Winter In Tokyo (Kaisoo Remake)

Novel by Illana Tan

Kaisoo

GS

Korean Version

Cerita bukan milikku. Aku hanya mengubah latar tempat dan menghapus beberapa hal yang menurutku nggak penting. Semoga kalian menikmatinya.

Happy Reading

"Reuni SMP?" Jongin memindahkan ponsel ke telinga kanan dan mendongak menatap lampu lalu lintas, menunggunya berubah warna. "Maksudmu, reuni satu sekolah? Bukan hanya kelas kita atau angkatan kita?"

"Bukan hanya angkatan kita," sahut Park Chanyeol di ujung sana. "Semua alumni boleh datang. Malah undangan untuk para alumni sudah disebarkan satu bulan sebelumnya. Kau tidak menerimanya?"

"Tidak."

"Yah, mungkin karena kau sudah pindah ke luar negeri sebelum tahun ajaran selesai," tebak Chanyeol. "Karena itu mereka tidak tahu bagaimana cara menghubungimu."

Lampu lalu lintas berubah warna dan Jongin cepat-cepat menyeberang jalan bersama rombongan pejalan kaki lainnya. "Tapi memangnya aku boleh ikut? Maksudku, aku kan tidak menerima undangannya."

"Ah, kau tidak perlu cemas soal itu," kata Chanyeol ringan. "Biar aku saja yang mengurusnya. Kau hanya perlu hadir."

"Kapan reuninya?"

"Kira-kira seminggu setelah Tahun Baru. Aku lupa tanggal pastinya. Nanti akan ku kabari lagi."

"Baiklah. Tapi ngomong-ngomong apakah kita harus hadir sendiri atau..."

"Ah, maksudmu apakah kau boleh mengajak pasangan? Tentu saja. Kau tahu, banyak teman kita yang akan mengajak suami atau istri mereka." Chanyeol terdiam sejenak, lalu bertanya dengan nada bergurau, "Kenapa? Ada seseorang yang ingin kau ajak ke acara itu?"

Jongin tersenyum. "Mungkin."

Chanyeol mendesah. "Tidak mau bercerita rupanya. Tidak apa-apa. Tapi kuharap kau bisa mengajaknya dan mengenalkannya padaku."

"Baiklah," sahut Jongin, tertawa.

"Mungkin aku juga akan mengajak seseorang," kata Chanyeol tiba-tiba.

"Tunggu dulu. Beberapa hari yang lalu sewaktu kita makan siang bersama, kaubilang kau belum punya pacar. Tepatnya, kaubilang kau tidak punya waktu untuk pacaran." Jongin berjalan menyusuri salah satu jalan yang sempit, panjang, dan dipadati pejalan kaki yang kebanyakan adalah remaja. Berbagai butik, kafe, restoran siap saji, dan toko-toko kecil lainnya yang ditargetkan untuk kawula muda berjejer di sepanjang jalan. Jongin menyenggol bahu seseorang dan ia menggumamkan kata maaf tanpa berhenti berjalan.

"Memang. Tapi bukankah hidup memang aneh?" Suara Chanyeol terdengar ceria.

"Aku bertemu dengannya tepat setelah aku makan siang denganmu hari itu. Sejak itu kami sempat bertemu beberapa kali untuk urusan pekerjaan dan aku sempat mengajaknya makan siang atau minum kopi sesekali. Aku tidak tahu apakah dia mau kalau aku benar-benar mengajaknya kencan."

"Salah seorang perawat baru yang cantik?" tebak Jongin.

"Aku memang bertemu dengannya di rumah sakit, tapi dia bukan perawat," kata Chanyeol, masih dengan nada ceria. "Tenang saja, kau akan bertemu dengannya nanti saat reuni."

Jongin menutup ponsel dan masuk ke salah satu toko foto di sebelah kanannya dan tersenyum kepada penjaga toko yang menyambutnya.

"Pesanan atas nama Kim sudah jadi?" tanyanya.

Gadis penjaga toko berwajah manis itu tersenyum lebar. "Ah, tentu saja. Tunggu sebentar."

Tak lama kemudian gadis ramah itu kembali membawa sebuah kantong kertas dan menyerahkannya kepada Jongin.

