Disclaimer : Naruto – Masashi Kishimoto
Pairing : SasuFemNaru
Rated : T
Warning : Genderbender, OOC, Typos, Alur kecepatan dan lainnya
Summary : Naruto, gadis berparas cantik yang membenci satu hari di hidupnya. Saat semua orang bahagia ketika hari paling spesial di hidup mereka itu datang. Naruto justru sangat membencinya. Ya, dia sangat membenci hari ulang tahunnya. Sangat benci.
Special Gift for You
By
Sentimental Aqumarine
Chapter sebelumnya
Grep!
Sasuke menangkap tubuh yang hendak jatuh menghantam tanah itu, "Naruto!" serunya panik. Naruto membuka kedua matanya dan pandngannya bertemu dengan sepasang iris kelam milik Sasuke.
"Sa-suke," sahutnya pelan
"Ada apa?" tanya pemuda itu khawatir.
"Tidak ada apa-apa, Sasuke." jawab Naruto berbohong, dia tidak mungkin berkata jika Ia kembali mengingat masa lalunya pada pemuda yang masih memeluknya itu.
"Kau yakin? Wajahmu tampak pucat, Naruto."
Naruto tersenyum tipis. Gadis itu bergerak, melepaskan diri dari pelukan Sasuke. Mereka berdua saling bertatapan. Kedua tangan tan itu, menangkup pipi berkulit pucat milik Sasuke. "Aku yakin. Kau jangan terlalu cemas begitu padaku."
"Hn." gumam Sasuke. Pemuda itu meraih kedua tangan Naruto yang masih berada di pipinya. Menciumi kedua telapak tangan yang sedikit dingin itu.
"Ayo, kita pulang!" ajak Sasuke.
"Hmm." gumam Naruto sembari mengangguk.
Naruto meraih tas sekolahnya kemudian melangkah pergi. Diliriknya Sasuke yang berjalan disampingnya. Sinar matahari senja menerpa wajah tampan itu, memberikan sensasi magis dipandangannya kala Ia menatap wajah pemuda itu.
Naruto mengeratkan genggamannya pada telapak tangan Sasuke, membuat pemuda itu menoleh padanya. "Hn?"
Naruto menggelengkan kepalanya pelan, "kau tampan." akunya. Sasuke mendengus. "Kau baru tahu?"
Naruto mengerlingkan matanya bosan. Sasuke terkadang begitu narsis. Apa Ia seperti ini juga saat bersama teman-temannya? tanya Naruto dalam hati.
.
.
.
.
.
.
Tokyo International High School pagi ini tampak begitu ramai. Sebab festival musim panas akan segera dibuka. Kepala sekolah Orochimaru sudah berada diatas podium, hendak memberikan sambutan.
"Apa kau melihat Naruto, Pig?" tanya Sakura seraya mengedarkan pandangannya kesekeliling. Saat ini mereka dan para siswa lainnya sedang berada di ruang Audiotorium. "Aku tadi melihatnya bersama Menma-kun," jawaban itu bukan berasal dari Ino melainkan dari Hinata yang berdiri dibelakang gadis pinky itu.
"Ah! Kau darimana saja, Hinata?" tanya Sakura tidak peduli dengan Ino yang sedang sibuk mematutkan dirinya di cermin kecil yang selalu Ia bawa-bawa itu.
"Aku baru saja kembali dari ruang eskul photography." sahut gadis indigo itu.
Beberapa saat kemudian suara kepala sekolah Orochimaru terdengar. Meminta para anak didiknya untuk berbaris rapi karena festival musim panas akan segera dimulai. Waktu berlalu begitu lambat, Shikamaru sudah menguap berulang kali. Kata sambutan dari kepala sekolahnya itu benar-benar membosankan. "Dimana Kiba? Aku tidak melihatnya sejak tadi." tanya Neji seraya mencari keberadaan sosok pemuda berisik itu.
Sasuke dan Gaara diam, tidak menjawab pertanyaan Neji, sedang Shikamaru Ia terlalu malas untuk sekadar membuka mulut. Akhirnya saat-saat yang ditunggu para siswa pun tiba, festival musim panas di sekolah mereka telah resmi dibuka. Kepala sekolah Orochimaru berujar, "selamat menikmati festival musim panas tahun ini, anakanak. Dan inilah petunjukkan pembuka kita tahun ini!" seru Kepala sekolah itu lantang dan beberapa detik kemudian suara gebukkan drum terdengar. Para siswa tampak saling pandang, bingung mengapa ada suara drum begitu. Siapa yang memainkannya?
"Ayo, tunggu apa lagi? Pergilah ke lapangan. Mereka sudah menunggu kalian." ucap Orochimaru, pria paruh baya itu memandang geli raut wajah para anak didiknya.
.
.
.
Dan disinilah mereka semua, berdiri berkerumun di lapangan menghadap stage. Diatas panggung itu sudah ada Menma dan Kiba lengkap dengan alat musik mereka. Pemuda jangkung itu meraih mic, "are you ready guys?" tanya Menma lantang, para siswa yang sudah mengerti akan maksud pemuda itu seketika berseru. "Yeah! We're ready!"
Kiba tersenyum lebar kemudian memukul drumnya keras, menimbulkan pekikan heboh dari para siswi. Beberapa saat kemudian Naruto keluar dari balik panggung, melangkah penuh percaya diri. Gadis itu memetik gitarnya, seketika alunan musik terdengar. Menghentak panggung dengan begitu dahsyatnya.
I really wanna stop but I just got the taste for it
I feel like I could fly with the boy on the moon
So honey, hold my hand
You like making me wait for it
I feel like I could die walking up to the room
Oh yeah...
Late night watching television
But how'd we get in this position
It's way too soon
I know this isn't love
But I need to tell you something
Pandangan Naruto jatuh tepat kearah berdirinya sosok yang begitu Ia kenali. Bibir gadis itu menyunggingkan senyum.
I really really really really really really like you
And I want you
Do you want me?
Do you want me too?
I really really really really really really like you
And I want you
Do you want me?
Do you want me too?
Oh...
Did I say too much?
I'm so in my head
When we're outta touch
(Outta touch)
I really really really really really really like you
And I want you
Do you want me?
Do you want me too?
Entah siapa yang memulainya, kini para siswa tampak melompat-lompat pelan. Mereka seakan-akan sedang menonton konser band profesional. Hal itu tak anyal membuat gejolak ketiganya membara.
It's like everything you say is a sweet revelation
All I wanna do is get into your head
Yeah...
We could stay alone
You and me and this temptation
Sipping on your lips
Hanging on by a thread
Baby...
Late night watching television
But how'd we get in this position
It's way too soon
I know this isn't love
But I need to tell you something
I really really really really really really like you
And I want you
Do you want me?
Do you want me too?
I really really really really really really like you
And I want you
Do you want me?
Do you want me too?
Oh...
Did I say too much?
I'm so in my head
When we're outta touch
(Outta touch)
I really really really really really really like you
And I want you
Do you want me?
Do you want me too?
Sejenak alunan musik berhenti, membuat para siswa yang tengah asik menikmati menatap intens ketiganya diatas panggung. Naruto tampak mengatur deru napasnya, Kiba menganggkat tinggi stick drum-nya sedang Menma berhenti memetik senar gitarnya. Naruto tersenyum tipis, gadis itu memetik senar gitarnya pelan. Pandangannya melembut tak kalah melihat Sasuke berdiri menjulang diantara kerumunan itu. Suara merdunya kembali terdengar, kali ini tanpa iringan drum dan gitar dari kedua pesonil lainnya. Hanya suara dan alunan gitarnya saja.
Who gave you eyes like that, said you could keep them?
I dunno how to act or if I should be leavin'
I'm running outta time
Going outta my mind
I need to tell you something
Yeah...
I need to tell you something
Dan suara drum Kiba kembali menghentak membuat lamunan singkat para penonton teralihkan. Mereka kembali melompat ringan, menikmati permainan yang disuguhkan oleh ketiganya. Menma mengambil posisi, ikut bernyanyi. Sedang Naruto sudah menyeruak kedalam kerumunan. Disana Ia ikut melompat, tubuhnya bergerak sesuai dengan irama. Sasuke mendekat. Keduanya hanyut dalam euforia.
Yeah...
I really really really really really really like you
And I want you
Do you want me?
Do you want me too?
I really really really really really really like you
And I want you
Do you want me?
Do you want me too?
Oh...
Did I say too much?
I'm so in my head
When we're outta touch
(Outta touch)
I really really really really really really like you
And I want you
Do you want me?
Do you want me too?
Tanpa sadar keduanya berpelukan, Naruto tertawa lepas begitupun dengan Sasuke yang tampak begitu senang. Mereka masih terus menari mengikuti irama. Sakura yang berada tidak jauh dari keduanya mendadak lemas. Ia tidak berselera lagi untuk menari seperti yang lain. Gadis itu mundur teratur, keluar dari kerumunan dan kemudian berlari menjauh. Meninggalkan musik yang masih menghentak dibelakangnya.
(Yeah)
I really really really really really really like you
And I want you
Do you want me?
Do you want me too?
Sosok Gaara tampak menyeruak keluar dari dalam kerumunan. Pemuda itu menarik diri dari kesenangan yang ada. Sungguh. Ia tidak kuat lamalama berada disana, melihat interaksi Naruto dan Sasuke membuatnya ingin meledak saat itu juga. Pemuda beriris jade itu pergi meninggalkan lapangan. Ia butuh minuman dingin untuk meredahkan amarahnya. Sepertinya soft drink bisa membantu, begitu pikirnya.
(Yeah I need to tell you something)
I really really really really really really like you
And I want you
Do you want me?
Do you want me too?
Dan pertunjukan itu ditutup dengan suara pukulan drum Kiba dan juga permainan gitar Menma. Naruto masih berada di kerumunan, gitar masih berada dipunggungnya. Gadis itu tersenyum kearah Sasuke. "Pertunjukan yang bagus." puji pemuda itu.
"Thanks." sahut Naruto sembari menyelipkan helaian rambutnya dibelakang telinga.
.
.
.
.
.
Festival musim panas berlangsung sangat meriah, setelah pertunjukan menghebohkan dari Naruto, Menma dan Kiba sekolah mereka kedatangan para siswa dari sekolah lain. Entah siapa yang merekam penampilan mereka dan menyebarkannya ke media sosial, membuat mereka bertiga menjadi idola baru yang begitu dielukan saat ini.
