Winter In Tokyo (Kaisoo Remake)

Novel by Illana Tan

Kaisoo

GS

Korean Version

Cerita bukan milikku. Aku hanya mengubah latar tempat dan menghapus beberapa hal yang menurutku nggak penting. Semoga kalian menikmatinya.

Happy Reading

"Dia bilang kau gadis yang menarik?" Jiwon menegaskan sekali lagi.

"Ya," jawab Kyungsoo. Ia mengerutkan kening dan menggigit bibir sambil berpikir.

"Eonnie, menurutmu apa maksudnya?"

Mereka berdua sedang berada di salah satu kafe. Kafe itu lumayan ramai karena hari itu hari Minggu dan banyak anak muda yang berkumpul. Pelanggan biasa ditambah lagi orang-orang yang istirahat setelah sibuk

berbelanja untuk menyambut Hari Natal yang tinggal tiga minggu lagi. Sejak awal bulan Desember toko-toko di sepanjang jalan kota Seoul dan semua pusat perbelanjaan sudah mulai memasang hiasan Natal. Lagu Natal pun terdengar di mana-mana.

"Menurutku dia tidak bermaksud apa-apa," sahut Jiwon ringan sambil

mengangkat bahu. "Hanya basa-basi."

"Begitukah?"

"Tentu saja. Jangan terlalu dipikirkan," sahut Jiwon. "Pelukis memang suka bertingkah aneh-aneh."

"Dia pelukis?" tanya Kyungsoo heran. Kemarin ia lupa menanyakan apa pekerjaan laki-laki itu, tetapi Kim Jongin tidak terlihat seperti pelukis. Yah, tentu saja, Kyungsoo sendiri belum pernah bertemu dengan pelukis mana pun, jadi ia sendiri tidak yakin. Ia merasa laki-laki itu lebih cocok berprofesi sebagai... sebagai... entahlah. Yang penting bukan pelukis. Pelukis itu kan biasanya terlihat kacau, rambut berantakan, lusuh dan...

Na, tunggu dulu. Bukankah itu penampilan Kim Jongin ketika Kyungsoo pertama kali bertemu dengannya? Kyungsoo masih ingat dengan jelas sosok Jongin yang berdiri tegak di ambang pintu. Dengan rambutnya yang dicat kepirangan dan penampilannya yang berantakan, ia kelihatan seperti pelukis dalam bayangan Kyungsoo. Ia juga...

"Siapa? Kim Jongin?" Jiwon menyela lamunannya, lalu mengibaskan

tangan. "Bukan, bukan. Dia fotografer. Dia sendiri yang bilang begitu."

Kyungsoo langsung menghentikan imajinasinya yang mulai melantur ke mana-mana.

"Tapi tadi Eonnie bilang dia itu pelukis."

Jiwon mengernyit dan menggeleng. "Tidak. Maksudku tadi seniman. Pelukis dan fotografer sama-sama disebut seniman, bukan?"

Kyungsoo membuka mulut hendak membantah, tapi kemudian mengurungkan niat. Kadang-kadang ucapan Jiwon memang sulit dipahami dan Kyungsoo sudah terbiasa. Akhirnya ia hanya bergumam, "Kurasa memang begitu."

"Aku heran kenapa dia tiba-tiba datang ke Korea," kata Jiwon. "Dia sangat terkenal di Amerika, kau tahu? Bahkan di Seoul ini dia sudah dibanjiri tawaran pekerjaan, tapi katanya dia tidak ingin bekerja dulu untuk sementara ini. Dia mau berlibur."

Kyungsoo menatap Jiwon dengan kagum. "Bagaimana Eonnie bisa tahu semua itu?"

Jiwon hanya mengangkat bahu dan tersenyum. "Aku pintar menggabung-gabungkan informasi yang kuterima."

"Chanyeol!"

Kepala Kyungsoo berputar ke arah suara melengking itu dan matanya terpaku pada gadis remaja bertubuh ramping dengan rambut panjang dicat oranye yang sedang melambai kepada teman laki-lakinya yang duduk di meja tidak jauh dari meja Kyungsoo.

Anak laki-laki yang dipanggil Chanyeol itu balas melambai.

"Sudah menunggu lama?" Kyungsoo mendengar gadis itu bertanya lagi dan temannya menggeleng.

