Winter In Tokyo (Kaisoo Remake)

Novel by Illana Tan

Kaisoo

GS

Korean Version

Cerita bukan milikku. Aku hanya mengubah latar tempat dan menghapus beberapa hal yang menurutku nggak penting. Semoga kalian menikmatinya.

Happy Reading

Taesoo hampir tidak memercayai matanya sewaktu ia melihat Kyungsoo keluar dari apartemen Jongin keesokan paginya. Ketika akan masuk ke apartemennya sendiri, gadis itu baru menyadari keberadaan Taesoo di tengah tangga.

"Oh, Taesoo, selamat pagi," sapa Kyungsoo dengan senyum salah tingkah. Dan kalau Taesoo tidak salah lihat, wajah Kyungsoo merona. "Kau mau pergi kuliah?"

Taesoo mengangguk. "Aku baru mau ke tempat Jongin Hyung," sahutnya, masih heran. "Mau meminjam...," ia terdiam sejenak, sudah lupa apa yang ingin dipinjamnya dari Jongin. "Kyungsoo Eonnie...?"

Kyungsoo buru-buru menyela, "Kalau begitu, sampai jumpa. Aku masuk dulu."

Begitu pintu apartemen Kyungsoo tertutup, Taesoo berbalik menuruni tangga, tidak jadi pergi ke apartemen Jongin. Jiwon terkejut mendengar pintu apartemennya terbuka dengan suara keras. "Ada apa? Ada apa?"

"Noona! Dengar, aku baru melihat Kyungsoo Eonnie keluar dari apartemen Jongin Hyung," Taesoo melaporkan dengan nada mendesak.

"Apa?" Jiwon mengangkat alis dan melirik jam dinding. Jam enam. "Sepagi ini?"

Taesoo mengerutkan kening dan berpikir. "Noona, menurutmu

mereka..."

Jiwon memukul kepala adiknya. "Jangan berpikir sembarangan. Kyungsoo gadis baik-baik."

"Aku kan tidak bilang apa-apa," gerutu Taesoo sambil mengusap-usap

kepalanya.

"Tapi kenapa dia keluar dari apartemen Jongin pagi-pagi begini?" gumam Jiwon pada diri sendiri.

"Mungkinkah Kyungsoo Eonnie berada di apartemen itu semalaman?" celetuk Taesoo.

Jiwon menatap adiknya dan mengerjap-ngerjapkan mata. "Yah, mereka berdua memang cukup dekat. Selalu bersama-sama. Tapi masa...?"

"Kyungsoo Eonnie memang gadis polos. Mungkin saja Jongin Hyung yang mengambil kesempatan dengan..."

Jiwon kembali memukul kepala adiknya. "Sebaiknya kau pergi kuliah sekarang. Heran, kau ini laki-laki tapi suka sekali bergosip."

Taesoo mengangkat bahu tidak peduli. "Bukankah aku belajar dari Noona?" Lalu ia melesat keluar sebelum Jiwon sempat memukulnya lagi.

Memalukan. Kenapa aku bisa sampai tertidur di apartemen Jongin? Kyungsoo mengembuskan napas sambil menyeberangi jalan. Hari ini banyak sekali yang harus dilakukannya di perpustakaan dan kesibukan mengalihkan pikirannya dari kejadian memalukan tadi pagi untuk sementara. Tapi sekarang dalam perjalannya ke rumah sakit karena flu yang tidak kunjung membaik, ia jadi teringat pada kejadian tadi pagi ketika ia terbangun di sofa ruang tamu Jongin.

"Aku tidur di sini semalaman?" tanya Kyungsoo tidak percaya.

Jongin mengangguk. "Tidurmu nyenyak sekali, jadi tidak kubangunkan. Lagi pula aku tidak keberatan."

Laki-laki itu memang tidak keberatan, tapi Kyungsoo merasa malu. Ditambah lagi ia bertemu dengan Taesoo ketika ia keluar dari apartemen Jongin tadi pagi. Tindak tanduknya pasti terlihat mencurigakan. Kyungsoo menggeleng-gelengkan kepala untuk menjernihkan pikiran.

Tiba-tiba lagu Csikos Post terdengar nyaring. Kyungsoo mengeluarkan ponsel dari tas tangan dan membaca tulisan yang menari-nari di layar. Jongin.

"Halo? Jongin-ssi?"

