Home

.

.

.

.

.

Disclaimer : Mereka hanya milik Tuhan

Cast : DBSK Family, dll

Genre : Family, Romance, Drama, hurt/comfort. Yaoi

Typos bertebaran, membosankan, alur suka"

Rate : T

Yang gak suka bisa langsung di close ^o^

Maaf ya buat yang udah nunggu ff ini seabad, hahahaha #bow

.

.

.

.

.

Shit

Jaejoong mengumpat dalam hati, dengan segera dia berlari keluar rumah dan menemukan Yunho masih berdiri disana dengan memeluk tubunya sendiri.

" Yunho!" Jaejoong langsung menggenggam tangan Yunho dan membuat namja itu terpekik kaget

' Tidak, jangan sekarang...' Litih Yunho dalam hatinya

" Jangan pergi!"

" Lepaskan aku!" Pekik Yunho dengan menepis tangan Jaejoong yang menggenggam pergelangan tangannya namun gagal

" Tidak!"

" Lep-pas!"

Degh

Mata Yunho berkunang - kunang hingga menyebabkan Yunho merosot dan terduduk diatas lantai. Jaejoong tahu bahwa tengah bergetar tapi dia tidak akan melepaskan Yunho apapun yang terjadi.

" Lepas"

" Kau harus tinggal disini!" Ucap Jaejoong " Bersamaku dan keluargamu!"

" Kau pikir kau siapa menyuruhku seperti itu eoh?!" Yunho membentak Jaejoong dalam keadaan matanya yang berkunang - kunang dan tubuhnya mulai lemas

Jaejoong menatap Yunho yang seakan tidak fokus pada dirinya, Jaejoong mencoba menatap Yunho namun gagal karena Yunho terus berusaha melepaskan diri.

" Aku? Hah!" Jaejoong menatap Yunho dengan tajam " Aku Jung Jaejoong! Istrimu! Kau tidak boleh keluar dari rumah ini tanpa seizinku! Dan aku tidak terima penolakan!"

" ..."

.

.

.

.

.

~ Chapter 6 ~

.

.

.

.

.

Jaejoong menatap sendu pada namja yang tengah terbaring lemah didalam kamar milik namja itu dulu. Jaejoong mengusap helaian rambut namja yang tak lain adalah Yunho, namja itu pingsan tak lama setelah Jaejoong menggenggam erat tangannya dan tidak melepaskannya hingga membuat Yunho sessak nafas dan pandangannya mengabur dan akhirnya kehilangan kesadarannya.

" Yunie ah..."

CUP

Jaejoong mendekat dan megecup kening Yunho yang selama ini ingin dia kecup dan akhirnya kesampaian juga dihari ini.

CEKLEK

Jaejoong menoleh dan mendapati Jihyun masuk kedalam ruangannya bersama seorang dokter yang merupakan dokter pribadi keluarga Jung. Jihyun sendiri diminta Jaejoong untuk menjadi psikiater Yunho kembali. Dia ingin Yunho kembali ke dalam keluarga ini lagi.

" Dia masih belum sadar" Ucap Jaejoong

" Tenanglah Jaejoong ah, dia akan segera sadar. Kau istirahat saja" Ucap dokter Lee

" Tidak bisa, aku sungguh mengkhawatirkannya"

Jihyun menyentuh lengan dokter Lee dan dokter itu mengerti kemudian pergi keluar dari kamar Yunho. Jihyun menghampiri Jaejoong dan mengajak namja itu untuk duduk pada sofa yang ada didalam kamar itu.

" Kau sudah mendengar semua dari Ahra bukan?" Tanya Jihyun

" Ya Jihyun sshi, aku sudah mendengar semua cerita tentang Yunho" Jawab Jaejoong sedikit melirik kearah Yunho yang setia memejamkan matanya

Ahra memang sudah bercerita tentang bagaimana Yunho bisa bekerja pada Mr. Go, memprihatinkan. Juga saat Yunho menceritakan masalalunya pada Ahra beberapa hari yang lalu saat Yunho masih di rawat di rumah sakit. Ahra menceritakan apa yang dirasakan namja itu tentangnya. Ah... Jaejoong merasakans sesak pada dadanya sekarang.

" Aku rasa untuk saat ini Yunho memang lebih baik berada di rumah ini tapi tolong paksa dia atau menyentuhnya secara tiba – tiba karena dia masih belum bisa menerima kenyataan bahwa kau masih hidup"

" Keunde..."

" Untuk sementara biarkan dia nyaman, itu yang harus dibutuhkannya sebelum kau bisa benar – benar masuk lagi kedalam hidupnya"

" Aku mengerti" Lirih Jaejoong pada akhirnya

" Baguslah, sekarang biarkan dia beristirahat"

Jaejoong mengangguk lesu, dia akhirnya keluar kamar bersama dengan Jihyun untuk makan malam bersama, Jaejoong berniat kembali lagi ke kamar Yunho bersama Changmin nanti.

.

.

.

" Appa belum bangun eomma?"

" Ne, appa masih tidur baby" Jawab Jaejoong " Hmm... Mau menemui appa?" Lanjut Jaejoong

" Boleh?"

" Ne"

Jaejoong menggendong Changmin yang sudah menghabiskan makan malamnya kedalam kamar Yunho, dia memangku Changmin disofa namun namja itu turun dari pangkuan Jaejoong dan berlari menuju tempat tidur Yunho kemudian duduk dipinggir tempat tidurnya.

" Appa kenapa belum bangun sih?" Changmin mengerutkan keningnya

" Appa masih mengantuk baby, biarkan appa istirahat ne?"

" Ani..." Changmin menggelengkan kepalanya, dia ingin appanya bangun tapi tidak tahu apa yang akan dia perbuat jika appanya bangun

" Ngh..."

" Eoh!"

Changmin langsung menatap appanya yang perlahan membuka matanya, dia mengedipkan matanya berkali – kali memandang polos kearah Yunho. Sedangkan Yunho mencoba memfokuskan matanya seblum akhirnya dia melihat siapa namja cilik yang ada dihadapannya, memandangnya dengan pandangan polos.

" Appa..."

" Min-nie?"

" Hum.. Minnie tadi kecini cama eomma ada dicini. Appa gwaenchana?"

" Ng... Ne"

Changmin membantu Yunho untuk duduk, Jaejoong hanya bisa tersenyum melihat kelakuan anak tersayangnya itu sekaligus iri. Tapi tidak apa – apa yang penting adalah Yunho tidak lagi menolak keberadaan Changmin.

" Aku akan memanggil dokter Lee dan Jihyun sshi"

Yunho tersentak kaget karena dia tidak menyangka bahwa Jaejoong ada didalam ruangan yang sama dengannya, Yunho memperhatikan Jaejoong yang keluar dari dalam ruangan dan Yunho tersadar sesuatu, ada dimana dirinya?

Yunho memperhatikan sekelilingnya, meja nakas berwarna putih, sebuah meja belajar berwarna hitam serta cat ruangan berwarna hijau biru laut (sea green) yang menenangkan, serta beberapa interior yang familiar untuknya. Yunho tersentak saat melihat foto kelulusannya saat senior high school dimana dia diapit oleh appa dan eommanya, ini adalah kamarnya!

" A-ah..." Yunho memegangi kepalanya

" Appa? Gwaenchana?"

" N-ne Min"

Changmin mendekat dan memeluk Yunho karena dianggap Yunho sedang sedih, eommanya selalu berkata saat memeluknya makan eommanya akan tenang dan sekarang dia tengah melakukannya untuk menenangkanYunho.

" Apa appa cudah tenang?" Tanya Changmin

" Eh?"

" Kalau eomma cedang cedih, eomma peluk Min. Eomma bilang kalau peluk Min eomma bica tenang"

Yunho termenung dengan ucapan Changmin, sampai akhirnya tangannya perlahan memeluk Changmin dan menempatkan dagunya diatas kepala mungil Changmin.

" Terima kasih, terima kasih sudah bertahan untuk hidup Minnie ah..."

Changmin tidak mengerti hanya saja dia tersenyum dalam pelukan Yunho. Tak lama Yunho melihat pintu kamarnya terbuka. Seorang yeoja yang dia tahu adalah mantan psikiaternya masuk kedalam kamar itu dan mengambil kursi untuk duduk didekat Yunho.

" Changmin ah" Panggil Jihyun

" Ne?"

" Eomamu memanggil, eommamu membuatkan coklat hangat kesukaanmu"

" Jinjja?"

" Ne, temuilah dia. Kau bisa sendiri bukan?"

" Hum" Changmin mengangguk antusias kemudian melepaskan pelukannya pada Yunho dan berlari keluar kamar

Setelah Changmin keluar Jihyu menatap Yunho dan menghembuskan nafasnya.

