Winter In Tokyo (Kaisoo Remake)

Novel by Illana Tan

Kaisoo

GS

Korean Version

Cerita bukan milikku. Aku hanya mengubah latar tempat dan menghapus beberapa hal yang menurutku nggak penting. Semoga kalian menikmatinya.

Happy Reading

Dua

Kyungsoo berdiri di koridor lantai dua gedung perpustakaan tempatnya bekerja, di samping mesin penjual kopi yang—mengikuti tema bulan Desember—tiba-tiba saja sudah dipenuhi hiasan Natal. Kyungsoo memegang cangkir kertas berisi kopi panas dengan sebelah tangan, sementara tangan lainnya memegang ponsel yang ditempelkan ke telinga.

"Ya, aku akan pulang pada Hari Natal," katanya di ponsel sambil memandang ke luar jendela kaca besar yang menghadap halaman depan gedung perpustakaan.

"Kau akan tinggal di sini sampai setelah Tahun Baru, bukan?" Suara berat ayahnya terdengar di ujung sana.

"Tentu saja," sahut Kyungsoo sambil menyesap pelan kopinya. Orang tua Kyungsoo awalnya tinggal di Seoul, lalu tiga tahun lalu mereka pindah ke Jeju, kampung halaman ayahnya, untuk mencari suasana yang lebih tenang. Ayahnya memang tidak pernah terbiasa dengan hiruk-pikuk kota Seoul. Setelah meyakinkan ayahnya bahwa ia akan melewatkan Tahun Baru di Jeju, Kyungsoo menutup ponsel dan mengantonginya. Baru saja ia hendak menyesap kopinya, ponselnya bergetar. Ia mengeluarkannya dan melihat tulisan yang muncul di layar.

"Halo? Taesoo, ada apa?" kata Kyungsoo begitu ponsel ditempelkan ke

telinga.

"Kyungsoo Noona, punya waktu malam ini?" Terdengar suara ceria Taesoo di ujung sana.

"Memangnya ada apa malam ini?"

"Jiwon noona, aku, dan Jongin hyung mau pergi minum-minum malam ini," jelas Taesoo. "Anggap saja sebagai pesta kecil-kecilan menyambut tetangga baru. Sebelum itu kita akan makan malam bersama di tempat Kakek dan Nenek Hong." Mendengar nama Jongin, pikiran Kyungsoo langsung melayang ke kejadian kemarin malam dan tiba-tiba pipinya terasa panas. Ia memejamkan mata rapat-rapat, berusaha mengusir kenangan memalukan itu. Astaga! Tetangga barunya pasti menganggap dirinya semacam penguntit psycho atau tukang intip...

"Noona?"

Lamunannya buyar dan Kyungsoo berusaha memusatkan perhatiannya kepada Taesoo. "Ya? Maaf, apa katamu tadi?"

"Jadi bagaimana? Noona bisa ikut?"

"Malam ini tidak bisa," kata Kyungsoo setelah berpikir sesaat. "Seorang rekan kerjaku berulang tahun dan dia mengajak kami pergi makan dan karaoke. Aku sudah janji akan ikut."

"Oh?" Suara Taesoo terdengar agak kecewa.

"Do Kyungsoo." Kyungsoo menoleh ke arah suara wanita yang memanggilnya. Ia melihat salah seorang rekan kerjanya melambai ke arahnya. Di sampingnya berdiri seorang wanita berambut pirang. Orang asing, pikir Kyungsoo langsung. Di perpustakaan itu hanya Kyungsoo satu-satunya karyawan yang bisa berbahasa Inggris, jadi secara tidak langsung ia yang selalu diminta melayani pelanggan asing yang tidak bisa berbahasa Korea.

"Maaf, Taesoo, aku harus kembali bekerja sekarang," kata Kyungsoo cepat. "Kalian saja yang pergi hari ini. Mungkin aku akan ikut lain kali. Maaf ya?"

Setelah berkata begitu, ia menutup ponsel, membuang cangkir kertas bekas kopinya ke tong sampah di dekat sana, lalu berlari-lari kecil menghampiri rekan kerjanya yang sudah menunggu.

