Disclaimer : Naruto – Masashi Kishimoto
Pairing : SasuFemNaru
Rated : T
Warning : Gender Switch, OOC, Typos, Alur kecepatan dan lainnya
Genre : Hurt/Comfort, Family, Angst, Friendship, Romance
Summary : Naruto, gadis berparas cantik yang membenci satu hari di hidupnya. Saat semua orang bahagia ketika hari paling spesial di hidup mereka itu datang. Naruto justru sangat membencinya. Ya, dia sangat membenci hari ulang tahunnya. Sangat benci.
Special Gift for You
By
Sentimental Aquamarine
Chapter 20 : Hati yang Tersakiti Part 1
Chapter sebelumnya
Ruang kesehatan terletak jauh dari area tembak dan itu membuat Menma harus melewati ruang guru, perpustakaan, ruang OSIS dan juga beberapa ruang ekskul lainnya untuk sampai kesana. Pemuda jangkung itu berjalan pelan disepanjang koridor dengan Naruto didalam gendongannya.
Tubuh gadis itu sudah tidak bergetar lagi, tapi isak tangisnya masih bisa ditangkap dengan jelas oleh Menma.
"Menma," panggilnya.
"Ada apa?" tanya pemuda jangkung itu.
"Aku sudah mengingat semuanya. Aku mengingat kematian Ayah dan Ibu," terang Naruto lirih yang membuat langkah kaki Menma terhenti seketika. Dan yang ditakutkan oleh Menma pun terjadi.
Menma duduk menghadap Naruto yang tengah berbaring diatas tempat tidur. Pemuda jangkung itu memijit pangkal hidungnya, mendadak kepalanya terasa pusing.
"Dasar idiot," umpatnya pelan saat Ia ingat akan permintaan Naruto untuk tidak memberitahukan masalah ini kepada siapapun termasuk kepada keluarganya.
Pandangan Naruto menerawang, gadis itu menatap langit-langit ruang kesehataan dalam diam.
"Aku hanya tidak ingin membuat semuanya khawatir, Menma," sahut gadis pirang itu mencoba memberi pengertian.
"Lalu, apa kau pikir yang kau lakukan ini baik, huh? Kau malah akan membuat semuanya bertambah rumit, Naruto!" ujar Menma gemas.
Pemuda itu bahkan sudah bangkit dari tempat duduknya. Entah apa yang dipikirkan gadis itu hingga Ia memutuskan untuk tidak memberitahukan keluarganya perihal kembalinya traumanya itu.
"Aku tidak mau bergantung lagi dengan terapi, Menma. Aku akan mengatasi trauma-ku sendiri," lanjut Naruto.
"Apa kau sudah gila? Apa aku harus mengingatkanmu tentang kejadian di arena tembak tadi? Kau bahkan berteriak histeris saat melihat dan mendengar suara pistol, Naruto!" Menma berucap keras, untung saja saat ini ruang kesehatan sedang sepi, jadi tidak ada yang mendengar perdebatan keduanya.
"Akan jadi bahaya jika trauma-mu itu tidak segera diatasi, Naruto," kali ini suara Menma melembut.
"Kau harus kembali mendapatkan perawatan, dear."
"Tidak, Menma!" ucap Naruto masih keras-kepala. Gadis itu menatap tepat di kedua manik pemuda jangkung itu.
"Aku tidak mau menjalani terapi lagi. Biarkan aku mengatasi trauma-ku sendiri."
"Bagaimana jika tidak berhasil? Bagaimana jika kekeras-kepalaan-mu ini berakibat fatal untukmu?"
"Aku yakin semua akan baik-baik saja, Menma. Aku hanya butuh dukunganmu," ucap Naruto.
Menma hanya bisa diam, tidak tahu harus mengatakan apalagi. Naruto dan kekeras-kepalaannya benar-benar menyebalkan.
Menma memasuki kelas dengan santai. Kelas sedang sepi karena jam istirahat sedang berlangsung saat ini.
Ketika pemuda itu hendak melangkah menuju kursinya, Sasuke menahan pemuda jangkung itu.
"Ada apa dengan Naruto?" tanya Sasuke.
Menma menghela nafas berat. Si Uchiha ini! Apa dia tidak tahu aku sedang pusing, batinnya.
"Naruto baik-baik saja," dusta Menma. "Jika kau khawatir, temui saja dia. Aku rasa Hinata dan yang lainnya masih berada di ruangan kesehatan saat ini," lanjut pemuda itu.
Selepas kepergian Sasuke, Menma kembali melangkah, pemuda itu kemudian mendudukan diri diatas kursi. Helaan napas terdengar.
"Aku harap ini bukan keputusan yang salah," ucapnya pelan.
Ruang kesehatan tampak sepi saat Sasuke tiba disana, hanya ada Naruto yang terbaring diatas tempat tidur.
Gadis itu tengah tertidur, Sasuke melangkah mendekat kemudian menaruh bungkusan yang Ia bawa diatas meja di dekat tempat tidur.
Pemuda itu menarik kursi, kemudian mendudukan dirinya disana. Tangan Sasuke terulur, Ia menyentuh surai pirang itu, mengelusnya dengan penuh kasih sayang.
Naruto mengerang di dalam tidurnya. Kedua mata itu terbuka, dan pandangannya jatuh tepat diwajah tampan Sasuke.
Pemuda itu tersenyum, "kau sudah bangun?" tanyanya.
Naruto mengangguk lemah. Lama Ia memandangi wajah rupawan itu. Tangan kiri Naruto terulur, menyentuh permukaan kulit pucat Sasuke.
Sudah lama sekali Sasuke. Lama sekali sejak kau pergi. Bagaimana bisa aku melupakanmu begitu saja? Trauma itu membuatku lupa padamu, batin Naruto sendu.
"Ada apa?" tanya Sasuke saat Naruto sama sekali tidak bersuara.
"Nothing. Aku hanya ingin memandangimu lebih lama saja."
"Kau membuatku khawatir, Naruto. Sebenarnya ada apa? Kenapa kau berteriak seperti itu tadi?" tanya Sasuke, pandangan pemuda itu menyendu membuat Naruto merasa bersalah.
"Aku hanya takut," jawab Naruto parau.
Dia tidak berbohong, Ia memang takut, dan ketakutan itu membuatnya harus kembali mengingat traumanya.
"Suara pistol itu terlalu keras membuatku takut dan akhirnya aku berteriak seperti itu," dusta Naruto.
"Maaf sudah membuatmu dan yang lain menjadi khawatir karenanya," lanjutnya.
