Home

.

.

.

.

.

.

Disclaimer : Mereka hanya milik Tuhan

Cast : DBSK Family, dll

Genre : Family, Romance, Drama, hurt/comfort. Yaoi

Typos bertebaran, membosankan, alur suka"

Rate : M++

Maaf ya buat yang udah nunggu ff ini seabad, hahahaha #bow dan Chap ini alurnya lambaaaaaaaaatttttt bgt.

.

D.L.D.R yaaa... Ga tau singkatnya?

Don't Like, Don't Read. Ga tau artinya?

Ga Suka Ga Usah Baca, simple kan?

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Entah bagaimana mulanya, di atas tempat tidur yang terletak di lantai dua villa itu terlihat dua namja tengah cuddling. Hmmm... Yunho duduk bersandar pada kepala ranjang dengan punggung Jaejoong bersandar nyaman pada dada Yunho.

Yunho meletakkan dagunya dengan nyaman di atas kepala Jaejoong dan tangan mereka saling bertautan pada perut Jaejoong, sesekali Jaejoong memainkan jari lentik milik Yunho dan menggenggamnya. Jaejoong menyukai sentuhan Yunho kali ini terlebih dia merasakan pada kulitnya langsung tanpa pakaian.

Tanpa pakaian?

Iya, tanpa pakaian.

Sekali lagi, tanpa pakaian...

Tapi pakai bawahan yaaaa~~~

Mereka memang memutuskan untuk membuka piyama bagian atas mereka saja, membiarkan hawa hangat dari kedua tubuh menyatu dan membuat friksi rasa nyaman bagi keduanya. Sudah lima belas menit mereka seperti ini tapi tidak ada tanda – tanda untuk beranjak atau menyudahi acara cuddling itu.

" Rasanya nyaman" Lirih Jaejoong dan dia mulai memejamkan matanya, merasa makin nyaman saat Yunho mengusap lengannya

" Aku juga merasa nyaman" Jawab Yunho " Tapi Jaejoong ah..."

" Ya?"

" Apa... Apa itu bekas operasimu?"

Jaejoong membuka matanya dan menoleh ke bawah untuk melihat bekas operasi saat melahirkan Changmin masih terlihat walaupun samar.

" Ya, Changmin keluar dari sana Yun" Ucap Jaejoong

" Terima kasih sudah mempertahankannya walaupun aku selalu mencelakainya"

" Hush! Tidak usah dibahas, aku tidak mau kalau Minnie sampai tahu pembicaraan kita Yun. Dia pasti akan sedih"

" Arasseo, saranghae"

Yunho bergumam lirih dan mengecup puncak kepala Jaejoong, Jaejoong menolehkan kepalanya ke belakang dan mendapati Yunho yang menatapnya. Jaejoong memajukan wajahnya agar bisa mengecup bibir Yunho sekilas kemudian memberikan sebuah senyuman.

" Kemajuanmu sangat pesat hari ini Yun" Ucap Jaejoong

" Semua berkat dirimu"

CUP

Kali ini wajah Yunho yang maju untuk mengecup bibir Jaejoong, ah tidak... Tidak hanya mengecup, dia memberikan kuluman pada bibir bawah Jaejoong dan mengeratkan pelukannya pada pinggang Jaejoong agar dia bisa dengan mudah memperdalam ciumannya.

Dan sekali lagi mereka berciuman tanpa nafsu, menghilangkan trauma masing – masing dengan cara mereka. Menghangatkan diri mereka dengan saling berpelukan hingga Jaejoong sendiri lupa bahwa hujan tengah mengguyur diluar dan suara petir menggema setiap menitnya.

Dia tidak mendengar apapun kecuali detak jantung Yunho yang membuatnya nyaman malam ini, begitu juga Yunho yang tampak sangat nyaman memeluk Jaejoong dalam tidurnya hingga dia sadar bahwa mimpi buruknya tidak pernah datang lagi sejak ada Jaejoong di sampingnya.

" Aku ingin bertemu Minnie, aku rindu suaranya" Lirih Jaejoong dengan mata terpejam dan menyamankan kepalanya pada dada Yunho serta tangan yang melingkar erat pada pinggang suaminya itu

" Sama, aku harap besok pagi mereka sudah ada di sini untuk sarapan bersama kita"

" Hum"

Besok...

Bagaimana ya?

.

.

.

.

.

~ Chapter 12 D (END) ~

.

.

.

.

.

Saat Jaejoong membuka matanya, yang pertama dilihat adalah Yunho bertelanjang dada. Jaejoong jadi malu sendiri mengingat apa yang mereka lakukan tadi malam. Reader juga pasti penasaran... Hmmm... Apa? Gak penasaran? Ya udah, skip!

Bercanda!

Jaejoong sih maunya mereka melakukan hal lebih tapi sayang, nanti Yunho pingsan pas mereka sedang pemanasankan, kan gawat? Semalam mereka memang membiasakan tidur berdua tanpa pakaian untuk membiasakan tubuh Yunho terhadap sentuhan Jaejoong, alasan...

Nanti malam Jaejoong akan berusaha membuat Yunho tidur tanpa celana, agar mereka bisa cepat 'ini dan itu'. Hush... Sejak kapan Jaemma jadi mesum? Cho-nya aja yang lagi OOC (Out Of Caracter) karena banyak reader yang pengen YunJae naena tapi belum Cho kasih. Wkwkwkwkwkw... Oke, back to story, gak pake OOC lagi!

Jaejoong tidak bisa menahan senyumnya, dia tersenyum sangat lebar melihat wajah damai Yunho di sampingnya. Gemas melihatnya, tangan Jaejoong tidak tahan untuk tidak mencubit pipi Yunho.

" Mhhmm..."

" Ups"

Jaejoong menjauhkan tangannya dan melihat mata Yunho yang perlahan terbuka. Jaejoong mengalihkan pandangannya kemudian memutuskan untuk bangkit dari tidurnya.

" Jam berapa?" Tanya Yunho dengan suara serak khas orang baru bangun tidur

" Masih jam tujuh, aku akan membuat sarapan. Kau mandi saja dulu"

" Hum"

Jaejoong beranjak dari tempat tidurnya, memakai atasan yang tadi malam masih terlipat rapi di atas kursi meja rias kemudian keluar dari kamarnya untuk mencuci muka dan sikat gigi sebelum pergi untuk memasak.

Jantung Jaejoong tidak berhenti berdetak kencang mengingat betapa hangatnya tubuh sang suami semalam, wajahnya memerah parah dan membuat telur goreng yang sedang digorengnya mulai menghitam.

" Telurmu hangus"

" Omo!"

Jaejoong langsung menoleh ke arah penggorengannya dan melihat telur gorengnya hangus. Jaejoong langsung mengangkat telur itu dan membuangnya ke tong sampah. Yunho menatap Jaejoong bingung karena tidak biasanya Jaejoong linglung seperti ini, mana wajahnya merah.

" Kau sakit?" Tanya Yunho

" Hah?"

Namja cantik itu langsung menatap Yunho yang sedang melihat penggorengan di depannya. Yunho pasti hanya cuci muka dan sikat gigi karena dia masih memakai piyamanya. Astaga! Dia kembali menatap penggorengannya, ini adalah sejarah!

Jaejoong gagal memasak telur mata sapi!

Astaga!

" Lebih baik kau duduk, biar aku saja yang memasak"

Ucap Yunho mencoba mengambil alih penggorengan yang Jaejoong pegang.

" Ta-tapi-"

" Aku bisa kok, hanya telur kan?"

" Iya"

" Ya sudah, kau minum dulu lalu duduk manis di sana"

" Ugh"

Jaejoong menuruti Yunho dengan bibir dikerucutkan, minum segelas air kemudian duduk di salah satu kursi dan matanya menatap punggung tegap Yunho yang sedikit bergoyang – goyang karena sang empu sedang memasak.

Punggung tegap Yunho selalu membuat Jaejoong merasa aman, punggungnya terlihat kokoh dan besar. Ughh~ jaejoong jadi gemas melihat punggung Yunho itu!

" Kenapa melamun?"

" Eoh?"

Jaejoong tersentak saat Yunho sudah duduk di depannya dengan dua piring nasi dan telur mata sapi di atas masing – masing piring tersebut. Jaejoong menggelengkan kepalanya, tidak mau Yunho tahu apa yang barusan dia lamunkan.

" Rindu Minnie... Apa dia sudah sarapan ya?" Lirih Jaejoong setelah memakan sarapannya beberapa suap

" Habis makan coba saja telepon, tanyakan mereka kembali kemari jam berapa"

" Ne"

Usai makan, Jaejoong mencuci piring sementara Yunho pergi mandi. Usai mencuci piring Jaejoong masuk ke dalam kamarnya, duduk dipinggir tempat tidurnya, dia mengambil ponselnya dan menghubungi Junsu.

Tuuuttt...

Tuuutt... Tuuuttt...

" Yeobosseo?"

" Suie ah, kenapa belum ada disini?"

" Huh? Apa aku belum bilang kalau kami pulang ke Seoul?

" Apa maksudmu Kim Junsu?!" Pekik Jaejoong kaget

" Kami sudah ada di Seoul saat ini"

" Kenapa kalian pulang terlebih dahulu?"

" Kyunie menangis ingin bertemu eommanya dan akhirnya kami membawanya pulang"

" Kau kan bisa membawa Minnie kemari dulu"

" Kyunie mengamuk hyung, sudah nikmati saja liburanmu dua hari ini sebelum kau kembali ke Seoul dan bekerja keras lagi"

" YAK! KIM JUNSU!"

" Dan aku melihat fotomu dan Yunho hyung yang sedang kencan di kafe es krim di internet, kalian menggemaskan hyung!"

" YAK! KIM JU-"

PIK

" SU!"

CEKLEK

" Kenapa berteriak?"

Jaejoong langsung menolehkan kepalanya namun wajahnya malah merona hebat saat melihat Yunho keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk dipinggangnya. Dengan segera Jaejoong mengalihkan pandangannya, kemana saja. Tapi diotaknya terbayang tubuh bagian atas Yunho. Hahahahaha..

" Aku ke bawah dulu, kita bicara di bawah" Ucap Jaejoong kemudian berlari kecil keluar dari kamar

" Oke"

Selang sepuluh menit kemudian Yunho menemui Jaejoong di ruang tamu, namja itu tengah menggigiti kuku jarinya.

" Kenapa?" Tanya Yunho

" Eoh? Kau sudah selesai?"

" Ya"

" It-itu... Ju-junsu!"

" Kenapa dengan Junsu?"

" Dia bilang mereka berempat sudah pulang ke Seoul karena Kyuhyun merengek minta pulang!"

" Mwo?!"

" Maka dari itu! Dan Junsu langsung mematikan sambungannya! Ottokeh? Aku bahkan belum bicara dengan Changmin!"

" Jae..."

" Ugh... Kita pulang saja sekarang bagaimana?"

"..."

" Yun?"

Jaejoong mengerutkan keningnya saat tidak ada jawaban dari Yunho, dia membalikkan tubuhnya dan melihat Yunho terdiam namun tidak menatapnya.

" A-ada yang salah?" Tanya Jaejoong

" Kenapa kita harus pulang?"

" Changmin..."

" Jujur saja, Yoochun sudah memberitahu tentang Changmin yang dibawa pulang ke Seoul dengan Junsu tengah malam tadi. Dan berjanji akan menjaga Changmin dengan baik dan aku menyetujuinya.

" Kenapa?" Tanya Jaejoong bingung

" Sebenarnya Changmin yang tidak bisa jauh darimu atau dirimu yang tidak bisa berjauhan dengan Changmin?"

" Tapi aku khawatir Yun"

" Disini kita akan melatih Changmin untuk disiplin Jae"

" Yun..."

" Atau kau memang tidak mau kita berdua saja disini? Kau ingin menghidariku?"

DEGH

Jaejoong tersentak, dia tidak ada niatan seperti yang dikatakan oleh Yunho. Tentu saja dia mengkhawatirkan Changmin, selama ini Chnagmin selalu bersamanya. Tunggu...

" Sebenarnya Changmin yang tidak bisa jauh darimu atau dirimu yang tidak bisa berjauhan dengan Changmin?"

Ucapan Yunho barusan seperti menyiramkan air dingin pada Jaejoong, pernyataan yang cukup membuatnya terdiam sebelum menatap Yunho yang memalingkan wajahnya, tidak menatap Jaejoong.

" Yun..."

" Jika kau ingin pulang, baik... Aku pesankan tiket sekarang juga dan kita akan pulang"

Suara Yunho terdengar datar saat mengatakannya, Jaejoong tahu Yunho kecewa dengannya. Seharusnya Jaejoong lebih peka terhadap hal ini. Dan mata Jaejoong membulat saat melihat Yunho beranjak dari duduknya dan berjalan meninggalkannya.

Jaejoong mengumpati dirinya sendiri, harusnya dia membaca situasi dengan cepat. Yunho tahu masalah kepulangan Changmin, itu berarti namja itu menyetujui apa yang direncanakan Yoochun. Dan Yunho... Hmm... Bolehkah Jaejoong mengatakan jika namja itu hanya ingin berdua dengannya.

Berdua dengannya...

Hanya ada Yunho dan Jaejoong...

Tidak ada yang lain.

" Bodoh!"

Jaejoong berlari mengejar Yunho yang sudah memasuki kamar mereka, saat membuka pintu Jaejoong melihat Yunho tengah memasukkan pakaian mereka ke dalam sebuah koper. Jaejoong menggelengkan kepalanya, dia berlari dan menubrukkan tubuhnya pada tubuh bagian belakang Yunho.

