Winter In Tokyo (Kaisoo Remake)

Novel by Illana Tan

Kaisoo

GS

Korean Version

Cerita bukan milikku. Aku hanya mengubah latar tempat dan menghapus beberapa hal yang menurutku nggak penting. Semoga kalian menikmatinya.

Happy Reading

Denting bel pintu membuat Kyungsoo mengalihkan perhatiannya dari kesibukannya membungkus biskuit-biskuit cokelat yang akan diberikannya kepada Jongin sebagai hadiah Natal. Kyungsoo mengelap tangan di handuk yang tergantung di dekat lemari dan beranjak ke pintu. "Bukankah dia bilang satu jam lagi?" gumamnya pada diri sendiri.

Tetapi begitu membuka pintu, ia tidak melihat siapa pun di sana. "Siapa yang membunyikan bel pintu?" tanyanya heran. Ia mengerjap-ngerjapkan mata dan mulai berpikir yang tidak-tidak. Orang iseng? Tetapi tidak terdengar suara atau bunyi apapun di luar sana. Jangan-jangan... Jangan-jangan... Tidak, tidak. Kyungsoo memejamkan mata dan menggeleng cepat. Ia tidak akan berpikir tentang hantu atau semacamnya. Tidak...

Ketika ia membuka mata kembali, barulah ia melihat sebuah kantong kertas merah muda berhias pita merah yang diletakkan di lantai depan pintunya. "Oh? Apa itu?" Ia membungkuk dan memungut kantong itu. Sebuah kartu kecil tergantung di pegangan talinya. Senyum Kyungsoo merekah begitu membaca tulisan di sana. Hadiah Natal untukmu, Do Kyungsoo. Semoga kau merasa hangat pada Hari Natal ini. Kim Jongin.

Mata Kyungsoo menangkap secarik lain kertas kecil yang ditempelkan di kantong kertas itu. Aku pergi mengambil kereta kuda untuk menjemputmu. Tunggu saja di sini.

Masih tetap tersenyum, Kyungsoo menutup pintu dan masuk kembali ke apartemennya. Ia meletakkan kantong kertas itu di meja dan membuka pita merahnya dengan hati-hati. Dengan penasaran ia mengeluarkan sebuah kotak putih dan membuka tutupnya. Mata bulatnya melebar melihat isi kotak itu. Sepasang sarung tangan wol merah, topi wol merah, syal merah, dan penghangat telinga yang juga berwarna merah. Masing-masing memiliki nama Kyungsoo yang dijahit dengan benang berwarna emas. Kyungsoo mengenakan sarung tangan merah itu dan mengacungkan tangannya untuk mengagumi rasanya yang lembut dan hangat. Ia juga mencoba topi, syal, dan penghangat telinganya, lalu berlari ke kamar tidur dengan gembira untuk mematut diri di depan cermin. Jongin memiliki selera yang bagus, puji Kyungsoo dalam hati. Ia menepuk-nepuk pipinya dengan tangannya yang terbungkus sarung tangan sambil tersenyum.

"Bagaimana penampilanku?" tanya Kyungsoo ketika Jongin datang menjemputnya satu jam kemudian. Ia memutuskan mengenakan topi, syal, dan sarung tangan pemberian Jongin, dan memadukan semuanya dengan jaket panjang putih.

Jongin memandanginya dari ujung kepala ke ujung kaki dan tersenyum. "Sejauh ini, di antara semua teman kencanku di Korea, kau yang paling cantik," pujinya.

Kyungsoo meringis. "Sejauh ini memang hanya aku satu-satunya orang yang pernah berkencan denganmu di Korea," balasnya. Lalu ia menambahkan, "Hadiah Natalnya... terima kasih."

"Aku senang kau menyukainya," sahut Jongin ringan. Kemudian ia membawa Kyungsoo ke sedan putih yang diparkir di depan gedung apartemen. "Masuklah," katanya.

Alis Kyungsoo terangkat. "Kau punya mobil?"

