Disclaimer : Naruto – Masashi Kishimoto
Pairing : SasuFemNaru
Rated : T
Warning : Genderbender, OOC, Typos, Alur kecepatan dan lainnya
Summary : Naruto, gadis berparas cantik yang membenci satu hari di hidupnya. Saat semua orang bahagia ketika hari paling spesial di hidup mereka itu datang. Naruto justru sangat membencinya. Ya, dia sangat membenci hari ulang tahunnya. Sangat benci.
Special Gift for You
By
Sentimental Aqumarine
Chapter Sebelumnya…
"Jenderal sudah menunggu kalian diruangannya." ucap pria bertage name Kouta itu.
"Baiklah, kami akan segera kesana. Terima kasih atas pemberitahuannya Kouta-san." ujar Pain
"Sama-sama, kalau begitu saya permisi." Ucapnya kemudian melangkah pergi.
"Baiklah! Ayo kita temui jenderal tua itu!" seru Deidara bersemangat.
"Jaga ucapanmu, Dei." ujar Sasori mengingatkan
"Apa? Dia 'kan memang sudah tua." timbal Deidara
Dan keempat pemuda itu bergerak menuju ke ruangan jenderal kepolisian Tokyo itu. Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mereka sampai di ruangan yang mereka tuju. Dua orang penjaga pintu membungkuk hormat. "Jenderal sudah menunggu kalian. Mari masuk." ucap salah satu penjaga pintu itu.
"Dia masih saja mempekerjakan orang untuk menjaga ruangannya. Dasar kakek tua." ucap Deidara nyaris berbisik pada Sasori. Lalu, keempat pemuda itu melangkah masuk ke dalam. Sebuah ruangan besar bercat cream dengan meja kerja, sebuah sofa dan sebuah mini bar, dan beberapa rak buku.
"Anda sudah tua, jangan terlalu banyak minum, Jenderal." ucap Pain saat mendapati seorang pria tua tengah menenggak sakenya.
Pria tua itu menoleh. "Pain." Panggilnya. "Aku tidak menyadari kehadiran kalian."
"Itu karena kau sudah tua." ucap Deidara
"Ucapanmu selalu saja pedas, Dei."
"Bagaimana kabar anda, Jenderal?" tanya Sasori
"Aku baik-baik saja, dan kau selalu saja sopan seperti biasa, Sasori." jawabnya
Pria tua itu melangkah maju dan menghampiri Kyuubi, sejenak pria tua itu tersenyum hangat sebelum akhirnya memukul kepala pemuda itu. "Kemana saja kau?" tanyanya. "Pergi tanpa memberitahukanku lalu tiba-tiba datang dan memintaku untuk mengijinkanmu kembali menjadi anggota kepolisian Tokyo. Dasar anak nakal!"
"Kau tidak tahu betapa aku mengkhawatirkanmu dan juga adikmu itu. Kakek dan nenekmu juga tidak bersedia membuka mulut mereka saat aku bertanya tentang keberadaanmu." ucapnya. "Jadi, dimana selama ini kau bersembunyi?"
"Los angeles." jawab Kyuubi singkat. Pria tua itu menghembuskan nafasnya kasar. "Dasar penyembunyi yang handal." ucapnya kesal.
Pria tua bernama Senju Hashirama itu memijit pangkal hidungnya. Mendadak kepalanya terasa pusing. "Jadi, apa kau akan mengijinkan kami kembali?" tanya Kyuubi datar.
"Aku tahu bagaimana kau Kyuubi, sangat tahu. Kau dan kekeraskepalaanmu itu. Kau akan bergerak sendiri sekalipun kau tidak mendapatkan ijin dariku. Jadi aku bisa apa selain mengijinkanmu dan ketiga temanmu kembali dan menjadi bagian dari organisasi ini."
Pria tua itu memandang lembut keempatnya kemudian merentangkan kedua tangannya lebar. "Selamat datang kembali. Selamat datang di dunia lama kalian lagi, Rasenggan."
.
.
.
.
.
.
Naruto melangkah gontai menuju kamarnya. Hari ini ia pulang terlambat lagi, melewatkan makan malam bersama keluarganya untuk yang kesekian kalinya. Gadis itu meraih handle pintu, mencari-cari tombol saklar kemudian menutup pintu di belakangnya. Naruto melangkah pelan menuju ranjangnya setelah meletakan tas sekolahnya di meja belajar miliknya. Gadis pirang itu merebahkan tubuhnya dengan kasar diatas kasur. Hari ini sama melelahkannya seperti hari-hari kemarin.