" Bagaimana keadaanmu?" Tanya Jihyun

" Kau bisa melihatnya sendiri noona, bagaimana bisa aku ada disini?'

" Kau pingsan dan keluargamu membaringkanmu dikamarmu" Jawab Jihyun kemudian melihat – lihat isi kamar Yunho " Hmm... Apa kamarmu tidak berubah Yun?"

Yunho sekali lagi melihat kearah sekeliling kamarnya, dia menggelengkan kepalanya. Masih sama seperti sebelum dia menikah dengan Jaejoong. Dulu, sebelum menikah dengan Jaejoong memang disinilah dia tinggal dikediaman keluarga Jung namun setelah menikah Jung haraboji menghadiahkannya sebuah rumah dan Yunho meninggalkan kamar kesayangannya begitu saja.

Dia berpikir bahwa kedua orangtuanya bisa saja membongkar kamarnya untuk dijadikan gudang atau apapun yang mereka mau taoi kenyataannya ruangan ini tetap sama seperti saat dia dulu tinggal di rumah ini.

" Kau... Anak yang baik" Jihyun mulai berbicara

" ..."

" Terlihat dari senyummu saat foto kelulusan itu Yun" Jihyun menunjuk foto kelulusan Yunho

" Apa maksudmu?"

" kapan kau berubah menjadi 'seperti itu' Yun?"

" Tidak bisakah kau melakukan hal ini nanti saja?"

" Wae? Aku kan hanya bertanya?"

" Aku tidak nyaman"

" Hmm... Kau tahu..." Jihyun menatap Yunho, dia ingin lebih dalam mempelajari bahasa tubuh Yunho " Keluargamu tahu semua tentang apa yang terjadi padamu selama lima tahun ini"

Yunho menatap tajam Jihyun, jangan bilang keluarganya tahu tentang dirinya termasuk traumanya?

" Tidak usah kaget Yun, Ahra menceritakan semuanya. Aku harap kau tidak marah padanya. Ahra membantu kami Yun dan untuk sementara kau akan tinggal disini"

" Wae?"

" Tinggalah disini sementara, aku ingin tahu bagaimana keadaanmu saat kau tinggal disini sekarang"

" …."

" Bukan waktunya kau menghindar lagi Yun, sudah saatnya kau menyembuhkan traumamu dan aku rasa ini adalah cara yang tepat untukmu"

" jaejoong..."

" Dia baik – baik saja dengan semua perlakuanmu walaupun kau berbuat jahat padanya bukan? Dia masih mengharapkanmu Yun" Ucap Jihyun, dia tidak ingin menyembunyikan kenyataan yang dia ketahui di depan Yunho

Yunho menutup wajahnya menggunakan tangannya, kenapa dia jadi memikirkan Jaejoong lagi saat ini? Kenapa namja cantik itu begtu baik setelah semua yang dia lakukan padanya? Kenapa namja itu tidak membunuhnya saja? Kenapa malah berbuat baik padanya?

" Jangan kecewakan mereka lagi Yun, keluargamu membutuhkanmu sekarang"

" Membutuhkanku? Untuk apa?"

" Tidak hanya mereka yang membutuhkanmu tapi Changmin juga"

Yunho menatap Jihyun dengan pandangan yang sulit diartikan, Jihyun tahu ketakutan dan kecemasan itu masih terpancar pada mata Yunho.

" Tenanglah Yun, kau pasti bisa sembuh tapi kau harus bekerja sama denganku ne?"

" Entahlah, aku masih belum percaya semua ini terjadi padaku"

Jihyun tersenyum, dia kemudian pamit untuk pergi keluar. Dan tak lama Yunho melihat eommanya masuk kedalam kamarnya membawa sebuah nampan berisi makanan.

" Makanlah"

" Eomma..."

" Makanlah dulu, eomma akan menemanimu"

Yunho menganggukkan kepalanya, dia menerima makanan yang diberikan oleh eommanya dan memakannya dengan tenang tanpa ada suara. Mrs. Jung pun hanya dia memandangi wajah anaknya yang terlihat lebih tirus dan tubuhnya kurus sekali.

" Eomma..." Panggil Yunho dengan pelan

" Ne?"

" Haraboji..."

Mrs. Jung menatap Yunho dengan sendu, apa sudah waktunya menceritakan semua termasuk wasiat yang diberikan oleh appa dari Jung Siwon itu sekarang? Jaejoong berkata tadi bahwa dia yang akan menjelaskannya pada Yunho tapi...

" Hmm... Wae?" Akhirnya Mrs. Jung mencoba menahan bibirnya untuk bercerita

" Bagaimana bisa haraboji meninggal?"

Mrs. Jung memindahkan nampan yang ada dipangkuan Yunho dan memindahkannya pada meja nakas dekat dengan tempat tidur Yunho.

" Harabojimu meninggal karena penyakitnya yang semakin parah Yun"

" Kapan?"

" Satu tahun setelah kau meninggalkan kami, keadaannya semakin memburuk sejak kau pergi dan akhirnya haraboji meninggal"

" Aku tidak pergi tapi diusir eomma..."

" Ya"

" Dan itu semua kesalahanku"

" Yunho yah... Semua sudah berlalu. Eomma minta kau untuk memulai semuanya kembali bersama kami, keluargamu..."

Yunho tidak bereaksi apapun, dia bungung bagaimana untuk merespon ucapan eommanya. Perlahan Yunho memperhatikan wajah eommanya, sudah lima tahun ini tidak bertemu tapi wajah sang eomma masihlah sama. Mungkin karena kadang dia membaca berita tentang pengusaha Jung yang selalu membawa istrinya saat menghadiri pesta perusahaan. Eommanya masihlah cantik, sangat cantik.

.

.

.

.

Jaejoong menggigit bibir bawahnya, dia duduk tidak tenang disamping Yoochun dan Junsu yang sedang bermain dengan Changmin. Sesekali dia melirik tangga tapi dia belum menemukan Mrs. Jung turun.

" Tenanglah Joongie, kau ingat apa yang dikatakan Jihyun noona bukan?"

" Ne, keunde..."

" Pelan – pelan saja, kau tidak mau suamimu itu kabur lagi bukan?"

Jaejoong mengangguk pasrah, dia mengikuti saran Yoochun untuk lebih tenang dan mulai bercanda dengan Changmin. Jihyun dan dokter Lee memutuskan untuk pamit karena masih ada yang harus mereka urus, sedangkan Mr. Jung ada di taman belakang tengah bertelepon dengan rekan kerjanya.

" Joongie gwaenchana?"

Jaejoong mengenal suara itu, dia langsung menoleh ke sumber suara dan menemukan Mrs. Jung turun dari tangga membawa sebuah nampan. Jaejoong langsung menghampiurinya dan mengambil nampan yang dipegang oleh Mrs. Jung dan menaruhnya pada meja makan kemudian membawa Mrs. Jung untuk duduk disampingnya

" Bagaimana keadaan Yunie eomonim?"

Mrs. Jung tersenyum mendengar pertanyaan Jaejoong, tersirat nada kekhawatiran pada pertanyaan yang jaejoong ajukan barusan.

" Yah... Seperti itu Joongie ah..."

Mendengar jawaban Mrs. Jung, Jaejoong hanya bisa menghela nafasnya. Dia berharap bisa melihat keadaan Yunho tapi Jihyun tidak memperbolehkan Jaejoong untuk mendekat pada Yunho sampai keadaan Yunho membaik. Jihyun berkata bahwa trauma yang Yunho idap sudah sangat parah bahkan jika bersentuhan dengan Jaejoong saja bisa membuat Yunho pingsan. Jaejoong jadi gemas mendengarnya, dia tidak bisa untuk tidak mengkhawatirkan Yunho yang notaben-nya masih suami sahnya itu.

Tapi, Jihyun bilang Jaejoong boleh menemui Yunho saat... Ah~ jaejoong mengembangkan senyumnya saat ini.

.

.

.

Ceklek

Pintu kamar itu terbuka pelan, namja yang terkenal cantik itu memasuki area kamar dengan langkah pelan karena takut membangunkan seseorang yang ada didalam kamar itu. Jaejoong, namja yang tadi masuk ke dalam kamar suaminya itu berjalan dengan tidak bersuara kearah tempat tidur Yunho dan mengamati wajah namja yang tengah tertidur itu.

Jaejoong menoleh kearah jam dinding, pukul tiga pagi dan Jaejoong baru saja menyelesaikan tugas perusahaan Jung dan juga urusan butiknya.

