Winter In Tokyo (Kaisoo Remake)

Novel by Illana Tan

Kaisoo

GS

Korean Version

Cerita bukan milikku. Aku hanya mengubah latar tempat dan menghapus beberapa hal yang menurutku nggak penting. Semoga kalian menikmatinya.

Happy Reading

Musim dingin tiba dan menyelimuti kota Seoul. Angin bertiup agak kencang malam ini. Do Kyungsoo mengibaskan rambut sebahunya ke belakang agar tidak menghalangi pandangan sementara ia bergegas menyusuri jalan kecil dan sepi yang mengarah ke gedung apartemennya. Ia menggigil karena rasa dingin mulai menembus jaket dan sweter tebalnya. Ia ingin cepat-cepat sampai di rumah, minum secangkir cokelat panas, dan makan ramen. Memikirkannya saja sudah membuat perut keroncongan. Dingin-dingin begini memang paling enak...

"Hei!"

Kyungsoo terlompat kaget dan berputar cepat. Matanya terbelalak menatap wanita dengan rambut pendek yang sudah berdiri di sampingnya. Begitu mengenali wanita itu sebagai Jun Jiwon, tetangganya yang tinggal di apartemen lantai bawah, Kyungsoo menghembuskan napas lega.

"Jiwon Eonnie," Kyungsoo mendesah sambil memegang dada. "Eonnie

membuatku terkejut setengah mati."

Jiwon mendecakkan lidah dan tersenyum lebar. "Kau terlalu gampang

terkejut."

"Eonnie tahu aku selalu merasa waswas kalau berjalan sendirian di jalan sepi," kata Kyungsoo. "Dan aku punya alasan bagus untuk itu."

"Baiklah, baiklah. Aku minta maaf. Ayo, cepat. Aku sudah hampir beku," kata Jiwon sambil menggandeng lengan Kyungsoo. "Kelihatannya barang bawaanmu banyak sekali. Kau bawa buku lagi hari ini?"

Kyungsoo mengeluarkan dua buku dari tas tangannya yang superbesar. Dua-duanya buku klasik terkenal. "Dua buku ini baru masuk hari ini, jadi aku orang pertama yang membacanya."

Ia bekerja di sebuah perpustakaan umum di Nowon dan ia sangat menyukai pekerjaannya. Sejak kecil ia memang sangat gemar membaca buku dan impiannya adalah bekerja di perpustakaan, tempat ia bisa membaca buku sepuas hatinya, tanpa gangguan, dan tanpa perlu mengeluarkan uang.

"Eonnie mau membacanya?" tanyanya pada Jiwon yang menatap kedua buku itu dengan kening berkerut. "Akan kupinjamkan kalau aku sudah selesai."

Alis Jiwon terangkat tinggi dan ia melotot ke arah Kyungsoo. "Buku bahasa Inggris? Yang benar saja," katanya. "Kau tahu benar bahasa Inggris-ku sekadar yes, no, thank you, I love you. Terlebih lagi, aku tidak suka membaca buku. Otakku yang sederhana ini hanya bisa memahami komik."

Kyungsoo tertawa, lalu mengalihkan pembicaraan. "Hari ini Eonnie pulang terlambat," katanya.

Jiwon mengangguk. "Ya, tadi ada janji dengan teman," sahutnya ringan. "Oh,Taesoo pasti hampir mati kelaparan sekarang. Dia sudah meneleponku sejak tadi dan bertanya kapan aku pulang. Entah kapan anak itu bisa dewasa dan berhenti merecoki kakaknya ini. Aku sudah tidak sabar menunggunya lulus kuliah dan menjadi pengacara. Saat itu aku yang akan merecokinya."

Beberapa menit kemudian mereka tiba di depan gedung apartemen mereka. Sebenarnya bangunan yang disebut-sebut sebagai gedung apartemen itu tidak benar-benar mirip gedung apartemen dalam bayangan kebanyakan orang. Gedung itu hanya bangunan tua tingkat dua berukuran kecil. Setiap lantainya memiliki dua apartemen yang berhadapan. Tidak ada lift, hanya ada tangga yang tidak terlalu lebar.

Di lantai dasar, apartemen 101 ditempati oleh sepasang suami-istri tua bermarga Hong, yang sekaligus merupakan penanggung jawab gedung. Apartemen di seberang mereka, nomor 102 ditempati oleh kakak-beradik Jun. Jun Jiwon berumur 28 tahun—tiga tahun lebih tua daripada Kyungsoo—dan bekerja sebagai penata rambut di Sudogwon, sedangkan adik laki-lakinya, Jun Taesoo, adalah mahasiswa jurusan hukum.