Perhatian Kyungsoo kembali ke Jiwon ketika mendengar tetangganya itu mendecakkan lidah. "Dasar anak muda zaman sekarang," gerutu Jiwon. "Apa maksudnya memakai rok mini pada musim dingin begini?"

Kyungsoo tersenyum dan mengangkat bahu. Mereka berdandan

seolah-olah akan menghadiri pesta kostum, tapi pada kenyataannya mereka hanya sedang nongkrong santai di jalanan.

"Bisa kulihat kau masih mengingat anak laki-laki itu," celetuk Jiwon tiba-tiba.

Kyungsoo mengangkat alis. "Siapa?"

"Siapa lagi kalau bukan cinta pertamamu? Park Chanyeol, bukan?"

Kyungsoo menunduk dan menatap uap yang mengepul dari cangkir tehnya.

Jiwon melipat kedua tangan di atas meja. "Menurutmu si landak itu Chanyeol yang kau cari-cari?"

Kyungsoo mendengus dan tertawa. "Astaga, Eonnie! Tentu saja tidak. Anak itu masih kecil. Umurnya paling-paling baru tujuh belas tahun."

Jiwon mendesah. "Kau hebat sekali. Masih tetap menunggu cinta pertamamu walaupun sudah belasan tahun."

"Aku tidak menunggunya," bantah Kyungsoo.

Jiwon mencibir. "Kepalamu berputar begitu cepat sampai nyaris putus hanya karena mendengar seseorang menyebut nama Chanyeol."

Kyungsoo kembali menunduk dan mengaduk-aduk tehnya dengan pelan. Jiwon memiringkan kepala. "Aku jadi berpikir-pikir. Memangnya kau masih bisa mengenalinya? Bagaimanapun juga sudah tiga belas tahun. Wajah orang bisa berubah, kau tahu? Bagaimana kalau kalian berpapasan di jalan dan kau tidak mengenalinya?"

Kyungsoo hanya mengangkat bahu, lalu menoleh memandang ke luar jendela kafe, memandangi deretan pohon gundul di tepi jalan. Ia masih ingat peristiwa tiga belas tahun lalu itu dengan sangat jelas. Saat itulah ia pertama kali bertemu dengan anak laki-laki bertopi wol biru dengan senyum ramah yang membuat hatinya berdebardebar.

Park Chanyeol. Cinta pertamanya.

Musim dingin tiga belas tahun yang lalu... Saat itu jam pulang sekolah. Kyungsoo berjongkok menunggu Sohyun di samping gedung sekolah sambil mengorek-ngorek salju di tanah dengan sebatang ranting kurus. Sohyun harus menyelesaikan hukuman yang diberikan guru karena ia baru saja ribut dengan salah seorang anak di kelas tadi pagi. Kyungsoo sudah lupa siapa nama anak perempuan menjengkelkan itu, tapi yang jelas anak itulah yang memulai kekacauan tersebut.

Ah, kalau tidak salah nama anak jahat itu Sohee. Ia merampas kalung Kyungsoo hadiah dari Nenek dan melemparkannya ke luar jendela. Kyungsoo tahu Sohee sudah iri padanya sejak ia memperlihatkan kalung emas putih dengan liontin berbentuk tulisan "Kyungsoo". Sohyun juga punya satu, tentunya dengan liontin yang berbentuk tulisan "Sohyun". Sohee ingin meminjam kalung itu, tapi Kyungsoo tidak mengizinkan.

Bagaimana mungkin ia mengizinkan anak manja itu memakai kalungnya yang berharga? Tapi Sohee nekat merampas kalung itu dan "menjatuhkannya" ke luar jendela. Katanya ia tidak sengaja, tapi tentu saja hanya orang buta dan tuli yang percaya padanya. Sohyun yang pada dasarnya lebih galak langsung mengamuk dan menyerang Sohee. Saat itulah guru datang dan melihat Sohyun melancarkan jurus menjambak-kucir-rambut yang ganas.

Dengan wajah cemberut menahan tangis kesal sambil sesekali meniup tangannya yang tidak bersarung tangan, Kyungsoo menunduk dan mencari-cari di antara tumpukan salju di tanah. Nenek pasti marah kalau Kyungsoo sampai menghilangkan kalung itu.

"Sedang apa?"

