Home

Disclaimer : Mereka hanya milik Tuhan

Cast : DBSK Family, dll

Genre : Family, Romance, Drama, hurt/comfort. Yaoi

Typos bertebaran, membosankan, alur suka"

Rate : T

Maaf ya buat yang udah nunggu ff ini seabad, hahahaha #bow dan Chap ini alurnya lambaaaaaaaaatttttt bgt.

D.L.D.R yaaa... Ga tau singkatnya?

Don't Like, Don't Read. Ga tau artinya?

Ga Suka Ga Usah Baca, simple kan?

~ Special Epilog ~

"Yun! AKHHH! Appoohh!"

CEKLEK

"Eomma gwacha-OMO! EOMMAAAA!"

Namja kecil itu berlari kencang menuju sang eomma yang tadi berteriak kesakitan, namja kecil itu langsung panic mengetahui wajah sang eomma sangat pucat dan terus mengerang kesakitan.

"Baby… Minnie… Sayang… Di mana Suie ahjummamu? Huh… Akhh"

"Suie jumma di kamal belsama baby Jimin"

"Telepon appamu Min sayang… Eomma… Eomma akan melahirkan"

"N-ne?"

"Ambil ponsel eomma dan telepon appamu… Ngh…"

"N-ne!"

Changmin nama bocah kecil itu, dia segera mengambil ponsel sang eomma yang tergeletak di atas meja nakas kemudian mencoba menelepon appanya. Sekali gagal… Dua kali gagal… Sampai…

"Yeo-"

"Appa!" Changmin berteriak sangat kencang

"Ya Minnie? Kenapa berteriak sayang?" Tanya Yunho dengan nada bingungnya

"Eo-eomma… Hiks… Eomma…"

"Eh? Kenapa? Eomma Minnie kenapa?"

"Baby mau kelual! Appa! Cepat kemali, Min takut!"

"Astaga! Dimana Junsu?"

"Cedang di kamal, menyucui Jimin!"

"Bertahanlah sebentar, appa akan segera pulang! Oke?"

"N-ne"

PIK

"Eomma, appa mau pulang, hiks…"

"Minnie baby, sayangnya eomma… Jangan menangis sayang…" Ucap Jaejoong dengan terengah

"Keunde eomma… Hiks…"

"Eomma ngh.. Tidak apa – apa. Sekarang kau temui Suie ahjumma dan bilang eomma membutuhkannya"

"Keunde…" Changmin menatap Jaejoong dengan sayu, dia tidak mau meninggalkan eommanya dalam keadaan seperti ini

"Eomma baik – baik saja sayang" Jaejoong mencoba untuk tetap tenang walaupun perutnya terasa sangat menyakitkan "Cepat Minnie ah"

"Al-alaceo… Tu-tunggu ne eomma"

"Hum" Jaejoong yang sudah merasa lemah hanya bisa menganggukkan kepalanya

Changmin berlari sembari menangis kencang karena panik, dia berlari menuju kamar yang ditempati Junsu sementara ini sebelum pindah ke rumahnya yang belum selesai di renovasi.

"Hiks… Cuie jumma… Cuie jumma!"

CEKLEK

"Minnie? Astaga! Kenapa kau menangis seperti itu eoh?" Tanya Junsu dengan panik

"Eomma! Hiks.. Eommaa!"

"Jaejoong hyung kenapa?"

"Baby mau kelual! Hiks… Huweeeee"

"Astaga! Minnie tunggu di sini ya"

"Andwe!"

"Temani Jimin ya" Ucap Junsu dengan lembut kemudian membelai wajah Changmin yang basah karena keringat dan airmatanya

"Chim?"

"Iya, dia sendirian di kamar"

"Hiks… Ne!" Changmin menganggukkan kepalanya dengan cepat

Changmin langsung masuk ke dalam kamar Junsu sedangkan Junsu berlari menuju kamar Jaejoong, Junsu sudah melahirkan seorang bayi lucu berjenis kelamin namja dua bulan yang lalu. Namanya Jimin.

"Hyung!" Pekik Junsu setelah masuk ke dalam kamar tamu yang disulap sementara menjadi kamar Jaejoong

"Suie…"

"Bernafaslah dengan teratur… Ayo…"

Junsu mencoba untuk memapah Jaejoong, Junsu bertanggung jawab atas Jaejoong saat ini karena kedua orangtua Yunho tengah berada diluar kota sejak seminggu yang lalu karena salah satu cabang perusahaan mereka terkena masalah. Namun pagi ini mereka menelepon sedang dalam perjalanan ke Seoul.