"Aku ingin bilang begitu," sahut Jongin, "tapi bukan, aku meminjam mobil temanku."

Kyungsoo masuk ke mobil dan memasang sabuk pengaman. Ketika Jongin juga sudah duduk di balik kemudi, Kyungsoo mengacungkan kantong kain bermotif hiasan Natal berwarna merah dan putih ke depan wajah Jongin.

"Apa ini?" tanya Jongin.

"Hadiah Natal," sahut Kyungsoo sambil tersenyum lebar.

Jongin tertawa dan menerima kantong itu. Ia membaca kartu yang tergantung dari tali kantong itu dengan suara keras, "Untuk orang yang berkata ada banyak hal indah akan terlihat sewaktu gelap. Dari tetangga yang paling manis sedunia." Ia mengangkat wajah menatap Kyungsoo dengan alis terangkat. "Tetangga paling manis sedunia?"

"Begitulah kenyataannya," kata Kyungsoo, lalu tertawa. "Ayo, bukalah. Aku membuatnya sendiri."

Jongin membuka kantong itu dan melihat isinya. Ternyata Kyungsoo membuat biskuit cokelat dengan berbagai bentuk dan berhias gula-gula, termasuk biskuit berbentuk pohon Natal yang bertuliskan Merry Christmas dan orang-orangan salju bertuliskan nama Jongin.

"Kau bisa membuat kue?" tanya Jongin sambil mengagumi bentuk-bentuk biskuit di dalam kantong itu.

Kyungsoo mengangguk. "Sedikit-sedikit," sahutnya. "Aku juga akan memberikan satu kantong untuk Dokter Park."

Kepala Jongin berputar ke arah Kyungsoo. "Kau akan memberinya biskuit yang sama?"

"Ya. Aku membuat banyak biskuit," kata Kyungsoo polos. "Aku juga akan memberikannya kepada Jiwon Eonnie, Taesoo, Kakek dan Nenek Hong, dan rekan-rekan kerjaku di perpustakaan."

Jongin memalingkan wajah dan mendesah. "Kau juga menuliskan pesan-pesan pribadi seperti ini?" tanyanya sambil mengacungkan kartu dan potongan biskuit bertuliskan namanya.

Kyungsoo diam sejenak, lalu berkata agak malu, "Tidak. Tidak sempat. Kurasa aku menghabiskan terlalu banyak waktu menghias biskuitmu sampai tidak sempat menghias biskuit yang lain. Jadi aku hanya memberi mereka biskuit polos dengan kartu ucapan Hari Natal."

Mendengar itu Jongin tersenyum, lalu mengangguk. "Bagus, setidaknya biskuitku lebih bagus daripada biskuit yang lain."

Alis Kyungsoo terangkat, tetapi ia diam saja. Jongin segera menyalakan mesin mobil dan mereka pun melaju meninggalkan gedung apartemen.

Mereka melaju mulus di jalan raya. Kyungsoo mengamati tangan Jongin yang memegang roda kemudi dengan ringan namun mantap. "Baru kali ini aku melihatmu menyetir," komentar Kyungsoo. "Aku juga baru tahu kau bisa menyetir."

Jongin tersenyum. "Ha! Kau terkesan padaku." Ia mengalihkan perhatiannya dari jalanan untuk sesaat, menoleh ke arah Kyungsoo. "Benar, kan? Benar?"

Kyungsoo tertawa dan memukul pelan lengan Jongin dengan punggung tangannya. "Perhatikan jalanan," katanya. "Dan untuk menjawab pertanyaanmu, tidak, aku tidak terkesan padamu."

"Oh, ya?" Jongin memiringkan kepalanya. "Padahal aku meminjam mobil ini untuk membuatmu terkesan. Tidak berhasil ya?"

Kyungsoo mengacungkan tangan dan menempelkan jari telunjuk dengan ibu jarinya. "Sedikiiiit terkesan." Ia tertawa lagi dan Jongin ikut tertawa. "Setidaknya kita tidak perlu naik kereta bawah tanah dan berdesak-desakan."