" Hey Yun... Hmmm... Jihyun noona bilang kalau aku hanya boleh mengunjungimu saat kau tidur karena tidak berbahaya untukmu. Memangnya aku ini apa?" Jaejoong mengerucutkan bibirnya

Namun tak lama Jaejoong menutup mulutnya, dia berpikir bahwa dia berbicara begitu keras dan bisa saja membangunkan Yunho. Jaejoong mengamati wajah Yunho kembali, dia ingat bagaimana mata musang itu selalu menatap penuh intimidasi padanya, bagaimana bibir itu selalu mengeluarkan kata – kata kasar untuknya.

Wajah Yunho yang selalu tidak bisa tersentuh olehnya bahkan saat Jaejoong tidak sengaja menyentuh lengan Yunho, namja itu mendorong Jaejoong hingga jatuh padahal saat itu Jaejoong tengah hamil lima bulan dan membuat rahimnya melilit perih.

Mata Jaejoong berembun saat mengingat semua perlakuan dan perkataan kasar yang Yunho berikan padanya tapi dengan bodohnya setelah semua terjadi dan tahun – tahun berlalu dengan cepat cinta itu tidak pernah pudar, cinta Jaejoong untuk seorang bajingan macam Yunho masihlah melekat erat pada hati Jaejoong.

" Saranghae..." Lirih Jaejoong dengan suara serak menahan tangisnya

" EEOOMMAAAAA!"

" Omo?!"

Jaejoong tersentak kaget saat mendengar teriakan anaknya, pasti Changmin mengigau lagi. Dengan cepat Jaejoong berjalan kearah pintu saat Changmin memanggilnya untuk kedua kali.

" Ne Minnie!"

Jaejoong berteriak saat membuka pintu kamar Yunho membuat namja yang tadi tertidur itu bangun dengan bada bergetar. Yunho membuka matanya dan tidak mendapati siapapun ada di kamarnya. Apa tadi itu hanya ilusi atau mimpi saja?

" EOOMMAA! Huuuwweeee!"

Yunho menoleh kearah pintu, bahkan di dalam kamarnya yang ada di ujung lantai dua saja bisa mendengar suara tangis Changmin sangat jelas. Yunho berjalan kearah pintu dan membukanya perlahan, kenapa juga suara tangisan Changmin masih terdengar? Kemana perginya Jaejoong?

Yunho berjalan para lorong lantai dua dan menemukan Jaejoong tengah berlutut dihadapan Changmin yang menangis dekat tangga sembari mengucek mata dan wajahnya dengan kasar. Terlihat Changmin tidak mau disentuh oleh Junsu karena Changmin menendang kaki Junsu dengan keras saat Junsu mencoba menenangkannya.

" Baby ah... Shhh... Kemari peluk eomma" Jaejoong mengeluarkan suara lembutnya

" Hiks... Eomma..."

" Wae? Mimpi apa?"

" Eomma dalimana eoh? Huwweeeeeee..."

Grep

Jaejoong memeluk Changmin dan merengkuh namja cilik itu kedalam pelukannya kemudian Jaejoong berdiri dan menggoyangkan tubuhnya, meninabobokan Changmin.

" Mianhae ne? Eomma menengok appa dulu tadi" Ucap Jaejoong lembut dan tentu saja jawaban itu membuat Yunho yang tengah besembunyi itu kaget, kapan Jaejoong memasuki kamarnya?

" Appa?"

" Ne... Appa kan sedang sakit jadi eomma melihat keadaan appa"

" Min gak cuka eomma hilang waktu Min bangun" Changmin memeluk erat leher Jaejoong dan menyandarkan dagunya pada pundak Jaejoong

" Aigo..." Jaejoong menggelengkan kepalanya dengan masih tetap menggoyangkan tubuhnya ke kanan dan kiri untuk menenangkan sang anak yang tengah merajuk itu

" Min cayang eomma"

" Eomma juga sayang Minnie"

" Jalja eomma" Suara Changmin sudah terdengar lirih dan Jaejoong yakin sebentar lagi Changmin akan terlelap

" Hum... Jalja Minnie baby..."

Yunho memperhatikan bagaimana seorang Jaejoong mengurus anaknya yang dia tahu sangat manja, Changmin memang benar – benar anak eomma sama sepertinya dulu... Saat dia kecil bahkan dia selalu menempeli eommanya kemanapun sang eomma pergi. Ah~ Yunho merindukan masa kecilnya sekarang.

Tapi, sejak kapan Yunho menjauh dari eommanya? Apa mungkin pengaruh lama sekolah dan bekerja di luar negeri membuat dirinya jauh dari sang eomma?

" Ck, anakmu benar – benar mengerikan saat merajuk hyung" Gerutu Junsu

" Mianhae Junsu yah..."

" Kajja masuk kedalam kamar hyung, aku rasa bocah kesayanganmu itu sudah tidur"

" Ne"

" Dasar anak mami" Junsu mencubit pelan pipi gembul Changmin, aigoo... Dia sangat gemas pada bocah nakal yang dia sayangi itu

Yunho menyandarkan tubuhnya pada dinding yang ada dibelakangnya, Jaejoong seorang namja tapi dia sangat lembut dan pengertian terhadap anaknya. Yah... Walaupun dia pernah melihat Changmin kecewa pada Jaejoong tapi melihat ini semua membuat Yunho yakin bahwa Jaejoong sangat menyayangi Changmin.

Bukankah keluarga itu lebih bahagia tanpa kehadirannya? Kenapa mereka semua mengharapkan dirinya untuk kembali kemari? Mengenang masa indah juga kelam masa lalunya, membuka semua kebaikan dan juga aib kejahatannya dulu?

.

.

.

Junsu tengah menyuapi Changmin saat sarapan paginya dan ini sudah mangkuk ketiga Changmin memakan buburnya. Dan untuk Jaejoong tidak masalah jika Changmin banyak makan, dia ingin anaknya tumbuh sehat dan memang itulah sarapan Changmin. Dia bahkan bisa menghabiskan lima mangkuk bubur, lima potong strawberry short cake dan memakan tiga buah pisang sebagai penutupnya.

" Eomma" Panggil Changmin

" Hum?" Jaejoong menatap anaknya

" Min mau ketempat appa, halmoni juga ada dicana kan?"

" Ng..." Jaejoong menatap anaknya yang menatapnya dengan berbinar, sungguh menggemaskan " Baiklah tapi jangan ganggu appa ne?"

" Hum"

Changmin langsung saja berlari ke lantai dua rumah keluarga Jung tanpa ditemani Junsu karena Jaejoong meminta Junsu untuk memakan sarapannya dulu sebelum menjaga buah hatinya itu.

" Hey"

Jaejoong dan Junsu menoleh, mereka mendapati Mr. Jung dan Yoochun berjalan kearah mereka.

" Kau terlihat pucat Joongie ah" Ucap Yoochun

" Hum?" Jaejoong menangkup wajahnya sendiri " Hanya lelah"

" Jam berapa kau tidur?"

" Sekitar pukul setengah lima pagi?"

" MWO?" Yoochun, Junsu dan Mr. Jung terpekik kaget

" Apa yang kau lakukan sampai tidur sepagi itu? Kau hanya tidur kurang dari tiga jam"

" Memeriksa data perusahaan Jung dan acara pembukaan butik lusa nanti"

" Aigo.. Maafkan karena aboji tidak banyak membantu Joongie ah"

" Gwaenchana aboji, Joongie akan melakukannya demi... Ng..."

" Ne kami tahu, tapi kau tidak boleh kelelahan seperti itu Joongie ah, tubuhmu butuh istirahat juga"

" Aku akan melakukannya karena aku masih sanggup" Jawab Jaejoong

" baiklah tapi jangan memaksakan keadaan ne?" Ucap Mrs. jung

" Ne eomonim" Jaejoong tersenyum setelahnya walaupun bibirnya terlihat pucat

Oke, Jaejoong akui walaupun Yunho ada di dalam kediaman keluarga Jung dia tidak bisa mendekati namja itu dan hanya bisa memandang iri pada Changmin yang bisa bercanda dan menyentuh namja yang merupakan suaminya itu. Dua hari sudah berlalu dan hari ini Jaejoong keluar dari kamarnya dengan keadaan lemas dan sedikit pusing. Bahkan dia tidak bisa bangun pagi untuk menyiapkan sarapan seperti biasa. Setelah meminta Junsu memandikan Changmin, Jaejoong duduk diam sebelum akhirnya keluar dari kamar untuk makan pagi bersama.

" Eomma gwaenchana?" Tanya Changmin saat melihat eommanya duduk dengan wajah pucat

" Hum? Eomma gwaenchana" Jaejoong menatap Changmin yang duduk berhadapan dengannya namun kemudian melirik namja yang hanya diam disamping Changmin, Yunho

Ah...

Namja itu sudah duduk disana untuk sarapan bersama? Bukankah ini sebuah kemajuan karena Yunho sudah mau diajak makan bersama?