" Maaf.." Lirih Jaejoong

" Cepat bantu aku membereskan semua ini dan pesan tiket"

" Tidak" Jaejoong menggelengkan kepalanya, matanya mulai berkaca – kaca

" Kenapa?"

" Maafkan aku yang tidak peka terhadap situasi. Sungguh, aku mengkhawatirkan Changmin sampai tidak peka terhadapmu"

" Ya sudah, ayo pulang dan hampiri Changminnie"

" Tidak..." Jaejoong menggelengkan kepalanya lagi

" Kenapa?"

" Dia..." Jaejoong menggigit bibir bawahnya " Sudah ada yang menjaga"

" Bukannya kau tidak suka berjauhan dengan Changmin"

" Maaf... Aku akan menurutimu untuk membiasakan Changmin agar mandiri" Lirih Jaejoong

" Tidak usah seperti itu, ayo pulang saja"

" Tidak... Hiks..."

Yunho menghentikan gerakannya saat mendengar isakkan dari belakangnya dan lama kelamaan isakkan itu semakin kencang. Yunho menghembuskan nafasnya, mungkin dia terlalu keras pada Jaejoong. Lalu bagaimana sekarang? Ingin membalikkan tubuhnya guna menenangkan Jaejoong tidak bisa karena Jaejoong memeluknya dengan erat.

Lagipula, kalau sudah membalikkan tubuhnya, dia bisa apa? Menatap Jaejoong saja tidak bisa. Tunggu... Sentuhan Jaejoong kali ini tidak membuatnya bergetar. Yunho memperhatikan tubuhnya, semua dalam keadaan baik kecuali jantungnya yang berdebar kencang namun terasa nyaman.

Yunho menepuk tangan Jaejoong yang melingkar manis pada pinggangnya, kemudian mencoba melepaskan pelukan Jaejoong.

" Ani! Hiks..."

" Aigo..."

Dengan kekuatannya Yunho melepaskan pelukan Jaejoong dengan paksa dan langsung membalikkan tubuhnya. Dia kemudian menarik Jaejoong untuk masuk ke dalam dekapannya dan memeluk Jaejoong dengan erat, menempatkan kepalanya di atas kepalanya Jaejoong dan mulai membuat Jaejoong merasa nyaman.

" Shh... Tenanglah... Berhentilah menangis" Ucap Yunho dengan lembut

" Tidak... Kau marah padaku" Cicit Jaejoong

" Aku tidak marah padamu Jaejoong, bagaimana bisa aku marah padamu?"

" Tapi kau langsung memutuskan untuk pulang"

" Awalnya aku kecewa... Kau sebenarnya sadar kan bahwa kita sulit sekali memiliki waktu hanya berdua?"

Jaejoong menganggukkan kepalanya.

" Makanya... Mumpung mereka ingin menjaga Changmin aku memutuskan untuk menyetujuinya dan responmu malah seperti itu... Jadi ayo pulang"

" Tidak mau~ Aku... Hiks... Aku juga mau berduaan denganmu"

BLUSH

Suara Jaejoong mengecil diujung kalimatnya, rasanya malu mengatakan hal itu padahal biasanya dia kan bersikap agresif, iya kan?

Yunho tersenyum mendengar ucapan Jaejoong dan menurutnya Jaejoong menggemaskan seperti itu, dia tidak bisa lama – lama kecewa pada Jaejoong kalau Jaejoong bersikap menggemaskan, bukan? Perlahan tangannya naik dan menepuk puncak kepala Jaejoong beberapak.

" Yakin tidak mau menyusul Changmin?" Tanya Yunho sekali lagi

" Sudah ada Junsu, Yoochun dan orangtuamu yang menjaganya"

" Tidak menyesal?"

" Tidak..."

" Ya sudah"

" Ya sudah apa?"

" Lepaskan pelukanmu"

" EH? Hehehehe"

Jaejoong melepaskan pelukannya dan mundur dua langkah, Yunho mencoba untuk melihat wajah Jaejoong dan merasa bersalah karena wajah Jaejoong merah dan bekas airmatanya masih membasahi wajah namja cantik itu.

" Jangan menangis lagi, aku tidak suka"

Tangan Yunho terulur untuk mengusap pinggir mata Jaejoong, Jaejoong yang tersentak langsung menggenggam tangan kanan Yunho dan menatap Yunho. Mereka bertatapan. Tapi dua detik kemudian Yunho mengalihkan pandangannya, traumanya muncul atau... Gugup?

Jaejoong tersenyum, dia maju selangkah dan berjinjit untuk mencium bibir Yunho, manis. Saat hendak menjauhkan ciumannya Yunho menahan tengkuk Jaejoong untuk berciuman dengannya. Jaejoong senang, dia mendapatkan respon yang baik dari Yunho yang kini menghisap bibir bawahnya. Ah~~ Pagi yang indah, semoga Cho gak cemburu yaa~

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

" Harus seperti ini?"

" Iya! Ayooo Yuuunnnnn~~~"

" Ja-jaejoong, ak-aku belum siap"

" Ayolah, katanya ingin berduaan denganku"

" Tapi tidak seperti ini juga"

" Jung Yunho! Ayo, kemarikan tubuhmu! Dan masuk ke dalam sini!"

Jaejoong menatap tajam Yunho, memperlihatkan bahwa dia tengah marah tapi percuma saja toh Yunho tidak menatap wajahnya, dia malah sibuk menutupi tubuh bagian atasnya yang tidak memakai apapun.

" Yunho! Apa aku harus berdiri dan menarikmu ke dalam sini?"

GLUP

Yunho menelan ludahnya dengan susah paya, Jaejoong berdiri dari sana sama saja melihat seluruh tubuh Jaejoong!

" An-aniya... Aku saja yang masuk" Ucap Yunho gugup dan mengikuti keinginan Jaejoong, Jaejoong yang melihatnya tersneyum lebar

Memang mereka sedang apa sih?

Penasaran?

Mau Cho kasih tahu? Apa tempe?

Kasih tahu gak yaa~~

#ChoEvilKumat

Oke oke...

Yunho hanya terjebak dengan ucapannya sendiri kok, yang ada dipikiran Yunho dengan berduaan bersama Jaejoong berbeda dengan presepsi Jaejoong. Karena saat Yunho masuk ke dalam kamar mandi untuk buang air kecil, otak licik Jaejoong kembali berfungsi.

Dia ikut masuk ke dalam kamar mandi, membuat Yunho yang sedang melepas celananya tersentak menatap bingung pada Jaejoong. Jaejoong memaksa Yunho untuk berendam bersamanya padahal Yunho kan sudah mandi! Tapi hanya berendam kok...

Dan keterkejutan Yunho tidak berhenti sampai disana karena sebelum masuk ke dalam bath up Jaejoong melepaskan semua piyamanya, meninggalkan boxer hitam motif hello kitty miliknya kemudian masuk ke dalam bath up.

Tentu saja Yunho gugup dan merasa canggung terlebih Jaejoong hanya memakai boxernya itu. Akhirnya terjadilah percakapan seperti yang ada di atas.

Yunho masuk dengan pelan ke dalam bath up, duduk berhadapan dengan Jaejoong dan dia menekuk lulutnya agar tidak mengenai tubuh Jaejoong yang duduk diseberannya. (Cho : Btw... Numpang ngakak wkwkwkwkwk... Yunpa kayak uke mau diperkosa seme wkwkwkwk).

Jaejoong tersenyum menatap Yunho yang enggang melihatnya, diperhatikan seperti ini wajah Yunho benar – benar tampan. Jaejoong jadi gemas melihatnya.

" Otte?" Tanya Jaejoong

" Hmm? Harus melakukan hal ini ya?"

" Iya, agar kau cepat terbiasa dengan diriku. Tapi tidak gemetar, kan?"

" Hum? Ya..."

" Tatap aku" Pinta Jaejoong

" Ne?"

" Tatap aku Yunho~" Rengek Jaejoong

" Jae..."

" Jangan sampai aku memegangi wajahmu untuk menatapku!"

" Hah..."

Yunho mengalah, melakukan apa yang diingkan oleh istrinya itu, perlahan wajahnya menatap Jaejoong. Dan hitungan detik wajahnya mulai memerah, bukan trauma. Yunho tahu bahwa dirinya gugup menatap Jaejoong dan melihat tulang selangka Jaejoong.

" Wajahmu memerah" Gumam Jaejoong

" Kau juga"

" Ini karena efek air hangat" Kilah Jaejoong

Yunho tersenyum begitu juga Jaejoong yang langsung ikut tersenyum setelah melihat senyuman manis Yunho.

" Yunho yah..." Panggil Jaejoong dengan lembut

" Hum?"

" Aku... Mencintaimu..."

" Kau mabuk ya?"

" Memang tidak boleh mengucapkan cinta pada suami sendiri?" Jaejoong mengerucutkan bibirnya dan membuat Yunho fokus pada bibir Jaejoong yang terlihat imut

" Aku juga mencintaimu..."

" Hehehehe..."

Yunho menggelengkan kepalanya, ada – ada saja tingkah Jaejoong ini...

" Yun..."

" Apa?"

" Yunho yaahhh~"

" Apa Jaejoong?"

" Yunie ah..."

" …."

" Yunho Yunho Yunho yahhh"

Yunho menggelengkan kepalanya, sepertinya istrinya ini salah minum tadi pagi. Mungkin yang diminum adalah soju bukan air putih. Jaejoong kembali tersenyum lebar melihat Yunho tertawa saat ini.

" Aku gemukkan ya?"

" Tidak"

" Junsu selalu meledekku gemukkan, dia bilang dadaku makin berisi" Gumam Jaejoong " Disentuh saja tidak bagaimana bisa membe..."

BLUSH

" Sar..."

Jaejoong langsung mengumpat dalam hatinya, bagaimana bisa dia membicarakan soal dadanya disaat seperti ini?

" Maaf... Hehehehe..."

" Y-ya"

" Tapi aku serius lho, aku tidak menggemuk, kan?" Jaejoong meraba – raba dadanya sendiri, memastikan bahwa dia benar tidak menggemuk

" Tidak Jaejoong, yak! Apa yang kau lakukan!" Pekik Yunho saat melihat Jaejoong meraba dadanya sendiri

" Hanya memastikan saja kok"

Jaejoong kembali terdiam, dan kemudian dia menyeringai...

" Yun.."

" Hmm?"

" Mau aku gosokkan punggungmu?"

" Hah?! Ti-tidak usah"

" Biar bersih! Ayoo~~~"

SRETTT

Yunho langsung memalingkan tubuhnya saat Jaejoong berdiri, karena hal itu sungguh berbahaya untuk mata Yunho. Tapi dia sempat melihat boxer Jaejoong yang basah menempel pada tubuh jaejoong dan dia bisa melihat junior istrinya. Ughhh~~

" Cepat balikkan tubuhmu!" Perintah Jaejoong

Mau tidak mau Yunho membalikkan tubuhnya dari pada melihat tubuh hampir telanjang istrinya, dia sendiri pun heran kenapa dia jadi pasif begini. Dulu melihat puluh yeoja bertelanjang di depannya juga dia biasa saja. Kalau dipikir – pikir dulu dia juga terbiasa melihat Jaejoong tanpa pakaian, tapi kenapa sekarang...

" Akkhh..."

" Maaf, terlalu kencang ya?"

" Hum" Yunho mengangguk sebagai jawabannya

Jaejoong benar – benar menggosokkan spons pada tubuh Yunho, sesekali memijat namja itu agar Yunho rileks. Jaejoong bisa merasakan kok bahwa Yunho benar – benar tegang sekarang. Bukan tegang 'itu'-nya ya, tubuhnya.

" Tubuhmu sepertinya sudah terbiasa sekali dengan sentuhanku? Tidak gemetar lagi"

" Ya... Begitu. Sekarang jantungku yang berdebar kencang"

" Eoh?"

Yunho mengatupkan mulutnya, kenapa bisa dia keceplosan seperti itu?

" Berdebar kencang karena apa?" Tanya Jaejoong dengan nada menggoda

" Yah... Kau tahu pasti jawabannya" Jawab Yunho

" Tidak"

" Itu karena kau ada di dekatku, jantung ini berdebar namun terasa nyaman. Aku suka debaran ini"

" Eoh? Aku juga, coba rasakan ini"

Jaejoong menjatuhkan sponnya begitu saja, menarik tangan kanan Yunho dan membuat tangan itu menempel pada dada sebelah kirinya dan sontak membuat tubuh Yunho berbalik ke arahnya.

" Dengar debaran kencang itu? Debaran itu selalu terjadi saat kau ada di dekatku. Rasanya nyaman dan menyenangkan" Suara Jaejoong semakin melirih diakhir kalimatnya

DEGH

Mata mereka bertemu, ya... Yunho kini menatap mata bulat Jaejoong mengesampingkan traumanya yang bisa saja kambuh hanya saja Yunho berpikiran bahwa saat ini dia tidak akan menyakiti Jaejoong dan akan membahagiakannya jadi dia tidak merasakan traumanya sedikit pun.

Jaejoong balik menatap mata tajam Yunho, dia bisa melihat pandangan memuja dari mata Yunho. Rasanya menyenangkan karena dulu Yunho hanya menatapnya dengan pandangan kebencian dan penuh rasa jijik.

Yunho tidak tahan, tangan kirinya naik untuk menarik tengkuk Jaejoong dan mempertemukan bibirnya dengan bibir Jaejoong. Jaejoong tersentak, tentu saja dia kaget karena ciuman tiba – tiba dari Yunho tapi kali ini ciumannya berbeda, bagaimana mendeskripsikannya? Penuh nafsu.

Yunho menyamakan posisinya dengan Jaejoong, kini keduanya saling berhadapan dengan posisi berlutut dan mereka masih ada di dalam bath up. Yunho meraup dengan gemas bibir merah Jaejoong dan menjilatnya.

