Winter In Tokyo (Kaisoo Remake)
Novel by Illana Tan
Kaisoo
GS
Korean Version
Cerita bukan milikku. Aku hanya mengubah latar tempat dan menghapus beberapa hal yang menurutku nggak penting. Semoga kalian menikmatinya.
Happy Reading
…
"Eonnie, Taesoo sudah pulang?" tanya Kyungsoo sambil melangkah masuk ke apartemen 102.
Jiwon menutup pintu dan menyusul Kyungsoo ke ruang tamu. "Belum. Sepertinya hari ini dia akan pulang malam." Alisnya berkerut sedikit ketika mengamati Kyungsoo. "Kau sedang flu, ya? Suaramu sengau."
"Ya," gumam Kyungsoo lesu. Ia sudah merasakan gejala flu sejak pagi dan sudah minum obat, tetapi ternyata tidak berpengaruh karena keadaannya tidak membaik. Ia mengembuskan napas keras dan duduk di salah satu bantal yang ada di lantai ruang tamu. Ia menopangkan siku di atas meja penghangat dan mengeluh, "Bagaimana ini?" Ia menoleh ke arah Jiwon dan baru menyadari tetangganya itu berpakaian rapi.
"Eonnie mau pergi?"
Jiwon menatap bayangannya di cermin bulat yang tergantung di dinding. "Ya. Pergi makan malam dengan teman." Setelah bentuk rambutnya dianggap sempurna, Jiwon menoleh menatap Kyungsoo. "Ngomong-ngomong, kenapa kau mencari Taesoo?"
Kyungsoo berdiri dan menghampiri Jiwon dengan ekspresi merajuk. "Aku mau memintanya mengganti bola lampu di apartemenku."
"Oh," gumam Jiwon sambil mengangguk. "Bola lampu sebelah mana?"
"Ruang duduk." Kyungsoo belum pernah mengganti bola lampu dan Jiwon sama saja. Selama ini mereka selalu meminta bantuan Taesoo untuk melakukan pekerjaan semacam itu. Itulah keuntungan punya saudara laki-laki. Bisa dimintai tolong.
"Taesoo belum pulang," ulang Jiwon. "Bagaimana dengan Kim Jongin?"
Kyungsoo menggeleng. "Belum pulang juga."
Jiwon mendecakkan lidah. "Ke mana semua pria itu saat dibutuhkan?"
gerutunya.
"Ada Kakek," kata Kyungsoo sambil tersenyum geli begitu teringat Kakek Hong.
"Tapi aku tidak tega memintanya memanjat-manjat tangga demi mengganti bola lampu."
Jiwon tertawa kecil. "Berarti kau harus menunggu salah satu dari kedua pria muda dan kuat itu pulang. Tidak ada pilihan lain."
"Tapi, Eonnie, apartemenku gelap gulita," Kyungsoo mengerang. Ia tidak suka gelap. Ia takut gelap. Memang usianya sudah 25 tahun, tapi apa boleh buat? Sampai sekarang ia masih harus menyalakan lampu kecil kalau tidur.
"Jangan berlebihan," kata Jiwon sambil mengenakan jaketnya. "Hanya ruang dudukmu yang gelap. Kamar tidurmu tidak."
"Eonnie mau pergi sekarang?" tanya Kyungsoo dengan nada cemas.
"Teman-temanku sudah menunggu," kata Jiwon. Ia berjalan ke jendela dan menyibakkan tirai.
"Di luar masih hujan deras," kata Kyungsoo, berharap Jiwon akan menunggu hujan reda sehingga ada yang menemaninya di sini.
"Aku bisa bawa payung," kata Jiwon sambil mengangkat bahu. "Tidak enak kalau aku sampai datang terlambat." Ia berjalan ke pintu dan mengenakan sepatunya. Kemudian ia menoleh dan menambahkan, "Tentu saja kau boleh menunggu di sini kalau kau mau."
"Eonnie, tunggu dulu!"
Tepat pada saat itu ringtone berjudul Csikỏs Post terdengar nyaring. Nada dering ponsel Kyungsoo. Ia cepat-cepat menjawab.
"Halo?"