" Joongie ah? Makanlah, kau terlihat pucat" Ucap Mrs. Jung

" Gwaenchana eomonim" Ucap Jaejoong dengan sedikit ragu, pasalnya kepala Jaejoong mulai terasa pening dan pandangannya mengabur

" Hyung? Apa perlu aku ambilkan obat?" Tanya Junsu

" Hmm... Aku akan membuat jus saja, sepertinya aku tidak selera makan pagi ini"

" Biar aku buatkan hyung" Ucap Junsu

" Kau sarapan saja bersama Changmin, biar aku yang buat"

Jaejoong berdiri dari tempatnya dan mencoba berjalan tapi baru beberapa langkah Jaejoong jatuh dan membuat semua orang yang melihatnya memekik kaget.

.

.

.

.

" Nghh..."

" Eomma!"

GREP

Jaejoong merasakan beban pada tubuhnya, dia mencoba membuka matanya dan memfokuskan pandangannya pada seorang namja kecil yang memeluknya dengan erat diatas tubuhnya.

" Eomma... Eommaaaaaa..."

" Minnie ah..."

" Kau sudah sadar hyung"

" Sadar?" jaejoong menoleh saat dia merasakan tangan kanannya kebas, dia melihat jarum infus menusuk pada pergelangan tangannya

Jaejoong melihat kesekeliling, dia ada dikamarnya, ah... lebih tepatnya kamar tamu keluarga Jung. Dia memang tidur disini selama tinggal di Korea.

" Aku ambilkan minum, tunggu sebentar hyung" Junsu bangkit untuk menuangkan air kedalam sebuah gelas yang ada tak jauh dari sana

" Apa yang terjadi?" Lirih Jaejoong

" Kau... Pingsan. Dokter bilang kau kelelahan karena semua yang telah kau lakukan"

" Mwo?" jaejoong mengerutkan keningnya kemudian dia tersentak kaget " Rapat pemegang saham! Bagaimana?!"

Changmin yang memeluk Jaejoong pun ikut tersentak saat Jaejoong berteriak, Changmin mengerjapkan matanya sembari menatap lekat sang eomma.

" Tenanglah hyung..." Ucap Junsu, dia mendekat dan menaruh gelas yang dia bawa pada meja nakas

Junsu duduk dipinggir tempat tidur, mengambil Changmin dari atas tubuh jaejoong dan membantu Jaejoong untuk duduk kemudian memberikan air yang sudah dia bawa untuk Jaejoong.

" Minumlah dulu"

" Terima kasih Suie, tapi... apa yang terjadi?" Tanya Jaejoong, dia meminum air itu dan menatap Junsu penuh harap

" Itu..."

.

- FLASHBACK ON -

.

Yoochun dengan sigap berdiri dan mengangkat Jaejoong, dia membawa jaejoong menuju kamar yang ditempatinya tanpa sadar seseorang menatapnya tajam. Namja itu menatap Yoochun seakan Yoochun merupakan musuh terbesarnya. Tapi, saat ini memang Jaejoong harus segera dibawa ke kamar karena dia sendiri tidak mampu melakukannya.

" Eoommaaa! Huuuwwweeee!"

Yunho segera tersadar kemudian mengangkat sang anak dan memeluknya erat, Changmin panik saat sang eomma jatuh dan tidak terbangun. Pasti Changmin kaget melihat eommanya seperti itu.

" Tenanglah Minnie, eommamu baik – baik saja" Ucap Yunho mencoba menenangkan Changmin

Setelahnya semua terjadi begitu cepat, Mrs. Jung memanggil dokter pribadinya dan Yunho menemani Changmin karena namja cilik itu tidak mau lepas darinya.

" Bagaimana ini yeobo? Rapat akan segera dimulai" ucap Mr. jung pada sang istri

Mrs. Jung menggigit bibir bawahnya bingung, Jaejoong adalah orang yang sangat penting dalam rapat pemegang saham hari ini. Jika dia tidak datang maka bisa dipastikan semua aset keluarga Jung akan jatuh pada pamannya dan itu akan sangat buruk karena pamannya bukanlah orang yang bisa diandalkan untuk semua ini.

Yunho menatap bingung keluarganya yang seakan mementingkan rapat bodoh yang dia tidak tahu itu dibanding Jaejoong yang amsih saja belum sadar. Namun Yunho mengeryit heran saat eommanya malah menatapnya tajam.

" W-wae?" Tanya Yunho bingung

" Yunho yah... Kau harus hadir dalam rapat kali ini" Jawab Mrs. Jung

" Mwo? Rapat apa?"

" Kau benar yeobo!" Mr. Jung seakan mendapatkan sebuah pencerahan

" Apa maksud kalian?" Tanya Yunho bingung

" Begini Yunho yah... Sebenarnya selama tiga tahun ini Jaejoonglah yang dipercaya harabojimu untuk mengurus perusahan – perusahaan Jung. Dalam wasiat itu disebutkan bahwa Jaejoong akan mengurus semua perusahaan Jung, hanya tandatangannya dan tanda tangan dirimu yang berlaku untuk melakukan semua kegiatan perusahaan hal itu berlaku selama lima tahun. Dan... Jika dalam waktu lima tahun kau tidak juga kembali ke keluarga Jung maka perusahaan akan diambil alih oleh Choi Seunghyung, anak dari pamanmu, kau ingat bagaimana keluarganya bukan?"

Yunho memusatkan perhatiannya pada sang eomma hingga dia tersadar satu hal, perusahaan yang Yunho tahu dibangun susah payah oleh Jung haraboji akan diambil alih oleh Seunghyun? Tidak...

" I-ini gila..." Ucap Yunho tidak percaya

" Kau ingat bagaimana serakah dan naifnya keluarga pamanmu itu bukan?"

" Ja-jadi kalian mencariku untuk mempertahankan perusahaan?" Tanya Yunho, terdengar sedikit suara kemarahan terselip dari nada suaranya

" Dengarkan eomma Yun... Awalnya kami bahkan tidak peduli dengan semua ini, tapi setelah Joongie bangkit dari semua masa lalunya dia mulai bertanya dan meminta pada kami tentang dirimu. Dia ingin bertemu denganmu, ingin mengulang semuanya dari awal"

" Ap-apa..."

" Dia mencintaimu bahkan setelah semua yang kau lakukan padanya"

Ucapan itu tentu saja membuat Yunho kaget, sangat kaget. Bagaimana bisa seseorang yang sudah dia pukul, tampar, hita bahkan dia fitnah berkata bahwa dia masih mencintainya? Bagaimana mungkin itu bisa terjadi?

" Aku..."

" Eomma tahu sulit bagimu menerima semua ini. Jaejoong berkata dia tidak bisa melepaskan perusahaan yang sudah dibangun susah payah oleh harabojimu. Jadi dibantu oleh Yoochun dan appamu, Jaejoong mulai belajar bagaimana menjalankan perusahaan. Tapi itu semua tidak cukup, dia ingin kau yang menjalankannya entah apa alasannya"

Yunho menundukkan kepalanya, satu lagi kejutan yang diberikan Jaejoong padanya, bagaimana bisa Jaejoong menjalankan perusahaan harobojinya selama ini? Bukankah Ahra bilang bahwa Jaejoong adalah seorang desainer?

" Jika kau merasa bersalah" Mr. Jung mulai membuka mulutnya " Maka ikut dengan kami, pertahankan perusahaan yang sudah susah payah dibangun oleh harabojimu"

Yunho menatap Mr. Jung dalam, pandangannya kosong karena terlalu banyak yang dia pikirkan tapi semuanya berakhir saat Yunho menganggukkan kepalanya.

.

.

- FLASHBACK OFF -

.

" Jadi Yunie sekarang ada di perusahaan Jung?" Tanya Jaejoong yang segera dijawab dengan sebuah anggukan dari Junsu

" Aku belum mendapat kabar apapun dari Chunnie hyung, aku harap rapat itu berjalan dengan lancar"

Jaejoong tersenyum lembut.

" Pasti, Yunie pasti bisa melakukannya Suie yah"

" Hah... Kau selalu saja membelanya"

" Cintaku selalu membelanya Su"

" Ck..."

" Eomma, Min lapal" Ucap Changmin yang membuat Junsu mengacak gemas rambut Changmin

" Aigoo... Minnie belum makan hum?" Tanya Jaejoong

" Belum"

" Baiklah, aku akan membuat sesuatu. Minnie tunggu disini bersama eommamu ne?" Junsu mengangkat Changmin dan menaruh anak itu diatas pangkuan Jaejoong

" Jangan lama – lama ne Juchi"

" Iya bawel"

" Bial bawel yang penting ganteng kayak appa"

" Ckckckck"

Junsu meninggalkan Jaejoong dan Changmin, memasak sesuatu untuk anak dari Jung Jaejoong itu. Changmin memeluk eommanya dengan sesekali mengelus lengan sang eomma seakan memberikan kekuatan pada sang eomma.

