Winter In Tokyo (Kaisoo Remake)
Novel by Illana Tan
Kaisoo
GS
Korean Version
Cerita bukan milikku. Aku hanya mengubah latar tempat dan menghapus beberapa hal yang menurutku nggak penting. Semoga kalian menikmatinya.
Happy Reading
…
"kau masih belum mendapat kabar darinya?" tanya Jiwon di ujung sana.
"Belum," sahut Kyungsoo dengan nada cemas. Ia memindahkan ponsel dari telinga kiri ke telinga kanan. "Kalau Eonnie? Eonnie sempat bertemu dengannya sebelum Eonnie berangkat?"
"Tidak, aku tidak bertemu dengannya," sahut Jiwon. "Tunggu sebentar, biar kutanyakan pada Taesoo." Jiwon menjauh dari telepon dan berseru memanggil adiknya. "Taesoo, apakah kau bertemu dengan Jongin sebelum kita datang ke sini?"
Kyungsoo bisa mendengar suara Taesoo di latar belakang, tetapi tidak bisa menangkap kata-katanya.
"Taesoo juga tidak bertemu dengannya," kata Jiwon kepada Kyungsoo.
Kyungsoo menunduk menatap jari kakinya. "Oh, begitu."
"Kau mengkhawatirkannya?" tanya Jiwon tiba-tiba.
Kyungsoo menarik napas dan mengeluarkannya dengan perlahan. "Dia berjanji meneleponku begitu aku tiba di Jeju Hari Natal lalu," sahut Kyungsoo. Suaranya terdengar agak frustrasi. "Sekarang sudah lewat seminggu, Eonnie, dan dia masih belum meneleponku. Aku juga tidak bisa menghubungi ponselnya. Aku bahkan menelepon Nenek Hong untuk bertanya mengenai Jongin."
"Lalu apa kata Nenek?"
"Nenek sama sekali tidak bertemu dengannya lagi sejak Hari Natal, ketika Jongin mengantarku ke pelabuhan." Kyungsoo menelan ludah, dan berkata dengan suara lirih, "Eonnie, aku takut sesuatu yang buruk terjadi padanya."
"Jangan berpikir sembarangan," kata Jiwon dengan nada riang, berusaha menenangkan Kyungsoo. "Aku yakin dia hanya sedang pergi berlibur ke suatu tempat. Mungkin pergi bermain ski. Sekarang ini musim liburan, kau tahu? Sudah tentu Jongin ingin bersenang-senang. Malah, dia mungkin terlalu bersenang-senang sampai sudah lupa padamu."
Setelah apa yang dikatakannya pada Kyungsoo di pelabuhan waktu itu? Kyungsoo memaksakan tawa kecil. "Ya, mungkin juga."
"Tenang saja," kata Jiwon lagi. "Katanya dia akan menjemputmu di pelabuhan besok, bukan?"
"Memang," gumam Kyungsoo. "Kapan Eonnie pulang ke Seoul?"
"Lusa," sahut Jiwon. "Kyungsoo, kau tidak perlu terlalu cemas."
"Hmm."
"Kau terdengar seperti istri muda cemas setengah mati karena suaminya belum pulang dari kantor."
"Aku tidak begitu."
"Ngomong-ngomong, kau belum bercerita padaku tentang kencan kalian malam Natal waktu itu. Nah, mulailah bercerita."
Setengah jam kemudian Kyungsoo menutup ponsel dan kembali melamun. Ia tidak menyadari ibunya masuk ke kamarnya dengan membawa sepiring apel yang sudah dipotong.
"Kenapa melamun lagi?" tanya ibunya.
Kyungsoo tersentak dan menoleh. "Oh, Ibu. Tidak kenapa-kenapa." jawabnya. Ibunya meletakkan piring buah di meja di hadapan Kyungsoo dan duduk di ujung tempat tidur.
"Temanmu belum menelepon?"
Kyungsoo menatap ibunya dengan alis terangkat. "Kenapa Ibu berpikir aku sedang menunggu telepon?"