Jongin mengeluarkan beberapa lembar foto yang cukup besar dari dalam kantong kertas itu dan memeriksa setiap lembarnya. Semua foto itu adalah hasil jepretannya sejak ia menginjakkan kaki di Seoul. Pemandangan kota Seoul, para pejalan kaki di jalanan, anak-anak kecil yang berlarian, beberapa kuil terkenal. Dan Do Kyungsoo.

Jongin memegang salah satu foto Kyungsoo yang diambilnya ketika ia melihat gadis itu duduk sendirian di salah satu kafe. Ia sudah sering memotret Kyungsoo dan kebanyakan dari foto itu diambil tanpa sepengetahuan gadis itu. Kalau Kyungsoo tahu Jongin memotretnya, ia akan mengomel panjang-lebar tentang dirinya yang bukan fotomodel dan tidak berniat menjadi fotomodel.

"Semuanya sudah lengkap, bukan?" tanya si penjaga toko.

Jongin mengangkat wajah dan tersenyum lebar. "Ya," sahutnya. "Terima kasih banyak."

Memandangi foto-foto Kyungsoo yang ada dalam genggamannya, Jongin teringat sesuatu. Sebelum ia mengajak gadis itu ke acara reuni sekolahnya, ada hal lain yang ingin dikatakannya kepada Kyungsoo. Ia merogoh saku bagian dalam jaketnya dan mengeluarkan dua lembar tiket pertunjukan balet. Swan Lake, salah satu pertunjukan yang sangat laris dan sangat ingin ditonton Kyungsoo. Tanggal pertunjukan yang tercetak

pada tiket itu adalah 24 Desember, jadi Jongin berharap Kyungsoo tidak punya acara penting pada hari itu.

Kyungsoo berjongkok merapikan buku-buku yang ada di rak bagian bawah sambil bersenandung lirih. Perpustakaan sedang sepi saat itu. Hanya ada beberapa orang yang membaca buku di meja-meja yang tersedia.

Kyungsoo sangat suka suasana sepi perpustakaan. Begitu damai. Ia berdiri, menegakkan tubuh, dan memandang ke luar jendela. Natal tinggal beberapa hari lagi. Ia berharap salju akan turun pada Hari Natal. Kyungsoo mendesah pelan dan melirik jam tangan. Sebentar lagi waktunya pulang.

Tiba-tiba lagu Csikos Post terdengar nyaring. Terperanjat. Kyungsoo buru-buru mengeluarkan ponselnya. "Halo?" bisiknya. Wajahnya terasa panas ketika ia melihat beberapa orang menoleh ke arahnya. Ia cepat-cepat meninggalkan deretan rak buku dan kembali ke meja kerjanya.

"Do Kyungsoo."

Mendengar suara Park Chanyeol di ujung sana, Kyungsoo langsung memperlambat langkah karena kaget. "Dokter Park?"

"Bagaimana kakimu?" tanya Park Chanyeol. "Tidak ada masalah, bukan?"

Otomatis Kyungsoo menatap kaki kirinya yang tidak lagi diperban. Perbannya memang sudah dibuka kemarin. "Tidak masalah. Sudah sembuh sama sekali," sahutnya sambil tersenyum. "Dokter masih di rumah sakit?"

"Ya, tapi sebentar lagi pulang. Kau ada acara malam ini?"

"Mmm... Tidak ada acara penting. Ada apa?"

"Bagaimana kalau kita pergi makan malam?"

Kyungsoo tidak butuh waktu lama untuk menjawab. "Tentu saja."

Sibuk.

Jongin menutup ponselnya. Sudah tiga kali ia mencoba menghubungi Kyungsoo tetapi ponsel gadis itu sibuk terus. Tidak apa-apa. Ia akan pergi menemui gadis itu di perpustakaan tempatnya bekerja. Jongin melirik jam tangan. Masih ada waktu. Kemungkinan besar ia bisa sampai di sana sebelum gadis itu pulang. Lalu ia bisa sekalian mengajak Kyungsoo makan malam.

Tapi ternyata Kyungsoo tidak ada di perpustakaan. Menurut salah seorang rekan kerjanya Kyungsoo pulang lebih cepat hari ini. Jongin melirik jam tangan. Kalau begitu ia akan menemui Kyungsoo di rumah saja.