" Eomma jangan cakit lagi ne?"

" Wae?"

" Min mau eomma yang macakin makanan buat Min, telus Min mau jalan – jalan cama eomma dan appa kalo eomma cudah cembuh"

" Hum?" Jaejoong tersenyum mendengar keinginan sang anak, dia juga ingin berjalan – jalan bersama Yunho dan Changmin tapi bukankah itu butuh perjuangan yang panjang?

" Ne, eomma akan berusaha agar kita bisa berjalan – jalan bersama ne?"

" Hum"

.

.

.

Keluarga Jung juga Yoochun itu memasuki mansion mewah keluarga Jung saat jam menunjukkan pukul delapan malam, rapat itu selesai pukul empat sore dan Mr. Jung langsung mengurus kepemilikan sah perusahaannya untuk Yunho. Dan mereka menyelesaikan tugas mereka dengan baik hari ini walaupun diiringi gerutuan dari keluarga Choi yang sepertinya kesal dengan kehadiran Yunho pada rapat hari ini.

" Eoh? Suie? Kau belum tidur?" Tanya Mrs. Jung pada Junsu yang masih duduk disofa ruang tamu bersama dengan Changmin yang ada dalam pangkuannya

" Minnie bersikeras ingin menunggu kalian pulang tapi dia baru saja ketiduran" Jawab Junsu

" Ah.. Joongie?"

" Setelah makan malam dan meminum obat dia langsung tertidur, mungkin efek dari obat yang dia konsumsi"

" Begitu rupanya"

" Euung? Appa..."

Terdengar suara serak dari namja cilik yang ada dipangkuan Junsu, namja kecil itu menggeliat dan tak lama membuka matanya. Dia melihat sang appa masih dalam balutan jas berdiri di depannya bersama halmoni dan harabojinya. Yunho tersenyum melihat kelakuan menggemaskan yang Changmin tampakkan, dia mengelus rambut Changmin penuh kasih sayang.

" Appa..." Changmin membuka kedua tangannya berharap Yunho akan menggendongnya

" Appa harus membersihkan diri dulu Min"

" Appaaa~~~ Ughhhh..." Changmin mengerucutkan bibirnya dengan tangan masih terjulur kearah Yunho

" Minnie ah..."

" Gendong... Appaa~~~" Rengek Changmin

" Gendong saja atau dia akan menangis dan eommanya akan terbangun Yun" Ucap Mrs. Jung yang akhirnya disetujui oleh Yunho

Namja tinggi itu mengangkat Changmin dan Changmin langsung menaruh dagunya pada bahu Yunho. Menguap sebentar sebelum akhirnya memejamkan matanya, tertidur kembali.

" Kalian tidur saja berdua" Ucap sang eomma

" Hum, baiklah"

Yunho akhirnya membawa sang anak ke kamarnya, dia menaruh bantal di sekeliling Changmin kemudian dia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Setelah selesai, Yunho kembali dan mendapati Changmin masih tertidur namun tempatnya sudah acak – acakan terlebih ada dua bantal yang jatuh dari tempat tidurnya.

" Tidurmu berantakan sekali eoh?"

Yunho segera memakai piyama dan membenarkan bantal – bantal yang sudah tidak pada tempatnya, dia kemudian berbaring disamping Changmin dan memandangi wajah anaknya. Wajah Changmin benar – benar sangat mirip dengannya tapi matanya sama dengan Jaejoong, bulat dan jernih. Sangat indah.

" Jalja Minnie..." Lirih Yunho sebelum kantuk mengusai matanya

.

.

.

" HUUUUWWWEEE!"

" OMO!"

Jaejoong langsung duduk pada tempat tidurnya, dia meraba kesamping namun dia tidak menemukan sang anak ada disana. Karena merasa panik Jaejoong langsung turun dari tempat tidurnya dan keluar kamar, mencoba mencari Changmin dengan mendengarkan suara tangisannya. Langkah kaki Jaejoong terhenti saat dia berada di depan sebuah pintu kamar, kamar Yunho.

Jaejoong meremas kedua tangannya di depan dada, berpikir apakah benar Changmin ada disana? Itu berarti Changmin tidur bersama dengan Yunho malam ini bukan? Haruskah dia masuk? Jaejoong menggigit bibir bawahnya, dia bingung.

Tapi saat suara tangis Changmin makin tidak terdengar Jaejoong melangkahkan kakinya yang tidak memakai apapun itu lebih maju dan perlahan membuka pintu kamar Yunho. Jaejoong terdiam saat melihat pemandangan di depannya, dimana Yunho dengan sabar mengelusi punggung Changmin dan sebelah tangannya lagi memeluk erat sang anak.

Mata Jaejoong berembun, akhirnya dia bisa melihat Changmin mendapatkan perhatian dari appa kandungnya, Jaejoong bersyukur Changmin mendapatkannya walaupun terlambat. Pemandangan ini sungguh menakjubkan bagi Jaejoong, sungguh...

" E-eh?"

Jaejoong tersadar saat Yunho melihat kearahnya. Jaejoong memundurkan langkahnya walau hanya sedikit. Jaejoong tidak mau membuat Yunho tidak nyaman dengan keberadaannya atau membuat trauma namja itu kambuh kembali.

" Terima kasih sudah membuat Changmin kembali tertidur" Ucap Jaejoong tulus

" Bukan masalah" Jawab Yunho dengan nada datar

" Apa kau terganggu? Kalau terganggu aku bisa mengambil Changmin dari sini"

" Tidak, kau keluarlah" Ucap Yunho kemudian memejamkan matanya, Jaejoong tahu bahwa Yunho mulai merasa pusing

" Aku akan keluar tapi tolong biasakanlah dirimu dengan kehadiranku karena kau akan terus melihatku disini"

" …."

" Aku keluar, terima kasih juga untuk siang tadi"

Jaejoong akhinya membalikkan tubuhnya, untuk sementara sepertinya benar yang dikatan Jihyun bahwa Jaejoong harus bersabar untuk tidak mendekati Yunho. Jaejoong memegang knop pintu namun gerakannya terhenti karena Jaejoong menoleh.

" Selamat malam Yunho yah..." Lirih Jaejoong kemudian dia pergi dari kamar Yunho dengan perasaan bercampur aduk

Yunho menatap Changmin setelah Jaejoong keluar dari kamarnya, dia mengecup puncak kepala Changmin seakan meminta maaf atas perbuatannya yang telah dia perbuat. Tapi bukankah ini hukuman untuknya, tidak bisa mendekati namja yang dia cintai itu.

" Ottokeh Minnie ah..." Lirih Yunho

.

.

.

.

Yunho melangkahkan kakinya keruang kerja tamu, disana Yoochun tengah menjelaskan pekerjaan yang harus Yunho tanggung mulai kemarin. Dia mempelajari ulang tentang perusahaan Jung, apa saja yang sudah Jaejoong lakukan untuk perusahaan harabojinya juga menganalisa keuangan perusahaan.

Sedangkan Jaejoong sedang sibuk di butiknya ditemani oleh Mrs. Jung, sedangkan Junsu baru saja pulang bersama Changmin. Namja cilik itu baru saja pulang dari taman kanak – kanaknya.

" Appaaa~~~~" Panggil Changmin dengan keras

Namja kecil itu berlari dan memeluk lutut Yunho yang tengah duduk di sofa. Yunho tersenyum kemudian mengangkat anaknya itu kemudian dipangku.

" Sudah pulang?"

CUP

Changmin mengecup pipi Yunho dan menunjukkan cengiran lebarnya, Junsu hanya bisa berdecak melihat apa yang telah dilakukan Changmin. Changmin bersikap manis hanya kaurena ada maunya saja.

" Ne? Kenapa?" Tanya Yunho bingung

" Minnie akan berbuat manis saat ada maunya saja Yunho sshi" Ucap Yoochun

" Eoh?" Yunho menatap Changmin

" Min mau makan ec klim" Ucap Changmin diakhiri dengan cengiran lebar dibelakang kalimatnya

" Es krim?"

" Ne~~ Min kangen cama Go halaboji, makan ec klim dicana yuk?"

Yunho menoleh kebelakang, menatap Junsu. Junsu yang mengerti tatapan bingung Yunho segera menggelengkan kepalanya pelan.

" Minnie tidak boleh memakan es krim diminggu ini karena beberapa hari kemarin dia sudah memakan es krim" Jawab Junsu

Changmin yang mendengar ucapan Junsu segera mengerucutkan bibirnya, dia kesal pada Junsu.