"Huh… Huh… Hosh…"

"Ya, seperti itu hyung… Kau bisa…"

Junsu memberikan semangat untuk Jaejoong agar terus melangkah dengan pelan menuju depan rumah mereka. Jaejoong meringis, rasanya sangat sakit ketimbang dulu saat dia akan melahirkan Changmin.

"Ayo hyung, sedikit lagi kita akan sampai di mobil" Junsu mencoba menyemangati Jaejoong yang kini terus berjalan dengan hati – hati

HUP

Jaejoong berhasil masuk ke dalam mobil dan Junsu menyusul masuk ke dalam mobil, mungkin karena lupa atau panik Junsu langsung menjalankan mobil tanpa ingat dia meninggalkan Changmin di dalam kamar bersama Jimin, anaknya.

"Changmin ah! Joongie!"

Yunho masuk ke dalam rumah dalam keadaan tergesa, dia panic mendapati pintu rumahnya tidak terkunci. Yunho berlari menuju kamarnya namun tidak mendapati siapapun di sana hanya bentuk tempat tidurnya saja yang sudah berantakan.

Yunho terdiam sampai dia mendengar suara tangis, suara tangis anaknya dan suara tangis lainnya. Ada dua anak yang menangis.

"Changmin!"

Yunho meneriaki nama anaknya semabri berlari menuju sumber suara yang ternyata tidak jauh dari kamar tidur Jaejoong.

"Changmin?"

"Hiks… Baby Chim jangan nangic! Hiksss… Huweeeee~~"

"Changmin? Baby?"

"Ap-appa?"

Yunho mendekati anaknya yang terlihat sedang menangisi seorang bayi yang juga tengah menangis di atas tempat tidur, Jimin. Langkah yang diambil Yunho pertama kali adalah menggendong Jimin dan menimangnya agar berhenti menangis.

"Appa… Hiks…"

"Sayang… Kau baik – baik saja?"

Yunho duduk dipinggir tempat duduk dan menghapus airmata Changmin dengan tangannya yang bebas. Changmin berkeringat menandakan dia sudah menangis lama.

"Cuie jumma bawa eomma… Min dicini hiks… Cama Chim" Jelas Changmin dengan sesenggukkan

"Ayo susul eomma"

"Ne"

Yunho jalan lebih dahulu diikuti Changmin, dia membuka pintu penumpang bagian depan, meminta Changmin untuk masuk dan membuat Changmin memangku JImin. Dia tidak punya tempat duduk anak di dalam mobilnya, karena hanya mobil Jaejoong yang ada.

"Jaga Jimin jangan sampai jatuh, oke?" Pinta Yunho

"Ne appa"

Changmin menuruti apa kata sang appa, dia memeluk Jimin yang sudah tertidur kembali dengan erat. Changmin sedikit merasa pusing, perutnya mual dan keringat terus mengalir di kedua sisi keningnya. Pertanda yang tidak baik tapi Yunho tidak melihatnya karena fokus menyetir.

Setelah sampai Yunho langsung menggendong Jimin dan berlari masuk ke dalam rumah sakit diikuti Changmin yang ikut berlari dengan air mata kembali mengalir dari kedua mata bulat lucunya.

Mereka berdua sampai disebuah koridor dimana Junsu berdiri dengan menggigit ibu jarinya, dia mengkhawatirkan keadaan Jaejoong saat ini.

"Junsu!"

"Yunho hyung! Jimin!"

Junsu langsung mengambil alih Jimin dari gendongan Yunho dan mengecup kening anak tersebut dengan penuh sesal.

"Bagaimana Jaejoong?" Tanya Yunho

"Dia tidak sadarkan diri saat masuk ke dalam ruang operasi, keadaannya tidak baik. Aku sudah mengabarkan orangtua hyung, mereka sudah sampai Seoul dan akan sampai sebentar lagi"

"Syukurlah"

TAP

TAP

TAP

TAP

Suara langkah cepat itu membuat Yunho menoleh, eomma dan appanya sudah sampai. Yunho kembali menatap ruang yang ada di depannya dimana sang istri tengah berjuang melahirkan anak kedua mereka.

