Home
.
.
.
.
.
.
Disclaimer : Mereka hanya milik Tuhan
Cast : DBSK Family, dll
Genre : Family, Romance, Drama, hurt/comfort. Yaoi
Typos bertebaran, membosankan, alur suka"
Rate : T
Maaf ya buat yang udah nunggu ff ini seabad, hahahaha #bow dan Chap ini alurnya lambaaaaaaaaatttttt bgt.
.
D.L.D.R yaaa... Ga tau singkatnya?
Don't Like, Don't Read. Ga tau artinya?
Ga Suka Ga Usah baca, simple kan?
.
.
.
.
.
.
Usai makan siang itu, Changmin tertidur dipangkuan Yunho. Yunho pun tidak lama tertidur, Jaejoong tidak memperbolehkan Yoochun untuk membangunkan Yunho yang terlihat kelelahan itu. Sehingga hal itu membuat Yoochun akhirnya harus menggantikan Yunho untuk meeting dengan perusahaan lain.
Jaejoong duduk diseberang sofa memperhatikan wajah damai kedua namja kesayangannya itu, sebuah senyum tidak pernah luntur dari wajahnya. Semua menjadi lebih baik walaupun Yunho masih kaku dan canggung.
Namja cantik itu menghela nafasnya, dia kemudian bangkit karena ingat masih ada yang harus dikerjakan. Tapi sebelum beranjak menuju meja kerjanya dia menghampiri Yunho dan mengusap kening namja itu.
CUP
Sebuah kecupan mendarat pada kening Yunho dan Jaejoong mengelus lembut rambut Yunho.
" Terima kasih"
.
.
.
.
.
~ Chapter 12A ~
.
.
.
.
.
.
.
KLIK
Jaejoong mematikan komputer dan notebook-nya, hari sudah malam dan dia harus kembali ke hotel. Yoochun sendiri sudah berdiri di dekat pintu sembari menatapnya teduh. Seperti inilah pekerjaan Jaejoong empat tahun ini, mengurus perusahaan dibantu Mr. Jung selaku pemilik perusahaan.
Jaejoong meminum teh yang tadi Yoochun sediakan, kemudian menyandarkan tubuhnya pada kursi kerjanya dan menutup matanya. Lelah, sudah tiga hari dia di Busan untuk menyelesaikan penggelapan dana yang dilakukan oleh salah satu rekan bisnisnya. Astaga...
" Jae..."
" Humm... Sebentar hyung, aku masih lelah. Besok apa jadwalku?"
" Hanya menghadiri beberapa meeting dan rapat akhir kepengurusan perusahaan di Jeju"
" Oke" Lirih Jaejoong
Jaejoong beranjak pulang ke hotel lima belas kemudian, dia tampak sangat letih namun ini bukan akhir dari harinya. Hal yang dia sukai setelah bekerja seharian adalah setelah mandi.
Usai membersihkan diri dan memakai piyama berwarna biru dongker milik Yunho yang dengan sengaja dia minta sebelum berangkat ke Busan, Jaejoong duduk bersandar pada tempat tidurnya. Membuka ponselnya dan mengirimkan sebuah pesan pada suaminya dan tidak lama panggilan video masuk ke dalam ponselnya.
" Yeo-"
" EOMMAAAAAA!"
" Omo!"
Jaejoong yang kaget melempar ponselnya, dia sungguh kaget mendengar pekikan anaknya itu! Jinjja! Changmin itu mirip siapa sih sebenarnya? Kenapa suka sekali berteriak?
" Eommaa!"
" Ah ne Minnie..." Jaejoong kembali mengambil ponselnya dan tersenyum pada sang anak
Ini adalah yang dia sukai, usai mengerjakan semua pekerjaan dia akan berteleponan atau melakukan video call dengan anaknya yang menggemaskan itu.
" Eommaaa!"
" Aigo... Tidak usah berteriak begitu baby ah" Ucap Jaejoong dengan lembut kemudian memperhatikan wajah anaknya, kenapa ada yang berbeda? Anaknya sedang duduk dipangkuan seseorang yang Jaejoong tahu adalah suaminya, sudah memakai piyama bermotif beruang dan kelinci tapi bukan hanya itu yang menjadi fokus Jaejoong
" Eommaa~" Kini suara Changmin terdengar seperti tengah merajuk
" Baby ah, kenapa matamu merah? Kau menangis hum? Wae?"
" Eomma... Min mau ketemu eomma. Min kangen, hiks..."
Ah~ Jadi itu alasan anaknya menangis, aigo... Jaejoong juga merindukan anaknya tapi mau bagaimana lagi? Pekerjaannya masih menumpuk dan dia belum bisa pulang untuk memeluk anak tersayangnya.
" Minnie ah~~" Panggil Jaejoong lembut
" Eomma... Hiks... Mau ketemu eomma... Huwwaaaaaaa" Tangis Changmin makin kencang hingga membuat mata Jaejoong berkaca – kaca
" Eomma juga rindu dengan Minnie, sabar ya?"
" Gak mau! Eommaaa pulang sekaran, pulaaanngg! Huuwwwaaaaa!"
" Minnie ah..."
" Aigo... Min, sudah. Berikan ponselnya pada appa" Kali ini suara Yunho terdengar, Jaejoong melihat ponsel itu hendak diambil oleh sebuah tangan tapi Changmin menahannya
" Aniya! Aniyaaa! Eommaaa huwwaaaaa!"
" Baby ah.."
Jaejoong sedih juga melihat anaknya menangis sesenggukan seperti itu tapi mau bagaimana lagi? Ugh... Ingin sekali Jaejoong meninggalkan pekerjaannya dan mengusap mata Changmin yang menangis itu. Astaga! Hampir saja Jaejoong lupa!
