Disclaimer : Naruto – Masashi Kishimoto
Pairing : SasuFemNaru
Rated : T
Warning : Genderbender, OOC, Typos, Alur kecepatan dan lainnya
Summary : Naruto, gadis berparas cantik yang membenci satu hari di hidupnya. Saat semua orang bahagia ketika hari paling spesial di hidup mereka itu datang. Naruto justru sangat membencinya. Ya, dia sangat membenci hari ulang tahunnya. Sangat benci.
Special Gift for You
By
Sentimental Aqumarine
Chapter Sebelumnya…
"Kita akan kemana Sasuke?"
"Ikut saja. Kau pasti akan menyukainya." Ucap Sasuke seraya menekan pedal gas dan melajukan mobil. Membelah jalanan kota Tokyo siang itu.
Beberapa jam berada di dalam mobil. Akhirnya mereka berdua sudah sampai di tempat tujuan. Naruto turun dari dalam mobil. Menginjakkan kakinya di hamparan padang rumput dengan banyak sekali bunga-bunga liar yang tumbuh disana.
Naruto memandang takjub pemandangan indah dihadapannya. "Kau menyukainya?" Tanya Sasuke. Naruto mengangguk. "Ya, tentu saja aku menyukainya, Sasuke. Suka sekali."
"Syukurlah."
"Bagaimana bisa kau tahu ada tempat begitu indah seperti ini?"
"Aku tidak sengaja menemukannya saat berkeliling villa."
"Villa? Disini ada villa?"
"Villa milik keluargaku, tidak jauh dari sini." Ucap Sasuke yang dibalas Naruto dengan anggukan kepala oleh gadis itu.
Naruto melangkah pelan, menelusuri padang bunga itu lebih dalam."Disini nyaman sekali Sasuke. Aku jadi betah."
"Datang saja kesini jika kau ingin."
"Apa tidak apa-apa?"
"Tentu saja tidak." Ujar Sasuke. "Tidak ada yang tahu tempat ini selain aku dan kau."
"Benarkah?"
"Hn. Kau orang pertama yang kuajak kesini." Ujar Sasuke. Naruto tersenyum, ada rasa bahagia saat Sasuke mengatakan hal itu padanya. Orang pertama. Bolehkah ia berpikir jika Sasuke menganggapnya istimewa?
Sasuke menoleh kebelakang, memandang Naruto. Kemudian pemuda itu mengulurkan tangannya. Naruto menatap uluran tangan itu. Sejenak ia terdiam, tapi beberapa saat setelahnya ia menerima uluran tangan itu. Menggenggam tangan yang tengah menggenggam tangannya dengan sangat erat itu.
Sasuke tersenyum hangat. Tidak akan. Tidak akan pernah lepas. Kali ini Ia tidak akan pernah membiarkan Naruto pergi lagi darinya.
Daun-daun di dahan pepohonan. Lihatlah. Lihatlah. Rumput-rumput yang bergoyang tertiup angin. Lihatlah. Lihatlah. Bunga-bunga liar di taman. Lihatlah. Lihatlah. Angin lembut yang mengecup kulit. Lihatlah. Lihatlah. Perasaan itu mulai tumbuh subur dan menyentuhku.
.
.
.
.
.
.
Kyuubi sedang menyesap kopi di dalam ruang kerjanya. Hari sedang hujan dan ini adalah saat yang tepat untuk bersantai dengan ditemani secangkir minuman beruap itu. Pria berumur dua puluh tujuh tahun itu tampak asyik memandang keluar jendela. Sudah lama Ia tidak menikmati saat-saat seperti ini. Memandangi rintik hujan yang begitu Ia sukai dulu. Ya dulu. Saat sebelum orang-orang yang Ia cinta dan kasihi pergi meninggalkannya.
Kyuubi begitu menyukai hujan. Hujan membuatnya damai dan nyaman disaat bersamaan. Hujan mampu menimbulkan perasaan nyaman di hatinya, memberikan perasaan hangat saat Ia sedang kalut bahkan ketika Ia merasa beban hidupnya terlalu berat. Ya, tapi sayangnya itu dulu. Dahulu sekali, sebelum kedua orangtuanya meninggal. Sekarang rasanya hujan membuatnya teringat masa-masa dukanya. Masa-masa terberatnya.
Hujan mengingatkannya akan hari pemakaman kedua orangtuanya dan hujan pula yang mengingatkannya pada cinta pertamanya. Wanita yang begitu Ia kasihi. Penyesalan yang masih menghantuinya hingga detik ini.
"Aku merindukanmu, sunshine."
.
.
.
.
.
Kriiiing!
Bel berbunyi begitu nyaring. Para siswa tampak berhamburan keluar kelas. Hujan masih turun walau tidak sederas beberapa saat lalu.
"Kau tidak pulang, Sakura?" Tanya Ino pada gadis Haruno itu, saat dilihatnya Sakura masih duduk dan enggan bangkit dari kursinya.
"Sepertinya aku akan pulang terlambat. Ketua cheers memintaku menemuinya sepulang sekolah."
"Apa ada masalah?" Tanya Ino penasaran. Tidak seperti biasanya ketua cheers mereka memanggil anggotanya seperti itu. Pasti ada hal yang penting, pikirnya.
"Aku rasa tidak. Dia hanya ingin membalas perihal keanggotaan denganku. Kau tahu 'kan, setelah masa jabatannya berakhir, aku yang akan menggantikannya sebagai ketua." Terang Sakura.
"Hmmm…begitu. Jadi, apa aku perlu menunggumu?"
"Tidak perlu. Kau pulang saja duluan."
"Kau yakin?" Tanya Ino memastikan. "Aku membawa mobil lho." Lanjutnya seraya memainkan kunci mobil diantara jari telunjuk dan tengahnya.
"Tentu saja aku yakin. Kau pulang saja duluan, Pig." Ucap Sakura meyakinkan Ino.
"Yasudah kalau begitu. Aku pulang, jidat lebar. Jaa." Pamit Ino seraya melangkah pergi.
"Jaa." Sahut Sakura. Dan beberapa saat kemudian, gadis pinky itu beranjak dari tempatnya. Meraih ranselnya dan berlalu pergi.
.
.
.
.
.
.
Gaara berjalan pelan menuju gerbang sekolah. Hari ini supirnya tidak bias menjemputnya, sebab harus mengantar sang Ibu pergi. Mobilnya juga sedang berada di bengkel. Alhasil dia bersusah payah begini, sepertinya Ia harus naik bis untuk pulang ke rumah.
Saat hampir sampai di gerbang sekolah. Tiba-tiba Gaara mendengar suara klakson mobil. Pemuda Sabaku itu menoleh ke belakang dan mendapati mobil Neji berada dibelakangnya. Neji keluat dari dalam mobil disusul Shikamaru setelahnya. Pemuda itu melangkah menghampiri Gaara yang berdiri beberapa langkah didepannya, sedang Shikamaru, pemuda Nara itu malah bersandar di kap mobil Neji dengan malas.
