Winter In Tokyo (Kaisoo Remake)
Novel by Illana Tan
Kaisoo
GS
Korean Version
Cerita bukan milikku. Aku hanya mengubah latar tempat dan menghapus beberapa hal yang menurutku nggak penting. Semoga kalian menikmatinya.
Happy Reading
…
"Astaga, kita akan ke sini?" Kyungsoo hampir tidak memercayai matanya ketika mereka berdiri di depan gedung pertunjukan besar di pusat kota. Terlihat banyak orang berbondong-bondong memasuki pintu utama gedung. Spanduk besar bergambar sepasang penari balet tergantung di bagian depan gedung, disertai tulisan PERTUNJUKAN BALET SWAN LAKE.
"Ya," sahut Jongin. "Bukankah kau ingin sekali menonton pertunjukan ini?"
Kyungsoo menoleh ke arah Jongin. Matanya berkilat-kilat gembira. "Ya. Tadinya Dokter Park akan mengajakku nonton dan aku sempat kecewa karena ia terpaksa membatalkannya,"katanya cepat-cepat. "Tapi, katanya tiket pertunjukannya sudah habis terjual. Bagaimana kau bisa mendapatkannya?"
Jongin tersenyum. "Itu... rahasia," katanya pelan. "Tapi aku berhasil membuatmu terkesan, bukan?"
Sebelah alis Kyungsoo terangkat dan ia tersenyum. "Baiklah, kuakui kau berhasil," katanya jujur. "Kau membuatku sangat terkesan. Aku memang sangat ingin menonton pertunjukan ini."
"Kita masuk sekarang?" ajak Jongin sambil menyodorkan sikunya. Tanpa ragu Kyungsoo langsung menyusupkan lengannya di lengan Jongin dan tersenyum lebar. "Ayo!"
Mereka baru selesai menitipkan jaket di tempat penitipan ketika seseorang menyerukan nama Jongin. Kyungsoo menoleh ke arah suara dan melihat pria ramping bertubuh tinggi mengenakan jas resmi yang terlihat mahal. Pria itu berdiri tidak jauh dari mereka dan melambai ke arah Jongin. Jongin mengangkat tangannya dan berkata pada Kyungsoo, "Tunggu sebentar. Aku harus menyapa kenalanku dulu."
Kyungsoo mengangguk dan memerhatikan Jongin berjalan mendekati pria yang lebih
tua itu. Jongin cepat-cepat berjalan ke arah pamannya yang sedang tersenyum penuh arti kepadanya. Ia tidak mengira bisa bertemu dengan pamannya di sini. Bagaimana ia bisa menduga kalau paman Kim Shin yang suka bermain golf, bisbol, dan bulu tangkis itu juga suka menonton pertunjukan balet?
"Halo, Jongin," sapa pamannya ramah, tapi masih menyunggingkan senyum penuh arti itu dan melirik ke balik bahu Jongin. "Senang sekali bertemu denganmu disini. Ternyata kau suka menonton balet."
Jongin balas tersenyum. "Halo, Paman. Aku juga baru tahu Paman penggemar balet."
Pamannya terkekeh pelan. "Salah satu sponsor pertunjukan ini adalah temanku, jadi dia mengundangku ke sini. Demi menjaga hubungan baik, aku harus hadir." Ia kembali melirik ke balik bahu Jongin. "Ngomong-ngomong, kau tidak datang sendiri."
Jongin menoleh dan melihat Kyungsoo yang dengan tenang berdiri menunggunya di tempat penitipan jas sambil membaca selebaran yang dibagikan di pintu masuk. Lalu ia kembali menatap pamannya sambil tersenyum. "Paman datang sendiri?"
Kim Shin mengangkat bahu. "Aku memang lebih suka sendiri," katanya.
"Kudengar tadi kau mampir ke restoranku."
Jongin tertawa. "Aku tidak akan bertanya bagaimana Paman bisa tahu."
"Jadi?" tanya pamannya.
"Jadi apa?" balas Jongin pura-pura tidak mengerti.
Kim Shin tertawa. "Kau tidak mau mengenalkannya padaku?" tanyanya dengan alis terangkat. "Setelah apa yang kulakukan untuk membantumu? Tadinya aku heran kenapa kau tiba-tiba ingin meminjam mobilku. Tapi sekarang aku bisa mengerti."
"Aku akan mengenalkannya pada Paman nanti, kalau waktunya sudah tepat."