Helaan napas lelah terdengar dari mulut Naruto. Seminggu semenjak guru kesenian sekaligus wali kelasnya itu memberitahukan perihal keikutsertaan bandnya dalam festival musim panas yang diadakan oleh sekolahnya tahun ini, Naruto dan kedua anggota band yang lain jadi selalu sibuk. Setiap harinya, setelah jam pulang sekolah, mereka akan berlatih selama dua hingga tiga jam di ruang musik. Tentunya dengan pengawasan dari Anko. Guru muda itu takut jika kalau, murid didiknya tidak berlatih sesuai perintahnya dan itu membuat Naruto dan kedua anggota band yang lain merasa kesal. Walaupun mereka tahu, hal itu dilakukan agar saat di hari festival nanti semua yang mereka rencanakan sesuai dengan yang mereka harapakan.
Naruto bangkit dari posisi berbaringnya. Terdiam sejenak sebelum akhirnya melangkah ke arah kamar mandi. Dia sepertinya butuh berendam agar rasa lelah ditubuhnya menghilang.
.
.
.
.
.
.
Pagi datang dengan sangat cepat menurut Naruto. Padahal ia merasa baru sejam dirinya tidur. Gadis itu beranjak dengan malas menuju jendela kamarnya. Menyibak tirai jingga itu dengan perlahan, seketika sinar matahari menerpa wajah tan miliknya. Naruto menghirup napas panjang, menikmati udara pagi yang begitu ia sukai. "Ayo mulai hari ini dengan semangat Naruto!" ujarnya pada dirinya sendiri.
Menma sedang menyantap sarapan miliknya ketika Naruto datang. "Morning, Naru." sapanya. "Morning too, Menma." balas Naruto. Mereka berdua diam, menikmati sarapan mereka masing-masing hingga Naruto bersuara. "Kemana kakek dan nenek, paman Iruka?" tanya Naruto pada salah satu maid di kediaman Uzumaki itu.
"Tuan dan Nyonya sudah berangkat ke Dublin dua jam lalu, Hime."
"Urusan bisnis lagi, heh? Ck! menyebalkan. Lalu kakak?"
"Tuan muda Kyuubi juga sudah berangkat ke kantor." jawab Iruka yang dibalas anggukan kepala oleh gadis pirang itu.
"Kalau begitu aku juga berangkat, paman Iruka. Ayo, Menma!" ajak Naruto seraya memakai tas ransel miliknya.
"Tumben sekali kau ingin naik mobil ke sekolah, Naru." ucap Menma sesaat setelah melajukan mobil yang ia kendarai. "Hanya lelah saja jika naik bus." ujar Naruto seadanya.
Hening melanda keduanya, sesekali Menma melirik kearah Naruto yang tampak asyik mendengarkan lagu dari earphone miliknya. Gadis itu mengernyitkan dahinya. "Masih belum mendapatkan lagu yang cocok untuk festival musim panas nanti?" tanya pemuda jangkung itu. Ia tahu apa yang sedang dipikirkan oleh sahabat pirangnya.
"Begitulah." jawab Naruto seraya melepas salah satu earphone dari telinganya. "Banyak sekali reveransi lagu yang kutemukan, tapi, aku bingung untuk memilih yang terbaik. Ini penampilan perdana band kita, aku ingin semuanya sempurna."
Menma tersenyum maklum, Naruto dan sifat perfeksionisnya. "Perlahan saja, waktu festival masih beberapa minggu lagi. Aku dan Kiba akan membantumu. Lagipula kita bisa meminta tolong pada Anko sensei jika belum mendapatkan lagu yang bagus untuk festival nanti. Kau tidak perlu memaksakan diri, mengerti?"
Naruto tersenyum sembari mengangguk pelan. Sahabatnya ini memang paling memahaminya. Dan keheningan kembali menyapa hingga mereka sampai di sekolah.
.
.
.
.
.
.