" Nghh... Yuniiehh.."

Kuluman itu menjadi intens kala tangan kanan Jaejoong mengusap punggung Yunho dan tangan kirinya meremas kencang rambut Yunho. Keduanya mencari kepuasan, menghadirkan erangan dan desahan tertahan dari keduanya.

" Yunh... Ugghhh..."

Jaejoong memukul pelan pundak Yunho tanda dia menyerah, dia menyukai ciuman Yunho tapi dia juga butuh bernafas agar dia bisa merasakan ciuman Yunho lagi. Jaejoong tersenyum dengan bibirnya yang membengkak. Dia mendekatkan kembali bibirnya pada bibir Yunho dan berbisik lirih.

" Kau milikku, Yunho"

Setelahnya, bukan bibir yang jadi sasaran Jaejong tapi leher Yunho, dia mengisap leher Yunho dan menjilatnya. Memainkan lidahnya dan giginya disana sebelum sebuah elusan dia terima pada rambutnya. Jaejoong tersenyum dan menjauhkan wajahnya dari leher Yunho, dia tersenyum puas pada hasil kerjanya.

" Puas?" Tanya Yunho

" Hehehe..."

" Ayo keluar dari sini"

" Lho kenapa?" Tanya Jaejoong, jujur saja dia berpikiran bahwa mereka akan melanjutkan ke tahap berikutnya #EommaYadongKumat

" Kau bisa kedinginan karena terlalu lama berendam"

CUP

Yunho mengecup puncak kepala Jaejoong dan berniat beranjak dari dalam bath up, Jaejoong yang tidak mau ditinggal hendak memegang lengan Yunho tapi itu hanya ekspetasinya karena yang dia pegang malah celana pendek Yunho dan membuat celana Yunho turun.

SRETT

" Y-yak! Jung Jaejoong!"

" Omo! Besar"

BLUSH

Wajah Yunho memerah karena malu, dia segera menaikkan celananya dan keluar dari kamar mandi secepat kilat. Meninggalkan Jaejoong yang mematung kemudian tersenyum lebar. Tidak lama dia kembali duduk di dalam bath up dan menekuk kakinya hingga menyentuh dadanya.

" Aku juga sebenarnya tidak sanggup melihat tubuhmu Yun.. Karena mengingat bagaimana pertama kali kau memperkosaku. Tapi..."

Jaejoong menaikkan tangannya yang tenggelam di dalam air, melihat tangannya itu gemetar, Dia tersenyum getir. Nyatanya dia pun belum bisa menghilangkan bayangan dimana Yunho memperkosanya, tapi dia ingin sembuh.

Dibalik sifatnya yang agresif, Jaejoong masih menyembunyikan sedikit traumanya. ya... Hanya sedikit, tidak seperti Yunho yang sangat parah.

" Sedikit lagi, aku pasti sembuh. Ani... Aku dan Yunho pasti sembuh, kami bisa melewatinya. Ya kan?" Lirih Jaejoong

Sepuluh menit kemudian Jaejoong keluar dari kamar mandi namun tidak mendapati Yunho di dalam kamarnyal, setelah memakai pakaian Jaejoong keluar guna mencari Yunho yang ternyata sedang duduk di sofa sembari menelepon seseorang.

" Ya, titip salam untuk Go ahjusshi dan kekasihmu itu. Wae?"

"..."

" Ha? Bukan kekasihmu? Yang waktu itu aku dan Jaejoong lihat saat makan malam? Ei~ Kau pasti bercanda Ahra yah"

Oh...

Yunho sedang berteleponan dengan Ahra, dengan langkah pelan Jaejoong menghampiri Yunho dan duduk di sampingnya. Yunho langsung menoleh dan berkata jika Jaejoong sudah ada di sampingnya. Dia kemudian menyerahkan ponselnya pada Jaejoong.

" Wae?" Tanya Jaejoong

" Ahra ingin bertanya sesuatu"

" Oh"

Siang itu Ahra menelepon berkaitan dengan tugas kuliahnya dimana dia harus mewawancarai seorang desainer dan pilihan Ahra tentu pada Jaejoong yang selama ini menjadi panutannya.

" Iya, nanti kelompokmu bebas untuk mewawancaraiku setelah kami kembali dari Jeju. Oke?" Ucap jaejoong

" Oppaaaaa~~ Terima kasih, aku sangat mencintaimuu~"

" Maaf, aku hanya mencintai Yunho"

" Ish! Oppa! Itu juga aku tahu"

" Hahahaha... Ya sudah nanti aku kabari lagi ya"

" Oke oppa"

" Salam untuk appamu"

" Ne"

PIK

" Jadi... Bagaimana rasanya jadi terkenal?" Tanya Yunho dengan nada sedikit menggoda

" Mungkin rasanya seperti dulu saat kau menjadi playboy di kampus? Menyenangkan"

" Aku rasa banyak namja yang menginginkanmu sekarang"

" Iya, termasuk kau"

Yunho tersenyum, menarik Jaejoong mendekat dan membuat Jaejoong ada dalam dekapannya. Hal itu tentu saja membuat Jaejoong kaget karena tidak menyangka Yunho akan bersikap seperti ini padanya.

" Aku juga ingin menyentuhmu tapi maaf ya... Tidak bisa dilakukan tadi"

Tentu saja Jaejoong tahu ke arah mana pembicaraan Yunho, dia mengerjapkan matanya kemudian menyamankan kepalanya pada dada Yunho.

" Ke-kenapa?" Tanya Jaejoong antara malu dan penasaran

" Yah... Alasan pertama karena aku masih belum sanggup, bersentuhan saja masih gemetar walaupun sedikit. Mungkin aku bisa pingsan saat berhubungan denganmu"

Jaejoong tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika saat mereka berhubungan dan sedang nikmat – nikmat nanggung (?) (apa iniihhh) Yunho pingsan dengan keadaan masih menyatu. Tidak lucu! Bagaimana nanti jika dia berkonsultasi pada Jihyun? Yang ada mereka ditertawakan oleh Jihyun!

" Kedua, nanti malam kita coba lagi. Tapi pelan – pelan saja, biar nanti aku yang agresif"

Senyum malu – malu tapi mau nan menggemaskan itu berkembang pada bibir Jaejoong, dia kemudian menyembunyikan wajahnya pada dada Yunho. Malu. Tapi mau.

Hari ini dihabiskan Yunho dan Jaejoong di ruang tamu untuk cuddling dan bercanda. Melupakan anaknya yang kini tengah makan bersama Junsu dan Yoochun serta Kyuhyun di kafe keluarga Go.

" Kau tahu Minnie ah..." Ucap Ahra

" Ne aunty?"

" Aku rasa kau akan mendapatkan keinginanmu dengan cepat"

" Apa? Adek?"

" Iya"

" Jinjja?!" Mata Changmin berbinar mendengarnya

TUK

" Awwhhh! Wae? Kenapa Kyunie pukul kepala Min pake cendok? Cakit tau" Ucap Changmin dengan nada kesal

" Min mau punya adik?" Tanya Kyuhyun

" Ne"

" Kyu gak akan mau maen lagi sama Min kalo Min punya adik" Ucap Kyuhyun kemudian mengerucutkan bibirnya

" Waeyo?" Changmin menatap Kyuhyun dengan mata berkaca – kaca

Ketiga orang dewasa yang mendengarnya juga ikut bingung dengan perkataan Kyuhyun. Tapi mereka memilih diam karena ingin melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.

" Nanti Min sama adik terus... Min cuma perhatian sama dia, maen sama dia, makan sama dia. Min gak maen sama Kyu lagi"

" Uhh? Min tetep maen kok sama Kyu, Kyu juga bica maen sama adik Min"

" Janji gak lupain Kyu? Janji tetep maen sama Kyu?"

" Iya Kyu! Min itu sayaaaaaaaannggggg sama Kyu maca gak mau maen lagi cama Kyu?'

" Ya sudah, janji ya!"

" Iya Kyu" Ucap Changmin kemudian melanjutkan acara makannya yang tertunda sampai...

CUP

" Makasih ya Min"

Senyum sangat lebar menghiasi wajah Changmin yang baru saja mendapatkan sebuah ciuman pada pipinya. Pelakunya siapa lagi kalau bukan Kyuhyun yang kini dengan riang memakan es krim rasa strawberry di depannya.

" Kyaa~"

" Hahahahahahaha"

Dan tiga orang di depan mereka tertawa bahkan Junsu berteriak histeris melihat tinggkah menggemaskan dua bocah yang ada di hadapan mereka. Sedangakn Changmin dan Kyuhyun menatap binggung para orang dewasa kemudian melanjutkan camilan sore mereka.

Oke...

Kita pindah lagi ke pasangan Yunho dan Jaejoong yang sedang tidur damai berpelukan di atas sofa. Saling berhimpitan namun mereka tidak merasa risih. Sampai salah satu dari mereka membuka matanya.

" Nghh?"

Jaejoong hendak merenggangkan tubuhnya namun dia sadar jika tempat yang dia tiduri sangat sempit terlebih Yunho memeluknya dari samping. Jaejoong langsung tersadar jika mereka tertidur di sofa sepanjang siang ini sehabis cuddling.

Dia melirik ke arah jam dinding, pukul lima sore. Wah... Sudah lama sekali tidurnya tidak senyenyak ini. Saat melirik Yunho, namjanya itu masih tertidur dengan lelapnya. Tangan Jaejoong naik untuk mengusap pipi Yunho.

" Aku harus memasak untuk makan malam"

Jaejoong memutuskan untuk bangun tapi dia bingung harus bagaimana, melompati Yunho? Astaga... membangunkan Yunho? Tidak, itu bukan ide yang bagus karena Yunho tidur dengan lelap. Akhirnya Jaejoong mencoba bangkit untuk melewati Yunho. Saat dia bergerak tiba – tiba saja Yunho bergerak dan membuat Jaejoong duduk di atas perut Yunho.

" Omo!"

" Kau mau kemana?" Tanya Yunho dengan suara serak khas orang baru saja bangun tidur

" Memasak, ini sudah sore Yun"

" Tidak makan diluar saja?"

" Tidak ah, sayang bahan masakannya. Kau tidak mau makan masakanku"

" Aku hanya tidak ingin kau lelah"

" Ish! Aku hanya memasak saja bukan membawa puluhan kilo batu bata Jung Yunho"

" Arasseo"

" Kau mau makan apa?"

" Apa saja yang kau masak aku suka"

" Oke"

Dengan wajah semerah tomat Jaejoong beranjak dari duduk nyamannya di atas perut Yunho kemudian dia meminta Yunho untuk mandi dan dituruti oleh Yunho. Makan malam hari ini terlihat tenang setelah sebelumnya Yunho pun ikut membantu Jaejoong memasak.

Jaejoong senang sifat Yunho berubah total dari sifatnya yang dulu, Yunho sekarang lebih lembut padanya, baik dan sangat sopan. Satu yang tidak berubah adalah sikap tegasnya, tegas kearah baik ya... Tidak seperti dulu yang selalu berbuat seenaknya dan tukang perintah.

" Yun" Panggil Jaejoong

" Ya?"

" Pulang dari sini aku ingin kita pergi ke makam haraboji" Ucap Jaejoong

" Eh?"

Yunho mendongakkan kepalanya, mencoba menatap Jaejoong. ya... Satu lagi yang belum Yunho bereskan, pergi ke tempat harabojinya. Haraboji yang menyayangi Jaejoong, yang selalu bergantung pada Jaejoong, yangmenyuruhnya menikahi Jaejoong.

" Tidak apa – apa?" Tanya Jaejoong

" Ya... Ajak Changmin juga" Jawab Yunho singkat karena dia sedang memikirkan banyak hal dalam otaknya

" Terima kasih"

" Ya"

Satu jam kemudian mereka sudah berada di dalam kamar, keduanya sibuk dengan ponsel masing – masing. Yunho sibuk membalas pesan kliennya sedangkan Jaejoong berbalas pesan dengan Junsu, menanyakan kabar anak gembulnya dan tertawa saat membaca apa yang dilakukan Changmin dan Kyuhyun siang tadi.

" Kenapa tertawa?" Tanya Yunho bingung

" Ini, baca saja"

Jaejoong memberikan ponselnya pada Yunho dan membiarkan namja itu membaca pesan yang dikirimkan Junsu padanya. Yunho terkekeh, anaknya sungguh menggemaskan. Dia jadi tidak sabar juga untuk menemui Changmin dan mengecupi pipi gembul Changmin.

" Sifat playboy-nya mirip denganmu" Ucap Jaejoong

" Tapi polosnya sepertimu"

" Polos? Aku?"

" Iya, kau sangat polos. Dulu aku tahu kau selalu menatapku dengan pandangan berbinar saat aku sibuk dengan tugas kuliahku di ruang tamu"

" Eoh?"

BLUSH

Wajah Jaejoong sontak memerah mendengar pernyataan Yunho, dia memang suka sekali memperhatikan Yunho dalam diam. Menikmati anugerah Tuhan yang paling tampan tanpa suara dan dia tidak tahu kalau Yunho menyadarinya?!

" Wajahmu memerah lagi. Kenapa? Malu karena ketahuan?"

" Yuunnn~~"

" Aigo..."

PUK

PUK

PUK

Yunho menepuk puncak kepala Jaejoong dan mengacak surai lembut Jaejoong yang membuat namja cantiknya itu mengerucutkan bibirnya karena malu salah satu aibnya terbongkar begitu saja.

" Mau bagaimana lagi, saat itu baru pertama kalinya aku melihat seseorang seperti dirimu" Ucap Jaejoong

" Seperti apa?"

" Beruang"

" Yahh!"