Kim Shin mengangguk-angguk. "Ah, jadi sekarang masih dalam tahap pengejaran?"
Jongin hanya tersenyum.
Pamannya melirik ke arah Kyungsoo lagi. "Dia lumayan." gumamnya, lalu mengerutkan kening. "Sepertinya wajahnya tidak asing. Dia orang terkenal?"
Jongin tertawa, mengingat saudara kembar Kyungsoo adalah model terkenal. "Bukan," sahutnya.
"Bukan?"
"Paman, pertunjukannya akan segera dimulai. Aku harus kembali kepada temanku," kata Jongin. "Mobil Paman akan kukembalikan besok sore."
"Terserah saja," kata pamannya enteng. "Pakai saja selama kau mau."
Setelah melambai untuk yang terakhir kali kepada pamannya, Jongin bergegas kembali ke tempat Kyungsoo berdiri. Gadis itu mengangkat kepala ketika mendengar langkah kakinya mendekat. Senyumnya cerah dan lebar.
"Maaf membuatmu menunggu," kata Jongin.
Kyungsoo menggeleng. "Tidak apa-apa," sahutnya. "Kelihatannya temanmu itu datang sendiri. Kau tidak mengajaknya bergabung dengan kita?"
Jongin menggeleng. "Biarkan saja dia. Dia lebih suka sendirian," katanya.
Tiba-tiba terdengar pengumuman melalui pengeras suara bahwa pertunjukan akan segera dimulai dan para penonton diharapkan masuk ke aula. Jongin otomatis mengulurkan tangan ke arah Kyungsoo. "Ayo, kita masuk sekarang."
Tanpa banyak pikir, Kyungsoo menyambut tangannya.
…
Tidak diragukan lagi, malam ini adalah salah satu malam paling menyenangkan dalam hidup Kyungsoo. Pertunjukan balet Swan Lake yang sangat ingin ditontonnya itu sama sekali tidak mengecewakan. Malah melebihi harapannya. Semuanya indah. Penari-penari yang melompat lincah dan ringan di atas panggung, dekorasinya, musiknya yang menyayat hati. Ketika pertunjukannya berakhir, ia terus bertepuk tangan sementara para penari silih berganti muncul dari balik layar untuk memberi hormat. Ia bertepuk tangan sampai kedua tangannya merah, tetapi ia tidak peduli. Ia sangat puas.
"Bagaimana pendapatmu?" tanyanya penuh semangat kepada Jongin ketika mereka keluar dari aula ke arah tempat penitipan jas.
Jongin berpikir sejenak. "Dulu aku tidak pernah benar-benar tertarik pada balet," katanya jujur. "Tapi ternyata pertunjukan yang ini bagus. Sangat bagus, malah."
"Benarkah?" Mata Kyungsoo bersinar gembira.
Jongin tersenyum melihat kegembiraan Kyungsoo, "Bisa kulihat kalau kau sangat menikmatinya."
"Oh ya, sudah pasti," kata Kyungsoo tegas, lalu mendesah keras. "Sebenarnya dulu aku bercita-cita menjadi penari balet."
"Lalu kenapa tidak jadi?"
Kyungsoo tertawa malu. "Tubuhku tidak cukup lentur."
Setelah mengenakan jaket dan syal, mereka berjalan mengikuti kerumunan orang ke arah pintu keluar. Kyungsoo masih sibuk berceloteh dengan riang sementara Jongin sepertinya cukup senang dengan mendengarkan dan kadang-kadang memberikan jawaban kalau ditanya.
Saat itu seseorang yang berjalan dari arah berlawanan menyenggol bahu Kyungsoo. Kyungsoo agak terhuyung, tetapi segera ditahan Jongin. Pria yang menyenggolnya tadi berbalik. Ia menatap Kyungsoo dan Jongin bergantian, lalu matanya terpaku pada Jongin.
Alisnya yang tebal berkerut.
Kenapa tidak meminta maaf? pikir Kyungsoo dalam hati dengan jengkel. Jelas-jelas pria itu yang salah karena menyenggolnya, tapi kenapa dia diam saja? Tetapi ia tidak ingin memperpanjang masalah, karena sepertinya pria itu cukup galak—dengan wajah berkerut dan hidung bengkok—dan ia menatap Jongin dengan pandangan aneh.
Merasa pria itu mungkin ingin mencari masalah, Kyungsoo buru-buru membungkuk dan bergumam, "Maaf." Lalu cepat-cepat menarik tangan Jongin untuk pergi dari sana.
