Winter In Tokyo (Kaisoo Remake)

Novel by Illana Tan

Kaisoo

GS

Korean Version

Cerita bukan milikku. Aku hanya mengubah latar tempat dan menghapus beberapa hal yang menurutku nggak penting. Semoga kalian menikmatinya.

Happy Reading

"Terima kasih karena sudah mengantarku," kata Kyungsoo kepada Jongin ketika mereka sudah tiba di pelabuhan. "Kapalku akan datang sebentar lagi. Kau tidak perlu menungguku."

"Tidak apa-apa," kata Jongin. Ia mengikuti Kyungsoo masuk ke pelabuhan sambil menjinjing tas pakaian gadis itu.

Kyungsoo duduk di salah satu kursi dan memeriksa tas tangannya, memastikan tiketnya sudah ada.

Jongin duduk di kursi sebelah Kyungsoo dan memerhatikan gadis itu. Tadinya Jongin mengira Kyungsoo akan membawa koper besar—karena para wanita biasanya membawa banyak barang kalau bepergian—tetapi gadis itu hanya membawa tas tangan kecil dan satu tas jinjing berisi pakaian. Kata Kyungsoo, ia masih memiliki banyak pakaian di rumah orang tuanya di Jeju, jadi ia tidak perlu membawa banyak pakaian. Malah sebenarnya ia tidak perlu membawa pakaian sama sekali.

"Jam berapa kau akan tiba di Jeju?" tanya Jongin.

Kyungsoo melirik jam tangannya. "Dari sini ke Jeju butuh sekitar tiga jam tiga

puluh menit. Pokoknya hari belum gelap kalau aku tiba di Jeju." Ia menoleh ke arah Jongin. "Kenapa?"

"Telepon aku kalau sudah sampai."

"Oke," sahut Kyungsoo ringan. Lalu ia terdiam sejenak, memiringkan kepala dan bertanya, "Tapi kenapa aku harus meneleponmu?"

"Supaya aku tahu kau sudah tiba dengan selamat."

"Untuk apa? Aku bukan anak kecil lagi, kau tahu?" protes Kyungsoo. "lagi pula, bukankah ponselmu sedang diperbaiki?"

"Ah, benar," gumam Jongin sambil menepuk keningnya. "Kalau begitu, biar aku yang meneleponmu nanti."

Kyungsoo tidak sempat menjawab karena tiba-tiba nada Csikos Post terdengar nyaring. Ia mengeluarkan ponselnya yang berkedip-kedip dari tas tangan dan membaca tulisan yang muncul di layar. Alisnya terangkat dan ia cepat-cepat menempelkan ponsel ke telinga. "Halo? Dokter Park?"

Kepala Jongin berputar cepat ke arah Kyungsoo. Gadis itu berdiri dari kursinya dan berjalan agak menjauh. Jongin sempat mendengar Kyungsoo berkata, "Dokter sudah menerimanya?" Lalu ia tidak bisa mendengar apa-apa lagi.

Kemungkinan besar Chanyeol menelepon Kyungsoo untuk berterima kasih atas biskuit pemberian Kyungsoo. Tadi, dalam perjalanan ke pelabuhan, Kyungsoo meminta Jongin mengantarnya ke rumah sakit tempat Chanyeol bekerja untuk menyerahkan hadiah Natal. Jongin tidak punya alasan untuk menolak, tentu saja, tetapi ia membiarkan Kyungsoo masuk ke rumah sakit sendiri sementara ia menunggu di mobil. Ia tidak ingin Chanyeol tahu bahwa ia mengenal Kyungsoo. Belum waktunya. Tetapi ternyata Chanyeol sedang sibuk menangani salah seorang pasien sehingga Kyungsoo tidak bisa menemuinya dan terpaksa menitipkan biskuit itu kepada seorang suster jaga.

Jongin mengangkat wajah ketika Kyungsoo duduk kembali di kursi di sampingnya. "Si dokter cinta?" tanya Jongin datar.

"Ya. Dia menelepon karena sudah menerima biskuitnya dan ingin berterima kasih," sahut Kyungsoo ringan. Ia terdiam sejenak, lalu bertanya, "Ngomong-ngomong, kenapa kau selalu menyebutnya dokter cinta?"