"Kyungsoo-ssi!" Terdengar suara riang di seberang sana dengan latar belakang suara hujan.
Alis Kyungsoo terangkat. "Kim Jongin?"
"Kyungsoo-ssi," panggil Jongin sekali lagi. "Sedang apa?"
"Tidak sedang apa-apa."
"Apa yang terjadi dengan suaramu?"
"Hanya sedikit flu. Ada apa menelepon?" Sebelum Jongin sempat menjawab, Kyungsoo melanjutkan lagi, "Ah, aku tahu. Setiap kali mau meminta bantuan kau selalu memanggilku Kyungsoo-ssi."
"Bingo!" seru Jongin gembira. "Walaupun baru bertetangga dua minggu, ternyata kita sudah bisa saling memahami. Aku senang sekali."
Kyungsoo tertawa hambar. "Baiklah, ada apa?"
"Kyungsoo-ssi, kau tahu sekarang sedang hujan?"
"Ya."
"Aku baru turun dari bus dan sekarang sedang duduk menunggu di halte bus."
"Lalu?"
"Hujannya deras sekali."
"Lalu?"
"Bukankah sudah jelas? Aku tidak membawa payung dan aku sudah kedinginan. Aku bosan menunggu hujan berhenti. Ditambah lagi hujannya tidak mau berhenti-berhenti." Jongin berhenti sejenak dan berdeham. "Jadi, kau bisa menjemputku?"
"Menjemputmu?"
Jongin buru-buru meralat, "Mengantarkan payung untukku. Bisa? Tolong? Aku bersedia menemanimu sepanjang Hari Natal... oh, kau akan pulang ke Jeju pada Hari Natal, ya? Kalau begitu aku akan menemanimu sepanjang malam Natal minggu depan kalau kau mau mengantarkan payung untukku."
Kyungsoo tidak butuh waktu lama untuk berpikir. "Tunggu di sana. Aku akan datang."
"Ada apa dengan Kim Jongin?" tanya Jiwon yang ternyata belum pergi. Ia heran menatap Kyungsoo yang buru-buru mengenakan sepatunya kembali.
"Dia lupa membawa payung dan tidak bisa berjalan pulang dalam hujan sederas ini," jelas Kyungsoo cepat.
"Jadi kau mau menjemputnya?"
Kyungsoo mengangguk. "Lebih cepat dia pulang, lebih cepat dia bisa membantuku memasang bola lampu baru." Lalu seakan baru terpikir akan sesuatu, ia menambahkan sambil menggerutu, "Dan bukan karena aku berharap dia menemaniku pada malam Natal."
Jongin duduk di bangku panjang yang tersedia di halte bus sambil memandangi hujan yang turun dengan lebat. Tidak mungkin ia bisa berjalan pulang tanpa membuat dirinya basah kuyup dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tentu saja kalau ia menerima tawaran Paman Shin yang ingin meminjamkan mobil untuknya, ia tidak perlu berdesak-desakan di kereta atau bus dan tidak perlu berbasah-basah ria. Tetapi tidak apa-apa. Memang ini yang diinginkannya. Ia mengembuskan napas dan memerhatikan uap putih yang keluar dari mulutnya seperti asap rokok. Ia menggigil kedinginan. Tadi ia sudah menelepon Kyungsoo dan gadis itu bilang sendiri kalau ia bersedia datang menjemputnya. Jadi Jongin hanya perlu menunggu dengan sabar.
Sebuah bus berhenti di halte dan beberapa penumpang turun sambil memegang payung masing-masing. Jongin meringis. Sepertinya hanya ia sendiri yang tidak mempersiapkan payung. Dulu ia memang tidak pernah membutuhkan payung. Ia selalu mengendarai mobil sendiri ke mana pun ia pergi. Ia memerhatikan orang-orang yang baru turun dari bus itu membuka payung dan langsung berjalan menembus hujan. Pulang ke rumah masing-masing.