"Kau tidak dijemput supirmu, Gaara?" Tanya Neji yang dibalas gelengan kepala oleh pemuda itu.
"Kebetulan sekali kalau begitu. Aku dan Shikamaru akan mampir ke restoran. Bagaimana kalau kau ikut bersama kami saja? Aku akan mengantarmu pulang."
"Tidak perlu. Aku pulang naik bis saja." Tolak Gaara.
"Tapi—"
"Tidak apa-apa."
Gaara hendak beranjak saat Shikamaru menepuk bahunya pelan, "kau yaki?" Tanya Shikamaru.
"Tentu. Terima kasih." Ucap Gaara kemudian melangkah pergi. Selepas kepergian Gaara, baik Shikamaru maupun Neji keduanya saling diam. Hingga Neji bersuara, "ada yang tidak beres dengannya. Benarkan, Shika?" Tanya Neji seraya melirih kearah putra tunggal Shikaku itu.
"Merepotkan. Ayo pergi!" Ajak Shikamaru kemudian berbalik melangkah menuju mobil.
.
.
.
.
.
Gaara berlari kecil menuju halte terdekat. Hujan mulai turun kembali. Setelah berada di halte, pemuda itu menepuk-nepuk pelan kemeja seragamnya yang basah terkena air hujan. Gaara melirik jam yang bertengger dipergelangan tangannya, kemudian memandang langit dari tempatnya berdiri. Sepertinya Ia akan pulang terlambat.
Dilain tempat, Sakura berdecak sebal karena mendadak hujan turun kembali. Gadis itu melangkah pelan di sepanjang koridor sekolah. Pertemuannya dengan ketua cheers sudah berlalu beberapa menit yang lalu. Sekolah sudah mulai sepi, hanya ada beberapa siswa saja yang masih tampak berkeliaran di area sekolah. Entah itu para anggota OSIS, siswa yang mengikuti ekstrakulikuler atau yang hanya terlalu malas kembali ke rumah dan menikmati waktu senggangnya dengan berlam-lama di sekolah dan memanfaatkan fasilitas yang telah disediakan oleh pihak sekolah.
Sakura hendak memanggil Naruto, saat dilihatnya gadis pirang itu berada diujung koridor. Tapi niatnya batal ketika melihat Naruto tidak sendirian disana. Seorang pemuda yang Ia kenal tampak mengobrol dengan salah satu sahabatnya itu. Dia adalah Sasuke. Sakura dapat dengan jelas melihat Sasuke yang tengah melepas jaket yang Ia kenakan kemudian memakaikannya ke tubuh Naruto. Sasuke juga tampak membuka payung yang entah Ia dapatkan darimana. Keduanya pun beranjak pergi, melangkah menuju mobil Sasuke yang terparkir. Dan jangan lupakan, genggaman tangan keduanya. Sakura memandangi mereka berdua hingga menghilang di dalam mobil. Gadis itu masih berdiri ditempatnya. Ada rasa sesak melingkupi hatinya saat melihat interaksi keduanya.
.
.
.
.
.
Ino melajukan mobil dengan pelan disepanjang perjalan pulang. Gadis itu tampak mengetuk-ngetuk pelan setir kemudinya. Menikmati alunan musik yang berputar dari playlist miliknya. Gadis Yamanaka itu melirik kearah jendela mobilnya. Hujan mulai kembali turun. Saat hendak menekan pedal gas karena lampu lalu lintas sudah berubah warna hijau, Ino tidak sengaja melihat sosok yang begitu Ia kenal tengah duduk dibangku halte. "Apa yang dia lakukan disana?" Tanyanya heran. Ino melajukan mobilnya dan hendak menghampiri sosok itu.
Gaara masih menunggu bis yang akan Ia tumpangi untuk sampai ke rumah saat dengan tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di depan halte. Dan seorang gadis keluar dari dalam mobil. Gadis bersurai pirang pucat yang merupakan Ino, keluar dari dalam mobil tersebut, tidak perduli dengan hujan yang akan membasahi seragamnya.
"Gaara," panggilnya
Pemuda beriris jade itu mengernyit heran, melihat gadis teman sekelasnya itu. "Apa yang kau lakukan disini, Yamanaka-san?" Tanya Gaara.
Gaara bukanlah tipikal orang yang mudah memanggil seseorang dengan nama kecilnya. Ia akan melakukan hal itu pada seseorang yang menurutnyatepat, seperti teman atau seseorang yang Ia sudah kenal lama, mungkin. Dan Ino bukanlah salah satu diantaranya, untuk saat ini.
Ino menyadari hal itu. Gadis itu menjadi sedikit kikuk. Menyadari ketidaksopanannya. " .. maafkan ketidaksopannanku, Sabaku-san." Sesal Ino yang hanya dibalas gumaman tidak jelas dari pemuda itu.
"Kau sedang menunggu bis, Sabaku-san?"
"Ya." Jawab Gaara pendek. Ia melirik ke ujung jalan. Tidak ada tanda-tanda bis kan datang. Hujan juga semakin turun dengan deras. Petir terdengar nyaring di telinga keduanya. Udara kian dingin. Sial! Gerutu Gaara dalam hati. Ia benci sekali dengan suara petir.
Ino melirik kearah Gaara, dapat dilihatnya tubuh pemuda itu menegang saat suara petir mulai terdengar kembali. Dia takut petir, batin Ino.
"Sepertinya bis itu akan datang terlambat, Sabaku-san." Ujar Ino. "Bagaimana jika kau menumpang saja denganku?" Sambung Ino lagi seraya melirik kearah pemuda bersurai merah itu.
Ino menggigit pelan bibir bawahnya saat Gaara sama sekali tidak merespon tawarannya. Pemuda itu masih diam diposisinya. Angin bertiup cukup kencang membuat udara disekitar mereka semakin dingin. Ino merapatkan pelukan pada lengannya. Dia yakin, jika beberapa menit saja dia masih berada di halte ini. Dia akan membeku ditempat.
Dengan suara sedikit bergetar Ino kembali berucap, "bagaimana, Saba-"
"Aku yang menyetir." Sahut Gaara cepat
"Eh?"
.
.
.
.
.
.
"Bagaimana bias kalian basah kuyub begini?" Tanya Nyonya Sabaku penuh kekhawatiran. Ino tampak mengusap-usap rambut pirangnya yang basah dengan handuk yang tadi diberikan oleh Ibu Gaara padanya. Ya, saat ini Ia berada di kediaman keluarga Sabaku. Oh Tuhan, mimpi apa Ia semalam hingga mendapatkan kesempatan langka seperti ini.
"Maafkan aku Sabaku-sama. Ini semua salahku. Kalau saja ban mobilku tidak bocor. Kami berdua tidak mungkin basah kuyub begini." Terang Ino penuh penyesalan. Gadis itu menundukkan kepalanya, takut menatap wajah wanita paruh baya yang tengah duduk dihadapannya itu.