Seharusnya ia memakai sarung tangan. Jongin menggigil dan menjejalkan kedua tangannya ke dalam saku mantel begitu keluar dari stasiun kereta bawah tanah. Uap putih keluar dari hidung dan mulutnya seiring dengan setiap embusan napas. Dingin sekali. Sepertinya tidak lama lagi akan turun salju.

"Hyung!"

Jongin menoleh ke arah suara dan melihat Jun Taesoo berlari menghampirinya.

"Oh, Taesoo."

"Dingin... Dingin..." Taesoo menggigil dengan berlebihan dan menggosok-gosok kedua telapak tangannya. "Hyung mau pulang? Ayo, kita jalan sama-sama."

Kedua laki-laki itu berjalan cepat menyusuri jalan menanjak yang mengarah ke gedung apartemen mereka.

"Jadi bagaimana?" tanya Taesoo tiba-tiba.

"Bagaimana apa?" Jongin balik bertanya.

"Tentang malam Natal."

"Hm?"

"Hyung sudah mengajaknya?"

"Siapa?"

Taesoo berhenti melangkah. "Bukankah waktu itu Hyung bilang Hyung mau menghabiskan Natal bersama seseorang? Tapi waktu itu Hyung belum mengajaknya. Jadi apakah Hyung sudah mengajaknya sekarang?"

Jongin juga menghentikan langkah. Ia menatap Taesoo sejenak, lalu tersenyum. "Oh, itu." Kemudian ia kembali melanjutkan langkah.

Taesoo menyusulnya. "Ya, yang itu. Jadi?"

"Aku akan mengajaknya malam ini."

"Hyung masih belum mengajaknya?"

"Sudah kubilang, aku akan bertanya padanya malam ini."

"Hyung sudah lupa kata-kataku tentang bergerak cepat?"

"Astaga, anak ini! Bukankah sudah kubilang..."

"Eh, itu mobil siapa?"

Jongin menahan omelannya dan memandang lurus ke depan. Sebuah mobil hitam berhenti di depan gedung apartemen mereka, tidak begitu jauh dari mereka. Pintu di sisi pengemudi terbuka dan seorang laki-laki yang mengenakan jaket cokelat panjang keluar.

Alis Jongin terangkat. Oh? Bukankah itu Park Chanyeol, pikirnya sambil menyipitkan mata untuk melihat lebih jelas. Ada apa temannya itu datang mencarinya?

Jongin baru akan mempercepat langkah ketika pintu sisi penumpang terbuka dan seorang gadis melangkah keluar. Jongin berhenti melangkah dan mengerjapkan mata ketika mengenali gadis itu.

Do Kyungsoo?

"Oh? Bukankah itu Kyungsoo Eonnie?" Jongin mendengar Taesoo bertanya.

"Lalu siapa orang yang bersamanya itu?"

Jongin tidak menjawab. Ia sendiri juga heran. Kyungsoo dan Chanyeol?

"Jangan-jangan dia si dokter itu," sela Taesoo tiba-tiba.

Jongin menoleh ke arah Taesoo di sampingnya. "Siapa?"

"Cinta pertama Kyungsoo Eonnie. Yang meneleponnya ketika kita semua sedang makan Seolleongtang di rumah Kakek Hong."

Kepala Jongin berputar kembali menatap Kyungsoo dan Chanyeol yang berdiri berhadapan. Mereka sedang asyik membicarakan sesuatu, lalu tertawa.

Benar juga. Kyungsoo pernah memberitahunya nama cinta pertamanya adalah Chanyeol dan berprofesi sebagai dokter. Mungkinkah Chanyeol yang menjadi cinta pertama Kyungsoo adalah orang yang sama dengan Chanyeol yang adalah teman lama Jongin? Ditambah lagi, tadi Chanyeol menyebut-nyebut tentang wanita yang baru dikenalnya. Apakah wanita yang dimaksudnya itu Kyungsoo?

Taesoo kembali bersuara. "Kelihatannya hubungan mereka sudah dekat. Hyung, menurutmu apakah mereka berken..."

"Taesoo," sela Jongin tiba-tiba.

"Ya?"

"Ayo, kutraktir minum."