Sudah empat hari festival musim panas berlangsung dan besok adalah hari terakhir. Kiba tampak mondar mandir ditempatnya, membuat Menma bereaksi. "Berhentilah mondar mandir begitu, bodoh!"
Kiba tidak menghiraukan perkataan Menma, pemuda Inuzuka itu masih tetap bergerak kesana kemari. Bagaimana tidak, besok adalah hari terakhir dibukanya festival musim panas, dan Ia belum juga menyatakan cintanya kepada Hinata. Dia sudah menceritakan rencana penembakannya ini kepada Menma tempo hari, tapi pemuda jangkung itu sepertinya tenang-tenang saja. Seakan apa yang diceritakan olehnya waktu itu bukanlah sesuatu yang penting. Kiba mengerang pelan, sia-sia saja Ia meminta bantuan si jangkung sialan itu. Kalau tahu begini lebih baik Ia menceritakannya kepada Naruto saja. Sepertinya gadis itu jauh lebih bisa diandalkan daripada si jangkung menyebalkan itu.
"Tidak perlu melirik tajam begitu kearahku, sialan." desis Menma tajam. Bocah tengik itu, apa mau matanya kucolok? gerutu Menma dalam hati. "Jika yang kau khawatirkan saat ini adalah rencana penembakannmu untuk Hinata. Aku sudah mengurusnya bersama Naruto, jadi kau tidak perlu khawatir begitu. Berhenti mondar mandir. Kau membuatku pusing."
"Kau serius sudah mengurusnya bersama Naruto?" tanya Kiba sedikit tidak yakin.
"Apa kau melihat tampang kebohongan di wajah rupawanku?" tanya Menma malas. Kiba mendengus kasar. Rupawan darimana? Wajah dibawah standart begitu juga. "Yang terpenting besok kau harus sudah siap. Jangan membuatku malu! Atau rencana ini akan berakhir dengan percuma." terang Menma mengingatkan.
.
.
.
.
.
Malam terakhir pembukaan festival musim panas
Malam ini bulan bersinar begitu menawan, Naruto tersenyum dari tempatnya berada. Kiba tampak gugup, gadis pirang itu melangkah mendekat. "Tenanglah, Kiba." hiburnya.
"Aku tidak bisa tenang, Naruto. Rasanya aku ingin pulang saja. Tanganku sudah dingin sekali," cicit Kiba.
"Lalu melewatkan kesempatan emas ini, begitu? Tidak!" seru Naruto.
"Ta-tapi bagaimana jika rencana ini gagal. Bagaimana kalau Hinata menolakku? Bagaimana kalau-"
Naruto menepuk bahu pemuda itu pelan, gadis itu tersenyum kearah Kiba. Entah mengapa, senyumannya membuat Kiba merasa lebih tenang. "Tenanglah, everything gonna be okay." ujar Naruto. "Kau hanya perlu tenang dan fokus, mengerti?" ujar gadis itu lagi yang dibalas anggukan kepala oleh Kiba.
.
.
Beberapa saat kemudian, disinilah Naruto berada. Duduk diatas stage bersama gitarnya. Tidak jauh dari tempatnya berada, Menma sudah stand by dengan pianonya. Pemuda itu memberikan signal agar Naruto memulai pertunjukannya. Gadis itu mengangguk pelan, kemudian memandang kearah penonton. Disana Hinata duduk bersama kedua sahabatnya yang lain, kemudian pandangannnya beralih kearah Sasuke. Pemuda itu duduk bersama ketiga sahabatnya. Lagu yang akan Ia bawakan ini bukan semata-mata untuk Hinata saja, melainkan untuk seseorang yang belakangan ini menerobos masuk ke kehidupannya dengan begitu kurang ajar. Sosok yang tampak tak asing dimatanya, sosok yang entah mengapa begitu dekat padahal mereka baru saja saling mengenal. Sosok yang begitu menyilaukan dipenglihatannya.
Senyum Naruto merekah bersamaan dengan petikan gitar yang mengalun merdu. Seiring dengan itu, suara piano yang tengah dimainkan Menma pun terdengar. Menyatu dengan begitu harmonis dengan permainan gitar Naruto. Malam itu semuanya seakan terhipnotis, jatuh ke dalam alunan melodi yang begitu menyejukkan. Angin malam bertiup pelan, menerbangkan helaian surai pirang yang tergerai itu.
Perahu kertasku kan melaju
Membawa surat cinta bagimu
Kata-kata yang sedikit gila
Tapi ini adanya
Perahu kertas mengingatkanku
Betapa ajaibnya hidup ini
Mencari-cari tambatan hati
Kau sahabatku sendiri
Hidupkan lagi
Mimpi-mimpi
(cinta cinta)
Cita-cita
(cinta cinta)
Yang lama ku pendam sendiri
Berdua ku bisa percaya
Naruto memejamkan kedua matanya. Seketika itu potongan kenangannya bersama Sasuke terlintas. Saat Sasuke menggendongnya, saat Ia dapat dengan jelas melihat wajah pemuda itu. Saat Ia merasakan hangatnya pungggung tegap Sasuke. Saat Ia menggenggam erat telapak besar tangan Sasuke ketika mereka tengah menyelusuri taman bunga tempo hari. Saat Ia menyuapi pemuda itu, saat mereka tertawa bersama. Dan saatsaat menyenangkan ketika mereka berdua menghabiskan waktu bersama. Bolehkah Ia berpendapat, jika Ia jatuh cinta? Jatuh pada pesona si bungsu itu?
Ku bahagia
Kau telah terlahir di dunia
Dan kau ada
Di antara milyaran manusia
Dan ku bisa dengan radarku
Menemukanmu
Alunan gitar Naruto melembut, gadis itu kembali tersenyum. Tidak sadar jika itu berefek besar pada Sasuke. Pemuda itu terus saja menatap Naruto. Sakura menoleh, dan mendapati jika pemuda yang Ia sukai tengah memandang penuh rasa kearah sahabat pirangnya. Bohong jika Ia tidak merasa sakit. Perasaannya begitu biru saat ini. Rasanya Ia ingin pulang saja. Sedang Gaara, pemuda itu sibuk menatap kearah lain. Menjauhkan penglihatannya dari Naruto maupun Sasuke.
Tiada lagi yang mampu berdiri
Halangi rasaku
Cintaku padamu
Kiba tidak tahu sejak kapan Ia memiliki perasaan semacam ini kepada adik dari sahabat karibnya itu. Ia hanya tahu, bahwa Ia sudah terperangkap begitu saja oleh pesona gadis indigo tersebut. Ia bertemu dengan Hinata saat mengunjungi kediaman Hyuuga untuk yang pertama kalinya, itupun saat Ia ingin mengembalikan buka catatan Neji yang Ia pinjam. Disaat itulah Hinata muncul masih dengan seragam sekolahnya. Tersenyum malu kearahnya. Mengantarnya masuk ke dalam rumah bergaya tradisional Jepang itu. Dan sejak hari itu, Kiba jadi sering datang berkunjung. Mencari-cari alasan kepada Neji, entah itu tentang pelajaran, tugas sekolah, sekadar mampir, kebetulan lewat, ataupun alasan-alasan tidak masuk akal lainnya. Itu Ia lakukan hanya untuk bisa melihat Hinata.
Kiba tersenyum geli, betapa konyolnya Ia waktu itu. Rela membolos hanya untuk menemani Hinata yang saat itu terserang flu. Rela diusir berkali-kali oleh Neji saat Ia terlalu sering datang berkunjung. Kalau diingat-ingat Ia jadi malu sendiri.
"Aku harap kau menerimaku, Hinata." ucap Kiba pelan seraya menggenggam erat buket bunga Mawar ditangannya.
Ku bahagia
Kau telah terlahir di dunia
Dan kau ada
Di antara milyaran manusia
Dan ku bisa dengan radarku menemukanmu
Tiba-tiba saja lampu meredup, semua tampak bingung. Dan bersamaan dengan itu layar proyektor menyala. Hinata terkejut saat melihat ada wajahnya dilayar proyektor yang dijadikan tirai panggung itu. Bukan hanya gadis Hyuuga itu saja, bahkan para siswa yang menonton pertunjukkan Naruto dan Menma itu pun sama terkejutnya. "Bukankah itu gambar wajahmu, Hinata. Kenapa ada disana?" tanya Ino heran.
Potret wajah Hinata terus berganti. Ada gambar Hinata sedang tertawa, ada gambar Hinata yang sedang mengenakan seragam olahraga yang tengah melempar bola baseball. Ada gambar Hinata sedang tersenyum manis kearah kamera, ada gambar Hinata yang sibuk dengan kamera digitalnya, ada juga gambar Hinata yang sedang asyik bermain dengan anjing peliharaannya, adapula gambar Hinata yang begitu manis saat mengenakan dress berwana soft lavender, disampingnya berdiri seorang pemuda yang sangat dikenal oleh Hinata.
"Kiba-kun," ucapnya pelan. Ia tahu potret itu, potret itu diambil di kediaman Inuzuka, itu adalah hari dimana Kiba berulang tahun. Kiba memintanya untuk berfoto bersama. Sebagai kenang-kenangan, begitu katanya.
Alunan musik mengalun pelan, Kiba muncul dari balik panggung. Pemuda itu berdiri menjulang, Ia melirik kearah Naruto. Gadis itu mengangguk pelan. Kiba menghembuskan nafas panjang. Mendadak Ia merasa gugup, pemuda itu memandang kearah Hinata. "Hari ini atau tidak sama sekali, Kiba." ucapnya pelan, mengingatkan dirinya sendiri. Dengan penuh percaya diri, Kiba melangkah menghampiri Hinata. Tentu saja dengan buket bunga Mawar yang sedari tadi Ia bawa. Pemuda itu melangkah pasti dengan iringan musik dan suara merdu Naruto dibelakangnya.
.
.
"Kau menyukai si Inuzuka itu 'kan, Hinata?" tanya Menma suatu hari.
Hinata menundukkan kepalanya, menyembunyikan rona merah di pipinya dari penglihatan super tajam Menma. Gadis itu menggeleng pelan. "Kau tidak bisa menipuku, Nona," cibir Menma.
"Selain Naruto, kau bukanlah pembohong yang handal." tambah Menma lagi. "Kuberi kau satu nasehat, dear. Jangan menyukai pemuda macam Inuzuka itu." ucap Menma sembari memincingkan kedua matanya. Mereka sedang berada dipinggir lapangan waktu itu, menonton pertandingan basket antara kelas mereka dengan kelas sebelah.
