya, ini adalah hari pertama Changmin bersekolah di playgroup dan terlihat Changmin sangat menyukai sekolah barunya.

" Bagaimana baby? Kau menyukai sekolahmu hmm?" Tanya Jaejoong setelah menggendong Changmin dan mengecup pipi anaknya

" Hum! Min cuka!" Jawab Changmin penuh semangat

" Kajja sekarang kita pergi"

" Eodie?"

" Hmm... Haraboji"

Changmin mengerutkan keningnya, jadi mereka akan menemui harabojinya di kantor?

.

.

.

Angin itu berhembus pelan mengantarkan Jaejoong dan Changmin kearah sebuah batu nisan. Jaejoong menurunkan anaknya dari gendongannya dan berlutut dihadapan nisan itu.

" Haraboji annyeong, ini aku Jaejoong. Maaf Joongie baru bisa mengunjungi haraboji setelah sekian lama. Joongie membawa Minnie kesini" Ucap Jaejoong kemudian menatap anaknya " Minnie, taruh bunganya dan beri salam pada haraboji"

" Ung? Ne eomma"

Walaupun tidak mengerti, Changmin tetap melakukan apa yang diminta sang eomma kemudian dia memperkenalkan diri dihadapan batu nisan tersebut.

" Annyeong hmmm alabojinya eomma... Changmin imnida. Min benelan gak tau ciapa alaboji jangan malah cama Min ne" Ucapnya penuh semangat

Jaejoong tersenyum kemudian mengusap lembut puncak kepala Changmin. Dia kemudian membersihkan makan haraboji itu sembari berbicara.

" Haraboji, Joongie akan membawa cucu haraboji yang nakal itu ke rumah. Jadi... Haraboji jangan khawatir ne? Tolong doakan Joongie agar berhasil nanti" Monolog Jaejoong

Sedangkan Changmin hanya diam, memandang tidak mengerti pada eommanya yang sedang berbicara sendiri itu. Tak lama Jaejoong menoleh, dia menatap anaknya dengan sendu.

.

.

.

" Appa kenalkan ini Jaejoong, dia akan ada dirumah kita untuk membantu appa"

Seorang namja paruh baya itu hanya melirik sedikit kearah kanannya sebelum dia kembali menatap kebun halaman belakang rumahnya.

" Aku tidak perlu bantuan" Ucap Jung haraboji yang duduk pada kursi roda

" Appa..."

" Aku masih bisa sendiri, maksud kalian apa membawa seorang pengasuh untukku eoh?! Kalian kira appa selemah yang kalian pikir?"

" Bukan begitu appa, kami hanya ingin yang terbaik untuk appa"

" Cih..."

Begitulah awal pertemuan Jaejoong dengan namja setengah baya, Jung Jae Suk. Orangtua dari Jung Siwon, suami dari Jung Kibum. Tidak ada kehangatan dari namja yang sudah lanjut usia itu.

Kecelakaan membuatnya harus duduk dikursi roda, dan Jaejoong yang saat itu masih berusia tujuh belas tahun harus merawatnya karena itu tugas barunya. Dia dibawa dari panti asuhan tempat dia dirawat selama tujuh tahun untuk bekerja pada keluarga Jung.

Butuh perjuangan untuk Jaejoong agar Jung haraboji itu menerima kehadirannya. Dan perjuangan itu menghasilkan perkembangan, enam bulan kemudian sikap Jung haraboji melunak pada Jaejoong dan mulai bersikap baik padanya. Bahkan dia mengajak Jaejoong untuk berkeluh kesah tentang cucu satu - satunya yang sikapnya sangat mengesalkan.

Cucunya itu tinggal di Amerika untuk kuliah tapi sampai sekarang dia belum ada kemajuan sama sekali. Pulang saja jika dimarahi olehnya dan kedua orangtuanya. Padahal, menurut Jung haraboji cucunya termasuk golongan jenius tapi sifat malasnya lebih mendominasi sehingga sekarang belum ada kemajuan yang berarti padahal usianya sudah dua puluh dua tahun.