Kyungsoo sendiri menempati apartemen 202 di lantai dua. Apartemen 201 saat ini kosong. Saat Kyungsoo pertama kali pindah ke gedung apartemen ini lima tahun yang lalu, penghuni apartemen 201 adalah seorang arsitek muda yang sudah cukup lama tinggal di sana, kemudian tahun lalu sepasang suami-istri muda menggantikan si arsitek.

Pasangan suami-istri itu menempati apartemen di seberang apartemen Kyungsoo selama setahun dan bulan lalu mereka memutuskan untuk membeli rumah kecil kemudian pindah.

Walaupun gedung itu sudah tua, kondisi apartemen di sana sama sekali tidak buruk. Ruangannya cukup luas kalau dibandingkan dengan apartemen lain pada umumnya, fasilitasnya memadai, dan biaya sewanya termasuk murah. Tidak mungkin menemukan apartemen seperti itu di distrik dengan kepadatan penduduk tertinggi di Seoul.

Setiap apartemen di sana memiliki susunan yang sama: dapur, ruang duduk yang mengarah ke balkon sempit yang berfungsi sebagai tempat menjemur pakaian, satu bilik kecil khusus untuk kloset, satu kamar mandi kecil yang dilengkapi dengan mesin pemanas air, dan dua kamar tidur yang juga berukuran kecil. Apartemen 101 dan 201 memiliki balkon menghadap ke utara, sedangkan balkon apartemen 102 dan 202 menghadap ke selatan. Selain itu semua penghuni apartemen di sana adalah orang-orang yang menyenangkan dan Kyungsoo sudah menganggap mereka seperti keluarga

sendiri.

Ketika mereka tiba di depan pintu apartemen 102, Jiwon berbalik menghadap Kyungsoo. "Oh ya, apakah kau sudah tahu penyewa baru apartemen 201 sudah datang?"

Mata Kyungsoo bulat melebar. "Benarkah?"

Jiwon mengangguk. "Aku sendiri belum pernah melihat orang baru itu, tapi Taesoo melihatnya tadi pagi."

"Laki-laki?" tanya Kyungsoo.

Jiwon mengangguk lagi. "Kata Taesoo, orang itu datang sendirian dan

langsung masuk ke apartemen 201. Tidak keluar lagi sejak saat itu. Aneh, bukan?"

Kening Kyungsoo berkerut samar. "Bukankah Taesoopergi kuliah pagi tadi? Bagaimana dia bisa tahu orang itu keluar lagi atau tidak?"

Jiwon menggeleng dan mengibas-ngibaskan tangan. "Taesoo memang pergi kuliah, tapi Nenek Hong masih ada di rumah saat itu," katanya, "Nenek juga tahu ada orang yang masuk ke apartemen 201 tadi pagi dan sepanjang hari Nenek sudah memasang mata dan telinga. Orang itu tidak keluar-keluar sampai sekarang."

"Begitu?" gumam Kyungsoo sambil merenung. "Mungkin Kakek Hong tahu siapa yang menyewa apartemen itu."

"Kurasa tidak," sahut Jiwon. "Kata Nenek, orang yang sejak awal datang untuk melihat keadaan apartemen dan mengurus semua tentang masalah sewa-menyewa bukan laki-laki ini. Mungkin dia memakai jasa agen atau semacam itu."

"Oh..."

Jiwon mengeluarkan kunci pintu dari tas tangannya dan tersenyum. "Baiklah, aku harus masuk dan memberi makan adikku yang manja itu. Selamat malam, Kyungsoo."

"Selamat malam." Kyungsoo melambaikan tangan dan bergegas menaiki tangga sambil menggosok-gosok kedua tangannya yang terasa dingin walaupun sudah terbungkus sarung tangan.

Ketika mencapai pintu apartemennya, ia berhenti lalu menoleh dan menatap pintu apartemen 201. Keningnya berkerut. Ia sama sekali tidak mendengar suara apa pun dari balik pintu. Benarkah sudah ada yang menyewa apartemen itu? Kenapa tidak ada suara? Sama sekali tidak ada tanda-tanda bahwa ada orang di dalam.

Tiba-tiba pikiran buruk melintas dalam benak Kyungsoo. Bagaimana kalau penyewa baru itu jatuh sakit? Kyungsoo cepat-cepat menggeleng untuk mengenyahkan gagasan itu.

Jangan berpikir yang aneh-aneh. Mungkin saja orang itu sedang tidak ada di rumah.