Hinata melirik sekilas kearah Menma sebelum akhirnya menunduk kembali saat Menma dengan tiba-tiba menoleh kearahnya. "Kenapa?" tanya Hinata pelan.
"Karena dia itu menyebalkan," sahut Menma ringan. "Kau hanya akan membuang-buang waktumu jika bersama dengan pemuda sepertinya." terang Menma.
"Lagipula, jika kulihat-lihat, dia tidak sebaik kelihatannya. Aku sering melihatnya menggoda siswi sebelah. Dia juga sering-"
"Kiba-kun tidak seperti itu," sanggah Hinata cepat. "Walau dia sedikit ceroboh, sering menggoda siswi di sekolah, dan juga Ia adalah seorang yang gampang sekali untuk lupa, tapi aku yakin sebenarnya Ia adalah orang yang baik." ujar Hinata. Kepalanya sudah tidak menunduk lagi. Gadis itu menatap jauh kearah Kiba yang sedang bermain, pemuda itu bergerak lincah. Berteriak lantang kepada rekan setimnya.
Menma tersenyum hangat kemudian mengelus surai Hinata lembut. Adik Neji itu menoleh, menatap bingung kearah Menma. "Kau tahu banyak tentang si berisik itu, rupanya." komentar pemuda jangkung iti. "Aku berjanji padamu, Hinata. Jika Kiba membuatmu menangis, bukan Neji yang akan menghajarnya duluan tapi aku." ucap Menma.
Hinata mengangguk pelan, "hmm." gumamnya tidak jelas.
Menma tersenyum ditengah permainan pianonya. Ia jadi teringat percakapannya dengan Hinata dua hari yang lalu, saat pertandingan basket antar siswa yang diselanggarakan oleh pihak sekolah sebagai bagian dari festival musim panas. "Dasar remaja," ujarnya nyaris berbisik.
.
.
Kiba berdiri dihadapan Hinata, pemuda itu menatap lembut biji mata gadis itu. "Aku tidak tahu harus mulai dari mana, Hinata," aku Kiba. "Aku sudah lama menyimpannya, tapi aku tidak berani mengatakannya kepadamu. Aku terlalu takut untuk mengakuinya. Tapi tidak ada lagi kesempatan kedua seperti malam ini, bukan? Karena itulah, aku ingin jujur padamu. Pada semuanya, bahwa aku-"
"-aku menyukaimu, Hyuuga Hinata. Apa kau bersedia menjadi kekasihku? Mewarnai hari-hariku, menemani disetiap perjalananku-"
Menma mendengus geli mendengar perkataan Kiba, "berlebihan." komentarnya pedas. Neji tampak terkejut ditempatnya, dia tidak menyangka jika Kiba akan bertindak nekad seperti itu. Menyatakan perasaannya? Kepada adiknya pula. Pemuda itu hendak bangkit dari kursi saat Shikamaru menghadangnya. Pemuda Nara itu menggeleng pelan.
"Jangan menghalangi mereka, Neji." ucapnya yang dihadiahi decakan sebal dari Neji.
Ku bahagia
Kau telah terlahir di dunia
Kiba berlutut dihadapan Hinata, "-menuntunku menjadi sosok yang lebih baik, menemaniku dikala suka dan duka-"
Hinata ikut berlutut, mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan Kiba. Gadis itu menutup bibir Kiba dengan telapak tangannya. Kiba terlalu banyak bicara. Pemuda itu sudah meracau tidak jelas, begitu pikir orang-orang disana. Hinata tersenyum tulus, gadis itu bahkan menangkup kedua pipi Kiba.
Dan kau ada
Di antara milyaran manusia
Dan ku bisa dengan radarku menemukanmu
"Aku bersedia menjadi kekasihmu, Kiba-kun." ucap Hinata pelan, seiring dengan itu lagu yang dibawakan Naruto dan Menma berhenti. Suara tepuk tangan terdengar nyaring. Kiba menarik kekasihnya kedalam pelukkannya, mengabaikan sorak sorai dari orang-orang disekelilingnya. Sakura dan Ino saling berpelukan, ikut merasa bahagia karena sahabat mereka sudah memiliki kekasih. Sedang Neji, pemuda itu sudah mendelik tajam kearah Kiba. Berani sekali anak itu. Awas saja kau, Kiba, batin Neji.
"Kita berhasil, nee." ucap Naruto. Mereka masih berada diatas panggung. Memandang pasangan baru itu dari tempat mereka berdiri.
"Hmm, satu pasangan baru tercipta. Dan aku yakin akan ada pasangan baru yang akan muncul setelah ini," komentar Menma.
"Siapa?" tanya Naruto penasaran. Menma hanya tersenyum misterius sedang Naruto mengernyitkan dahi bingung.
.
.
.
Malam semakin larut, sudah waktunya untuk menerbangkan lampion. Sasuke menggenggam erat tangan Naruto. Mereka berdua tengah berjalan menuju taman belakang sekolah. Disana sudah ada beberapa lampion yang siap untuk diterbangkan. Naruto berdiri disamping Sasuke. Keduanya memegang lampion masing-masing.
"Kau sudah siap?" tanya Sasuke yang dibalas anggukan kepala dari Naruto.
Dalam hitungan ketiga lampion mereka sudah mulai terbang secara pelan. "Indah sekali," komentar Naruto, gadis itu memandang langit yang sudah dihiasi lampion itu.
Cahaya dari lampion itu berpendar, menciptakan sensai magis di indera penglihatannya. Naruto tersentak kaget saat dirasakannya lengan Sasuke memeluknya dari belakang. Dagu pemuda itu menempel diatas bahunya. Aroma tubuh Sasuke menguar, Naruto tersenyum tipis. Rasanya begitu nyaman.
.
.
.
.
.
.
.
"Wow! Ini penginapan yang sangat nyaman, Sensei." komentar Ino girang. Hari ini mereka akan menghabiskan waktu akhir pekan mereka di Konoha, sebuah wilayah pedesaan di selatan kota Tokyo. Anko membawa murid di kelasnya untuk berlibur, mengingat betapa senangnya Ia akan pertunjukkan menakjubkan dari band buataannya kemarin.
"Tentu saja! Ini penginapan milik keluarga Sensei." ucapnya bangga. "Nah, kalian bisa memilih sendiri kamar kalian. Dan ingat, jangan berlarian di koridor."
"Ha'i!" seru para murid didiknya kompak kemudian membubarkan diri menuju ke kamar masing-masing.
Malam berlalu begitu cepat, Anko dan beberapa anak didiknya tengah sibuk memanggang daging. Beberapa siswa yang lain tengah sibuk membuat api unggun. Ada juga yang sibuk berfoto dengan teman-temannya, ada yang bernyanyi dengan diiringi petikan gitar Menma, Kiba sedang duduk mendekat dengan Hinata. Pasangan muda itu selalu menempel sejak kemarin, walaupun Neji berulang kali datang mengganggu atau berusaha memonopoli Hinata. Seperti sekarang ini.
"Minggir kau, Kiba!" usirnya penuh kurang ajar seraya mendudukkan dirinya ditengah-tengah Kiba dan Hinata.
"Kau yang harusnya minggir, iklan shampoo!" sahut Kiba tidak kalah sengit. Mana sudi dia berbagi tempat duduk dengan si Hyuuga menyebalkan satu ini. Pergi saja kau ke neraka, Neji, batin Kiba penuh sumpah serapah.
Shikamaru mendengus kasar, merasa terganggu akan tingkah kekanakan sahabatnya. "Bisakah kalian tenang? Kalian mengganggu tidurku." ucapnya seraya melangkah menuju kamarnya.
Anko yang melihat tingkah ajaib para muridnya hanya menggelengkan kepala pelan. "Dasar bocah," ujarnya pelan seraya membalik daging panggang dihadapannya.
.
.
Naruto baru saja keluar dari kamarnya saat Gaara datang dan memintanya untuk pergi menemaninya jalan-jalan. Gadis itu mengangguk, mengiyakan permintaan pemuda Sabaku itu. Mereka berdua berjalan santai menelusuri jalanan setapak dihadapan mereka. Hingga akhirnya mereka berdua berhenti di sebuah danau yang tidak jauh dari penginapan.
"Naruto," panggil pemuda itu. Naruto menoleh, pandangannya jatuh lurus tepat ke wajah pemuda disebelahnya.
"Ya, ada apa, Gaara?"
"Sebenarnya ada yang ingin aku sampaikan padamu."
Dahi Naruto mengernyit, "apa itu, Gaara?"
"Aku-"
Sasuke berjalan disepanjang koridor, tadi Ia baru saja kembali dari kamar Naruto. Mengetuk pintu kamar gadis itu, tapi beberapa menit setelahnya tidak ada yang membukakan pintu. Pemuda itu hendak pergi saat Rumi, teman sekelasnya memberitahukannya bahwa Ia melihat Naruto telah pergi bersama Gaara lima belas menit yang lalu kearah danau.
"-aku menyukaimu, Naruto." ucap Gaara seraya menatap tepat di biji mata sejernih lautan itu. Naruto membulatkan matanya. Apa? Gaara menyukainya?
"Aku menyukaimu sejak pertama kali kita bertemu, Naruto." terang Gaara. "Apa kau memiliki perasaan yang sama terhadapku?" tanya Gaara. Ada sedikit nada ragu terselip dipertanyaan itu.
Naruto melangkah mendekat, tersenyum tulus kearah pemuda itu. Tangan kanannya terulur, menyentuh pipi Gaara. "Aku menyukaimu, Gaara. Kau adalah teman yang sangat baik bagiku." ucap Naruto.
Teman, huh? Jadi selama ini aku hanyalah seorang teman dimatamu. "Tidak bisakah aku lebih dari sekadar teman, Naru?" tanya Gaara, ada sorot kekecewaan di iris jade itu.
Naruto menggeleng lemah. Sungguh. Ia tidak bermaksud untuk melukai perasaan pemuda dihadapannya itu. Dia hanya berusaha untuk bersikap jujur. Dia tidak punya perasaan romatis semacam itu pada seseorang yang diam-diam disukai oleh Ino itu. Huh~ ngomong-ngomong soal gadis Yamanaka itu, bagaimana reaksinya jika Ia tahu Gaara menyatakan perasaan suka padanya begini. Gadis itu pasti sangat sedih dan terluka.