Tinggal seorang laki-laki bermantel cokelat panjang yang sedang membuka payung hitam besar. Jongin sekilas memerhatikan laki-laki yang berdiri di sampingnya itu. Masih muda, mungkin sebaya Jongin, dengan rambut hitam yang dipotong pendek dan rapi, wajah kurus, dan tubuh tinggi. Wajahnya memang tidak setampan aktor terkenal, tapi orang-orang yang melihatnya pasti akan berpikir laki-laki itu orang yang ramah dan suka tertawa. Merasa tidak sopan karena memelototi orang lain, Jongin memalingkan wajah kembali memandang hujan di luar sana. Ia melirik
jam tangannya dan mendesah sekali lagi. Kenapa Kyungsoo lama sekali?
"Maaf."
Jongin menoleh. Laki-laki yang tadi dipelototinya sedang menatapnya dengan ragu.
"Kim Jongin?" tanya laki-laki itu masih dengan sikap ragu-ragu.
"Ya," gumam Jongin kaget. Bagaimana orang itu bisa tahu namanya?
Kerutan ragu di wajah laki-laki bermantel cokelat itu menghilang. Wajahnya
berubah cerah dan ia menghampiri Jongin. "Jongin! Ternyata benar kau. Awalnya aku tidak yakin. Wah, kau sudah berubah." Melihat Jongin yang masih sibuk mengingat-ingat, ia menambahkan, "Sudah lupa padaku? Ini aku. Chanyeol."
"Chanyeol?" gumam Jongin dengan kening berkerut. Lalu perlahan-lahan dalam benaknya terbayang seorang anak laki-laki gembul berambut cepak yang sangat tertarik dengan pelajaran biologi. Mata Jongin terbelalak senang. "Park Chanyeol! Astaga! Lama tidak bertemu. Senang sekali melihatmu lagi, Teman. Apa kabar?"
Kyungsoo berjalan cepat sambil mencoba bersiul untuk menghibur diri, tetapi tidak berhasil. Cuaca yang dingin dan flu membuat siulannya seperti bunyi balon kempes. Ia sudah hampir sampai di halte bus yang dimaksud Jongin. Tepat di belokan jalan itu.
"Nah, itu Kim Jongin," gumam Kyungsoo pada diri sendiri ketika membelok dan melihat sosok Jongin yang berdiri di halte bus. Oh, ternyata Jongin tidak sendirian. Ia asyik mengobrol dengan seorang laki-laki bermantel cokelat panjang sambil tertawa-tawa akrab. Namun sebelum Kyungsoo sempat menghampiri mereka untuk melihat dan mendengar lebih jelas, laki-laki bermantel cokelat itu menjabat tangan Jongin, membuka payungnya dan berjalan menembus hujan, meninggalkan Jongin sendirian
di halte bus. Kyungsoo melihat Jongin mendongak memandangi hujan yang terus turun. Laki-laki itu bahkan tidak sadar ketika Kyungsoo menghampirinya.
"Aku sudah datang."
Jongin menoleh dengan cepat. Alisnya terangkat begitu menyadari Kyungsoo sudah berdiri di dekatnya. Senyumnya mengembang. "Kau benar-benar datang! Kau baik sekali. Sungguh!"
Kyungsoo mengulurkan payung lipat yang dibawanya untuk Jongin. "Memangnya kau pikir aku tidak akan datang?"
"Aku tidak tahu kalau kau benar-benar ingin menghabiskan malam Natal bersamaku," gurau Jongin riang.
"Terserah apa yang kau pikirkan," sela Kyungsoo ringan, sudah terbiasa dengan Jongin yang suka bercanda dan berbicara seenaknya.
Jongin menerima payung lipat yang disodorkan dan mengerutkan kening. "Sepertinya flumu lebih parah daripada yang kukira."
"Aku sudah minum obat. Besok juga sembuh," Kyungsoo membantah sambil mengamati Jongin yang membuka lipatan payungnya. "Ngomong-ngomong, tadi aku melihatmu berbicara dengan seseorang. Temanmu?"
Jongin mengangguk. "Teman sekolahku dulu. Kami kebetulan bertemu di sini. Hebat sekali, bukan?" katanya gembira. "Kami tidak sempat berbicara banyak karena dia harus mengunjungi pasiennya yang tinggal di sekitar sini. Oh ya, sekarang dia sudah menjadi dokter. Aku benar-benar tidak menyangka bisa bertemu dengannya setelah sekian lama. Dan dia yang mengenaliku lebih dulu."