Dan, setelah satu tahun kemudian tepatnya saat Jaejoong berusia delapan belas tahun. Saat itu dia tengah mendorong kursi roda yang diduduki oleh Jung haraboji masuk ke dalam rumah, dia melihat seseorang berdiri dengan angkuh di depan pintu. Seorang namja tinggi, memiliki rahang tegas membuka kaca mata hitamnya. Dan terlihatlah mata musang yang juga melihatnya dengan tatapan tajam.

Disana dia melihat seseorang yang membuat jantungnya berdebar keras hingga Jaejoong takut jantungnya akan keluar dari tubuhnya. Jung Yunho, dia melihat namja itu disana.

.

.

.

" Eommmaaaa... Mmmaaa..."

" Ne baby! Mianhae eomma melamun"

Jaejoong mengalihkan pandangannya kembali kearah nisan, dia berpamitan dan mengajak Changmin pergi untuk makan siang.

Setelahnya dia mengajak Changmin pulang dan kedua orangtuanya sudah menunggu disana untuk mengajaknya berbicara.

" Bagaimana sekolahmu Min?" Tanya Mrs. Jung kemudian mengangkat cucu kesayangannya itu

" Min cuka, banyak yang manis dan cantik!" Jawab Changmin dengan semangat

" Omo! Darimana kau belajar semua itu eoh?" Tanya Mrs. Jung kagi

" Chunie juci"

" Aigo..."

Jaejoong menggelengkan kepalanya, dia harus memberikan pelajaran pada asistennya itu besok!

" Jae ah... Ini" Mr. Jung memberikan beberapa lembar kertas yang sudah dijadikan satu pada Jaejoong

Jaejoong mengambilnya kemudian membacanya, ah... Ini adalah data yang dia butuhkan untuk rencananya besok.

" Dia masih didaerah Seoul?" Tanya Jaejoong

" Ne, dia sempat pergi ke Gwangju selama setahun tapi... Hanya setahun. Setelahnya dia ada di Seoul bekerja sebagai penjaga cafe, dia melakukan apapun yang bisa dia lakukan di kafe itu. Paginya, dia bekerja membagikan koran dan susu"

Jaejoong menelaah apa yang ada didepannya, bagaimana kehidupan seorang jutawan yang sekarang malah seperti ini. Dulu, sebelum bekerja pada keluarga Jung dia juga melakukan pekerjaan seperti itu.

" Aku mengerti appa, dia tidak jauh dari sekolah Minnie. Aku harap ini akan menjadi lebih mudah"

" Ne, appa harap dia mendapatkan pelajarannya selama lima tahun ini"

Jaejoong mengangguk sedangkan Mrs. Jung memandang sendu Jaejoong. Benarkah Jaejoong masih mencintai anaknya setelah apa yang dilakukan oleh anaknya? Sebenarnya hati Jaejoong terbuat dari apa eoh?

" Eommonim, kenapa melamun?"

Suara Jaejoong membuat Mrs. Jung menoleh dan tersenyum, dia kemudian kemudian menggeleng pelan.

" Tidak apa - apa Joongie, mungkin eommonim hanya lelah" Jawab Mrs. Jung dengan lembut

" Kalau begitu, eommonim istirahat saja"

" Ne"

" Eommaa~ Min antuk"

Suara Changmin membuat Jaejoong menoleh dan menggendong anaknya yang memasukkan ibu jarinya kedalam mulutnya. Jaejoong mengeluarkan jari anaknya itu dan mengelus lembut puncak kepala Changmin. Dia kemudian membawa Changmin kedalam kamar, sudah waktunya Changmin tidur siang bukan?

" Semoga kebahagiaan datang kepada mereka secepatnya" Ucap Mrs. Jung

" Pasti, mereka pasti mendapatkannya"

.

- KEESOKAN HARINYA -

.

Jaejoong sedang memasak untuk sarapan anaknya saat dua orang namja masuk ke dalam mansion keluarga Jung. Kepala pelayan memberitahukannya pada Jaejoong dan Jaejoong segera menuju ruang tengah keluarga itu.

" Hyuunngggiiieee~~"

Grep

Seorang namja bertubuh montok memeluknya dengan erat, sementara itu dibelakang namja itu berdiri lagi seorang namja yang tersenyum lembut padanya. Namun Jaejoong tidak melihat kedua orangtuanya, mungkin karena mereka berdua belum bangun.