Gaara meraih tangan Naruto yang masih berada di pipinya, membawanya ke dadanya. "Tidak adakah kesempatan untukku, Naru?" tanya Gaara lagi.
Naruto menggeleng pelan. "Maaf, Gaara." ujarnya pelan nyaris berbisik.
"Apa kau menyukai orang lain?" tanya Gaara hati-hati. "Apa itu-Sasuke?" tanyanya tepat sasaran. Naruto terdiam. Gaara mendengus geli. Pemuda itu tertawa hambar, genggaman tangannya pada Naruto terlepas begitu saja.
"Bodohnya aku! Seharusnya aku tahu akan begini jadinya," ujarnya serak. "Seharusnya aku tahu, jika aku akan kalah seperti ini." lanjutnya lagi.
Naruto yang berada disamping pemuda itu secara refleks menarik Gaara. Memeluk pemuda itu. Mengucapkan kata maaf berulang kali kepadanya. Gaara menangis. Pemuda itu menangis tanpa suara. Ia mengeratkan pelukannya pada gadis itu. Rasanya begitu sakit. Ini pertama kalinya Ia patah hati. Sesak sekali, Bu, batinnya.
Pelukan itu terlepas, Gaara menarik Naruto dari pelukannya dan beberapa detik kemudian dia berucap, "maaf, Naruto." Dan detik berikutnya, bibir mereka bertemu. Naruto melotot horor.
Tidak jauh dari sana sosok Sasuke berdiri. Ia melihat pemandangan itu dengan sangat jelas. Bagaimana Gaara mencium Naruto. Bagaimana pemuda itu memeluk Naruto. Sasuke mengepalkan kedua tangannya kuat. Pemuda itu beranjak pergi dengan emosi di dadanya.
Selepas kepergian Sasuke. Naruto mendorong kasar dada bidang pemuda itu. Satu tamparan keras melayang ke pipi Gaara. "Apa yang kau lakukan, huh?"
"Aku tidak menyangka kau akan melakukan hal ini, Gaara." ucap Naruto. "A-aku benar-benar kecewa." lanjutnya kemudian beranjak pergi. Meninggalkan Gaara yang terdiam ditempatnya. Menyesali apa yang telah Ia lakukan kepada gadis itu.
.
.
.
.
Naruto berlari menuju kamarnya, gadis pirang itu bahkan tidak menghiraukan panggilan Hinata. Naruto menutup pintu dibelakangnya. Tubuh itu jatuh merosot ke lantai. "Aku tidak tahu apa yang ada didalam pikiranmu itu, Gaara." ucap Naruto serak. Gadis itu menggosok-gosokan bibirnya dengan kasar di lengan sweater yang Ia kenakan. Menghapus jejak bibir Gaara dari bibirnya.
"Bagaimana bisa kau melakukan hal seperti ini padaku, Gaara?" tanyanya parau. Gadis itu masih terus menggosokan bibirnya. Air mata mulai tampak di pelupuk mata gadis pirang itu.
Gaara melangkah gontai menuju penginapan. Malam sudah larut dan teman-teman sekelasnya sudah kembali ke kamarnya masing-masing. Gaara hendak menuju ke kamarnya saat Sasuke berjalan dari arah yang berlawanan dengannya. Tanpa aba-aba, pemuda Uchiha itu melayangkan pukulan tepat di wajah Gaara, membuat yang bersangkutann terhuyung dan jatuh terjerembab ke ubin yang dingin.
"Kenapa kau menciumnya, huh?!" desis Sasuke marah. Gaara tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya. Jadi, Sasuke melihatnya? Apa sahabatnya itu juga tahu jika Naruto menolaknya?
Gaara bangkit dengan susah payah. Darah keluar dari sudut bibirnya. Pemuda itu meringis pelan, pukulan Sasuke tidak pernah main-main.
Gaara menyeringai. "Dia bukan kekasihmu, Sasuke. Jadi, tidak masalah jika aku menciumnya, bukan?"
Pemuda Sabaku itu menatap Sasuke tenang, "lagipula, dia tidak menolak saat aku menciumnya." dusta Gaara, membuat api amarah di jiwa Sasuke bergejolak.
"Brengsek kau, Sabaku!" teriak Sasuke penuh amarah.
Perkelahian pun tidak terelakkan, pukulan Sasuke membabi buta. Keributan di lantai satu itu terdengar oleh para siswa yang kamarnya kebetulan berada di lantai yang sama. Beberapa siswa keluar, ingin melihat apa yang begitu berisik di tengah malam begini.
Seorang siswi memekik kaget saat melihat Sasuke memukuli Gaara dengan begitu beringas. Neji yang terbangun karena mendengar keributan di lantai dasar, langsung bergegas turun. Pemuda itu bergerak cepat, hendak memisahkan kedua sahabatnya itu.
Shikamaru dan Kiba muncul setelahnya. "Kalian berdua, cepat bantu aku!" teriak Neji memanggil kedua orang itu. "Merepotkan." gumam Shikamaru.
"Tenanglah, Sasuke." ujar Kiba seraya memegangi tubuh Sasuke yang terus saja bergerak hendak menyerang Gaara kembali.
"Lepaskan aku, Kiba!" perintahnya yang tentu saja tidak dipatuhi oleh pemuda Inuzuka itu. Bisa mati si Gaara itu jika Ia melepaskan singa yang tengah mengamuk seperti Sasuke ini.
Shikamaru membantu Gaara berdiri, pemuda Sabaku itu sudah babak belur. Hal apa yang membuat Sasuke sampai lepas kendali dan memukuli Gaara seperti ini, batin Shikamaru.
"Kemari kau, Gaara. Aku akan membunuhmu saat ini juga!" teriak Sasuke. Neji menggelengkan kepalanya pelan. Sasuke tidak pernah semarah ini sebelumnya. Putera paman Fugaku itu selalu dapat mengendalikan emosinya dengan sangat baik. Pasti Gaara menyinggung sesuatu yang membuat pemuda Uchiha itu sampai kalap begini, Neji berucap dalam hati.
"Calm down, Sas." ujar Neji mengingatkan, Ia dan Kiba masih terus memegangi tubuh Sasuke yang masih tetap berontak ingin dilepaskan.
"Lepaskan aku, brengsek. Dia perlu kuberi pelajaran!" ucap Sasuke lagi.
"Sudahlah, Sasuke. Gaara bahkan tidak melawanmu." ucap Kiba. Pemuda Sabaku itu memang tidak mencoba melawan Sasuke sejak perkelahian mereka. Ia tetap diam saat sahabatnya itu menghujaninya dengan pukulan.
Sasuke masih terus berteriak, menyumpah serapahi Gaara. Anko datang bersama dengan Sakura, Ino dan Hinata. "Ada apa ini?" tanya guru muda itu.
"Sasuke dan Gaara berkelahi, Sensei." adu seorang siswa yang sedari tadi berdiri diam, menyaksikan perkelahian keduanya dari tempatnya berada.
Sasuke masih terus memberontak. Amarahnya tidak kunjung reda, sekalipun saat ini wali kelasnya ada disana. Pemuda itu bahkan menatap tajam kearah Shikamaru yang tengah berdiri dihadapannya. "Minggir kau, Shika!" desis Sasuke tajam.
Shikamaru bergeming, tidak terpengaruh dengan tatapan maut putera bungsu Fugaku itu. "Aku bilang minggir, bangsat!" teriaknya lagi. Sasuke benar-benar dikuasai emosi saat ini, dan Shikamaru cukup tahu diri untuk menjaga jarak aman. Bisa sangat merepotkan jika Ia juga kena bogem metah dari Sasuke.
"Bisakah kau tenang, Sas?" tanya Shikamaru tenang.
"Aku akan tenang jika sudah melenyapkan si brengsek itu."
Kepala Neji mendadak terasa pusing, apa Sasuke sadar, jika yang ingin sekali Ia lenyapkan itu adalah sahabatnya sendiri. "Semuanya bisa dibicarakan dengan baik-baik, Sas. Tidak perlu dengan kekerasaan seperti ini." ujar Kiba. "Gaara itu sahabat kita. Sahabatmu." lanjut Kiba.
"Dia bukan sahabatku." ucap Sasuke datar. Gaara masih diam ditempatnya sama sekali tidak bereaksi ataupun memberikan pembelaan. Ino menatap prihatin kearah Gaara, wajah tampan itu sudah penuh luka memar. Pasti sakit, batin gadis Yamanaka itu kala melihat sudut bibir Gaara mengeluarkan darah.
Beberapa saat kemudian Sasuke mulai diam, pemuda itu sudah tidak memberontak lagi. Tapi baik Neji maupun Kiba, mereka berdua masih belum melonggarkan pegangan mereka dari Sasuke. "Lepaskan aku!" perintah Sasuke.
Neji dan Kiba saling pandang. Bingung. Mereka masih was-was, bagaimana jika Sasuke tiba-tiba mengamuk dan kembali menyerang Gaara. Shikamaru memandang keduanya, mengisyaratkan jika mereka bisa melepaskan Sasuke. Sasuke menepis kasar kedua tangan sahabatnya dari lengannya. Pemuda itu menatap datar Gaara yang berdiri dibelakang Shikamaru.
"Urusan kita belum selesai, Gaara." ucapnya setelah itu Ia melangkah pergi, tapi sebelum bernarbenar menghilang dari pandangan semua orang. Sasuke memukul dinding koridor dengan keras. Mereka terlonjak kaget. Dinding yang terbuat dari kayu itu hancur, menyisakan lubang yang Sasuke buat. Sasuke dan amarahnya benar-benar mengerikan, begitu pikir mereka.
.
.
.
.
Pagi itu berita tentang perkelahian antara Sasuke dan Gaara menjadi buah bibir. Naruto yang tidak tahu menahu tentang perkelahian malam itu, melangkah begitu santai. Ia hendak menemui sahabat-sahabatnya, ketika sepasang iris sapphirenya menangkap sosok Sasuke yang tengah berjalan menuju pintu keluar penginapan.
"Sasuke," panggilnya seraya mengejar pemuda Uchiha itu.
"Sasuke tunggu!" serunya saat langkah kaki Sasuke kian menjauh. Gadis pirang itu meraih lengan Sasuke, menariknya pelan. Sasuke menoleh, memandang datar gadis dihadapannya.
"Mau pergi kemana, Sasuke?" tanyanya sembari tersenyum.