"Orang itu aneh sekali," gumam Jongin heran. Ia mengikuti Kyungsoo menuruni anak-anak tangga di depan gedung.
"Ya, memang aneh," kata Kyungsoo. Ia melirik ke balik bahunya karena penasaran dan melihat pria itu masih berdiri di sana sambil menatap mereka dengan mata disipitkan. Ada apa dengan orang itu? Ia berbisik kepada Jongin, "Jangan berbalik, ya? Tapi sepertinya dia masih memandangi kita."
"Biarkan saja. Tidak usah terlalu dipikirkan," kata Jongin sambil menggenggam tangan Kyungsoo lebih erat. Ia menoleh ke arah Kyungsoo dan tersenyum. "Menurutku dia bukan salah satu penguntit yang menjadi penggemar saudara kembarmu."
Kyungsoo mendongak menatap Jongin. Mengherankan sekali. Bagaimana laki-laki ini tahu apa yang dipikirkannya? Kyungsoo bertanya-tanya dalam hati apakah dirinya memang bisa ditebak semudah itu.
"Menurutmu begitu?" tanya Kyungsoo penuh harap.
"Ya." Jongin mengangguk.
Satu kata itu saja bisa membuat Kyungsoo merasa lebih tenang, dan ia tidak tahu kenapa.
"Lihat, salju!" seru Jongin tiba-tiba.
Kyungsoo mendongakkan kepala dan salju pertama melayang turun mengenai pipi gembilnya. Ia mengerjap-ngerjapkan mata bulatnya dan tersenyum lebar. Salju turun pada malam Natal! Orang-orang yang berjalan di sekitar mereka juga berhenti sejenak dan menengadah, menyaksikan salju yang turun. Kyungsoo mendapat kesan bahwa Natal ini akan menjadi Natal yang paling menyenangkan.
"Salju pada malam Natal," gumam Jongin. "Bagus sekali, bukan?"
Kyungsoo mengangguk, masih memandangi butiran salju yang melayang turun seperti kapas.
"Aku jadi ingin melakukan sesuatu."
Kyungsoo berpaling ke arah Jongin. "Apa?"
"Ice skating."
Alis Kyungsoo terangkat. "Ice skating?"
Jongin mengangguk. "Kau bisa?"
Kyungsoo tersenyum lebar dan berkata, "Aku terlahir ahli meluncur di atas es."
…
Arena seluncur es itu masih ramai oleh pengunjung yang ingin merayakan malam Natal bersama pasangan dan keluarga. Lagu Winter Wonderland terdengar jelas melalui pengeras suara, di antara pekikan dan tawa anak-anak, menceriakan suasana.
Kyungsoo tidak bercanda ketika berkata bahwa ia jago meluncur di atas es. Ia meluncur dengan cepat di lapangan es, melesat melewati orang-orang yang meluncur santai, menantang Jongin menyusulnya.
"Ternyata kau memang jago meluncur," puji Jongin sambil meluncur di samping Kyungsoo.
Kyungsoo menyapu sejumput rambut panjangnya dari wajah dan tersenyum cerah. "Tentu saja. Kau sendiri juga lumayan."
Jongin meluncur berputar ke hadapan Kyungsoo. "Baiklah, kau bisa meluncur. Tapi apakah kau bisa berdansa di atas es?"
Kyungsoo tertawa. "Berdansa di atas es?" tanyanya, lalu menggeleng-geleng. "Aku belum pernah mencobanya."
"Bagaimana kalau kita mencobanya sekarang?" tantang Jongin. "Kau bisa berdansa waltz?"
"Sedikit-sedikit," jawab Kyungsoo sambil tertawa pelan. "Kau sungguh mau kita berdansa waltz di sini? Di depan orang-orang ini?"
"Mereka boleh mengikuti kita kalau mau," kata Jongin ringan sambil mengangkat bahu. "Nah, pegang tanganku. Posisi waltz."
Kyungsoo membiarkan Jongin menggenggam tangannya dan merangkul pinggangnya dengan ringan. Tangannya sendiri diletakkan di lengan atas Jongin. Jongin mulai meluncur dan Kyungsoo mengikuti gerakannya dengan mulus. Sudah lama Kyungsoo tidak merasa begitu senang dan bersemangat mencoba sesuatu yang baru. Mereka meluncur mengelilingi lapangan sambil berputar-putar. Kadang-kadang Jongin melepaskan pinggang Kyungsoo dan memutarnya, lalu kembali menarik Kyungsoo ke arahnya.