" Aigo... Kau sudah datang Suie?"

" Ne hyung! Ah! Mana bocah evil itu eohh?!"

" Minnie masih tidur, kau cuci tangan, kaki dan wajahmu atau kalau perlu mandi baru kau boleh menyentuh anakku" Ucap Jaejoong

" Beres, aku akan mandi dulu. Dimana kamarku?"

" Kamar kalian tidak jauh dariku. Baek ahjusshi, tolong antar mereka ke kamar"

" Baik tuan"

Sang kepala pelayan itu kemudian mengantarkan pengasuh Changmin dan asistennya menuju kamar mereka masing - masing. Jaejoong melirik jam dinding, sebentar lagi anaknya pasti bangun. Dia berjalan kearah kamarnya dan masuk, dia melihat Changmin tengah menggeliat dan itu terlihat menggemaskan untuk Jaejoong. Jaejoong segera duduk dipinggir ranjang dan memandang anaknya dengan senyuman.

" Mmmaaa"

" Ne baby, eomma disini" Ucap Jaejoong mengelus puncak kepala Changmin

Changmin bangkit dan langsung duduk dipangkuan eommanya. Dia menaruh telinga kanannya pada dada kiri Jaejoong dan mendengarkan detak jantung eommanya yang tenang itu.

" Kajja mandi, kau harus bersiap untuk kesekolah bukan?" Ucap sang eomma

" Eunngg..." Changmin menggelengkan kepalanya

" Waeyo?"

" Min mau peyuk eomma aja"

" Hahahaha, kajja... Kau bersiap dan lihat siapa yang datang untukmu"

Changmin memandang eommanya dengan kening yang berkerut. Siapa yang datang menemuinya? Changmin mengikuti eommanya untuk segera mandi, tapi dia tidak mandi sendiri. Bocah itu senang sekali bermain air bersama Jaejoong didalam kamar mandi dan itu menghabiskan waktu yang lama. Jika seperti ini Changmin benar - benar mirip appanya yang jika mandi akan menghabiskan waktu satu jam.

Setelah bersiap, Jaejoong menggandeng Changmin keluar kamar. Namun betapa terkejutnya Changmin saat melihat dua namja yang duduk berhadapan dengan nenek dan kakeknya.

" Jiiddaaatt juci! Bebek hyuung!" Pekik Changmin kemudian berlari menghampiri Junsu yang sudah mempoutkan bibirnya

Namun saat Changmin mendekat dia tetap memangku anak itu tapi sekali lagi dengan bibir yang terpout sempurna.

" Yah Minnie! Kau membuat hyung malu didepan haraboji dan halmoni-mu eoh? Napuen!" Ucap Junsu kemudian mengecupi wajah Changmin

" Hahahaha... Hahaa... Hahahaha.. Geli! Hahahaha"

Jaejoong ikut terkekeh melihat kelakuan anaknya yang sangat senang bertemu dengan asistennya - Park Yoochun - dan pengasuh anaknya - Kim Junsu -.

" Sudah, Minnie makan sarapanmu dan kita akan berangkat bersama dengan Suie hyung dan Chunie hyung. Otte?"

" Hum!" Changmin mengangguk dengan semangat kemudian memakan sarapannya disuapi oleh Junsu

.

.

.

" Jadi... Dia masih disekitar Seoul?"

" Ne Chunie, aku sudah memberikan alamatnya pada Suie. Jaga Minnie baik - baik, aku akan mengurus pembukaan cabang di Seoul"

" Ne hyung" Jawab Junsu dan Yoochun bersamaan

Jaejoong menemui Junsu setelah dua bulan melahirkan Changmin, dia mengambilnya dari salah satu panti asuhan di Jepang. Jaejoong membiayai kuliah Junsu saat itu, karena memang namja imut itu baru lulus sekolah dan ingin berkuliah hanya saja dia tidak memiliki biaya. Tapi setelah lulus kuliah, Junsu malah terlalu sayang pada Changmin sehingga tidak mencari pekerjaan lain dan tetap disisi Jaejoong.