"Sudahlah tidak apa-apa, yang terpenting kau baik-baik saja," ujar Sasuke.
"Apa kau lapar? Aku membawakan roti melon dan susu kotak untukmu," lanjutnya.
Naruto mengangguk pelan dan setelahnya Ia memakan makanan yang dibawakan Sasuke untuknya.
Mereka berdua terlalu asyik sehingga tidak sadar, jika Sakura tengah berdiri diambang pintu masuk ruang kesehatan itu.
Gadis itu berlalu pergi seraya membuang bungkusan yang Ia bawa tadi ke dalam tempat sampah. Niat hati Ia ingin menemani Naruto di ruang kesehatan, dan menyuruh gadis pirang itu untuk makan siang, tapi sepertinya tidak perlu. Toh, Sasuke sudah ada disana dan mengurus Naruto dengan sangat baik.
Naruto terbangun dengan peluh membasahi tubuhnya. Ia baru saja bermimpi. Mimpi buruk yang sialnya adalah sebuah kenyataan. Kematian kedua orang tuanya. Ini sudah lebih dari satu minggu sejak insiden di arena tembak itu. Naruto semakin sering memimpikan peristiwa mengerikan itu.
Nafas gadis itu memburu, dengan tubuh bergetar gadis itu turun dari atas ranjang. Ia melangkah menuju meja belajarnya.
Naruto membuka laci meja itu dengan tergesa-gesa. Ia merogoh-rogoh isi laci itu dan menemukan apa yang tengah dicarinya. Sebuah botol kaca berukuran kecil berisi obat penenang.
Naruto kemudian kembali melangkah menuju tempat tidurnya, gadis itu duduk di tepian tempat tidur. Ia membuka tutup botol itu, menuangkan dua hingga tiga butir obat penenang diatas telapak tangannya. Dengan cepat Naruto memasukkan obat itu ke dalam mulutnya dan kemudian meraih gelas berisi air dan menenggakknya hingga habis.
Gadis itu terdiam, lalu membaringkan tubuhnya kembali ke atas ranjang. Ia memeluk kedua lututnya erat, meringkuk seperti janin. Tubuh itu bergetar, Naruto menangis dalam diam. Ketakutaannya membuatnya sama sekali tidak berkutik.
Hujan turun saat Sasuke dan Naruto sampai di sekolah. Sasuke turun dari dalam mobil kemudian disusul Naruto setelahnya. Keduanya berlari dengan saling bergandengan tangan. Naruto mengusap wajah Sasuke yang basah terkena air hujan dengan satu tangan miliknya.
"Rambutmu basah, Naruto," ucap Sasuke.
Naruto menyentuh rambutnya yang lepek terkena air hujan. "Ayo, ke ruang kesehatan! Aku akan mengeringkan rambutmu disana," ajak pemuda itu.
Naruto hanya bisa pasrah saja saat Sasuke menariknya menuju ruang kesehataan. Seulas senyum terkembang di bibir gadis pirang itu.
Kau tidak pernah berubah Sasuke. Tidak pernah berubah, batin Naruto.
Naruto duduk di tepian ranjang di ruang kesehatan, gadis itu menunggu Sasuke yang tengah mencari handuk kering di dalam lemari penyimpanan dengan sabar. Sesekali gadis itu tertawa kecil saat Sasuke menggerutu kesal.
"Dimana Shizune Sensei menaruh handuk itu?" tanya Sasuke mulai kesal saat tidak ditemukannya benda berbulu itu.
"Apa kau perlu bantuan, Sasuke?" tanya Naruto.
"Nope. Tetaplah disana, Naruto dan jangan coba-coba untuk turun! Aku yakin Shizune Sensei menaruhnya disini," sahut Sasuke cepat.
Beberapa menit kemudian Sasuke berhasil menemukan benda itu diantara tumpukan botol-botol dan kardus obat.
Pemuda itu lalu menghampiri Naruto, "berbaliklah, aku akan mengeringkan rambutmu!" perintah Sasuke.
Naruto mengangguk kemudian membalikkan tubuhnya, membiarkan Sasuke memulai tugasnya. Sasuke menggosok-gosokan handuk itu di permukaan surai pirang Naruto dengan lembut, setelah itu Ia menyisirnya dengan sisir yang kebetulan dibawa oleh gadis itu.
"Sudah selesai," ujar Sasuke.
Naruto kemudian membalikkan tubuhnya, menghadap Sasuke.
Gadis itu menyentuh surainya sebentar lalu tersenyum manis ke arah Sasuke.
"Arigatou, Suke," ucapnya seraya menatap dalam kedua iris gelap itu.
"Hn," balas Sasuke.
Sesaat mereka saling diam, menikmati keindahan dari iris mata yang begitu memikat itu hingga tanpa sadar Sasuke mencondongkan tubuhnya, mendekat ke arah Naruto.
Entah bisikan apa yang membuat keduanya memejamkan mata mereka bersamaan. Naruto bahkan tidak menolak saat lidah Sasuke menginvasi lidahnya atau saat Sasuke menarik tubuhnya untuk semakin dekat dengan pemuda raven itu.
Sungguh, Naruto sama sekali tidak menolak pemuda itu. Apa Ia mulai mencintai sahabat masa kecilnya ini?
Entah Tuhan tengah mengujinya atau apa, yang jelas Sakura benar-benar merasa sangat sial hari ini, setelah hampir terlambat datang ke sekolah dan berlari tergesa-gesa dari gerbang menuju kelasnya, lalu ditarik paksa oleh sahabatnya ke toilet yang lalu meninggalkannya begitu saja setelah bertemu dengan pujaan hatinya dan setelah itu ketika hendak menuju ke ruang kesehataan guna mengambil catatan persediaan obat yang di minta oleh Shizune Sensei, Ia malah mendapati pemuda yang disukainya sedang berciuman dengan sahabatnya sendiri.
Sakura bahkan tidak tahu, apa Ia bernapas atau tidak kala menyaksikan pemandangan itu.
Gadis itu hanya mampu berdiri bak patung di depan pintu ruang kesehatan dengan tangan kanan yang meremas kemeja sekolahnya dengan erat.
Gadis Haruno itu melangkah mundur, membalikkan tubuhnya dengan cepat, menjauhi ruang kesehataan itu.
Sakura berlari di sepanjang koridor sekolah, melajukan kedua kakinya entah kemana. Yang Ia tahu hanya satu; berlari menjauh. Tanpa Ia sadari, sebulir kristal jatuh begitu saja. Dia patah hati.
