Disclaimer : Naruto – Masashi Kishimoto

Pairing : SasuFemNaru

Rated : T

Warning : Genderbender, OOC, Typos, Alur kecepatan dan lainnya

Summary : Naruto, gadis berparas cantik yang membenci satu hari di hidupnya. Saat semua orang bahagia ketika hari paling spesial di hidup mereka itu datang. Naruto justru sangat membencinya. Ya, dia sangat membenci hari ulang tahunnya. Sangat benci.

Special Gift for You

By

Sentimental Aqumarine

Chapter Sebelumnya…

Menma meremas ponselnya kuat-kuat. Pembicaraannya dengan sang Ayah di telepon tadi, benar-benar mengusik pikirannya.

"Menma, sepertinya hipnoterapi itu tidak akan bertahan lama lagi pada Naruto."

"Kenapa begitu, Ayah?"

"Jangka waktunya sudah hampir habis, nak. Lagipula, sudah satu tahun sejak terakhir kali Naruto mengikuti hipnoterapi itu lagi. Ayah takut traumanya akan kembali lagi dan itu bisa sangat berbahaya."

"Jadi, apa yang harus aku lakukan Ayah?"

"Ayah senang kau bertanya begitu, Menma. Ayah hanya ingin kau selalu berada didekat Naruto. Trauma itu bisa muncul lagi kapan saja."

"Baik Ayah. Aku akan selalu berada didekat Naruto seperti pesan Ayah."

"Good boy."

"Ayah."

"Ya, nak."

"Kapan efek hipnoterapi itu akan menghilang?"

"Ayah tidak bisa memastikannya, Menma. Hipnoterapi itu akan cepat menghilang jika semakin sering seseorang itu berhubungan dengan masa lalulnya atau dengan hal yang bisa berkaitan dengan traumanya."

Menma menatap langit biru diatasnya. Ada setitik awan disana. Firasatnya mengatakan bahwa akan ada badai yang akan menerjang sahabatnya itu. "Aku akan menjagamu, Naruto." tekadnya pada dirinya sendiri.

.

.

.

.

.

.

"Tuan muda, semuanya sudah disiapkan." ucap seorang pelayan pada seorang pemuda yang duduk membelakanginya.

"Hn, pergilah." ucapnya pada pelayan itu.

Pemuda itu memutar kursinya, beranjak dan melangkah menuju tengah ruangan, tempat ia berada sekarang. Sepasang mata beriris gelap itu menatap seorang pria yang tengah tertidur diatas ranjang. Ia menunduk, membisikkan sesuatu ke telinga pria itu. "Semuanya sudah siap, kak. Jadi segeralah bangun."

.

.

.

.

.

Hari berlalu sangat cepat. Hanya tinggal seminggu lagi sisa latihan sebelum mereka bertiga tampil sebagai band pembuka festival musim panas tahun ini. Setelah diskusi yang amat panjang dan melelahkan akhirnya mereka sepakat untuk membawakan lagu pilihan dari Anko. Guru muda itu langsung berjingkrak senang saat ketiga murid didiknya menyutujui usulnya untuk membawakan lagu favoritenya itu.

Naruto sedang berbaring di sofa tidak jauh dari tempat Menma berada. Pemuda jangkung itu tampak asyik memetik senar gitarnya. Kiba sudah pergi beberapa saat lalu, meninggalkan mereka berdua di music room. Menma melirik kearah Naruto. Tampak gadis itu sedang memejamkan matanya. Diletakkannya gitar itu di dekat speaker, beranjak lalu menghampiri Naruto.

Tangan tan Menma terulur, hendak menyentuh dahi Naruto. "Apa kau sakit? Wajahmu tampak pucat Naruto." Tanya Menma.

Naruto mengerang pelan. Kepalanya memang sedikit pusing, dibukanya kedua mata itu, kemudian bangkit dari posisi berbaringnya. "Aku tidak apa-apa." Jawabnya. "Kau yakin?" Tanya Menma memastikan dan Naruto mengangguk sebagai jawaban.

"Kau sudah selesai?" Tanyanya. "Sudah." Jawab Menma seraya mengambil ransel miliknya diatas meja. "Ayo pulang." Ajaknya.