" Hahahahaha, aniyaa~ Kau tampan, sejak dulu kau selalu yang tertampan untukku apa lagi saat kau tersenyum sampai membuat matamu tertutup"

" Iya, terima kasih. Sudah jangan puji aku terus, bisa – bisa aku terbang"

" Terbang boleh, ajak aku. Jangan tinggalkan aku ya"

" HAHAHAHAHAHA"

Lepas sudah tawa Yunho mendengar ucapan cheesy Jaejoong, dia tertawa lepas sampai tidak sadar jika Jaejoong terus memperhatikannya dan hatinya berteriak senang karena dia bisa melihat senyum Yunho lagi terlebih tertawa di depannya.

" Beruang menyebalkan! Jangan tertawa!" Ucap Jaejoong dengan nada yang dibuat – buat seolah dia merajuk

" Aigo... Hahahaha... Iya... Iya... Maaf"

" Sudah! Aku tidur saja!"

Dengan wajah masih dibuat cemberut, Jaejoong meletakkan ponselnya di atas meja nakas kemudian berbaring membelakangi Yunho. Yunho yang merasa bersalah menghentikan tawanya dan mencolek punggung Jaejoong.

" Kau tidak sedang marah kan?" Tanya Yunho

" Ani!"

" Merajuk eoh?" Goda Yunho

" Ani!"

" Iya, maaf ya..."

" Ani! Tidur sana!"

" Aigoooo... Aku kira malam ini akan panjang tapi kau sudah ingin tidur"

SRETT

Jaejoong sedikit membalikkan tubuhnya dan menatap Yunho dengan datar.

" Malam panjang apa?" Tanya Jaejoong

" Yah... Bercerita semalaman"

" Huh, tidak mau! Nanti kau menertawakanku! Aku tidur saja!"

Yunho terkekeh tanpa suara, dia mencolek dagu Jaejoong berkali – kali sampai membuat Jaejoong jengah dan menatapnya tajam. Yunho menurunkan pandangannya setelah lima detik matanya menatap Jaejoong.

" Bercerita semalam bagaimana jika kau saja tidak sanggup menatapku lebih dari lima detik" Ucap Jaejoong

" Kalau aku bisa?"

" Huh? Kau pasti bercanda" Jaejoong kembali bangkit dan duduk bersila di depan Yunho " Ayo kita coba, jika dalam lima menit kau bisa tetap menatapku maka aku akan melakukan stiptease di depanmu tapi kalau gagal kau yang striptease di depanku, otte?"

" Huh? Striptease?"

" Iya"

" Da-darimana kau tahu kata itu eoh?"

" Dulu, aku dengar kau dan teman – temanmu berbincang. Kalian akan pergi ke klub dan melihat penari striptease. Setelahnya aku mencari tahu karena penasaran tapi... Hehehehe"

Tidak usah dilanjutkan juga Yunho tahu Jaejoong tengah malu, tapi... Striptease? Yakin?

" Kau yakin?"

" Ne! Pasti lucu melihatmu striptease"

" Memang kau sanggup melihatku seperti itu?"

" M-mo-molla"

" Kenapa kau jadi mesum begini sih"

" Ugh... Aku hanya belajar darimu yang dulu"

" Eoh?"

" Hehehehe, ayo! Mau tidak?"

" Hmmm" Yunho menunjukkan pose berpikir, jika menang memang menguntungkan tapi jika kalah? Pasti dia malu sekali

" Kalau pun kau menang kau harus terus menatapku, oke?"

" Jae..."

" Ya?"

" Hmm... Ayo kita coba, beri aku lima kali kesempatan"

" Uh? Banyak sekali, tiga!"

" Ck... Oke"

" Aku akan pakai ponsel untuk mengatur waktunya"

Jaejoong mengambil ponselnya dan mencari pengatur waktu, dia kemudian duduk kembali di hadapan Yunho yang kini memejamkan matanya.

" Katakan kalau kau sudah siap, aku akan menyalakan stopwatch-nya"

" Iya"

Yunho mengambil nafas dan membuangnya perlahan, rasa gugup menyelimutinya. Pemainan Jaejoong kali ini benar – benar membuatnya tidak habis pikir. Aigo~

" Masih belum?" Tanya Jaejoong

" Sebentar"

" Oke"

" Ak-aku siap"

" Dalam hitungan ketiga buka matamu dan tatap aku"

" N-ne" Jawab Yunho ragu

" Satu... Dua... Tiga"

Perlahan mata Yunho terbuka, dia langsung mendapati wajah Jaejoong di depannya. Dia menatap mata bulat Jaejoong, mata jernih... Penuh kehidupan dan kebahagiaan, tidak seperti dulu...

SRETT

Yunho memalingkan pandangannya saat otaknya menampilkan wajah Jaejoong kala dia mendorongnya dari tangga, mata bulat Jaejoong menatapnya dengan penuh kesedihan dan itu membuat Yunho memalingkan pandangannya.

" Wae?" Tanya Jaejoong dengan lembut

" Aniya... Hanya..."

" Apa gambaran saat kau mendorongku dari tangga muncul dalam otakmu?"

" Y-ya"

Namja cantik itu menghembuskan nafasnya, dia tahu apa yang Yunho alami karena Jihyun menceritakan tentang perkembangan Yunho padanya. Alasan utama Yunho tidak bisa menatapnya adalah karena kenangan menyakitkan itu selalu menghantuinya, seperti sekarang.

" Yun... Tidak apa – apa, kau tidak berbuat buruk padaku. Semua hanya masa lalu" Ucap Jaejoong

" Aku akan mencobanya lagi"

" Baiklah, tapi jangan dipaksa"

" Ya"

" Satu... Dua... Tiga..."

Yunho kembali menatap Jaejoong, kali ini dia mengingat apa yang dikatakan Jaejoong bahwa dia tidak menyakiti namja cantik itu. Dia menyayangi Jaejoong sepenuh hatinya, begitu juga dengan Changmin yang dulu dia coba hilangkan dari muka bumi...

SRETT

Kali ini Yunho menutup wajah dengan kedua tangannya, rasanya lebih menyakitkan karena dia mengingat bagaimana dia ingin membunuh Changmin dengan kedua tangannya. Mencampurkan tetesan peluruh pada susu Jaejoong lalu-

" Yun!"

" Maaf, aku rasa aku tidak bisa" Ucap Yunho dengan suara menyesal

" Apa lagi?"

" Changmin..."

" Hei, ingatlah kau berbeda dengan kau yang dulu. Aku, Changmin... Kami menyayangimu, kau juga menyayangi kami bukan?"

Yunho perlahan mengangguk.

" Apa yang pernah aku bilang? Kau... Hanya harus mengingat senyum Changmin dan senyumku kalau kau mau... Kami tidak tersiksa di dekatmu, kau sekarang menjadi ayah dan suami yang hebat. Kami bahagia karena kau ada di sisi kami"

" Jae..."

" Jika ini sangat menyusahkanmu, kita akan mencobanya lain waktu, oke? Sekarang kita tidur saja"

Jaejoong menghela nafasnya, dia tidak mau terkesan memaksa Yunho padahal Yunho masih berjuang mengatasi traumanya. Dia hendak berbaring namun tangan Yunho menahannya.

" Aku akan mencobanya lagi"

" Yakin? Jangan dipaksa Yun"

" Aku pasti bisa"

" Arasseo... Satu... Dua... Tiga"

Setelah mencoba menenangkan dirinya, Yunho kembali menatap Jaejoong kali ini dia benar – benar memikirkan ucapan Jaejoong yang mengatakan jika mereka berdua bahagia ada di sisinya. Yunho tidak mau menyerah, bukan karena takut kalah dengan taruhan tapi dia tidak mau kalah dari traumanya.

Dia ingin sembuh, ingin menggandeng Jaejoong tanpa batas, ingin bercanda dengan Jaejoong, ingin menyentuh namja itu tanpa harus memikirkan traumanya. Juga... Bermain tanpa batas dengan anak kesayangannya.

Ya...

Sekarang Yunho bisa melihat bayangan dimana Changmin tertawa kencang dalam gendongannya dengan Jaejoong berdiri manis di sampingnya. Dia bahagia, terharu...

SRETT

" Yun?" Tanya Jaejoong bingung karena Yunho memejamkan matanya namun tangannya menggenggam erat tangan Jaejoong

" Tunggu, aku hanya beristrirahat sejenak"

Setelah ucapannya, Yunho kembali membuka matanya. Memaki dalam hati kenapa dia bisa berbuat jahat pada Jaejoong yang hatinya seperti malaikat? Harusnya dia bersyukur Jaejoong mau bersamanya, mengurusinya, bersabar menghadapinya.

Yunho sadar jika namja cantik itu adalah seseorang yang diberikan Tuhan untuk merubah sifat dan sikap buruknya dimasa lalu. Tuhan... Betapa beruntungnya dia sekarang karena Jaejoong masih menerimanya dan mencintainya. Ani... Dia bersyukur bahwa Jaejoong masih hidup dan memaafkan semua kesalahannya adalah hadiah terbesar yang Tuhan berikan padanya.

TES

TES

" Yun, kau menangis..."

" Tidak apa Jaejoong... Aku baik – baik saja" Ucap Yunho tanpa mengalihkan pandangannya dari matanya Jaejoong

Sementara itu Jaejoong khawatir dengan keadaan Yunho tapi Yunho meyakinkan bahwa dia tidak apa – apa dan akan menjelaskannya pada Jaejoong nanti.

.

.

.

.

.

Jaejoong menggigit bibir bawahnya, sebenarnya ide untuk stiptease hanya iseng saja. Dia juga punya malu walaupun melakukannya di depan suaminya. Jadi dia berharap Yunho segera mengalihkan padangannya sebelum ponselnya berbunyi menandakan permainan mereka sudah usai dan Yunho bisa dikatakan kalah.

Tapi karena Cho tidak mau melihat Yunpa kesayangan Cho setelah bebeb Mimin tersayang kalah dan readers juga pasti senang kalau Cho bikin Jaemma kalah jadi... #Eaaaaa~~~ Bahasa lu Cho!

TING!

TING!

GLUP

Jaejoong hanya bisa menelan ludahnya dengan susah payah saat ponselnya berbunyi, menandakan jika permainan mereka sudah berjalan lima menit. Yunho mengalihkan pandangnnya ke arah ponsel Jaejoong, lima menit dan dia berhasil menahannya.

Rasa gembira dia rasakan, hatinya bersorak dan jutaan kupu – kupu seakan berterbangan dalam perutnya. Rasanya menyenangkan bisa mengalahkan traumanya. Juga... Malam ini dia akan mendapatkan bonus tambahan dari istrinya hehehehe~~~

" Lima menit" Ucap Yunho pelan

" Ya, selesai. Tapi... Kenapa kau menangis tadi Yun?" Tanya Jaejoong

" Karena memikirkan kebaikanmu dan Minnie... Aku menyayangi kalian dan ingin terus membuat kenangan indah bersama kalian"

Jika Jaejoong bisa lumer mungkin tubuhnya sudah menjadi cairan saat ini, Yunho benar – benar sudah berubah dan Jaejoong beruntung memiliki suami seperti Yunho. Ahhh~~

" Dan soal taruhannya..." Lanjut Yunho dengan nada menggoda

" Yu-yun" Panggil Jaejoong gugup

" Kenapa kau terlihat gugup eoh? Kau kalah Jaejoongie~~"

" Ugh? Jaejoongie?"

" Panggilan khusus untukmu, tidak boleh? Kau saja selalu memanggilku Yunie"

" Hehehehe... Boleh tapi masalah hadiah taruhannya..." Jaejoong menggigit bibir bawahnya

" Kau namja kan? Tepati janjimu"

" Iya..."

Dengan tertunduk Jaejoong bangkit dari tempat tidur mereka namun Yunho menahannya, menarik tubuh Jaejoong hingga bibirnya menabrak bibir Yunho dan hal itu hanya terjadi lima detik karena Yunho segera melepaskannya.

" Fighting!" Goda Yunho

Ya...

Yunho sudah putuskan untuk menjadi terbuka saat bersama Jaejoong, menjadi dirinya yang dulu. Bukan menjadi seseorang orang yang arogan ya... Dulu dia dikenal iseng dan playboy, tidak ada salahnya mengembalikan dua sifat itu tapi hanya pada Jaejoong ya~~ Tidak pada yeoja ataupun namja lain.

Jaejoong menggerutu kemudian berjalan ke depan tempat tidur mereka, Yunho mengambil ponsel Jaejoong dan memeriksa pemutar musik milik Jaejoong mencari lagu yang cocok untuk keadaan mereka. Tahukan Yunho ahli dalam hal ini dulu?

" Hmmm.. Kiss B? Kau suka lagu mereka?"

" Ya.. Aku suka Dong Bang Shinki terlebih Youngwoong dan U-Know, mereka keren!" Pekik Jaejoong dengan senang

Yunho menggelengkan kepalanya dan menyetel lagu itu dan dia men-setting agar hanya lagu itu yang terus terdengar,

" Yu-yun..."

" Ayo lihat kemampuanmu"

" Ma-matikan lampu?"

" Kalau begitu mana bisa aku melihatnya" Ucap Yunho kemudian bersandar pada kepala tempat tidur, dia mengambil bantal dan memeluknya di dada

" Ta-tapi... kau..."

" Aku ingat janjiku juga, aku akan menatapmu" Ucap Yunho

Tidak lama setelahnya lagu Kiss B terdengar di dalam kamar itu. Wajah Jaejoong memerah, harusnya dia tidak melakukan taruhan konyol ini! Dan lihat akibatnya sekarang, tadinya mau mengerjai Yunho kenapa sekarang jadi dia yang dikerjai! Hahahaha... Senjata makan tuan kau Jaemma~

Saat lagu favoritnya terdengar ditelinganya mau tidak mau Jaejoong mulai menghayati perannya, dengan perlahan dia membuka kancing piyama paling atas, kemudian kancing kedua... Sampai kancing terakhirnya. Tubuh putih Jaejoong mulai terekspos dan dadanya mengintip dari dalam piyama Jaejoong.