Bisa saja orang itu keluar rumah ketika Nenek Hong sedang tidak memerhatikan.

Tapi tetap saja ada kemungkinan penyewa baru itu benar-benar belum keluar sejak pagi. Bagaimana kalau orang itu sakit dan terlalu lemah untuk bangun dari tempat tidur? Bagaimana kalau orang itu tidak punya siapa-siapa untuk dimintai tolong?

Bagaimana kalau orang itu menderita penyakit jantung dan sekarang sedang kesakitan?

Bagaimana kalau ia jatuh pingsan di dalam sana? Bagaimana kalau ia sedang sekarat?!

Kyungsoo menggigil memikirkan kemungkinan itu. Kemudian ia menepuk pelan kepalanya yang tertutup topi rajutan putih. Ah, tidak mungkin. Jangan berpikiran buruk. Sejak kecil daya imajinasinya memang hebat karena terlalu banyak membaca buku. Mungkin seharusnya ia menjadi penulis buku fantasi. Tapi...

Kyungsoo maju selangkah mendekati pintu apartemen 201 dengan ragu-ragu. Ia menyapu poninya dan menarik napas panjang. Kemudian setelah membulatkan tekad, ia menempelkan telinga kanannya ke pintu

dengan hati-hati. Tidak terdengar apa-apa. Ia memutar kepalanya dan kali ini telinga kirinya yang ditempelkan ke pintu. Masih tetap sunyi senyap di dalam sana.

Apakah ia harus memanggil Kakek Hong? Rasanya tidak enak mengganggu Kakek malam-malam begini. Tapi...

Kyungsoo masih sibuk menimbang-nimbang apa yang harus dilakukan ketika pintu itu mendadak berayun terbuka dengan satu gerakan cepat, membuat kepalanya yang masih menempel di daun pintu kehilangan sandaran dan tubuhnya jatuh ke depan. Ia sempat memekik kaget sebelum jatuh terduduk di lantai batu yang dingin.

"Aww..." Kyungsoo mengerang sambil mengusap sisi kepalanya. Dua-tiga detik kemudian, Kyungsoo tersadar kembali dan langsung mendongak.

Matanya terbelalak kaget, terpaku pada sosok jangkung yang berdiri di ambang pintu apartemen 201 yang terbuka. Awalnya Kyungsoo tidak bisa melihat dengan jelas sosok yang berdiri di sana karena bagian dalam apartemen itu gelap gulita. Namun kemudian ia bisa melihat lebih jelas ketika sosok itu maju selangkah dan sinar lampu di koridor meneranginya.

Laki-laki bertubuh tinggi yang berdiri di sana terlihat berantakan. Rambutnya yang gelap awut-awutan, sweter hitam dan celana jins yang dikenakannya juga kelihatan lusuh. Kyungsoo tidak bisa menebak umur laki-laki itu karena penampilannya sungguh kacau dan sepertinya ia belum bercukur hari ini. Kyungsoo juga tidak bisa menebak apa yang sedang dipikirkan orang itu. Terkejut? Heran? Marah?

Beberapa saat kemudian laki-laki itu berkata dengan nada rendah dan serak. "Kau tak apa?"

Kyungsoo tidak sempat menjawab, karena mendadak saja suasana menjadi heboh.

Kim Jongin terbangun dengan kepala pusing dan badan kaku. Hal pertama yang disadarinya adalah keadaan kamarnya yang gelap gulita. Ia melirik ke luar jendela. Langit di luar gelap. Sudah malamkah? Jam berapa ini? Ia mengerang, lalu memejamkan mata sejenak. Ia masih lelah sekali. Badannya menolak untuk bergerak.

Pelipisnya berdenyut-denyut. Penerbangan dari New York ke Seoul menguras tenaganya dan membuatnya jet-lag. Ia memang tidak pernah suka melakukan penerbangan jauh.

Tenggorokannya kering. Ia harus minum sebelum tubuhnya dehidrasi. Kapan terakhir kali ia minum? Ia tidak ingat. Mungkin sewaktu di pesawat.

Jongin memaksa dirinya bangun dan duduk di tepi ranjang. Ia mengusap wajah dengan kedua tangan untuk sedikit menyadarkan diri. Lalu perlahan ia bangkit dan menyeret kakinya yang berkaus kaki tebal keluar dari kamar.

Sinar bulan dan lampu jalan yang masuk lewat pintu kaca balkon menerangi ruang duduk. Penerangan remang-remang itu sudah cukup bagi Jongin. Ia tidak mau menyalakan lampu karena matanya bahkan belum terbiasa dengan penerangan samar yang ada, apalagi sinar lampu yang terang benderang.