" Minnie ah, berhenti menangis. Asmamu bisa kambuh. Sayang..." Ucap Jaejoong namun sepertinya Changmin tidak memperdulikan ucapannya
" Aniyaaa! Appa andweee! Belikan ponselnya! Min masih mau cama eomma huwwaaaaa!"
" Minnie ah..." Suara Yunho terdengar lembut, Jaejoong tahu pasti namja itu tengah menahan emosinya juga karena Changmin tengah memukulinya
" Appa napuen eomma! Appa nakal! Huwaaaa, halmoniiiii"
" JUNG CHANGMIN!"
DEGH
.
" KIM JAEJOONG!"
.
Tidak hanya Changmin yang menghentikan tangisannya, Jaejoong pun terdiam saat mendengar bentakan itu. Layar ponselnya terlihat gelap karena kemungkinan Changmin berhasil mengambil ponsel itu dan memeluknya dengan erat didadanya.
Jaejoong merasa sesak, kenapa dia jadi ingat bagaimana Yunho berteriak memanggil namanya dengan keras. Perasaannya tidak karuan sekarang.
" Berikan ponselnya" Suara Yunho terdengar sangat datar
" An-aniya..."
" Jung Changmin! Lihat apa yang kau perbuat!"
.
" Lihat apa yang telah kau perbuat, jalang brengsek!"
.
DEGH
Jaejoong menutup matanya erat, suara Yunho saat memakinya dulu terngiang di kepalanya. Tidak, Yunho tidak kembali seperti dulu bukan? Andwe...
" Ap-appa aniya..." Suara Changmin terdengar sangat irih dan membuat Jaejoong cemas
" Wajahmu memerah, bagaimana kalau asmamu kambuh eoh?"
" Hiks... Eomma..."
Jaejoong menghela nafasnya, Yunho sudah berubah. Dia tidak seperti dulu lagi, Yunho membentak Changmin hanya supaya Changmin berhenti menangis dan memberontak. Terbukti dari suara Yunho yang mulai melembut.
" Kalau seperti ini kau malah membuat eommamu khawatir baby ah"
Jaejoong bisa mendengar suara gesekan yang mungkin terdengar karena Yunho mengangkat Changmin dan kembali memangkunya. Dan ketika layar menunjukkan wajah keduanya Jaejoong menghela nafasnya lega.
" Jangan khawatirkan kami, fokus saja pada pekerjaanmu. Annyeong"
" Yu-"
PIK
Yunho mematikan secara sepihak sambungan video call itu, Jaejoong menggigit bibir bawahnya. Dia mengkhawatirkan anak yang sudah ditinggalkan selama tiga hari itu.
'To : Yunie
Minnie bagaimana?'
Usai mengirimkan pesan, Jaejoong berbaring menatap langit – langit kamarnya. Anaknya malam ini sungguh membuatnya khawatir. Bagaimana bisa bocah itu menangis sampai sesenggukkan begitu. Tapi Jaejoong harus akui bahwa anaknya memang tidak terbiasa jauh darinya dan tiga hari ini pasti sangat berat bagi Changmin.
Padahal dua hari kemarin dia terlihat senang dan memamerkan apa yang Yunho berikan padanya. Changmin bahkan bercerita bahwa Yunho membelikan sepeda roda tiga dan mengajaknya bermain di sekitar sungai Han lalu makan daging bakar bersama malamnya.
.
.
.
.
.
.
Drrtt... Drttt...
Jaejoong mengambil ponselnya, sebuah pesan dari Yunho muncul setelah setengah jam dia mengirimkan pesan pada Yunho. Jaejoong mana bisa tidur tanpa tahu kabar anak kesayangannya itu.
'From : Yunie
Maaf baru membalas pesanmu. Maaf juga karena aku tidak bisa menjaga Changmin dengan baik hari ini, dia jatuh dari sepeda roda tiganya dan merajuk ingin bertemu denganmu makanya dia menangis seperti tadi. Tapi jangan khawatir karena Changmin sudah tidur, mungkin lelah menangis. Selamat malam'
" Huh... Formal sekali? Aku merasa kau sangar berbeda dari yang dulu Yun... Kau benar – benar berbeda"
Dulu, Yunho sangat menyebalkan, bertindak semaunya, sering membuatnya sakit hati, keras kepala belum lagi sifat playboy-nya dan banyak lagi sifat Yunho yang negatif yang tidak bisa Jaejoong jabarkan satu persatu. Namun sekarang Jaejoong bisa merasakan perbedaan yang luar biasa dari Yunho, mungkin karena 'pengasingan' yang dilakukan keluarga Jung padanya membuatnya belajar menghargai semuanya.
Jaejoong bersyukur, benar – benar bersyukur. Setidaknya dia tidak harus mengemis cinta atau belas kasihan dari Yunho seperti dulu. Mengingat masa lalu membuat tangannya gemetar, apalagi saat tadi Yunho membentak Changmin.
" Ti-tidak Jaejoong ah... Yunho sudah berubah. Percayalah padanya Jaejoong..." Lirih Jaejoong dengan tangan yang saling bertautanan dan dia memejamkan matanya karena merasa pusing
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TOK TOK TOK
" …..."
TOK TOK TOK
" Ughh..."
TOK TOK TOK
" Ya... Sebentar!"
Jaejoong membuka matanya, dia mengerjapkan matanya dan mengambil ponselnya yang ada dimeja nakas. Pukul enam pagi. Siapa juga yang mengetuk pintu sepagi ini? Yoochun? Mungkin?
Dengan malas Jaejoong bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan kearah pintu sembari menguap dan menggaruk kepalanya walau tidak merasa gatal.