" Dengar. Junsu ahjusshimu... Kau tidak boleh makan es krim"

" Min mau appa~" Rengek Changmin

" Jangan termakan rayuan dan mata besarnya itu Yunho sshi"

Yunho menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, tadi memang dia sudah akan terpengaruh dengan wajah mengenaskan nan menggemaskan milik Changmin tapi untungnya Junsu memperingatinya.

" Boleh ya appa?" Changmin mengeluarkan jurus bambi eyesnya

" Tidak boleh Minnie ah, mianhae..." Ucap Yunho pelan

Changmin menundukkan kepalanya dan hal itu membuat Yunho pun ikut merasakan kesedihannya. Yunho jadi menyalahkan dirinya sendiri, jika dulu dia tidak membuat Jaejoong keguguran atau melahirkan Changmin secara prematur mungkin Changmin bisa makan apapun yang dia mau bahkan memakan seratus cup es krim kalau dua ingin.

" Minnie ah, lihat apa yang telah kau perbuat, appamu menjadi sedih juga bukan?"

Changmin mendongakkan kepalanya, dia melihat sang appa memandangnya dengan mata berkaca – kaca namun Yunho langsung mengalihkan pandangannya agar Changmin tidak melihat.

" Appa? Ugh... Mianhae, Min nulut deh, Min tunggu jatah Min minggu depan aja" Changmin turun dari pangkuan Yunho namun dia menarik lengan Yunho, meminta perhatian dari Yunho " Tapi appa janji ya minggu depan Min makan ec klim cama appa dan eomma telus ke kebun binatang"

" Eh?"

" Min ili dengel Kyu kemalen pelgi ke kebun binatang cama bumonimnya, Kyu dibeliin topi bebek dicana, Min juga mau"

" …."

" Hey jagoan" Yoochun memanggil Changmin hingga namja cilik itu menoleh menatap Yoochun " Sana ganti baju dan makan setelah itu kau boleh ketempat eommamu"

" Jinjja?"

" Ne, lagipula bukankah kau sudah memiliki bebek ahjumma disampingmu?" Ucap Yoochun sembari melirik Junsu yang sudah melemparkan tatapan tajamnya

" Hahahahahaha Juchi benel! Kajja Cuie Juchi!"

" Ya!" pekik Junsu tidak terima

Tapi dengan riang Changmin menggandeng Junsu dan meninggalkan Yunho serta Yoochun yang ada di ruang tamu. Changmin berniat mengganti pakaiannya, makan siang dan segera menemui eommanya.

" Kau harus membiasakan diri dengan sikap manja yang Changmin lakukan"

" Apa dia sering seperti itu?"

" Hmm... Ya, dia sering melakukannya untuk mendapatkan perhatian dari eommanya yang sering sekali sibuk bekerja. Bukan keinginan Jaejoong untuk meninggalkan Changmin saat bekerja tapi itu sudah tuntutannya apalagi dia bekerja sebagai desainer dan mengurusi perusahaan Jung. Tapi jika dia bisa, Jaejoong akan membawa Changmin ke tempat kerjanya dan membiarkan Changmin main disana"

" Jadi... Changmin sering ikut Jaejoong bekerja?"

" Ya, aku rasa Jaejoong benar – benar ingin jadi ibu dan ayah yang baik untuk Changmin. Sehingga melakukan apapun yang bisa membuat Changmin senang. Apalagi saat itu kasih sayang Changmin hanya ada dari Jaejoong, sehingga Jaejoong harus bekerja keras menjadi eomma dan appa yang baik untuk Changmin"

Yunho tidak bisa berkomentar apapun, Yoochun memang benar. Changmin pasti kesepian walaupun sudah ada Junsu dan Yoochun disampingnya. Kasih sayang orangtualah yang Changmin butuhkan. Dan sepertinya Jaejoong berusaha semaksimal mungkin untuk membahagiakan Changmin.

" Baiklah, kita akan lanjutkan. Bisa?"

" Oh ne"

.

.

.

.

Yunho menggeliat dalam tidurnya, dia bermimpi buruk hingga terpaksa harus membuka matanya dan mengusap peluh yang membasahi wajah serta lehernya. Dia menoleh kesamping dan mendapati gelas air minumnya sudah kosong, Yunho mengambil gelas itu dan membawa menuju ke dapur.

Sudah seminggu Yunho berada dirumah ini, mendapatkan kehangatan keluarga yang dulu sering dia rindukan dikala kesepiannya. Bisa menatap Jaejoong secara nyata walaupun dia tidak bisa menyentuhnya. Bermain dengan Changmin untuk mengusir kegundahannya. Memeluk eommanya saat dia minta diperhatikan, semua sempurna.

Tidak ada lagi deskripsi kebahagiaan yang bisa Yunho jabarkan. Ini sudah lebih dari cukup walaupun dia tidak bisa berdekatan dengan Jaejoong. Tidak apa – apa. Dia sudah sangat senang namja itu hidup dan memberikan hal paling berharga dalam hidupnya, Changmin.

Yunho menyelesaikan minumnya dan berjalan kembali ke kamarnya, namun langkahnya terhenti saat seseorang berjalan membelakanginya. Seorang namja berjalan menuju ruangan yang Yunho tahu adalah ruang kerja appanya. Jaejoong sedang berjalan sembari membaca sebuah berkas tanpa menyadari seseornag tengah mengikutinya.

Yunho mengeryitkan keningnya saat dia tahu berkas apa yang Jaejoong bawa, berkas keuangan yang tadi siang Yunho kerjakan bersama Yoochun diruang tengah keluarga Jung. Yunho memang belum pergi bekerja ke perusahaan Jung, dia masih mengerjakan tugasnya di rumah keluarga Jung dan Yoochun lah yang akan mengantarkan berkas yang sudah Yunho setujui atau sudah dia periksa.

Yunho mengintip dibalik pintu apa yang Jaejoong lakukan, namja cantik itu duduk pada kursi kerja appanya. Membuka notebook miliknya sembari melihat kembali kearah berkas yang ada ditangannya. Tangan kanannya memegang pena dan mencoret – coret sebuah kertas, mungkin juga mencatat sesuatu disana. Jaejoong memperhatikan layar notebook-nya kemudian mengerutkan keningnya sebelum akhirnya dia menganggukkan kepalanya dan tersenyum.

" Ah, aku lupa harus menghafal pidato untuk besok pagi"

Jaejoong membuka berkas lainnya setelah membereskan berkas yang sebelumnya, dia memandang kertas yang ada di tangannya sesekali Yunho mendengarkan gumaman dari mulut Jaejoong. Yunho langsung tahu bahwa namja cantik itu tengah menghafal pidato untuk membukaan butiknya besok pagi sekaligus memperkenalkan diri sebagai Kim Hero yang selama ini tersembunyi.

Yunho menatap wajah itu, jantungnya berdebar namun kali ini bukan debaran menyakitkan. Ada hal lain yang dia rasakan, dia juga tidak merasa bahwa tangannya bergetar. Ada apa ini? Kenapa hanya dengan memandang Jaejoong jantungnya bisa berdebar seperti ini? Cinta?

Tentu saja Yunho mencintai Jaejoong hingga jantungnya berdebar untuk Jaejoong tapi... Bagaimana mengungkapkannya jika berdekatan saja Yunho tidak sanggup karena tubuhnya bergetar dengan hebat.

Yunho perlahan memundurkan tubuhnya dan berjalan menjauhi ruang kerja sang appa sembari memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Apa dia akan terus seperti ini didalam rumahnya sendiri, apa dia dan Jaejoong akan seperti ini?

.

.

.

Yunho memandang pemandangan diluar mobilnya, dia sedang menuju kearah tempat peresmian butik Jaejoong bersama appa dan eommanya. Sedangkan Jaejoong melaju terlebih dahulu bersama Yoochun, Junsu serta Changmin. Tidak lupa Ahra dan Mr. Go akan datang atas undangan Jaejoong.

" Yunho yah..." Panggil sang eomma yang duduk disampingnya

" Ne eomma?"

" Boleh eomma bertanya sesuatu?"

" Ya?"

" Apa selama ini tidak pernah mencintai Jaejoong walau sedikitpun?"

.

.

" Cinta? Mencintai namja sepertimu? Apa kau bermimpi?"

" Yun..." Namja itu memandang Yunho dengan wajahnya yang sudah basah karena air mata

" Berkacalah, aku tidak akan mungkin mencintai namja sepertimu. Berhentilah bermimpi dan hiduplah pada kenyataan, bahkan aku tidak akan pernah mengakui anakmu"

.

.

.

" Yun?"