Jongin sama sekali tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Ia butuh waktu untuk mencerna apa yang dilihatnya tadi. Ia berharap sedikit soju bisa membantu menjernihkan pikirannya.

"Hoi, kau baik-baik saja?" tanya Jongin pada Taesoo yang berjalan dengan ceria di sampingnya. Mereka tidak berlama-lama di kedai minum karena Jongin tidak mau berjalan pulang sambil menggendong Taesoo. Baru setengah jam di kedai itu Taesoo sudah harus berpegangan pada meja supaya tidak jatuh dari kursi. Anak itu benar-benar tidak kuat minum.

Taesoo tersenyum lebar—terlalu lebar—dan mengangguk berkali-kali. "Ah, tentu saja. Tentu saja. Aku sangat baik. Memangnya kenapa?"

Jongin memandangi Taesoo, lalu mendesah, "Kakakmu pasti akan menggantungku kalau melihatmu mabuk begitu."

Taesoo tertawa. "Jongin Hyung, aku tidak mabuk. Lihat, aku masih bisa berjalan lurus. Lihat? Lihat?" Ia merentangkan kedua tangan ke samping dan berjalan lurus dengan langkah lebar di jalanan yang sepi itu untuk membuktikan kata-katanya.

"Ya, ya, ya. Tapi hati-hati dengan tiang lampu di depanmu," kata Jongin.

Taesoo berhenti tepat pada waktunya sebelum hidung mancungnya

menabrak tiang lampu. Ia menoleh ke arah Jongin dan tertawa. "Aku melihatnya kok."

Jongin hanya menggeleng-geleng pasrah. Ia kembali berjalan dan Taesoo menyusulnya dari belakang.

"Paman ini apa-apaan?"

Jongin dan Taesoo serentak menoleh ke arah suara wanita bernada tinggi itu. Tidak jauh di depan mereka terlihat seorang wanita dan seorang pria sedang bertengkar. Si pria berusaha menarik tangan si wanita sementara si wanita memberontak.

Sedetik kemudian Taesoo berseru, "Eonnie!" dan langsung berlari ke arah kedua orang itu sebelum Jongin sempat mencegahnya.

Eonnie? Jongin segera menyadari kalau wanita yang sedang ditarik-tarik itu adalah Jun Jiwon. Jiwon terlihat sedang berusaha membebaskan diri dari cengkeraman si pria tak dikenal. Dalam sekejap Taesoo sudah tiba di samping mereka dan berseru, "Lepaskan tanganmu!"

Segalanya terjadi begitu cepat di depan mata Jongin. Bersamaan dengan teriakan itu, Taesoo juga melayangkan tinjunya ke rahang pria yang menarik-narik kakaknya.

Namun pria itu tidak tersungkur seperti yang diharapkan Taesoo. Pria itu masih tetap berdiri, malah ia menggeram dan balas melayangkan tinju.

Taesoo pun terjatuh ke tanah diikuti pekikan kakaknya.

"Jangan ikut campur, bocak tengik!" seru pria itu serak.

"Astaga," gumam Jongin, dan langsung berlari ke arah mereka. Ia berhasil mencapai ketiga orang itu tepat ketika si pria tak dikenal bermaksud menendang Taesoo yang masih terkapar di tanah. Jongin langsung menahan dada pria itu dan mendorongnya ke belakang.

"Siapa lagi kau?" seru pria itu marah. "Cari mati ya?"

Jongin menoleh ke arah Jiwon yang berlutut di samping adiknya. "Jiwon-ssi, kau tidak apa-apa?"

"Jongin-ssi," bisik Jiwon dengan mata terbelalak, lalu melanjutkan dengan cepat, "Ya, aku baik-baik saja. Orang gila ini bersikap kurang ajar terhadapku dan dia tadi meninju Taesoo."

"Sebaiknya kau minggir. Urusi urusanmu sendiri," ancam pria itu dengan rahang terkatup. Ia menatap Jongin dengan mata disipitkan.