TOK TOK TOK
" Ya..."
CEKLEK
" EOMMAA!"
Sontak Jaejoong membuka matanya lebar – lebar melihat siapa yang ada di depan kamarnya, Yunho sedang menggendong Changmin yang tersenyum lebar menatapnya. Tangan Jaejoong terangkat untuk mencubit pipinya.
" Aw!" Pekik Jaejoong, dia merasa kesakitan
" Eomma waeyo?" Tanya Changmin bingung
" Changminnie?" Panggil Jaejoong dengan nada tidak percaya
" Eommaa~~~"
" Minnie ah"
" Jae, tolong bawa masuk Changmin dulu. Aku akan mengambil koperku" Ini suara Yunho yang menginterupsi keduanya
" Ah, n-ne"
" Jangan kunci pintunya"
" Ne"
Changmin mengulurkan tangannya dan disambut dengan senang hati oleh Jaejoong. Dia membawa masuk Changmin dan mendudukkan Changmin di atas tempat tidur besarnya itu, dia sendiri kemudian berbaring disamping Changmin yang duduk dan memeluk pinggang anaknya dengan erat.
" Eommaaa~~" Rajuk Changmin karena dia jadi sulit untuk bergerak
Jaejoong sedikit menjauhkan kepalanya dan menatap Changmin dengan senyuman di wajahnya.
" Kenapa bisa ada disini eoh?" Tanya Jaejoong
" Min juga gak tahu! Pas bangun tidul, Min udah ada di mobil cama appa. Kata appa, Min diajak ketemu eomma, ya udah... Min tidul lagi"
" Aigoo... Eomma rindu sekali dengan Minnie"
" Min juga... Hoooaaammmm" Changmin menguap
" Masih mengantuk eoh? Ayo tidur sama eomma"
" Ne!"
Dengan semangat Changmin membaringkan tubuhnya disamping sang eomma setelah membuka jaketnya, Jaejoong sempat membulatkan matanya karena dibalik jaket Changmin ternyata sang anak masih menggunakan piyama yang digunakan semalam. Astaga...
Changmin beringsut memeluk sang eomma dan Jaejoong dengan senang hati membalas pelukan Changmin, dia menepuk – nepuk punggung Changmin dan tidak lama bocah itu tertidur lelap.
" Aigo... Ih... eomma gemas!"
Jaejoong malah mencubit – cubit pipi Changmin dan memainkannya hingga Changmin merasa tidak nyaman dalam tidurnya.
" Mianhae baby, mianhae hehehehe"
CEKLEK
Jaejoong melihat Yunho masuk kedalam kamarnya membawa koper dan menggendong tas ransel. Dia menaruhnya tidak jauh dari tempat tidur Jaejoong dan menatap Changmin yang tertidur pulas.
" Minnie masih mengantuk" Ucap Jaejoong
" Oh"
Jaejoong berdiri dan menghampiri Yunho, dia mengambil tas ransel Yunho dan menaruhnya dekat tempat tidur kemudian dia meminta Yunho untuk duduk di tempat tidurnya.
" Kenapa kemari?" Tanya Jaejoong, dia berdiri di depan Yunho dan menyedekapkan tangannya didada
Yunho menoleh ke arah Changmin dan mengelus helaian halus rambut Changmin kemudian dia tersenyum tipis.
" Sebenarnya kami memang akan menyusulmu diakhir pekan, tapi Changmin sepertinya sangat merindukanmu sehingga aku membawanya tadi malam setelah dia tertidur"
" Kau pasti lelah juga Yun"
" Tapi jika dia merajuk hari ini dan menangis lagi aku takut asmanya kambuh. Anak ini benar – benar tidak bisa jauh darimu ya"
" Hum, Minnie selalu ikut bersamaku kemanapun aku pergi, ini mungkin pencapaian besarnya bisa jauh dariku selama tiga hari. Apa kau memberitahu kedua orangtuamu Yun kalau kau pergi kemari?"
" Ya, usai Changmin tidur aku berdiskusi bersama eomma dan appa dan akhirnya aku membawa Changmin kemari, naik pesawat dan kami bahkan mampir ke villa appa untuk mengambil mobil baru kemari"
" Oh, kalau begitu kau tidurlah"
" Eh?"
" Kau pasti lelah setelah mengemudi jauh seperti semalam"
" Aku akan tidur di sofa"
" Tidak, temani Changmin. Aku juga harus bersiap untuk ke perusahaan"
" Tapi..."
" Tidak ada tapi Yunho yah... Tidur dan aku akan memesankan sarapan untuk kalian berdua"
" Baiklah"
Yunho berdiri dari duduknya dan hendak ke kamar mandi namun sebuah gerakan menahan tubuhnya, dia bisa mencium aroma khas dari tubuh Jaejoong menguar begitu saja. Tubuhnya menegang karena saat ini Jaejoong memeluknya dan Yunho langsung memejamkan matanya.
" Aku mohon, tahan traumamu Yun. Aku sangat merindukanmu, aku ingin memelukmu. Bisa?" Ucap Jaejoong lembut
" Ng..."
" Ingat saja kau saat ini tidak melakukan hal buruk padaku"
" Jae..."
" Aku sungguh merindukanmu tiga hari ini"
Jujur saja, tubuh Yunho mulai gemetar tapi dia mengingat apa yang dikatakan oleh Jaejoong bahwa dia tidak melakukan hal yang buruk padanya jadi sebisa mungkin Yunho menahan semuanya. Jaejoong yang tidak menerima penolakan dari Yunho makin erat memeluk sang suami dan menghirup harum tubuh Yunho sepuasnya.
" Aku mencintaimu, sangat mencintaimu Yun..." Lirih Jaejoong
.