Kyungsoo menarik lengan Jongin. "Ayo, kita mengobrol sambil jalan saja. Dingin sekali," katanya. Ia ingin cepat-cepat sampai di rumah supaya Jongin bisa memasang bola lampu untuknya. "Lalu kau sudah menanyakan nomor teleponnya?"
"Ya. Kami juga sudah berencana bertemu besok," sahut Jongin puas. Ia menoleh menatap Kyungsoo yang berjalan di sampingnya. "Ngomong-ngomong soal dokter, kalau besok flumu belum sembuh, sebaiknya kau ke dokter."
Kyungsoo mendesah. "Sudah kubilang, aku punya obat dan sudah kuminum. Besok juga sembuh."
"Kau mau kukenalkan kepada temanku yang tadi itu? Dia kan dokter."
"Tidak perlu. Aku sudah punya dokter langganan."
Tiba-tiba Jongin memegang siku Kyungsoo dan menariknya menepi tepat ketika sebuah mobil melewati mereka. Kyungsoo agak heran mendapat perlakuan seperti itu dari Jongin. Lebih heran lagi ketika ia menyadari laki-laki itu secara tidak mencolok telah bertukar posisi dengannya, sehingga kini Kyungsoo berjalan di bagian dalam jalan dan
Jongin berjalan di sebelah luar. Menurut Kyungsoo sikap seperti itu sangat sopan dan penuh perhatian.
Sejak Jongin pindah ke apartemen 201 dua minggu yang lalu, Kyungsoo sudah memerhatikan bahwa Jongin selalu bersikap sopan walaupun gaya bicaranya asal-asalan. Ia juga tetangga dan teman yang baik. Di samping itu, mereka sering menghabiskan waktu bersama. Jongin sering mampir ke perpustakaan tempat Kyungsoo bekerja dan mengajaknya makan bersama.
Karena sering menghabiskan waktu bersama, Kyungsoo yakin sikap Jongin yang sopan itu bukan karena laki-laki itu ingin memamerkan diri, tapi karena memang sudah terbiasa melakukannya sehingga ia sendiri pun tidak menyadarinya.
Jongin selalu membuka dan menahan pintu untuk Kyungsoo setiap kali mereka masuk dan keluar dari ruangan. Kalau mereka berjalan bersama seperti sekarang ini, Jongin selalu berjalan tepat di sampingnya, tidak pernah di depan atau di belakangnya. Tindakan kecil itu membuat Kyungsoo sangat terkesan. Zaman sekarang jarang sekali ada pria yang bersikap seperti itu. Mungkinkah sikap seperti itu di dapat Jongin dari Amerika?
Tetapi semua sopan santun itu tidak terlalu berarti kalau seorang laki-laki tidak bisa melakukan satu hal yang paling penting.
Kyungsoo mendongak menatap Jongin sambil tersenyum manis. "Ngomong-ngomong, Jongin-ssi, kau bisa memasang bola lampu?"
"Lihat? Tinggal diputar begini saja," kata Jongin sambil menunjukkan cara memasang bola lampu di ruang duduk apartemen Kyungsoo. "Kau benar-benar harus belajar. Masa pekerjaan segampang ini tidak bisa dilakukan? Harus menunggu orang lain melakukannya untukmu?"
Kyungsoo yang memegangi senter cemberut saja. "Aku takut kesetrum," gerutunya pelan.
"Tidak akan kesetrum kalau kau hati-hati."
Kyungsoo mencibir.
"Nah, selesai," kata Jongin sambil turun dari tangga. "Coba nyalakan."
Kyungsoo menjentikkan sakelar lampu. Tidak ada yang terjadi. Ruangan tetap gelap. "Jongin-ssi, sebenarnya kau bisa memasang bola lampu atau tidak?" tanya Kyungsoo curiga.
Jongin mendongak menatap bola lampu yang baru dipasangnya dengan kening berkerut. "Sepertinya ini bukan masalah bola lampu yang rusak," katanya. "Ada masalah dengan kabel listrikmu."