Mereka berdua berjalan beriringan. Menma tampak berbicara, mengajak gadis itu untuk mengobrol. Tapi Naruto hanya memberi respon seadanya. Dia hanya tersenyum dan sesekali menimpali. Bahkan saat Menma menggodanya perihal kedekatannya dengan dua pemuda tampan di sekolah mereka, Naruto hanya diam dan sama sekali tidak membantah perkatan Menma. Berbeda sekali dengan Naruto yang biasanya.

Alis Menma mengernyit dalam, melirik Naruto melalui ekor matanya. Terlihat gadis itu hanya memandang lurus kedepan. Tapi tunggu, tatapan itu. Kenapa ada yang lain disana. Seperti tatapan kesedihan. Ada sesuatu yang aneh disini, batinnya.

Menma masih melirik kearah Naruto. Tidak berniat untuk bertanya langsung tentang keanehan sahabatnya akhir-akhir ini. Takut jikalau pertanyaannya membuat Naruto tersinggung. Mereka berdua hampir sampai di area parkir saat dengan tiba-tiba Naruto berujar. "Kau pulang saja duluan Menma. Aku ada urusan sebentar."

Menma hendak mencegah gadis itu pergi tapi tidak sempat karena Naruto sudah berlalu pergi, berlari disepanjang koridor sekolah.

Naruto berlari menuju music room kembali. Tadi saat tidak sengaja merogoh saku rok seragamnya. Ia tidak menemukan kalung miliknya. Naruto meraih handle pintu, kemudian melangkah menuju tempat ia berbaring tadi. Diperiksanya sofa beludru itu. Tidak ada. Dia tidak menemukan kalung miliknya.

"Dimana?" Tanyanya.

Naruto mulai mencari keseluruh ruangan. Sebulir kristal bening mulai tampak di pelupuk mata gadis itu. Naruro beranjak menuju stage, tempat dimana ia dan kedua anggota band yang lain berlatih. Berharap benda berharga itu berada disana.

Tangisnya hampir pecah saat lagi-lagi benda itu masih belum ia temukan. "Dimana?" Tanyanya lagi seraya mengedarkan pandangan keseluruh ruangan. Naruto terdiam sejenak, sebelum latihan, kalung itu masih beerada di saku roknya. Dia tidak pergi kemana-mana sampai latihan usai.

Dan, Naruto ingat. Ia sempat bermain piano sebentar. Dan, Naruto menoleh ke kanan. Menatap grand piano disudut ruangan itu. Perlahan ia melangkah menuju grand piano berwarna putih itu. Berharap dalam hati, kalungnya ada disana.

Dan, tiba-tiba tangis itu pecah. Ia menemukan kalung miliknya tergeletak dibawah kursi. "Syukurlah...syukurlah..." Ucapnya seraya memeluk kalung itu erat. Naruto tidak ingat kapan ia memiliki kalung dengan bandul batu onyx itu. Yang jelas, saat kalung itu bersamanya. Ia merasa tenang dan damai. Baginya kalung itu sangat berharga. Sesuatu yang akan ia jaga. Kalung berbandul batu onyx yang bahkan sama sekali tidak ia ingat, siapa yang memberikannya untuknya.

.

.

.

.

.

.

Jam sudah menunjukkan pukul enam petang saat Naruto tiba di kediaman Uzumaki. Naruto baru saja membuka pintu kamarnya saat dengan tiba-tiba Kyuubi muncul dibalik pintu itu. "Kakak!" pekiknya.

"Kakak mengagetkanku." Ucapnya kesal akan kelakuan menyebalkan kakak laki-lakinya yang tiba-tiba muncul begitu saja di kamarnya.

"Kenapa baru pulang?" Tanya Kyuubi.

"Kenapa kakak ada di kamarku?"

"Darimana saja dan kenapa baru pulang?"

"Kakak hampir membuatku mati berdiri. Bagaimana kalau aku terkena serangan jantung?"

"Tidak ada riwayat penyakit itu di dalam keluarga kita."

"Tapi tetap saja kakak membuatku kaget. Dan kenapa kakak berada dikamarku? Tidak sopan masuk ke kamar orang lain tanpa seijin pemiliknya."

Kyuubi menghela napas panjang. "Sudah bicaranya?" Tanya Kyubi.

"S-sudah." Ucap Naruto masih kesal.

"Kau belum menjawab pertanyaan kakak."

"Kakak juga belum menjawab pertanyaanku."

"Naruto." Ucap Kyuubi naik satu oktaf. Naruto diam, tidak ingin berucap lagi. Saat sudah seperti ini, sang kakak berarti tidak ingin dibantah.