Kyungsoo menggigil. Uap putih keluar dari mulutnya setiap kali ia mengembuskan napas. Ia melirik jam tangan. Sudah hampir tengah malam. Ternyata ia dan rekan-rekan kerjanya sudah menyanyi berjam-jam di karaoke. Ia berdeham. Kerongkongannya agak sakit karena terlalu banyak menyanyi. Sewaktu sedang sibuk menyanyi ia tidak merasa lelah, tetapi sekarang tubuhnya terasa pegal dan matanya berat. Ia hanya ingin cepat-cepat sampai di rumah dan tidur.

Sambil bersenandung pelan, ia menyusuri jalan kecil yang agak menanjak menuju gedung apartemennya. Jalan kecil itu sepi dan hanya diterangi lampu jalan yang remang-remang.

Lalu ia mendengar suara itu. Suara langkah kaki di belakangnya. Kyungsoo terkesiap pelan dan menelan ludah. Ia berusaha menenangkan diri. Mungkin ia salah dengar. Kyungsoo tetap berjalan—walaupun langkahnya tanpa sadar semakin cepat—dan memasang telinga. Benar! Ada orang di belakangnya!

Lalu memangnya kenapa kalau ada orang lain yang juga berjalan di jalan itu? Memangnya jalan itu milikku sendiri? Kyungsoo menggerutu dalam hati, menyesali sifatnya yang mudah panik. Jangan berpikir yang tidak-tidak. Yakinkan diri terlebih dahulu.

Diam-diam Kyungsoo berusaha melirik ke balik bahunya. Ia tidak berhasil melihat banyak. Ia hanya menangkap sosok seseorang yang berjalan tidak jauh di belakangnya.

Bulu kuduknya meremang. Rasa panik mulai menyerang tanpa memedulikan bantahan akal sehat. Sementara ia mempercepat langkah, napasnya mulai memburu dan pikiran-pikiran buruk mulai berseliweran di benaknya.

Langkah kaki orang di belakangnya juga terdengar semakin cepat. Orang jahat? pikir Kyungsoo panik. Pemabuk? Atau lebih buruk lagi, pemerkosa?! Ya Tuhan, lindungilah diriku. Kejahatan di jalan-jalan sepi bukan hal baru lagi di kota besar seperti Seoul. Kyungsoo langsung memanjatkan doa dalam hati. Kemungkinan lain terselip di otaknya.

Jangan-jangan... penguntit? Ini bukan pertama kalinya Kyungsoo dikuntit. Pengalaman itu membuatnya trauma.

Itu dia! Gedung apartemennya sudah terlihat. Kyungsoo lega sekali. Ia nyaris berlari, tapi kakinya terlalu kaku untuk bergerak lebih cepat lagi. Tiba-tiba...

"Hei..." Terdengar suara rendah seorang laki-laki di belakangnya dan Kyungsoo merasa bahunya dipegang. Kepanikannya meledak. Ia berputar dengan cepat sambil mengayunkan tas tangannya ke arah orang itu. Ia juga tidak lupa menjerit keras.

Tas tangannya mengenai sisi tubuh orang itu dengan bunyi gedebuk keras. Kyungsoo mengayunkan tasnya sekali lagi dan...

"Tunggu sebentar... Ini aku. Ini aku!"

Kyungsoo menghentikan ayunan lengannya dan melotot galak ke arah laki-laki yang mengangkat kedua tangan ke depan wajah untuk melindungi diri. Perlahan-lahan orang itu menurunkan tangan dan Kyungsoo baru melihat wajahnya dengan jelas.

"Kim Jongin-ssi?" kata Kyungsoo dengan suara tercekik. Matanya terbelalak. Walaupun tetangga barunya itu masih tergolong orang asing, tapi setidaknya Kyungsoo mengenalnya. Debar jantungnya yang liar pun agak mereda. "Astaga, kenapa kau mengendap-endap begitu?"