Hari berlalu begitu cepat, sejak kejadian di ruang kesehatan itu hubungan Sasuke dengan Naruto semakin dekat.
Keduanya bahkan secara terang-terangan menunjukan kemesraan mereka di khalayak ramai, membuat beberapa teman mereka sering menggoda keduanya.
Lain halnya dengan Naruto yang tampak bahagia dengan kedekataannya kembali dengan Sasuke. Sakura merasa tidak demikiaan, gadis pinky itu mulai menarik diri dari teman-temannya, Ia bahkan lebih memilih untuk menyantap bekal makan siangnya di kelas daripada harus bergabung dengan yang lainnya di cafetaria. Itu Ia lakukan supaya dirinya tidak perlu melihat kedekataan antara Naruto dan Sasuke yang membuat hatinya terasa ngilu.
"Apa Sakura baik-baik saja, Ino? Maksudku, apa dia mempunyai masalah, begitu?" tanya Naruto suatu hari.
Gadis itu merasa ada yang tidak beres dengan salah satu sahabatnya itu.
"Aku tidak tahu, Naruto. Sakura tidak bercerita apapun padaku," jawab Ino.
Gadis Yamanaka itu jelas berbohong, sebab Ia tahu penyebab mengapa sahabat dari masa taman kanak-kanaknya itu bersikap aneh akhir-akhir ini, walau Sakura tidak mengatakan apapun padanya dan Ino juga tidak berniat bertanya untuk saat ini.
Ino tahu, sangat tahu jika gadis penyuka warna pink itu tengah patah hati. Berita tentang kedekataan Sasuke dengan Naruto dan juga kabar burung yang mengatakan jika keduanya tengah berpacaran, itu pasti membuat perasaan Sakura hancur lebur.
Ino tidak ingin mengganggu sahabatnya itu untuk sekarang ini. Barangkali Sakura butuh waktu untuk menenangkan hati dan pikirannya, begitu pikir gadis itu.
Lagipula Ia juga tengah dipusingkan dengan urusan pribadinya. Sampai saat ini saja, Ia masih belum berhasil untuk mendekati Gaara.
Pemuda Sabaku itu entah mengapa seakan memasang tembok tak kasat mata, membuat Ino kesulitan untuk menarik atensi pemuda itu.
Gaara melangkah pasti menuju sosok yang sudah lama sekali tidak berbicara dengannya itu. Pemuda itu melajukan kedua kaki jenjangnya dengan penuh tekad. Sudah beberapa bulan ini Ia selalu dihantui perasaan bersalah, karena ke-egoisaannyalah, sosok yang masih begitu Ia sukai itu menjauh darinya. Tidak mau menatapnya bahkan untuk sekadar menyapanya pun tidak.
"Naruto," panggilnya sesaat setelah Ia sudah mendekati gadis itu.
Naruto membalikkan tubuhnya dan cukup terkejut mendapati Gaara ada dihadapannya. "Gaara, ada apa?" tanyanya.
"Bisa kita bicara sebentar, Naruto?" pinta pemuda Sabaku itu.
Naruto mengangguk sesaat, "baiklah." ujarnya kemudian melangkah keluar dari dalam perpustakaan.
Keduanya pun bergerak menuju area kolam renang. Gaara mengedarkan pandangannya ke sekeliling, dulu Ia juga pernah mengunjungi area ini dengan Sasuke.
Membicarakan tentang sesuatu yang dengan begitu yakinnya, Ia bisa mendapatkan sesuatu itu dengan mudah. Ia terlalu sombong kala itu, terlalu yakin, terlalu percaya diri jika Naruto akan menjadi miliknya hingga Ia menantang Sasuke untuk mendapatkan gadis pirang itu.
"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan, Gaara?" tanya Naruto memutuskan lamunan singkat pemuda Sabaku itu.
Sejenak pemuda itu terdiam, dipandanginya kedua iris biru milik gadis dihadapannya itu. Seketika pandangannya berubah sendu, Ia sudah menyerah pada gadis ini. Merelakannya untuk orang lain, sekalipun karenanya Ia harus menelan pil pahit setiap hari.
Bagaimanapun juga rasa sukanya pada Naruto tidak pernah berubah, tapi walaupun begitu dia tidak mungkin memaksa Naruto untuk mencintainya juga, bukan?
Hati gadis itu sudah jatuh pada yang lain. Pada Sasuke. Pada sahabatnya sendiri. Ia tentu tidak boleh bersikap egois. Tidak boleh! batinnya.
Dengan suara bergetar Gaara berujar, "maafkan aku, Naruto. Maafkan aku, karena tidak bisa menahan diri waktu itu."
"Aku ini memang bodoh. Bodoh sekali. Rasa kecewa membutakanku, membuatku tanpa sadar melukaimu, Naruto," ujar Gaara penuh penyesalan.
"Tolong maafkan aku. Maafkan kebodohannku itu."
Gaara menundukkan kepalanya, sungguh tidak sanggup untuk menatap wajah ayu itu lagi.
Sebuah usapan lembut mendarat di lengan kirinya, membuat pemuda Sabaku itu mendongakkan kepalanya. Senyuman hangat Naruto yang pertama kali dijumpainya.
"Aku sudah memaafkanmu jauh sebelum hari ini, Gaara," ucap Naruto.
"Kau sahabatku, aku tidak mungkin bisa marah padamu. Bohong, jika aku tidak kecewa dengan sikapmu waktu itu, tapi aku tahu kalau kau tidak ingin benar-benar melakukan itu. Aku mengerti kondisimu, Gaara. Aku mengerti rasa sakitmu," terang Naruto.
Gadis itu melangkah pelan kemudian memeluk tubuh putera bungsu keluarga Sabaku itu. Naruto mengusap lembut punggung bergetar pemuda itu.
"Menangislah. Ringankan bebanmu itu, Gaara," ucap Naruto pelan dan setelahnya isakan kecil terdengar dari mulut Gaara, bersamaan dengan pelukan yang mulai mengerat itu.
Beberapa menit berlalu, Gaara menumpahkan semuanya pada gadis itu. Ia tidak merasa canggung saat Naruto harus melihat sisi lemahnya. Sisi lainnya yang tidak ketahui oleh orang lain itu.
"Sudah merasa lebih baik?" tanya Naruto.
Gaara mengangguk pelan, "arigatou, Naruto. Terima kasih sudah bersedia memaafkanku," ujarnya.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan, Gaara. Kau tidak bersalah dalam hal ini. Aku pun akan melakukan hal yang sama, jika berada diposisimu."
"Sayangnya kau tidak berada diposisiku, Naruto," ucap Gaara seraya tersenyum getir.