Sedangkan Yoochun diperkerjakannya sejak satu tahun setelah Changmin lahir, dia membantu Jaejoong mengelola butik - butik yang dia tangani. Menjadi asisten serba bisa untuk Jaejoong. Saat direkrut Jaejoong, Yoochun baru saja lulus kuliah dengan nilai akademis yang sangat memuaskan. Yoochun sendiri sudah tidak memiliki keluarga lagi karena dia sebatang kara.

Mereka tiga orang yang saling melengkapi dan Jaejoong menganggap mereka adalah keluarganya Yoochun sebagai kakak dan Junsu adalah adiknya. (Usia Jaejoong : dua puluh lima, Yoochun : dua puluh delapan, Junsu : dua puluh dua).

" Eomma bicala in apa cih?" Tanya Changmin ingin tahu

" Hm? Minnie ingin tahu eoh?" Tanya sang eomma

" Hum" Changmin menganggukkan kepalanya

" Eomma akan buka cabang butik di Korea suapaya Minnie tetap bisa dekat dengan haraboji dan halmoni. Otte?" Jawab Jaejoong

" Cinccayo?"

" Ne"

" Aciiikkk Min ceneng eomma" Ucap Changmin dengan sangat gembira

Jaejoong mengusap rambut anaknya dan tersenyum, apa mungkin anaknya akan menerima ayahnya dengan mudah? Semoga saja.

.

.

.

.

.

.

.

.

" Hiks..."

Seorang namja kecil itu menangis sembari melongokkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Dia tidak menemukan siapapun yang mengenalnya, bahkan orang dewasa disekitarnya hanya meliriknya sekilas tanpa menghiraukannya.

" Hiks..."

Namja cilik itu berjalan tanpa tahu arah, dia hanya terus berjalan berharap ada orang yang mengenalinya.

Brukkk

Namja cilik itu jatuh dan tangisnya semakin jadi, suaranya mengundang seorang namja yang tengah membersihkan kaca menoleh dan membantu anak itu untuk bangun.

" Hey, sudah... Tidak usah menangis. Sakit?" Tanya sang namja

" Min Appo, sakit... Hiks..."

" Aigo..."

Sang namja mengangkat namja kecil itu dan menggendongnya, dengan lembut sang namja dewasa itu mengusap lutut sang anak kecil.

" Appo~"

" Shhh... Tidak akan sakit lagi, dimana eomma dan appamu hmm?"

" Min gak hiks... tau! Min gak liat hiks... kemana Cuie juci pelgi, huuwwaaaa"

" Shhhh... Jangan menangis, wae? Apa masih sakit?"

" Hiks... Tangan Min kotol... Hiks... Min cakit, Min lapel..."

" N-nde?"

" Min... Hiks... Lapel..."

Namja dewasa itu gelagapan saat namja cilik itu malah memeluk lehernya dan menangis kencang disana. Membuat dirinya merasa bersalah dan membawa masuk namja cilik itu menuju kafe tempatnya bekerja.

" Got you Jung"

Seseorang yang duduk disebrang sebuah kafe yang tadi mempertunjukkan drama seorang anak kecil menangis tersenyum riang. Namja itu -Junsu- memang sengaja membuat namja cilik bernama Changmin yang sudah diasuhnya selama lima tahun itu menjauh darinya.

Tak disangka Changmin malah jatuh didepan kafe tempat namja yang menjadi incarannya. Sekarang dia melihat Changmin sudahh dibawa masuk oleh namja itu, Jung Yunho. Tugas Junsu sekarang hanya mengamati dan datang pada Changmin ketika waktunya tiba.

.

.

.

" Kau membawa anak siapa Yun?" Tanya Mr. Go yang melihat Yunho masuk menggendong seorang bocah berusia empat tahunan

" Mola, dia terjatuh di depan tadi sehingga aku membawanya masuk. Sepertinya dia tersesat dan hilang dari kedua orangtuanya" Jawab Yunho

" Jinjja"

" Dan ahjusshi..." Panggil namja itu

" Ne?"

" Dia lapar" Ucap Yunho dengan cengiran dibibirnya

" Mwo?"