"Astaga, jangan sampai kaulepaskan aku," kata Kyungsoo sambil tertawa. "Aku bisa jatuh dan mempermalukan diriku sendiri." Ia memandang berkeliling dan menyadari beberapa orang memandangi mereka sambil tersenyum-senyum. Mereka sudah menjadi tontonan yang menghibur.
"Aku tidak akan melepaskanmu."
Nada suara Jongin membuat Kyungsoo mendongak menatapnya. Apakah hanya perasaannya ataukah nada suara Jongin agak berbeda daripada biasanya?
"Dan aku sudah pasti tidak akan membiarkanmu mempermalukan dirimu sendiri," lanjut Jongin sambil tersenyum. "Tidak di depan begitu banyak orang."
Tidak. Tadi memang hanya perasaanku. Jongin terlihat sama seperti biasanya, pikir Kyungsoo. Walaupun kini, tanpa disadarinya, ia selalu merasa gembira setiap kali laki-laki itu menatapnya dan tersenyum padanya.
Seperti sekarang ini.
…
Jongin kembali melirik kaca spion. Mobil hitam itu masih ada di belakang mereka. Mobil hitam itu tidak selalu tepat berada di belakang mobil Jongin, kadang-kadang ada satu atau dua mobil lain yang menyelip di antara mereka. Tetapi Jongin memerhatikan bahwa mobil itu terus mengikutinya sejak mereka meninggalkan arena seluncur es. Pertanyaannya siapa pengemudi mobil hitam itu? Kenapa ia terus mengikuti Jongin?
"...Jongin?"
Sepertinya ia terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri sampai tidak mendengar panggilan Kyungsoo. Jongin menoleh ke arah kursi penumpang. "Ya?"
Kening Kyungsoo berkerut, tetapi ia tersenyum. "Aku sudah memanggilmu tiga kali. Apa yang sedang kaupikirkan?"
"Ngomong-ngomong kau naik kapal atau pesawat? Ke Jeju, maksudku," kata Jongin ringan. Ia merasa tidak perlu membuat Kyungsoo cemas dengan kecurigaannya terhadap mobil hitam di belakang sana. Gadis itu pasti akan panik dan mulai berpikir yang tidak-tidak.
"Naik kapal, seperti biasa," kata Kyungsoo.
"Bagaimana kalau kuantar ke pelabuhan saja? Aku bisa mengembalikan mobil ini kepada temanku setelah mengantarmu," Jongin menawarkan.
Kyungsoo tersenyum lebar. "Terima kasih. Kau memang teman paling baik sedunia."
Jongin melirik kaca spion sekali lagi. Mobil hitam itu masih terlihat, berjarak dua mobil dari Jongin. Ketika Jongin membelok ke jalan yang mengarah ke gedung apartemen mereka, ia memperlambat laju mobil. Menunggu. Tetapi tidak ada mobil hitam yang ikut membelok. Jongin merasa agak heran, sekaligus lega karena kecurigaannya tidak terbukti. Mobil hitam itu tidak mengikutinya. Kemungkinan besar mobil itu hanya kebetulan searah dengannya sejak dari arena seluncur es, tetapi jelas mobil itu tidak mengikutinya.
Tiba-tiba ia teringat kepada pria aneh di gedung pertunjukan tadi. Mungkinkah...? Tapi apa alasannya? Bagaimanapun juga, pria itu sepertinya tidak asing. Jongin merasa pernah melihat wajah itu entah di mana. Ia mendapat firasat yang tidak enak.
"Jongin, kau baik-baik saja? Kau sakit?"
Nada suara yang cemas menyentakkan kepala Jongin ke arah gadis itu. "Tidak, aku baik-baik saja," sahutnya cepat, lalu tersenyum. "Kurasa aku terlalu capek karena berusaha membuatmu terpesona padaku malam ini."
Kyungsoo mengetuk-ngetukkan jari telunjuk ke dagunya sambil memasang raut wajah
seperti sedang berpikir keras. Lalu ia menoleh menatap Jongin. "Kurasa," katanya pelan. "Kau cukup berhasil."
Jongin ikut tertawa bersama gadis yang duduk di sampingnya itu. Ia berusaha mengenyahkan firasat buruk yang menyelimuti hatinya. Tidak ada masalah. Pikirannya sendiri yang terlalu berlebihan. Semuanya akan baik-baik saja.
To Be Continued