Saat sedang di perjalanan menuju kediaman Gaara. Tiba-tiba saja mobil yang dikendarai mereka berdua berhenti, saat dilihat ternyata ban mobil itu bocor. Alhasil Gaara harus mengganti ban itu, untung saja Ino membawa ban cadangan.
Gaara sudah menyuruhnya untuk menunggu di dalam mobil. Tapi, karena Ia khawatir pada pemuda itu, mengingat sepertinya pemuda itu takut pada petir. Akhirnya, Ia memutuskan untuk menemani pemuda itu hingga selesai mengganti ban. Sesekali Ia menutupi kepala Gaara dari air hujan dengan menggunakan kedua telapak tangannya. Walau sebenarnya usahanya itu hanya sia-sia saja.
Wanita paruh baya itu tersenyum hangat, bangkit dari sofa dan duduk disamping Ino. "Siapa namamu, gadis manis?" Tanyanya seraya mengelus surai pirang yang lepek terkena air hujan itu. Ino tersipu, tidak ada yang memperlakukannya seperti ini selain mendiang Ayahnya. Ino tersenyum getir, Ia merindukan pria jahil itu.
Ino mengangkat kepalanya yang sempat tertunduk tadi, lalu berucap lembut, "watashi wa Yamanaka Ino desu. Douzo yoroshiku onegaishimasu."
"Ino. Nama yang bagus. Orangtuamu pasti bersyukur memiliki putrid sepertimu." Puji wanita itu. Ino hanya bisa tersenyum malu, tidak tahu harus berkomentar apa.
"Nah, Ino, sebaiknya kau segera mandi. Aku tidak ingin kau terserang flu karenanya Pelayan akan mengantarmu ke kamar untuk berganti pakaian." Ucap wanita itu lagi.
"Ha'i! Arigatou gozaimasu, Sabaku-sama." Ucap Ino seraya membungkuk hormat.
"Jangan formal begitu. Panggil saja aku baa-san, sayang."
"Baik, baa-san." Ujar Ino lagi, kemudian setelahnya Ia pergi mengikuti langkah kaki pelayan dihadapannya untuk menuju kamar tamu.
Setelah kepergin Ino. Wanita paruh baya itu melirik kearah sang puter yang sedari tadi hanua diam. "Bukankah dia gadis yang manis, Gaa-kun?" goda sang Ibu.
"Hmm." Gaara hanya bergumam kemudian berlalu pergi menuju kamarnya untuk berganti pakaian, sedangkan Nyonya Sabaku itu hanya menggelengkan kepalanya pelan. Tidak mengerti akan sifat putera keduanya itu.
.
.
.
.
.
.
Keesokan harinya
Ino terlihat tersenyum-senyum sendiri di kursinya, membuat Sakura mengernyit dalam saat memasuki kelas. Gadis itu melangkah pasti menuju kursi dimana Ia dan Ino duduk. Gadis itu menjitak kepala pirang Ino tanpa aba-aba. Ino melotot padanya. "Apa yang kau lakukan, jidat lebar?!" bentak Ino.
Sakura menutup telinganya dari suara ultrasonik milik Ino. "Jangan berteriak seperti itu. Kau bisa membuatku tuli."
"Biar saja! Biar kau tuli saja sekalian." Sahut Ino kesal.
Siapa yang tidak kesal, saat sedang asyik melamun, mengingat tentang peristiwa langka yang mungkin hanya sekali seumur hidup Ia alami. Tentang kunjungn tidak sengajanya di kediaman Sabaku. Menikmati makan siang buatan Ibu dari pemuda yang diam-diam Ia sukai. Lalu, tiba-tiba sahabatmu dating dan menjitakmu dengan seenaknya saja. Membuat lamunanmu buyar seketika. Aaaaarrggh! Sakura benar-benar cari mati, pikirnya.
"Hahahaha…" Sakura tertawa keras, tidak peduli dengan murid lain yang terganggu dengan suaranya itu. Persetan dengan mereka semua, batinnya. Menjahili Ino adalah kesempatan yang tidak boleh dilewatkan begitu saja. Sakura memegangi perutnya. Dia terlalu banyak tertawa.
"Kenapa kau senyum-senyum sendiri, huh? Sudah mulai tidak waras?" Tanyanya saat sudah berhasil menguasai diri.
Ino memicingkan matanya, raut wajahnya benar-benar kesal. "Bukan urusanmu, jidat lebar!" ujar gadis Yamanaka itu kemudian membuang wajah dan menarik buku pelajaran dari dalam tas dengan kesal. Demi, Tuhan! Ini masih pagi dan Sakura sudah membuat mood-nya berantakan. Sakura menggidikan bahu, tidak ambil pusing dengan kekesalan sahabatnya.
Sakura sedang asyik memainkan pena diantara ibu jari dan telunjuknya saat tanpa sengaja iris emerald-nya menangkap kedatangan Sasuke dengan Naruto. Dilihatnya Sasuke tersenyum begitupula dengan Naruto yang tertawa. Entah apa yang sedang mereka bicarakan. Yang jelas, Sakura merasakan wajahnya memanas dan mendadak dadanya terasa sesak.
Di sudut kelas yang lain, Gara pun merasakan hal yang sama saat melihat keduanya memasuki kelas. Pemuda itu memandang datar punggung Sasuke yang berada dua kursi di depannya. Pemuda Uchiha itu telah duduk di kursinya setelah mengntar Naruto ditempat gadis itu duduk. Sasuke merasa seperti ada yang memperhatikannya, dan saat Ia menolehkan kepalanya ke belakang, sepasang iris jade menyapanya. Sepasang iris milik Gaara. Sahabatnya atau untuk saat ini Ia menyebutnya rival. Ya, rival dalam mendapatkan Naruto. Sasuke menyeringai, dan Gaara mengepalkan tangan kanannya.
Seringaian itu. Gaara dapat mengartikannya sebagai sebuah ejekan. Sasuke masih memasang seringaiannya. Pemuda raven itu tahu, dibalik wajah datar Gaara, sahabatnya itu sedang menahan gejolak emosinya. Sasuke meutuskan kontak diantara keduany. Memandang ke depan kelas saat guru pelajaran pertama dating. Dan tentu saja memasang wajah tanpa ekspresinya kembali. Sedangkan Gaara, pemuda itu masih tetap memandang punggung tegap Sasuke dalam diam.
.
.
.
.
.
.
Keesokan harinya
Hiruk pikuk suara siswa terdengar begitu kontras di dalam komplek sekolah elite itu. Beberapa siswa tampak sibuk di depan stage yang diletakan didalam lapangan. Tampak juga beberapa siswa hilir mudik di koridor-koridor sekolah. Hari ini semuanya benar-benar sibuk, sebab besok adalah pembukaan festival musim panas. Sejumlah kelas sibuk dengan bazaar yang mereka adakan, ada pula yang sibuk menghias kelas mereka menjadi sebuah stand minuman dan makanan.
Sejumlah siswa ekstrakulikuler juga tengah sibuk mendekor ruang auditorium yang nantinya akan dijadikan sebagai mini galeri. Berisikan karya seni berupa lukisan, patung dan beragam hal berupa kesenian yang dihasilkan langsung oleh siswa dan siswi sekolah mereka.