Jaejoong kemudian membalikkan tubuhnya dan membiarkan Yunho melihat punggungnya, perlahan dia menurunkan piyamanya dan membuat punggung putih bersihnya terekspos dengan indah.

GLUP

Yunho menyadari bahwa tindakannya sedikit kelewat batas mungkin? Bahkan Jaejoong baru saja menurunkan piyamanya sesuatu sudah meminta untuk dikeluarkan. Helloo~~~ Yang tadi mau sifat iseng dan playboy-nya keluar siapa? Cho? Huh?

SRETT

Oke, piyama bagian atas Jaejoong sudah terlepas. Yunho makin sulit bernafas apalagi saat melihat Jaejoong memeluk tubuhnya sendiri dan kembali menghadapkan tubuhnya ke arah Yunho. Seketika Yunho menegang, semuanya menegang termasuk miliknya di bawah sana. Untung saja dia menutupinya dengan bantal sehingga tidak kentara.

Jaejoong menggigit bibir bawahnya dengan tangan kanan yang menurunkan celana piyamanya benar – benar dengan gerakan pelan dan itu membuat Yunho mengira bahwa Jaejoong tengah menggodanya. Sekarang Jaejoong hanya memakai boxer berwarna hitam dengan otif kepala hello kitty.

" Yu-yuun..."

Yunho menghembuskan nafasnya perlahan, sudah lima tahun dia tidak menyentuh yeoja, orang terakhir yang dia sentuh adalah Jaejoong dan saat itu Jaejoong sedang hamil delapan bulan. Tentu saja hal ini membuat hormonnya meningkat saat melihat Jaejoong.

Yunho jadi bingung sendiri, bisakah dia melakukannya? Akankah Jaejoong menolak? Kalaupun Jaejoong tidak menolak apa tubuhnya mampu melakukannya? Bagaimana jika dia pingsan?

" Yuniee..."

Panggilan manis itu membuat lamunan Yunho buyar, matanya membulat saat melihat Jaejoong sudah menurunkan boxernya, terpampang jelas kini junior Jajeoong yang terawat dengan baik oleh sang pemilik.

" Kemarilah..."

Yunho sudah tidak tahan lagi, urusan pingsan atau apapun itu akan dia urus belakangan. Yang penting dia bisa memeluk erat istrinya itu dulu.

" Ne?"

" Kemarilah"

Yunho meluruskan kakinya dan menepuk pahanya, bermaksud membuat Jaejoong duduk di pahanya. Jaejoong berdehem canggung namun dia tetap menaiki tempat tidur mereka. Jaejoong kini berdiri dengan lututnya yang mengapit kedua kaki Yunho.

Tangan Yunho yang sedikit bergetar itu menyentuh perut Jaejoong, mengusapnya dan perlahan naik ke atas. Mengenai nipple Jaejoong.

" Mhhmmm..." Jaejoong menggigit bibir bawahnya, sudah lama sekali dia tidak merasakan hal seperti ini, rasanya mendebarkan!

Yunho menyentuh nipple Jaejoong dan sedikit menekannya, membuat Jaejoong memejamkan matanya dengan erat karena sebuah kenikmatan yang lama tidak dia rasakan kembali datang padanya.

" Yunhhh..."

Namja yang namanya Jaejoong panggil itu seakan tidak mendengar, namja itu malah fokus pada tubuh bagian inti Jaejoong yang berdiri tegak di depannya. (Cho: Yang kayak gini aje trauma lu gak kambuh beh!- . -)

Jari telunjuk Yunho maju untuk mengusap perut Jaejoong, turun... Turun lagi sampai mengenai pangkal junior Jaejoong. Jaejoong mendesis nikmat saat jari telunjuk Yunho menyentuh miliknya, padahal hanya menyentuh tapi kenapa rasanya sangat nikmat? Ah... Tidak tahu, Jaejoong tidak mau memikirkannya.

Perlahan Yunho mencoba untuk menggenggam milik Jaejoong dengan perasaan yang bercampur aduk. Rasanya aneh tapi sungguh dia menyukainya, debaran ini... Rasa nyaman dan sesuatu meletup dengan senang dalam dirinya.

SRETT

" Ahh~"

Jaejoong tidak bisa menahan desahannya lagi saat Yunho menggenggam miliknya dan memainkannya, memajumundurkannya dengan pelan. Desahan Jaejoong sendiri langsung membuat bagian bawah Yunho tidak terkontrol, ingin segera keluar dari dalam celana namun Yunho masih mencoba untuk menahannya.

" Yun... Ngghh!"

Jaejoong tersentak saat Yunho mengocok miliknya dengan kuat dan memainkan ujung juniornya dengan intens.

" Want it so badly?" Tanya Yunho dengan tatapan menggoda, Jaejoong segera menganggukkan kepalanya

Yunho menarik Jaejoong agar lebih mendekat ke arahnya hingga junior Jaejoong yang basah karena precum-nya sendiri mengenai bibir hati Yunho. Yunho mencium ujung junior Jaejoong dan mengecup seluruh permukaannya sampai ke pangkal.

Jaejoong menggeliat merasakan geli namun nikmat pada dirinya, apalagi saat Yunho menggesekkan bibirnya pada junior Jaejoong. Rasanya tidak bisa dijelaskan tapi yang pasti Jaejoong amat sangat menyukainya.

Tangan Jaejoong merambat untuk menyentuh kepala Yunho, mengusap helaian rambut hitam pekat Yunho berulang kali dan menjambaknya karena dia kaget Yunho memasukkan juniornya ke dalam mulut.

" Yun! Ahhh!"

Desah nikmat itu menggema kencang di dalam kamar mereka, Yunho mulai memanjakan miliknya. Menghisap milik Jaejoong kemudian mesukkannya ke dalam mulutnya paling dalam.

" Nghh..."

Jaejoong meremas kencang helaian rambut Yunho karena tidak tahan dengan rasa nikmat yang dirasakannya. Apa lagi saat Yunho tidak lama memajumundurkan mulutnya dan menghisap miliknya dengan kencang.

" Slluurprppp"

" Ahh... Yun... Ahhh... Sebentarhh... Nggghhh!"

Gerakan Yunho semakin intens saat mendengar desahan Jaejoong yang menggila, Yunho tahu bahwa Jaejoong akan segera mengeluarkan klimaks pertamanya. Dan...

" Ahhh! Akkhh... Nghhh!"

Jaejoong menundukkan kepalanya dan menaruhnya di atas puncak kepala Yunho, nafasnya tidak beraturan pasca mengeluarkan klimaksnya. Dia lelah tapi sangat menyukai sensasi ini.

PLOP

Yunho mengeluarkan milik Jaejoong dari dalam mulutnya, dia membiarkan Jaejoong memeluk kepalanya sedangkan tangannya perlahan terangkat untuk memeluk pinggang Jaejoong. Setelah menghabiskan waktu hampir semenit, Jaejoong mengangkat kepalanya dan menegakkan tubuhnya.

" Ng..."

Tangan Yunho beranjak dari pinggang Jaejoong menuju dagu namja itu dan menarik dagunya mendekat untuk mencium bibir merah Jaejoong. Mereka saling mengulum dan mencoba mendominasi satu sama lain walaupun akhirnya Jaejoong kalah dan mengikuti alur yang dibuat oleh Yunho.

Tubuhnya kini sudah terduduk manis di atas paha Yunho, dia bergerak mendekat. Menempelkan tubuhnya pada tubuh Yunho dan dia bisa merasakan bagian inti Yunho mengeras dibalik celana piyama yang digunakannya.

Dengan sedikit gerakan menggoda Jaejoong memajukan tubuhnya dan membuat milik mereka bergesekkan, Jaejoong bisa mendengar geraman penuh nikmat dari bibir Yunho.

" Mhhmm..."

Yunho melepaskan ciumannya dan beralih menciumi leher Jaejoong, menghisapnya kencang, melepaskannya kemudian mencari tempat lain untuk dia tandai.

" Yunnhh..."

Kali ini tangan Jaejoong tidak tinggal diam karena dia tengah membuka kancing piyama Yunho satu persatu dan mengusap dada Yunho dengan kedua tangannya, menjelajahi tubuh bagian atas suaminya sepuas dirinya mau.

Yunho mendorong Jaejoong, membawa namja cantik itu berbaring dengan dirinya berada di atas Jaejoong. Mengukungnya sementara bibir Yunho sibuk menjelajahi dada dan perut Jaejoong. Jaejoong sendiri menjadi gemas dan mendorong celana piyama Yunho dengan kakinya.

Jangan ditanya darimana dia dapat keahliannya itu, dia dengan pandai bisa melepaskan celana Yunho hanya dengan kedua kakinya. Hmmm...

" Menurutmu... Apa aku bisa melakukannya?" Tanya Yunho dengan suara rendah dan Jaejoong segera menganggukkan kepalanya dengan semangat " Benarkah?"

" Y-ya..."

Sebenarnya Jaejoong juga tidak tahu apa Yunho bisa melakukannya atau tidak tapi karena nafsuny sudah diubun – ubun dia menjawab 'ya' saja. Yunho memberikan senyumnya dan jari telunjuk juga jari tengahnya merambat ke bawah, menggoda hole Jaejoong hingga namja cantik itu menggelinjang.

Yunho kembali menggesekkan jarinya, berputar di area itu dan mengusapnya pelan. Jaejoong mendesis, rasanya nikmat. Tapi ketika salah satu jari Yunho mencoba masuk ke dalam hole-nya Jaejoong terpekik karena rasanya aneh.

" Sakit?"

" Ti-tidak, hanya sedikit aneh karena sudah lama aku tidak..."

BLUSH

Jaejoong tidak bisa melanjutkan ucapannya karena wajahnya memerah terlebih dahulu, rasanya memalukan untuk mengucapkan hal itu.

" Shhh..."

Tubuh Jaejoong sedikit naik ke atas saat jemari panjang nan lentik Yunho masuk lebih dalam, matanya terpejam dan kedua tangannya meremas sprei yang ada di bawahnya.

" Nghh..."

Jaejoong merengek karena rasanya masih aneh saat jari kedua Yunho masuk dan bergerak seperti gunting di dalam hole-nya.

" Ah!"

Yunho menyentak kedua jarinya ke dalam hole Jaejoong kemudian menariknya dan mendorongnya dengank kuat ke dalam sana.

" Akhh!"

Rasanya perih padahal ini baru dua jari Yunho, namja itu harus mencari titik dimana Jaejoong tidak merasakan rasa sakit. Karena sudah beberapa kali dia menggerakkan jarinya, Jaejoong masih saja merasa sakit.

" Sakit sekali?"

Jaejoong menggelengkan kepala sebagai jawabannya, dia tidak mau membuat Yunho khawatir dan menghentikan apa yang dilakukannya sekarang. Yang terpenting dirinya masih sanggup menahan rasa sakit dan panas di bawah sana.

" Nghhh~~"

Yunho menaikkan salah satu alisnya saat jarinya menyentuh sesuatu di dalam hole Jaejoong dan namja cantiknya tidak merasa sakit malah mendesah nikmat.

" Ughh... Ahhh~~~"

Oke, Yunho menemukannya. Untuk memastikan bahwa jarinya sudah menyentuh tempat yang tepat dia kembali bergerak dan menyentuh titik itu. Jaejoong mendesah, rasanya terlalu nikmat dan dia bisa klimaks kembali jika saja Yunho tidak menghentikan gerakannya dan hal itu membuat Jaejoong membuka matanya dan menatap Yunho bingung.

Tapi kebingungan Jaejoong langsung terjawab saat Yunho kembali mengukungnya dan mengarahkan junior besarnya pada hole sempit Jaejoong.

" Yunh? Ahhh~~"

Namja cantik itu kembali mendesah saat Yunho menggesekkan miliknya pada hole Jaejoong berulang kali. Yunho menggeram merasaka hasil dari gesekkan yang dibuatnya. Dia merasa tidak tahan dan mulai menekan miliknya untuk masuk ke dalam hole Jaejoong.

" Akhh!"

Baru setengah jalan tapi Jaejoong sudah berteriak kesakitan karenanya, Yunho menghentikan gerakannya dan dia mencium bibir Jaejoong dengan pelan. Membuat namjanya itu melupakan sakitnya dan fokus pada sentuhan yang diberikan oleh Yunho.

Ketika dirasa Jaejoong mulai menikmati sentuhannya, Yunho kembali menggerakkan tubuhnya. Memasukkan miliknya lebih dalam dan membuat Jaejoong mengerang dalam ciuman karena dia merasakan sakit.

" Nghh!"

Jaejoong menjambak kencang rambut Yunho dan membuat ciuman mereka terputus, airmatanya turun. Dia tidak bisa menahan sakit ini, erangannya semakin kencang saat dia marasakan panas di dalam tubuhnya. Milik Yunho masuk seutuhnya dan membuat Jaejoong kesakitan setengah mati.

" Hey.. Mau dihentikan? Kau kesakitan"

" An-ani... Tentu saja sakit karena sudah lama kita tidak melakukannya" Jawab Jaejoong dengan nada lemasnya

" Lalu?"

" Sebentar, biarkan aku membiasakannya dulu"

Yunho menganggukkan kepalanya, dia menaruh kepalanya diperpotongan leher Jaejoong dan mengecup leher itu berulang kali, sesekali meninggalkan tanda di tempat yang dimana Yunho merasa belum menyentuhnya.

