Winter In Tokyo (Kaisoo Remake)
Novel by Illana Tan
Kaisoo
GS
Korean Version
Cerita bukan milikku. Aku hanya mengubah latar tempat dan menghapus beberapa hal yang menurutku nggak penting. Semoga kalian menikmatinya.
Happy Reading
…
Kyungsoo melirik kalender di meja kerjanya. Tanggal 24 Desember. Ia mendesah pelan, lalu mengalihkan perhatiannya ke tumpukan buku yang baru dikembalikan hari ini. Ia harus mengembalikan semua buku itu ke rak masing-masing. Tetapi ia merasa tidak bertenaga. Padahal hari ini seharusnya ia merasa bersemangat. Nanti malam ia akan pergi makan malam dengan Park Chanyeol, lalu mereka akan pergi menonton pertunjukan balet yang sangat ingin ditontonnya. Ya, seharusnya hari ini ia merasa senang.
Semua ini gara-gara Kim Jongin, pikir Kyungsoo geram. Ada di mana Jongin sekarang? Sudah tiga hari terakhir ini Kyungsoo tidak bertemu dengannya. Terakhir kali mereka bertemu adalah malam itu di apartemen Jongin, ketika Kyungsoo bercerita tentang Park Chanyeol yang mengajaknya pergi menonton pertunjukan balet. Setelah itu Kyungsoo tidak melihatnya lagi.
Tentu saja Kyungsoo sudah berusaha menghubungi ponsel Jongin, tetapi benda itu ternyata tidak dinyalakan. Awalnya ia merasa jengkel karena Jongin pergi tanpa berkata apa-apa. Kemudian kejengkelannya berubah menjadi kecemasan. Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Jongin? Bagaimana kalau... Stop! Ia tidak sanggup berpikir jauh sampai pada kemungkinan kalau Jongin bisa terluka atau semacamnya. Sebaiknya ia berpikir Jongin terlalu sibuk untuk meneleponnya. Ya, itu lebih baik.
Dengan tekad baru, Kyungsoo bangkit dan berjalan ke arah troli berisi buku-buku yang harus dikembalikan ke rak. Sebaiknya ia melakukan tugasnya sebelum atasannya memutuskan untuk memecatnya karena kedapatan melamun sepanjang hari. Setelah itu, ia akan pulang dan bersiap-siap untuk kencannya malam ini. Ia tidak akan memikirkan tetangganya yang menjengkelkan itu lagi selama sisa hari ini.
…
Jongin memperbaiki letak tali ransel yang meluncur dari bahu kanannya tanpa memperlambat langkah. Sesekali ia mengembuskan napas perlahan. Sebenarnya ia berencana melewatkan Hari Natal bersama kakeknya di Uljin, tetapi ternyata kakeknya akan terbang ke New York malam ini. Lalu apa yang harus dilakukannya sekarang? Kelihatannya ia memang harus melewatkan malam Natal sendirian. Menyedihkan sekali.
"Jongin."
Mendengar namanya dipanggil, Jongin mendongak dan menoleh ke belakang. Alisnya terangkat begitu melihat siapa yang memanggilnya. "Oh, Chanyeol."
Park Chanyeol tersenyum cerah dan berhenti tepat di depan Jongin. "Kebetulan sekali bertemu denganmu di sini. Aku sudah berusaha meneleponmu berkali-kali."
Ya, kebetulan sekali, pikir Jongin dalam hati. Kenapa ia harus kebetulan bertemu dengan Chanyeol di sini? Ia melihat berkeliling dan menyadari tempat ini tidak jauh dari rumah sakit tempat Chanyeol bekerja. "Maaf," sahutnya. "Ponselku rusak. Ada apa kau mencariku?"
"Aku hanya ingin memberitahumu kalau reuni sekolah kita diadakan tanggal sepuluh Januari nanti," kata Chanyeol. Ia melihat ransel besar Jongin dan bertanya, "Kau mau ke mana?"
Jongin melirik ranselnya dan tersenyum. "Ah, tidak. Aku justru baru kembali dari luar kota. Menjenguk kakekku," jelasnya, lalu memandang pakaian santai temannya dan bertanya, "Kau sendiri tidak bekerja hari ini?"
"Shift-ku sudah selesai," sahut Chanyeol sambil tersenyum lebar. "Sekarang aku akan pulang dan bersiap-siap untuk malam ini."
Ah, benar juga... Chanyeol akan pergi dengan Kyungsoo malam ini. Pikiran itu membuat kening Jongin berkerut samar.
Tiba-tiba ponsel Chanyeol berdering. "Maaf," katanya kepada Jongin sambil mengeluarkan ponsel dan berjalan menjauh dari Jongin.
Jongin masih sibuk dengan pikirannya. Bagaimana kalau ia pergi juga ke pertunjukan balet itu dan menemui mereka di sana? Kalau mereka bertanya kenapa ia ada di sana, ia bisa beralasan bahwa... Tidak, tidak. Kyungsoo sudah menantikan saat-saat seperti ini dengan Park Chanyeol dan Jongin tidak tega merusak kegembiraan gadis itu.