"Ya, kau benar. Sayangnya aku tidak berada diposisimu saat ini," ujar Naruto kemudian gadis itu tersenyum geli.
"Kenapa tertawa?" tanya Gaara heran.
Naruto menggeleng pelan, "tidak. Aku hanya berpikir, seandainya aku bertemu denganmu terlebih dahulu, aku pasti sudah jatuh hati padamu, Gaara," aku Naruto.
Gaara tersenyum tipis, "aku harap itu benar-benar terjadi di kehidupan selanjutnya, jadi aku tidak harus merelakanmu lagi untuk orang lain," ujar Gaara setengah berharap.
"Ayo, kembali ke kelas! Sebentar lagi istirahat berakhir," ajaknya.
Keduanya keluar dari dalam area kolam renang itu, mereka berjalan beriringan di sepanjang koridor lantai empat.
"Nee, Gaara. Boleh aku memberi saran?"
"Apa?" tanya Gaara seraya menoleh ke arah Naruto yang berjalan disampingnya.
"Sebaiknya kau mulai untuk membuka hatimu kembali. Akan ada seorang gadis yang datang dan mencintaimu dengan tulus," ujar Naruto.
Kedua matanya menyorotkan keyakinan. Dahi Gaara mengernyit heran, gadis disampingnya ini bicara seakan-akan seseorang yang tengah Ia bicarakan itu benar-benar ada.
"Aku tahu pasti akan sulit untuk melakukannya, tapi aku harap kau mau mencobanya," lanjut Naruto.
Gaara tersenyum tulus, "aku akan berusaha untuk membuka hatiku kembali, tapi aku tidak janji dalam waktu dekat ini, Naruto. Sepertinya aku butuh waktu untuk mengobati lukaku, mungkin sedikit lebih lama."
"Tidak apa-apa, setidaknya kau mau berusaha. Aku akan membantumu."
Gaara mengangguk pelan, walau dalam hati Ia tersenyum miris.
Bagaimana bisa kau membantuku, Naruto? Sedangkan kau sendiri adalah penyebab luka hatiku itu, batinnya.
Sore ini Ino harus pulang lebih lama karena Ia ditugaskan untuk membersihkan ruang eskul anak cheers terlebih dahulu. Sebenarnya ini tugas dirinya bersama dengan Sakura, tapi mengingat kondisi sahabatnya yang jauh dari kata baik itu membuat Ino berinisitif untuk membersihkan ruang eksul itu seorang diri dan menyuruh Sakura untuk pulang lebih dulu.
Jam menunjukkan pukul lima lewat lima belas menit saat Ino berjalan di sepanjang koridor. Sekolah sudah mulai sepi, hanya ada beberapa siswa yang masih mengikuti ekskul, entah itu anak futsall ataupun basket.
Ketika Ino melewati gudang olahraga, sebuah bola basket menggelinding keluar dari dalam ruangan itu.
Gadis itu berjongkok hendak mengambil bola basket itu, saat ingin bangkit sepasang kaki jenjang menjulang tinggi dari arah samping tubuhnya.
Ino menoleh dan mendapati Gaara berada disana.
"Sabaku-san?" panggilnya seraya bangkit dengan cepat.
"Bola," ujar Gaara.
"Hah?" Ino mengernyitkan dahinya heran.
"Bola yang ada ditanganmu. Berikan itu padaku," ulang Gaara.
"Ah! Ya, tentu saja. Bola," ujar Ino kikuk seraya tertawa hambar.
"Ini bolanya, Sabaku-san," lanjutnya sembari menyerahkan bola basket itu pada Gaara.
Gaara hanya menggelengkan kepalanya pelan kemudian melangkah menuju gudang olahraga dibelakangnya.
Ino mengikuti dari belakang, kepalanya menyembul masuk, sepasang iris miliknya memandang penuh pesona pada Gaara yang tengah membereskan bola basket dan memasukkannya ke dalam keranjang besi.
Gadis itu tidak henti-hentinya tersenyum lebar. Bagaimana tidak, Ia disuguhkan oleh pemadangan menggoda iman. Lihatlah penampilan pemuda Sabaku itu saat ini, kemeja lengan panjangnya yang Ia gulung hingga siku, surai merahnya yang sedikit lepek karena terkena keringat itu, wajahnya yang memerah karena kepanasan dan lihat tetesan keringat yang jatuh dengan bebasnya di leher pemuda itu.
Dia juga dapat melihat perut six pack Gaara dari balik kemeja sekolah yang basah karena keringat.
Demi Tuhan, Ino merasa waktu berhenti seketika. Gadis itu menelan ludah paksa. Mendadak kerongkongannya terasa kering.
Pujaan hatinya itu benar-benar hot sekali. Tidak salah aku jatuh cinta padanya, batin Ino.
Gaara mengunci keranjang besi itu, kemudian mengendarkan pandangannya ke sekeliling gudang olahraga itu, setelah merasa jika pekerjaannya sudah beres, pemuda itu menyambar backpack-nya lalu melangkah keluar dari gudang tersebut.
"Apa yang kau lakukan disini, Yamanaka-san?" tanyanya saat melihat Ino berdiri diambang pintu gudang olahraga.
Ino tertawa kikuk, gadis itu menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Aku hanya menunggumu. Siapa tahu kau butuh bantuan," ujarnya lalu berjinjit melihat ke arah belakang tubuh pemuda itu.
"Tapi, sepertinya kau tidak memerlukannya, karena itu sebaiknya aku pergi saja," lanjutnya.
Sebelum Ino melangkah pergi, Gaara sudah lebih dulu menarik pergelangan tangan gadis itu. Ino berkedip lucu, terlalu terkejut dengan tindakan pemuda Sabaku itu.
"Tunggulah sebentar. Aku akan menaruh kunci gudang ke ruang guru, setelah itu kita akan pulang bersama," ujar Gaara datar.
"Jangan salah sangka! Aku hanya ingin membalas perbuataanmu padaku tempo hari karena sudah mengantarku sampai ke rumah," lanjut Gaara masih sama datarnya, lalu pemuda itu mengunci gudang olahraga dan melangkah menuju ruang guru.
Ino masih merespon kejadian itu di dalam otak kecilnya dan beberapa detik kemudian sepasang iris miliknya itu membulat sempurna. Bibir mungilnya mengatup-ngatup seperti ikan koi kehabisan oksigen.
"Pulang bersama Gaara! Bersama dengan Gaara! Ya, Tuhan! Mimpi apa aku semalam?" teriaknya seperti orang bodoh.