Ibunya balas menatap sambil tersenyum. "Kau anak Ibu, Kyungsoo. Sudah pasti Ibu tahu apa yang sedang kau pikirkan," kata ibunya.
Kyungsoo tertawa pelan. Ibunya memang serba tahu, selalu begitu. Ia tidak pernah bisa menyembunyikan apa pun dari mata ibu yang tajam.
"Jadi," lanjut ibunya. "Laki-laki itu belum menelepon?"
Kyungsoo kembali menatap ibunya dengan kaget. Baiklah, ia tidak akan bertanya bagaimana ibunya bisa tahu ia sedang menunggu telepon dari seorang laki-laki. "Dia hanya... tetangga, Bu," kata Kyungsoo pelan.
Ibunya mengangkat alis. "Ibu tak mengatakan apapun," kata ibu Kyungsoo lembut. "Tetangga atau bukan, teman atau bukan, Ibu sama sekali tak tahu. Yang ibu tahu, anak ibu selalu memikirkan orang ini."
Kyungsoo menunduk. Ia menghela napas dalam-dalam. "Dia belum menelepon," katanya. Lalu ia mengangkat wajah dan menatap ibunya. "Kedengarannya memang konyol, tapi aku khawatir. Aku sendiri tak mengerti kenapa aku bisa merasa seperti ini. Seperti kata Jiwon Eonnie, mungkin saja dia sedang pergi berlibur ke tempat lain."
Ibunya mengangkat bahu. "Mungkin saja."
Mata Kyungsoo menyipit menatap piring buahnya. Ia terdiam sejenak, lalu mendecakkan lidah dengan kesal. "Dasar orang bodoh itu! Kenapa hobi sekali membuat orang lain gelisah? Merusak liburan orang saja." Ia meraih garpu dan menusuk sepotong apel dengan ganas. "Lihat saja besok. Kalau aku bertemu dengannya, dia pasti... Urgh! Membuat sebal saja!"
…
Kim Shin berdiri diam menatap keponakannya yang terbaring tak sadarkan diri di ranjang rumah sakit. Jongin sudah berbaring seperti itu selama seminggu, tidak bergerak dan tidak menunjukkan tanda-tanda akan segera sadar. Kim Shin masih ingat hari ketika polisi meneleponnya dan mengatakan mobilnya ditemukan di salah satu jalan sempit. Mereka juga berkata seorang pemuda ditemukan tidak jauh dari mobil dalam keadaan pingsan, tergeletak di tanah dengan darah mengucur dari kepala. Kim Shin ingat bagaimana perasaannya melihat pemuda yang dimaksud adalah keponakannya sendiri.
Yang paling sulit adalah menelepon orangtua Jongin dan menjelaskan apa yang terjadi, karena Kim Shin sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Polisi menduga Jongin dirampok, tetapi kenapa perampok itu tidak mengambil dompet dan mobilnya? Tidak masuk akal. Sampai sekarang pihak kepolisian belum menemukan petunjuk apa pun yang bisa menjelaskan semua ini.
Mendengar putra bungsunya mengalami kecelakaan, Kim Sung Ryung langsung terbang ke Seoul. Ia kini duduk di kursi yang ditempatkan di samping ranjang putranya, menggenggam tangan Jongin dan meremasnya, berharap anak malang itu segara membuka mata.
"Bagaimana keadaannya hari ini?" Kim Shin memecah keheningan di kamar itu dan menatap dokter yang baru selesai memeriksa Jongin.
Park Chanyeol menegakkan tubuh dan menatap paman dan ibu Jongin bergantian "Masih tetap sama," katanya pelan. "Jangan khawatir. Semua organ vitalnya berfungsi dengan baik. Keadaannya stabil."
"Lalu kenapa dia masih belum sadar?" tanya Kim Sung Ryung cemas. "Kapan dia akan sadar?"