"Apa yang kausuka darinya?" Jongin balas bertanya. Sebenarnya ia tidak ingin tahu, tetapi rasa penasarannya tidak bisa ditahan lagi.

"Apa?"

"Apa yang membuatmu suka padanya? Kenapa dia bisa menjadi cinta pertamamu?"

"Oh, itu." Kyungsoo tersenyum dan merenung. "Aku menyukainya karena dulu dia pernah membantuku mencari kalungku yang terjatuh." Ia tertawa pelan dan melanjutkan, "Kedengarannya memang konyol, tapi begitulah kenyataannya, terutama setelah dia berhasil menemukan kalungku dan tersenyum padaku."

"Kalung?" Kening Jongin berkerut samar.

"Ya. Kalung pemberian nenekku. Aku selalu memakainya. Nah, ini dia," kata Kyungsoo sambil menarik kalung yang dikenakannya dari balik syal dan kerah sweter tebalnya. Kalung dengan liontin berbentuk kata "Kyungsoo".

Jongin mengamati kalung itu dengan saksama. Kerutan di keningnya bertambah. Kalung itu...

Tiba-tiba terdengar pengumuman melalui pengeras suara bahwa kapal dengan tujuan Jeju akan segera berangkat dan penumpang di harap segera menaiki kapal.

"Oh, aku harus segera pergi," kata Kyungsoo sambil mengumpulkan barang-barangnya

dan berdiri.

Jongin juga ikut berdiri, walaupun masih terus sibuk menggali ingatannya. Ada sesuatu yang terasa mengganjal tentang kalung itu. Di mana ia pernah melihat kalung itu. Dimana? Tiba-tiba Jongin tersentak. Ia ingat sekarang.

Ia mengangkat wajah dan memandang ke arah Kyungsoo. Gadis itu tengah menunggu giliran chek-in. Ia juga menyempatkan diri melambai kearahnya. Jongin baru akan mengangkat tangannya sendiri untuk balas melambai, ketika tiba-tiba ia merasakan dorongan besar untuk melakukan sesuatu. Tanpa berpikir panjang, Jongin berseru memanggil Kyungsoo dan berlari-lari kecil ke arah gadis itu yang sudah menyerahkan tiketnya pada petugas untuk di periksa.

Kyungsoo memutar tubuh dan menatap Jongin dengan tatapan heran dan kening berkerut. "Kenapa berteriak-teriak seperti itu?" katanya dengan nada rendah. Gadis itu melirik orang-orang di sekitar yang menjadikan dia dan Jongin perhatian. "Nanti orang-orang akan berpikir aku sudah mencuri dompetmu atau semacamnya."

Jongin tidak langsung menjawab. Ia menatap Kyungsoo sambil tersenyum lebar. "Kyungsoo."

"Ada apa?"

Jongin menunduk dan tertawa pelan, menertawakan sikapnya sendiri yang gegabah.

Merasa heran dengan sikap Jongin, Kyungsoo bertanya sekali lagi, "Ada apa?"

Jongin kembali menatap wajah Kyungsoo. Ia sama sekali tidak mengerti apa yang mendorongnya, tetapi ia merasa harus mengatakannya sekarang. Tidak peduli apa yang dipikirkan Kyungsoo nantinya, pokoknya Jongin harus mengatakannya. "Kyungsoo, ada yang ingin kutanyakan padamu."

"Ya?" Mata Kyungsoo melebar menunggu.

"Kau bisa melupakan Park Chanyeol?"

Alis Kyungsoo terangkat tinggi. "Apa?"

"Kau bisa melupakannya?" tanya Jongin tegas sambil menatap lurus ke dalam mata bulat Kyungsoo yang bingung, "dan mulai benar-benar... benar-benar melihatku?"

Oh! Kyungsoo merasa jantungnya berdebar kencang. Tangannya mencengkeram pegangan besi di pinggiran kapal dengan erat. Ia mengerjapkan mata dan menatap Jongin yang berdiri jauh di depan sana. Laki-laki itu memang tersenyum, tetapi entah kenapa Kyungsoo tidak merasa Jongin sedang bercanda. Tidak, laki-laki itu serius. Apakah Jongin berusaha mengatakan bahwa ia menyukai Kyungsoo?