"Baiklah," kata Jongin mantap. "Mari kita lihat apakah kita bisa memperbaikinya." Kyungsoo mengangkat alis tidak mengerti, tetapi Jongin tidak menjelaskan lebih lanjut.

"Sungguh, kau tidak perlu membawaku ke tempat seperti ini," kata Kyungsoo dengan wajah berseri-seri dan senyum lebar ketika menyadari Jongin membawanya ke salah satu restoran terkenal di Gangnam, salah satu restoran kesukaan Kyungsoo sendiri.

Jongin meliriknya dan berkata, "Tapi melihat wajahmu sekarang, sepertinya pilihanku benar."

Seorang pelayan pria menempatkan mereka di salah satu meja di tengah ruangan. Kyungsoo memandang sekelilingnya dengan kagum. Restoran itu bagus dengan interior bergaya pedesaan Inggris yang nyaman dan hangat. Pohon Natal besar penuh hiasan diletakkan di sudut ruangan. Lagu Natal lembut mengalun di udara. Kyungsoo hanya pernah satu kali ke sini sebelumnya, bersama Sohyun, dan restoran ini langsung menjadi salah satu restoran favorit mereka. Ia menyukai lantai kayunya, taplak mejanya yang berwarna hijau, tirainya yang tebal, lilin kecil dalam gelas, dan setangkai mawar yang diletakkan di setiap meja.

Kyungsoo mendesah senang dan kembali menatap Jongin yang duduk di hadapannya. "Restoran ini memang kelihatannya nyaman, tapi makanan di sini mahal sekali. Percayalah padaku," bisiknya dengan nada penuh rahasia.

"Kau pernah datang ke sini?" tanya Jongin.

Kyungsoo mengacungkan jari telunjuknya. "Cuma satu kali, ketika restoran ini baru dibuka."

Pelayan yang tadi kembali membawakan menu. Setelah melihat sekilas daftar makanan dan harga yang tercantum di sana, Kyungsoo melirik Jongin dengan pandangan was-was, lalu melirik pelayan yang sedang menunggu, dan kembali ke Jongin. Kyungsoo mencondongkan tubuhnya ke depan dan menutupi sisi wajahnya yang menghadap si pelayan dengan buku menu. "Jongin," bisiknya pelan, supaya si pelayan tidak mendengar. "Kau yang traktir, bukan?"

Jongin menangkat wajah dari menu dan tersenyum. Ia juga ikut mencondongkan tubuhnya dan berbisik, "Tenang saja, aku punya kartu diskon di sini."

Mata Kyungsoo melebar heran. "Kartu diskon?"

Jongin mengangguk, lalu mulai menyebutkan pesanannya kepada si pelayan yang mencatat dengan patuh. Sebenarnya pemilih restoran ini adalah pamannya, Kim Shin, karena itu Jongin boleh menggunakan hak istimewanya setiap kali ia makan disana. Tetapi ia merasa tidak perlu memberitahu Kyungsoo tentang fakta kecil itu.

Setelah si pelayan pergi dengan daftar pesanan mereka, Kyungsoo kembali mendesah dan memandang berkeliling. "Aku suka sekali tempat ini. Sangat romantis. Lihat, orang-orang yang datang ke sini semuanya berpasangan."

"Kudengar restoran ini memang dijalankan dengan konsep seperti itu," kata Jongin. "Pemiliknya memang berjiwa romantis walaupun sampai sekarang belum menikah."

"Kau kenal dengan pemiliknya?"

Jongin mengangkat wajah. "Oh, tidak. Aku hanya pernah mendengar gossip tentang dia," sahutnya cepat. Sebelum Kyungsoo sempat berkomentar, Jongin mengalihkan pembicaraan, "Aku juga mendengar banyak orang mengajukan lamaran pernikahan di tempat ini."

"Oh, ya?"

"Ya. Kalau kau datang ke sini pada Hari Valentine, kemungkinan besar kau akan melihat seorang pria berlutut di hadapan kekasihnya sambil mengacungkan cincin berlian."