" Hiks... Min lapel juci... Hiks..." Rengek bocah itu

" Aigo..." Mr. Go menggelengkan kepalanya kemudian mendekati namja dewasa itu " Pergilah ruang gantimu, aku akan meminta Donghae itu memasakkan makanan untuk anak ini"

" Hmmm ahjusshi, anda bisa memotong biaya makannya dengan gajiku bulan ini"

" Apa yang kau katakan eoh! Dia tersesat! Tidak mungkin aku setega itu padamu! Sana bawa saja anak ini kebelakang dan urus dia, jangan biarkan dia menangis"

" Ahjusshi…"

" Gwaenchana, setelah itu coba kau cari tahu orangtuanya dari seragam yang dipakai anak ini. Sepertinya aku pernah melihatnya disekitar sini"

" Ne"

" Jaga dia baik - baik Yunho yah"

Namja itu, Yunho segera mengangguk dan membawa anak yang ada digendongannya menuju ruang gantinya. Yunho duduk dilantai bersandar pada dinding dan mengelus pelan punggung anak kecil yang masih sesenggukan itu.

" Tidak apa - apa, ahjusshi akan menemanimu mencari eomma dan appamu ne?" Bujuk Yunho

" Hiks... Min takut"

" Takut?"

" Min hiks... Nyasal, Min takut"

Yunho mengembangkan senyumnya, dia mengusap pelan puncak rambut anak itu. Membuat sang anak mendongakkan kepalanya, dia melihat sepasang mata musang menatapnya teduh.

" Juci..."

" Hmmm? Ada ahjusshi disini, kau jangan takut ne? Kau kan namja, masa menangis?" Ucap Yunho kemudian mengusap pinggir mata anak itu

Yunho menatap anak itu dalam, dia seperti bernostalgia dengan mata anak yang sedang menatapnya itu. Dia merasa sangat familiar dan kerinduan itu kembali menyeruak dalam hatinya.

" Siapa namamu?" Tanya Yunho

" Min, Kim Changmin"

" Eoh? Nama yang keren!" Puji Yunho

" Cincca?"

" Ne! Karena namamu keren, tidak pantasnya kau masih menangis bukan?"

" H-hum!" Changmin mengangguk

Ceklek

Yunho menoleh dan melihat temannya membawakan sebuah nampan berisikan makanan untuk Changmin.

" Ini untukmu adik kecil" Ucap sang namja

Namun Changmin malah mengeratkan pegangannya pada yunho dan menenggelamkan wajahnya pada dada Yunho. Dia merasa sangat malu dan takut secara bersamaan.

" Terima kasih Donghae ah, aku akan menyuapinya" Ucap Yunho

" Ne, lebih baik begitu"

" Apa kau kenal seragam ini dari sekolah mana?"

Donghae segera melihat seragam yang dipakai Changmin dan matanya membulat saat ingat asal seragam itu.

" Mwo? Dia anak orang kaya Yun" Ucap Donghae

" Ne?"

" Toho, anak itu bersekolah di Toho"

Yunho tersentak dan menatap wajah wajah Changmin yang sudahh mulai tenang walaupun tetap terlihat sembab. Matanya kemudian menuju seragam Changmin, pada dada sebelah kiri itu terdapat nama sekolah Changmin, Toho School. Sekolah yang bersejarah untuknya...

" Juci..."

Suara Changmin membuyarkan lamunan Yunho, Yunho segera menggelengkan kepalanya dan tersenyum pada Changmin.

" Hmmm... Kajja kita makan, kau pasti lapar" Ucap Yunho

" Hum" Changmin mengangguk dengan semangat

Yunho menyuapi Changmin dengan lembut, sesekali mempermainkan sendok dalam genggamannya. Memainkannya dahulu baru sendok itu masuk ke dalam mulut Changmin. Satu yang dia tahu tentang Changmin, makannya sangat banyak, dia bahkan harus memanggil Donghae untuk memasak lagi untuk Changmin.

Usai makan, Yunho membawa Changmin duduk di kafe. Barangkali kedua orangtua Changmin akan datang ke kafe karena melihat Changmin ada di sana.

" Aku perhatikan... Changmin mirip denganmu Yun"

Yunho mengerutkan keningnya dan menoleh, dia menatap Go ahjusshi dengan tatapan bingungnya.