Kepala Kyungsoo berputar ke arah suara. Matanya menyipit sedikit karena silau. Ia mengangkat sebelah tangan untuk menaungi mata dan barulah ia bisa melihat dengan jelas siapa yang berbicara. Ternyata seorang anak laki-laki bertopi wol biru. Usia anak itu pasti lebih tua daripada Kyungsoo. Kelihatannya seperti anak SMP. Kakak kelasnya?

Entahlah, Kyungsoo belum pernah melihatnya sebelum ini.

"Sedang apa?" tanya anak laki-laki itu lagi.

Kyungsoo ragu sejenak, lalu bergumam pelan, "Mencari sesuatu."

Anak laki-laki itu berjalan mendekat. "Mencari apa?"

"Kalung," jawab Kyungsoo singkat, lalu kembali menunduk mencari-cari di tanah. Karena tidak mendengar sahutan, Kyungsoo menoleh dan melihat anak itu sudah ikut mencari-cari.

Baru saja Kyungsoo kembali memusatkan perhatian pada tanah di sekeliling kakinya, ia mendengar anak laki-laki itu berseru, "Namamu Kyungsoo?"

Kyungsoo menatapnya dengan heran dan mengangguk. "Ya."

Anak laki-laki itu tersenyum lebar dan mengacungkan sesuatu yang berkilau di tangan kanannya. "Ketemu!"

"Benar?" Kyungsoo melompat berdiri dan berlari menghampiri anak itu. Anak laki-laki itu menyerahkan kalung dengan liontin berbentuk nama Kyungsoo kepada Kyungsoo. "Jaga baik-baik. Jangan sampai hilang lagi ya?" katanya dengan nada ramah.

Kyungsoo mendongak menatap wajah yang berseri-seri itu. Ia baru akan membuka mulut untuk mengucapkan terima kasih, tapi anak laki-laki itu menoleh ke arah lapangan dan melambai. Kyungsoo mengalihkan pandangannya ke arah yang sama dan melihat sekumpulan remaja berdiri di sana, dua anak perempuan dan dua anak laki-laki.

Semuanya terlihat seperti anak SMP.

"Aku pergi dulu," kata si anak laki-laki bertopi biru. "Kau juga lebih baik cepat pulang."

Begitu anak laki-laki itu pergi. Sohyun berlari-lari ke arah Kyungsoo sambil menggerutu panjang-pendek. Kyungsoo cepat-cepat menariknya mendekat. Ia tahu Sohyun mengenal banyak orang. Mungkin ia tahu siapa anak laki-laki itu. Dan Sohyun memang tahu. Kata Sohyun nama anak itu Park Chanyeol, siswa SMP. Dulu dia dan keempat temannya juga bersekolah di SD yang sama dengan Kyungsoo, lalu setelah lulus mereka pindah ke SMP

lain. Hari itu Park Chanyeol dan teman-temannya datang ke SD lama mereka untuk bertemu dengan salah satu mantan guru mereka. Sejak hari itu Kyungsoo tidak pernah bertemu dengan Park Chanyeol lagi.

"Kau sudah menelepon ibumu?"

Jongin mengalihkan perhatian dari kameranya lalu memandang pria berusia empat puluhan dan berpenampilan rapi yang berdiri di sampingnya. Ia tersenyum samar dan menggeleng.

Kim Shin mendesah memandang keponakannya yang kelihatan tidak

peduli itu. Jongin sudah tinggal di New York lebih dari sepuluh tahun dan selama itu ia tidak pernah kembali ke Korea. Sepanjang pengetahuan sang Paman, kehidupan Jongin di New York sangat baik. Anak itu sudah menjadi salah satu fotografer profesional yang cukup terkenal. Karena itu ia agak heran ketika Jongin meneleponnya seminggu yang lalu dan berkata ia akan kembali tinggal di Seoul.

Tetapi keponakannya itu tidak mau tinggal di apartemen pribadi yang disediakan untuknya di Gangnam yang mewah. Ia malah menyewa apartemen kecil. Kim Shin sudah bertanya pada kakak perempuannya—ibu Jongin— tentang apa yang sebenarnya diinginkan Jongin karena anak itu sendiri tidak mau menjelaskan, tetapi ibu Jongin juga tidak bisa membantu banyak. Apalagi setelah tiba di Seoul, Jongin sama sekali belum menelepon keluarganya di New York.