Mata Kyungsoo melebar senang. "Aku ingin sekali melihatnya," katanya, lalu tiba-tiba bertanya, "Jongin, kartu diskonmu itu berlaku sampai kapan?"

"Kartu diskon? Memangnya kenapa?"

"Berlaku sampai kapan?" desak Kyungsoo.

"Masalahnya bukan berlaku sampai kapan," elak Jongin buru-buru memutar otak mengarang alasan. "Kartu diskonku hanya bisa dipakai pada malam Natal ini, lalu... malam Tahun Baru, lalu..."

Kyungsoo berpikir-pikir. "Tahun Baru nanti aku ada di Jeju. Hmm... Bagaimana dengan Hari Valentine?"

"Hari Valentine?

"Kaubilang restoran ini dibuat dengan konsep romantis. Jadi kupikir kartu diskonmu bisa dipakai pada Hari Valentine. Benar?" desak Kyungsoo.

Jongin mengangkat bahu. "Kurasa begitu."

Mendengar itu Kyungsoo tersenyum manis dan bertanya, "Jongin, kau mau mengajakku ke sini lagi pada Hari Valentine nanti?"

Jongin menatap gadis di hadapannya dengan mata disipitkan. "Kenapa? Jangan katakan kau ingin aku melamarmu di sini pada Hari Valentine?"

Kyungsoo tertawa. "Aku tidak berani memimpikannya," katanya ringan. "Hanya saja kita harus memanfaatkan kartu diskonmu, bukan? Lagi pula siapa tahu aku bisa menjadi saksi acara lamaran pernikahan. Bagaimana? Oke? Kau akan mengajakku kesini lagi?"

Setelah berpikir-pikir sejenak, Jongin mencondongkan tubuhnya ke depan. "Oke, aku akan mengajakmu," katanya. "Dengan satu syarat."

Alis Kyungsoo terangkat. "Apa syaratnya?"

"Aku ingin kau menemaniku ke suatu acara tanggal sepuluh Januari nanti."

"Acara apa?"

Jongin tersenyum. "Reuni SMP-ku. Acaranya tidak berlebihan. Aku harus hadir dan aku sedang tidak ingin pergi sendiri."

"Aah, aku mengerti," gumam Kyungsoo sambil mengangguk-angguk. "Kalau acaranya ternyata membosankan, setidaknya masih ada aku yang bisa kau ajak bicara. Bukankah itu yang kaupikirkan?"

Jongin mengangkat bahu. "Seperti itulah. Bagaimana? Setuju?"

Kyungsoo mengangguk mantap. "Setuju."

"Tanggal sepuluh Januari."

"Tidak masalah."

"Kau tidak akan membuat janji lain pada hari itu?"

"Tidak akan."

"Walaupun si dokter cinta mengajakmu keluar?"

"Dokter cinta siapa?"

"Cinta pertamamu itu."

"Ooh..." Kyungsoo terdiam sejenak, berpikir-pikir, seakan ia baru teringat soal Park Chanyeol. Setelah beberapa detik yang dirasa Jongin mencekam, Kyungsoo membuka suara,"Baiklah."

Jongin mengembuskan napas pelan, baru sadar kalau ia menahan napas. Pundaknya tiba-tiba terasa ringan. "Kalau begitu, aku akan mengajakmu ke sini lagi pada Hari Valentine nanti."

"Kau memang tetangga paling baik sedunia," puji Kyungsoo sambil menangkupkan kedua tangan dengan gembira.

"Tentu saja," sahut Jongin, tepat ketika pelayan datang membawakan pesanan mereka."Sebaiknya kita cepat makan, karena kita harus pergi ke tempat lain setelah kita tidak boleh terlambat."

"Oh?" Wajah Kyungsoo berseri-seri. "Kita mau ke mana lagi?"

Jongin menatap Kyungsoo dan tersenyum. "Itu kejutan."

To Be Continued