"Darimana saja?"

"Tidak ada, kak." Jawab Naruto pelan. "Jadi, kenapa baru pulang? Kakak dengar dari Menma, kau meninggalkannya dan mengatakan ada urusan yang harus kau selesaikan. Urusan apa itu?"

"Naru kehilangan sesuatu. Jadi, harus kembali untuk mencarinya. Naru tidak ingin Menma menunggu terlalu lama, jadi Naru menyuruhnya untuk pulang lebih dulu." Ujar Naruto jujur.

Kyuubi menghela napas lagi. Pemuda itu mengelus puncak kepala sang adik, lalu tersenyum. "Lain kali, hubungi kakak jika kau terpaksa pulang terlambat. Kau tidak tahu, bagaimana paniknya kakak sangat tidak menemukanmu di rumah saat kakak pulang." Ucap Kyuubi.

Pemuda itu menangkup wajah Naruto. "Kakak tidak ingin terjadi sesuatu yang berbahaya padamu. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi padamu diluaran sana. Jadi, kakak mohon. Patuhi perintah kakak ini. Pulanglah tepat waktu dan jika terpaksa pulang terlambat, kakak ingin kau menghubungi seseorang untuk mengantarmu pulang." Ujar Kyuubi lagi.

"Kau paham, Naruto?" tanya Kyuubi.

"Naru paham, kak."

"Bagus. Sekarang bergegaslah mandi. Makan malam sudah hampir selesai. Kakak menunggumu dibawah bersama yang lain." Ucap Kyuubi seraya mengacak rambut pirang adik perempuannya.

"Kak Kyuu." Panggil Naruto sesaat sebelum Kyuubi melangkah keluar dari kamarnya. "Maaf. Maaf sudah membuat kakak khawatir."

Kyuubi tersenyum hangat kemudian mengangguk pelan dan berlalu pergi. Naruto masih berdiri disana, menatap punggung sang kakak hingga menghilang dibalik pintu. "Persis seperti, Ayah." Ucapnya seraya tersenyum dan mulai beranjak menuju kamar mandi.

.

.

.

.

.

.

Hiruk pikuk suara para siswa SMA Tokyo International menghiasi pagi hari ini. Beberapa siswa tampak asyik mengobrol di koridor sekolah. Adapula beberapa kelompok yang sedang bermain basket di lapangan, ada juga yang menghabiskan sisa waktu di cafetaria atau di dalam kelas saja. Naruto baru saja sampai dengan Menma mengekor dibelakangnya. Gadis itu tersenyum kearah siswi yang menyapanya.

"Kalian sedang membicarakan apa?" tanya Naruto kepada ketiga sahabat perempuannya seraya menaruh tas diatas meja.

"Oh, kau Naruto. Selamat pagi." Sapa Sakura. "Pagi Naru-chan." Sapa Hinata lembut.

"Selamat pagi. Jadi, apa yang sedang kalian bicarakan? Tampaknya seru sekali. Sampai-sampai wajah teman kita yang satu ini cemberut begini." Tanya Naruto sembari mendudukan diri disamping Hinata.

Sedangkan Ino, gadis yang sedang dibicarakan itu tampak semakin menekuk wajahnya. "Ino menyukai seseorang." Ujar Sakura tiba-tiba membuat gadis berpony tail itu bereaksi.

"Sakura, hentikan!" Icap Ino sebal.

"Apa? Biarkan saja mereka tahu. Mereka 'kan sahabat kita." Ucap Sakura santai seakan menantang.

"Jadi, siapa pemuda beruntung itu?" tanya Naruto penasaran.

"Beruntung? Yang benar saja, aku rasa pemuda itu akan merasa sial karena sudah dicintai oleh Ino." Ledek Sakura sembari menahan tawa.

"Kurang ajar kau, jidat lebar." Timpal Ino tidak terima.

"Kau jahat sekali, Saku-chan." Komentar Hinata. "Hahahahaha...aku hanya bercanda. Pemuda itu pasti pemuda yang sangat beruntung karena bisa mendapatkan cinta dari seorang Yamanaka Ino." Ucapnya dengan merangkul bahu sang sahabat.

"Lalu, siapa dia? Aku ingin tahu." Tanya Naruto.

"Dia adalah..."

"Yaaa?" Kata Naruto dan Hinata bersamaan.

"Dia...dia...dia..."