Chanyeol menatap Jongin yang terbaring diam dengan mata terpejam. "Kami juga tidak tahu," akunya. "Tapi kalau melihat keadaannya sekarang, kami berharap dia akan segera sadar dalam beberapa hari ini. Bibi jangan terlalu cemas. Jongin pasti akan sadar."
Kim Sung Ryung menyunggingkan seulas senyum lemah. "Terima kasih banyak, Chanyeol. Bibi senang kau ada di sini untuk membantu Jongin."
Chanyeol tersenyum. "Dia teman baikku sejak kecil," katanya. "Tentu saja aku akan melakukan apa pun untuk membantunya."
Setelah Chanyeol keluar dari kamar, Kim Sung Ryung berkata kepada adiknya, "Tadi kakak iparmu menelepon. Katanya dia akan datang ke sini kalau Jongin masih belum sadarkan diri dalam beberapa hari ini."
Kim Shin tersenyum kecil. "Kurasa dia pasti ingin membawa Jongin pulang ke New York."
Sung Ryung mendecakkan lidah dengan pelan. "Bagaimana kita bisa membawanya ke New York dalam keadaan seperti ini?" Ia meremas tangan anaknya lagi dan mendesah. "Aku berharap dia segera sadar dan menceritakan pada kita apa yang sebenarnya terjadi hari itu."
…
Kepala Kyungsoo berputar ke kanan dan ke kiri. Matanya mencari-cari di antara kerumunan orang yang berlalu-lalang di pelabuhan. Tidak terlihat. Ia tidak melihat Kim Jongin di mana-mana. Laki-laki itu tidak datang menjemputnya. Kyungsoo tidak tahu apakah ia harus merasa cemas atau kesal. Mungkinkah Jongin terlambat? Sebaiknya ia duduk dan menunggu sebentar. Mungkin Jongin terjebak kemacetan.
Setengah jam kemudian masih belum terlihat batang hidung Jongin. Kyungsoo mengeluarkan ponsel dan memencet beberapa tombol. Ia menempelkan ponsel ke telinga dan menunggu sejenak. Tidak. Tetap tidak bisa tersambung. Ponsel Jongin tidak aktif. Kyungsoo menggigit bibir dan kembali memandang berkeliling. Ia akan menunggu sebentar lagi.
Setengah jam lagi berlalu. Kyungsoo menunduk menatap ujung sepatu botnya. Jongin belum muncul dan kemungkinan besar tidak akan muncul. Sebaiknya ia pulang sekarang. Kalau ternyata nanti Kyungsoo menemukan Jongin di apartemennya, lupa bahwa ia harus menjemput Kyungsoo hari ini, lihat saja apa akibatnya. Kyungsoo mendengus dan keluar dari pelabuhan sambil menjinjing tasnya.
…
"Kakek benar-benar belum bertemu dengannya?" tanya Kyungsoo agak kalut. Tadi ia sudah mengetuk pintu apartemen Jongin. Karena tidak mendapatkan jawaban, ia turut ke apartemen Kakek dan Nenek Hong untuk bertanya.
Kakek Hong berpikir-pikir. "Ya," sahutnya yakin. "Aku sama sekali belum melihatnya sejak Hari Natal itu. Hari itu dia mengantarmu ke pelabuhan, bukan? Aku ingat dia mengucapkan selamat Hari Natal kepadaku. Setelah itu aku sama sekali tidak melihatnya." Kakek Hong terdiam sejenak, lalu melanjutkan, "Benar juga. Sepertinya dia juga tidak pulang sejak hari itu."
"Tidak pulang?" gumam Kyungsoo pelan.
"Sepertinya begitu," sahut Kakek Hong, "karena aku tidak mendengar suaranya." Melihat raut wajah Kyungsoo yang cemas, Kakek Hong cepat-cepat menambahkan, "Tentu saja aku mungkin salah. Mungkin aku tidak mendengar ketika dia pulang dan naik ke apartemennya."
Kyungsoo mengangguk sambil lalu.
"Kenapa, Kyungsoo? Ada masalah?"
"Apa?" Kyungsoo buru-buru menggeleng. "Tidak, tidak apa-apa. Aku yakin aku terlalu berlebihan. Terima kasih, Kakek."