"Bukan urusanmu," jawab Sasuke ketus. Naruto mengerjapkan kedua matanya. Ada apa dengan Sasuke? tanyanya. Tidak biasanya pemuda itu bersikap begitu padanya.
"Ada apa, Sasuke?" tanya gadis itu. Sasuke sama sekali tidak berminat untuk menjawab pertanyaan gadis itu. Ia masih dikuasai oleh emosi saat ini. Naruto menatap bingung pemuda dihadapannya itu, saat tanpa sengaja kedua matanya melihat kearah punggung tangan kanan Sasuke.
Gadis itu menarik cepat tangan Sasuke. "Kenapa bisa terluka seperti ini, Sasuke?" tanyanya. Bukannya menjawab, Sasuke malah menepis kasar tangan Naruto.
"Pergilah. Jangan menggangguku." ucapnya datar kemudian melangkah pergi entah kemana. Naruto menatap punggung tegap itu sendu. Gadis itu mengigit pelan bibir bawahnya, kenapa Ia merasa sakit saat Sasuke bersikap kasar seperti itu padanya.
.
.
.
Hari sudah siang, Anko memerintahkan semua muridnya untuk berkumpul di ruang makan. Mereka akan makan siang terlebih dahulu sebelum tiga jam lagi bertolak menuju Tokyo. Sasuke melangkah masuk ke dalam ruang makan. Pemuda itu menarik salah satu kursi kosong dan mendudukan dirinya disana. Gaara duduk disamping Shikamaru, pemuda itu sudah mendapatkan perawatan untuk lukanya. Naruto melirik kearah Sasuke, gadis itu sama sekali tidak berselera dengan makanan dihadapannya. Hubungannya dengan Gaara sedang tidak baik, Sasuke juga tidak bersikap ramah padanya hari ini. Bahkan ketika mereka berpapasan di koridor penginapan, Sasuke berjalan begitu saja. Melewatinya tanpa sedikitpun melirik kearahnya.
Sasuke bangkit dari kursinya, beberapa pasang mata menatapnya. Pemuda itu melangkah keluar dari ruang makan. Ia hanya memakan setengah nasi dan lauk miliknya. Beberapa menit kemudian Naruto pamit undur diri, gadis itu juga tidak menyentuh makanannya sampai habis.
Naruto tampak celingukan, Ia sedang mencari Sasuke. Ditangannya terdapat sebuah kotak obat. Tadi di ruang makan, Ia sempat melihat luka ditangan Sasuke. Luka itu masih belum diobati.
"Sasuke," panggilnya saat melihat pemuda itu tengah duduk bersandar dibawah pohon ek. Sasuke tidak berniat untuk membuka matanya, emosinya masih sangat labil saat ini. Melihat wajah Naruto membuatnya teringat kejadian malam itu. Shit! umpat Sasuke.
"Lukamu belum diobati 'kan? Sini, aku akan mengobatinya," ucap Naruto seraya meraih tangan Sasuke dan menaruhnya dipangkuannya. Naruto mengoleskan salep dipunggung tangan Sasuke. "Ini bisa saja infeksi jika kau tidak mengobatinya, Sasuke." ucap Naruto lagi.
Dengan telaten gadis itu merawat luka Sasuke. "Kenapa kau bisa melukai dirimu sendiri, Sasuke?" tanyanya. "Kau ini ceroboh seka-"
"Diamlah! Aku sudah menyuruhmu menjauh, bukan? Kenapa kau tidak juga mengerti?" Sasuke berkata ketus. Bukan keinginannya untuk bersikap seperti ini kepada Naruto. Salahkan saja kontrol emosinya yang mendadak bobol saat berhadapan dengan gadis pirang itu.
"Aku hanya bersikap baik padamu, Sasuke! Kenapa kau sampai sebegitu marahnya padaku?" tanya Naruto tidak kalah sengit. Dia tidak tahu apa kesalahaannya sampai Sasuke terlihat begitu marah jika melihatnya.
"Pergilah."
"Tidak! Katakan dulu apa kesalahaanku, baru aku akan pergi."
"Aku tidak ingin membahasnya. Sekarang pergilah."
"Aku tidak mau."
"Pergi, Naruto! Atau aku bisa bertindak diluar batas padamu."
"Lakukan saja!" tantang Naruto.
"Naruto!"
"Apa?!"
"Aku bilang pergi!"
"Dan apa kau tuli, huh?! Aku berkata dengan sangat jelas. Aku akan pergi jika kau memberitahukan apa kesalahaanku hingga kau semarah ini padaku!"
Sasuke tidak bisa menahan emosinya lagi. Naruto benar-benar mengujinya. Ia hampir saja lepas kendali kalau saja akal sehatnya tidak memperingatkannya. Sasuke mengerang, pemuda itu menonjok pohon disebelahnya, membuat luka yang tadi Naruto obati kembali berdarah. Naruto berjengkit kaget.
"Oke, fine. Aku pergi. Kau puas sekarang?" ucap Naruto seraya melangkah pergi. Tapi beberapa menit kemudian gadis itu kembali. Ia melempar kotak obat yang Ia pegang itu tepat dibawah kaki Sasuke.
"Obati lukamu itu." ucapnya sebelum akhirnya benar-benar pergi. Meninggalkan Sasuke yang tengah mengumpat kasar.
.
.
.
.
Naruto menghembuskan nafasnya panjang. Sasuke begitu menyebalkan hari ini. Pemuda itu marah tanpa alasan padanya. Naruto memandang nanar danau dihadapannya. Gadis itu tampak melamun, ditangannya tergenggam sebuah kalung berbandul permata hitam. Gadis itu berdiri dipinggir dermaga. Sakura, Ino dan Hinata menghampiri gadis pirang itu.
Ino menepuk kuat bahu Naruto. Membuat gadis itu terkejut dan tanpa sengaja menjatuhkan kalungnya. "Kalungku." pekik Naruto.
Ino yang merasa bersalah langsung meminta maaf. "Maaf, Naruto. Aku benar-benar tidak sengaja."
"Tidak apa-apa, Ino." ucapnya menutupi rasa panik. Kalung itu sangat berharga baginya, Ia harus menemukannya.
"Aku akan akan mengambilkannya untukmu," ujar Ino cepat saat dilihat ada raut panik diwajah gadis Uzumaki itu.
"Tidak perlu, Ino. Aku akan mengambilnya sendiri." sahut Naruto.
"Danau ini sangat dalam, Naruto. Apa kau yakin?" tanya Sakura.
"Aku yakin." ucap Naruto. Gadis itu sudah melepaskan alas kakinya. Mengikat rambutnya dan melepas sweater yang Ia kenakan.
"Hati-hati, Naru." ujar Hinata.
Naruto melompat ke dalam danau. Gadis itu menyelam mencari kalung miliknya. Beberapa kali Naruto naik ke permukaan, menghirup oksigen kemudian kembali menyelam.
Naruto menyelam semakin dalam, kedua matanya menangkap kilauan. Gadis itu semakin berani untuk menyelam semakin dalam. Tangan itu meraih benda berkilau itu, senyum terukir diwajahnya saat kalung itu sudah berada ditangannya.
Naruto hendak berenang ke permukaan saat dengan tiba-tiba sebuah bongkahan kayu yang terbawa arus air danau menghantam kepalanya. Naruto mengerjabkan kedua matanya, pandangannya mulai kabur. Tubuhnya terasa lemas, Ia tidak punya tenaga untuk naik ke permukaan. Naruto menutup mulutnya. Dia kehabisan oksigen. Rasa panik menerpanya. Dia berusaha naik ke permukaan, mendorong tubuhnya dengan paksa. Dia harus bisa.
Sedang diatas permukaan Sakura, Ino dan Hinata tampak khawatir. Sudah beberapa menit berlalu namun Naruto masih belum naik ke permukaan juga. "Bagaimana ini, Sakura? Naruto belum muncul-muncul juga." ujar Ino panik.
"Kita tunggu satu menit lagi. Kalau Naruto masih belum naik ke permukaan, kita cari bantuan."
Satu menit berlalu, ketiganya tampak semakin cemas. "Hinata kembalilah ke penginapan. Cari Anko Sensei atau siapapun yang bisa kau mintai bantuan." ucap Sakura sedang Hinata sudah berlari cepat menuju penginapan.
Naruto merasa kepalanya semakin terasa berat. Darah mulai keluar dari luka akibat hantaman bongkahan kayu tadi. Pandangannya kian mengabur. Dadanya terasa sesak seiring dengan pasokan oksigen yang kian menipis. Ibu..Ayah, jeritnya dalam hati.
.
.
Hinata menerobos pintu begitu saja, matanya tampak jelalatan. Dimana Anko Sensei? tanyanya dalam hati. Kenapa disaat seperti ini guru muda itu malah tidak kelihatan.
Sasuke masuk ke dalam penginapan saat Hinata tengah berbicara dengan wali kelasnya beserta juga Neji, Shikamaru, Kiba dan Gaara. "Naruto tenggelam di danau, Sensei." ucap Hinata panik. Gadis itu bahkan kesulitan berbicara karena mulai menangis dan terisak.
"Apa?" Menma yang baru saja muncul dan mendengar berita itu mendadak lumpuh. Gelas berisi jus itu sudah jatuh. Rasa panik, cemas dan takut menggerogotinya saat ini.
Mata Sasuke membulat seketika, dengan cepat Ia berlari keluar dari dalam penginapan. Sial! Kenapa jadi begini, umpatnya dalam hati.
.
.
Ino sudah mulai menangis. Gadis itu bahkan hendak melompat ke danau dan mencari Naruto kalau saja Sakura tidak menghalanginya. "Ini semua salahku. Ini semua salahku." ucapnya menyalahkan diri.
"Naruto!" teriak Sakura. "Naruto!" teriak gadis itu lagi.
Gadis itu semakin panik. Hinata belum juga kembali dan Naruto tidak memberikan tanda-tanda akan naik ke permukaan. "Naruto! Apa kau mendengarku?" teriak Sakura lagi.
Sasuke mengatur deru nafasnya yang tidak beraturan. Pemuda itu melihat ke sekeliling danau. "Sudah berapa lama Naruto di dalam air?" tanya Sasuke. Sakura menatap pemuda itu. "Sekitar lima menit." cicit Sakura.
Pemuda itu melompat ke dalam danau. Air danau begitu terasa dingin di kulitnya. Sasuke menyelam, mencari keberadaan Naruto. Pemuda itu beberapa kali naik ke permukaan, kemudian menyelam kembali. Dimana kau, Naruto? tanyanya mulai frustasi.