Dirinya haus dan ia baru menyadari bahwa perutnya juga lapar. Kapan terakhir kali ia makan? Sewaktu di pesawat? Ia ingat ia hanya makan sedikit di pesawat karena tidak berselera sama sekali. Pantas saja sekarang ia kelaparan. Jongin baru akan berjalan ke dapur ketika mendengar bunyi gemeresik samar di luar pintu apartemennya. Ia menoleh dan melihat bayangan gelap terpantul dari bawah celah pintu.

Matanya menyipit. Ada orang di luar pintunya. Bayangan di bawah celah pintu itu bergerak-gerak. Niat mencari minuman batal. Ia berbalik,

menghampiri pintu, dan memasang telinga.

Tidak terdengar suara orang berbicara, tapi sudah jelas ada orang yang berdiri di luar sana. Tangannya terangkat ke pegangan pintu, lalu dengan satu sentakan cepat, ia menarik pintu itu, membuka. Pintu itu membentur sesuatu, yang disusul pekikan seorang wanita.

Jongin membuka pintunya lebar-lebar dan mengerjapkan mata, silau karena dihadapkan pada terangnya lampu di koridor. Kemudian ia melihat seorang gadis berambut hitam sebahu tersungkur di lantai di hadapannya sambil merintih pelan.

Sepertinya sentakannya membuka pintu membuat gadis itu terjatuh. Dan sudah pasti gadis itulah yang memekik tadi.

Tiba-tiba gadis itu mendongak dan menatap Jongin. Mata gadis itu terbelalak kaget. Jongin merasa gadis itu bukan seperti orang Korea pada umumnya. Gadis itu memiliki mata besar dan bulat.

Jongin bingung. Otaknya masih bekerja lebih lambat dari biasa.

"Kau tak apa?" Jongin mendapati dirinya bersuara. Suaranya terdengar

serak di telinganya sendiri.

Ia tidak sempat mendengar jawaban gadis itu, karena mendadak keadaan sekelilingnya menjadi riuh. Bunyi pintu-pintu membuka, lalu berbagai seruan yang terdengar tumpang-tindih.

"Ada apa? Apa yang terjadi?"

"Suara apa itu?"

"Siapa yang berteriak?"

"Ada pencuri? Pencuri?"

"Kyungsoo? Kaukah itu?"

"Kyungsoo Eonnie?"

"Taesoo! Ayo, kita naik."

"Mana tongkat bisbolku?"

"Pakai dulu jaketmu."

"Jaketku?"

"Bu, kau tunggu di sini saja."

"Hati-hati!"

Dalam sekejap, tiga orang bermunculan di depan Jongin. Ia hanya bisa

mengerjap-ngerjapkan mata memandang dua pria dan satu wanita yang menyerbu koridor sempit di lantai dua itu. Mereka balas menatapnya dengan heran. Kini, selain gadis bermata besar yang masih terduduk di lantai, ada seorang pemuda bertubuh kurus yang megacungkan tongkat bisbol, seorang wanita berambut pendek, lalu seorang pria tua dengan rambut yang sudah memutih.

"Kyungsoo, apa yang terjadi?" pekik si wanita berambut pendek sambil menghampiri gadis yang terduduk di lantai. "Kau baik-baik saja?"

Gadis yang dipanggil Kyungsoo itu melongo sesaat, lalu cepat-cepat menjawab, "Oh, Jiwon Eonnie. Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja."

Si pemuda kurus membantu Kyungsoo berdiri dengan sebelah

tangan, sementara tangannya yang lain masih mencengkeram tongkat bisbol erat. Ia menatap Jongin yang masih tertegun. "Anda siapa? Kyungsoo Eonnie, apakah orang ini macam-macam terhadapmu?"

Jongin terkejut. Nah, tunggu sebentar! Macam-macam? Tunggu dulu...

"Sabar, Taesoo," sela orang tua berambut putih yang berdiri di samping si pemuda yang mengacungkan tongkat bisbol. Kakek tua itu menatap Jongin dengan mata disipitkan, lalu berkata pendek, "Tolong perkenalkan dirimu, Anak muda."

Jongin menelan ludah. Tenggorokannya sakit dan ia ingat tadi ia belum sempat minum. Ia berdeham sejenak, lalu berkata datar, "Nama saya Kim Jongin. Saya baru pindah ke apartemen ini."

"Oh? Si orang baru?" tanya pemuda yang tadi dipanggil Taesoo. "Tadi pagi aku melihatmu datang."