Kim Jongin terlihat berbeda hari ini. Penampilannya lebih rapi daripada

kemarin. Dan ia sudah bercukur. Kyungsoo jadi menyadari sebenarnya Jongin masih muda. Wajahnya menarik. Kim Jongin memasukkan kedua tangan ke saku jaket panjangnya. Ia balas menatap Kyungsoo dengan raut wajah kaget. "Aku tidak mengendap-endap. Bukankah tadi aku memanggilmu? Justru kau yang langsung menghantamku dengan tas," katanya, membuat wajah Kyungsoo terasa panas karena malu. Suara pria itu terdengar lebih jelas hari ini, tidak serak seperti kemarin. Ia mengeluarkan sebelah tangan dari saku jaket dan menunjuk tas tangan Kyungsoo. "Ngomong-ngomong, kurasa kau sudah boleh menurunkan tasmu itu."

Kepala Kyungsoo berputar ke samping, ke arah tangannya yang masih mengacungkan tasnya tinggi-tinggi. Ia yakin wajahnya sudah berubah merah padam. Ia cepat-cepat menurunkan tangan dan berkata dengan gelagapan, "Tapi kau tadi memang mengendap-endap. Kau tahu..."

Saat itu pintu rumah di sebelah kanan mereka terbuka dan seorang wanita tua melongokkan kepalanya ke luar. Ia menatap Kyungsoo dan Jongin bergantian lalu bertanya dengan kening berkerut, "Kalian baik-baik saja? Tadi aku mendengar ada yang menjerit."

"Tidak apa-apa. Maafkan kami karena sudah mengganggu," kata Jongin cepat sambil membungkuk.

Kyungsoo juga buru-buru melakukan hal yang sama sambil meminta maaf. Wanita tua itu berdecak pelan. "Ada-ada saja anak muda zaman sekarang." Lalu pintu kembali tertutup.

Kyungsoo memejamkan mata, menarik napas panjang, dan mengembuskannya dengan pelan untuk menenangkan diri. Kemudian ia berbalik dan berjalan tegak meninggalkan Jongin yang tertawa pelan.

"Tunggu aku," kata laki-laki itu di sela-sela tawanya dan menyusul Kyungsoo.

"Menurutmu ini lucu?" tanya Kyungsoo dengan alis terangkat. "Kau tadi membuatku ketakutan. Kukira kau perampok. Atau penguntit. Atau... semacam itu."

"Penguntit?"

Kyungsoo ragu sejenak. Lalu, "Ya. Memangnya kenapa? Banyak penguntit di Seoul, kau tahu? Ngomong-ngomong, kau baru minum-minum bersama Jiwon Eonnie dan Taesoo, bukan?"

"Ya, benar," sahut Jongin. Ia tahu Kyungsoo sedang mengalihkan pembicaraan, tapi ia tidak ingin mempermasalahkannya walaupun sebenarnya ia ingin tahu alasan di baliknya. "Setelah makan malam bersama Kakek dan Nenek Hong, mereka mengajakku minum-minum di Pojangmacha -Kedai pinggir jalan- langganan mereka."

"Aku minta maaf karena tidak bisa ikut," kata Kyungsoo sambil menoleh ke arah Jongin.

Jongin tersenyum. "Tidak apa-apa. Taesoo tadi bilang kau ikut merayakan ulang tahun rekan kerjamu."

"Mm," gumam Kyungsoo, lalu bertanya, "Lalu kenapa kalian bertiga tidak pulang bersama?"

Jongin mengangkat bahu. "Sepertinya mereka punya acara lain dengan teman-teman mereka."

Kyungsoo mengangguk-angguk. Jiwon dan Taesoo memang sering berkumpul bersama teman-teman mereka setiap akhir pekan. Mereka tidak akan pulang sebelum lewat tengah malam.

Mereka berjalan bersama dalam keheningan selama beberapa detik, lalu Jongin membuka suara, "Kurasa Seoul sudah banyak berubah." Kyungsoo meliriknya sekilas dengan alis terangkat. Jongin tersenyum melihat raut wajah tetangganya yang heran. "Keluargaku

pindah ke New York lebih dari sepuluh tahun yang lalu," jelasnya. "Ini pertama kalinya aku kembali ke Seoul sejak kami pindah."