"Lampu ruang dudukmu sudah bisa menyala." Terdengar suara Jongin di

seberang sana.

Kyungsoo tersenyum. Tadi pagi ia memang sudah melapor kepada Kakek Hong dan menelepon tukang listrik untuk memperbaiki kabel listriknya yang bermasalah. Karena ia harus pergi bekerja dan tidak mungkin membiarkan si tukang listrik sendirian di apartemen, Kyungsoo akhirnya meminta Jongin—tetangganya itu punya banyak waktu luang—menemani Kakek Hong mengawasi apartemennya selama kabel listriknya

diperbaiki.

"Kau memang tetangga paling baik sedunia," kata Kyungsoo melebih-lebihkan. "Kau sudah menyelamatkan hidupku."

"Kalau kau mau berterima kasih, traktir aku makan."

"Oke, kutraktir makan Bibimbap."

Jongin cepat-cepat mengatakan, "Aku mau."

Kyungsoo tertawa sumbang—benar-benar sumbang, karena ia memang sedang flu. "Jam tujuh, kalau begitu."

Tidak lama setelah ia menutup ponsel, ponselnya berdering tiga kali. Ada pesan masuk. Alisnya terangkat heran melihat pesan itu dari Jongin. Bukankah laki-laki itu baru saja bicara dengannya? Begitu melihat isi pesan itu, alis Kyungsoo pun berkerut samar. Sebuah foto. Sepertinya hasil jepretan Jongin. Kyungsoo tidak terlalu paham, tapi kalau tidak salah foto itu menampilkan langit malam penuh bintang. Di bawah foto itu ada sebaris kalimat: Kenapa harus takut gelap kalau ada banyak hal indah yang hanya bisa dilihat sewaktu gelap?

Sementara ia masih memandangi foto itu dengan bingung mencoba memahami maksud Jongin, ponselnya kembali berdering tiga kali. Ada pesan lagi. Kali ini tidak ada foto, hanya pesan tertulis dari Jongin: Jangan lupa ke dokter sebelum kau menyebarkan virus flu ke mana-mana.

"Ini juga sedang ke rumah sakit," Kyungsoo menggerutu pada ponsel yang dipegangnya.

Ternyata Kyungsoo harus menunggu 45 menit sebelum perawat memanggil namanya. Proses pemeriksaannya sendiri tidak lama. Dokter tua langganannya itu hanya memeriksanya sebentar lalu menuliskan resep obat yang harus ditebus di apotek rumah sakit.

"Semoga aku membawa cukup uang," gumam Kyungsoo pada diri sendiri ketika melewati meja perawat dalam perjalanannya ke apotek. Ia mengeluarkan dompet dan memeriksa isinya. Karena asyik menghitung uang, ia tidak memerhatikan jalan dan menabrak seseorang yang berjalan terburu-buru ke arah meja perawat. Berhubung tabrakan itu cukup keras dan yang ditabrak adalah laki-laki, Kyungsoo kehilangan keseimbangan dan membentur dinding koridor. Dompetnya terlepas dari pegangan dan uang logamnya yang banyak jatuh bergemerencing di lantai.

"Maafkan saya. Maaf."

Kyungsoo merasa ada tangan yang membantunya berdiri tegak. Ia mendongak ke arah suara bernada khawatir itu. Pria yang ditabraknya itu mengenakan jubah putih dengan stetoskop tergantung di leher. Rupanya dokter. Usianya masih muda dan wajah kurusnya terlihat cemas.

"Tidak apa-apa?" tanya dokter muda itu sambil mengamati Kyungsoo dari atas ke bawah.

"Tidak, tidak apa-apa," sahut Kyungsoo cepat sambil berjongkok memunguti uang logamnya. Pipinya memanas. Ia tidak terlalu memikirkan tabrakan tadi, tapi ia malu karena uang logamnya berjatuhan di lantai dengan bunyi berisik. Koridor itu tidak sepi, banyak yang berlalu lalang, dan sekarang ia harus memunguti semua koinnya satu per satu. Belum lagi kalau ada uang logam yang menggelinding entah ke mana.

Si dokter muda menggumamkan permintaan maaf sekali lagi, lalu ikut berjongkok membantu Kyungsoo memunguti uang logamnya.

"Tidak apa-apa. Saya bisa sendiri," kata Kyungsoo berusaha menahannya. "Anda pasti sibuk."