"Lalu?"
"Kalau memang itu masalahnya, aku tidak bisa membantu."
"Ha?"
Jongin mengangkat bahu. "Aku bukan tukang listrik. Sebaiknya kau memberitahu Kakek Hong dan menelepon tukang listrik besok. Biar mereka yang memeriksa kerusakannya."
"Tapi... Tapi..."
"Kenapa?" Jongin berbalik menghadap Kyungsoo.
"Bagaimana denganku?"
"Bagaimana denganmu?"
"Itu..." Kyungsoo menautkan jari-jarinya di depan dada dan tersenyum salah tingkah. "Aku tidak suka gelap." Walaupun ruangan itu hanya disinari lampu senter yang remang-remang, Kyungsoo bisa melihat senyum yang tersungging di bibir Jongin. Sudah pasti laki-laki itu menertawakannya.
"Kalau kau takut gelap, diam di kamar tidur saja. Di sana kan lampunya masih bisa menyala," kata Jongin sambil menahan tawa.
"Tapi aku kan sering mondar-mandir di sini," Kyungsoo membela diri sambil menggerakkan tangannya ke sekeliling ruang tamu. "Perasaanku tetap tidak enak kalau gelap gulita."
"Nyalakan lilin."
"Sama saja."
"Jadi kau mau bagaimana?"
Kyungsoo memiringkan kepala. "Aku bisa menumpang di tempat Jiwon Eonnie, tapi kebetulan dia sedang tidak ada di rumah. Dan aku tidak mau merepotkan Kakek dan Nenek."
"Kau mau aku menemanimu di sini?" tanya Jongin setelah memikirkan arah pembicaraan Kyungsoo.
Kyungsoo menggeleng. "Sudah kubilang aku tidak suka gelap. Tidak peduli ada yang menemani atau tidak, pokoknya aku tidak suka gelap."
Jongin mendesah. "Jadi aku tidak bisa mengajakmu nonton film di bioskop ya?"
"Apa?" tanya Kyungsoo sambil mengerjapkan mata. Apa hubungan film bioskop dengan pembicaraan mereka?
"Di bioskop, kan gelap."
"Aah, itu." Kyungsoo paham. "Tapi itu berbeda."
"Berbeda bagaimana? Sama-sama gelap."
"Kalau di bioskop perhatianku sepenuhnya tertuju ke film yang diputar dan aku tidak merasa gelap."
"Berarti kau mau kalau kuajak nonton?"
Bagaimana pembicaraan mereka bisa sampai ke masalah nonton? "Tentu saja," sahut Kyungsoo, lalu menambahkan, "Kalau kau yang bayar."
Jongin tersenyum. "Baiklah, jadi bagaimana sekarang? Kau tidak mau tetap di sini. Mau menunggu di tempatku?"
Wajah Kyungsoo berseri-seri. "Ya!"
"Tunggu dulu." Jongin mengangkat sebelah tangan dan mengerutkan kening. "Kau selalu seperti ini? Begitu bersemangat karena akan masuk ke apartemen laki-laki?"
"Tidak!" Kyungsoo mendorong bahu Jongin sambil tertawa.
"Kalau begitu kau sedang berusaha merayuku?" gurau Jongin sementara dirinya didorong ke pintu. "Kau harus tahu bahwa aku bukan laki-laki yang mudah dirayu."
"Aku bahkan tidak akan bermimpi merayumu," bantah Kyungsoo di sela-sela tawanya. "Bagiku kau hanya tetanggaku yang usil dan banyak omong."
"Jadi kau tidak menganggapku laki-laki? Ah, aku tersinggung," kata Jongin sambil memegangi dada dengan ekspresi terluka.
Ini bukan pertama kalinya Kyungsoo masuk ke apartemen 201 setelah ditempati Jongin. Seperti biasanya, apartemen itu tidak berantakan, malah terkesan kosong.
"Sebenarnya aku sudah lama ingin mengatakan ini padamu," kata Kyungsoo sambil duduk di sofa empuk di ruang tamu sementara Jongin menyalakan pemanas. Hujan di luar masih belum berhenti. "Apartemenmu terlihat kosong, kau tahu?"