" Coba lihat mata kalian, juga hidung kalian... Sangat mirip" Ucap Mr. Go sekali lagi

" Tidak mungkin, matanya bulat"

" Tapi wajahnya mirip denganmu jinjja!"

" Aish ahjusshi terlalu memperhatikan"

Yunho tersenyum setelahnya, dia memperhatikan Changmin yang tengah memakan es krimnya dengan riang walau matanya masih sembab. Yunho memperhatikan bagaimana Changmin makan, kadang dia tertawa melihat es krim vanilla itu menutupi seluruh mulut Changmin. Tunggu... Vanilla...

.

.

.

.

" Aku mau es krim vanilla"

" Mwo?"

" Vanilla..."

" Beli saja sendiri"

" Tapi, diluar hu... Jan."

" Salahmu sendiri ingin makan itu padahal kau tahu cuacanya seperti ini"

" Guereh"

Namja itu membalikkan tubuhnya dan berjalan dari sesosok makhluk angkuh yang tadi ada dihadapannya.

" Ck, namja menyusahkan"

.

.

.

.

.

" Yun?"

" Ah! Ne... Maaf aku melamun ahjusshi" Ucap Yunho

" Gwaenchana. Wae?"

" Aniya..."

Yunho kemudian menoleh dan kembali menatap Changmin, jika... Jika anaknya masih hidup usianya sama dengan Changmin bukan?

" Joongie..." Lirih Yunho

Triiinngg~

Yunho menoleh kearah pintu, dia melihat seorang yeoja memasuki kafe. Yunho tersenyum saat yeoja itu menghampirinya.

" Oppa annyeong"

" Annyeong Ahra yah... Kau bersama teman - temanmu?" Tanya Yunho dengan ramah

" Annyeong Yunho oppa" Sapa salah satu teman Ahra yang bernama Sojin

" Ne Sojin ah annyeong, silahkan duduk"

" Ne, gomawo oppa"

" Ne"

Ahra mengajak tiga temannya yang masih terpesona dengan senyuman yang diberikan Yunho untuk duduk. Dia bahkan menarik Sojin yang masih betah memandang Yunho. Yunho hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan para remaja yang masih berstatus mahasiswi itu. Mereka duduk pada bangku disebrang Changmin.

Ahra adalah anak tunggal Mr. Go, anak yang paling disayangi Mr. Go oleh karena itu Ahra bersikap sangat manja pada kedua orangtuanya.

" Whoaa, Yunho oppa sangat tampan!" Ucap salah satu teman Ahra

" Ne! Tentu saja tampan! Dia itu incaranku, ingat! Kalian tidak boleh cari muka didepannya!" Tegas Ahra

" Mwo? Aish! Jahat sekali kau Ahra yah"

" Hahahaha, tentu saja! Tapi... Susah sekali mendekatinya"

" Wae? Apa dia sudah memiliki yeojachingu atau malah istri?"

" Molla~ Dia memang baik, tapi dia memasang pagar baja yang tidak bisa ditembus oleh siapapun"

Ahra menghela nafas kemudian memperhatikan bagaimana tampannya Yunho yang sedang melayani tamu kafenya.

.

.

.

" Ck, lihat ini!"

Namja berjidat lebar itu melirik kearah ponsel namja berbokong seksi disebelahnya. Dia melihat sebuah pesan terpampang disana.

' From : Jaejoongie hyung

Mwo? Yeoja? Apa dia tertarik dengan yeoja itu? Jangan biarkan siapapun mendekatinya'

" Pasti auranya menyeramkan saat ini" Ucap namja montok itu

" Pasti, cepat jemput Minnie. Sudah terlalu lama dia bersama namja itu"

" Tidak apa - apa kan? Toh dia juga appanya"

" Aku tidak terlalu suka dengannya"

" Aku juga, tapi ini kan kehendak dari Joongie hyung"

" Hah... Heran, kenapa ada manusia sepertinya"

" Hahhaha, sudah. Jangan dipikirkan, aku akan menjemput Minnie"

Namja bertubuh montok itu - Junsu - segera bangkit dari duduknya, dia melakukan senam wajah terlebih dahulu. Junsu menghembuskan nafasnya dan berjalan dengan wajah sedikit panik. Hal itu membuat namja berjidat lebar -Yoochun- terkikik melihat Junsu berakting seperti itu.