Kini Jongin bisa melihat dengan jelas wajah pria itu. Usianya mungkin sekitar pertengahan sampai akhir tiga puluhan dan bertubuh agak kurus. Jongin memerhatikan penampilan pria itu: pakaiannya bagus, sepatunya bagus, ada beberapa cincin emas melingkari jari-jari tangannya. Mata Jongin terangkat ke wajah pria itu. Wajahnya agak seram karena penuh kerutan marah. Alis matanya lebat—berlawanan dengan rambutnya yang terlihat tipis di puncak kepalanya, membuatnya terlihat lebih tua daripada usia sebenarnya—dan matanya kecil, hidungnya agak bengkok, bibirnya

tipis dan berkerut.

Dia mabuk, pikir Jongin ketika melihat pria itu melangkah agak terhuyung-huyung mendekatinya.

"Tapi ini teman-temanku, jadi ini juga urusanku," kata Jongin tenang. Ia menatap lurus ke dalam mata pria itu.

"Hah!" Pria itu mendengus keras. Ia menunjuk Taesoo yang masih mengerang pelan di tanah. "Dia menyerangku, aku hanya membalasnya." Ia beralih menunjuk hidung Jiwon. "Dan tentang perempuan jalang ini, dia yang menggodaku lebih dulu."

"Hei, Paman mimpi ya?" sela Jiwon galak dengan dagu terangkat tinggi. "Seharusnya Paman becermin dulu. Mana mungkin aku menggodamu?"

Pria itu mengangkat tangan kanannya. "Dasar perempuan..."

Jongin bergerak ingin menghalanginya, tetapi telapak tangan pria itu malah mendarat di pipinya.

"Jongin-ssi!" pekik Jiwon.

Jongin memegangi pipinya dan mengernyit. Ia bisa merasakan darah di lidahnya.

Sialan, pukulan orang itu kuat juga. Untung giginya tidak patah. Jongin menegakkan tubuh dan menatap pria di depannya.

Pria itu mengangkat hidungnya tinggi-tinggi dan menantang. "Apa? Mau lagi? Mau lagi? Ayo ke sini kalau mau."

Orang itu mabuk, kesal, dan tidak bisa berpikir jernih. Ia tidak mungkin bisa diajak bicara baik-baik. Jongin mendesah. Kalau begitu hanya ada satu cara.

Kyungsoo menonton televisi di ruang duduk apartemennya tanpa minat. Ia baru saja pulang dari makan malam bersama Chanyeol. Acara mereka memang terputus karena Chanyeol mendapat panggilan dari rumah sakit, tapi Kyungsoo tetap merasa kebersamaan mereka yang singkat itu sangat menyenangkan. Ia ingin mencari teman berbagi cerita.

Masalahnya apartemen Jiwon kosong. Bahkan Jongin juga tidak ada di rumah. Biasanya jam-jam segini Jiwon sudah ada di apartemennya, menyiapkan makan malam untuk adiknya. Kemana mereka semua?

Kemudian Kyungsoo mendengar suara-suara di luar. Ia segera mematikan televisi dan bangkit dari lantai. Mungkin itu Jiwon sudah pulang. Atau mungkin Jongin? Kyungsoo membuka pintu dan melongokkan kepala ke luar.

"Kau mau masuk, Jongin-ssi?" Kyungsoo mendengar suara Jiwon di lantai bawah.

"Tidak perlu. Aku naik saja." Kali ini suara Jongin.

"Tapi itu..."

"Ah, ini? Tidak apa-apa. Tidak usah dipikirkan," sela Jongin, lalu tertawa kecil.

"Kelihatannya justru Taesoo yang harus diurus."

"Aku tidak apa-apa," Taesoo membantah.

"Apanya yang tidak apa-apa?" potong Jiwon. "Lihat pipimu memar begitu. Tapi Jongin-ssi, kau juga berdarah."

Berdarah? Mendengar itu Kyungsoo langsung keluar dari apartemennya dan bergegas menuruni tangga ke lantai bawah.

"Oh, Kyungsoo," kata Jiwon yang melihat Kyungsoo lebih dulu, lalu yang lain ikut menoleh.

"Ada apa, Eonnie?" tanya Kyungsoo sambil memandang mereka bertiga bergantian, lalu terkesiap pelan ketika melihat wajah Taesoo dan Jongin. "Kalian berdua kenapa?"