.
.
.
.
.
.
Jaejoong tersenyum setelah melihat tampilan tubuhnya di depan cermin, dia menoleh dan terkekeh melihat anak dan suaminya tidur dalam posisi menggemaskan (menurutnya). Changmin ada di atas tubuh Yunho dan memeluk namja itu dengan erat.
Usai acara memeluk itu Jaejoong menjauhkan tubuhnya dan memberikan sebuah kecupan manis dipipi Yunho. Dia kemudian menyuruh Yunho untuk tidur sedangkan dia bersiap pergi ke perusahaan setelah mengabarkan pada Yoochun bahwa kedua orang yang berharga dalam hidupnya itu datang ke kamar hotelnya.
" Sampai jumpa siang nanti Yun, Minnie ah"
CUP
CUP
Jaejoong meninggalkan sebuah kecupan pada masing – masing namja yang tertidur pulas itu, dia kemudian beranjak keluar kamar setelah menuliskan memo kecil di atas meja nakas.
" Ceria sekali?" Tanya Yoochun di depan kamar hotel Jaejoong
" Tentu saja, ayo selesaikan semua hari ini"
" Ya, kau pasti bisa"
" Pasti"
.
.
.
.
.
Yunho terbangun saat merasa seseorang menendangnya berulang kali, dia membuka matanya dan bisa melihat anaknya masih tertidur nyenyak disampingnya namun kakinya bersemangat menendangi tubuh Yunho.
" Aigo... Minnie ah... Baby, bangun"
Yunho menggoyangkan tubuh Changmin namun sang anak hanya mengerang malas.
" Hey bangun"
" Nanti appa... Macih pagi" Gumam Changmin
Yunho menggelengkan kepalanya, dia beringsut duduk dan matanya langsung menangkap sebuah memo berwarna kuning dimeja nakas.
'Aku pergi dulu, sarapan akan datang pukul sembilan Yun. Tolong jaga Minnie, saranghae'
Yunho tersenyum membaca pesan singkat itu, dia kembali menggoyangkan tubuh anaknya dan membuat Changmin mengerang marah.
" Bangun atau bebek karetmu itu appa buang Min"
" Aniyaa~~~ Appa..." Changmin merajuk namun matanya masih tertutup
" Ayo bangun anak malas, bukannya kau ingin main bersama eomma hari ini? Atau kita pulang saja ke Seoul?"
" UGH?!"
Changmin langsung membuka matanya, dia baru ingat kalau dia berada di Jeju menyusul eommanya! Changmin tidak mau menyia – nyiakan waktu ini!
" Min cudah bangun!"
" Hahahahaha, kau ini. Ayo mandi dan susul eommamu, oke?"
" Ne!"
Dengan semangat Yunho membawa Changmin kedalam kamar mandi dan memandikan anaknya yang manja itu. Usai mandi dan berpakaian tidak lama pegawai hotel membawakan sarapan untuk mereka berdua.
" Makan yang banyak setelah itu kita susul eommamu" Ucap Yunho
" Ne appa"
Changmin benar – benar makan dengan banyak pagi itu, Yunho bahkan harus memberikan makanan tambahan karena Changmin masih merasa lapar. Usai sarapan barulah Yunho mengajak Changmin pergi ke perusahaan appanya sembari membawa setangkai bunga lily, Changmin yang membelinya ngomong – ngomong...
" Chunnie juchi!" Changmin berteriak saat melihat Yoochun di lobby perusahaan
" Annyeong Minnie"
Yoochun menggendong Changmin yang berlari mendekatinya. Mencium pipi gempal Changmin dan tersenyum pada Yunho yang memakai pakaian formal, kemeja berwarna tosca.
" Hai Yun"
" Ne, Jaejoong dimana?"
" Kami baru selesai meeting, dia ada di ruangannya. Kau siap?"
" Ya"
" Meeting selanjutnya usai makan siang untuk menentukan pemegang perusahaan Jeju"
" Arasseo"
" Yakin ingin pekerjaannya disini?"
" Iya, dia hanya harus menghadiri meeting ini dan pertemuan nanti sore bukan?"
" Ya"
" Sisanya biar aku kerjakan disini, aku mau besok dia sudah tidak mengurus pekerjaan dan berlibur dengan Minnie"
" Oke oke"
CUP
Changmin memberikan sebuah kecupan untuk Yoochun hingga namja itu terkekeh dan mengacak surai hitam legam Changmin.
" Cuie juchi bilang dia kangen cama Chunnie juchi" Ucap Changmin
" Eh? Masa? Dia tidak bilang padaku"
" Malu"
" Jinjja?"
" Iya~~"
" Coba nanti ahjusshi telepon dia ya"
" Hum"
" Min, ayo ikut appa" Ajak Yunho
" Eodie?"
" Menemui eommamu sekalian makan siang"
" Oke"
Yunho mengambil alih Changmin dan mereka bertiga berjalan menuju lift agar bisa mencapai lantai sepuluh gedung itu. Saat masuk ke dalam ruangan Yunho melihat Jaejoong tengah memejamkan matanya dan bersadar pada kursi kerjanya yang besar itu. Changmin berontak untuk turun dan Yunho membiarkannya karena anaknya ingin memeluk sang eomma.
" Eommaa~~" Changmin memeluk kaki Jaejoong dan membuat namja cantik itu membuka matanya
" Annyeong Minnie ah" Lirih Jaejoong kemudian memangku sang anak
" Makan siang" Ucap Changmin kemudian tersenyum lebar
Yunho hanya bisa menggelengkan kepalanya, bukannya sebelum kemari Changmin sudah sarapan banyak sekali? Apa masih kurang?