Sakura menggerutu kecil disepanjang perjalanan menuju sekolahnya. Hari ini ia benar-benar kesal, sudah terlambat bangun, tidak sempat sarapan dan sekarang ia harus berjalan kaki menuju sekolahnya karena bus yang ia tumpangi mendadak mogok. Padahal jarak menuju sekolahnya masih sangat jauh. Halte juga masih beberapa meter lagi dari sini. Bisa-bisa ia terlambat datang ke sekolah. Kalau terlambat ia pasti dihukum, apalagi hari ini giliran Asuma yang menjadi guru piket. Bisa kena hukuman berlipat-lipat dirinya nanti. "Apa tidak ada yang lebih sial lagi untukku hari ini?" ujarnya frustasi memikirkan nasibnya hari ini.
Apa aku membolos saja ya, batinnya. Gadis itu menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Tidak. Tidak. Hari ini Kurenai sensei akan mengadakan ulangan. Bisa gawat kalau aku membolos." ujarnya. "Tapi, sekolah masih jauh. Sebentar lagi bel masuk, tidak bakal keburu kalau jalan kaki." ucapnya lirih. Rasanya ia ingin menangis saja. Sakura berjongkok dipikir trotoar, dia bingung. Tidak ada taxi yang lewat di daerah ini. Sebulir air mata mulai menetes dari balik iris jade itu. Gadis itu mulai terisak pelan. Bagaimana ini, Ibu, batinnya kalut.
Sasuke melajukan mobilnya cukup kencang sebab jam pelajaran pertama akan dimulai dua puluh menit lagi. Pemuda itu mengumpat pelan, bisa-bisanya ia kesiangan begini. Dan kemana semua pelayannya, kenapa tidak membangunkannya. Jadilah, ia berangkat terburu-buru begini, meninggalkan sarapan yang sudah dibuatkan Ibunya, mengabaikan ejekan sang kakak dan melupakan rutinitas paginya sebelum berangkat ke sekolah, memeluk sang Ibu. Untung saja Ayahnya masih berada di Dubai, bisa sangat malu ia sampai Ayahnya tahu jika ia kesiangan begini. Mau ditaruh dimana, harga dirinya yang sangat ia junjung tinggi itu.
Seorang Sasuke, si Tuan yang mencintai kedisiplinan itu terlambat bangun. Apa kata dunia jika Kiba tahu hal ini. Maniak anjing itu pasti menertawakannya. Apalagi wajah menjengkelkan kakaknya itu. Kalau tidak ingat dia hampir terlambat, sudah dipastikan ia akan memukul wajah sok tampan kakaknya itu. Pasti dia sedang menertawakanku, batin Sasuke kesal. Tidak terima ditertawakan oleh kakak laki-lakinya.
Sasuke berbelok ke sebuah jalan yang cukup sepi. Ia berniat melewati jalan pintas. Setidaknya jika ia lewat dari sini, ia bisa lebih cepat sampai ke sekolah. Pemuda itu menekan pedal gas saat melewati jalan yang tidak banyak dilewati orang itu. Jika perkiraannya benar ia akan sampai ke sekolah lima menit lebih cepat, sebelum penjaga sekolah ataupun guru piket menutup gerbang sekolah.
Sakura tampak kebingungan, pasalnya jalan yang ia lewati adalah jalan yang jarang dilalui banyak orang. Jalan ini jalan pintas, sangat sulit menemukan mobil atau kendaraan lain untuknya menumpang. Ya, ia berniat menumpang mobil orang untuk sampai ke sekolah. Tapi beberapa menit menunggu, tidak ada satu kendaraan pun yang lewat. Dua puluh menit lagi bel masuk. Sakura panik. Gadis itu bergerak kesan kemari.
"Tuhan tolong aku." pintanya.
Seakan doanya didengar oleh Tuhan, sebuah mobil sport merah terlihat diujung jalan. Sakura kegirangan, dia dapat tumpangan. Sakura berdiri dipinggir trotoar, melambaikan tangannya, siapa tahu mobil itu berhenti dan ia bisa menumpang.
Sasuke mengernyit heran, saat ada seorang gadis berdiri di pinggir jalan dan melambaikan tangan. Sasuke mendengus kasar. Ck! meminta tumpangan, batin Sasuke. Pemuda itu menarik perseneling dan menekan pedal gas. Melajukan mobilnya semakin cepat.
Wuussh!
Mobil mewah itu melaju cepat, melewati Sakura begitu saja. Gadis itu ternganga. Dengan cepat ia menoleh ke kanan. "Hei! Tunggu." teriaknya tapi mobil itu sudah menjauh. Sakura menunduk dalam. Gagal sudah.