"Ck! Cepatlah sedikit. Kau membuatku gemas, Sakura." Komentar Naruto. "Iya, Saku-chan. Cepatlah." Pinta Hinata.

"Hahahaha..." Sakura tertawa lagi. "Kalian tidak sabaran sekali. Dasar tidak seru." Ucap Sakura. "Jadi, dia adalah Sabaku no Gaara." Ucap Sakura lagi.

"Apa Gaara?!" Teriak Naruto dan Hinata kaget. Membuat beberapa siswa menatap heran kearah mereka berempat.

"Kecilkan suara kalian berdua! Kalian ingin semua murid mendengarnya, huh?!" Tanya Ino kesal. "Maaf." Ucap Naruto dan Hinata sesal.

"Sejak kapan kau menyukai Gaara-kun, Ino?" Tanya Hinata.

"Sejak...pertama kali aku melihatnya." Jawab Ino semabari tersenyum. Ia mengenang pertemuan pertamanya dengan Sabaku itu. Itu adalah hari paling indah di hidupnya.

Ketiga sahabatnya yang lain memperhatikan rona merah diwajah Ino. "Lihat, dia merona." Goda Sakura, membuat Hinata terkikik.

"Cinta pada pandangan pertama, heh?" Komentar Naruto.

"Apa Gaara-kun tahu kau menyukainya, Ino?" Tanya Hinata lagi.

"Sayangnya tidak. Ino terlalu takut untuk mengatakannya." Sindir Sakura membuat Ino memukul lengan gadis itu.

"Ouuch! Sakit Ino."

"Diam kau, jidat lebar! Seperti kau tidak sepertiku saja."

Sakura langsung menoleh kearah gadis itu. Melotot kearah Ino. "Tatapanmu sama sekali tidak membuatku takut, Sakura." Ucap Ino santai. Gadis Yamanaka itu menyeringai. Kena kau, batinnya.

"Sebenarnya, Sakura pun sama denganku."

"Ino!"

"Diapun menyukai seseorang."

"Siapa?" Tanya Hinata.

"Kalian mengenalnya. Sangat."

Naruto dan Hinata saling pandang. Sedang Sakura, gadis itu tampal panik. Sahabat pirangnya ini pasti akan membocorkan rahasianya. Seharusnya kemarin tidak perlu ia ceritakan perihal perasaannya terhadap Sasuke pada gadis pecinta drama korea itu. Matilah aku, batin Sakura.

"Maksudmu, orang yang disukai oleh Sakura juga bersekolah disini?"

"Iya."

"Ino, kau sudah berjanji untuk merahasiakannya, bukan?"

"Benarkah? Aku lupa pernah berjanji padamu. Lagipula, Naruto dan Hinata 'kan berhak tahu juga. Mereka sahabat kita, ingat?"

Damn! Runtuk Sakura. Beginilah akibat bila menjaili gadis penyuka bunga itu.

"Jadi, sahabat pinky kita ini menyukai..." Ujar Ino memberi jeda seraya merangkul pundak Sakura, sedangkan gadis Haruno itu memasang wajah masam.

"Siapa?' tanya Naruto mulai gemas.

"Dia adalah..."

"Selamat pagi anak-anak." Ucap Anko lantang. Membuat keempat gadis itu terkesiap. Ino langsung menutup mulutnya dan berbalik menghadap kearah depan. Begitupun dengan Naruto dan Hinata. Kedua gadis itu tampak sibuk mengeluarkan buku mereka.

Sedangkan Sakura, ia tampak lega karena Ino tidak sempat membocorkan rahasianya. Gadis itu melirik kearah jam yang bertengger manis dipergelangan tangan kanannya. Tujuh lewat lima belas menit, dan bel sudah berbunyi beberapa menit yang lalu. Tapi, kenapa dia tidak mendengarnya, ya.

Who's care, batinnya acuh. Yang terpenting saat ini dia aman dari mulut bocor Ino.

.

.

.

.

.

.

"Ino." Panggil Sakura

"Hmm..." gumam gadis pirang itu. Ia tampak sibuk merapikan seragamnya. Jam istirahat sudah dimulai beberap saat lalu. Kedua gais itu sedang berada di toilet saat ini.

"Kumohon, jangan beritahu pada Naruto dan Hinata jika aku menyukai Sasuke."

"Memangnya kenapa?" tanya Ino santai. "Bukankah, mereka sahabat kita."