" Shh... Yunnhh... Ahhh..."

Jaejoong mendesah geli karena Yunho mengecup telinganya dan memainkan lidahnya dekat telinganya, apa Yunho masih ingat disana titik sensitifnya?

" Masih sama ternyata titik sensitifmu"

Pertanyaan dalam hati Jaejoong langsung terjawab, Yunho ternyata masih ingat dimana titik sensitifnya berada. Dia mendesis dan mengusap punggung Yunho dengan gerakan abstrak saat Yunho menurunkan ciumannya menuju leher.

" Yuunn~"

Jaejoong merengek namun terdengar seperti menggodanya, Yunho yang gemas menggigit leher kencang.

" Angghhh..."

Dan Jaejoong seakan memberika lampu hijau untuk Yunho bergerak sehingga Yunho mulai menggerakkan tubuhnya perlahan, maju dan mundur.

" Shh.. Shhh..."

" Nghh..."

Keduanya berlomba untuk mencari kenikmatannya, Jaejoong pun ikut bergerak berlawanan dengan Yunho dan membuat namja itu makin menggeram nikmat karena gesekan yang diterima hingga Jaejoong mendesah kencang karena dia mengeluarkan klimaksnya.

Yunho tidak menghentikan gerakannya, dia terus bergerak dan membuat Jaejoong duduk di atas pangkuannya. Membuat namja cantik itu bergerak sedangkan dia menghisap nipple Jaejoong seperti bayi yang kehausan. Jaejoong menikmati semua ini, rasanya tubuhnya mendapatkan apa yang selama ini dia rindukan.

" Ahh.. Ahh... Yuuniieehh..."

Jaejoong menggenggam erat kepala Yunho dan menekan kepala Yunho agar tetap pada dadanya sedangkan dia menjambak rambut Yunho sekencang mungkin. Tangan Yunho beranjak dari pinggang Jaejoong menuju junior namja cantik itu dan memajumundurkan tangannya.

Diserang pada tiga titik itu membuat Jaejoong merasakan bahwa klimaksnya akan datang kembali namun saat matanya memburam dan dia akan mencapai klimaksnya Yunho menutup ujung juniornya namun tubuhnya tetap bergerak.

" Yuunnh!"

" Sebentar..." Ucap Yunho dengan suara rendahnya

Dan Jaejoong tahu maksud dari Yunho yang ingin mengeluarkan spermanya bersama dengan dirinya. Jaejoong mencoba menahannya namun dia tidak kuat menahan semua kenikmatan yang Yunho berikan hingga akhirnya Yunho menghentak kencang pinggulnya dan melepas ujung junior Jaejoong.

Geraman nikmat bisa Jaejoong dengar dilehernya, Yunho menggeram disana dan suaranya terdengar begitu seksi ditelinga Jaejoong. Jaejoong sendiri langsung merasa lemas dan bersandar pada tubuh Yunho, membiarkan spermanya mengenai tubuh mereka berdua tapi biarkan saja, Jaejoong lelah.

.

.

.

.

.

.

Setelahnya Jaejoong tidur dengan Yunho yang memeluk dari belakang, mereka terdiam cukup lama karena menikmati waktu cuddling mereka sampai Yunho mengecup punggung telanjang Jaejoong.

" Terima kasih" Lirihnya

" Hum" Jaejoong menganggukkan kepalanya

" Aku rasa Changmin akan segera mendapatkan adik kalau begini caranya"

" Mau bagaimana lagi, kau mengeluarkannya di dalam... Tapi... Tidak mungkin langsung jadi kan? Kau baru satu kali mengeluarkannya di dalam tubuhku"

" Memang harus berapa kali sampai bisa jadi adik untuk Changmin?"

Blush!

Jaejoong baru saja tersadar dengan pembicaraan barusan, dia tidak terlihat seperti namja murahan, kan? Yang selalu haus belaian? Tapi... Yunho kan suaminya jadi tidak apa – apa kan? Iya kan? Iya?

" Yu-yun..."

" Semoga saja belum jadi..."

" Kenapa?"

" Aku masih mau memanjakan Changmin dan dirimu" Ucap Yunho kemudian memeluk Jaejoong dengan erat sampai Jaejoong bisa merasakan detak jantung Yunho yang terdengar cepat

" Yun... Jantungmu tidak apa – apa? Kenapa berdetak dengan cepat? Traumamu kambuh?"

" Aniya... Itu karena kau ada di dekatku. Bukan trauma kok"

" Lalu? Penyakit baru?" Jaejoong mengerutkan keningnya

" Iya, mungkin"

" Omo! Ayo kita periksa ke dokter besok"

" Tidak usah, sudah ada obatnya kok"

" Huh?"

" Kau"

" Apa?"

" Aku berdebar hanya di dekatmu karena kau yang aku cintai dan obatnya adalah kau yang harus selalu ada di dekatku"

Blush!

" Yak! Jung Yunho! Jangan bercanda"

" Siapa yang bercanda?"

CUP

Yunho mengecup kembali punggung Jaejoong dan bergumam indah disana.

" Saranghae... Aku mencintaimu"

" Hu-hum.. Nado"

.

.

.

- DUA HARI KEMUDIAN -

.

.

.

" Eoommmaaaaaaaaaa~~~~~~~~"

Pekikan riang itu datang dari bocah kecil yang berlari menuruni tangga saat melihat eommanya masuk ke dalam rumah.

" Aigoo Minnie jangan berlari sayang... Nanti jatuh"

HUP

Changmin sudah ada di dealam gendongan Jaejoong, Changmin hanya tertawa dan menaruh kepalanya pada leher sang eomma.

" Min kangen eomma~~"

" Eomma juga" Jaejoong memeluk anaknya dengan erat

" Hanya eomma?"

" Ugh? Kangen appa juga tapi nanti ya appa... Min mau peluk eomma dulu. Kangen"

" Iya, poppo"

Changmin mereganggang pelukannya dan mengecup pipi sang appa kemudian kembali memeluk eommanya.

" Sudah tidur siang?"

" Belum, Min gak bica tidul. Kangen eomma"

" Arasseo, hari ini eomma temani Minnie tidur siang bersama appa juga"

" Jinjja?" Changmin menatap Jaejoong dengan mata penuh binar

" Ne, kajja"

Jaejoong berjalan meninggalkan Yunho yang masih tersenyum menatap punggung Jaejoong. Tidak lama kedua orangtuanya dan Junsu mendekat ke arahnya.

" Sana susul mereka, kopernya biar disini saja" Ucap Mes. Jung

" Ne..."

Yunho memeluk appanya kemudian memeluk eommanya berbisik bahwa dia sangat menyayangi keduanya dan berterima kasih pada mereka. Yunho juga berterima kasih pada Junsu sebelum menyusul Jaejoong ke kamar mereka.

" Hahahaha..."

" Eoommaa~~ Hahahahahaha~~~"

Baru saja membuka pintu Yunho sudah disambut dengan suara tawa Jaejoong yang tengah menggelitiki Changmin di atas tempat tidur. Dia berdiri disana, memperhatikan bagaimana ibu dan anak itu bercanda. Rasanya menyenangkan dan terasa hangat.

" Appa? Kenapa? Cini bobo cama Min"

Yunho tersenyum lebar dan melangkahkah kakinya ke tempat tidur mereka, menempatkan Changmin diantara dirinya dan Jaejoong, mengecup pipi Changmin sebelum memejamkan matanya dan dia teringat apa yang dikatakan oleh jaejoong sebelum sampai di rumah.

" Jika kau merasa sendirian, kau salah Yun... Kami ada untukmu... Kami adalah tempat untukmu kembali, jadi jangan untuk memintaku memelukmu saat kau rapuh. Aku dan Changmin sangat menyayangimu ah ani... Aku mencintaimu..."

.

.

.

.

.

- DELAPAN BULAN KEMUDIAN -

.

.

.

.

" Huh..."

" Kenapa Min?"

" Min tuch cebel sama appa sama eomma Min, Kyuuuu~~"

" Waeyo?"

" Natal cudah lewat, tahun balu juga, tapi Min gak dikasih adik sama meleka!"

Changmin menggembungkan pipinya, menaruh krayon merah di atas meja dengan asal dan menyedekapkan tangannya di dada, satu kata dari Cho! Menggemaskan. Titik. Dia seme, kan?

" Ya sudah, Min maen saja sama Kyu"

" Tapi Min mau adik" Mata Changmin berkaca – kaca

" Ya sudah, paksa saja eomma Min nanti untuk beli adik"

" Memang ada yang jual?"

" Mana Kyu tahu! Huh! Tuh lihat! Gambar Min berantakan!" Ucap Kyuhyun dengan kesal menunjuk pada krayon Changmin yang warnanya keluar dari garis

" Kyu tuh walnainnya gak benel!"

" Gala – gala Min tuh jadi kelual galis kan!"

" Min gak salah! Kyu tuh nyebelin!"

" Kyu gak nyebelin!"

" Kyu nyebelin, nakal!"

" Min yang nakal! Kyu gak mau satu kelompok lagi sama Min" Kyuhyun berdiri dari bangkunya dan menatap tajam Changmin kemudian beranjak dari meja

Changmin yang melihat hal itu perasaannya seakan tercubit, dia tidak suka Kyuhyun berkata seperti itu. Dia tidak mau Kyuhyun pergi.

" K-kyu~ Hiks... Huuwwwaaaaaaaaa!"

" Astaga Changmin, kenapa?" Sang guru datang ke tempat Changmin dan mencoba menenangkan Changmin

" Kyuu nakal huuwwaa!"

" Kyu?" Sang guru menatap punggung Kyu yang sedikit bergetar

Kyuhyun perlahan membalikkan tubuhnya, menatap gurunya dengan mata berkaca – kaca, oh tidak...

" Hiks... Kyu gak nakal hiks... Min yang nakal Huuwwweeeeeee!"

" Omo!"

Seorang guru lagi datang kali ini untuk menenangkan Kyuhyun, Kang ssaem menenangkan Changmin dan Lee ssaem menggendong Kyuhyun yang menangis sesenggukan. Dan teman – teman sekelas mereka yang lain hanya menatap bingung ke arah dua orang namja kecil yang tidak pernah bertengkar itu.

Akibat kejadian itu, Changmin dan Kyuhyun akhirnya di bawa keruang kesehatan karena tidak mau asma Changmin kambuh sedangkan Kyuhyun ingin beristirahat di sana. Gurunya pun melepon kedua orangtua Changmin dan Kyuhyun agar datang ke sekolah.

Jaejoong yang sedang bersama Junsu di butik langsung saja berangkat menuju sekolah taman kanak – kanak dimana Changmin berada, meninggalkan Junsu di butik untuk mengurus pekerjaannya. Jaejoong juga menelepon Yunho agar segera bertemu dengannya di sekolah Changmin dan Yunho menyetujuinya.

Sampai di sana Jaejoong dan Yunho disambut ramah oleh kedua orangtua Kyuhyun, Jaejoong yang merasa tidak enak meminta maaf pada eomma Kyuhyun.

" Namanya juga anak – anak, tapi aku sendiri belum tahu alasan mereka bertengkar karena mereka tertidur karena lelah menangis"

Jaejoong menghelal nafasnya lega, dia masuk ke dalam ruang UKS dan melihat anaknya tengah tidur dengan damai memeluk Kyuhyun. Jaejoong menghampiri guru Changmin yang ada di ruangan itu.

" Seongsaengnim, apa yang terjadi?" Tanya Jaejoong

" Changmin hanya kesal dengan Kyuhyun"

" Kenapa?"

" Silahkan duduk dulu"

Jaejoong, Yunho dan Mrs. Cho pun duduk berhadapan dengan sang guru.

" Awalnya Changmin bercerita tentang anda" Ucap Kang ssaenim

" Ne?"

" Dia kesal karena anda belum juga memberikan adik untuknya"

BLUSH

Terang saja wajah Jaejoong memerah karena jawaban yang diberikan Kang ssaenim, sedangkan Mrs. Cho menahan tawanya. Mereka berdua sebenarnya cukup dekat karena anak – anak mereka sangat akrab dan membuat mereka berdua sering mengobrol dan bertukar informasi tentang menjadi ibu yang baik.

" Aigooo... Sepertinya memang kau sudah harus memberinya adik Joongie ah... Tapi Kyu pernah terlihat sebal saat Changmin bercerita dia ingin adik. Kyu mengira bahwa Changmin tidak akan bermain lagi dengannya jika sudah memiliki adik" Jelas Mrs. Cho

" Aigoo... Ma-maaf... Lalu?"

" Itu awalnya dan mungkin Kyu sedang tidak mood membahas adik Changmin jadi dia menunjuk ke arah gambar Changmin yang di warnai Changmin dan berkata bahwa warnanya keluar garis dan Changmin tidak terima, mereka mulai berteriak dan saat Kyu akan meninggalkan Changmin, Changmin menangis lalu Kyu juga ikut menangis, begitu..." Jelas Kang ssaem

" Hah..."

Tiga orang dewasa di depan Kang ssaenim itu menghela nafasnya, Changmin dan Kyuhyun itu tidak bisa berjauhan sekarang. Mereka menempel seperti amplop dan perangko. Dan ini adalah pertengkaran pertama mereka, membuat Jaejoong merasa tidak enak karena dia merasa ini juga salahnya karena tidak memberikan adik untuk Changmin. #ups...

" Bagaimana asma Changmin? Sempat kambuh?" Tanya Jaejoong

" Ya, tapi tidak parah karena anda sudah menyiapkan inhaler untuk Changmin di dalam tasnya bukan?"

" Ya"

" Tapi saat asma Changmin kambuh, Kyu menangis semakin kencang karena Changmin terlihat kesakitan"

Tuh kan...