Sasuke menghentikan laju mobilnya. Sesaat ia mendesih tajam. Kalau saja ia tidak dengan sengaja melihat seragam yang gadis itu kenakan atau karena ia masih ingat jika gadis yang melambaikan tangannya itu adalah Sakura, sahabat dari pujaan hatinya. Mana mungkin ia menghentikan mobilnya dan bergerak mundur secara teratur begini.
Sakura mendengar suara mobil bergerak kearahnya. Ia mendongakkan kepalanya, dilihatnya mobil mewah yang tadi melewatinya, begerak mundur dan menghampirinya. Pintu mobil itu terbuka, Sakura terdiam. Bingung harus melakukan apa.
Sasuke menekan klakson mobilnya saat dilihatnya Sakura hanya berdiri diam disana saja. Tiin! Sakura terlonjak kaget, dengan cepat ia menghampiri mobil yang berhenti beberapa meter di depannya itu. Ia rasa pengemudi itu ingin menawarkannya tumpangan.
Sakura mengernyit, ia sepertinya pernah melihat mobil mewah itu. Tapi dimana ya, ia lupa. Suara klakson kembali terdengar. Gadis itu menunduk, bermaksud melihat siapa pengemudi baik hati yang bersedia memberinya tumpangan itu.
Dan gadis bersurai merah muda itu terbelalak. "Sa-sasuke." panggilnya. Tidak percaya pemuda raven itu yang akan memberikan tumpangan padanya. "Cepat naik! Kau membuang waktuku saja." ucap Sasuke dingin.
Sakura mengangguk cepat kemudian masuk kedalam mobil. "Pakai sabukmu." perintah Sasuke dan setelah itu mobil itu melaju cepat. Meninggalkan debu jalanan yang bertebrangan dan juga perasaan Sakura yang tiba-tiba menguap pagi itu.
.
.
.
.
.
.
Sesuai perkiraan Sasuke, ia tiba di sekolah sebelum gerbang sempat ditutup. Pemuda itu memarkirkan mobilnya. "Turun." perintahnya pada Sakura. Sakura menurut, tapi sebelum turun gadis itu mengucapkan terima kasih pada Sasuke karena sudah memberikannya tumpangan hingga sampai ke sekolah yang tentunya hanya dibalas dengan dua kata favorite miliknya, Hn.
Beberapa menit setelah Sakura turun dari mobilnya. Sasuke pun mulai beranjak keluar. Untung saja para siswa sudah berada di dalam kelas, bisa ada gosip mendadak jika para siswa itu melihat Sakura turun dari dalam mobilnya. Mereka pasti mengira ia dan gadis merah jambu itu memiliki hubungan khusus.
Sakura masuk ke dalam kelas dengan senyum yang masih terus bertengger di wajah cantiknya. Gadis itu tampak sangat senang dan itu tidak luput dari penglihatan sahabat pirangnya, Ino. "Apa ada yang membuatmu senang hari ini?" tanya Ino sesaat setelah Sakura sudah mendudukan diri disampingnya.
Dengan tiba-tiba Sakura memeluk sahabatnya itu. "Hei, kenapa memelukku seperti ini?" tanya Ino bingung. "Aku sepertinya jatuh cinta, Ino." ucapnya pelan dan pandangannya melembut saat melihat Sasuke memasuki kelas.
Ino melepaskan pelukan Sakura dari tubuhnya dengan cepat. "Jatuh cinta. Dengan siapa?" tanyanya penasaran, baru kali ini ia mendengarkan sahabatnya itu berbicara tentang cinta. Sakura tidak menjawab, ia malah tersenyum sendiri. Membuat Ino semakin gemas.
"Lelaki mana yang membuatmu jatuh cinta, Sakura?" tanyanya lagi
"Yang pasti dia sangat tampan, Ino. Tampan sekali." jawabnya tidak nyambung
"Benarkah? Pasti tidak lebih tampan dari Gaara." sahut Ino sebal, lelaki mana yang bisa menyaingi ketampanan pemuda Sabaku yang sangat dipujanya itu.
"Terserah kau saja, yang jelas lelaki yang kusukai ini sempurna."
Guru pelajaran pertama memasuki kelas. Sakura masih tersenyum dibangkunya. Aku rasa hari ini tidak sesial yang kupikirkan, batinnya. "Kumpulkan tugas kalian di meja saya!" perintah guru berkacamata itu.