"Tadi ada orang sinting yang menggangguku di jalan," Jiwon yang menjawab dengan nada berapi-api. "Seenaknya saja dia menarik-narik aku seolah-olah aku ini wanita gampangan. Untung saja mereka berdua muncul." Ia menunjuk Jongin dan adiknya. "Taesoo langsung meninju orang itu setelah berteriak, "Jangan sakiti kakakku!"‟

"Aku tidak bilang begitu," protes Taesoo salah tingkah. "Aku hanya bilang, "Lepaskan tanganmu.‟"

"Tapi aku tahu maksud hatimu yang sebenarnya," balas Jiwon sambil mengacak-acak rambut adiknya. Lalu ia kembali menatap Kyungsoo. "Tapi orang itu balas memukul Taesoo dan Taesoo langsung terkapar. Saat itulah Jongin-ssi beraksi."

Kyungsoo berpaling ke arah Jongin. Sudut bibir laki-laki itu terluka. "Kau juga dipukul?" tanya Kyungsoo khawatir.

"Cuma sekali," sela Jiwon bahkan sebelum Jongin sempat membuka mulut. "Lalu Jongin-ssi membuat orang itu lari terbirit-birit."

Kyungsoo menatap Jongin lagi. "Bagaimana bisa?"

Masih Jiwon yang menjawab, "Sabuk hitam karate."

Alis Kyungsoo terangkat. Jongin menatapnya dan tersenyum lebar, lalu ia menggeleng. "Tidak juga. Hanya sedikit-sedikit."

"Tapi orang itu sempat mengancam Jongin Hyung sebelum dia pergi," kata Taesoo.

"Sebaiknya kau cepat masuk dan kompres pipimu," sela Jongin.

"Benar. Ayo, masuk," kata Jiwon sambil mendorong adiknya masuk ke

apartemen mereka.

Kyungsoo membuka mulut. "Tapi..."

"Kau mau naik atau tidak?" panggil Jongin yang sudah mulai menaiki tangga. Kyungsoo menatap Jongin, lalu ke arah Jiwon dan Taesoo, lalu kembali ke Jongin. Akhirnya ia menyerah dan mengikuti Jongin ke atas.

Jongin menyentuh pipinya dan meringis pelan. Pipinya pasti bengkak besok. Ck, malam ini benar-benar kacau. Ketika ia berhenti di depan pintu apartemennya dan mengeluarkan kunci ia mendengar Kyungsoo bertanya dengan nada khawatir, "Apa maksud Taesoo tadi?"

"Apanya?" Jongin balik bertanya. Ia masuk ke apartemennya dan Kyungsoo mengikutinya dari belakang.

"Katanya orang itu mengancammu." Kyungsoo melepas sepatunya dan mengenakan sandal Pororo-nya sebelum memasuki apartemen Jongin.

"Hanya gertakan kosong," gumam Jongin sambil melepas syal, jaket, dan topinya. Ia berbalik menghadap Kyungsoo. "Tidak usah dipikirkan."

Ia melihat Kyungsoo menatapnya dengan kening berkerut.

"Kenapa?" tanya Jongin. "Ada sesuatu di wajahku?"

"Sudut bibirmu mulai membiru," gumam Kyungsoo muram. "Biar kuambilkan obat."

Ketika gadis itu hendak berjalan ke pintu, Jongin meraih pergelangan tangannya.

"Tidak perlu repot-repot," katanya lelah. "Aku juga punya obat. Kepalaku sakit kalau kau mondar-mandir. Duduk saja yang manis."

Kyungsoo menurut. Ia duduk di samping Jongin di sofa dan menatap wajahnya untuk mencari luka lain. "Kau terluka di mana lagi?" tanyanya. "Kepala? Kau bilang kepalamu sakit."

"Kepalaku tidak terluka. Hanya pusing sedikit."

"Tangan?"

"Tidak."

"Kaki?"

"Tidak."

"Badanmu?"

Jongin tertawa pendek. "Kyungsoo, aku baik-baik saja." Melihat kening Kyungsoo yang berkerut tidak percaya, ia melanjutkan, "Sungguh! Atau kau mau aku membuka baju untuk meyakinkanmu?"

Kyungsoo mendengus, lalu bertanya, "Kau sudah makan?"