"Bagaimana kalau nanti ibumu khawatir?" Kim Shin berusaha membujuk keponakannya. "Kau tidak memberitahunya di mana kau tinggal, apa yang kaulakukan, bagaimana keadaanmu..."

"Ibu tidak punya alasan untuk khawatir. Sudah kubilang padanya aku datang ke sini untuk berlibur. Bukankah Paman juga sudah memberitahunya bahwa Paman melihatku tiba di Seoul dengan selamat," gumam Jongin ringan. "Kita tidak perlu memberitahu Ibu tentang hal selebihnya." Ia mengangkat kameranya dan memandang sekelilingnya dari balik lensa,

"Paman jangan mengkhianatiku ya? Ibu hanya perlu tahu aku sudah tiba di Seoul dengan selamat. Hanya itu. Paman juga tidak boleh melapor tentang apa pun kepadanya. Aku bisa menjaga diriku sendiri. Dan kalau Paman mau tahu, keadaanku sangat baik sekarang ini. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan."

Kim Shin kembali menatap keponakannya dan menyadari tinggi badan

Jongin hampir menyamai tingginya. Ia mengeluarkan sebuah ponsel dari saku jas dan mengulurkannya kepada Jongin. "Pakai ini," katanya. "Ini ponsel baru."

Jongin menerimanya dengan alis terangkat. "Untukku? Supaya Paman bias merecokiku setiap hari dan melapor pada Ibu?"

Kim Shin mendesah dengan berlebihan, lalu tersenyum dan berkata, "Aku tidak akan mengatakan apa pun pada ibumu dan aku tidak akan merecokimu. Kau tidak akan sering menerima teleponku. Mungkin hanya sesekali, saat aku merasa perlu mengecek apakah kau masih hidup atau tidak."

Jongin memasukkan ponsel itu ke saku mantel dan tersenyum. "Terima kasih, Paman."

"Kalau begitu, aku pergi dulu."

Ketika pamannya berbalik dan mulai berjalan, Jongin berseru, "Paman mau ke mana?"

Pamannya menoleh. "Pergi main bulu tangkis dengan teman. Aku tahu kau tidak suka bulu tangkis, jadi aku tidak mengajakmu."

Jongin mengamati kepergian pamannya sejenak, lalu berbalik dan berjalan ke arah yang berlawanan. Ia menyusuri jalan sambil mencari inspirasi, sesekali membidik dan memotret objek-objek yang dianggapnya menarik. Tiba-tiba langkahnya terhenti. Lensa kameranya menangkap sosok seorang wanita. Jongin mengangkat kepala dari kamera untuk melihat dengan mata kepala sendiri, seakan tidak memercayai lensa kameranya. Wanita itu duduk di salah satu kafe yang berderet di sepanjang jalan. Ia menempati meja untuk berdua tepat di sudut dan di samping jendela kaca besar. Wanita itu menunduk ke arah buku yang terbuka di meja sambil bertopang dagu dengan sebelah tangan. Kelihatannya ia sedang membaca, tapi Jongin memerhatikan mata wanita itu tidak bergerak. Pandangan wanita itu memang terarah ke buku, tapi perhatiannya tidak tercurah ke sana. Sepertinya ia sedang melamun. Rambut sebahunya di jepit ke atas dengan asal-asalan dan Jongin bisa melihat dengan jelas telinga kanan gadis itu yang di tindik. Bukan hanya satu, tapi tiga tindikan. Tanpa sadar seulas senyum tersungging di wajah Jongin. Tidak salah lagi, gadis itu Do Kyungsoo, tetangga sebelah apartemennya. Dan tidak salah lagi, Kyungsoo sedang melamun. Ia pasti sedang melamun karena sama sekali tidak menyadari Jongin yang berdiri tidak jauh di sampingnya, hanya dipisahkan oleh jendela kaca besar. Jongin memandangi wajah yang sedang melamun itu dan tiba-tiba merasa ingin tahu apa yang sedang dipikirkan gadis itu.