Kyuhyun itu sebenarnya tidak bisa jauh dari Changmin dan akan merasa sedih jika Changmin sakit.

" Baiklah, saya tinggal dulu? Masih ada yang harus saya kerjakan" Kang ssaem pun pamit

" Saya ucapkan terima kasih"

" Ah... Sudah tugas saya. Saya malah yang harus meminta maaf karena terjadi keributan seperti ini"

" Tidak ssaem, anak kami yang salah"

" Kalau begitu saya permisi dulu"

" Ya"

Setelah sang guru pergi, perhatian mereka bertiga beralih ke arah tempat tidur yang ditiduri oleh Changmin dan Kyuhyun. Keduanya terlihat pulas dan menggemaskan, tidak tega untuk membangunkan mereka walaupun jam pelajaran sudah selesai.

" Tunggu sampai bangun saja?" Tanya Mrs. Cho

" Ya, aku tidak mau mengganggu mereka. Yun?"

" Iya..."

" Kalian sih... Sudah tahu Changmin menginginkan adik hampir setahun ini tapi tidak diberikan" Goda Mrs. Cho

" Kami... Hanya ingin memberikan kasih sayang yang banyak dulu pada Changmin karena selama ini dia hanya mendapat kasih sayang dari Joongie" Ucap Yunho

" Hah... Iya sih... Tapi jika dia sudah meminta terus seperti itu tandanya dia sudah siap berbagi kasih sayang kedua orangtuanya dengan yang adiknya nanti" Jelas Mrs. Cho

" Noona sendiri kenapa belum memberikan Kyu adik"

" Kyu belum bisa menjadi seorang kakak karena dia memang tidak mau memiliki adik. Huh... padahal aku dan suami sudah berencana memiliki paling tidak tujuh anak"

" Mwo?" Yunho dan Jaejoong menatap eomma dari Kyuhyun dengan tatapan tidak percaya

" Iya... Hanya saja... Yah... Begitu... Dokter tidak menganjurkanku untuk memiliki anak lagi karena kandunganku lemah. Aku hampir saja kehilangan nyawa saat melahirkan Kyuhyun"

Yunho terdiam, kandungan Jaejoong dulu juga bisa dikatakan lemah tapi namja itu berusaha untuk menjaga Changmin terlebih darinya yang sering menyakiti Jaejoong. Dia tidak bisa membayangkan jika Jaejoong benar – benar kehilangan nyawa karena dia mendorongnya dari tangga?

" Yun~"

" Ah... Maaf aku melamun"

Jaejoong tahu Yunho sedikit sensitif jika sudah mendengarkan cerita seperti ini, nyawa seseorang bukan maianan lagi untuk Yunho. Itu adalah sesuatu yang berharga yang harus dijaga.

" Ughhhh~~~ Ngg? Kyu?"

Suara menggemaskan itu datang dari mulut Changmin dan membuat tiga orang dewasa itu menatap ke arah tempat tidur.

" Kok dicini?"

Karena Changmin memunggungi mereka, mereka tidak tahu ekspresi Changmin saat ini tapi pasti menggemaskan.

" Mi-min..."

Oh...

Ternyata Kyuhyun sudah bangun juga.

" Kyu... Maapin Min ya? Kyu jangan pelgi lagi, Kyu halus satu kelompok sama Min telus"

" Maapin Kyu juga ya. Asmanya jangan kambuh lagi, Kyu takut"

" Hum" Changmin mengangguk dengan semangat

" Nanti Kyu bantu ngomong sama Jaejoongie ahjumma buat kasih Min adik deh"

" Jinjja?"

" Ne"

" Whoooaaa~~~ Makasih Kyu, Min cayaaaanggg Kyuuuuu~"

Changmin memeluk Kyuhyun dengan erat, mereka belum sadar ada tiga orang yang menatap mereka dengan tatapan gemas.

" Sudah berbaikannya?"

Suara interupsi itu membuat kedua bocah kecil di atas tempat tidur itu tersentak dan langsung duduk. Mereka menatap tiga orang dewasa disana kemudian berteriak senang.

" Eoommma! Appaaa!"

" Eoommmaa!"

" Aigoo..."

Jaejoong menghampiri Changmin dan menggendongnya begitu juga Mrs. Cho yang menghampiri Kyuhyun kemudian memeluknya dengan erat.

" Asma Min kambuh" Lirih Changmin, kepalanya bersandar pada pundak Jaejoong, manjanya keluar lagi

" Minnie anak kuat kan? Pasti bisa menahannya?"

" Ne eomma!"

" Ah! Ahjummaa!" Pekik Kyuhyun

" Ne Kyunie?"

" Tolong berikan Min adik biar kami bisa main bertiga"

" Minnie benar – benar ingin adik ya?"

" Iyaa!" Pekik Changmin

" Kenapa?" Tanya Yunho yang sudah berada di dekat mereka

" Min mau maen beltiga sama Kyu"

" Main apa sih? Biasanya juga main berdua bisa"

" Gak! Yang ini halus main beltiga"

" Main apa?" Jaejoong mengerutkan keningnya

" Rumah – rumahan... Min jadi appa, Kyu jadi eomma, adik Min jadi anak Min cama Kyu. Otte?" Changmin memberikan senyum super polos nan menggemaskan pada semua orang yang ada di ruangan itu

" Whooaaa~~~ Kyu mau! Kyu maaaauuuu!"

Jadi...

Itu alasan utama Changmin ingin memiliki adik?

Wah sekali yaa...

.

.

.

.

.

Yunho baru saja menyelesaikan mandinya dan memakai pakaiannya saat Jaejoong duduk bersandar di kepala tempat tidur sembari membaca buku. Di atas meja nakas ada segelas air putih dan segelas susu, Yunho mengeryitkan keningnya, tidak biasanya Jaejoong membawa susu ke dalam kamar?

" Tumben minum susu di sini?" Tanya Yunho, dia duduk dipinggir tempat tidur dan mengeringkan rambutnya

Jaejoong tersenyum tipis kemudian mengambil handuk kecil yang dipegang oleh Yunho dan menggantikannya untuk mengeringkan rambut Yunho.

" Mulai malam ini harus minum susu sepertinya" Ucap Jaejoong

" Wae?"

" Biar aku sehat"

" Ha?"

" Dan baby sehat juga"

" Ne? Minnie?"

" Baby~"

" Hah?"

" Adik Minnie"

Yunho mengedipkan matanya berkali – kali guna mencerna ucapan Jaejoong. Susu untuk Baby... Baby... Bukan Minnie... Adik Minnie...

" Ne?!"

Yunho langsung berdiri dan menatap Jaejoong dengan pandangan tidak percaya, Jaejoong hanya terkekeh melihat respon yang Yunho berikan.

" Baby? Adik Minnie?!" Pekik Yunho

" Iya Yunie, waeyo? Tidak senang?"

" Ya ampunn! Bagaimana bisa aku tidak senang!"

Segeralah Yunho menghampiri Jaejoong dan mengangkat tubuh namja cantiknya itu dan memutar tubuh mereka berdua.

" Yunniieee~~~ Hahahaha... Hentikan! Aku pusing!"

Yunho segera menghentikan gerakannya, dia merapikan rambut Jaejoong yang sedikit berantakan karena ulahnya tadi, merapikan piyama Jaejoong kemudian memeluknya dengan erat. Menyampaikan rasa terima kasih berulang kali dan mengecup pundak Jaejoong.

" Aku senang" Ucap Yunho

" Aku juga"

" Terima kasih, aku mencintaimu"

" Aku juga mencintaimu Yunie ah"

Yunho merenggangkan pelukannya, sekarang dia tidak gemetar menatap Jaejoong. Terapi yang diterimanya dari Jihyun dan Jaejoong sungguh ampuh untuknya, dia malah bisa berlama – lama menatap mata bulat indah Jaejoong yang menggemaskan.

CUP

Yunho memulai ciuman itu, ciuman penuh cinta tanpa nafsu walaupun akhirnya Jaejoong harus pasrah karena Yunho tidak melepaskan ciumannya cukup lama.

CEKLEK

" Omo!"

Jaejoong mendorong kencang dada Yunho saat mendengar pintu kamarnya dibuka, astaga! Dia lupa mengunci pintu tadi.

" Eomma! Appaaa!"

" Eoh Minnie? Waeyo?"

Yunho menghampiri Changmin dan menggendongnya, sementara Junsu mengikutinya dari belakang. Junsu memang masih mengurus Changmin sampai bocah kecil itu tidur di kamarnya, setelahnya dia pergi ke kamarnya untuk beristirahat.

" Min dengel eomma teliak tadi! Kenapa? Ada monstel?" Tanya Changmin

" Aniya..." Jaejoong mendekati mereka

" Lalu?"

" Ada adik Minnie"

" MWO?! Dimana?!" Changmin menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri berharap bisa menemukan adiknya

" Di sini sayang..." Ucap Jaejoong sembari mengusap perutnya dengan lembut

Junsu melebarkan matanya, dia sama sekali tidak tahu bahwa Jaejoong tengah hamil. Kapan namja itu memeriksakan kehamilannya?

" Tidak usah kaget begitu Suie ah... Aku memang merahasiakannya, ini sudah minggu ke empat" Jelas Jaejoong

" Lalu kapan adik Min kelual dari pelut eomma?"

" Hmm... Kalau Minnie sudah menjadi anak baik dan mandiri, adik Minnie akan keluar"

" Jinjja?"

" Ne"

" Yaaayyyyyyy! Appa ayo ke halmoni cama halaboji, Min mau celita Min punya adek!"

" Aigoo~~ Besok saja ya, halmoni dan haraboji pasti sudah tidur"

" Ughh..." Changmin mempoutkan bibirnya namun menganggukkan kepalanya

" Hyung... Selamat ya" Ucap Junsu dengan tulus

" Iya..."

" Ng..." Junsu menggigit bibir bawahnya

" Ada apa?"

" Be-besok... Ada yang ingin aku bicarakan pada kalian"

" Hah?"

" Se-selamat malam hyung"

GREP

Junsu memeluk Jaejoong sekilas kemudian berjalan cepat meninggalkan Jaejoong yang menatap Junsu dengan bingung. Junsu kenapa gugup seperti itu? Kenapa dia seakan tengah menahan sesuatu? Dia sakit perut? Pikir Jaejoong

Setelah acara menggembirakan itu, akhirnya Changmin tidur diantara eomma dan appanya. Dia rindu tidur dengan kedua orangtuanya. Sejak pulang dari Jeju delapan bulan yang lalu, Yunho membuatkan kamar untuk Changmin dan meminta Changmin untuk tidur sendiri di sana.

Awalnya sesekali saat bangun tidur Changmin akan mencari eomma dan appanya tapi lama kelamaan dia pergi ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya baru mencari sang eomma.

" Kalian mirip sekali sih saat tidur" Gumam Jaejoong yang belum tjuga tidur, saat ini dia memandangi wajah dua orang yang berharga dalam hidupnya

" Tidur Joongie ah"

Ups...

Sepertinya dia salah mengira, Yunho belum tidur ternyata. Perlahan Yunho membuka matanya.

" Kenapa tidak tidur? Apa baby minta sesuatu?"

" A-aniya... Baby hanya ingin melihat wajah appa dan kakaknya saat tidur" Ucap Jaejoong dan hal itu membuat Yunho tersenyum

" Tidurlah, besok Yoochun ingin membicarakan sesuatu"

" Mwo? Junsu juga bilang begitu tadi"

" Ne?"

" Hmmm... Mereka berdua aneh"

" Ya sudah, tunggu saja mereka mau apa besok. Sekarang tidur, kau dan baby haus istirahat"

" Oke"

Jaejoong dan Yunho memejamkan matanya, saat Yunho hampir terlelap dia merasakan seseorang menggoyangkan lengannya.

" Yuunn~"

" Hum?" Yunho kembali membuka matanya dan menatap Jaejoong dengan sayu

" Kok... Aku..." Jaejoong menggigit bibir bawahnya

" Ne?"

" Ingin seblak level pedas mampus ya?"

Yunho membulatkan matanya, rasa kantuknya hilang sudah digantikan rasa bingungnya. Dia menatap Jaejoong yang kini duduk bersila di atas tempat tidur.

" Apa?" Yunho mengerutkan keningnya

" Tidak tahu, aku lihat di internet dan terlihat enak, aku ingin"

" Seblak? Apa itu?"

" Makanya kau cari agar aku tahu apa dan bagaimana rasanya"

" Di-dimana?"

" Indonesia. Kau harus kesana!"

" MWO?"

" Shhh! Jangan teriak nanti Minnie bangun!"

" Jadi?"

" Sana pergi ke Indonesia dan kau harus pulang pagi ini karena Junsu ingin bicara pada kita kan?"

Yunho menelan ludahnya dengan susah payah, dia melirik jam dinding di dalam kamarnya. Pukul sebelas malam.

" Yuunnn~~ Palliiiii~~"

Dengan perasaan bercampur aduk Yunho duduk dan mengambil ponselnya, mengecek penerbangan yang tersedia agar dia bisa kembali ke Korea paling tidak di hari yang sama.

" Hah..."

" Ada kan?"

" Iya, tapi kemungkinan aku kembali kemari sore atau malam karena tidak ada penerbangan pagi"

" Ne?" Jaejoong menatap Yunho dengan mata berkaca – kaca

" A-arasseo... jangan menangis, aku akan berusaha. Aku akan berangkat sekarang"

" Jinjja?"

" Ne"

Yunho segera memesan tiket pesawat malam itu juga, kebetulan ada pesawat yang akan berangkat tiga jam lagi. Setelahnya dia bergegas berganti pakaian dan mengecup kening Jaejoong sebelum pergi keluar dari kamarnya membawa tas yang berisi barang seadanya.