Sesaat senyum itu menghilang dari bibir Sakura. Ia kelihatan panik. Gawat, tugasku ketinggalan! teriakknya dalam hati.
.
.
.
.
.
.
Gaara berjalan santai menuju perpustakaan, pemuda itu mendorong pintu kaca dihadapannya. Seketika aroma lavender menguar ke indera penciumannya. Dia suka sekali aroma perpustakaan kuno yang dimiliki sekolah tempatnya menyenyam pendidikan ini. Pemuda itu bergerak menuju sudut perpustakaan. Disana, iris zamrudnya menangkap sosok yang tidak asing baginya.
"Naruto." panggilnya
Naruto menoleh ke sumber suara dan mendapati Gaara berdiri dibelakangnya. "Oh, hai Gaara." sapanya. "Tidak makan siang?" tanya Gaara sembari mensejajarkan dirinya dengan Naruto. Pemuda itu meraih salah satu buku di rak paling atas. "Aku belum lapar." jawab Naruto.
"Tapi kau harus tetap makan. Bagaimana jika kau sakit?" ucap Gaara mengingatkan.
"Iya, nanti saja. Lagipula aku masih harus mencari sesuatu dulu."
"Boleh aku tahu, kau sedang mencari apa?"
"Aku sedang mencari buku mengenai cara menanam bunga."
"Menanam bunga. Kau ingin berkebun?" tanya Gaara
Naruto hanya memberikan sebuah senyuman sebagai jawabannya dan tidak perlu berpikir keras untuk Gaara mengartikan senyuman itu sebagai kata iya. "Disini tidak ada buku semacam itu, Naru. Jika kau mau, aku bisa menemanimu mencari buku itu di toko buku." tawar Gaara.
"Benarkah?"
"Iya. Dan jika kau juga tidak keberatan, aku bersedia mengajarimu berkebun. Begini-begini, aku pernah mendapatkan pelatihan berkebun yang baik."
"Tentu saja aku tidak keberatan. Kapan kita akan memulainya?" tanya Naruto antusias.
"Terserah kau saja. Kapanpun kau mau, aku pasti bersedia."
"Bagaimana kalau minggu depan." usul Naruto
"Boleh saja." ucap Gaara. Pemuda itu tersenyum senang, dengan begini waktunya bersama dengan Naruto akan semakin banyak. Dan Uchiha itu tidak akan punya kesempatan.
Hinata baru saja keluar dari ruang khusus anak eskul photographi. Gadis bermarga Hyuuga itu tampak serius memperhatikan hasil potretannya sewaktu berada di Museum Kyoto, hingga tanpa sengaja ia menabrak Kiba yang berjalan berlawanan arah dengannya.
Bruukk!
Keduanya terjatuh, Kiba meringis kesakitan saat tangannya tanpa sengaja terkena pot bunga yang terletak di pinggir koridor sekolah. "Kiba-kun!" pekik Hinata saat menyadari sosok yang ditabrak olehnya adalah Kiba. Gadis itu menghampiri Kiba, memapah pemuda itu untuk berdiri.
"Maafkan aku, Kiba-kun. Aku tidak sengaja menabrakmu." sesal Hinata.
"Tidak apa-apa, Hinata."
"Tanganmu berdarah, Kiba-kun. Ayo kita ke UKS. Aku akan mengobatinya." ucap Hinata panik saat melihat darah mengalir dari telapak tangan pemuda itu.
"Tidak perlu, Hinata. Ini hanya luka kecil. Dibiarkan juga pasti sembuh sendiri."
"Tidak bisa. Luka ini harus segera diobati. Nanti infeksi, bagaimana?" ucapnya seraya menuntun pemuda itu menuju UKS. Kiba tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Hyuuga dan kekeraskepalaannya benar-benar merepotkan. Tapi, biarlah. Dengan begini ia bisa lebih dekat dengan Hinata.
Hinata meminta Kiba untuk duduk sedangkan dirinya mengambil kotak P3K. Gadis itu menarik salah satu kursi dan mulai mengobati luka pemuda jabrik itu. Hinata meniup pelan luka itu, berharap dengan usahanya itu Kiba tidak merasakan perih saat ia membersihkan lukanya dengan alkohol. Kiba meringis pelan, rasanya benar-benar perih saat Hinata mengoleskan obat merah di permukaan lukanya. Tapi setelah itu rasa perih itu menghilang seketika saat melihat raut wajah penuh kekhawatiran di gadis yang diam-diam ia sukai itu. Aku bersyukur atas musibah ini, Tuhan, batinnya senang.