Lain halnya dengan kelas lain yang tengah sibuk atau keadaan diluar yang penuh dengan hiruk pikuk untuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk pembukaan festival musim panas besok. Kelas Naruto dan teman-temannya tampak tenang. Tidak ada kesibukan yang berarti dari kelas itu. Semuanya tampak asyik dengan kegiatan mereka masing-masing, ada yang membaca, sibuk dengan makanan mereka, ada yang mengobrol, bermain dengan ponsel dan ada pula yang memanfaatkan kesempatan emas itu dengan tidur, seperti halnya Shikamaru.
"Aku bosan!" apa tidak ada yang bisa kita laukan?" Tanya Ino seraya mendudukan diri disamping Naruto dengan kasar. Hinata sedang berada di audiotorium saat ini. Sibuk membantu anak-anak ekskul fotografi mempersiapkan ruangan galeri.
"Kelas kita tidak menyumbang apapun untuk kegiatan besok. Jadi, apa yang kau harapkan, heh?" sambung Sakura. Naruto menutup buku yang sedari tadi I abaca, setelah menandai halaman yang sudah dibacanya kemudian menaruh buku itu diatas meja. Gadis itu menoleh kearah Ino. Naruto tersenyum geli melihat tampang Ino yang sudah bosan setengah mati.
"Menyedihkan sekali, diantara semua hal yang bisa dilakukan. Kenapa kelas kita memilih untuk tidak ikut serta? Ck! Benar-benar tidak keren." Ujar Ino lagi.
"Benar! Memalukan sekali." Timpal Sakura
Naruto hanya tersenyum kemudian kembali meraih bukunya dan memulai membaca. Mengabaikan kedua sahabatnya yang kini saling mengobrol. Kalian akan terkejut besok. Aku pastikan itu, ucapnya dalam hati.
Dilain tempat, terlihat Menma yang tengah berjalan santai disepanjang koridor. Tidak memperdulikan hiruk pikuk yang berada disekelilingnya. Naruto sedang asyik mengobrol dengan teman-teman wanitanya saat Ia masuk ke dalam kelas tadi, padahal Ia berniat mengajak gadis itu ke belakang sekolah. Sekadar mengobrol atau menghabiskan sisa waktu hingga jam istirahat berikutnya. Hinata juga tidak kelihatan sejak tadi. Gadis indigo itu mungkin sedang sibuk dengan anggota ekskul yang lain. Dia butuh teman mengobrol. Dia bosan, tidak dia benar-benar bosan. Bergabung dengan Sasuke dan teman-temannya yang lain juga sama saja. Pemuda itu dan juga teman-temannnya tidak lebih dari sekumpulan manusia aneh.
Sasuke? Dahi Menma mengernyit. Pemuda itu jika diajak mengobrol sama sekali tidak seru. Muka sedatar papan setrikaan miliknya itu benar-benar membuat Menma kesal. Belum lagi kata andalan yang sepertinya sudah dipatenkan oleh pemuda Uchiha itu. Ck! Jangankan untuk mengobrol, melihat wajah angkuh itu saja Menma sudah malas. Dan perlu diingat, dia pernah memaksa Menma untuk menaiki roller coaster yang membuatnya harus merasakan mual berkepanjangan. Dan sejak hari itu nama Sasuke berada dalam daftar orang-orang yang tidak disukainya.
Gaara. Pemuda dengan warna rambut merah itu memiliki pembawaan diri yang tenang. Sama halnya dengan Sasuke, pemuda yang Menma tahu bermarga Sabaku itu juga jarang terlihat berbicara dengan orang lain, selain dengan teman satu kelompoknya. Pemuda itu lebih sering terlihat diam di kelas atau berda di perpustakaan saat tidak dengan keempat temannya yang lain. Gaara memang beberapa kali berkeunjung ke kediaman Uzumaki. Mereka juga sempat mengobrol ringan saat kunjungan kedua Gaara, tapi setelah itu, mereka berdua tidak pernah lagi terlibat pembicaaran bahkan saat di kelas sekalipun. Bagi Menma, Gaara itu terlalu pendiam dan kaku. Berbeda sekali dengannya yang suka mengiceh dan hiperaktif. Kami tidak akan bisa nyambung, begitu piker Gaara. Lagipula, Menma merasakan bahwa ada dinding tidak kasat mata yang membuatnya tidak bisa berinteraksi terlalu dalam dengan pemuda Sabaku itu. Entahlah, Gaara terlalu misterius menurutnya.
Lalu Neji, kakak laki-laki Hinata itu juga sama pendiamnya dengan kedua temannya yang lain. Tapi, jika dibandingkan dengan Sasuke dan Gaara, pemuda dengan rambut panjang itu sedikit lebih manusiawi. Dia masih mau mengobrol dengan siswa lain, anak itu juga sesekali menyapa Menma saat mereka kebetulan berpapasan di koridor atau tidak sengaja bertemu di kantor guru saat sedang mengantar tugas. Ya, pemuda itu tidak terlalu buruk, tapi tetap saja Menma tidak menyukainya.
Shikamaru. Aiiish, Menma meringis bila mengingat pemuda itu. Si tukang tidur itu. Jangan terlalu diharapkan untuk menjadi teman mengobrol. Yang ada kau akan ditinggal tidur saat sedang mengoceh. Si Nara itu tiada hari tanpa tidur, bahkan saat di kelas saja pemuda itu akan memilih menelungkupkan wajahnya dan tidur di sepanjang pelajaran. Menma bahkan sempat berpikir bahwa pemuda itu salah satu keturunan dari Sloth karena kebiasaan tidurnya itu.
Dan terakhir adalah Kiba. Oh! Mendengar namanya saja Menma akan merasa kesal. Pemuda itu lebih menyebalkan dari semua orang-orang menyebalkan yang pernah Ia temui. Kalau Ia dipaksa mengobrol dengan pemuda itu, sudah dipastikan yang keluar dari mulutnya hanya cacian dan makian saja. Dia sudah berusaha untuk tidak terpancing dengan perkataab menyebalkan Kiba, tapi yang ada Ia malah meladeni pemuda itu. Akhirnya, terjadilah perang adu mulut diantara keduanya.
Haah~ Menma menghela nafas panjang. Dia memang tidak akan bisa yembung dengan para tuan muda itu. Hanya Naruto satu-satunya yang bisa Ia ajak mengobrol dengan bebas, tapi akhir-akhir ini, gadis itu jarang bersamanya. Mereka hanya bersama saat sedang latihan band, saat di kelas mereka juga hanya mengobrol ringan saja. Saat di rumah apalagi, Naruto terkadang pulang lewat jam makan malam. Gadis itu sering bersama dengan Sasuke. Pemuda raven itu sering mengantar dan menjemput Naruto untuk pergi ataupun pulang sekolah bersamanya. Dan Menma benci itu. Uchiha sialan! batinnya kesal.