Mr. Jung menghampiri Yunho dan menanyakan keadaan Jaejoong sedangkan Mrs. Jung menghentikan langkahnya saat melihat cucu kesayangannya tengah duduk di kursi ruang tunggu tidak jauh dari mereka dengan kepala tertunduk dan pundaknya bergetar.

"Changmin?"

"Sayang?"

Mrs. Jung berjongkok demi melihat keadaan Changmin namun kemudian dia tersentak kaget saat melihat nafas Changmin tersengal dan airmatanya mengalir deras.

"Changmin?!" Pekik Mrs. Jung

"Monie.. M-min… Ce-cecak… Uh… Na-pac"

"Astaga!"

Mrs. Jung segera menggendong Changmin dan kegaduhan itu membuat Yunho kaget dan membalikkan tubuhnya. Dia membatu melihat nafas Changmin yang tersengal. Bagaimana dia bisa mengabaikan putera kesayangannya yang satu itu?

Bagaimana bisa dia tidak memperdulikan Changmin saat tadi dia tahu Changmin sudah menangis lama, berkeringat juga ikut berlari?

"Astaga Changmin!" Junsu terpekik kencang

"Mana inhaler Changmin?!" Bentak Mrs. Jung

"M-maaf, aku tidak membawa apa – apa saat membawa Jaejoong hyung kemari" Jawab Junsu takut

"Uhuk… Uhuk… Uhukk!"

"Ch-changmin!" Suara batuk kencang nan menyakitkan itu membuat Yunho hendak menghampiri sang eomma namun tatapan tajam sang eomma menghentikan langkahnya

"Kita bicarakan nanti, aku bawa cucuku dulu" Mrs. Jung membawa Changmin pergi dari sana diikuti Mr. Jung

"Apa yang sudah aku lakukan!"

Yunho meramas rambutnya dengan kencang kemudian terjatuh begitu saja di lantai rumah sakit. Dia merasa gagal menjaga anaknya.

"Hyung… Changmin…"

"Ini salahku Su, aku membuat kesalahan untuk kedua kalinya"

"Ngh…"

Saat Jaejoong membuka matanya dengan perlahan dia bisa melihat dinding cat berwarna putih di atasnya. Jaejoong ingat dia hilang kesadaran saat masuk ke dalam ruang operasi. Seketika dia ingat perutnya, tangan Jaejoong meraba perutnya yang kini tidak terlalu membuncit. Dalam hati bertanya – tanya dimana anak yang sudah dikandungnya itu.

"Yunho…"

Tidak ada jawaban…

"Su? Minnie?"

CEKLEK

Jaejoong menoleh dan mendapati Yunho masuk ke dalam ruang rawatnya diikuti kedua orangtuanya. Jaejoong tersenyum lirih.

"Appa… Eomma…" Panggil Jaejoong

"Kau sudah sadar Joongie ah?"

"Mana baby? Bagaimana keadaannya?"

"Masih diruang bayi"

Namja yang baru saja melahirkan itu kembali tersenyum, setidaknya dia tahu anaknya baik – baik saja. Kenapa dia merasa tidak baik – baik saja? Seperti ada yang kurang. Ah…

"Mana Changmin? Apa dia menemani baby di sana?"

DEGH

Yunho membatu, lidahnya kelu karena tidak mampu menjawab pertanyaan yang Jaejoong keluarkan. Kedua orangtua Yunho hanya menatap anaknya, mereka mau Yunho yang menjelaskan keadaan Changmin sekarang.

"Changmin mana? Aku ingin bertemu dengannya" Kening Jaejoong berkerut karena ketiga orang yang ada di dalam ruangan itu tidak menjawab pertanyaannya

"Jaejoong ah"

"Dimana Changmin?" Jaejoong bertanya dengan nada datar, ada yang tidak beres dan Jaejoong tahu ini bukan hal yang baik

"Dia tertidur"

Ada rasa syukur ketika akhirnya Yunho menjawab pertanyaannya, namun…

"Di kamar sebelah" Lanjut Yunho

"Apa maksudmu Jung Yunho?"

Jaejoong diam mendengarkan penjelasan Yunho dan Junsu, mereka meminta maaf dan Junsu bahkan menangis karena merasa tidak becus merawat Changmin tapi Jaejoong tetap diam, dia tidak mengeluarkan sama sekali sampai akhirnya Jaejoong membuka mulutnya.