Kyungsoo menahan napas, matanya terbelalak, dan jantungnya berdebar kencang. Perasaan apa ini?

"Kau tidak perlu mengatakan apa-apa sekarang," teriak Jongin sambil memasukkan kedua tangan ke saku jaket. "Aku tahu sekarang bukan waktu yang tepat." Ia menoleh ke kiri dan ke kanan. Mereka sedang berada di pelabuhan dan sebentar lagi kapal Kyungsoo akan berangkat. Benar-benar pilihan waktu yang buruk.

Kyungsoo diam menunggu kelanjutan kata-kata Jongin. Ia merasa seperti disihir. Tidak bisa bergerak. Tidak bisa berkata-kata.

"Sebenarnya ada hal lain yang ingin kukatakan padamu. Mengenai ingatan masa kecilmu. Tapi akan kuceritakan nanti saat kau kembali," kata Jongin perlahan. Lalu ia tersenyum dan melanjutkan, "Saat kau kembali nanti, aku akan ada di sini."

Setelah itu pengumuman terakhir terdengar melalui pengeras suara dan peluit di bunyikan, membuat Kyungsoo tersentak mundur selangkah.

Jongin mengangkat sebelah tangannya untuk melambai sementara kapal mulai bergerak perlahan. Kyungsoo terus menatap Jongin yang tetap berdiri di tempatnya. Kemudian sosok Jongin pun semakin kecil dan akhirnya menghilang dari pandangan.

Ini aneh. Kyungsoo menutup mulut dengan sebelah tangan dan perlahan berjalan ke tempat duduknya. Dengan agak lemas ia menyandarkan punggung ke sandaran kursi.

Pemandangan di luar sana biru, tak berganti, tetap seperti itu, Kyungsoo tidak peduli. Kata-kata Jongin tadi membuat jantungnya berjumpalitan.

Kau bisa melupakannya dan mulai benar-benar... benar-benar melihatku?

Sebenarnya, kalau dipikir-pikir, selama ini Kyungsoo sudah melihat Jongin. Selalu melihat Jongin. Hanya saja ia tidak menyadarinya sampai... sekarang? Atau semalam?

Kata-kata Jongin kemarin sore terngiang-ngiang di telinganya. Berhati-hatilah, Kyungsoo. Setelah kencan ini, kau mungkin akan jatuh cinta padaku.

Jatuh cinta pada Jongin? Kyungsoo tidak pernah memikirkan hal itu. Ia belum tahu bagaiman perasaannya, tapi saat ini suatu perasaan aneh yang menyenangkan timbul dalam hatinya.

Di samping perasaan senang yang terbit di hatinya, ada juga perasaan janggal. Kyungsoo merasa agak tidak tenang. Mungkin seharusnya ia mengatakan sesuatu tadi.

Sesuatu apa? Yah, apa saja, selain diam mematung menatap Jongin. Kalau tadi ia mengatakan sesuatu, mungkin ia tidak akan merasa resah seperti ini. Mungkin saja...

Tiba-tiba saja Kyungsoo tidak sabar ingin segera tiba di Jeju dan menunggu telepon dari Jongin.

Jongin melajukan mobil di sepanjang jalan raya yang cukup ramai, sibuk berpikir dan menyusun rencana. Ia memang ingin mengungkapkan perasaannya kepada Kyungsoo, tetapi pilihan waktunya tadi payah sekali. Kyungsoo membuatnya merasa gembira, tenang, dan... hidup. Memang masih banyak yang ingin dikatakannya kepada gadis itu, tetapi kali ini ia harus memilih waktu yang cocok sebelum mencoba menjelaskan semuanya.

Tiba-tiba suatu pikiran terbesit dalam benak Jongin. Mungkinkah Kyungsoo akan mengira Jongin hanya menganggapnya sebagai tempat pelampiasan karena wanita yang dulu pernah disukainya akan menikah dengan sahabatnya? Jongin terpekur dan mengangguk-angguk. Mungkin saja. Kalau begitu Jongin harus meyakinkannya.

Ia terlalu sibuk memikirkan masalah itu sampai tidak menyadari keberadaan mobil hitam di belakangnya. Sebenarnya mobil hitam itu sudah mengikutinya sejak Jongin berangkat dari apartemen tadi siang untuk mengantarkan Kyungsoo ke pelabuhan.