" Minnie mau makan apa?" Tanya Jaejoong
" Sup ikan?"
" Arasseo, ada restoran dekat sini yang menjual itu. Kita kesana, oke?"
" Yaaayyy... Min cayang eomma" Changmin memeluk eommanya
" Min ayo kemari biarkan eommamu istirahat dulu" Ucap Yunho hendak mengambil Changmin dari pangkuan Jaejoong
" Aniya~~" Changmin mengeratkan pelukannya pada Jaejoong
" Biarkan saja Yun, Minnie memang seperti ini jika sedang manja" Ucap Jaejoong kemudian mengelus rambut Changmin
" Arasseo"
.
.
.
.
.
Akhirnya usai makan siang dan Jaejoong pergi untuk meeting dengan beberapa klien yang kemungkinan akan selesai sore atau malam nanti, Yunho disibukkan dengan pekerjaan Jaejoong di kantor. Sedangkan Changmin sibuk menggambar di meja tidak jauh dari tempat kerja Yunho.
Yunho melakukan ini semua tanpa memberitahukannya pada Jaejoong, dia ingin memberikan sebuah kejutan untuk Jaejoong yang sudah bekerja keras selama tiga hari di Busan.
" Appa... Min antuk" Lirih Changmin kemudian menguap
" Naiklah ke sofa dan tidur disana, Min bisa?"
" Hum, cucu..."
Yunho tersenyum, dia membuka tas ransel yang dia bawa dan mengeluarkan sebuah botol susu panjang kemudian dia mengisi susu bubuk disana dan berjalan keluar ruangan menuju pantry.
" Oh, Jung sajangnim" Seorang ahjumma menyapa Yunho
" Apa ada air hangat?"
" Ada, biar saya ambilkan" Ucap sang ahjumma
" Tidak, biar saya saja ahjumma" Ucap Yunho sopan
Yunho mengisi botol itu dengan sedikit air panas dan mengocoknya pelan sebelum memasukkan air biasa kedalamnya.
" Sajangnim sangat menyayangi anaknya ya sampai membuat susu saja sendiri" Ucap sang ahjumma
" Tidak, aku hanya melakukan apa yang harusnya aku lakukan"
" Anakmu sangat beruntung memiliki appa sepertimu"
Yunho hanya tersenyum menanggapi ahjumma itu, usai membuat susu dan sedikit berbasa – basi Yunho pun pergi dari pantry. Saat berjalan ke arah ruangan, karyawan yang ada di lantai itu mencuri pandang ke arah Yunho yang benar – benar tampan. Astaga...
Saat Yunho masuk ke dalam ruangan Changmin sudah menatapnya sayu dengan ibu jari ada di dalam mulutnya. Yunho mendekat dan menggantikan jari Changmin dengan botol susu yang dia bawa. Changmin dengan senang hati menerimanya dan meminum susu itu dengan semangat.
Yunho mulai mengelus punggung anak tersayangnya itu dan menepuknya perlahan sampai akhirnya Changmin tertidur setelah susunya habis.
" Anak manja"
CUP
Yunho memberikan sebuah kecupan pada kening Changmin dan dia kembali mengerjakan tugasnya dimeja.
.
.
.
.
.
.
.
.
CEKLEK
Jaejoong memasuki ruangan kerjanya dan melihat Yunho tertidur pada kursi kerjanya, dia mengira Yunho dan Changmin pergi berjalan – jalan sembari menunggunya selesai rapat yang ternyata menghabiskan banyak waktu. Jaejoong melirik jam tangannya, pukul tujuh malam.
Matanya beralih pada sosok malaikat kecil yang tidur di atas sofa ditutupi selimut bergambar Avanger yang Jaejoong tahu adalah selimut kesayangan Changmin. Astaga... Sudah berapa lama mereka tertidur?
Dia berjalan ke arah Changmin dan terkekeh melihat Changmin yang sedang tertidur, tangannya terulur untuk mengusap surai Changmin kemudian dia mengecup kening Changmin lama. Kemudian dia beralih ke meja dekat Changmin tidur, banyak sekali kertas berserakan dan Changmin menggambar dimasing – masing kertas itu. Ugh... Menggemaskan!
Kaki Jaejoong berjalan menghampiri meja kerjanya, Jaejoong mengerutkan keningnya melihat kertas – kertas yang sudah selesai dikerjakan. Dia menatap Yunho dan langsung mengambil kesimpulan bahwa Yunho telah mengerjakan semuanya. Dia melihat – lihat semua kertas itu dan laporan yang ada di komputer, semua sudah selesai.
" Nghh..."
" Oh, maaf kau jadi terbangun" Jaejoong memundurkan tubuhnya
" Maaf aku ketiduran tapi pekerjaannya sudah selesai semua"
" Kenapa kau lakukan ini semua Yun?"
" Salah satu alasanku kemari agar pekerjaanmu lebih cepat selesai, bukankah jika berdua lebih baik dari pada sendiri?"
Ugh...
Jaejoong jadi gemas kan...
CUP
Yunho langsung duduk tegap saat mendapat sebuah kecupan manis pada bibirnya, sedangkan wajah Jaejoong sedikit merona setelah melakukannya.
" Hadiah untukmu" Ucap Jaejoong
" A-ah, ne"
" Ayo kembali ke hotel, jangan bangunkan Minnie. Sepertinya dia kelelahan setelah menggambar seharian ini" Ucap Jaejoong
" Aku akan menggendongnya"
" Oke"
Yunho langsung bangkit untuk merapikan meja Jaejoong dan setelahnya dia berjalan kearah Changmin dan menggendong anaknya itu.