Menma masih melangkah pelan disepanjang korodor. Pemuda itu berjalan menuju area hijau yang berada todak jauh daro cafetaria. Sesekali pemuda itu mengedarkan pandangannya kesekeliling sembri bersiul. Hingga seseorang memanggilnya dan memaksanya untuk berhenti melangkah.
"Menma!"
Menma menoleh ke sumber suara dan mendapati Kiba tengah berlri menghampirinya. Ck! Mau apa anak itu? Tanya Menma dalam hati. Menma menatap Kiba dengan malas saat pemuda Inuzuka itu sudah berada dihadapannya. "Hm, ada apa?" Tanya Menma datar. Kiba tampak sedang mengatur nafasnya yang memburu. Pemuda itu kemudian berucap, "ada yang ingin kubicarakan denganmu." Dahi Menma mengernyit dalam. "Apa kau ada waktu?" Tanya Kiba.
Menma tentu saja ingin menjawab tidak. Dia ingin bersantai di area hijau, menikmati hembusan angin disana. Atau kalau bisa Ia tidur saja sekalian sampai jam sekolah usai. Hitung-hitung menghilangkan rasa bosan yang dilandanya. Tapi, bukannya menolak, pemuda jangkung itu malah menganggukkan kepalanya pelan. Kiba tersenyum tipis kemudian mengajak pemuda jangkung dihadapannya itu untuk beranjak dari sana.
.
.
.
.
.
Naruto memejamkan kedua matanya. Semilir angin dengan nakal memainkan helaian rambut pirangnya yang tergerai. Gadis itu merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, menghirup dengan rakus udara disekitarnya. Hari sudah hamper sore dan sekolah telah usai beberapa jam yang lalu, tapi Naruto masih setia menunggu seseorang di taman belakang sekolah.
Gadis Uzumaki itu melangkah maju dengan perlahan. Kedua matanya masih terpejam. Naruto menghentikan langkah kakinya sejenak kemudian melangkah kembali dengan hati-hati. Kini Ia melakukan pergerakan kecil, menari dan berputar-putar layaknya seorang ballerina. Senyum terukir di bibir ranumnya, dia masih terus manari mengikuti hembusan angin yang sekan-akan menjadi pengiring disetiap gerakannya.
#Flashback
Naruto duduk dengan muka ditekuk disamping sang Ibu. Hari ini adalah hari Sabtu, waktunya Ia bersantai, mengingat ini adalah hari pertama liburan musim panas. Tapi dengan teganya sang Ibu membangunkannya dan menyeretnya ke tempat antaberantah yang penuh dengan anak-anak perempuan yang sepantaran dengannya. Manik bak langit itu melirik kesana kemari. Dilihatnya seorang anak perempuan berambut coklat yang sepertinya seumuran dengannya tengah mengenakan sepatu bertumit tipis berwana putih gading. Tampak anak perempuan itu berputar-putar dihadapan sang Ibu, membuat rok tutu merah muda itu bergoyang karena tingkah sang anak perempuan.
Naruto mengernyitkan dahi, sepertinya Ia pernah melihat pakaian semacam itu, tapi dimana ya. Dia lupa. Naruto menoleh, bermaksud untuk bertanya pada sang Ibu, tapi Ibunya sudah tidak ada disampingnya.
"Lho, Kaa-san pergi kemana?" Tanyanya
Saat hendak bangkit dari kursinya untuk mencari keberadan sang Ibu. Naruto mendengar suara sang Ibu memanggil namanya. "Naruto!"
Naruto menoleh ke sumber suara dan melihat Ibunya berjalan kearahnya dengan sebuah bungkusan berwarna coklat.
"Kaa-san darimana?" Tanya Naruto setelah sang Ibu mendudukan diri disampingnya.
"Kaa-san tadi mengantarkan formulir pendaftaran dan mengambil ini." Jawab Kushina seraya menunjukkan bungkusan yang tengah dibawanya kepada sang putri.
"Formulir pendaftaran untuk apa, Kaa-san? Dan itu—" Tanya Naruto sembari menunjuk kearah bungkusan milik Kushina.
"Apa isi bungkusan itu, Kaa-san?" Tanya Naruto lagi.
"Formulir pendaftaran untuk masuk pelatihan balet dan ini adalah costum baletnya." Jawab Kushina kemudian mengeluarkan isi dari bungkusan itu.
"Taarrrah! Bagus sekali bukan?" Kushina berucap girang, Naruto mengernyit heran, "siapa yang akan ikut pelatihan balet, Kaa-san?" Tanya Naruto masih tidak mengerti.
Kushina menaruh kostum balerina itu diatas pangkuannya kemudian menoleh kearah sang putri. Wanita bersurai merah itu menangkup kedua pipi gembil Naruto. Naruto berkedip lucu, bingung dengan tatapan Ibunya.
"Tentu saja putri kesayangan, Kaasan. Namikaze Naruto." Ucap Kushina seraya tersenyum manis.
Dan sejak saat itu, Naruto selalu berangkat ke pelatihan balet selama liburan musim panas bersama sang Ibu. Kushina sangat senang, pasalnya mimpinya menjadi balerina terwujud melalui putri kecilnya. Sedangkan Naruto, gadis kecil itu sama sekali tidak menyukainya. Dia sudah berulang kali mengajukan protes, tapi Ibunya tetap saja memaksanya ikut.
"Naru tidak suka balet, Kaa-san." Ucap Naruto untuk yang kesekian kalinya. Ia baru saja keluar dari tempat pelatihan dan sekarang hendak pulang menuju kediaman Namikaze. Sang Ibu sudah duduk nyaman di kursi penumpang begitu juga dengan Naruto.
"Berhentilah mengeluh soal itu, sayang. Seharusnya kau lebih focus pada latihanmu. Satu mingggu lagi pertunjukkan akan di mulai, tapi kau masih belum bisa berputar dengan sempurna." Ucap Kushina mengingatkan, tanpa menoleh kearah sang anak. Terlalu asyik dengan ponsel miliknya, sedangkan Naruto, gadis kecil itu hanya diam tanpa sedikitpun berniat untuk menanggapi ucapan sang Ibu.
"Ah! Gamma-san, mampirlah sebentar ke took bunga, ya." Pinta Kushina pada sang supir
"Baik, Kushina-sama." Sahut supir bernama Gamma itu.
.
.
.
Empat hari sebelum pertunjukkan
Gazebo kediaman Namikaze
Naruto tampak melakukan gerakan balet. Gadis kecil itu menari begitu anggun, menyesuaikan irama yang mengalun dari sebuah tape yang tidak jauh dari tempatnya berada. Naruto melompat ke kiri dengan bertumpuh pada ujung kakinya, kemudian melakukan gerakan yang sama pada lompatan keduanya.
Naruto kembali melompat, kali ini lompatannya sedikit lebih tinggi. Kaki kanannya Ia gunakan sebagai tumpuhan untuk mendarat. Naruto berjongkok sebentar kemudian berdiri dengan perlahan. Setelahnya Ia melakukan gerakan memutar.