"Iya."

"Lalu, apa masalahnya?" Tanya Ino.

"..."

"Kau memberitahukan pada mereka jika aku menyukai Gaara. Lalu, kenapa aku tidak boleh memberitahukan pada mereka juga, kalau kau menyukai Sasuke?" Tanya Ino.

"Kau marah?"

"Aku? Marah? Tidak." Ucap Ino seraya mereapikan kembali ikatan rambutnya.

"Kau marah." Timpal Sakura.

Ino berbalik, menghadap gadis pinky itu sembari berpangku tangan. "Kalau sudah tahu. Kenapa bertanya lagi? Dasar bodoh."

Kau itu yang bodoh. Sok seksi." Ujar Sakura kesal seraya mendorong bahu kiri Ino kemudian berjalan menuju westafel.

"Huh! Aku memang seksi, kerempeng."

"Ya, ya, ya, ya."

Sejenak kedua gadis itu saling diam. Hanya ada suara air mengalir yang berasal dari westafel yang terdengar.

"Ino." Panggil Sakura lagi. Gadis itu tengah mencuci kedua tangannya.

"Apa?"

"Maaf."

Gadis Yamanaka itu menghela napas panjang. Berhenti menekuri jari-jari lentiknya. "Kumaafkan."

"Benarkah?" Tanya Sakura sembari berbalik dan menghampiri Ino.

"Iya."

"Janji tidak memberitahukanya pada Naruto dan Hinata?" tanya Sakura seperti anak-anak. "Aku janji."

"Kau memang sahabatku."

"Ya, ya, ya. Tapi dengan satu syarat." Ucap Ino. "Temani aku karoke sepulang sekolah nanti."

"Apa?"

"Kalau tidak mau juga tidak apa=apa. Tapi, aku tidak janji rahasia itu tidak bocor pada mereka berdua."

"Itu sama sekali tidak adil."

"Semua itu adil dalam cinta, jidat lebar."

"Baiklah. Terserah kau saja. Ucap Sakura mulai kesal.

"Oke! Sekarang ayo ke cafetaria. Aku sudah lapar." Seru Ino.

.

.

.

.

.

.

Gaara sedang menyesap minuman kalengnya. Pemuda itu berada tidak jauh dari area olahraga. Duduk disalah satu bangku kayu dibawah pohon sakura. Sendirian. Sesekali tampak ia tersenyum. "Kau benar-benar sudah menawanku, Naruto." Ujarnya pelan.

Beberapa hari yang lalu. Ia dan Naruto melakukan kegiatan berkebun bersama dikediaman Uzumaki. Menanam beberapa jenis bunga. Hari itu merupakan hari yang sangat menyenangkan baginya. Berdua saja dengan gadis itu. Bercengkrama. Tertawa bersama. Rasanya, dunia seakan berputa lambat saat ia berada disamping gadis pirang itu.

"Mine. You're mine." Ujarnya seraya bangkit dan melempar kaleng kosong itu ke tempat sampah.

.

.

.

Sasuke dan yang lain sedang menyantap makan siang mereka. Pemuda onyx itu mencari sosok Naruto di cafetaria. Tapi, sepertinya gadis itu tidak ada disini. Kiba menenggak meinumannya dengan rakus kemudian berucap. "Dimana Gaara?" akhir-akhir ini. Ia sering sekali tidak ikut berkeumul dengan kita." Tanya pemuda jabrik itu.

"Entahlah, aku juga heran. Belakangan ini aku sering sekali melihatnya menghabiskan waktu istirahat sendirian. Saat kutanya kenapa, dia hanya menepuk bahamu dan berlalu pergi." Terang Neji tentang sikap aneh salah satu sahabat karibnya.

"Apa dia ada masalah?" tanya Kiba pada yang lain. "Gaara pernah bersikap seperti ini saat junior high 'kan/ kalian masih ingat?"

"Tentu saja aku masih ingat. Bagaimana kacaunya Gaara saat itu. Dia seperti mayat hidup saat Tuan dan Nyonya Sabaku hampir bercerai." Ingat Neji.

"Hmmm, Gaara terlalu tertutup kala itu. Sampai-sampai kita tidak tahu apa yang terjadi pada ia dan keluarganya."

"Jika Gaara memiliki masalah. Aku rasa cepat atau lambat kita akan mengetahuinya. Jadi, kita biarkan saja dulu. Bukan begitu, Sasuke?" tanya Shikamaru menatap luruh kearah pemuda Uchiha itu.