"Pindahkan kamar rawat Changmin kemari, aku ingin anakku ada di ruangan yang sama denganku" Ucap Jaejoong dengan nada datar

"Ya" Jawab Yunho dengan suara lirih

"Sekarang"

Butuh waktu lima belas menit untuk mengatur agar tempat tidur Changmin bisa ada di dalam ruang rawat Jaejoong. Dan jantung Jaejoong seakan berhenti berdekat melihat suster mendorong tempat tidur dimana Changmin terbaring di atasnya dengan sebuah alat bantu pernafasan pada hidung dan mulutnya.

"Baby…" Lirih Jaejoong, dia menatap anaknya dengan sendu

"Joongie…"

"Kenapa kau lakukan ini pada Changmin?" Ucap jaejoong dengan lirih, airmatanya sudah mengalir dikedua sisi matanya

"Ak-aku maaf… Aku benar – benar gugup sampai lupa bahwa-"

"Changmin memliki penyakit asma yang bisa kambuh kapan saja" Lirih Jaejoong memotong ucapan Yunho

"Maafkan aku Joongie"

"Baby… Changminie…" Jaejoong menangis, dia paling tidak suka anaknya tersentuh alat – alat rumah sakit

"Maafkan aku Joongie.. Maaf… Aku benar – benar panik, hukum aku sesuka hatimu tapi maafkan aku. Aku sungguh menyesal" Lirih Yunho kemudian mengecupi puncak kepala Jaejoong

Jaejoong menutup matanya dan dia tetap menangis, melahirkan Changmin adalah sebuah keajaiban. Karena saat itu kandungannya sangat lemah dan dia tertekan dengan keadaannya yang ada. Belum lagi Changmin lahir prematur yang memiliki banyak resiko.

"Hiks… Hiks…"

"Joongie… Maaf…"

"Pergi, biarkan kami sendirian"

"Sayang…"

"Pergi…"

Kedua orangtua Yunho menarik Yunho dan Junsu keluar dari ruang rawat Jaejoong, untuk saat ini mereka memang lebih baik menuruti keinginan Jaejoong yang tidak mau diganggu siapapun. Setelah kamar rawatnya sepi jaejoong menatap Changmin penuh penyesalan. Jaejoong bisa merasakan bagaimana tadi paniknya Junsu dan dia menduga bahwa Yunho juga terlalu panik untuk memperhatikan anaknya. Tapi dia kecewa dengan sikap Yunho yang membiarkan anaknya sampai kambuh.

Tidak lama seorang suster masuk mendorong ranjang bayi, Jaejoong tersenyum lemah saat bayi tersebut digendong dan sang suster menaruhnya pada pelukan Jaejoong. Hal pertama yang Jaejoong rasakan adalah rasa bahagia melihat anak keduanya ini lahir dengan sehat dan gembul.

"Terima kasih sudah lahir di dunia ini untuk menemani kami ya" Lirih Jaejoong sebelum akhirnya meminta sang suster membaringkan kembali anak keduanya di tempat tidur yang akhirnya di taruh diantara dirinya dan Changmin.

Saat tengah malam menjelang bocah kecil bernama Changmin itu membuka matanya, dia merasakan pegal pada tangannya. Dia melirik tangan kanannya yang ternyata diinfus serta alat bantu nafas yang menutupi mulut dan hidungnya. Changmin akhirnya sadar jika dia tengah berada di rumah sakit.

Saat menolehkan kepalanya dia melihat tempat tidur kecil, matanya membulat saat ingat bahwa adiknya lahir hari ini. Dengan perlahan dia bangkit dan duduk bersila di atas tempat tidurnya. Matanya makin terbuka saat melihat sang eomma berada di tempat tidur samping tempat tidur kecil.

"Saengi…" Lirih Changmin

Changmin memperhatikan sosok kecil yang ada di antara dirinya dan sang eomma, pipinya tembam, berambut tebal. Changmin gemas ingin menyentuh adiknya namun dia sadar jika dia tidak bisa melakukannya.