Anko datang bersama dengan para siswa. Neji melangkah menghampiri Sakura. "Apa Naruto sudah ditemukan?" tanyanya.
"Sasuke masih mencarinya,"
"Ini semua salahku, kalau saja aku tidak mengejutkannya. Naruto tidak akan menyelam dan mencari kalung yang terjatuh di danau itu." ucap Ino. "Kalau terjadi sesuatu padanya, akulah orang yang pantas disalahkan." Ino berujar lagi. Air mata gadis itu sudah mengalir deras.
Menma menepuk pelan bahu gadis Yamanaka itu, "Naruto akan baik-baik saja. Tenanglah." ucapnya.
.
.
Keluarga Namikaze tengah menikmati liburan di villa pribadi mereka. Naruto kecil tampak senang. Sebab Ia bisa bermain sepuasnya di pinggir pantai. Gadis kecil itu bahkan sudah merancang kegiataannya jauhjauh hari, Ia akan bermain pasir, membuat menara pasir, mengubur diri di pasir, bermain bola, berenang, atau hanya sekadar menikmati sebutir air kelapa di tepi pantai. Wah! Dia semakin tidak sabar untuk segera sampai di villa.
Gadis kecil itu berlari penuh semangat memasuki villa. "Jangan berlarian seperti itu, sayang." ucap Kushina. Puteri kecilnya itu selalu saja bersemangat.
"Ibu, ayo kita ke pantai. Ayo! Ayo Ayo!" ajak gadis kecil itu. Minato menggeleng pelan, pria itu menyeret koper dan menaruhnya di dekat pintu ruang tamu.
"Ayah," seru Naruto.
"Ada apa, sayang?"
"Apa Naru boleh main di pantai sekarang?" tanyanya. Kedua bola mata besarnya berkedip lucu. Minato menggendong sang puteri, kemudian mendaratkan beberapa kecupan di pipi gembil sang anak.
"Ayah-hahaha-geli."
"Naru harus meminta ijin Ibu dulu, nee." perintah Minato yang dibalas anggukan kepala oleh puterinya. "Nah, sambil menunggu Ibu, bagaimana jika kita melihat kamarmu dulu?" saran Minato.
"Okay. Let's go, sweety," ucap Naruto lantang. Minato tertawa pelan, puterinya itu mudah sekali meniru gaya ucapan orang-orang disekitarnya. Dari mana puteri kecilnya itu belajar bahasa orang dewasa seperti itu. Dia harus memberitahukan istrinya perihal ini. Meminta istrinya untuk menjaga ucapan para pelayan di kediamannya.
Minato mendudukan puterinya diatas ranjang. Mereka sudah berada di kamar rahasia milik Naruto. Kamar rahasia, huh? Bagaimana bisa menjadi kamar rahasia, jika semua anggota keluarganya saja sudah tahu mengenai kamar ini.
Naruto kecil tampak berguling-guling diatas tempat tidur. Gadis kecil itu meraih boneka rubah kesayangannya, kemudian memeluknya erat. Boneka itu pemberian kakak laki-lakinya. Hadiah keberhasilan karena Ia bisa menyelesaikan rubik dalam waktu tujuh hari.
Minato yang baru saja kembali dari lantai bawah, tersenyum lembut kala melihat puteri kecilnya sudah tertidur diatas ranjang. Gadis kecil itu tertidur dengan memeluk boneka kesayangannya. Minato melangkah pelan menuju ranjang. Pria itu membenarkan posisi tidur sang puteri, kemudian menutupi tubuh mungil itu dengan selimut. "Have a nice dream, sweety." ucapnya pelan lalu mengecup dahi itu sayang.
.
.
.
Naruto terbangun saat jam makan malam akan tiba. Gadis kecil itu menuruni tangga dengan pelan. Tangan munggilnya menggosok sebelah matanya. Sesekali Naruto menguap. Gadis itu menyeret boneka rubah besarnya, kaki kecilnya melangkah menuju ruang televisi. "Ayah," panggilnya serak khas seperti orang bangun tidur.
"Kau sudah bangun, sayang." ucap Minato. Naruto menghampiri sang Ayah yang tengah menonton televisi. Gadis kecil itu naik ke atas sofa kemudian bergerak menuju pangkuan sang Ayah. Naruto menguap.
"Masih mengantuk, hm?" tanya Minato yang dibalas anggukan lemah oleh puterinya.
"Kau mau Ayah mengantarmu kembali ke kamar?" tanya Minato lagi. Naruto menggelengkan kepalanya pelan. Gadis kecil itu memeluk leher kokoh sang Ayah, sedang boneka rubahnya sudah jatuh begitu saja di lantai.
"Naru tidak mau ke kamar, tapi Naru masih mengantuk, Ayah," sahutnya pelan. Dahi Minato mengernyit dalam.
"Kenapa begitu, sayang?"
"Naru lapar, Ayah. Perut Naru sudah bunyi sejak tadi."
Kushina datang menghampiri suami dan puterinya itu. Wanita itu mengecup puncak kepala sang puteri dengan sayang. "Kau sudah lapar, sayang?" tanyanya. "Ibu sudah membuatkan sup kesukaanmu."
Naruto menoleh kearah sang Ibu. Mata bulatnya mengerjap lucu. Surai warisan dari sang Ayah tampak berantakan. Gadis kecil itu menguap lagi. "Puteri Ibu masih mengantuk, rupanya." komentar Kushina.
"Ayo, basuh wajahmu dulu, sayang. Setelah itu kita akan makan malam." ajak Kushina seraya memindahkan tubuh Naruto dari gendongan suaminya.
.
.
Naruto mengunyah pelan makanannya. "Besok Naru mau main di pantai, Bu. Boleh ya?" pintanya.
Kushina tersenyum hangat, "tentu saja boleh, sayang. Tapi ingat, jangan main terlalu jauh."
"Siap laksanakan, Kapten!" serunya meniru gaya sang kakak lakilaki ketika memberi hormat kepada atasannya.
.
.
Pagi harinya, Naruto kecil sudah bersiap-siap. Walaupun pantai itu tepat berada di depan villa milik keluarganya, Ia harus meminta ijin terlebih dahulu sebelum pergi. Naruto hendak berlari menuju pantai saat sosok yang begitu dikenalnya muncul dari balik pintu bersama dengan Ayahnya.
"Kak Kyuu!" serunya seraya berlari menghampiri tubuh tegap berbalut seragam kepolisian itu.
Naruto kecil nampak begitu senang hari ini, pasalnya sang Kakak sudah berjanji akan membawanya naik kapal bersama dengan ketiga sahabat Kakaknya yang lain. Naruto duduk disalah satu pangkuan teman Kakaknya. Seorang pemuda tampan berambut merah bata bersama Sasori.
"Nah, Naru-chan. Duduklah disini sebentar yaa. Kakak ada panggilan telepon. Jangan dekat-dekat dengan bibir kapal, nee." ujar Sasori.
"Baik, Kapten!" seru gadis kecil itu.
Sasori mengacak surai pirang itu gemas, "gadis pintar." pujinya seraya melangkah menuju sisi lain bagian kapal.
Awalnya Naruto hanya main di tengah kapal, tapi kelamaan gadis kecil itu mulai mendekat ke bibir kapal. Semuanya terjadi begitu saja, tubuh gadis kecil itu terjatuh ke laut. Naruto terlalu terkejut, Ia bahkan tidak bereaksi apapun. Tubuh mungil itu sudah jatuh terlalu dalam ke laut.
Sasori melotot horor. Ponselnya jatuh dari genggamannya. "Naruto!" serunya kencang. Sedang Kyuubi berlari kesetanan dari dalam kapal. "Naruto!" teriaknya dan dalam hitungan detik putera sulung Minato itu sudah melompat ke laut. Menarik tubuh mungil itu keluar dari dalam air.
.
.
.
Kedua mata itu terpejam, bayangan peristiwa dua belas tahun silam itu mendadak muncul begitu saja Naruto sudah tidak dapat merasakan apa-apa lagi. Ia sudah mengigil, suhu di dalam danau begitu dingin. Gadis itu bahkan sudah tidak sadarkan diri saat Sasuke menarik tubuhnya naik ke permukaan. Wajah gadis itu sudah sepucat mayat saat Sasuke menaruh tubuhnya diatas tanah di pinggir danau.
Pemuda itu menekan dada Naruto. "Ayo bangun, Naruto!" perintahnya. Semua orang panik. Menma bahkan ikut membantu Sasuke untuk menyadarkan gadis pirang itu. Pemuda jangkung itu menggosok-gosokan telapak kaki Naruto. Menyalurkan kehangatan di tubuh yang sudah begitu dingin itu.
"Bangun, Naruto!" seru Sasuke. Rasa takut menyergapnya. Gadis pirang itu bahkan tidak menunjukkan tanda-tanda untuk sadarkan diri.
"Bangunlah, Dobe. Jangan membuatku takut seperti ini," ujar Sasuke, tanpa sadar setitik air mata turun. Sakura dapat dengan jelas melihatnya, dia berada tepat dihadapan pemuda itu. Gadis itu sedang menggosok-gosokan telapak tangan Naruto.
Kiba mengernyit dalam, kenapa tanah dibawah kepala Naruto berwarna merah. Pemuda itu melotot saat menyadari sesuatu. "Darah," ucapnya parau.
"Kepala Naruto mengeluarkan darah, Sas." ujarnya pada Sasuke. Sasuke langsung melihat kearah yang ditunjuk Kiba dan benar saja, darah mengalir deras dari sana.
Sasuke dengan sigap membuka kaus yang Ia kenakan, lalu menutup luka itu untuk mencegah darah semakin banyak keluar.
"Sebaiknya kita segera membawa Naruto ke rumah sakit." saran Shikamaru.
"Kau benar, Shika." Neji menyetujui usul pemuda Nara itu. "Apa disini ada balai pengobatan, Sensei?" tanyanya.
Anko yang terlalu terkejut dengan kejadian yang menimpah salah satu anak didiknya itu hanya bisa mengangguk lemah.
Sasuke menggendong tubuh Naruto, membawa gadis itu menuju mobil. Mereka harus cepat menuju balai pengobatan sebelum segala sesuatunya menjadi terlambat. "Bertahanlah, Dobe." ujarnya pelan.