Ia mengangkat kameranya dan membidik. Kyungsoo masih bergeming, sibuk dengan pikirannya sendiri, tidak menyadari dunia sekelilingnya, dan tidak menyadari bahwa Jongin sedang memotretnya. Ia juga tidak menyadari setelah itu Jongin tetap memandanginya. Jongin tidak tahu berapa lama ia memandangi Kyungsoo, tapi ia yakin tidak lama

walaupun rasanya cukup lama. Ia baru tersadar ketika Kyungsoo bergerak, seakan juga baru tersadar dari lamunannya. Gadis itu mengerjapkan mata dan menutup bukunya. Ia meraih jaketnya dan berdiri. Saat itu Jongin maju selangkah dan mengetuk kaca jendela. Kyungsoo mendengar ketukan itu dan berpaling. Jongin memerhatikan mata gadis itu melebar dan alisnya terangkat ketika bertemu pandang dengan Jongin. Jongin tersenyum dan mengangkat sebelah tangan. Kemudian raut wajah Kyungsoo berubah begitu mengenali siapa yang menyapanya dari balik jendela kaca dan ia balas tersenyum.

"Kim Jongin-ssi, sedang apa di sini?" tanya Kyungsoo ketika ia sudah keluar dari kafe dan menghampiri Jongin. Tadi ia terkejut melihat Jongin yang mengetuk kaca jendela. Ia sama sekali tidak menyangka bisa bertemu secara kebetulan dengan tetangga barunya itu, tapi ini kejutan yang menyenangkan.

Jongin mengangkat kameranya. "Mencari inspirasi," sahutnya ringan.

Kyungsoo mengangguk-angguk kecil. "Jiwon Eonnie bilang kau fotografer. Fotografer apa? Fashion?"

Jongin menggeleng cepat. "Bukan," katanya. "Kurasa aku kurang berbakat dalam bidang itu. Pernah mendengar istilah street photography? Itu bidangku. Aku memotret apa pun yang kuanggap menarik di sekitarku. Kadang-kadang aku juga suka melakukan sedikit fine art dan landscape photography, walaupun kurasa aku masih punya banyak kekurangan dalam kedua bidang itu."

Kyungsoo tidak paham dengan istilah-istilah yang dikatakan Jongin, tetapi mungkin ia bisa mencari beberapa buku petunjuk tentang fotografi di perpustakaan.

Jongin menggerakkan kepalanya ke arah kafe di samping mereka dan bertanya, "Kenapa kau duduk sendirian di dalam?"

"Tadi aku bersama Jiwon Eonnie. Dia memintaku menemaninya berbelanja untuk keperluan Natal. Lalu dia harus kembali ke salon untuk bekerja," jelas Kyungsoo. "Kau mau ke mana?"

Jongin mengangkat bahu, lalu balas bertanya, "Kau sendiri mau ke mana?"

"Aku? Sekarang aku mau membeli bahan makanan," jawab Kyungsoo. "Persediaan di rumah sudah habis."

"Kalau begitu, aku ikut denganmu," cetus Jongin.

"Untuk apa?" tanya Kyungsoo langsung.

"Karena aku sedang tidak punya kesibukan. Kenapa? Kau ada janji dengan orang lain?"

"Tidak," sahut Kyungsoo. Lalu karena melihat Jongin masih menunggu jawabannya, akhirnya ia berkata, "Baiklah, kau boleh ikut."

Jongin tersenyum senang. "Bagaimana kalau kita ke persimpangan yang terkenal itu?"

"Kenapa?"

"Aku ingin ke sana dan melihat-lihat. Pasti sudah banyak yang berubah sejak terakhir kali aku melihatnya."

"Tapi kau kan bisa pergi ke sana sendiri," gumam Kyungsoo. "Kenapa harus ditemani?"

Jongin tersenyum lebar. "Aku takut tersesat."

"Apa?" Kyungsoo yakin ia salah dengar.

"Sudah lama aku tidak pulang ke Korea. Aku nyaris tidak mengenali jalan-jalan yang ada sekarang," lanjut Jongin.

Kyungsoo tidak tahu apa yang harus dikatakannya. Ia hanya melongo menatap Jongin, berusaha melihat apakah laki-laki itu sedang bercanda atau serius. Akhirnya ia menyerah dan mendesah. "Ayo, kita pergi."

"Makan apa ya malam ini?" gumam Kyungsoo pada diri sendiri. Ia berdiri menghadap rak bahan makanan sambil mengetuk-ngetuk dagu dengan jari telunjuk. "Spageti? Atau kari? Mmm..."

Jongin yang bertugas mendorong troli menghampirinya dan berhenti di

belakangnya. "Kari saja," celetuknya dan menjulurkan tangan melewati kepala Kyungsoo untuk meraih sekotak bumbu kari. "Aku sudah bosan dengan makanan Barat. Kita makan makanan Korea saja malam ini."