"Hyung akan jaga saengi mulai cekalang" Ucap Changmin pelan

Changmin yang tahu adiknya namja senang saja, walaupun sebenarnya dia menginginkan adiknya seorang yeoja. Kyuhyun bilang kalau adik Changmin namja, nanti didandani saja supaya mirip yeoja tapi Changmin tidak mau, dia akan menerima adiknya apa adanya.

"Saengi imut… Min gemac, mau pegang ih~~"

"Nghh… Changmin?"

"Eomma? Maap, Min belicik ya?"

"Kau terbangun sayang?"

"Hum, eomma… Saengi lucu ya"

Mendengar suara penuh semangat Changmin membuat Jaejoong terkekeh dan mencoba untuk duduk bersandar pada tempat tidurnya.

"Min akan jaga saengi!" Ucap Changmin dengan semangat

"Hum, Minnie pasti bisa menjaga baby"

"Hehehhe, Min gemac ih mau pegang saengi"

"Mau pegang?"

"Boleh?" Mata Changmin berbinar menatap sang eomma

"Tentu, Minnie masih sesak nafas?"

"Hum… Gak sih"

"Sebentar ya baby"

Jaejoong menekan tombol di sampingnya, memanggil sang suster agar segera datang dan tidak berapa lama sang suster datang menghampiri Jaejoong. Namja cantik itu meminta sang suster memindahkan Changmin ke tempat tidurnya.

"Eomma, apa tidak apa – apa?" Tanya Changmin sedikit takut

"Tentu sayang"

Changmin duduk di atas tempat tidur sang eomma sementara sang suster memindahkan bayi Jaejoong pada Jaejoong.

"Whooaaaaaaaaa~"

"Sini, sentuh saengie"

Tangan kecil nan gempal Changmin mulai menyentuh pipi halus adiknya kemudian jari telunjuknya menusuk pipi sang adik perlahan. Sang bayi bergerak dan membuat Changmin takjub.

"Eomma… Saengi bergelak!" Ucap Changmin riang

"Ne, saengie nya Minnie bosan tidur"

"Kulitnya haluc"

"Iya, kulit Minnie juga halus"

"Whooaaa…."

Jaejoong hanya bisa tertawa melihat reaksi polos yang dikeluarkan oleh Changmin, bagaimana anak ini begitu polos menyentuh adiknya yang baru saja lahir. Suster yang ada di sana juga ikut gemas memperhatikan pasien eksekutifnya ini.

"Changmin akan menjaga saengie dengan baik, kan?" Tanya Jaejoong

"Hum! Min akan jadi hyung yang kuat bial bica jaga saengi" Changmin menganggukkan kepalanya

"Anak pintar… Minnie ah…"

"Ya?"

"Minnie marah pada appa?"

"Malah? Wae?" Changmin menatap sang eommanya dengan bingung

Jaejoong meminta sang suster membaringkan kembali anak keduanya itu, setelahnya dia menggenggam tangan kiri Changmin yang tidak diinfus dan mengusap punggung tangan anaknya dengan lembut.

"Minnie benar tidak marah pada appa?"

"Wae? Min kan cayang appa" Ucap Changmin dengan semangat

"Benar?"

"Iya, eh? Appa mana eomma? Kok gak ada?"

"Hum? Sedang istirahat… Minnie mengantuk? Ingin tidur dipeluk eomma?"

"Memang boleh?"

"Boleh asal tidak kencang – kencang"

"Mau! Yeeeyyyy"

"Suster tolong bantu kami dulu"

"Baik tuan"

Changmin tidur di samping eommanya yang mendekapnya dengan sayang, mengelus rambutnya dan membuatnya terlelap dengan cepat. Jaejoong tersenyum kemudian mengecup sang anak dengan sayang.

"Ada lagi yang anda butuhkan, tuan?"

"Sudah… Hmm… Panggilkan suamiku di depan. Dia ada di luar bukan?"

"Eh? Bagaimana Anda bisa tahu?"

"Aku tahu dia tidak akan meninggalkan kami dalam kondisi seperti ini. Tolong panggilkan dia"

"Baik, saya permisi"

"Ya"

Setelah sang suster keluar tidak lama seseorang membuka pintu dan Yunho masuk ke dalam ruang rawat Jaejoong dengan wajah berantakan. Dia segera menghampiri Jaejoong yang masih mendekap Changmin.