" Cepat pulang ya"

" Iya"

Jaejoong mengusap perutnya, tidak peduli bagaimana cara Yunho mendapatkan apa yang dia mau pokoknya Yunho hanrus mencarinya sampai dapat! Jaejoong melirik ke samping, melihat Changmin tidur dengan menggemaskan membuatnya mencubit pipi Changmin kemudian berbaring di samping anaknya dan akhirnya ikut tidur bersama Changmin tanpa memikirkan nasib Yunho seperti apa. Poor appa~~

.

.

.

.

.

.

Saat pagi menjelang Changmin bangun terlebih dahulu dan tersenyum senang melihat eommanya tidur di sampingnya, dia memeluk sang eomma dengan erat hingga Jaejoong merasa terusik dan dia terbangun.

" Nghh.. Minnie... Sudah bangun?" Tanya Jaejoong dengan suara serak

" Ne, appa mana?"

" Ung?"

Jaejoong membuka matanya, melirik ke samping Changmin dimana tidak menemukan siapapun di sana. Ah~ Dia ingat menyuruh Yunho untuk pergi ke Indonesia semalam, tapi kenapa Yunho belum sampai ke Korea lagi?

" Sebentar baby"

Jaejoong mengambil ponselnya dan menelepon Yunho, setelah beberapa kali gagal akhirnya sambungan telepon itu tersambung.

" Yunie? Cepat pulang" Ucap Jaejoong dengan manja

" Ne?"

" Pulang sekarang! Minnie dan aku ingin kau disini"

" Hah? Se-sebentar..."

" Kau dimana? Kenapa lama sekali?"

" Aku di Indonesia seperti yang kau minta Joongie ah..."

" Tapi aku ingin kau pulang sekarang"

" Ne?"

" Sudah dapat yang aku inginkan, kan?"

" Sudah. Sedang menunggu penerbangan"

" Sekarang!"

" Joongie"

" Apppaaaaa~~~ Puyaanggggggg hiks... Huwwwaaa~~"

" Yunniiiee... Hiks..."

" Omo! Yak! Kalian berdua kenapa malah menangis?! Sebentar ya... Aku sedang menunggu pesawatnya"

" Sekarang Yunie, sekarang! Huweee"

" Eommaaa~~ Huwaaaaa"

" Astaga..."

CEKLEK

" Joongie ada apa?"

Mrs. Jung masuk ke dalam kamar Jaejoong karena mendengar suara tangisan Changmin dan Jaejoong, dia ke kamar Jaejoong bersama sang suami juga Junsu. Saat masuk ke dalam kamar, mereka menatap bingung pada Changmin yang ada di pangkuan Jaejoong dan mereka berdua menangis kencang dengan ponsel ada di telinga kanan Jaejoong. Mrs. Jung langsung menghampiri Jaejoong dan mengambil ponselnya.

" Kemana Yunho?"

" Itu~" Jaejoong menunjuk ponselnya dan Mrs. Jung melihat nama Yunho terpampang di sana

" Yun?"

" Eomma?"

" Kau dimana? Kenapa membuat Changmin dan Jaejoong menangis? Huh?" Tanya Mrs. Jung

" Bukan aku eomma... Tadi malam Jaejoongie membangunkanku dan memintaku pergi ke Indonesia untuk membeli makanan yang dia inginkan"

" Hah?"

" Dan mereka memintaku kembali sekarang tapi aku sedang menunggu pesawatku take off"

" Mwo?" Mrs. Jung memperhatikan tingkah aneh Jaejoong sekarang

" Aigo... Minnie baby sini sama ahjusshi, kasihan adikmu jika kau memeluk eommamu terlalu erat"

" Heee? Kau hamil Joongie ah?" Tanya Mrs. Jung dengan tatapan tidak percaya

" Jinjja?!" Kali ini Mr. Jung yang terpekik tidak percaya

" Iya eomonim, aboji.. Tapi aku ingin Yunie" Lirih jaejoong

" Arasseo, tunggu ya... Kau mandi saja dulu"

" Hum"

Mrs. Jung kemudian kembali fokus pada ponsel Jaejoong.

" Ya sudah, kau hati – hatilah di sana. Pastikan saja makanannya kau dapatkan" Ucap Mrs. Jung

" Ne eomma, kalau begitu aku tutup dulu"

" Iya"

PIK

Setelah sambungan teleponnya terputus Mrs. Jung membawa Jaejoong yang tengah manja itu ke dalam kamar mandi sedangkan Junsu memandikan Changmin dibantu oleh Mr. Jung. Setelahnya mereka sarapan dan berbincang ringan pada Jaejoong yang entah kenapa merindukan Yunho padahal dia sendiri yang meminta Yunho untuk pergi semalam.

" Ah~ Kau mengidam ya" Goda Mrs. Jung

" N-ne eomonim" Ucap Jaejoong malu – malu

" Ya sudah, tunggu ya... Mungkin siang ini dia sampai"

" Aigooo~~ Minnie, makannya banyak sekali hmm?" Ucap Mr. Jung melihat Changmin yang sudah memasuki ronde ketiga

" Hehehehe... Enak Halaboji..."

" Ya sudah, habiskan ya"

" Ne"

Tepat pukul dua siang Yunho sampai ke rumahnya dengan wajah kucel, kumel plus dekil namun terlihat tampan buat Cho #Eaaa~

Jaejoong memeluk sekilas Yunho lalu mengambil bungkusan yang dibawa oleh Yunho kemudian berlari ke dapur. Yunho memberitahu bagaimana cara menghangatkan makanan yang dibelinya dan jaejoong dengan semangat menghangatkan makanan itu sementara Yunho pergi ke kamar untuk membersihkan dirinya.

Junsu dan Yoochun terlihat tengah bercanda dengan Changmin sembari menunggu keluarga Jung bersiap. Untungnya hari ini hari sabtu dan mereka bisa berkumpul semua di rumah.

Jaejoong kembali ke ruang tamu membawa satu panci kecil makanan yang diidamkannya, dia membawa beberapa mangkuk kecil untuk orang rumah yang ingin mencobanya lama Yunho datang dan duduk disamping Jaejoong dengan Changmin ada di pangkuannya.

" Hmm~~" Jaejoong mengambil mangkuk kecil dan mengambil seblak dari panci di depannya, dia kemudian mencoba makanan itu " Enaaakkk~~ Terima kasih Yun..."

" Ya... Sama – sama" Ucap Yunho nelangsa mengingat bagaimana tersiksanya dia semalaman, untung saja dia punya klien di Indonesia yang bisa membantunya (Cho yang bantu hahahahay)

" Enak Eomma?"

" Enak, Min mau?"

" Boleh?"

" Aaaaa~~" Jaejoong menyendokkan makanannya pada Changmin dan dengan senang hati Changmin membuka lebar mulutnya sampai Yunho ingat sesuatu

" Yak! Joongie! Itu sangat ped-"

" Huwaaaaa! Pedaassss! Eommaaa nappueeennnn!"

" Omo!" Jaejoong langsung menaruh mangkuknya dan mencoba mengambil Changmin dari pangkuan Yunho namun bocah kecil itu menolaknya

" Baby mianhae.. Eomma coba tidak pedas soalnya..." Ucap Jaejoong penuh sesal

Mrs. Jung dan Junsu yang mendengar ucapan Jaejoong mencoba menyendok makanan di depan mereka dan langsung menatap horor Jaejoong setelahnya.

" Astaga! Pedas sekali! Aigo... Minnie ah.. Ayo minum dengan halmoni" Ucap Mrs. Jung

" Hiks... Ne" Ucap Changmin dengan wajah merah dan bibirnya membengkak"

" Mianhae baby" Lirih Jaejoong kemudian menatap Yunho " Memang pedas ya?"

" Memang tidak ya?"

" Hyung, astaga~ Pedas begitu! Kasihan baby-mu"

" Tapi enak"

Jaejoong kembali memakan makanannya diiringi tatapan horor dari keluarga Jung, Junsu dan Yoochun. Setelah Mrs. Jung kembali bersama Changmin, bocah kecil itu sempat merajuk pada Jaejoong tapi tidak lama dia tidak marah lagi pada eommanya.

" Jadi apa yang ingin kalian bicarakan pada kami?" Tanya Yunho pada Junsu dan Yoochun sementara Jaejoong masih sibuk makan dan Changmin sibuk mengemuti permen rasa strawberry yang diberikan appanya

" Begini... Aku... Akan menikahi kekasihku bulan depan" Ucap Yoochun

" Whoaaa? Berita bagus!" Pekik Jaejoong

" Selamat kalau begitu, tapi kami bahkan tidak sadar kau memiliki kekasih karena kau terlihat sibuk dengan perusahaan dan keluarga Jung"

" Aku... Yah... Sempat berpacaran... Lagipula kekasihku tengah hamil"

" MWO?!"

" Sebenarnya rencana menikah sudah di susun delapan bulan yang lalu tapi kekasihku belum siap dan sekarang waktunya sudah tepat"

" Aigooo~~ Maaf ya kami tidak memperhatikanmu dengan baik Yoochun ah" Ucap Mrs. Jung

" Tidak apa – apa nyonya"

" Ini berita yang sangat menggembirakan, lalu Junsu? Apa yang ingin kau bicarakan?"

" Cuie juchi punya baby!"

Pekikan senang itu berasal dari Changmin yang kini bertepuk tangan dengan riang sembari menatap Junsu yang menatap Changmin dengan teduh dan sebuah senyuman tulus.

" Aigoo... Minnie ah..." Jaejoong menggelengkan kepalanya " Apa yang ingin kau bicarakan Su?" Lanjut Jaejoong pada Junsu

" Hyung... Aku akan menikah juga"

" NE?!"

" Aku hamil"

DEGH

Satu

Dua

Tiga...

" MWO?!"

" HAH?!"

" Kau apa Suie ah?"

" Hamil hyung, sudah bulan ke dua" Jawab Junsu

" Ji-jinjja?"

" Hum dan aku akan menikah bulan depan"

" Bulan depan? Sama dengan Yoochun?"

" Ne"

Yunho memicingkan matanya, menatap kedua namja yang ada di depannya dengan pandangan curiga.

" Kalian berdua yang akan menikah, bukan?" Tanya Yunho, Jaejoong langsung menatap Yunho tidak mengerti sementara Yoochun tersenyum

" Iya, kami berdua sudah berpcaran lebih dari tiga tahun dan kami sudah merencanakan pernikahan hanya saja menunggu saat yang tepat"

" Su-suie... Dan... Chunnie? Ka-kalian berdua berpacaran?"

" Ya hyung, maaf jika kami menyembunyikannya karena saat itu kami ingin fokus pada kalian sehingga kami memutuskan untuk menyembunyikan semua ini. Maaf ya hyung"

" Ya ampuuunnn~~ Entah aku harus senang atau sedih kau menikah dengan jidat ini"

" Aigooo~~ Suie ah... ahjumma senang mendengarnya! Sebentar lagi rumah ini akan ramai, ada dua lagi bayi"

" Tapi ahjumma... Anakku kembar"

" Jinjja?"

" Iya"

" Whooaa~~ Selamat Suie ah~~"

Jaejoong maju dan memeluk Junsu dengan erat, tidak menyangka juga jika Junsu menjalin hubungan dengan Yoochun tapi yang penting mereka berdua bahagia seperti dirinya bukan?

" Min mau peluk juggaaa~~~"

Changmin turun dari pangkuan Yunho dan menghambur ke arah Jaejoong dan Junsu yang sedang berpelukan. Sedangkan yang lain melihatnya dengan tersenyum begitu juga dengan Yunho, bahagia? Tentu...

Akhirnya dia bisa merasakan kebahagiaan tanpa batas yang diberikan oleh Jaejoong, Yunho senang namja itu memaafkannya dan menariknya kembali kemari, mengajarkan bagaimana arti sebuah 'rumah' untuknya dan Yunho tahu akan ada Jaejoong yang selalu menjadi tempatnya kembali.

" Keunde Yun~~"

" Ne?"

" Bisa kau pergi ke Italia untuk membelikanku es krim gellato?"

" Hah?"

Tapi penderitaanmu belum berakhir Jung!

.

.

.

~ END ~

.

.

.

.

Annyeong~~~

Yuhhuuuu~~~ Udah end! Ga berasa ya?

.

Special Thanks :

.

Cywelf (sip deh), Jejae (semanis Cho kan? Wkwkwk), Hasti Huang (udah tuh, ga greget lagi kan ya?), kyu0203 (nih udah banyak kan?), Seijuurou Eisha (sip deh), chwangkyuwoozi (jangan, nanti dipukul sendok sama Kyu), MyBooLoveBear (wkwkwk, iya masama), ruixi1 (iya dong hahhaha), uknowme2309 (udah naek kelas tuh, sampe end malah), Tultul (pasti lanjut kok walaupun up na lama), LittleOoh (sip deh), nishikado. Yukito (thanks), elite minority. 1111 (yeee... bebeb mimin mah cintanya sama cho bukan makanan, upss~), kurojie (iyaaaa~~),

buat yang udah follow, fav, reader dan para SiDer

.

Thanks a lot #bow

.

.

Gak nyangka ff ini akhirnya lunas setelah 3 tahun hahahahahahah #peace

Cho bener – bener bersyukur kalian nunggu ff ini dan maaf ya kalo kalian kecewa sama endingnya?

.

Dan hari ini gak cuma ff ini aja kok yang update, ada beberapa ff lagi karena emang selesai di siang ini dan butuh waktu buat editnya. So? Enjoy my ff, okay?

.

See u next ff?

Chuuu~~

.

.

.

.

.

.

.

Selasa, 13 Maret 2018

P. S : Today is my birthday