Jongin melihat tongkat bisbol yang tadinya terangkat tinggi itu kini diturunkan. Ia berkata, "Saya baru tiba di Seoul pagi tadi. Karena tidak enak badan saya langsung tertidur begitu tiba di apartemen. Saya minta maaf karena tidak sempat memperkenalkan diri lebih awal."

"Sudah kubilang orang baru itu tidak keluar-keluar sejak masuk tadi pagi," kata wanita berambut pendek yang berdiri di samping Kyungsoo. Wanita itu bertanya lagi dengan nada curiga, "Lalu sejak tadi pagi kau tidur terus di dalam?"

"Benar," sahut Jongin.

"Lalu apa yang terjadi di sini?" Si kakek tua kembali bertanya sambil memandang Jongin dan Kyungsoo bergantian.

Perhatian Jongin kembali terarah kepada Kyungsoo yang terlihat serba salah. Gadis itu bersedekap dan mengangkat bahu dengan salah tingkah. "Kakek, itu... Itu, ehm... Maksudku, aku hanya khawatir," katanya terbata-bata. Ia melihat ke sekeliling dan menyadari orang-orang di sana masih menunggu penjelasannya, karena itu ia melanjutkan, "Aku dengar dari Jiwon Eonnie," ia menatap wanita berambut pendek sekilas, "sudah ada yang menempati apartemen 201 dan orang itu belum keluar dari kamar sejak pagi. Dan aku tidak mendengar suara apa pun dari dalam. Jadi kupikir...," suaranya semakin lirih dan ia tersenyum kikuk, "...mungkin orang itu sakit, atau, eh, jatuh pingsan."

Jongin berusaha menahan senyum mendengar penjelasan gadis itu.

"Lalu ketika aku sedang mencoba mendengarkan suara dari balik pintu, orang—eh, Kim Jongin-ssi tiba-tiba membuka pintu dan membuatku terkejut. Dan aku terjatuh." Kyungsoo berdeham di akhir penjelasannya. "Begitulah." Seketika itu juga suasana tegang di koridor lantai dua mencair.

"Ya ampun, Kyungsoo. Kau membuat kami kaget sekali tadi," kata wanita berambut pendek yang bernama Jiwon sambil mengguncang lengan Kyungsoo.

"Maafkan aku," gumam Kyungsoo lirih sambil membungkuk beberapa kali, lalu melirik Jongin sekilas dan membungkuk badan lagi.

"Sebaiknya kita saling memperkenalkan diri," kata Taesoo sambil memandang Jongin. "Namaku Jun Taesoo dan ini kakakku, Jun Jiwon." Ia menunjuk wanita berambut pendek yang kini tersenyum manis kepada Jongin.

"Kami tinggal di bawah, di apartemen 102," Jiwon menambahkan.

Jongin membungkuk dan menyambut uluran tangan kakak-beradik Jun. "Mohon bantuannya."

"Anak-anak ini biasanya memanggilku Kakek Hong," si kakek tua memperkenalkan diri sambil tersenyum lebar. Walaupun kulitnya sudah keriput, Kakek Hong ternyata masih memiliki deretan gigi yang rapi. "Aku tinggal bersama istriku di bawah."

Setelah itu pandangan semua orang terarah pada Kyungsoo yang tetap diam. Kyungsoo tersadar dan buru-buru membungkuk dalam-dalam, lalu berkata dengan agak tergagap, "Namaku Do Kyungsoo. Salam kenal. Aku minta maaf soal... soal kejadian tadi."

Jongin tersenyum. "Tidak usah dipikirkan. Aku juga minta maaf karena

membuatmu terkejut."

"Selamat bergabung bersama kami, Kim Jongin-ssi," kata Kakek sambil menepuk bahu Jongin. "Jika ada yang bisa kami bantu, jangan ragu-ragu mengatakannya."

Inilah pertama kali Jongin menginjakkan kaki kembali di Seoul setelah pindah ke New York bersama keluarganya bertahun-tahun yang lalu. Kali ini ia kembali bukan karena rindu pada kampung halaman. Ia hanya ingin pergi jauh dari New York untuk sementara waktu. Dan Seoul adalah kota pertama yang terlintas dalam benaknya.

Kini Jongin memandang orang-orang yang berdiri mengelilinginya dan yang balas memandangnya dengan tatapan penuh minat dan senyum ramah. Tiba-tiba saja ia sadar ia takkan bisa mendapat ketenangan yang diinginkannya. Tetapi entah kenapa ia merasa hidupnya takkan pernah sama lagi.

To Be Continued