"Sensei akan mengantar kalian kesana," usul Anko. Guru muda itu langsung masuk dan duduk di kursi penumpang. Sasuke berada di jok belakang dengan Naruto didekapannya. Menma ikut serta dengan mereka. Pemuda itu duduk dengan gelisah disamping Anko.
"Bertahanlah," ujar Sasuke seraya menggosok-gosokan telapak tangan Naruto. Pemuda itu bahkan tidak peduli dengan keadaannya sendiri. Dia sudah bertelanjang dada begitu, belum lagi celananya yang sudah basah. Dia bisa saja terkena flu setelah ini.
.
.
.
Naruto sudah mendapatkan perawatan. Luka dikepalanya juga sudah ditangani. Sasuke terduduk begitu saja diatas lantai. Perkataan dokter tadi masih terngiang di kepalanya.
"Syukurlah kalian membawanya tepat waktu. Kalau terlambat beberapa menit saja, nyawa gadis itu pasti sudah melayang."
Sasuke tidak tahu akan jadi seperti apa jika mereka telat membawa gadis itu ke sini. Naruto meninggal? Bahkan kata-kata itu saja tidak pernah terlintas sedikitpun di kepalanya.
Menma melangkah menuju kearah Sasuke. Putera tunggal dokter Smith itu mendudukan diri disamping Sasuke. Ia menyerahkan sebuah paper bag berisi pakaian dan segelas teh hangat kearah Sasuke.
"Arigatou," sahut Sasuke yang dibalas gumaman tidak jelas dari Menma.
Sejenak keduanya saling diam. Sibuk akan pemikiran masing-masing. "Naruto beruntung memiliki seseorang sepertimu, Sas." ucap Menma tiba-tiba.
"Kau ada disaat Naruto memerlukan bantuan," ucapnya lagi sembari melirik kearah Sasuke. "Aku tidak bisa membayangkan malapetaka apa yang akan terjadi padanya, jika kau telat membawanya keluar dari air."
"Aku rasa-" Menma memberi jeda diperkataanya. "-aku mulai bisa mempercayaimu untuk menjaganya, Uchiha." ucapnya lagi. Sasuke melirik Menma melalui ekor matanya. Ujung bibirnya tertarik keatas.
.
.
.
Sasuke sedang berada di ruang perawatan Naruto ketika Sakura hendak masuk dan melihat keadaan gadis pirang itu. Sakura mengurungkan niatnya untuk masuk kala di dengarnya suara penuh kekhawatiran dari Sasuke.
"Kau benar-benar membuatku cemas, Naru. Aku ketakutan sekali saat melihatmu sama sekali tidak bergerak. Dokter bilang, jika aku tidak membawamu tepat waktu. Kau bisa -" suara Sasuke tercekat, dia tidak bisa melanjutkan kalimatnya.
"Berhenti membuatku khawatir, bodoh. Kau tidak tahu betapa takutnya aku kehilanganmu."
Sakura yang mengintip dari balik pintu hanya bisa diam. Hatinya benar-benar kacau saat ini. Lelaki yang Ia sukai ternyata mengkhawatirkan gadis lain. Sakura menarik nafas dalam, air matanya bisa tumpah kapan saja. Gadis itu menarik knop pintu lalu menutup pintu itu dengan sangat pelan. Dia tidak sanggup lagi mendengar perkataan Sasuke.
Gadis itu hendak pergi saat Menma muncul dihadapannya. "Kenapa tidak masuk, Sakura?" tanyanya.
"A-ada Sasuke di dalam. Tidak nyaman rasanya jika aku juga berada disana." ucap gadis itu seraya tersenyum paksa. "Lagipula, aku hanya ingin mengembalikan ini,"
Sakura meraih tangan Menma kemudian menaruh kalung berbandul permata hitam itu diatas telapak tangan Menma. "Aku menemukannya di pinggir danau. Mungkin itu tidak sengaja terjatuh saat Sasuke menolong Naruto tadi." terangnya.
"Ah! Terima kasih, Sakura. Naruto pasti sangat senang jika tahu kalungnya sudah kembali."
"Kalau begitu aku akan kembali ke penginapan. Satu jam lagi kami akan pulang ke Tokyo."
"Baiklah, hati-hati dijalan. Kami juga akan segera berangkat. Keluarga Naruto sudah menunggu di depan."
Sakura mengangguk, lalu melangkah pelan keluar dari balai pengobatan. Tanpa Ia sadari keluarga Naruto berjalan melewatinya. Kyuubi tampak panik saat tahu adiknya nyaris tenggelam di danau. Dia bahkan membatalkan rencana dengan ketiga sahabatnya dan langsung berangkat menuju Konoha.
"Bagaimana keadaan Naruto, Menma?" tanya Kyuubi.
"Naruto baik-baik saja, Kak. Dia hanya perlu beristirahat." terang Menma.
Kyuubi menghembuskan nafas lega, "syukurlah. Kalau begitu aku akan mengurus biaya administrasi, setelah itu kita akan membawa Naruto kembali ke Tokyo."
.
.
.
Kediaman Uzumaki, tiga hari setelah kecelakaan di danau
Naruto menoleh kearah pintu kamarnya. Senyumnya merekah saat melihat Sasuke berdiri diambang pintu. "Masuklah, Sasuke." perintahnya. Sudah tiga hari ini Ia berada di rumah. Sang Kakak memintanya untuk beristirahat selama beberapa hari dahulu, mengingat luka di kepala gadis itu masih belum kering.
Sasuke duduk dipinggir tempat tidur. Tangannya terulur, mengelus surai pirang itu lalu menyentuh perban yang berada dibelakang kepala Naruto. "Bagaimana keadaanmu, Naru?" tanyanya.
Naruto tersenyum kecut membuat Sasuke mengernyit bingung. "Kenapa?" tanya Sasuke heran.
"Kau selalu menanyakan hal yang sama selama tiga hari ini, Sasuke." ucapnya. "Dan seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja."
"Hn." gumam Sasuke. Pemuda itu masih terus mengelus surai pirang gadis itu. "Maaf sudah bersikap kasar padamu kemarin," ujarnya pelan.
"Aku sudah memaafkanmu, Sasuke."
Sasuke tersenyum hangat, "mau jalan-jalan?" tawar Sasuke.
.
.
.
Hari sudah menjelang petang saat Naruto dan Sasuke sampai di taman. Keduanya duduk disalah satu bangku, Naruto mengedarkan pandangannya kesekeliling. Entah kenapa Ia seperti tidak asing dengan taman ini. Pohon maple yang daunnya berguguran, beberapa burung dara yang tengah makan tidak jauh dari tempatnya berada, bangkubangku taman yang terlihat sudah tua namun kokoh di waktu yang bersamaan, ayunan yang menimbulkan suara aneh yang entah mengapa terdengar begitu familiar ditelinganya.
Naruto merapatkan sweaternya, mendadak Ia merasa kedinginan. Sasuke melirik kearah gadis pirang itu. "Kau kedinginan?" tanyanya yang dibalas anggukan kepala oleh gadis itu. "Mau kubelikan minuman hangat?" tawar Sasuke. Naruto tidak bersuara, Ia hanya mengangguk sebagai jawaban.
Selepas kepergian Sasuke, Naruto melangkah pelan menuju salah satu pohon maple yang berada jauh dari pohon-pohon maple yang lain. Pohon maple itu seakan bersembunyi dari mata para pengunjung taman. Gadis itu menyentuh permukaan kulit pohon itu, entah mengapa sejak kedatangannya ke taman ini tadi. Pandangannya sudah jatuh kepada eksistensi pohon maple yang berdiri kokoh dihadapannya ini.
Gadis itu tersenyum saat tanpa sengaja tangannya menyentuh sebuah ukiran sederhana. "Dobe?" ucap Naruto pelan. "Siapa yang mengukir kata kurang ajar begini di tubuhmu, huh?" tanyanya pada sang Pohon. Puteri mendiang Kushina itu berjalan mengelilingi pohon maple itu, tangannya masih menyentuh permukaan kulit pohon itu.
.
.
"Kenapa datang terlambat, Suke? Naru sudah menunggu sejak tadi disini."
"Maaf, Ibu butuh bantuan sedikit di dapur."
"Baiklah, Naru memaafkanmu kali ini. Tapi ingat, jika Suke terlambat lagi. Naru akan ngambek."
"Ngambek saja sana. Dasar bocah!"
"Jangan mengatai Naru bocah! Naru sudah besar, tahu!"
"Benarkah? Kau saja masih sering menangis kalau aku tinggal,"
"Tidak! Naru tidak menangis kok."
"Coba buktikan?"
.
.
"Suke! Suke! Suke!"
"Jangan berisik, Dobe!"
"Suke sedang apa? Kelihataanya seru sekali."
"Aku sedang sibuk. Jangan menggangguku!"
"Naru boleh ikut tidak menyusun puzzle-nya?"
"Tidak,"
"Lho, kenapa, Suke?"
"Karena kau sangat berisik. Aku tidak bisa konsentrasi kalau kau terus menggangguku."
"Naru tidak akan berisik dan tidak akan mengganggu Suke. Naru boleh ikut, ya?"
"Tidak."
"Naru janji Suke. Boleh, ya?"
"Ck! Terserah kau saja."
"Yey! Terima kasih Suke."
.
.
"Kenapa Suke suka sekali dengan tomat? Tomat itu 'kan rasanya asam."
"Karena aku tidak suka manis."
"Tidak suka manis? Jadi Suke juga tidak suka dengan Naru, begitu?"
"Apa maksudmu?"
"Suke bilang kalau Suke tidak suka manis. Bibi Mikoto pernah bilang, kalau Naru ini anak perempuan termanis di dunia. Ibu dan Nenek juga bilang begitu. Jadi, Suke benar-benar tidak suka dengan Naru. Naru ini 'kan manis."
"Dasar, Dobe."
.
.
"Kenapa kau menangis, Dobe?"
"Mereka tidak mau bermain dengan Naru. Mereka bilang, Naru hanya anak kaya yang manja dan cengeng. Jadi tidak pantas bermain dengan mereka."
"Mereka memang benar, Dobe. Kau itu anak manja dan juga cengeng."
"Suke! Kenapa berkata seperti itu?"
"Jika mereka tidak mau berteman denganmu. Biarkan saja. Kau tidak membutuhkan orang-orang seperti mereka. Kau masih punya aku. Jika mereka tidak mau, masih ada aku yang bersedia menjadi temanmu, Dobe."
.
.