Junsu berjalan dengan gurat penuh kekhawatiran di dekat kafe, dia akhirnya menoleh kearah kafe tempat Changmin duduk makan es krim. Ingin rasanya dia terkikik melihat Changmin yang sedang bermanja pada Yunho itu tapi dia harus berakting sekarang.

Triinngg~~

" MIIIINNNIIIIEEE!"

Pekikan khas lumba - lumba itu membuat para tamu kafe menoleh kearah pintu, disana Junsu tengah terengah sembari menatap Changmin yang duduk dipojok kafe.

" Whooaa! Cuuuuiiieee Juuuccciii!" Changmin berteriak dengan tidak kalah kencangnya dengan Junsu

Hal itu membuat Yunho meringis dan menutup telinganya, kemudian menatap heran keduanya sebelum matanya membulat karena Changmin melompat dan berlari kearah namja bertubuh montok itu.

.

.

.

" Maafkan aku dan Minnie, pasti sangat merepotkan untuk kalian" Ucap Junsu seraya membungkukkan tubuhnya

Setelah kekacauan yang dramatis itu, Junsu dan Changmin duduk berhadapan dengan Yunho, Mr. Go dan Ahra. Dia meminta maaf karena sudah lalai menjaga Changmin.

" Tidak apa - apa Junsu sshi, kau juga pasti sangat panik mencari Minnie" Ucap Yunho

" Ne, aku tidak tahu harus bagaimana jika dia tidak kutemukan" Ucap Junsu kemudian melirik Changmin yang kali ini sedang memakan puding coklat

" Kalau boleh tahu, kemana eommanya?" Tanya Mr. Go

" Ah... Eommanya sedang sibuk membuka cabang perusahaan barunya maka dari itu aku ditugaskan untuk menjaga Minnie" Jawab Junsu

" Hmm... Lain kali tolong perhatikan Minnie, kasihan sekali tadi dia berjalan sendirian disini. Aku hanya takut dia diculik" Ucap Yunho

" Ne, sekali lagi aku ucapkan banyak terima kasih. Sudah saatnya kami pergi, eommanya pasti sudah sangat khawatir" Ucap Junsu kemudian berdiri " Minnie ah, kajja..."

" Eung?" Changmin menoleh dengan sendok masih menempel dimulutnya

" Kajja kita pulang" Ajak Junsu dengan lembut

Changmin memandang Junsu kemudian mengalihkan pandangannya menuju Yunho, dia merasa sedih harus pergi dari kafe ini. Walaupun masih kecil, dia merasa nyaman bersama dengan Yunho. Dan... batinnya menolak untuk pergi.

" Ani..." Lirih Changmin dengan mata berkaca - kaca

" Wae?" Junsu mengerutkan keningnya

" M-min macih mau dicini cama Uno juci" Ucapnya dengan nada sedih

Oh ow... Yunho seakan melihat telinga kucing tumbuh diatas kepala Changmin yang menjadikan anak itu terlihat imut dan menggemaskan. Yunho berdiri dari duduknya dan menghampiri Changmin kemudian menggendongnya.

" Kita masih bisa bertemu lagi Minnie ah" Ucap Yunho

" J-jinjja?"

" Hum" Yunho mengangguk " Kau kan bisa kesini untuk bertemu ahjusshi"

" Eung!" Changmin mengangguk dengan semangat kemudian memeluk leher Yunho dengan erat " Min cayang juci"

Cup

Yunho membulatkan matanya saat Changmin mencium pipinya, diia langsung merasakan sebuah kehangatan menjalar dalam tubuhnya. Changmin, anak ini mampu membuat Yunho menyayanginya walau mereka baru bertemu hari itu.

Diam - diam Junsu tertawa dalam hati, tidak menyangka bahwa Changmin akan sangat mudah menyukai namja itu. Berarti dia tidak akan susah membuat Changmin menerima namja itu nantinya.