Ketika Jongin membelokkan mobil ke jalan sepi yang merupakan jalan pintas ke apartemen pamannya, mobil hitam yang selama ini tetap menjaga jarak di belakang langsung melesat maju melewati mobil Jongin. Jongin buru-buru menginjak rem ketika mobil hitam itu berhenti di depannya, menghalangi jalan. Kening Jongin berkerut. "Apa-apaan ini?" Ia melihat ke belakang dan menyadari mobil hitam lain sudah berhenti di belakang mobilnya.

Sebelum Jongin sempat memahami apa yang sedang terjadi, sekitar lima pria berjaket hitam dan bertampang seram keluar dari kedua mobil di depan dan belakangnya. Mereka terlihat seperti gangster. Jongin mencium adanya bahaya, tetapi tidak ada yang bisa dilakukannya sekarang kecuali mencari tahu apa yang diinginkan orang-orang aneh itu.

Dengan perasaan was-was ia membuka pintu mobilnya dan melangkah keluar. Ia menatap kelima orang yang berdiri di depannya, lalu mengangkat kedua tangannya ke depan. "Dengar siapa pun yang sedang kalian cari saat ini, saya yakin kalian salah orang."

"Tidak. Tidak salah."

Jongin berbalik cepat dan berhadapan dengan pria berpenampilan rapi yang berumur tiga puluhan, atau mungkin lebih tua dari itu. Sebatang rokok terselip di antara bibirnya yang tipis. Rambut di atas kepalanya sudah mulai menipis, tetapi alisnya lebat. Dan hidungnya agak bengkok. Jongin mengerutkan kening. Ia pernah melihat orang itu.

"Kau tidak ingat lagi padaku?" tanya pria itu dengan nada sinis. Mulutnya melengkung membentuk senyum mengejek.

Jongin teringat pada orang aneh di gedung pertunjukan balet kemarin. "Anda yang ada di gedung pertunjukan kemarin?" tanyanya dengan nada ragu.

Alis lebat pria itu terangkat, masih tersenyum sinis. Ia mengepulkan asap rokoknya dan berkata puas, "Ah, rupanya kau ingat juga."

"Tapi aku..."

"Coba ingat-ingat lagi," potong pria itu tajam. "Sebelum itu kita sempat bertemu."

Jongin kembali memutar otak. Siapa pria ini? Apa yang diinginkannya? "Kau sama sekali tidak ingat?" Mata kecil pria itu menusuk mata Jongin. "Bagaimana kalau kukatakan padamu bahwa masih ada masalah yang belum selesai di antara kita?" Tanya pria itu. Ia mengangguk-angguk dan melanjutkan, "Harus kuakui pukulanmu cukup keras, tapi kurasa sekarang saatnya kau menerima balasan dariku."

Tiba-tiba Jongin teringat. Pria ini adalah pria yang mengganggu Jun Jiwon di tengah jalan malam itu. Jongin memang sempat meninjunya dan sekarang ia ingin membalas dendam?

Apakah pria itu salah satu anggota gangster? Sial! Ia sama sekali tidak ingin terlibat dengan gangster. Jongin memandang berkeliling, mengamati anak buah pria itu, mempertimbangkan kelemahan situasinya saat itu. Ia tidak yakin bisa mengalahkan lima orang bertampang garang itu. Tetapi bagaimanapun juga ia harus mencobanya. Tidak ada cara lain.

"Sepertinya kau mulai ingat, bukan?" tanya pria itu. Ia menyeringai, membuang sisa rokoknya ke tanah, dan menginjaknya. "Mungkin sekarang kita bisa mulai mengajarimu supaya tidak ikut campur urusan orang lain."

Ia melambaikan tangannya dan kelima anak buahnya bergerak maju menyerang Jongin. Jongin sempat menghindar dari beberapa tinju yang melayang ke arahnya dan sempat meninju rahang beberapa orang pria. Tetapi mereka terlalu banyak dan terlalu ganas. Sementara Jongin sibuk menghindar, ia tidak menyadari salah satu dari pria itu mengambil tongkat bisbol dari dalam mobil dan menghampirinya dari belakang.