Naruto memegangi kepalanya, mendadak Ia merasa pusing. Dua sosok anak kecil tiba-tiba menyeruak masuk begitu saja. Percakapan-percakapan antara kedua bocah itu berputar-putar seperti kaset rusak di kepalanya. Gadis itu jatuh terduduk begitu saja diatas tanah.
"Naruto," panggil Sasuke. Pemuda itu melangkah tergesa-gesa menuju gadis itu.
"Kenapa kau ada disini? Aku mencarimu sejak tadi." tanyanya penuh kekhawatiran.
"Bisakah kita pulang, Sasuke? Kepalaku terasa pusing." pintanya. Sasuke mengangguk pelan, kemudian membantu gadis itu untuk berdiri. Sasuke menuntun Naruto hingga tiba di mobil. Sesampai mereka di dalam mobil pemuda itu memasangkan self belt di tubuh Naruto dan juga pada dirinya sendiri, kemudian melajukan kendaraannya meninggalkan taman itu.
.
.
.
.
.
.
Naruto tampak gelisah di dalam tidurnya, sesekali gadis itu mengigau. Memanggil-manggil Ibu dan Ayahnya. "Jangan! Aku mohon hentikan. Aku mohon berhenti." pinta gadis itu lirih.
"Ibu! Ayah!" Naruto terbangun dari tidurnya. Peluh membasahi wajah gadis itu. Hembusan nafas itu naik turun. Mimpi itu lagi, batin Naruto.
Sudah beberapa bulan belakangan ini Ia sering mengalami mimpi aneh itu, dan selama seminggu ini pula, mimpi itu terus datang. Jika sebelumnya mimpi itu hanya berupa suara tangis bocah perempuan, kali ini mimpi itu terlihat lebih nyata. Di dalam mimpinya, Naruto melihat kedua orangtua-nya tewas tertembak. Darah menggenang membasahi jasad kedua orangtuanya. Deru suara pistol terdengar nyaring di telinganya, membuatnya takut.
"Itu hanya mimpi, Naruto. Hanya mimpi." ucapnya meyakinkan dirinya sendiri. Gadis itu membaringkan tubuhnya kembali. "Itu hanya mimpi," rapalnya. "Ya, hanya mimpi." ucap Naruto pelan. Kedua mata itu kembali terpejam seiring dengan suara nafasnya yang mulai teratur.
.
.
.
Hari berlalu begitu cepat. Tidak terasa sebentar lagi akan memasuki musim dingin. Matahari bersinar malu-malu siang ini. Beberapa siswa tampak keluar dari ruang ganti. Mata pelajaran ketiga hari ini adalah olahraga. Pak guru Guy sudah mengintrupsikan kepada murid-muridnya untuk menunggunya di area tembak. Guru eksentrik itu membimbing murid-muridnya untuk berbaris. Hari ini mereka akan belajar bagaimana caranya menembak dan membidik sasaran dengan tepat dan benar.
Guru Guy sudah siap dengan absensinya, Ia akan memanggil satu persatu muridnya untuk mencoba. Ia sudah memberikan pengarahan kepada semuanya. Minggu lalu mereka juga sudah membahas teori tentang cara menembak dengan benar dan hari ini adalah praktiknya.
"Kudo Takeshi, Takeda Mori, Nakamura Ran, Kawachi Yuuri." seru Guy. Keempat siswa yang dipanggil melangkah maju. Berdiri diposisi mereka masing-masing. "Jangan menembak sebelum Sensei memberikan aba-aba!" tegas Guy yang dibalas anggukan mantap keempatnya.
"Bersedia! Siap! Tembak!" Guy berucap lantang.
Dor!
Dor!
Dor!
Dor!
Naruto memejamkan kedua matanya erat. Gadis itu bahkan secara refleks menutup kedua telinganya. Suara pistol itu mengingatkannya akan mimpinya. Naruto mengepalkan kedua tangannya yang bergetar kuat itu. Gadis itu melangkah mundur secara perlahan, hingga Ia secara tidak sengaja terjatuh di kursi dibelakangnya. Gadis itu terdiam ditempatnya. Suara pistol kembali terdengar di telinganya, membuatnya nyaris berteriak kalau saja Ia tidak ingat jika Ia tengah berada di area tembak.
Waktu berlalu cepat, tersisa empat murid lagi yang belum dipanggil oleh guru Guy. Mereka adalah; Sasuke, Naruto, Gaara dan Sakura. Menma menepuk pelan bahu Naruto, "sekarang giliranmu, Naruto." ucapnya.
Naruto melangkah ragu menuju posisinya. Gadis itu meraih pistol, mengangkatnya, mengarahkannya ke titik sasaran yang berada jauh dihadapannya itu. Naruto berusaha kuat untuk mengendalikan reaksi tubuhnya. Gadis itu menghembuskan nafasnya panjang. Kau pasti bisa, Naruto, batinnya.
Sesuai dengan aba-aba dari Guy keempatnya akan menembak secara bersamaan. "Bersedia! Siap!..."
Naruto memejamkan matanya, seketika itu peristiwa kematian kedua orangtua-nya berputar jelas didalam kepalanya. Bagaimana Ayahnya melindunginya, menjadikan tubuhnya tameng untuk melindungi dirinya dari penjahat itu. Bagaimana Ayah dan Ibunya tewas tertembak di depan kedua matanya. Bagaimana Ia menangis didepan jasad kaku kedua orangtuanya. Darah. Suara pistol. Air mata. Wajah Ayah dan Ibunya. Pesan terakhir dari kedua orangtua-nya. Hari pemakaman mereka. Naruto dapat dengan jelas mengingat semuanya.
Naruto membuka paksa kedua matanya. Pistol yang tadi digenggamnya jatuh begitu saja. Gadis itu membisu di tempatnya. Guy dan yang lain tampak terkejut. Pandangan mereka terfokus pada satu titik. Naruto.
Tubuh gadis itu bergetar hebat. Naruto bahkan tidak sanggup untuk berdiri, Ia membiarkan saja tubuhnya jatuh terduduk. Air mata turun begitu deras dari pelupuk matanya, deru nafasnya memburu. "Naruto," panggil Sasuke. Pemuda itu hendak melangkah menghampiri Naruto saat dengan tiba-tiba gadis pirang itu berteriak.
"Aaarrgh! Hentikan! Aku mohon berhenti!" teriak Naruto seraya menutup erat kedua telinganya. Menma melangkah cepat kearah gadis itu. Pemuda jangkung itu, meraih bahu Naruto. "Ada apa, Naruto?" tanyanya bingung.
"Hentikan! Jangan! Aku mohon jangan lakukan itu!" suara Naruto kian meninggi. Air mata terus saja menetes, kepala bersurai pirang itu menggeleng kuat. "Tidak! Tidak! Tidak! Aku mohon berhenti."
Semua terlihat panik. Guy bahkan tidak tahu bagaimana cara menenangkan gadis itu. "Tenanglah, Naruto." ujar Menma. Seakan tidak mendengarkan perkataan Menma. Naruto terus saja berteriak. Gadis itu seperti takut akan sesuatu. Tangis itu terdengar pilu dan begitu menyedihkan. "Aku mohon berhenti. Jangan lakukan itu," suara Naruto memelan, tapi tubuhnya masih saja bergetar. Gadis itu kini memeluk kedua lututnya.
Kedua bola mata Menma membulat. Ia teringat akan percakapan dengan Ayahnya waktu itu.
"Ayah."
"Ya, nak."
"Kapan efek hipnoterapi itu akan menghilang?"
"Ayah tidak bisa memastikannya, Menma. Hipnoterapi itu akan cepat menghilang jika semakin sering seseorang itu berhubungan dengan masa lalulnya atau dengan hal yang bisa berkaitan dengan traumanya.
Semoga saja tidak. Semoga saja trauma itu tidak mucul kembali, Tuhan, batin Menma penuh rasa takut.
"Saya akan membawa Naruto ke ruang kesehatan, Sensei. Mungkin disana Ia bisa lebih tenang."
"Baiklah. Jika terjadi sesuatu dengannya, segera hubungi Sensei.
"Baik, Sensei."
Menma mengendong tubuh gadis yang masih bergetar itu. Kedua kaki jenjang miliknya melangkah keluar dari arena tembak. Sasuke menatap kepergian keduanya dalam diam. Kenapa Ia merasa ada yang tidak beres dengan Naruto?
Ruang kesehatan terletak jauh dari area tembak, dan itu membuat Menma harus melewati ruang guru, perpustakaan, ruang OSIS dan juga beberapa ruang ekskul lainnya untuk sampai kesana. Pemuda jangkung itu berjalan pelan disepanjang koridor dengan Naruto didalam gendongannya.
Tubuh gadis itu sudah tidak bergetar lagi, tapi isak tangisnya masih bisa ditangkap dengan jelas oleh Menma. "Menma," panggilnya.
"Ada apa?" tanya pemuda jangkung itu.
"Aku sudah mengingat semuanya. Aku mengingat kematian Ayah dan Ibu." terang Naruto lirih yang membuat langkah kaki Menma terhenti seketika. Dan yang ditakutkan oleh Menma pun terjadi.
To be Countinue
Pojok Suara:
Yey! Fiksi ini sudah berumur tiga tahun tepat ditanggal sepuluh Oktober kemarin #tebarbunga
Di chapter kali ini, saya menyuguhkan kilasan masa lalu Naruto. Begitu juga dengan beberapa percakapan antara Naruto dan Sasuke di waktu kecil. Agar pembaca tidak keliru. Saya beritahu, bahwa percakapan yang satu berbeda dengan yang lainnya yaa.
Dan seperti janji saya di chapter sebelumnya, dibagian part kedua ini Naruto sudah kembali mengingat semuanya. Dan setelah ini konflik yang sesungguhnya akan hadir #hohohoho
Hidup Naruto akan kembali saya buat jungkir balik #ketawanista
Otak dibalik terbunuhnya Minato dan Kushina sedikit demi sedikit akan terkuak.
Persaingan remaja akan mulai menemukan babak barunya. Cinta, ego, persahabatan, dilema. Semua akan tumpah ruah di chapter-chapter yang akan datang.
Review para pembaca sudah saya baca semuanya. Maaf tidak dibalas satu per satu. Saya senang kalian masih bersedia dan menyempatkan diri untuk membaca fiksi ini #nangisharu
Oke deh, sampai jumpa di chapter yang akan datang #kecupmanja
Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom review yaa #senyumlebar #kedipimut
Salam,
Sentimental Aquamarine