Satu putaran
Dua putaran
Tiga putaran
Empat putaran
Lima pu—
Bruk!
Naruto terjatuh pada putaran kelima. "Astaga! Fokuslah, Naruto. Ini sudah yang kelima kali, tapi kau masih saja belum berhasil." Protes Kushina.
Wanita itu memijit pangkal hidungnya. Mendadak kepalanya terasa pusing. Pertunjukkn balet akan diadakan empat hari lagi, tapi putrinya masih saja belum menyempurnakan putarannya. Jika begini terus, Naruto bisa membuat malu pertunjukkan itu, atau malah Ia tidak dapat ikut serta dalam pertunjukkan karena gerakannya masih belum sempurna. Kushina terkesiap. Tidak bisa. Putrinya harus ikut dalam pertunjukkan itu. Bagaimana pun juga, Ia sudah memberitahukkan perihal keikutsertaan sang putri kepada teman-teman dan kolegany bahwa Naruto ikut andil dalam pertunjukkn yang diselenggarakan oleh sanggar paling terkenal di Tokyo itu. Jika Naruto gagal untuk ikut, bisa-bisa Ia dikira membual oleh teman dan para koleganya. Itu tidak akan terjadi, batin Kushina.
"Berdiri, Naruto! Dan lakukan gerakan memutar itu lagi!" Perintah Kushina tegas.
"Tapi—
"Tidak ada kata tapi, Naruto."
Naruto bangkit dari lantai gazebo dengan malas kemudian berdiri tegak. Wajahnya masih tertekuk dalam. Dia kesal. "Bediri yang benar, Naruto. Busungkan dadamu." Ucap Sang Ibu.
Naruto menghela napas pendek, mtanya mulai terpejam seiring dengan music yang kembali mengalun. Gadis kecil itu kembali melakukkan gerakan hingga tiba pada gerakan berputar yang tadi Ia lakukan. Satu putaran. Dua, tiga putaran masih berhasil, empat putaran hingga pada putaran kelima. Naruto kehilangan kesimbangan dan kembali terjatuh. Gagal. Putaran itu gagal Ia lakukan.
"Fokus dan tetaplah menjaga keseimbanga, Naruto!" Seru Kushina.
Peluh sudah membanjiri tubuh mungil itu. Napasnya sudah tidak beraturan. Naruto menatap sosok sang Ibu yang berdiri menjulang dihadapannya.
"Berdiri dan lakukan lagi!" Perintah Kushina
"Naru lelah, Kaa-san."
"Jangan membantah! Berdiri dan lakukan lagi!" Bentak Kushina
"B-baik, Kaa-san."
Naruto masih terus melakukan gerakan-gerakan berputar yang selalu gagal pada putaran kelima. Naruto terus mengulang. Mengulng geraakan yang menurutnya sangar menyebalkan itu. Dibawah pengawasan sang Ibu, gadis mungil itu masih tetap berdiri tegk berputar mengikuti tempo music. Hari sudah sore. Latihan masih belum selesai. Bulir keringat sudah mulai berjatuhan, membasahi wajah tan itu. Napas Naruto memburu. Gerakan berputar itu akan Ia lakukan lagi. Naruto berpijak pada lantai gazebo dengan mantap. Tubuh mungil milikny mulai berputar.
Satu
Dua
Tiga
Bruk!
Naruto kembali terjatuh, kali ini putaran keempatnya gagal. Bagus! Kaa-san pasti marah lagi, pikirnya.
"Kenapa bisa gagal lagi, Naruto?" Tanya Kushina. "Sudah Kaa-san bilang untuk focus dan tetaplah menjaga keseimbangan tubuhmu. Kenapa kau tidak juga mengerti?"
"…."
"Harusnya kau belajar dari pengalaman. Ini sudah percoban yang kesekian kali, tapi tetap saja kau gagal."
"….."
"Pertunjukkan akan diadakan beberapa hari lagi. Jika kau masih belum berhasil melakukan putaran itu dengan banar. Kau bisa membuat Kaa-san malu."
Kushina masih terus mengomel tidak jelas. Wanita itu berusaha untuk membuat putrinya mengerti. Naruto yang mulai jengah, bangkit dari posisinya. Tidak Ia pedulikan rasa nyeri di kedua kakinya.
"Cukup, Kaa-san!" Seru Naruto. Kushina terkesiap. Istri Minato itu menatap sang putri. "Apa-apaan ucapanmu itu, Naruto? Kenapa berkata tidak sopan begitu pada Kaa-san?"
"….."
"Seharusnya kau mendengarkan perkataan Kaa-san, bukannya membantah dan berkata tidak sopan begitu,"
"….."
"Sekarang lakukan gerakan itu lagi!"
"Naru tidak mau."
"Kaa-san tidak menerima penolakan."
"….."
Naruto masih tidak bergeming. Ia setia berdiri mematung diposisinya. Kepalanya tertunduk.
"Naruto!"
"….."
"Let's do it!"
"….."
"Do you hear me? Lakukan sekarang, Naruto."
"Tidak mau, Kaa-san!"
"Namikaze Naruto! Lakukan atau Kaa-san akan membuang semua persediaan ramenmu." Ancam Kushina.
"Buang saja! Naru tidak peduli."
"Naruto, lakukan apa yang Kaa-san perintahkan."
"…"
Naruto tidak bergeming, dia menatap sang Ibu. "Jangan membuat Kaa-san marah, Naruto."
"Naru tidak mau. Kenapa Kaa-san tidak juga mengerti?"
"….."
"Naru tidak akan bisa melakukannya!"
"….."
"Naru tidak akan bisa melakukan sesuatu yang tidak Naru suka." Ucap Naruto. Pipi gembil itu sudah basah oleh air mata. Kushina tertegun. Putrinya menangis.
"Jangan memaksakan kehendak Kaa-san lagi pada Naru." Ujar Naruto lebih rendah, kemudian gadis kecil itu berlari pergi meningglkan sang Ibu yang masih berdiri di gazebo.
.
.
.
"Kau terlalu memaksakan kehendakmu padanya, Kushina."
"Aku tidak bermaksud begitu. Aku hanya—
"Hanya apa?"
"Hanya—
"Sudahlah," ujar Minato seraya menarik sang istri kedalam dekapannya. "Aku mengerti mengapa kau melakukan hal ini. Aku tidak mempermasalahkan keinginanmu untuk kembali mewujudkan mimpimu menjadi seorang balerina melalui putri kita. Aku hanya tidak ingin, keinginamu ini malah membuat Naru tertekan."
Mintao menarik napas dalam sebelum kembali melanjutkan perkataannya, "biarlah dia memilih apa yang menjadi kesukaannya. Biarlah Ia berkembang sesuai dengan kemampuannya. Kita tidak boleh memaksanya melakukkan sesuatu yang tidak Ia sukai. Apa kau mengerti, sayang?"
"Ya, aku mengerti. Maafkan aku." Sesal Kushina.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan, Sayang. Tidak ada." Ucap Minato berulang-ulang seraya memeluk tubuh sang istri lebih erat.