Dokter itu tersenyum dan berkata ringan, "Aku yang menabrakmu, jadi tentu saja aku harus membantu. Jangan khawatir. Saat ini aku tidak sibuk."

Mereka tidak membutuhkan waktu lama untuk mengumpulkan semua logam di lantai. Dokter itu menyerahkan hasil kumpulannya kepada Kyungsoo.

"Terima kasih," gumam Kyungsoo dengan kepala tertunduk. Ketika bergegas berdiri, barulah ia menyadari pergelangan kaki kirinya terkilir.

"Kenapa?" tanya si dokter begitu melihat Kyungsoo meringis kesakitan. "Kakimu sakit? Biar kuperiksa."

Menggelikan. Ini sudah seperti adegan dalam film-film, pikir Kyungsoo dengan wajah panas. Tetapi kalau dalam film kaki si tokoh utama wanita terkilir di depan seorang pangeran tampan, maka kaki Kyungsoo terkilir di depan seorang dokter yang walaupun berwajah lumayan, tidak bisa disamakan dengan pangeran tampan. Kalau dalam film si tokoh utama wanita akan digendong oleh si pangeran tampan dengan penuh kasih,

maka Kyungsoo sudah pasti tidak akan mengalami yang seperti itu. Ia berhadapan dengan dokter, jadi sudah hampir bisa dipastikan kakinya akan dibebat tanpa ampun dan ia harus berjalan dengan tongkat. Sama sekali tidak romantis.

Sebelum Kyungsoo sempat menjawab, terdengar seseorang berseru, "Dokter Park, telepon untuk Anda!"

Mereka berdua serentak menoleh ke arah meja perawat tempat seorang perawat sedang mengacungkan gagang telepon ke arah mereka. Dokter siapa katanya tadi? Park?

"Ya, terima kasih," si dokter muda yang berdiri di hadapan Kyungsoo membalas. Ia berpaling kembali kepada Kyungsoo dan berkata, "Tunggu di sini sebentar, ya? Sebentar saja." Ia mendudukkan Kyungsoo di salah satu kursi yang ada di koridor. "Aku akan segera kembali."

Kyungsoo mengangguk dan memandangi dokter muda itu berlari-lari kecil ke arah meja perawat dan menerima telepon. Ternyata pembicaraan itu tidak lama. Dokter itu baru saja meletakkan gagang telepon ketika seorang dokter yang terlihat jauh lebih senior menghampiri dan menepuk punggungnya. "Oh, Chanyeol, baguslah kau sudah datang. Kami butuh pendapatmu tentang pasien kamar 1502. Bisa ke ruanganku setelah

ini?"

Mata Kyungsoo melebar dan ia terpana. Sakit di pergelangan kakinya terlupakan sejenak. Dokter itu... Dokter Park...? Chanyeol...? Park Chanyeol? Park Chanyeol yang itu?!

Kyungsoo tidak mendengar pembicaraan kedua dokter itu selanjutnya, karena tepat pada saat itu perawat yang tadi memanggil si dokter muda untuk menerima telepon lewat di depannya. Kyungsoo cepat-cepat menahan si perawat. "Permisi, ada yang ingin saya tanyakan."

"Ya?" Perawat itu tersenyum kepadanya dengan ramah.

Dengan ragu-ragu Kyungsoo menunjuk ke arah si dokter muda yang sedang berbicara di dekat meja perawat. "Apakah benar dokter yang di sana itu Park Chanyeol?"

Si perawat memandang ke arah yang ditunjuk, lalu mengangguk. "Benar, dokter Park adalah salah satu dokter di sini."

Kyungsoo mengangguk-angguk setengah sadar. Tetapi benarkah dokter Park Chanyeol yang ini adalah Park Chanyeol yang membantu Kyungsoo mencari kalung yang jatuh tiga belas tahun yang lalu? Kyungsoo tidak yakin. Ia ragu-ragu sejenak sebelum bertanya lagi, "Apakah Anda kebetulan tahu di mana Park Sensei bersekolah sewaktu SD?"

Si perawat mengangkat sebelah alisnya dan menatap Kyungsoo dengan tatapan heran. "Itu..."