.

.

.

Naruto baru saja keluar dari salah satu bilik toilet. Melangkah pelan menuju westafel. Gadis itu menyalakan keran. Menunduk sesaat saat dirasa kepalanya berdenyut nyeri. Disaat, rasa sakit itu berkurang. Naruto membasuh wajahnya dan menatap pantulan dirinya di cemin.

Entah kenapa belakangan ini. Ia sering merasa pusing. Terkadang pula rasa sakit di kepalanya teramat hebat, membuatnya harus menahan sakit yang luar biasa itu. Bahkan belakangan ini pila. Ia sering bermimpi aneh. Dalam mimpinya. Ia mendengar suara tembakan dan jerit tangis seorang anak perempuan. Karena itulah ia sering terbangun dan kembali tidur menjelang pukul empat pagi. Mimpi itu terasa nyata dan membatnya takut.

Ia ingin menceritakan perihal mimpi itu pada sang kakak. Tapi, ia tidak ingin Kyuubi menjdai cemas karenanya. Jika bercerita pada Menma, itupun sama saja, pemuda jangkung itu pasti akan menceritakannya juga pada kakaknya. Jadi, ia memutuskan untuk menyimpan hal itu sendirian. Berharap mimpi itu hanyalah bunga tidur dan akan hilang dengan berjalannya waktu. Ya, semoga saja, batin Naruto.

.

.

.

.

.

.

Bel pelajaran terakhir terdengar nyaring diseluruh penjuru sekolah. Beberapa menit kemudian para murid berhamburan keluar kelas. Ada yag masih asyik mengobrol di koridor, ada pula yang sudah berllau pergi menuju parkir atau sekadar bersantai di cafetaria dan ruang hijau terbuka di area sekolah.

Naruto berjalan pelan bersama Menma bersamanya. Sesekali mereka tampak mengobrol. 'Kau tampak menyedihkan, Menma. Bagimana bisa kau berpikir begitu tentang Kiba." Ucap Naruto.

"Ck! Jangan mengataiku menyedihkan. Salahkan saja temanmu itu. Dia yang menantangku duluan."

"Tapi tetap saja kau tidak berhak berpikir begitu tentangnya. Bagaimanapun juga, Kiba itu teman sekelas kita dan anggota dalam band." Ujar Naruto.

"Jangan selalu mencari celah diantara kejelekan orang lain, Menma. Itu membuatmu tampak menyedihkan. Jika kau berlaku tidak egois dan meredam amarahmu. Aku yakin, kau dan Kiba akan menjadi teman, dan mungkin jga sahabat." Ucap Naruto mengingatkan.

"..."

"Biasakan dirimu akan keberadaannya. Kita satu tim dalam band. Aku tidak ingin masalah ini mengganggu peforma kita di festival nanti. Kita tidak boleh mengecewakan Ibu guru Anko, ingat? Dia sudah berusaha keras untuk membangun band dan merekomendasikan band ini untuk menjadi pembuka dalam festival pada Kepala Sekolah."

Menma tidak bereaksi. Naruto terlalu dewasa dibandingkan usianya yang bahkan belum genap tujuh belas tahun itu. Sahabat pirang ini jauh lebih dapat menahan emosi dan memandang segala sesuatunya dengan positif. Berbanding terbalik dengannya yang bertempramen tinggi dan selalu mengutamakan emosi saat sudah kesal.

Pemuda itu melirik sekilas kearah Naruto. Dia tidak menyukai Kiba. Baginya pemuda jabrik itu lebih menybalkan daripada tetangganya sewaktu ia masih di L.A dulu. Dia tidak suka cara Kiba berbicara. Terlalu sok pintar. Anak itu juga sering mencari masalah dengannya. Sebenarnya bukan keinginanya untuk meladeni Kiba. Tapi, tampang menyebalkannya itu membuat mulutnya gatal untuk tidal melontarkan kata-kata pedas dan juga beberapa cacian padanya.

Menma menghela napas lelah. Ia rasa, ucapan Naruto ada benarnya. Ia harus lebih menahan emosi dan lebih mawas diri. Bagaimanapun juga, jika ada rasa tidak suka pada salah satu anggota dalam banda, hal itu bisa merusak performa mereka.

"Naruto."

"Hm?"

"Terima kasih."