"Oh, New York?" gumam Kyungsoo.

"Kenapa?" tanya Jongin. "Kau pernah ke sana?"

Kyungsoo menggeleng-geleng dan tertawa pelan. "Tidak, tidak. New York kedengarannya jauh sekali." Kemudian ia melirik teman seperjalanannya dan tidak bisa menahan diri untuk berkomentar, "Tapi bahasa Korea-mu bagus."

"Tentu saja," kata Jongin tegas. "Walaupun tinggal di luar negeri, kami masih berkomunikasi dalam bahasa Korea."

Mereka tiba di gedung apartemen dan berjalan menaiki tangga. Ketika Kyungsoo sudah sampai di depan pintu apartemennya, ia berbalik menghadap Jongin yang ada di belakangnya. "Bahumu... sakit tidak?"

Jongin menggerak-gerakkan bahunya sejenak, lalu tersenyum lebar. "Kurasa tidak apa-apa," sahutnya ceria, "aku tidak akan lumpuh walaupun tadi kau menghajarku keras sekali dengan tasmu yang berat itu. Apa isinya? Batu?"

Kyungsoo tersenyum malu dan mengeluarkan buku tebal dari dalam tasnya.

Alis Jongin terangkat. "Oh, Les Miserablés," katanya, menyebut judul aslinya setelah membaca judul dalam tulisan Korea yang tercetak di buku yang dipegang Kyungsoo.

"Kau tahu buku ini?" tanya Kyungsoo heran. Tidak banyak orang yang tahu dan membaca karya sastra klasik.

Jongin mengambil buku itu dari tangan Kyungsoo dan membuka-buka halamannya. "Aku pernah membacanya," katanya. "Tapi aku baru tahu buku itu juga dijemahkan ke dalam bahasa Korea."

"Kau membaca versi aslinya?" tanya Kyungsoo kagum.

Jongin mengangkat wajah dari buku itu. "Apa? Oh, tidak. Yang kubaca adalah yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Aku tidak bisa berbahasa Prancis."

Ia mengembalikan buku itu kepada Kyungsoo. "Kau?"

Kyungsoo menggeleng. "Bahasa Prancis-ku sangat payah. Dulu masih ada Hyunsik yang bisa mengajariku bahasa Prancis. Sekarang aku terpaksa belajar sendiri, dan sering kali aku tidak punya waktu untuk itu."

"Hyunsik?"

"Dia orang yang dulu tinggal di apartemen yang kau tempati sekarang. Orang yang sangat baik. Dia sudah beberapa kali pergi ke Paris dan selalu membawakan kami hadiah kalau pulang dari sana. Sewaktu terakhir kali kembali dari Paris, dia juga membawakan CD lagu Prancis untukku, walaupun saat itu dia sedang punya banyak masalah," kata Kyungsoo sambil melamun. Lalu ia mendesah keras, "Kadang-kadang aku merindukannya."

"Kalian berdua sangat dekat?" Mata Kyungsoo beralih ke wajah Jongin.

"Dekat? Maksudmu seperti...? Oh, tidak. Hubungan kami tidak seperti itu."

Jongin menatap langsung ke mata Kyungsoo dan berkata, "Kau gadis yang menarik, Do Kyungsoo."

Mata Kyungsoo melebar menatap laki-laki yang berdiri di depannya. Pasti ia salah dengar. Jongin bilang apa tadi? Dia gadis yang menarik? Menarik dalam arti apa? Menarik dalam arti 'menyenangkan'? Atau...? Tetapi mereka baru saling mengenal jadi tidak mungkin menarik dalam arti yang lebih dalam dan rumit dan membingungkan, bukan?

Kemudian Jongin memiringkan kepala dan keningnya berkerut samar. "Sepertinya aku pernah melihatmu sebelum ini," gumamnya.

Seketika itu juga ekspresi wajah Kyungsoo berubah santai dan ia tersenyum mengerti.

"Aah... Aku tahu maksudmu."

"Apa?"

""Sepertinya aku pernah melihatmu sebelum ini,‟" ulang Kyungsoo, lalu menoleh ke arah Jongin. "Sudah ribuan kali aku mendengar kalimat itu. Yang kau maksud pasti Sohyun."