Alis Kyungsoo terangkat dan ia berputar menghadap Jongin. "Kita?" ulangnya sambil menggerakkan tangannya menunjuk dirinya dan Jongin. "Memangnya aku pernah mengajakmu makan bersama?"

Jongin menyunggingkan seulas senyum manis. "Kau akan mengajakku makan malam di tempatmu, bukan? Kau tahu, sebenarnya aku sama sekali tidak bisa memasak dan sejak kemarin aku sama sekali belum menikmati makanan yang sesungguhnya," bujuknya. Ketika ia melihat Kyungsoo masih menatapnya dengan sebelah alis terangkat, ia cepat-cepat menambahkan, "Begini saja, bagaimana kalau sebagai gantinya siang ini kutraktir makan? Oke?"

Kyungsoo mengangkat bahu. "Kurasa cukup adil." Kyungsoo tahu benar dirinya orang yang mudah bergaul, tapi jarang sekali ia bisa langsung merasa akrab dengan seseorang. Kim Jongin kelihatannya sangat percaya diri dan pandai berbicara. Selama makan siang mereka mengobrol banyak.

Bersama laki-laki itu membuat Kyungsoo menceritakan hal-hal yang sebenarnya tidak terpikir untuk diceritakan. Ia bercerita tentang tetangga-tetangga mereka juga tentang dirinya sendiri. Jongin sepertinya tertarik pada semua yang diceritakan Kyungsoo. "Giliranmu," kata Kyungsoo.

Jongin sendiri mengaku tidak banyak yang bisa diceritakan kepada Kyungsoo. Katanya ia anak bungsu dalam keluarganya dan kakak laki-lakinya sudah berkeluarga. Semua keluarganya tinggal di Amerika Serikat, kecuali seorang paman yang menetap di Seoul. Keluarganya sama sekali tidak istimewa. Ayahnya pekerja kantoran dan ibunya ibu rumah tangga biasa.

"Kenapa kau kembali ke Korea?" tanya Kyungsoo ketika mereka berdiri dalam kerumunan pejalan kaki di pinggir persimpangan yang terkenal ramai, menunggu lampu lalu lintas berubah warna.

Jongin sedang sibuk membidikkan kameranya ke arah iklan-iklan neon dan layar video raksasa yang bertaburan di persimpangan itu. Wajahnya berseri-seri penuh semangat. "Hm? Maaf, kau bilang apa tadi?" tanyanya sambil berpaling ke arah Kyungsoo.

"Kenapa kau kembali ke Korea?" Kyungsoo mengulangi pertanyaannya.

"Mencari suasana baru," jawab Jongin singkat, tanpa berusaha menjelaskan. Tepat pada saat itu lampu tanda menyeberang menyala dan kerumunan besar orang mulai menyeberang jalan. Kyungsoo tahu mereka harus berjalan dengan cepat namun hati-hati dalam lautan manusia yang berjalan hilir-mudik ini. Ia ingin memperingatkan Jongin. Ia menoleh, tapi Jongin tidak ada di sampingnya. Ia menoleh ke kanan-kiri. Tidak ada. Hanya ada kerumunan orang yang berlalu-lalang. Ke mana laki-laki itu? Begitu menyadari Jongin tidak ada di dekatnya, langkah Kyungsoo otomatis terhenti. Dengan segera ada seseorang yang menabraknya dari belakang. Sebelum Kyungsoo sempat menggumamkan permintaan maaf, seseorang yang berjalan dari arah berlawan menyenggol bahunya. Kyungsoo terdorong mundur beberapa langkah dan nyaris terjatuh kalau punggungnya tidak tertahan sesuatu.

"Sebenarnya kau orang Seoul atau bukan? Menyeberang jalan saja tidak bisa."

Mendengar suara itu Kyungsoo mendongak dan melihat wajah Jongin. Ternyata Jongin yang menahannya supaya tidak terjatuh. Jongin memegang sikunya dan membimbingnya menyeberang jalan.

"Tadi aku sedang mencarimu," kata Kyungsoo berusaha menjelaskan begitu mereka menyeberang dengan selamat dan berhenti sejenak di dekat patung. Setiap hari banyak sekali orang yang berkumpul di sana, terlebih lagi hari Minggu.