Gadis itu mengibas-ngibaskan wajahnya dengan kedua tangannya dengan gerakan cepat.
"Ya, ampun! Ya, ampun! Aku senang sekali!" teriaknya heboh.
Ino bahkan melompat kegirangan karenanya. Ia sampai tidak menyadari, jika Gaara sudah kembali dan menatap aneh kelakuannya itu.
"Apa yang sedang kau lakukan, Yamanaka-san?" tanyanya.
Seketika itu gerakan Ino terhenti, dengan cepat Ia berbalik menghadap Garaa. Gadis itu tersenyum kikuk, dengan sigap Ia memperbaiki tatanan rambutnya yang berantakan karena ulahnya yang melompat-lompat tadi.
Bodohnya aku, rutuknya dalam hati.
"Apa kita akan pulang sekarang, Sabaku-san?" tanya Ino dengan senyum yang tampak aneh di mata Gaara.
"Hmm," gumam Gaara kemudian berjalan melewati Ino.
Ino memukul pelan kepalanya. Dasar Ino bodoh, rutuknya pada dirinya sendiri.
Gadis itu kemudian melangkah pergi menyusul Gaara yang sudah jauh di depannya.
Tidak terasa musim sudah memasuki bulan Desember. Angin musim dingin bertiup cukup kencang pagi ini.
Naruto memulai kegiataan paginya seperti biasa. Ia akan berangkat ke sekolah bersama dengan Sasuke, sudah menjadi rutinitasnya beberapa bulan terakhir ini untuk berangkat bersama dengan putera bungsu Fugaku itu.
Naruto kembali mematutkan dirinya. Ia memandang datar pantulan dirinya dari balik cermin. Gadis itu menyentuh bekas luka melintang di pergelangan tangannya. Mengelusnya dengan hati-hati.
Suara ketukan pintu membuat gadis itu terkejut, dengan cepat Ia menyambar sweater jingga miliknya kemudian mengenakannya dengan tergesa-gesa.
"Siapa?" tanyanya pada seseorang dibalik pintu.
"Ini aku Menma. Kekasihmu sudah menunggu, Naruto. Cepatlah! Aku tidak ingin melihat wajah jeleknya itu terlalu lama!" seru Menma kesal.
Hari masih pagi, tapi dia harus melihat wajah menyebalkan Sasuke. Membuat mood-ku rusak saja, batinnya.
"Baiklah, lima menit lagi aku akan turun!" seru Naruto seraya melangkah menuju meja nakas.
Menarik laci meja itu, mengambil beberapa butir obat penenang kemudian menelannya dengan cepat.
"Cepatlah!" seru Menma lagi.
Naruto dapat mendengar suara derap langkah menjauh. Gadis itu menghembuskan napas lega. Ia kemudian meraih tas punggungnya, lalu memasukkan botol obat pemenang itu dalam ranselnya, sebelum melangkah keluar Naruto menyempatkan diri untuk mematut dirinya sekali lagi.
Memperbaiki tatanan rambutnya dan juga sweater yang Ia kenakan. Gadis itu tersenyum cerah, dan ketika sudah merasa jika penampilannya sudah cukup, Naruto bergegas keluar kamar dan melangkah menuruni tangga.
"Ayo, kita berangkat Sasuke!" serunya lantang sesaat setelah berada di dalam ruang tamu.
Sasuke bangkit dari atas sofa, membungkuk hormat dihadapan keluarga Uzumaki yang lain.
Jiraya dan Tsunade tersenyum. Mereka merasa puas dengan pilihan cucu perempuannya. Dengan terjalinnya hubungan diantara Sasuke dan Naruto, membuat mereka yakin serta tenang apabila mereka sudah wafat nanti, putera bungsu Uchiha Fugaku itu akan melindungi cucu perempuan kesayangan mereka itu dengan baik.
Naruto mendekat ke arah sang kakak, "aku berangkat, Kak, " ucapnya kemudian mengecup pipi Kyuubi lama.
"I love you so much, brother," ucap Naruto lagi.
"I love you more, dear," balas Kyuubi seraya menatap lembut wajah ayu sang adik, kemudian mengecup dahi itu dengan sayang.
Setelah berpamitan, Sasuke dan Naruto melangkah keluar disusul oleh Menma setelahnya. Menma berangkat seorang diri ke sekolah dengan mobil pemberian Kakek Jiraya. Ia mendapatkan hak yang sama seperti anggota keluarga Uzumaki yang lain.
Menma merasa tidak enak sebenarnya, tapi mengingat bagaimana keluarga Uzumaki memperlakukannya selama ini Ia jadi tidak tega untuk menolak.
Naruto melangkah tergesa-gesa menuju toilet wanita. Gadis pirang itu memasuki salah satu bilik dan memuntahkan isi perutnya ke dalam kloset.
Beberapa menit berlalu, gadis itu kemudian keluar dari dalam bilik dan melangkah menuju westafel. Ia membasuh wajahnya dan memandangi pantulan dirinya yang tampak kacau.
Wajah tan itu terlihat pucat, bibirnya juga mulai membiru.
Rasa takut menyergapnya saat ini ketika beberapa saat lalu Ia melihat seorang siswi tengah dibopong oleh beberapa siswa menuju ruang kesehatan. Siswi itu mengalami cedera saat jam olahraga.
Darah mengalir deras dari pelipis siswi malang itu. Naruto yang tidak sengaja melintas di koridor melihat pemandangan itu. Tubuh gadis itu bergetar hebat saat melihatnya.
Naruto bahkan tidak tahu bagaimana caranya Ia bisa berjalan santai di sepanjang koridor hingga akhirnya sampai di toilet. Ia bahkan masih bisa tersenyum saat berpapasan dengan Hinata tadi.
Naruto menatap kedua tangannya yang gemetaran. "Tenangkan dirimu, Naruto. Itu hanya darah. Ya, hanya darah. Kau tidak perlu takut," ujarnya pada dirinya sendiri.
Pelajaran akan segera dimulai saat Naruto dan Sakura memasuki kelas. Naruto yang tampak terburu-buru masuk tidak menyadari, jika Sakura berjalan disebelahnya hingga tanpa sengaja gadis pirang itu menyenggol pundak Sakura, membuat gadis pinky itu terkejut dan menjatuhkan lembaran soal ulangan Sastra yang sedang dibawanya.
"Ya, Tuhan! Maafkan aku, Sakura. Aku tidak sengaja menabrakmu," ujar Naruto penuh sesal.
Gadis itu berjongkok hendak membantu Sakura memungut lembaran soal ulangan itu.