"Memang," sahut Jongin. "Aku jarang di rumah, jadi untuk apa membeli barang-barang yang tidak berguna? Kau mau minum?"
Kyungsoo mengangguk. "Teh juga boleh," katanya. "Ngomong-ngomong, Jongin-ssi, kau fotografer, bukan?"
"Ya. Kenapa?"
"Kenapa aku tidak melihat satu lembar foto pun di sini?" tanya Kyungsoo sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. "Maksudku, foto hasil jepretanmu."
"Biasanya aku menyimpan foto-fotoku di komputer. Aku jarang mencetaknya, apalagi memajangnya," terdengar suara Jongin dari dapur.
"Padahal aku ingin melihat foto-foto yang kau ambil," gumam Kyungsoo dengan nada menyesal.
Jongin muncul sambil membawa dua cangkir teh. "Lain kali akan kutunjukkan padamu."
Kyungsoo mengangkat kedua kakinya dan duduk bersila di sofa. Ia menyesap tehnya dan berkata, "Kau juga bekerja sebagai fotografer sewaktu tinggal di Amerika?"
Jongin mengembuskan napas pelan, meletakkan cangkir tehnya di meja, dan menyandarkan punggung ke sandaran sofa. "Ya," sahutnya pelan.
"Kau senang di sana?"
"Tentu."
Kyungsoo mengangkat alis, lalu menyandarkan kepala ke sandaran sofa dan menguap kecil. "Lalu sekarang kau ingin bekerja di Seoul?"
"Ya," sahut Jongin, mengingat kalau ia memang pernah menyebut-nyebut tentang keinginannya untuk menetap di Seoul.
"Kenapa?"
Jongin mengangkat bahu acuh tak acuh. "Menjadi fotografer itu bisa di mana saja. Tidak harus terikat di satu tempat, bukan? Aku ingin mencari suasana baru dan menurutku Seoul kota yang sangat menarik."
"Suasana baru?" Kepala Kyungsoo berpindah ke lengan sofa. Ia tersenyum kecil.
"Orang yang membutuhkan perubahan suasana biasanya ingin melupakan sesuatu. Bukankah begitu?"
Jongin tidak menjawab. Hanya mengangkat alis dan tersenyum samar.
"Aku jadi ingin tahu apa yang ingin kau lupakan. Atau siapa?"
Jongin tak langsung menjawab pertanyaan Kyungsoo karena sibuk dengan pikirannya sendiri. Beberapa saat kemudian ia menoleh dan mendapati gadis itu tengah berbaring di sofa dengan mata terpejam. Tidur? Ia bangkit dan menghampiri Kyungsoo untuk memastikan. Benar, gadis itu sudah pulas. Flu membuat orang gampang mengantuk. Tanpa suara Jongin pergi ke kamar tidur dan keluar dengan membawa selimut tebal. Ia menyelimuti Kyungsoo dengan hati-hati, lalu berdiri di sana dan merenung. Setelah beberapa saat ia mengeluarkan ponsel dan berjalan kembali ke kamar tidur. Ia menutup pintu kamar dan menempelkan ponsel ke telinga. Menunggu hubungan tersambung.
"Halo, Ibu? ... Ini aku." Jongin tersenyum mendengar rentetan omelan ibunya di ujung sana. "Baiklah, aku minta maaf karena baru menelepon Ibu sekarang, tapi aku yakin Ibu bisa mengerti." Kali ini suara ibunya terdengar lebih tenang. Jongin melanjutkan, "Apa kabar Ayah?... Baguslah... Aku baik-baik saja. Ibu tidak usah khawatir... Aku tahu, Bu. Aku mengerti." Ibunya menanyakan sesuatu di ujung sana. Nada suaranya hati-hati. Jongin mengerutkan kening, tersenyum tipis, lalu bergumam pelan, "Wanita itu?... Aneh sekali. Aku baru sadar aku jarang sekali memikirkannya sejak aku tiba di Korea." Jongin mendengar kata-kata ibunya di ujung sana, lalu
berkata lagi, "Ya, itu bagus, bukan?"
To Be Continued