Chanyeol menghampirinya kembali, membuyarkan lamunannya. Ia menoleh menatap temannya yang sedang menarik napas panjang. "Ada masalah?" tanya Jongin.
"Itu tadi telepon dari rumah sakit," sahut Chanyeol sambil menggeleng pelan dan mengembuskan napas keras. "Kyungsoo-ssi tidak akan suka ini."
…
Kyungsoo menutup ponsel dan berkacak pinggang sambil memandangi pakaian yang berserakan di tempat tidurnya. Sepanjang sore ia sudah berusaha memilih pakaian yang akan dikenakannya malam ini, dan tepat ketika ia sudah memilih pakaian yang cocok, Park Chanyeol meneleponnya untuk membatalkan janji.
Ia kecewa, tentu saja, tapi ia tidak bisa menyalahkan laki-laki itu. Park Chanyeol tiba-tiba dipanggil kembali ke rumah sakit karena salah seorang pasiennya mendadak kritis dan harus segera menjalani operasi. Kyungsoo tidak mungkin menunjukkan kekecewaannya kepada Chanyeol kalau hidup dan mati seseorang sedang dipertaruhkan di sini.
Sambil mendesah berat, Kyungsoo mulai membereskan pakaian-pakaiannya. Apakah ini artinya ia akan melewatkan malam Natal ini sendirian? Aduh, menyedihkan sekali.
Jiwon dan Taesoo sudah pasti akan merayakan Natal bersama teman-teman mereka. Sedangkan Jongin menghilang entah ke mana. Memikirkan tetangganya itu lagi-lagi membuat Kyungsoo khawatir. Di mana Jongin?
…
Jongin hampir tidak memercayai telinganya sendiri ketika Chanyeol memberitahunya bahwa ada seorang pasiennya tiba-tiba kritis sehingga ia harus kembali ke rumah sakit dan membatalkan kencannya malam ini.
Jongin tiba-tiba tidak bisa menahan semangatnya. Ia meninggalkan Chanyeol ketika temannya itu sedang menelepon Kyungsoo untuk meminta maaf, dan cepat-cepat pulang.
Kini ia berdiri di depan pintu apartemen Kyungsoo. Napasnya agak terengak. Ia tidak tahu apakah gadis itu ada di rumah atau tidak. Rasanya aneh kalau sekarang ia tiba-tiba mengetuk pintu apartemen Kyungsoo. Ia memang sengaja pergi ke Uljin begitu saja tanpa berkata apa-apa pada Kyungsoo. Waktu itu ia sedang kesal, tetapi kemudian ia agak menyesali sikapnya yang kekanak-kanakan. Ketika ia ingin menelepon Kyungsoo, ia mendapati kucing peliharaan kakeknya mendorong-dorong ponselnya sampai masuk ke kolam ikan.
Akhirnya setelah berpikir beberapa saat, Jongin mendapat gagasan. Ia mengeluarkan kunci apartemennya sendiri dari saku jaket dengan berisik, lalu berjalan ke pintu apartemen 201. Ia memasukkan kunci ke lubang kunci dan memutarnya dengan suara keras. Ia berhenti sejenak, memasang telinga. Terdengar bunyi samar dari balik pintu apartemen 202, bunyi langkah kaki tergesa-gesa yang semakin jelas. Jongin pun tersenyum. Satu detik kemudian terdengar bunyi pintu dibuka dan...
"Jongin?"
Sambil memasang wajah polos tak berdosa, Jongin menoleh dan melihat Do Kyungsoo berdiri di ambang pintu apartemennya. "Oh, Kyungsoo. Hai."
Awalnya gadis itu diam saja, hanya menatap Jongin dengan matanya yang bulat. Jongin berputar menatapnya ketika Kyungsoo tidak menjawab. "Hoi, Kyungsoo, ada apa denganmu?"
Kali ini Kyungsoo mendengus. "Ada apa denganku?" ia balas bertanya dengan nada rendah. "Ada apa denganku?!"
Jongin mengangkat alis. O-oh, gadis itu marah.
"Kau masih berani bertanya ada apa denganku?" Suara Kyungsoo mulai meninggi. Ia berderap ke arah Jongin yang masih kebingungan dan berdiri tepat di hadapannya sambil berkacak pinggang. "Ke mana saja kau selama ini? Menghilang begitu saja tanpa bilang-bilang. Bahkan ponsel juga tidak bisa dihubungi. Kau tahu pikiranku suka melantur ke mana-mana. Aku mengira kau tergeletak tidak sadarkan diri di selokan entah di mana karena baru dirampok. Atau kau bisa saja mengalami kecelakaan lalu lintas dan sekarang sedang koma. Atau... atau... Kenapa senyum-senyum?"
Gadis itu mengkhawatirkannya, Jongin yakin akan hal itu. Karenanya ia tidak bisa menahan diri. "Kau tidak kedinginan?" tanyanya polos.
Kyungsoo menunduk memandangi sweternya dan berdeham. "Tidak juga," balasnya sambil menyilangkan tangan di depan dada.