Jongin berputar dan terkejut melihat tongkat bisbol yang diayunkan ke arahnya. Hal terakhir yang terlintas dalam benaknya adalah ia harus menelepon Kyungsoo sore itu. Lalu kepalanya serasa meledak, diikuti percikan cahaya menyilaukan, lalu segalanya berubah gelap.

Sudah hampir jam tujuh malam.

Kyungsoo mengalihkan pandangan dari jam dinding ke ponsel yang tergeletak di meja dan mengembuskan napas. Kenapa belum menelepon? Lagi-lagi Kyungsoo melirik jam dinding. Ia sudah tiba di Jeju sekitar tiga jam yang lalu, tetapi Jongin belum menelepon sampai sekarang. Bukankah laki-laki itu bilang akan meneleponnya?

Kyungsoo tidak tahu kenapa ia bisa seresah itu. Tetapi ia memang resah. Ia menggigit-gigiti kuku dan kembali menatap ponselnya.

Akhirnya ia meraih ponselnya dan mulai memencet beberapa tombol, lalu menempelkan ponsel ke telinga. "Halo? Jiwon Eonnie?" Ia mendengarkan sesaat, lalu melanjutkan, "Ya, aku sudah di Jeju. Eonnie ada di mana sekarang?... Oh, begitu. Eonnie, ngomong-ngomong Eonnie sudah bertemu dengan Jongin?"

Kyungsoo kembali menggigit kukunya. "Belum? Oh... Ah, tidak apa-apa. Ponselnya sedang rusak jadi aku tidak bisa meneleponnya. Ya... Ya, tidak apa-apa... Kalau Eonnie bertemu dengannya... Ya... Ya... Terima kasih. Ya."

Kyungsoo menutup telepon dan mengembuskan napas panjang. Ia menggigit bibir dan menatap ponsel yang ada dalam genggamannya. Apakah ia harus mencoba? Hanya untuk memastikan? Ia kembali memencet beberapa tombol di ponselnya dan menempelkan ponsel ke telinga. Setelah menunggu sejenak terdengar suara operator telepon yang menyatakan bahwa ponsel yang dituju sedang tidak aktif. Kyungsoo menutup ponsel. Ia menarik napas panjang dan mengembuskannya dengan keras.

"Kenapa melamun sendiri di sini?" Terdengar suara berat ayahnya dari belakang.

"Kau tidak membantu ibumu menyiapkan makan malam?"

"Ya," sahut Kyungsoo cepat dan segera bangkit.

Tidak apa-apa. Jongin mungkin memang sedang sibuk saat ini. Ia pasti akan menelepon Kyungsoo nanti malam. Pasti.

Dua jam yang lalu...

Kim Shin baru saja akan meninggalkan apartemennya untuk menghadiri pesta Natal yang diadakan salah seorang rekan bisnisnya ketika telepon di apartemennya berdering. Ia bermaksud mengabaikannya karena sebelah tangannya sudah membuka pintu depan, tetapi akhirnya ia menyerah dan masuk kembali ke apartemen.

"Halo?" katanya dengan nada agak kesal. Ia melirik Rolex yang melingkari pergelangan tangan kirinya. Semoga saja ini tidak memakan waktu lama. Ia tidak ingin sampai terlambat menghadiri perayaan itu dan memberikan kesan buruk.

"Apakah saya sedang berbicara dengan Kim Shin?" tanya suara seorang pria di ujung sana. Nada suaranya resmi dan kaku.

Kening Kim Shin berkerut samar. "Benar. Saya sendiri."

"Tuan Kim Shin," lanjut pria di ujung sana, "kami dari kepolisian." Kerutan di kening Kim Shin bertambah. Kepolisian?

"Maaf, ada masalah apa? Apakah ada yang bisa saya bantu?" Ia mendengarkan sejenak, lalu mengangguk dan berkata, "Benar, itu mobil saya. Saat ini keponakan saya yang memakai mobil itu." Jeda sesaat sementara Kim Shin mendengarkan kata-kata polisi itu. Tiba-tiba rahangnya menegang dan wajahnya memucat. Ia mencengkeram gagang telepon lebih erat dan suaranya terdengar tegang ketika ia berkata, "Anda serius?... Seberapa parah keadaannya?... Saya segera ke sana."

To Be Continued