Sakura berdiri dengan tangan terlentang lebar. Gadis itu menghirup udara disekitarnya dengan rakus. Dia suka sekali area hijau yang terletak dibelakang gedung sekolah ini. Benar-benar nyaman dan damai. Kelopak mata itu terbuka, menampilkan sepasang iris jade yang memikat. "Kau benar-benar malaikat penolongku Sasuke." bisiknya lembut.
Ino baru saja keluar dari dalam toilet saat tanpa sengaja melihat Naruto dan Gaara keluar dari perpustakaan bersama-sama. Keduanya tampak saling mengobrol, sesekali mereka tertawa. Ino tidak tahu apa yang sedang mereka berdua bicarakan, tapi sepertinya sangat seru. Lihat saja, Gaara sampai tertawa lepas begitu.
"Mereka...akrab sekali." ucapnya pelan seraya meremas roknya erat. Ino masih memandang keduanya, sesuatu mengusiknya. Kebersamaan Naruto dan Gaara, entah mengapa membuatnya tidak suka.
Shikamaru menguap lebar, pemuda itu baru saja terbangun setelah beberapa menit tertidur. Mata bak kuaci itu menatap malas kedua sahabatnya yang sedang duduk santai di kursi yang tidak jauh darinya. Ketiga pemuda itu sedang berada di area kolam renang. Neji mengajak Sasuke bertanding renang tadi, hitung-hitung menghilangkan rasa bosan yang melanda mereka. Neji menunjuk Shikamaru sebagai wasit tapi sepertinya sia-sia, karena baru saja kedua sahabatnya melompat terjun ke dalam air, pemuda itu juga ikut-ikutan melompat, melompat ke alam mimpi tepatnya.
"Festival musim panas akan diadakan beberapa minggu lagi. Apa pertandingan basket antar siswa tahun ini jadi dilaksanakan, Sasuke?" tanya Neji.
"Aku rasa begitu. Gui sensei sudah mengajukan proposal pada Kepala Sekolah. Dengan sedikit ucapanku saja, ia pasti akan menyetujuinya." ucap Sasuke sombong
"Dasar Uchiha, merepotkan." cibir Shikamaru yang ditanggapi seringaian oleh Sasuke
Sesaat mereka bertiga saling diam hingga Neji bangkit dan berpamitan untuk berganti pakaian. Tinggallah Sasuke dan Shikamaru disana. "Bagaimana persainganmu dengan Gaara, Sasuke?" tanya Shikamaru.
Sasuke melirik tajam kearah Shikamaru, menatap curiga kearah sahabat nanasnya itu. Bagaimana bisa si rusa pemalas ini tahu tentang persaingannya dengan Gaara. "Jangan menatapku seperti itu, Sasuke. Kiba saja menyadari jika kalian berdua menyukai Naruto. Jadi, tidak perlu menjadi pintar untuk menyimpulkan jika kalian berdua saling bersaing untuk mendapatkannya."
"Itu bukan urusanmu." sahut Sasuke tajam
"Aku tahu itu, tapi ingat satu hal Sasuke. Kau dan Gaara adalah sahabat, jangan hancurkan persahabatan itu karena hal ini."
Sasuke diam kemudian beranjak pergi menuju ruang ganti. Neji yang berpapasan dengan Sasuke menyadari ada perubahan di raut wajah sahabat ravennya itu. "Ada apa dengannya?" tanyanya pada Shikamaru yang dibalas gelengan malas dari pemuda Nara itu.
.
.
.
.
.
.
Kyuubi melempar berkas yang baru saja selesai ia baca keatas meja dengan kasar. Ia mengumpat pelan, bagaimana bisa seorang penjahat yang sudah membunuh kedua orang tuanya dimasukkan ke dalam sel kelas ringan. Seharusnya pembunuh itu dimasukkan ke dalam sel khusus bila perlu dilemparkan saja ke sel kelas A. Pantas saja bajingan itu berhasil kabur, pikirnya.
Pemuda itu menatap tajam sebuah poster dengan gambar seorang pria berambut perak. Kyuubi membuka laci meja kerjanya, meraih salah satu pisau yang tersimpan rapi disana dan melemparkannya tepat di wajah pria dalam poster itu.