Jongin menggerakkan kepalanya sedikit ke arah apartemennya. "Masuklah," katanya, "lalu kau boleh melanjutkan omelanmu. Bagaimana?"
Sambil menggerutu tidak jelas, Kyungsoo mengikuti Jongin masuk ke apartemennya dan mengenakan sandal Pororo seperti biasa. "Kemana saja kau tiga hari ini?" tanya Kyungsoo lagi sementara Jongin melemparkan ranselnya ke sofa dan menyalakan pemanas ruangan.
"Uljin," sahut Jongin sambil berjalan ke kamar tidurnya. Suaranya terdengar samar ketika ia berbicara dari kamar. "Mengunjungi kakekku."
"Uljin?" tanya Kyungsoo ragu. Lalu bertanya lagi," Kenapa ponselmu dimatikan?"
Jongin keluar dari kamar. Jaket tebal dan syalnya sudah dilepas. "Ponselku rusak. Sekarang sedang diperbaiki," jawabnya singkat. Ia merebahkan dirinya ke sofa dan menyalakan televisi dengan remote control, kemudian ia menoleh ke arah Kyungsoo yang masih berdiri di samping sofa. "Kenapa meneleponku?"
"Tidak apa-apa," sahut Kyungsoo cepat. "Untuk memastikan kau baik-baik saja." Ia diam sesaat, lalu menambahkan, "Karena kau pergi tanpa bilang-bilang padaku."
Jongin menatap gadis itu dengan alis terangkat. "Aku tidak tahu bahwa aku harus memberitahumu ke mana aku pergi. Sejak kapan kita pacaran?"
"Itu..." Kyungsoo membuka mulut, tapi cepat-cepat menutupnya kembali. Ia tidak bisa menemukan balasan yang tepat. Ia hanya bisa menatap Jongin yang tersenyum lebar dan mendecakkan lidah. "Lalu...," ia berdeham, "kenapa kau pulang secepat ini? Kenapa tidak merayakan Natal bersama kakekmu?"
Jongin mengembuskan napas panjang dan memasang tampang sedih. "Aku juga ingin menghabiskan Natal di sana. Di sini sepi sekali, tidak ada yang menemaniku. Kau juga akan pergi kencan dengan dokter itu. Tapi ternyata kakekku akan berangkat ke New York malam ini." Ia melirik Kyungsoo sekilas. "Ngomong-ngomong, kenapa kau belum bersiap-siap?" tanyanya, pura-pura tidak tahu-menahu soal kencan Kyungsoo yang dibatalkan.
"Kencannya batal," gumam Kyungsoo dan menjatuhkan pantatnya di sofa di samping Jongin. Lengannya masih disilang di depan dada. Ia terlihat sebal. "Ada pasien yang sedang gawat, jadi dia harus tetap di rumah sakit."
Jongin hanya bisa bergumam, "Oh..." dan mengangguk-angguk.
Kyungsoo menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan keras. "Ini akan menjadi Natal paling menyedihkan dalam hidupku," keluhnya lesu. "Semua orang pergi dengan pacar mereka, bersenang-senang menyambut Natal. Lalu aku?" Ia mengerang kesal.
Jongin mengusap rahangnya, lalu berkata, "Kau mau pergi kencan denganku malam ini?"
Kepala Kyungsoo berputar cepat ke arah Jongin. "Apa?"
"Kau mau pergi kencan denganku malam ini?" ulang Jongin. "Bukankah kita sama-sama tidak punya acara?"
"Kencan?"
Jongin mengangkat bahu. "Ya. Kau tahu, pergi makan malam dan semacamnya. Itu dinamakan kencan, bukan?"
Kyungsoo tersenyum lebar. Setidaknya ia tidak perlu melewatkan malam Natal menonton televisi sendirian di apartemennya. "Oke! Oke! Kita akan ke mana?" serunya penuh semangat.
"Ah, itu akan menjadi kejutan," kata Jongin sambil menyunggingkan senyum lebar yang memikat itu. "Sekarang kau hanya perlu bersiap-siap. Satu jam lagi aku akan menjemputmu."
Kyungsoo tertawa. "Menjemput," katanya. "Kau membuatnya terdengar begitu romantis, padahal aku hanya tinggal di seberang apartemenmu. Kau hanya perlu berjalan lima langkah dari pintumu ke pintuku." Ia berdiri dari sofa. "Tapi aku suka laki-laki yang sopan dan penuh perhatian seperti itu."
"Kyungsoo." Kyungsoo mendengar Jongin memanggilnya ketika ia mencapai pintu depan apartemen laki-laki itu.
Kyungsoo berputar. "Hm?"
Jongin berdiri dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana jinsnya. "Berhati-hatilah," katanya dengan nada serius, namun matanya tersenyum.
"Hati-hati? Terhadap apa?" tanya Kyungsoo was-was.
Senyum lebar tersungging di bibir Jongin. "Setelah kencan ini, kau mungkin akan jatuh cinta padaku."
Kyungsoo mengangkat alis. Jelas mengira Jongin hanya bercanda, akhirnya ia mendengus pelan dan berkata, "Tenang saja. Tidak akan terjadi."
To Be Continued