" Ah... Maafkan aku eomma" Lirih Yunho

Permintaan maaf Yunho disalahartikan oleh Mrs. Jung, dia menganggap Yunho memang tidak pernah mencintai Jaejoong dan dia tidak bisa melakukan apapun. Ini adalah tugas Jaejoong untuk membuat sang anak mencintainya, Mrs. Jung hanya bisa berdoa semoga keajaiban itu muncul dan membuat keduanya bahagia.

Mr. Jung hanya bisa tersenyum miris mendengar percakapan istri dan anaknya, cinta memang tidak bisa dipaksa bukan? Namun dia yakin Yunho memiliki rasa terhadap Jaejoong tapi namja itu belum menyadarinya.

" Minnie memintaku untuk menemaninya ke kebun binatang minggu depan"

" Eh?" Mrs. Jung menatap Yunho

" Bersama Jaejoong"

Mrs. jung tersenyum mendengarnya, cucunya itu memang kadang pintar, semoga saja ada hal baik yang akan terjadi di kebun binatang itu.

.

.

.

Yunho duduk bersama kedua orangtuanya juga Junsu, Ahra dan Mr. Go didalam aula. Sedangkan Changmin sudah duduk nyaman pada pangkuan Yunho sembari menerima suapan cake dari Junsu. Didepan sana Jaejoong tengah berbicara didampingi Yoochun yang ada disampingnya. Para awak media mulai kaget saat Jaejoong membuka rahasia besarnya bahwa seorang Kim Jaejoong adalah seorang Kim Hero dan juga tentang status Jaejoong yang sekarang adalah bagian dari keluarga Jung.

Tapi itu semua tidak membuat Jaejoong gugup, dia menjawab satu – persatu pertanyaan yang diajukan para wartawan padanya. Yunho melihat bagaimana usaha Jaejoong untuk berbicara di depan podium dikelilingi dengan pertanyaan – pertanyaan yang membuatnya pusing.

Hingga akhirnya para wartawan itu menoleh dan melirik keluarga Jung terutama Yunho yang hanya bisa diam. Kedua orangtuanya telah menyarankan padanya utnuk tetap diam dalam konferensi pers yang diadakan sebelum pembukaan butik Jaejoong itu dan Yunho menurutinya.

Terakhir, Jaejoong memberikan senyumnya serta melirik Yunho dan memberikan senyum tulus pada namja itu sebelum akhirnya meninggalkan podiumnya diikuti keluarga Jung dan Go serta Junsu. Mereka berjalan mengikuti Jaejoong yang akan menggunting pita di depan pintu butik.

Acara membukaan itu sangat meriah karena setelah pembukaan butik, Jaejoong mengadakan sebuah pesta yang dihadi oleh artis – artis serta model – model terkenal. Yunho melihat keseluruh penjuru ruangan, beberapa orang mengerubungi Jaejoong untuk berkenalan, mengobrol atau hanya untuk mengucapkan salam padanya.

Belum lagi para wartawan yang ada diluar ruangan itu mungkin masih terkejut dengan latar belakang Jaejoong yang ternyata dulu pernah dikabarkan menghilang entah kemana. Juga Yunho yang kemarin tiba – tiba muncul dalam rapat perusahaan Jung dan mengambil semua saham yang dia miliki untuk melanjutkan tugasnya diperusahaan Jung.

" Kenapa melamun Yun?"

" Eomma..."

" Mau berdansa dengan eomma?" Tanya Mrs. Jung yang melihat anaknya melamun menatap Jaejoong

" Ne?"

" Ayo..."

Mrs. Jung manggandeng sang anak kemudian membawanya ke lantai dansa, sebenarnya dia sudah lama tidak berdansa hanya saja dia tidak ingin melihat anaknya melamun seperti tadi. Menyakitkan juga melihat Yunho seperti tadi.

" Terima kasih eomma"

" Terima kasih untuk apa?"

" Semua yang eomma lakukan untukku"

" Berterima kasihlah pada Jaejoong, dia yang membuat semua ini terjadi. Dia membuka hati harabojimu untuk memaafkanmu, melakukan semua yang seharusnya menjadi tugasmu dengan suka rela dan jangan lupakan dia sangat mencintaimu Yun. Bagaimana denganmu? Apa benci itu masih ada untuknya?"

Yunho bungkam, ingin menceritakan semuanya namun dia terlalu mau untuk mengatakannya. Dia lebih bisa membicarakan semuanya dengan Ahra dibandingkan dengan eommanya.

" Eomma tidak memaksamu untuk mencintainya tapi tolong lihat bagaimana perjuangannya untukmu Yun... Semua itu tulus dia lakukan untukmu"

" Ne eomma, arraseo"

Setelah berdansa dengan Mrs. Jung, Ahra mengajak Yunho untuk berdansa dan diangguki oleh Yunho. Sebenarnya ada hal yang ingin dibicarakan Ahra dengan Yunho hanya saja tempat ini terlalu ramai untuk membicarakan semuanya sehingga Ahra mengajak Yunho untuk berdansa saja.

" Oppa... Aku rasa Jaejoong oppa tengah cemburu saat ini" Ucap Ahra pelan sesekali matanya melirik kearah Jaejoong yang ternyata tengah memperhatikannya, ekspresinya tentu saja terlihat bahwa Jaejoong tengah cemburu

" Hmm? Kau sengaja melakukannya?"

" Ya... Aku ingin oppa melihat bahwa ada cemburu dimata Jaejoong oppa itu artinya dia sangat mencintaimu"

" Ahra yah... Sudah berapa kali aku mengatakannya?"

" Ya aku tahu kalian berdua saling mencintai, aku hanya meminta padamu jangan saling menyiksa"

" Aku sudah memutuskannya Ahra"

" Memutuskan apa?"

" Aku akan melakukan terapi dengan Jihyun noona"

" Wah!" Mata Ahra berbinar " Syukurlah! Aku senang mendengarnya"

Ahra memeluk Yunho tanpa sadar dan itu membuat Jaejoong yang melihatnya segera membalikkan tubuhnya dengan matanya yang berkaca – kaca.

" A-ahra yah"

" OMO! Mianhae! Aku tidak sadar oppa! Omona bagaimana kalau Jaejoong salah paham? Otteokeh? Aigo, bagaimana ini?!" Panik Ahra

" Tenanglah"

Yunho menepuk puncak kepala Ahra dan memberikan senyumnya.

" Tenanglah Ahra"

" Tapi..."

" Tidak apa – apa"

Jaejoong merasakan hatinya semakin hancur karena sang suami tersenyum pada yeoja lain, Ahra. Jaejoong menjadi ragu apakah yang dikatakan Ahra adalah benar? Ahra berkata bahwa Yunho mencintainya, ya... Mencintai Jaejoong dan menyesali segala perbuatannya.

Tapi...

Jika melihat perilaku Yunho terhadap Ahra sekarang... Bagaimana ya menjelaskannya? Sangat rumit karena rasa posesif itu mendarah daging pada diri Jaejoong. Dia tidak ingin Yunho menyukai yeoja atau namja lain selain dirinya.

" Yunie ah..."

Yunho menoleh akan dia mendengar seseorang yang memanggilnya, dia menoleh ke kanan dan ke kiri namun dia tidak melihat siapapun yang memanggilnya sampai matanya terdiam saat melihat ekspresi sendu Jaejoong. Tidak sampai lima detik Yunho segera memalingkan wajahnya, tidak tahan jika harus bertatapan dengan Jaejoong lebih lama. Tapi, Yunho melirik kearah Jaejoong dan dia melihat bibir Jaejoong berucap tanpa suara kearahnya.

DEG

Jantung Yunho berdebar keras saat melihat gerakan bibir Jaejoong, satu kata yang membuat dirinya bisa runtuh kapan saja.

" Saranghae"

.

.

.

Pesta itu berjalan lancar, Jaejoong senang sekali dengan hasil kerja Yoochun yang memang tidak pernah mengecewakannya. Mereka pulang setelah jam menunjukkan pukul dua belas malam sedangkan Changmin sudah pulang terlebih dahulu bersama Junsu pukul sepuluh.

Tapi setelah pesta bukannya beristirahat, Jaejoong malah berjalan kearah ruangan yang sekarang menjadi ruang kerjanya juga di lantai dua, sebenarnya itu adalah ruang kerja Mr. Jung napi mertuanya itu memperbolehkan Jaejoong untuk memakai ruangan kerjanya.

" Hah..."

Jaejoong menghembuskan nafas, setelah mandi dan memakai piyama yang harus Jaejoong lakukan adalah memeriksa hasil kerja perusahaan Jung serta memebrikan beberapa koreksi jika terjadi kesalahan pada laporan itu. Dia juga memeriksa pekerjaan yang diselesaikan Yunho, hmm... Sejauh ini Yunho belum melakukan kesalahan dalam menyelesaikan laporan keuangan perusahaan Jung.