Alis Jongin terangkat tidak mengerti. "Sohyun?"

"Sohyun model yang lumayan terkenal di sini. Kau pasti pernah melihatnya di majalah dan televisi," jelas Kyungsoo.

Jongin tertawa kecil. "Maksudmu, wajahmu mirip model terkenal?" tanyanya geli.

"Apa? Bukan, bukan!" Kyungsoo tertawa. "Sohyun itu saudara kembarku. Orang-orang sering salah mengenaliku sebagai Sohyun. Pemabuk yang dulu menguntitku juga begitu."

"Oh? Kau punya saudara kembar?" gumam Jongin heran, lalu terdiam sejenak dan menambahkan, "Apa maksudmu dengan pemabuk yang menguntitmu?"

Wajah Kyungsoo memerah. Ia menjawab agak tergagap. "Kejadiannya sudah cukup lama. Dia salah mengenaliku sebagai Sohyun." Sebelum Jongin sempat bertanya lebih jauh, ia buru-buru menambahkan, "Tapi semuanya baik-baik saja, jadi tidak ada yang perlu dibesar-besarkan."

Sejenak Jongin tidak berkata apa-apa, seakan sedang berpikir, lalu ia berkata pelan, "Jadi kau punya saudara kembar?"

Kyungsoo mengembuskan napas, merasa lega karena Jongin tidak mendesaknya. "Ya. Dia lahir lebih dulu, aku lima menit kemudian. Wajah kami sama persis, hanya gaya rambut kami yang berbeda, dia sedikit

Lebih panjang dariku. Sifat kami berdua memang tidak sama, tapi juga tidak benar-benar bertolak belakang. Kami tinggal bersama di sini sampai dia pindah ke luar negeri musim panas tahun lalu karena ada kontrak kerja," jelasnya tanpa ditanya. Ia sudah terlalu sering menjawab berbagai pertanyaan dari orang-orang yang salah mengenalinya sebagai Sohyun. Karena sudah tahu pertanyaan-pertanyaan yang selalu ditanyakan, kini ia cenderung langsung mengatakan segalanya sebelum ditanya. "Oh, sebelum kau bertanya, tidak, kami tidak bisa bertelepati atau semacamnya, walaupun kami memang dekat. Kadang-kadang aku bisa merasakan apa yang dia rasakan dan begitu juga sebaliknya, tapi hanya sebatas itu. Kami bukan cenayang. Dan satu lagi, aku tidak ikut menjadi model karena aku memang tidak bercita-cita menjadi model."

Jongin tersenyum mendengar penjelasan panjang-lebar itu. Punggungnya disandarkan ke pintu dan kedua tangannya dimasukkan ke saku jaket. Kemudian ia tertawa. "Jadi kau bukan cenayang dan kau tidak mau menjadi model. Ada lagi yang harus kuketahui?"

Sesaat Kyungsoo menatap laki-laki di hadapannya dengan bingung, lalu wajahnya memerah. "Tidak ada. Maafkan aku karena sudah terlalu banyak bicara." Ia menggigil dan baru menyadari mereka sudah terlalu lama berdiri di luar pintu seperti ini. "Dingin sekali," katanya cepat. "Kalau begitu, selamat malam."

Jongin tersenyum. "Selamat malam."

Sebenarnya kemungkinan Jongin pernah melihat Sohyun di majalah atau televisi sangat kecil. Jongin sudah tinggal di luar negeri selama hampir separo hidupnya dan ia sama sekali tidak tahu-menahu tentang artis atau model Korea.

To Be Continued

Hai, terima kasih sarannya. Tapi bagaimana, apa aku harus menghentikan ini dan pindah ngeremake novel lain? Kkk. Jujur, aku milih ngeremake novel ini karena lagi pengen baca novel ini versi Kaisoo. Dan, novel yang kau sebutkan itu.. jujur aku belum punya dan belum tertarik beli. Karena kalau beli novel lebih suka yang horror. Bagaimanapun, aku tetep berterima kasih. Thank You.