" Mana Yoochun?" Tanya Yunho
" Dia sedang mengantar para investor"
" Oh, ayo"
" Ya"
Di lobby bawah mereka bertemu beberapa karyawan yang baru akan pulang dan menyapa mereka, jangan lupakan tatapan kagum semua orang yang menatap keluarga kecil mereka. Jaejoong senang!
" Hyung, kami akan pulang tapi mungkin makan malam dulu, ikut?" Tanya Jaejoong pada Yoochun
" Tidak, kalian saja. Aku akan membereskan sisanya baru makan malam"
" Benar tidak apa – apa?"
" Ya, pergilah"
" Oke"
Jaejoong berjalan mendahului Yunho dan saat Yunho hendak berjalan Yoochun menepuk punggung Yunho dan mengacungkan jari jempolnya. Yunho membalasnya dengan sebuah anggukan dan senyuman.
" Lho, kok ada koperku?" Tanya Jaejoong setelah duduk nyaman didalam mobil dengan Changmin dalam pangkuannya, dia menoleh ke belakang dan mendapati kopernya juga koper Yunho disana
" Ya"
" Kenapa?"
" Tidak ada apa – apa"
Yunho mulai mengemudikan mobilnya diiringi Jaejoong yang masih memproses kejadian malam ini. Namun matanya membulat saat Yunho tidak membawanya ke hotel dan malah menjauh dari arah hotel tempatnya menginap.
" Yun? Kita mau kemana? Hotelku bukan ke arah sini"
" Sudah, kau diam dulu. Biarkan aku menyetir dengan tenang" Jawab Yunho
" Tapi..."
" Perhatikan saja Changmin, jangan sampai mengganggu tidurnya"
Jaejoong mengerucutkan bibirnya kemudian dia diam, dia lebih menikmati pemandangan diluar kaca mobil yang sedang dikendarai oleh Yunho. Sampai mereka berhenti disebuah villa yang sangat besar.
" Eh?"
Jaejoong tidak tahu villa ini, dia memang tahu keluarga Jung memiliki beberapa villa yang tersebar diseluruh Korea tapi tidak tahu dengan yang ini.
" Yun?"
" Villa appa"
" Aku tidak pernah melihat ini? Kenapa kita kemari ya?"
" Ayo turun"
Yunho mengajak Jaejoong untuk turun dan Jaejoong hanya mengikuti saja, dia disambut seorang ahjumma yang sepertinya menjaga villa itu, sang ahjumma menuntun Jaejoong masuk sedangkan Yunho membawa koper – koper milik mereka.
" Whoaaa..."
Villa ini tidak terlalu besar namun sangat nyaman, apa lagi salah satu sisi rumah menghadap ke arah laut Busan yang terlihat indah walaupun hari sudah malam.
" Ayo bawa Changmin ke kamarnya" Ajak Yunho
" Kamarnya?"
Yunho mengambil Changmin dari gandongan Jaejoong dan membawa mereka naik ke lantai dua menuju sebuah ruang kamar. Jaejoong mengikutinya dan melihat bagaimana kamar itu, sebuah tempat tidur anak berbentuk animasi mobil yang terkenal ada disana.
" Yun, kau tidak bermaksud memisahkan Changmin dariku bukan?" Tanya Jaejoong sedikit panik, pasalnya sang anak akan mengamuk jika tidak menemukannya nanti
" Menurutmu?"
Yunho malah bertanya balik sembari membaringkan Changmin pada tempat tidur itu, kemudian mengelus kepala Changmin perlahan.
" Dia harus dibiasakan agar tidak sampai besar terus menempel padamu" Ucap Yunho
" Ta-tapi..."
" Dia sudah cukup usia untuk tidur terpisah Jae, aku tahu kau khawatir jadi pintu kamar ini aku kunci"
" Lalu?"
" Kau lihat pintu itu bukan?" Yunho menunjuk sebuah pintu bercat putih
" Ya?"
" Pintu itu terhubung dengan kamar kita, selama akhir pekan ini mari kita biasakan Changmin untuk tidur terpisah dari kita"
" E-eh? Akhir pekan? Apa maksudmu? Besok aku bekerja Yun"
" Aku sudah menyelesaikan semua tugasmu untuk besok dan lusa jadi besok kita akan berlibur disini"
Jaejoong hanya dia menatap punggung Yunho di depannya, masih mencerna semua ucapan Yunho yang benar – benar diluar dugaannya.
" Pergilah ke kamar lewat pintu itu, bersihkan diri dan buatkan makanan untuk kami"
" Eh?"
" Aku ingin memakan masakanmu, aku rasa aku merindukan masakanmu Jae"
TAP
TAP
TAP
GREEPPP
Jaejoong berlari dan memeluk Yunho dari belakang, dia tidak tahu kenapa Yunho melakukan ini semua tapi dia harus berterima kasih bukan?
" Terima kasih, aku akan memasak untuk kalian"
CUP
Jaejoong mengecup punggung Yunho sebelum akhirnya meninggalkan Yunho yang langsung berjongkok menutup wajahnya yang memerah setelah Jaejoong pergi.
" Astaga... Kenapa aku jadi seperti ini eoh? Bahkan memandangnya saja tidak bisa?"
.
.
- FLASHBACK ON -
.
.
" Pergi saja berlibur bersamanya akhir pekan ini"
" Ha? Hyung tidak salah?"
Yunho menatap sepasang namja dan yeoja yang ada di hadapannya, hari ini jadwalnya terapi dan usai melakukan terapi mereka berbicara tentang apa yang bisa Yunho lakukan untuk mengobati traumanya.
" Tidaklah, pergi bersama akan mengurangi rasa traumamu. Hadapi traumamu Yun" Ucap Joo Hyuk
" Tapi..."