" Eoh? Aku baru ingat. Bukankah Choi ahjusshi meminta Seunghyun untuk bekerja pada perusahaan Jung? Apa aku harus memberikan posisi disalah satu perusahaan Jung? Aku harus berkonsultasi dulu pada aboji dan Yoochun" Gumam Jaejoong

Choi Seunghyun, sepupu Yunho. Ibu Seunghyun adalah kakak dari Jung Siwon, yeoja itu menikah dengan namja bermarga Choi dan memulai bisnis bekerja sama dengan perusahaan Jung. Namun sudah menjadi rahasia umum jika Mr. Choi merupakan orang yang tamak dan angkuh sehingga Mr. Jung sedikit takut jika nanti perusahaan yang sudah dibesarkan oleh appanya jatuh ditangan yang salah.

Dengan meminta Seunghyun bekerja pada perusahaan Jung, itu berarti Jaejoong memberikan kesempatan pada keluarga Choi untuk mencari kelemahan perusahaan itu dan Jaejoong takut jika nanti perasahaan Jung malah jatuh ke tangan keluarga Choi.

" Seunghyun sebenarnya namja yang baik tapi... Aku juga tidak boleh terlalu mudah mempercayainya bukan? Hmm... Padahal dia tampan" Jaejoong tersenyum diakhir katanya, apa dia baru saja memuji namja lain? Aigo...

Srett

Jaejoong langsung menoleh ketika dia mendengar suara dari arah pintu, Jaejoong memandang seseorang yang berdiri dipintu itu dengan canggung.

" Yunho?"

Namja itu mengalihkan pandangannya, tidak baik untuknya menatap Jaejoong lama – lama karena Jaejoong adalah sumber besar kelemahannya.

" Kau belum tidur?"

" Aku mencari sesuatu disini"

Jaejoong menaikkan salah satu alisnya, mencari sesuatu?

" Apa?"

" Buku appa"

" Oh, silahkan cari saja"

Yunho mengangguk kemudian masuk kedalam ruang kerja sang appa, Jaejoong pun kembali sibuk walaupun jantungnya berdebar keras saat Yunho melangkah masuk kedalam ruangan itu. Yunho mulai menyadari bahwa dia sudah bisa menerima kenyataan bahwa Jaejoong masih hidup dan beberapa hari ini dia bisa mengatasi rasa traumanya saat Jaejoong ada disekitarnya, ada apa ini?

Yunho tadi melihat ruang kerja sang appa terbuka sedikit dengan lampu yang masih menyala, dia tahu Jaejoong atau appanya sedang ada disana jadi Yunho berjalan kearah ruang kerja dan melihat Jaejoong sedang memeriksa laporan perusahaan.

Yang Yunho perhatikan Jaejoong memang melakukan pekerjaannya hingga dini hari, Yunho lebih suka melihat Jaejoong seperti itu dari jauh. Mungkin itu yang menyebabkan dia bisa mengatasi traumanya, melihat Jaejoong setiap hari ada disekitarnya membuat tubuh Yunho tidak segemetar dulu.

Kembali lagi ke asal, Yunho tersenyum sendiri melihat berbagai macam ekspresi yang Jaejoong tunjukkan. Tapi rahangnya mengeras saat Jaejoong membahas tentang sepupunya, Seunghyun. Namja tinggi, tegap nan tampan juga tegas yang dulu sering bermain dengannya.

Dan Jaejoong mengatakan apa? Seunghyun tampan?

Hell... Namja itu memang tampan karena darah Jung masih mengalir dari dalah tubuhnya. Tanpa sadar Yunho meremas pegangan pintu hingga membuat pintu itu terbuka lebar. Yunho mencari alasan dan akhirnya dia berbohong pada Jaejoong dengan mengatakan bahwa dia sedang mencari buku appanya.

Yunho sesekali melirik pekerjaan yang dilakukan Jaejoong, satu buah notebook menampilkan data base perusahaan, tangan Jaejoong juga memegang berkas perusahaan serta tiga tumpuk berkas yang masih belum tertutup, sepertinya belum sempat Jaejoong kerjakan.

" Ini? Benarkan?"

Jaejoong mengambil sebuah berkas dan mencocokkannya dengan berkas yang dia pegang. Yunho memperhatikan Jaejoong dari belakang, pasti namja itu tengah mengerucutkan bibirnya. Yunho melirik kearah berkas yang dipagang Jaejoong, oh? Dia sudah mengecek berkas itu sampai tiga kali kemarin.

" Berkas itu sudah aku periksa tiga kali" Ucap Yunho singkat namun membuat Jaejoong menoleh kearahnya

" Benarkah?" Tanya Jaejoong

" Ya" Jawab Yunho seadanya tanpa menatap Jaejoong

" Ah, arraseo"

Jaejoong kembali sibuk dengan berkasnya sedangkan Yunho masih melihat – lihat buku yang ada dirak lemari ruang kerja appanya.

" Terima kasih sudah mau kembali dan menjadi bagian dari keluarga Jung lagi Yun" Ucap Jaejoong tanpa menoleh, dia menatap berkasnya namun pikirannya tidak untuk pekerjaannya

Yunho menghela nafas, dia tahu lambat laun akan membahas hal ini dengan Jaejoong.

" Katakan padaku alasan sebenarnya kau melakukan ini semua" Ucap Yunho

" Maksudmu?" Jaejoong berdiri, memutar tubuhnya dan menatap punggung Yunho karena Yunho tengah berdiri membelakanginya

" Yah kau tahu, aku mengambil kesimpulan bahwa aku disini untuk mempertahankan perusahaan Jung. Jika haraboji tidak menuliskan semua itu pada surat wasiatnya aku yakin kalian tidak akan pernah mencariku"

Ah~

Jaejoong paham kemana arah pembicaraan Yunho, jadi namja itu menganggap keluarga Jung mencarinya untuk memanfaatkan dirinya? Ck...

" Pertama, aku melakukannya demi Changmin, dia butuh sosok appa walaupun aku seorang namja tapi aku tidak bisa melakukannya. Kedua, keluargamu membutuhkan kehadiranmu disini. Kebahagiaan tidak lengkap jika kau belum ada disini dan perusahaan itu hanya bonus untuk mereka"

Yunho mendengarkannya dengan gugup, dia bisa merasakan Jaejoong mendekat kearahnya dan itu tidak baik bagi jantungnya. Hey, usiamu sudah berapa? Kenapa masih merasakan hal seperti itu eoh?

" Dan yang ketiga... Adalah alasan yang paling penting" Jaejoong mengeluarkan nada serius dalam ucapannya

Yunho bisa merasakan sebuah sengatan saat sebuah tangan menyentuh lengannya dan membalikkan tubuhnya. Yunho bisa melihat tatapan datar Jaejoong pada dirinya walaupun dirinya tidak menatap Jaejoong secara sempurna. Jaejoong yang gemas dengan perilaku seme-nya itu segera mencengkram dagu Yunho agar namja itu menatapnya.

" Alasan terpenting itu adalah karena aku mencintaimu dan aku tidak akan melepaskanmu demi apapun walaupun kau memohon padaku"

"!"

CUP

.

.

.

.

~ TBC ~

.

.

.

Annyeong... Mianhae Cho baru bisa update, jangan lempar Cho ne? Cho terlena sama ff sebelah (namjin, vhope) sampe lupa urus ff sendiri. Kkkkkkk...

Oke, jangan sampe ff Cho keluar jalur dan chap depan Cho masukin banyak Yunjae momennya hahahahaha sama bang Mimin tersayang juga sih.

Maafkeun juga karena Cho lagi packing – pcking buat liburan hahahahay jadi na untuk waktu ngetik sangat berkurang ^^

.

Special Thanks :

.

Boobear, Herlina, ismi mimi, moebyansz, i-in, LauraChoilau324, uknowme2309, aykei yunho, cm 1 imuutt, Ivyunjae, nishikado. Yukito, cha yeoja hongki, RereYunjae pegaxue, akiramia44, nabratz, himeryo99, JRenTastic, eL Ree, Bestin84, Sri kencana, lovgravanime14, venn, Gaemgyu92, fans jj, readeraja, Noname, JongDO, elite minority. 1111 (irisan bawang 200kg kkkkkkkk),

Sayuri Jung, AlienBaby88, Peirncess Jae, dheaniyuu, Dewi15, Avanrio15, RaizelYJ, fera95, Yunjae Heart (pasti!), teukiangke, Dolphin Jun, Galazy Yunjae, kimRyan2124, indi, mha. Feibudey, rhue0290,

Buat yang udh follow, fav dan para SiDer

.

Yang namanya belom kesebut ataupun ada kesalahan nulis nama maafkeeeuuunnn Cho ya! #bow

See u next chap?

Chuuuu~~

.

.

.

Minggu, 1 Mei 2016