Kyungsoo sadar pertanyaannya pasti terdengar aneh dan ia memaksakan tawa sumbang. "Saya hanya ingin memastikan apakah dokter Park itu teman lama saya. Wajahnya terlihat tidak asing," katanya mencari-cari alasan, lalu tertawa lagi. "Tidak apa-apa kalau Anda tidak tahu. Terima kasih." Kyungsoo membungkukkan badan dalam-dalam dan si perawat pun berlalu dengan ekspresi heran masih tertera di wajahnya.

"Nah, sekarang mari kuperiksa kakimu."

Kepala Kyungsoo berputar cepat. Ternyata Park Chanyeol sudah kembali berdiri di sampingnya. Sesaat Kyungsoo tidak bisa berkata-kata karena terlalu tegang. "Kakiku baik-baik saja," sahutnya pelan. "Dokter tidak perlu repot-repot."

Park Chanyeol berkacak pinggang dan memandang Kyungsoo dengan ramah. "Aku yang menabrakmu dan membuat kakimu terkilir. Setidaknya biarkan aku memeriksanya sehingga aku tidak terlalu merasa bersalah."

Akhirnya Kyungsoo menyerah, hanya karena ia ingin berbicara lebih banyak dengan dokter itu. Park Chanyeol mengajak Kyungsoo masuk ruang periksa lalu memeriksa kaki Kyungsoo sebentar. Ternyata kaki Kyungsoo hanya terkilir ringan. Tidak ada masalah serius. Setelah itu pergelangan kaki Kyungsoo diolesi obat dan diperban dengan hati-hati.

"Selesai," kata Park Chanyeol sambil tersenyum kepada Kyungsoo. "Beberapa hari lagi pasti sembuh. Kalau ada apa-apa, jangan ragu-ragu datang mencariku."

Kyungsoo mengangguk. Ia mengamati dokter yang sedang membereskan peralatannya itu. Ia harus bertanya. Ia harus memastikan. "Dokter... Nama dokter... Park Chanyeol?"

Si dokter menoleh dan mengangguk. "Benar. Apakah kita pernah bertemu?"

Sulit mencari kalimat yang tepat. "Mungkin ini terdengar agak aneh," kata Kyungsoo sambil tersenyum salah tingkah, "tapi sepertinya Sensei adalah kakak kelasku sewaktu SD. Masih ingat nama sekolah Sensei sewaktu SD?"

Begitu Dokter Park menyebut nama SD-nya, Kyungsoo pun membelalak. "Benar," bisiknya gembira.

"Jadi kita pernah satu sekolah?" tanya Park Chanyeol terkejut. "Dan kita saling mengenal?"

Kyungsoo menggeleng. "Kita tidak benar-benar saling mengenal. Kita malah belum berkenalan. Aku mengenal dokter karena dokter membantuku mencari kalung yang terjatuh."

Park Chanyeol berusaha mengingat-ingat selama beberapa saat, lalu ia tersenyum menyesal. "Maaf, sudah lama sekali, aku hampir tidak ingat."

"Memang kejadian itu sudah tiga belas tahun yang lalu," kata Kyungsoo sambil mengangkat bahu. "Tentu saja dokter sudah tidak ingat. Sewaktu kita bertemu, dokter sudah SMP dan dokter datang ke sekolahku untuk menemui salah satu guru, kurasa."

Chanyeol kembali mengingat-ingat. "Ingatanku tentang masa kecil sudah agak buram, tapi samar-samar aku ingat ada kejadian seperti itu."

Ternyata laki-laki itu tidak ingat padaku, pikir Kyungsoo sedikit menyesal. Namun ia bisa maklum. Tiga belas tahun bukan waktu yang singkat. Ia sendiri sudah melupakan banyak hal yang pernah terjadi selama tiga belas tahun terakhir ini. Ia tentu saja masih ingat pada Chanyeol karena laki-laki itu adalah cinta pertamanya. Sedangkan bagi Chanyeol, Kyungsoo mungkin hanya seorang gadis kecil yang butuh bantuan dalam mencari kalungnya yang hilang. Sama sekali bukan sesuatu yang penting untuk diingat.

Chanyeol menatap Kyungsoo sambil tersenyum ramah. "Tadi kau bilang kita dulu belum berkenalan. Kalau begitu..." Ia mengulurkan tangan kanannya. "Namaku Park Chanyeol. Senang berkenalan denganmu."

Kyungsoo ragu sejenak sebelum akhirnya menyambut uluran tangan pria itu. Ia pun balas tersenyum dan berkata, "Do Kyungsoo. Senang bertemu lagi."

To Be Continued