"Tidak perlu membantuku, Naruto. Aku bisa sendiri."
"Tidak apa-apa. Aku yang salah sudah menabrakmu."
"Sudahlah. Kau bisa kembali ke tempat dudukmu. Aku bisa melakukannya sendiri."
"Tidak apa-apa, Saku-"
"Apa kau tidak mengerti maksudku? Aku tidak butuh bantuanmu, Naruto. Pergilah!" bentak Sakura tanpa sadar.
Ruang kelas itu tampak hening. Semua mata tertuju pada kedua gadis berbeda surai itu.
Ino bahkan melepas earphone dan melirik ke arah kedua gadis cantik itu. Naruto tersentak, gadis itu bahkan jatuh terduduk karena terlalu terkejut. Bentakan Sakura entah mengapa membuat rasa gemuruh di dadanya. Sasuke melangkah maju, sedari tadi Ia hanya duduk diam di kursinya sebagai penonton.
"Naruto hanya ingin membantumu, Haruno," ucap Sasuke tajam.
"Jadi, kau tidak perlu membentaknya seperti itu, " sambungnya dengan nada sinis.
Pemuda itu meraih tubuh bergetar Naruto. Membantu gadis itu untuk berdiri, menuntunnya ke kursinya.
"Kau baik-baik saja?" tanya Sasuke.
"Ya, aku baik-baik saja, Sasuke. Arigatou."
Sasuke mengangguk pelan kemudian melangkah pergi menuju tempat duduknya. Sakura masih berada di depan kelas, memungut lembaran soal ulangan itu sendirian.
Gadis itu memejamkan kedua matanya, rasa sesak menyelimutinya saat ini.
Naruto memandang sendu ke arah Sakura, membuat Hinata bereaksi. Gadis itu mengelus lembut lengan gadis Uzumaki itu.
"Sakura pasti tidak bermaksud untuk membentakmu, Naru-chan," ujar gadis itu.
Naruto tersenyum getir. Aku juga berharap begitu, Hinata, tapi saat melihat tatapannya. Entah mengapa aku melihat tatapan benci dan kecewa disana, batin Naruto.
Sakura melangkah memasuki toilet dengan Ino mengekor dibelakangnya. Ulangan masih berlangsung, tapi Sakura dan Ino sudah menyelesaikannya dengan saat baik dan dijinkan untuk keluar kelas.
Sakura membasuh wajahnya, seketika otot-otot tegang di wajahnya itu menjadi rileks. Gadis itu kemudian menarik tisu dari gulungan tisu disamping westafel. Melap wajahnya yang basah.
Ino tampak asyik bermain dengan ponselnya, hingga puteri tunggal keluarga Yamanaka itu bersuara.
"Kenapa kau tadi membentak Naruto seperti itu, Sakura?" tanyanya tanpa sedikit pun mengalihkan perhatiannya dari layar ponsel.
"Bukan urusanmu, Pig."
Ino mengernyit. Nada suara Sakura terdengar asing di telinganya, tapi seakan tidak peduli gadis itu kembali melanjutkan perkataannya.
"Dia hanya berusaha membantumu, Sakura. Apa kau tidak lihat wajah shock Naruto saat kau membentaknya?"
"Naruto bahkan hampir menangis kalau saja Sasuke tidak-"
"Berhenti membicarakan hal itu lagi padaku. Tidak hanya aku saja yang bersalah dalam hal ini, jadi berhenti memojokkanku seperti seorang terdakwa."
Ino menatap heran ke arah Sakura. Ponselnya sudah Ia simpan di dalam saku roknya. Benda itu sudah tidak menarik atensinya lagi.
Ino memangku kedua tangannya. Kedua mata beriris aquamarine itu menatap lurus Sakura.
"Sebenarnya ada apa denganmu, jidat lebar?" tanyanya bingung.
Sakura tidak menjawab, puteri Mebuki itu malah melangkah menuju pintu toilet, tapi sebelum tangan kananya memutar knop pintu.
Sakura berucap pelan nan lirih, "kau tidak mengerti, Ino. Tidak akan pernah mengerti."
Mata pelajaran ketiga sudah berjalan lebih dari lima belas menit. Asuma selaku guru tampak menulis di papan tulis. Hari kenaikan kelas akan segera tiba, jadi untuk tugas penambahan nilai tahun ini Asuma berniat membuat kelompok eksperimen yang terdiri dari tiga orang.
Karena di kelasnya mengajar saat ini berjumlah 30 murid, Asuma membaginya menjadi 10 kelompok. Memang banyak, tapi itu memudahkan Asuma untuk memantau dan menilai kerja sama dari setiap kelompok, sehingga Ia tahu siapa yang tidak ikut berkontribusi dalam kelompok.
Asuma membalikkan tubuhnya, menatap keseluruh penjuru kelas 1-A.
"Mohon perhatiannya, anak-anak!" ucapnya lantang.
"Berhubung kenaikan kelas akan segera tiba. Saya akan membuat kelompok ekperimen. Kalian bisa melihat siapa-siapa saja yang menjadi satu kelompok," ujarnya lagi.
Semua murid memberi atensi mereka kepada guru perokok itu. Mereka melihat ke arah papan tulis. Disana nama-nama mereka sudah tercantum dengan sangat jelas.
Kelompok 1 terdiri dari; Nara Shikamaru, Yamanaka Ino dan Sabaku Gaara.
Kelompok 2 terdiri dari; Hyuuga Neji, Hyuuga Hinata dan Inuzuka Kiba.
Kelompok 3 terdiri dari; Uchiha Sasuke, Uzumaki Naruto dan Haruno Sakura.
Kelompok 4 terdiri dari; Menma Smith, Takahashi Minami, Watanabe Ken.
-dan lain sebagainya.
Ino tampak senang di bangkunya. Satu kelompok dengan Gaara? Ya Tuhan! Mimpi apa hamba cantik-Mu ini semalam?
Kiba mendengus sebal. Ia senang karena bisa satu kelompok dengan Hinata, tapi jika ada Neji juga. Ia rasa tugas eksperimen kali ini akan terasa seperti di neraka.
Aku harap kau menghilang saja Neji, batin Kiba kesal sembari menatap penuh dendam ke arah punggung tegap kakak lelaki kekasihnya itu.
"Kalian akan melakukan eksperimen sesuai dengan jurnal yang akan saya berikan kepada ketua dari masing-masing kelompok," ujar Asuma.
"Nama yang berada diurutan pertama di setiap kelompok akan menjadi ketua."