.
.
.
Naruto berjalan pelan, menghiraukan hiruk pikuk suara bising di sekitarnya. Hari ini Ia ingin menghabiskan sepanjang hari di taman. Sudah sua hari sejak latihan bersama sang Ibu di gazebo. Sejak hari itu sang Ibu tidak memaksanya berlatih lagi atau mengantarnya ke sanggar, bahkan Ibunya sudah tidak membahas perihal balet lagi padanya. Awalnya Ia sedikit heran, apa yang membut Ibunya mendadak berubah seperti itu. Tapi senyum sang Ayah saat kedatangannya di ruang makn setelah sempat mogok makan selama sehari akibat insiden di gazebo itu. Menjawab segala pertanyaannya. Ayahnyalah yang membuat sang Ibu berhenti memaksanya mengikuti kelas balet.
Naruto menghampiri sebuah kedai ice cream. Hari cukup terik siang ini membuat kedai itu ramai akan pengunjung. Setelah mengantri cukup lama dan berhasil mendapatkan ice cream pesanannya. Gadis kecil itu melangkah menuju bangku taman kosong tidak jauh dari air mancur yang berada di dalam taman. Naruto menikmati ice cream miliknya dalam diam. Sesekali sepasang iris sapphire itu memandang kesekeliling, memperhatikan para pengunjung taman atau sekadar memandang segerombolan burung dara dari tempatnya duduknya.
"Kakak, kenapa kita tidak pulang saja?"
"Sebentar lagi, Yumi-chan."
Naruto memandang ke sumber suara, dilihatnya sepasang anak sedang bermain tidak jauh dari tempatnya berda. Naruto melihat dengan khidmat interksi keduanya. Gadis kecil iru tersenyum tipis, mendadak Ia merindukan kakak laki-lakinya.
"Kakak 'kan tidak menyukai sepak bola. Kenapa harus memaksakan diri untuk melakukannya?" Tanya sang adik.
Anak laki-laki yang sejak tadi menggiring bola melewati beberapa lintasan lurus mendadak menghentikan kegiatannya. Anak laki-laki itu menatap sang adik yang tengah duduk bersila diatas tanah, kemudian tersenyum hangat dan menghampiri gadis kecil yang Ia sebut Yumi itu.
"Kakak memang tidak menyukai sepak bola, tapi bukan berarti kakak tidak mau melakukannya. Lagi pula kakak melakukan ini semua untuk Ayah dan Ibu. Kakak ingin mereka bangga pada kakak saat di pertandingan nanti. Tidak peduli hal itu adalah yang paling kakak benci sekalipun, asalkan Ayah dan Ibu senang kakak akan melakukannya."
Naruto yang mendengar percakapan keduanya tersentak kaget. "Sekarang ayo pulang. Ibu pasti sudah menunggu kita." Ajak sang kakak.
"Ha'i!"
Selepas kepergian kakak beradik itu. Naruto masih tertegun di tempatnya. Ice cream yang tadi begitu mengundang seleranya, tampak tergeletak di sampingnya begitu saja. Setelah sekian lama terdiam, Naruto memutuskan untuk pergi dan berjalan-jalan sebentar sebelum kembali ke rumahnya.
.
.
.
Kaki berbalut sepatu flat itu terus melangkah menyusuri jalanan di depannya. Hingga langkah itu berhenti tepat disebuah gedung. Naruto mendongkkan kepalanya, menatap gedung dihadapannya. Gadis kecil itu menghela napas berat kemudin melangkah pasti memasuki gedung.
Seorang wanita muda tampak sibuk membereskan beberapa property di dalam ruangan tempatnya berd. Hingga kegiatannya itu terhenti saat Ia melihat seorang gadis kecil berdiri tidak jauh dari tempatnya berada. Wanita muda itu mengedipkan matanya bingung.
"Apa yang sedang kau lakukan disini, Naruto?" Tanyanya. Naruto tidak langsung menjawab, putri bungsu Minato dan Kushina itu melangkah pelan menghampiri sang wanita muda.
.
.
.
Kushina tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tadi Ia mendaptkan panggilan dari salah satu koleganya yang mengtakan jika Naruto tmpak cantik dalam balutan kostum ballerinanya. Wanita itu memerintakan sang supir taxi untuk mempercepat laju kendaraan yang Ia tumpangi. Pikirannya kacau. Bagaimana mungkin Nruto ikut serta? Jelas-jelas Ia sudah meminta pihak sanggar untuk membatalkan keikutsertaan putrinya dalam pertunjukkan itu. Ia juga sudah mengelurkan sang putrid dari sanggar.
Tapi, ucapan koleganya itu tidak mungkin bohongkan? Naruto memakai kostum ballerina? Kushina belum percaya sepenuhnya, barangkali koleganya itu salah mengenali putrinya. Tapi, setelah Ia menanyakan perihal berita itu pada salah satu guru yang mengajar di sanggar itu, barulah Kushina percaya.
Wanita itu turun dari dalam taxi dengn tergesa-gesa. Kaki jenjang itu melangkah memasuki gedung sanggar. Orang-orang sudah duduk di tempatnya masing-masing. Pertunjukkan sudah di mulai beberapa menit lalu.
"Nyonya Namikaze!" Panggil seseorang
"Ah! Guru Mei!" Sahut Kushina saat tahu siapa yang memanggilnya tadi.
"Akhirnya Anda datang juga. Pertunjukkan sudah dimulai." Ujarnya lega. "Mari saya antar ke dalam Nyonya."
"Baiklah."
Dan disinilah Kushina berada, duduk diantara para penonton yang lain. Mei, selaku salah satu guru di sanggar balet itu juga duduk disampingnya.
Kushina terlalu hanyut dengan pertunjukkan balet yang ditampilkan oleh anak-nak itu. Senyum terukir di bibirnya. Kala sang putri muncul dan menari begitu anggun diatas panggung. Air mata itu pun jatuh begitu saja, begitu terharu karena Naruto berhasil menyelesikn putarannya. Padahal waktu itu putrinya masih terus saja gagal.
"Bagaimana mungkin?" gumamnya
Mei melirik kearah sang Nyonya Namikaze itu, "Naruto berlatih sangat keras untuk berhasil melakukkan putaran itu, Nyonya." Ujarnya. "Awalnya memang sangat sulit tapi Ia sanggup membuktikan paada dirinya sendiri bahwa Ia bisa." Terangnya.
Kushina menatap Mei, "Naruto—"
"Dia datang padaku dua hari lalu." Ucap Mei seraya mengingat kejadian itu lagi.
.
.
"Naruto."
"Sensei. Naru ingin ikut pertunjukkan itu lagi. Tolong bantu, Naru." Ucap Naruto tegas
"Tapi, Ibumu sudah—"
"Naru ingin ikut, sensei." Pinta Naruto memaksa.
Mei menghela napas berat, "Baiklah." Ujarnya, lagipula Ia juga membutuhkan satu penari lagi untuk ikut dalam pertunjukkan itu.