"Maafkan aku…" Lirih Yunho

"Berjanjilah kau tidak akan bertindak seperti hari ini lagi, Changmin adalah nyawaku" Ucap Jaejoong

"Iya, maafkan aku. Aku berjanji akan menjaganya"

Jaejoong menganggukkan kepalanya, dia menatap Yunho yang matanya terlihat sembab. Dan Jaejoong tahu suaminya itu pasti tidak berhenti menangis menyesali perbuatannya.

"Changmin baik – baik saja kan?" Tanya Yunho

"Ya… Tidak apa – apa, traumamu tidak kambuh kan?"

"Jangan khawatirkan traumaku, Changmin lebih penting saat ini"

"Menunduklah"

Yunho mengikuti perkataan Jaejoong hingga wajah mereka sangat dekat, Jaejoong membelai wajah Yunho dengan tangannya yang bebas namun tertancap jarum infus. Tapi dia tidak memerdulikan nyerinya, dia mengusap wajah Yunho.

"Kami akan baik – baik saja, kau jangan khawatir. Changmin sangat menyayangimu"

CUP

Jaejoong mengecup bibir Yunho, siang tadi dia memang butuh waktu untuk berpikir bagaimana harus menghadapi masalahnya yang satu ini. Changminnya memiliki asma dan Yunho memiliki trauma, dia takut kehilangan makanya bertindak seperti tadi siang. Jaejoong memaafkan Yunho, karena perbuatan namja itu memang tidak disengaja.

"Saranghae" Lirih Yunho

"Nado…"

Yunho menjauhkan tubuhnya dan menatap sang anak, dia tersenyum lirih kemudian mengecup kening sang anak.

"Maafkan appa, appa berjanji akan menjadi appa yang lebih baik dari sekarang"

Jaejoong memperhatikan bagaimana Yunho memperlakukan Changmin dengan lembut, sama seperti memperlakukannya saat hamil anak keduanya. Yunho malah harus bersabar saat Jaejoong ingin Yunho membawanya ke Afrika Selatan untuk naik jerapah. Ah… ngomong – ngomong…

"Yoochun sudah membuat paspor baru untukmu?"

"Ya… Besok seharusnya sudah jadi dan aku baru bisa pergi ke Jepang untuk memeriksa perusahaan di sana"

"Maaf ya… Gara – gara aku, kau kehabisan lembar paspormu"

"Tidak apa – apa"

"Tapi aku menghabiskan dua buku paspor saat hamil hanya untuk memehuni fase mengidamku"

"Setidaknya, aku bisa merasakan keliling dunia dalam waktu delapan bulan"

"Terima kasih"

"Bukan apa – apa"

Ya…

Dua buku paspor yang jika dijumlahkan berisi Sembilan puluh enam halaman itu habis dalam jangka waktu delapan bulan hanya untuk memenuhi fase mengidam yang Jaejoong alami. Bahkan bulan ketiga kehamilannya Jaejoong mengajak Yunho pergi ke Afrika Selatan hanya untuk naik jerapah setelahnya ke Turki untuk naik balon udara. Harap maklum, ngidamnya orang kaya mah beda~~

"Mungkin saat baby besar dia akan keliling dunia menjadi vlogger" Ucap Yunho

"Yak! Itu masih lama, lagipula kau belum memberikan nama untuk Saengie"

"Aku yang memberikan nama?"

"Bukannya kau sudah menyiapkannya?"

"Hum" Yunho menganggukkan kepalanya

"Siapa?"

"Moonbin. Anak keduaku bernama Jung Moonbin"

Jaejoong tersenyum pada Yunho, dia menyetujui nama yang dipilih Yunho untuk anak keduanya. Besok, dia akan memberitahu Changmin, kedua orangtua Yunho serta Junsu yang mungkin masih menyalahkan dirinya karena lalai menjaga Changmin?

Jaejoong bahagia, hidupnya terasa lengkap dengan kehadiran suami ditambah dua anaknya. Jaejoong berharap dia selalu bahagia. Bolehkan?

~ END ~

End ya~~~

Yuuhuuuuu~~~

Lunas lagi satu utang Cho, hehehehehehehehe

Mereka udah punya anak, trus bebeb Mimin sama Kyukyu kapan nyusul?

Tapi mereka masih anak – anak deng!

Jangan kangen sama Cho ya…

See u nexf ff?

Chuuuuuu~~~~

Rabu, 31 Oktober 2018