Terdengar desahan lega dari beberapa murid. Asuma kembali mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kelas.
"Setelah jam pelajaran terakhir berakhir setiap ketua temui saya di laboratorium fisika. Kalian paham?" tanyanya.
"Paham, Sensei!"
"Apa ada pertanyaan?"
Sakura adalah orang pertama yang mengangkat tangannya, membuat semua pasang mata menatapnya tidak terkecuali Ino.
"Ada apa, Haruno-san?"
"Bolehkah saya pindah kelompok, Sensei?"
"Atas dasar apa kau meminta untuk pindah dari kelompokmu, Haruno-san?"
"Saya hanya tidak ingin satu kelompok dengan Uchiha-san dan Uzumaki-san, Sensei."
Sasuke mendengus mendengar alasan Sakura, sedang Naruto, gadis itu hanya menundukkan kepalanya.
Kenapa Sakura seperti itu? tanyanya dalam hati.
"Alasan yang kau utarakan tidak cukup kuat, Haruno-san, jadi saya tidak bisa memindahkanmu ke kelompok lain."
"Tapi, Sensei-"
"Tidak ada penolakan, Haruno-san. Apapun tujuan dari alasan yang kau kemukakan itu, kau akan tetap satu kelompok dengan Uchiha-san dan juga Uzumaki-san,"
Sakura terdiam tidak dapat membalas perkataan guru bermarga Surotobi itu.
"Dan satu hal lagi, Haruno-san, saya harap kau tidak membawa-bawa masalah pribadimu ke dalam kelompok. Bagaimanapun itu akan berpengaruh pada performa kelompokmu. Kau tidak ingin karenamu kelompokmu mendapatkan nilai E untuk mata pelajaran Fisika, bukan? Kau mengerti, Haruno-san?" tanya Asuma.
"Saya paham, Sensei," sahut Sakura pelan.
"Baguslah, jika kau paham, Haruno-san," lanjut Asuma.
" Sekarang buka buku kalian halaman 212!" perintah Asuma.
Ino melirik ke arah Sakura, kedua tangan gadis itu terkepal erat dan Ino dapat melihatnya dengan sangat jelas.
Kau dan amarahmu, Sakura, batin Ino.
Sakura menaruh tas sekolahnya diatas meja belajar. Gadis itu kemudian merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur, membentuk bintang besar.
Ia menatap langit-langit kamarnya, seketika ingatannya kembali pada saat di kelas sepulang sekolah tadi. Saat Ia dan Naruto sedang menunggu Sasuke yang sedang mengambil jurnal penelitian untuk kelompok mereka.
Sasuke berjalan memasuki kelas dengan tiga jurnal ditangannya. Pemuda Uchiha itu menghampiri kedua gadis yang tampak duduk diam di bangku mereka.
Sasuke menyerahkan salah satu jurnal kepada Sakura kemudian memberikan yang satu lagi kepada Naruto.
"Kita akan membahas mengenai tugas ini di rumahku besok lusa," ucap Sasuke.
Pemuda itu melirik ke arah Sakura. "Kau mengerti, Haruno-san?" tanyanya.
"Aku paham. Kalau tidak ada lagi yang ingin kau katakan, aku akan pulang," sahutnya seraya menyampirkan tas ransel di bahunya.
Saat Sakura hendak melangkah menuju pintu kelas, suara Naruto mengintrupsi.
"Kau pulang bersama kami saja, Sakura. Bolehkan, Sasuke?" pintanya.
"Tidak. Hari ini Ibu ingin makan siang bersamamu, Naruto. Kita akan melewatkan makan siang, jika harus mengantar Haruno-san pulang."
"Tapi-"
"Lagipula dia bisa pulang sendiri. Bukan begitu, Haruno-san?" tanya Sasuke memotong perkataan Naruto.
"Kasihan jika Sakura harus pulang sendirian, Sasuke. Lagipula arah rumah kalian berdua itu searah, bukan? Dan kurasa kita tidak akan terlambat untuk makan siang bersama bibi, jadi kumohon, boleh ya, Sasuke?"
Baru saja Sasuke akan angkat bicara, Sakura lebih dulu membuka mulutnya.
"Yang dikatakan Uchiha-san benar. Aku bisa pulang sendiri, Naruto, jadi kau tidak perlu merasa kasihan begitu padaku."
Setelah mengatakan itu, Sakura kembali melanjutkan langkahnya, meninggalkan keduanya dalam diam yang menyesakakan bagi Naruto.
Sakura memejamkan kedua matanya. Punggung tangannya Ia letakan di dahinya. Suara isakan terdengar lirih dari mulut gadis itu.
"Kau menghancurkan cinta pertamaku, Naruto. Kisah cinta pertamaku," ucapnya parau.
"Sahabat macam apa kau itu, Naruto?" tanyanya entah pada siapa.
Gadis itu semakin terisak, air matanya turun dengan deras. Dadanya seakan ingin meledak karena gemuruh itu kian dahsyat. Menyesakkan dadanya. Teramat.
Sakura tidak pernah tahu, jika patah hati akan sesakit ini. Padahal dulu Ia sering mengatai sepupunya cengeng karena selalu menangis setiap kali putus cinta.
Sakura tidak pernah tahu, jika rasa cinta bisa mengakibatkan kesakitan seperti yang Ia rasakan saat ini. Ia bahkan merasakan sakit sebelum sempat memiliki. Seperti hendak berperang, Sakura sudah mati sebelum menginjakkan kaki di arena pertempuran.
Setelah membahas mengenai eksperimen yang akan mereka kerjakan tempo hari di rumah Sasuke. Mereka memutuskan untuk mengerjakan eksperimen itu di kediaman Uzumaki, mengingat Kakek Jiraya memiliki laboratorium pribadi di kediamannya.
Naruto tentu senang, kapan lagi Ia bisa mengajak Sakura datang ke kediamannya. Jadilah hari ini kediaman Uzumaki tampak sibuk karena Naruto memerintahkan kepada para pelayannya untuk menyiapkan makan siang dan juga cemilan untuk mereka bertiga.
Sakura tidak berniat menginjakkan kedua kakinya di kediaman Uzumaki dalam keadaan kacau seperti sekarang ini.
Naruto memperlakukannya dengan sangat baik. Tentu saja, dia harus menjadi tuan rumah yang ramah untuk para tamunya, bukan?
Sehabis makan siang, mereka langsung bergerak menuju laboratorium. Sakura tampak takjub, laboratorium milik kakek Naruto jauh lebih bagus dibandingkan yang dimiliki oleh sekolah mereka.