Selama dua hari, Naruto selalau dating ke sanggar dan berlatih selama berjam-jam. Gadis kecil itu tidak peduli dengan peluh yang membanjiri tubuhnya. Ia harus berhasil menyelesaikan tariannya.
Mei datang dengan membwa sebotol air untuk murid pirangnya itu. "Istirahatlah dulu, Naruto." Ujarnya saat dilihatnya Naruto jatuh terduduk di lantai. Putarannya lagi-lagi gagal.
Naruto mengangguk pelan lalu berjalan menuju sang guru. Mei menyodorkan botol air mineral itu pda Naruto. "Arigatou, sensei."
Naruto menenggak air itu dengan rakus. Mei hanya tersenyum geli melihatnya. Beberapa saat mereka berdua terdiam. Naruto menyandarkan punggungnya ke dinding begitu juga dengan Mei. Keheningan melanda dua manusia berbeda usia itu.
"Kau tidak menyukai balet 'kan, Naruto?" Tanya Mei setelah lama terdiam.
Naruto mengangguk pelan. "Ya." Ujarnya kemudian.
"Lalu, kenapa kau memaksakan diri untuk melakukan ini?"
"Ini Naru lakukan bukan untuk Naru, tapi untuk Kaa-san."
"Hm?"
"Kaa-san sangat menyukai balet. Naru hanya ingin mewujudkan mimpi Kaa-san yang ingin menjadi seorang ballerina. Karena itu, Naru ingin ikut pertunjukkan itu. Ingin berhasil menyelesaikan tarian itu. Agar Kaa-san bangga pada Naru, sekalipun Naru tidak menyukai balet." Terang gadis kecil itu seraya menatap Mei.
Mei mengusap puncak kepala bersurai pirang itu sembari tersenyum tipis, "kau memang anak yang baik, Naru-chan."
.
.
Kushina tidak bisa membendung air matanya lagi. Putrinya. Putri kecilnya, benar-benar membuatnya terharu.
"Naruto—" panggilnya pelan. Naruto menari begitu memukau, gadis kecil itu berhasil membuat para penonton berdecak kagum karena keluwesan tubuhnya dalam mengikuti irama. Naruto tersenyum di tengah tariannya. Misinya berhasil. Misi membuat Ibunya bangga berhasil.
Satu jam berlalu, pertunjukkan sudah selesai. Para penari member penghormatan kpada para penonton. Suara riuh tepuk tangan terdengar nyaring diseluruh penjuru ruangan. Naruto dapat melihat sang Ibu dari tempatnya berada. Gadis itu tersenyum lebar. Naruto melihat kesekeliling, teman-temannya sama senangnya dnegannya. Suara tepuk tangan semakin bertambah nyaring, saat confetti diluncurkan. Naruto masih sangat jelas melihat sang Ibu yang tampak bertepuk tangan dan tersenyum sembari mengucapkan terima kasih kepada para penonton yang mengucapkan selamat padanya.
Ia juga masih dengan jelas mendengar suara riuh teman-temannya atau suara tepuk tangn. Tapi sesaat kemudian Ia merasakan kepalanya terasa sakit. Ruangan tempatnya berada seakan berputar-putar, suara-suara disekitarnya terdengar seperti geraman dan gumaman tidak jelas dan pandangannya mulai terliht samar.
Naruto mengerjap-ngerjapkan kedua matanya. Mengusir rasa sakit yang tiba-tiba mendera kepalanya. Tapi,sakit itu tidak kunjung menghilang. Perlahan tapi pasti kedua matanya mulai terpejam. Sekelilingnya tampak gelap. Tubuhnya sudah terjatuh ke lantai panggung dengan keras. Ia sudah tidak ingat apa-apa lagi yang Ia dengar dalam kegelapan itu hanyalah suara sang Ibu yang terus memanggil namanya.
"Naruto!"
#FlashbackEnd
Grep!
Sasuke menangkap tubuh yang hendak jatuh menghantam tanah itu, "Naruto!" Serunya panik. Naruto membuka kedua matanya dan pandngannya bertemu dengan sepasang iris kelam milik Sasuke.
"Sa-suke," Sahutnya pelan
"Ada apa?" Tanya pemuda itu khawatir
"Tidak ada apa-apa, Sasuke." Jawab Naruto berbohong, dia tidak mungkin berkata jika Ia kembali mengingat masa lalunya pada pemuda yang masih memeluknya itu.
"Kau yakin? Wajahmu tampak pucat, Naruto."
Naruto tersenyum tipis. Gadis itu bergerak, melepaskan diri dari pelukan Sasuke. Mereka berdua saling bertatapan. Kedua tangan tan itu, menangkup pipi berkulit pucat milik Sasuke. "Aku yakin. Kau jangan terlalu cemas begitu padaku."
"Hn." Gumam Sasuke. Pemuda itu meraih kedua tangan Naruto yang masih berada di pipinya. Menciumi kedua telapak tangan yang sedikit dingin itu.
"Ayo, kita pulang!" ajak Sasuke
"Hmm." Gumam Naruto sembari mengangguk
Naruto meraih tas sekolahnya kemudian melangkah pergi. Diliriknya Sasuke yang berjlan disampingnya. Sinar matahari senja menerpa wajah tampan itu, memberikan sensasi magis dipandangannya kala Ia menatap wajah itu.
Naruto mengeratkan genggamannya pada telapak tangan Sasuke, membuat pemuda itu menoleh padanya. "Hn?"
Naruto menggelengkan kepalanya pelan,"kau tampan." Akunya. Sasuke mendengus. "Kau baru tahu?"
Naruto mengerlingkan matanya bosan. Sasuke terkadang begitu narsis. Apa Ia seperti ini juga saat bersama teman-temannya? Tanya Naruto dalam hati.
To be Coutinue
Pojok Suara :
Maaf atas keterlambatannya. Maklum saja, diriku terlalu sibuk di dunia nyata. Belum lagi hari libur pun tetap bekerja, alhasil update-an pun terpaksa diundur. Chapter kali ini ada dua bagian. Yang saya update part satunya dulu. Mata sudah tidak sanggup untuk mengetik lagi soalnya. Setelah part kedua selesai dan di update, puncak dari fic ini akan segera hadir. Siap-siap untuk kembali menggalau seperti di chapter-chapter awal ya. Hohohoho..
Dan mengenai jadwal update, saya tidak punya jadwal yang tetap. Saat wabah WB tidak melanda, saya akan mengerjakan draft-nya, begitupun juga jika ada waktu senggang. Jadi, harap di maklumkan saja yaa..
Review pembaca sudah saya baca. Membuat saya terharu karena banyak yang nunggu kelanjutan fiksi ini. Selain itu, fiksi saya yang lain juga akan saya usahkan untuk selesai sampai ending. Doakan saja ya.
So, what do you think about this fic?
Silakan tulis pendapat kalian di kolom review.
Terima kasih sudah membaca, sampai jumpa di chapter berikutnya.
Salam,
Sentimental Aquamarine