Jongin tidak langsung menjawab. Ia menatap Kyungsoo sejenak, lalu memalingkan wajah dan mendesah. "Tadinya aku mau mengajakmu makan."

"Ah, aku pergi makan dengan Dokter Park," kata Kyungsoo langsung tanpa ditanya. Senyumnya mengembang.

"Dokter Park?"

Kyungsoo menegakkan punggung dan menatap Jongin dengan mata berbinar-binar. "Aku sudah pernah bercerita padamu tentang dia, bukan? Cinta pertamaku? Namanya Park Chanyeol."

Mendengar nama itu Jongin mendesah pelan. Ia mengangguk-angguk pelan dengan pandangan kosong dan bergumam tidak jelas.

"Dulu, sewaktu aku pertama kali bertemu dengannya tiga belas tahun yang lalu, aku sama sekali tidak tahu dia orang yang seperti apa," Kyungsoo melanjutkan sambil melamun.

"Hm."

"Tapi sekarang aku tahu dia orang yang menyenangkan."

"Hm."

"Juga pintar."

"Aku haus," sela Jongin tiba-tiba.

Kyungsoo terdiam sejenak, lalu berkata, "Biar kuambilkan air."

Sebelum gadis itu sempat bangkit dari sofa, Jongin sudah mendahuluinya dan berjalan ke dapur. Ia kesal. Bagaimana gadis itu bisa membicarakan Park Chanyeol di depannya seperti itu? Tapi, tentu saja, Kyungsoo sama sekali tidak tahu bagaimana perasaan Jongin.

Merasa agak bersalah karena telah memotong cerita Kyungsoo, Jongin menoleh ke arahnya dan bergumam, "Bisa kulihat kau sangat gembira. Aku juga ikut senang."

Kyungsoo tersenyum. "Ya, memang."

Jongin mengisi gelas dengan air keran dan langsung meneguknya sampai habis.

"Sebentar lagi Natal," kata Kyungsoo tiba-tiba.

Jongin menoleh ke arah Kyungsoo. Karena tidak tahu apa yang harus dikatakannya, ia hanya menunggu gadis itu melanjutkan.

"Dokter Park mengajakku menonton pertunjukan balet pada malam Natal nanti," kata Kyungsoo sambil menatap Jongin. "Swan Lake."

Jongin mengerang dalam hati. Tidak, jangan lagi. Jongin mengerutkan kening. "Swan Lake?" ulangnya sambil meletakkan gelas ke meja.

Kyungsoo mengangguk dan Jongin menyumpah dalam hati.

"Kau ada rencana apa untuk malam Natal nanti, Jongin?" tanya Kyungsoo.

Untuk apa mengatakan pada Kyungsoo bahwa ia juga punya tiket pertunjukan balet yang sangat ingin ditonton gadis itu? Akhirnya Jongin hanya berkata singkat, "Pergi jalan-jalan."

Alis Kyungsoo terangkat heran. "Kemana?"

Jongin memaksakan seulas senyum. "Aku belum tahu," katanya sambil mengangkat bahu. "Kuharap kau bersenang-senang nanti."

Kyungsoo hanya menatapnya sejenak, lalu mengangguk pelan.

Jongin menghela napas dalam-dalam dan menunduk. "Aku capek," katanya. "Sepertinya aku ingin tidur sekarang."

"Kalau begitu, istirahatlah," kata Kyungsoo sambil berdiri dari sofa. Ia tersenyum lebar dan mengangkat sebelah tangannya. "Sampai jumpa besok."

Jongin melihat gadis itu keluar dari apartemennya dan menutup pintu. Sekali lagi ia menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Ia sudah terlambat. Terlambat. Seharusnya ia tidak menunggu selama ini untuk mengajak gadis itu keluar. Tetapi waktu itu ia berpikir sebaiknya ia mendapatkan tiket pertunjukan itu terlebih dahulu sebelum mengatakannya pada Kyungsoo. Sekarang ia harus menerima hasil dari keputusannya yang bodoh.

Gadis itu akan pergi dengan Park Chanyeol. Kenyataan bahwa Chanyeol adalah teman baiknya malah membuat Jongin semakin kesal.

Sepertinya sejarah terulang kembali. Ia tertarik pada gadis yang justru tertarik pada teman baiknya.

To Be Continued