"Kau akan mati di tanganku, brengsek." tekadnya
Deidara dan Sasori tampak sibuk di meja kerja mereka masing-masing. Sejak kemarin mereka mulai kembali bekerja sebagai satuan khusus di kepolisian Tokyo. Hari ini mereka mendapat laporan dari Pain jika organisasi gelap terbesar di Tokyo sedang gencar-gencarnya melakukan perdagangan senjata ilegal dengan Korea Utara.
Dan berita itu juga yang memberitahukan mereka jika sasaran yang mereka incar adalah pemimpin dari organisasi itu. "Ini pasti akan sangat sulit. Iya kan, Sasori?" ujar Deidara pada salah satu rekan sekaligus patnernya di lapangan itu. Tidak perlu Sasori jawab pun, mereka berdua sama-sama tahu, jika tugas mereka kali ini akan sangat sulit.
Pain dan Surotobi sedang menyesap teh mereka masing-masing di dalam ruang kerja Jenderal tua itu. "Aku takut hal ini membahayakan keselamatan kalian, Pain." ucap Surotobi, telihat jelas raut kekhawatiran di wajah tua itu. "Apa anda lupa, Jenderal. Rasengan dan bahaya memang berdampingan." ujar Pain ringan.
Surotobi tersenyum getir. "Anda tidak perlu menghawatirkan kami seperti itu. Kami sudah mengenal bahaya dengan sangat baik." ucap Pain menyakinkan. Sedangkan Surotobi, Jenderal yang sudah berumur enam puluh tahun itu hanya bisa diam dan kembali menyesap teh miliknya. Dalam hati ia mengamini perkataan pemuda yang selalu mengingatkannya pada mendiang cucunya itu.
Di salah satu area hijau sekolah...
Menma meremas ponselnya kuat-kuat. Pembicaraannya dengan sang Ayah di telepon tadi, benar-benar mengusik pikirannya.
"Menma, sepertinya hipnoterapi itu tidak akan bertahan lama lagi pada Naruto."
"Kenapa begitu, Ayah?"
"Jangka waktunya sudah hampir habis, nak. Lagipula, sudah satu tahun sejak terakhir kali Naruto mengikuti hipnoterapi itu lagi. Ayah takut traumanya akan kembali lagi dan itu bisa sangat berbahaya."
"Jadi, apa yang harus aku lakukan Ayah?"
"Ayah senang kau bertanya begitu, Menma. Ayah hanya ingin kau selalu berada didekat Naruto. Trauma itu bisa muncul lagi kapan saja."
"Baik Ayah. Aku akan selalu berada didekat Naruto seperti pesan Ayah."
"Good boy."
"Ayah."
"Ya, nak."
"Kapan efek hipnoterapi itu akan menghilang?"
"Ayah tidak bisa memastikannya, Menma. Hipnoterapi itu akan cepat menghilang jika semakin sering seseorang itu berhubungan dengan masa lalulnya atau dengan hal yang bisa berkaitan dengan traumanya."
Menma menatap langit biru diatasnya. Ada setitik awan disana. Firasatnya mengatakan bahwa akan ada badai yang akan menerjang sahabatnya itu. "Aku akan menjagamu, Naruto." tekadnya pada dirinya sendiri.
.
.
.
.
.
.
"Tuan muda, semuanya sudah disiapkan." ucap seorang pelayan pada seorang pemuda yang duduk membelakanginya.
"Hn, pergilah." ucapnya pada pelayan itu.
Pemuda itu memutar kursinya, beranjak dan melangkah menuju tengah ruangan, tempat ia berada sekarang. Sepasang mata beriris gelap itu menatap seorang pria yang tengah tertidur diatas ranjang. Ia menunduk, membisikkan sesuatu ke telinga pria itu. "Semuanya sudah siap, kak. Jadi segeralah bangun."
To be Coutinue
Pojok Suara :
Alooha! Saya kembali lagi setelah sekian lama berhibernasi dan mencari wangsit. Hahahaha.. Saya tahu ini sudah lama sekali sejak terakhir kali saya update untuk fiksi ini. Masih ingatkah pembaca dengan fiksi saya ini? Saya harap masih ya, hehehe…
So, what do you think about this fic?
Silakan tulis pendapat kalian di kolom review.
Terima kasih sudah membaca, sampai jumpa di chapter berikutnya.
Salam,
Sentimental Aquamarine