Mereka mengerjakan eksperimen itu dengan kompak, walau dalam prosesnya Sakura harus menahan pil pahit karena harus melihat interaksi antara Sasuke dan Naruto.
Kedua remaja tanggung itu bahkan dengan terang-terangan menunjukkan kemesraan mereka, seakan Sakura tidak ada disana.
Sakura dapat melihat bagaimana manisnya perlakuan Sasuke kepada Naruto, dan bagaimana Naruto tersipu malu karena mendapatkan perlakuan manis itu.
Sasuke tertawa begitu lepas dan Naruto dengan jahilnya menutup mulut Sasuke dengan kedua tangannya, mengatakan jika; suara tawa Sasuke bisa membangunkan ular peliharan Kakek Jiraya yang ditaruh di sudut ruangan.
Tugas mereka selesai tepat pukul lima sore. Ini jauh lebih cepat dibandingkan dengan kesepakatan dengan guru Asuma yang memberikan tenggang waktu selama empat hari untuk mengerjakan tugas eksperimen itu.
Hari hampir gelap saat Sakura pamit pulang kepada Naruto. Naruto mencegah Sakura, mengatakan jika Ia bisa pulang diantar oleh supir. Mengingat jarak dari kediaman Uzumaki dan rumah Sakura yang jauh dan tidak aman rasanya, jika Sakura harus pulang seorang diri.
"Tidak perlu, Naruto. Aku bisa pulang sendiri, jadi tidak perlu repot-repot untuk meminta supirmu mengantarku pulang."
"Tidak, Sakura. Kau harus pulang diantar supir, mengerti?"
Sakura menggeleng lemah, "tidak. Terima kasih."
Sasuke baru saja melangkah masuk ke dalam ruang tamu saat dengan tiba-tiba Naruto menariknya dengan begitu keras.
"Sasuke! Kau saja yang mengantar Sakura pulang, ya?"
"Kenapa harus aku?"
"Sakura tidak mau diantar oleh supir, padahal aku sudah menelepon Ebisu-san untuk cepat pulang."
"Kalau begitu, biarkan saja dia pulang sendirian."
Naruto memukul lengan Sasuke kesal. Gadis itu melotot marah pada pemuda itu.
"Kau ini," desisnya.
"Sakura itu perempuan, tidak seharusnya perempuan pulang sendirian disaat ada laki-laki yang bisa mengantarnya. Lagipula hari hampir gelap, Sasuke. Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada Sakura saat diperjalanan."
"Jadi, mau ya?" pinta Naruto seperti anak kecil. Kedua mata gadis itu berkedip lucu. Sasuke berdecak sebal sembari memalingkan wajahnya.
"Ck! Baiklah, tapi untuk kali ini saja," ujarnya kemudian.
"Yey! Kau yang terbaik, Suke," pekik Naruto girang, memeluk Sasuke secara tiba-tiba, lalu berjalan menghampiri Sakura.
"Kau dengar itu, Sakura? Sasuke akan mengantarmu pulang. Dia memang tidak bisa menolak permintaanku," ujar Naruto bangga yang dibalas senyuman getir dari Sakura.
Sakura tidak tahu, Ia harus merasa senang atau tidak saat ini. Berada dalam satu mobil dengan Sasuke adalah sesuatu yang amat langka untuknya.
Diliriknya pemuda yang terus saja diam itu sedari mereka keluar dari kediaman keluarga Uzumaki. Sakura tersenyum tipis.
Berbeda sekali, Sasuke. Berbeda sekali. Saat dihadapan Naruto, kau berubah seratus-delapan-puluh-derajat. Kau begitu lembut, begitu perhatian dan begitu baik, tapi pada yang lain kau begitu dingin, tidak pedulian dan terkadang juga kasar. Kau dengan mudahnya tertawa dan tersenyum saat bersama dengan Naruto, tapi dengan yang lain, kau malah menyeringai dengan begitu menyeramkan.
Yang kutahu kau tidak terbantahkan, tapi kepada Naruto, kau sama sekali tidak bisa bersuara. Kau bahkan dengan mudah mengabulkan permintaannya.
Kau bisa menanggalkan topeng datarmu dihadapannya, tapi dengan yang lain kau justru memasangnya dengan amat erat, seakan-akan kau menunjukkan; inilah aku: dingin, angkuh dan arogan. Apakah Naruto begitu istimewa bagimu, Sasuke, hingga kau pun bisa menjadi pribadi lain jika dihadapannya? batin Sakura nelangsa.
Sakura memalingkan wajahnya ke arah jendela mobil. Kedua matanya terpejam, Ia menghela napas lelah. Gemuruh di dadanya kian bergejolak. Memendam perasaan itu begitu menyesakkan, Sasuke, ujarnya dalam hati.
Mobil yang dikemudikan oleh Sasuke berhenti tepat di depan pagar bercat putih itu. Sakura melepas sabuk pengaman dari tubuhnya. Gadis itu tersenyum manis ke arah Sasuke.
"Terima kasih sudah mengantarku pulang, Uchiha-san," ucap Sakura.
Ada nada asing di suaranya. Dulu Sakura tidak pernah memanggil pemuda itu dengan nama keluarganya.
"Aku hanya melaksanakan permintaan Naruto. Karena itu, berterima kasihlah padanya," balas Sasuke datar.
Hati Sakura seperti dicubit. Sakit. Melaksanakan, huh? Begitu pentingkah Naruto untukmu? batin Sakura.
"Ah, tentu saja! Tentu saja karena Naruto, kau bersedia untuk mengantarku pulang," ujar Sakura.
"Kalau begitu, aku akan masuk. Hati-hati di jalan, Uchiha-san," lanjutnya lalu membuka pintu mobil.
Sasuke sudah melajukan mobilnya, meninggalkan Sakura yang masih berdiri di depan pagar. Gadis itu menatap kepergian Sasuke dengan sendu.
Sesulit itukah aku untuk meraihmu, Sasuke? batinnya penuh rasa sakit.
To Be Continue
Pojok suara :
Maaf atas keterlambatannya. Setelah sekian lama berhibernasi dan mencari wangsit kesana kemari, akhirnya bisa up juga. Horee!
Bagaimana dengan chapter kali ini? Saya harap kalian tidak kecewa ya.
Wokee! Siapa ini yang merasa kasihan dengan Neng Sakura? Duuh~ memendam cinta itu ternyata menyakitkan yaak.
Perjuangan cinta Ino juga masih panjang sepertinya.
Sampai jumpa di chapter berikutnya yaa..
Salam,
Sentimental Aquamarine