"Dari tadi aku ada di belakangmu," kata Jongin ringan.

"Jangan tiba-tiba menghilang seperti itu," gerutu Kyungsoo. "Membuat orang lain bingung. Apalagi di tengah jalan."

"Baiklah, maafkan aku," kata Jongin dengan nada bergurau. "Lain kali aku akan menempel terus padamu."

Kyungsoo membuka mulut untuk mengatakan sesuatu, tapi tidak jadi.

"Chanyeol!"

Kepala Kyungsoo langsung berputar ke arah suara wanita itu. Jongin juga ikut berpaling. Mereka melihat seorang wanita menghampiri anak laki-laki yang sedang mengulum lolipop. Usia anak itu pasti tidak lebih dari tiga tahun.

"Chanyeol, sudah Ibu bilang jangan berkeliaran sembarangan," si Ibu mengomel. Ia menggandeng tangan si anak yang hanya mendongak memandang wajah kesal ibunya. "Kalau tidak, lain kali Ibu tidak akan belikan permen lagi. Mengerti?"

Kyungsoo memerhatikan kejadian singkat itu sambil memikirkan hal lain. Hari ini ia bertemu dua orang yang bernama Chanyeol, tapi dua-duanya bukan Chanyeol yang dicarinya.

"Ada apa?" tanya Jongin ketika melihat Kyungsoo yang merenung.

Kyungsoo menggeleng pelan. Matanya masih tertuju pada anak laki-laki dan ibunya itu.

"Nama anak itu Chanyeol," gumamnya pelan.

Jongin mengangguk, tapi tidak mengerti. "Lalu?"

"Nama yang bagus," gumam Kyungsoo lagi setengah melamun.

"Bagus bagaimana?"

Kyungsoo mengangguk. "Nama itu mengingatkanku pada seseorang."

"Siapa?"

Kyungsoo mendesah. "Anak laki-laki pertama yang kusukai."

"Oh, ya?"

"Jongin-ssi, siapa nama cinta pertamamu?"

Alis Jongin terangkat. "Cinta pertamaku?"

Kyungsoo menoleh ke arahnya dan bertanya sekali lagi, "Kau masih ingat nama cinta pertamamu?"

"Namanya? Mmm..." Jongin memasang tampang seakan sedang berpikir keras, lalu ia tersenyum lebar dan mengangguk. "Hyesoo," jawabnya, lalu memiringkan kepala. "Atau Kyungsoo?"

Mata Kyungsoo menyipit. Laki-laki itu mulai bercanda lagi. Ia menarik napas dan mengembuskannya dengan dramatis. "Lupakan saja," gumamnya dengan nada pasrah.

"Serius," tegas Jongin, namun senyumnya semakin lebar. "Memangnya kau pikir hanya kau sendiri yang bernama Kyungsoo di seluruh Korea ini? Dan ngomong-ngomong soal nama..."

"Baiklah, terserah," Kyungsoo memotong ucapan Jongin sambil mengangkat sebelah tangannya yang tidak menjinjing kantong belanjaan dengan gerakan mengalah. "Aku percaya padamu. Ayo, jalan. Bukankah kau bilang ingin melihat-lihat?" Ia melihat kantong belanjaannya, lalu pandangannya beralih ke Jongin yang juga menjinjing kantong belanjaan. "Seharusnya kita tidak belanja dulu. Sekarang kita terpaksa harus membawa barang-barang ini ke mana-mana."

Mereka kembali melanjutkan langkah. Tadi Jongin ingin berkata bahwa ia mengenal seseorang bernama Chanyeol. Salah satu teman sekelas dan teman dekatnya juga bernama Chanyeol. Gara-gara Kyungsoo bertanya tentang cinta pertamanya, Jongin jadi teringat pada masa kecilnya ketika ia masih tinggal di Seoul. Ia juga teringat pada teman-teman sepermainannya dan bertanya-tanya bagaimana keadaan mereka sekarang. Sudah bertahun-tahun ia tidak bertemu dengan mereka. Sudah lama sekali. Apakah mereka sudah berubah? Jongin masih ingat nama-nama mereka yang sering

bermain dengannya. Moon Gayoung, Oh Sehun, Lee Eunji, dan Park Chanyeol.

Apakah mereka semua masih tinggal di Seoul?