" Gomawo, sekarang... Jadilah anak baik agar ahjusshimu mengizinkanmu main kesini lagi" Ucap Yunho

" Ne"

" Nah Minnie, kajja" Ucap Junsu kemudian mengambil alih Changmin dari gendongan Yunho

" Bye - Bye Minnie" Ucap Ahra kemudian tersenyum manis

" Bye auntie, cee yu tomolow juci! Annyeong halaboji" Pamit Changmin pada Yunho, Ahra dan Mr. Go

" Hahahaha, lucu sekali kau nak" Ucap Mr. Go

" Yah Minnie! Kenapa memanggilku auntie eoh?!" Ucap Ahra tidak terima

" Lalu?" Changmin memiringkan kepalanya " Abic pac sih dipanggil auntie"

" Pffftt..."

Baik Junsu, Yunho dan Mr. Go menahan tawanya. Changmin membuat mereka benar - benar senang hari ini. Astaga, semoga besok mereka bisa bertemu lagi dengan anak menggemaskan itu.

" Jja, annyeong dan ini dari eomma Minnie untuk mengganti apa yang sudah dimakan oleh Minnie" Junsu meletakkan sebuah amplop putih diatas meja

" Ani! Kami tidak bisa menerima ini" Ucap Mr. Go mencoba menolaK

" Tapi sayang aku memaksa, eomma Minnie ingin kalian menerimanya. Dan dia tidak menerima penolakkan"

Deg

Jantung Yunho berpacu, dia seakan bernostalgia dengan kalimat yang Junsu keluarkan. Tidak terima penolakan... Ucapan itu sering sekali diucapkannya... dulu...

" Annyeong" Junsu berpamitan kemudian melangkahkan kakinya keluar dari kafe dengan seringaian dibibirnya " Bernostalgi dengan kata - kata itu hmm..." Gumamnya

.

.

.

.

~ TBC ~

.

.

.

.

.

Kkkkk…. Annyeong, ada yang nunggu ff gaje ini kah? Atau malah kangen sama Cho-nya? Chuuu~~~~ Semua reader #digeplakreader hahahahaha

Mianhae bukan na Cho ga mau update, seharusnya ff ini udah Cho update sekitar dua minggu lalu tapi…. File ff Cho kan ada di androidnya Cho, eh… Si Android ngambek jadi Cho mesti pindahin datanya ke BB… Nah si BB kemaren loncat dari kantong n hampir ke lindes truk, untung aja ga kelindes padahal tinggal dikit lagi. Layarnya pecah dan Cho msti ganti dulu belom lagi kepending liburan Cho ke Merlion sana jadi… Heheheheh

Gitu deh alasannya

.

Special Thanks :

.

youchanzai. Dvjewelselfsuju, ThalTR9, eka, TiasPrahastiwi, Ega EXOkpopers, Raflesia, Brownies, Hkymn, Roma, Lily white, Pureuit, Hit, Maharni, Vim, Snaw, Fujiyama, Buble, Momochan, Lang na, Munalis, Monggu kai, Frozen, Gifan, Charmini, Mpok kitty, kim maa hyun, Jung Anjani, birin. rin, teukieangle, GaemGyu92, narayejea, Yjs, mha. Feibudey, niixz. Valerie. 5,Haye7, azahra88, yla yunjae, yeojakim2, buluketekhanyut, wulandari. apple, dheaniyuu, Reanelisabeth, BibiGembalaSapi, YunjaeDDiction, AphroditeThemisYJS, yuu, Kim Rin Rin, rennyekalovedbsk, akiramia44, YUNJAEbaby69, Lilin Sarang Kyumin, aismamangkona, lipminnie, AprilianyArdeta, shipper89, auliaJC, bebyjae, littlecupcake noona, Frea Cavallone-Hibari, min, GOMCHI46, Jirania, yesaya. mei, dienha, yunjaemin-family, 5351, MyBabyWonKyu, choco jin,

Para Guest yang banyak bgt hehehe, SiDer, follower dan yang udah fav ff Cho

.

Sekali lagi gomawo #bow

.

Mianhae kalo ada namanya yang ga kesebut ya? Ngomong ajj

Terus mian juga kalo ceritanya ga sesuai harapan kalian dan masih ada typos diatas

Hehehehehehe

Nanya Light? Cho lagi ketik, semoga aja bisa selesai hari ini dan update ^_^

.

Jja… See u next chap

Chuuu~~~~

.

Kamis, 14 Mei 2015