Naruto tersenyum kearah Menma. "You're welcome, buddy."

Saat sedang asyik bercanda dengan Naruto. Tiba-tiba Sasuke datang. "Sasuke, ada apa?" tanya Naruto.

"Naruto akan pulang bersamaku." Ucap Sasuke mutlak pada Menma.

"Apa-apaan ucapanmu itu? Menyebalkan sekali. Tidak bisa. Naruto akan pulang denganku."

"Aku tidak perlu persetujuanmu." Ucap Sasuke seraya menarik pergelangan tangan Naruto dan membawa gadis itu pergi bersamanya.

"Hei! Sasuke!" Teriak Menma. "Aku belum memberimu ijin untuk membawanya." Teriak Menma lagi.

"I don't care!" Ujar Sasuke santai.

"Si brengsek itu!" Geram Menma.

.

.

.

"Kita akan kemana Sasuke?"

"Ikut saja. Kau pasti akan menyukainya." Ucap Sasuke seraya menekan pedal gas dan melajukan mobil itu. Membelah jalanan kota Tokyo siang itu.

Beberapa jam berada di dalam mobil. Akhirnya mereka berdua sudah sampai di tempat tujuan. Naruto turun dari dalam mobil. Menginjakkan kakinya di hamparan padang rumput dengan banyak sekali bung-bunga liar yang tumbuh disana.

Naruto memandang takjub pemandangan indah dihadapannya. "Kau menyukainya?" Tanya Sasuke. Naruto mengangguk. "Ya, tentu saja aku menyukainya, Sasuke. Suka sekali."

"Syukurlah."

"Bagaimana bisa kau tahu ada tempat begitu indah seperti ini?"

"Aku tidak sengaja menemukannya saat berkeliling villa."

"Villa? Disini ada villa?"

"Villa milik keluargaku. Tidak jauh dari sini." Ucap Sasuke yang dibalas Naruto dengan beroh ria.

Gadis itu melangkah pelan, menuju padang bunga itu lebih dalam."Disini nyaman sekali Sasuke. Aku jadi betah."

"Datang saja kesini jika kau ingin."

"Apa tidak apa-apa?"

"Tentu saja tidak." Ujar Sasuke. "Tidak ada yang tahu tempat ini selain aku dan kau."

"Benarkah?"

"Hn. Kau orang pertama yang kuajak kesini." Ujar Sasuke. Naruto tersenyum, ada rasa bahagia saat Sasuke mengatakan hal itu padanya. Orang pertama. Bolehkah ia berpikir jika Sasuke menganggapnya istimewa?

Sasuke menoleh kebelakang, memandang Naruto. Kemudian pemuda itu mengulurkan tangannya. Naruto menatap uluran tangan itu. Sejenak ia terdiam, tapi beberapa saat setelahnya ia menerima uluran tangan itu. Mengenggam tangan yang tengan menggenggam tangannya sama eratnya itu.

Sasuke tersenyum hangat. Tidak akan. Tidak akan pernah lepas. Kali ini ia tidak akan pernah membiarkan Naruto pergi lagi darinya.

Daun-daun di dahan pepohonan. Lihatlah. Lihatlah. Rumput-rumput yang bergoyang tertiup angin. Lihatlah. Lihatlah. Bunga-bunga liar di taman. Lihatlah. Lihatlah. Angin lembut yang mengecup kulit. Lihatlah. Lihatlah. Perasaan itu mulai tumbuh subur dan menyentuhku.

To be Coutinue

Pojok Suara :

Alooha! Setelah hampir 8 bulan mangkir dari kegiatan tulis menulis, saya kembali lagi. Hahahaha, maaf atas keterlambatannya. Fiksi ini akan tetap lanjut sampai ending kok. Sekalipun, jadwal update tidak bisa diprediksi. Btw, fiksi ini akan berumur 2 tahun tanggal 10 Oktober nanti lho. Ckckckck, enggak disangka, udah lama juga ya.

Review pembaca sudah saya baca. Membuat saya terharu karena banyak yang nunggu kelanjutan fiksi ini. Selain itu, fiksi saya yang lain juga akan saya usahkan untuk selesai sampai ending. Doakan saja ya.

So, what do you think about this fic?

Silakan tulis pendapat kalian di kolom review.

Terima kasih sudah membaca, sampai jumpa di chapter berikutnya.

Salam,

Sentimental Aquamarine