" Aigo... Si playboy kenapa jadi seperti ini eoh? Sudah lupa jurus – jurus saat kau menaklukan yeoja – yeojamu dulu?" Goda Jihyun
" Bukan begitu noona, dulu dan sekarang beda"
" Ya, tapi kau bisa meniru dirimu yang dulu dalam hal positif ya"
" Akan aku pikirkan"
" Dan Yun, ada baiknya kau mulai memisahkan kamar Changmin dan kamar kalian"
" Kenapa? Hyung tahu sendiri bagaimana Changmin jika saat bangun tidur tidak melihat Jaejoong"
" Karena itu, kau harus melatihnya menjadi mandiri sejak dini"
" Apa aku bisa ya?"
" Kau pasti bisa, lagi pula jika kalian satu kamar secara terus menerus kapan kau akan membuat adik untuk Changminnie?"
" Ya Noona! Kenapa kau malah menggodaku bukan memberikan solusi?"
" Menggodamu menyenangkan Yun" Ucap Jihyun kemudian terkekeh
" Aish"
" Sudah, pokoknya dengarkan aku. Teruslah dekat dengan Jaejoong dan buat Changmin lebih mandiri"
" Aku... Akan coba hyung"
.
.
- FLASHBACK OFF -
.
.
Yunho menghembuskan nafasnya, usai Jaejoong membersihkan diri dia memanggil Yunho untuk mandi dan dia memasak di dapur. Yunho melakukan apa yang Jaejoong minta, dalam dua puluh menit dia sudah siap dan kembali menengok sang anak.
Untunglah Yunho datang disaat yang tepat karena saat dia masuk ke dalam kamar Changmin baru saja membuka matanya.
" Appa..."
" Ne"
" Dimana?"
" Ayo mandi"
" Ugh... Eomma?"
" Memasak untuk Minnie dan appa"
" Eomma macak?"
" Ne"
" Kajja appa, Min mau mandi"
" Arasseo"
Yunho membawa Changmin turun ke lantai bawah setelah menjelaskan pada anaknya tentang kamar tidur mereka, awalnya Changmin tidak mau tidur terpisah dari sang eomma tapi usai diberikan penjelasan dan sedikit ancaman bahwa Kyuhyun tidak suka anak manja akhirnya Changmin pun menurut saja.
" Whooaa... Eommaaaaaa"
Changmin berlari dan memeluk kaki eommanya yang sedang memasak, Yunho tersenyum. Mungkin, jika dulu dia tidak bertindak semaunya maka hidupnya dengan Jaejoong akan damai seperti ini. Hidup disebuah rumah yang nyaman bersama anak mereka.
" Wah... Minnie sudah wangi! Tunggu eomma ne? Sebentar lagi selesai"
" Ne"
Tidak lama Jaejoong datang membawa makan malam untuk mereka bertiga dan mereka menghabiskannya, usai makan malam mereka hanya bermain diruang tengah bersama Changmin sampai bocah itu kelelahan.
" Jadi, malam ini kita tidur berdua?" Tanya Jaejoong saat memasuki kamar mereka
" Ya, aku bawa Changmin ke kamarnya dulu" Ucap Yunho yang menggendong Changmin, Jaejoong membantu Yunho untuk membukakan pintu kamar Changmin
Jaejoong mendadak gugup, tidur di kamar hanya berdua dengan Yunho? Jantungnya sudah berdebar berkali – kali sejak bertemu Yunho dan kali ini apa lagi? Astaga... Pipi Jaejoong bahkan terasa sangat panas malam ini!
Tapi...
Jaejoong tidak akan melewatkan momen ini begitu saja, Yunho sudah sejauh ini untuk mengatasi traumanya dan dia harus membantu sang suami bukan?
Ceklek
Yunho masuk ke dalam kamar dan langsung duduk di sisi lain tempat tidur, memunggungi Jaejoong. Jaejoong sendiri sudah dalam keadaan terbaring.
" Yakin kau bisa Yun?" Tanya Jaejoong yang hanya melihat punggung Yunho
" Hum" Yunho hanya mengangguk dan ikut berbaring
Jaejoong gemas sendiri melihatnya, jadi dia memutuskan untuk menggenggam tangan Yunho dan membuat Yunho tersentak kaget.
" Aku ingin menggenggam tanganmu agar aku tahu ini bukan mimpi" Lirih Jaejoong
Yunho tersenyum, matanya menatap langit – langit kamar yang berwarna putih itu, tangan Jaejoong terasa hangat digenggamannya.
" Besok..."
Jaejoong menoleh saat mendengar suara Yunho, jantungnya berdebar halus dan menyenangkan. Dia menatap Yunho yang masih menatap langit – langit kamarnya.
" Kita pergi ke taman hiburan dan ke tempat yang Changmin inginkan" Lanjut Yunho
" Lalu? Kapan ke tempat yang aku inginkan?"
" Memang kau mau kemana?"
" Kemana saja asal bersamamu"
Yunho terkekeh mendengarnya, kenapa jadi Jaejoong yang menggombal dan terkesan agresif?
" Kau mau kemana?" Tanya Yunho sekali lagi
" Aku tidak tahu, ini kali pertamanya aku datang kemari untuk berlibur jadi aku menyerahkan semuanya padamu saja. Kau yang menyusun semua rencana ini bukan?"
" Ya. Lebih baik kita tidur saja"
" Ne" Jaejoong menguap namun matanya tidak lepas dari wajah Yunho " Aku mencintaimu Yun"
" Hum..."
" Tidak mau membalasnya?" Tanya Jaejoong dan bibirnya mengerucut tapi sayang Yunho tidak melihatnya
" Kau tahu kan jawabanku"
" Katakan saja"
" Aku juga Jaejoong ah, aku mencintaimu"
" Hehehehe"
Jaejoong tertawa tidak jelas, percakapan mereka sebelum tidur ini pasti bisa membuatnya bermimpi indah bukan? Hahahahaha...
Jaejoong jadi tidak sabar menunggu besok, kalian juga?
.
.
.
.
~TBC ~
.
.
.
.
Annyeoonnggg~~
Ga kerasa udah dua minggu sejak Cho update ff terakhir ya? Sebenarnya... 2 ff Cho harusnya update di minggu kemaren tapi...
Cho sedikit down, sedikit ya... Sama komenan yang di Pure dan Busy Yunie.
Pertama Cho makasiiiihhh bgt kalian udh baca ff Cho tapi, untuk penambahan karakter seperti BB memang Cho sengaja tambahin karena Cho suka. Kalau kalian ga bisa baca lagi ff cho karena karakter itu ya udah mau gimana lagi, bali lagi ke DLDR... Qm dapet cerita tapi Cho mau karakter yang cho suka ada, kalo ga suka ya udah... Cho ga bisa maksa walaupun qm pembaca semua ff Cho dari awal Cho lahir di ffn #mianhae
Kedua, kadang judul itu ga sesuai sama isi. Ga semua ff nyambung sama judul kan? So?
Ff Home sebenarnya udah kelar dari minggu kemarin tapi abis baca komen itu Cho stop sementara, merenung dipojokan dan yah... sedikit down sempet mikir juga apa emang udah saatnya berhenti nulis kali ya?
.
Mungkin ini salah satu sebabnya banyak author yang pindah ke wattpad kali ya?
.
Coba bayangin ya... Maaf lho Cho jadi curhat... Cho itu kerja.. Senen sampe jumat sampe rumah jam 7 trus ngerjain hal laen. Sabtu kadang kerja kadang libur. Minggu, Cho sekolah... Kelas bahasa korea pulang kadang jam 6 baru smp rumah.
Jadi kapan Cho nulis? Itu yang Cho pikirin... Cho ga suka cerita berenti ditengah jalan karena rasanya pasti ngegantung! Iya kan? Cho juga rasain kok wktu jadi reader.
Penyemangat Cho itu ripiu kalian semua, Cho bisa semangat nulis itu karena kalian. Bayaran dari ff yang Cho ketik itu kepuasan kalian yang kalian tulis di ripiu. Jadi... Cho akhirnya pulang kerja larut buat nulis ff d kantor dan smp rmh jam 8 an.
Tapi saat baca ripiu yang ga enak rasanya Cho pengen nyerah tapi... Elah! Soul fighter cho kemana kalo gt?!
Jadi, Cho kumpulin jiwa Soul fighter Cho yang dulu dan ngetik ff tanpa peduli sama ripiu yang ga enak, bomat. Salah lu udah tau ga suka tapi baca... anggap aja sasaeng, iya ga? #plaakkk belagu lu cho kyk artis aje!
.
Cus, demi kalian yang masih suka n nunggu in ff cho... Chu terus in nulisnya...
.
Special Thanks :
.
Hzyyy (sipoo~), indahalbisry58 (ini udah lanjut...), ismi mimi (belum tegang, kecewa jg ga kok... Masih santai aja alurnya), Hasti Huang (mantan suka gitu kalo ngomong emang...), Yena Jung (ntah lah, Cho juga bingung), MyBooLoveBear (kenapa baru baca eoh? Kkkk~), vichi. Vhan (kapan - kapan, Cho juga bayangin kok), lovgravanime14 (makasih ya semangatnya! Cho bakal terus semangat jg kok! Fighting!), akiramia44 (blm an yoosu blm nikah, dedeknya masih cooming soon),
Fani (adik... hmmmm...), misharutherford (amiiiiiiiiiinnnnn~~), kimRyan2124 (iya, nih udah mulai dipindahin...), eL Ree (yunjae bakalan akur kok...), danatebh (sipoo), Indy (sip sip sip), kim rose (updatenya pasti lama, ottokeh...), strawberryshortcakes (semoga aja ya ga ada yang ganggu mereka hehehehe), Ryu (maacih), elite minority. 1111 (jangan dibayangin, yunpa jodohnya jaemma, ammiiinnnn wkwwkwkwk No nc yaaa), BebbieKyu (iya dong, sweet kyk cho #ups), teukiangle (iyaa hahahahaa mau dibikin 10thn kyk nya kkk~), Avanrio11 (ga kok, cuma nangis kejer aja), GaemGyu92 (kita tunggu aja chap - chap selanjutnya hahahahay),
yunjae heart (antagonis masih beberapa chap kedepan kyk nya eonn, kyk nya yaa... Cho jg lupa wkwkkwk hwaiting!), uknowme2309 (bahagia Cho ngeliat qm ripiu #GombalModeOn Top kan emang mau wamil huwweeee), wulanjoyer (iya, ada aja kan anak yang kyk gt. Bangun tidur cari emak. Kalo cho bangun tidur cari bang mimin kkkk~), LittleOoh (sipo~), ruixi1 (iyaa, maacih), Park RinHyun-Uchiha (pingsannya masih cooming soon wkwkwkwk), alice (bang mimin rewel euy jauh" dari jaemma hehehee), AlienBaby88 (iyaaa), Sayuri Jung (iya, pisah sementara doang kok)
.
Buat yang udah follow, fav, para Guest dan SiDer
Maacih #bow
.
Maaf kalo ada salah penulisan kata atau pun malah ga ke sebut #mian
Ohya, ada 1 ff lagi yang Cho update hari ini kkkkk~
Dah, gitu aja. See u next chap?
Chuuuuuu~~
.
.
.
.
.
Senin, 10 April 2017