Ia tidak mungkin menjelaskan firasat yang dirasakannya kepada Kakek Hong. Pasti akan terdengar konyol. Semua orang tahu pikirannya memang suka melantur kemana-mana dan tidak ada yang akan mengerti perasaan buruk yang menggerogotinya saat ini. Tetapi apa lagi yang bisa dilakukannya? Ia tidak tahu di mana Jongin berada. Tidak tahu bagaimana cara menghubunginya. Laki-laki itu memang sudah pernah menghilang tanpa kabar seperti ini, seperti ketika ia pergi mengunjungi kakeknya di Uljin tanpa berkata apa-apa. Mungkin kali ini juga sama. Ya, benar. Tidak lama lagi Jongin pasti akan muncul di depan pintu apartemen Kyungsoo. Dia akan berdiri di depan Kyungsoo dengan senyum lebarnya yang cerah dan tak berdosa itu, lalu mengejek Kyungsoo karena sudah merasa cemas setengah mati.
Ya. Ya, pasti begitu, pikir Kyungsoo meyakinkan diri sendiri. Kim Jongin akan segera muncul di hadapannya.
…
Pagi itu Kim Shin memutuskan untuk mampir ke rumah sakit sebelum pergi ke kantor. Ia mendapati kakak perempuannya sedang mengelap wajah dan tangan Jongin dengan handuk basah. "Bagaimana keadaannya?" tanyanya.
"Seperti yang kau lihat. Setidaknya dia tidak bertambah parah," sahut Kim Sung Ryung sambil tersenyum lemah. Ia menoleh ke arah adiknya. "Bisa tolong jaga dia sebentar? Aku ingin pergi mengambil air panas."
"Biar aku saja yang mengambilnya," Kim Shin menawarkan diri. "Noona di sini saja."
Sepeninggal adiknya, Kim Sung Ryung menatap anaknya yang terbaring di tempat tidur dengan sedih. Ia menghela napas panjang dan melanjutkan pekerjaannya mengelap tangan Jongin. Tiba-tiba tangan Jongin yang berada dalam genggamannya bergerak. Kim Sung Ryung tersentak dan menatap wajah Jongin. Ia tidak bermimpi. Tangan Jongin memang bergerak tadi. Ia tidak bermimpi. Lalu ia melihat mata Jongin bergerak pelan. Tidak salah lagi. Ia pun membelalak dan melompat berdiri.
"Jongin?" bisiknya pelan di dekat wajah Jongin. "Ini Ibu. Bukalah matamu."
Perlahan-lahan kelopak mata Jongin terbuka. Lalu terpejam sesaat, dan terbuka lagi. Sejenak matanya menatap kosong, lalu bergerak ke wajah ibunya.
"Jongin, kau sudah sadar?" tanya Kim Sung Ryung sambil membelai rambut anaknya dengan tangan gemetar. "Terima kasih, Tuhan. Terima kasih."
"Noona?"
Kim Sung Ryung berbalik menatap Kim Shin yang ternyata sudah kembali ke kamar dengan membawa termos berisi air panas. "Dia sudah sadar, Shin-ah. Dia sudah sadar," serunya dengan suara tercekat.
Mereka berdiri di kedua sisi ranjang Jongin, menatapnya dengan mata melebar gembira. Jongin berkerut samar, perlahan-lahan mengangkat tangan ke kepala, tetapi segera dihentikan ibunya.
"Jangan sentuh kepalamu dulu," kata ibunya lembut. "Kepalamu terluka."
"Sakit sekali," bisik Jongin serak. Tetapi ia menjatuhkan tangannya kembali ke sisi tubuhnya karena ia merasa sangat lemah. "Di mana aku?"
"Di rumah sakit," jawab ibunya. "Bagaimana perasaanmu?"
"Apa yang terjadi?" tanya Jongin sambil memejamkan mata sesaat.
"Justru itu yang ingin kami tanyakan padamu," sela Kim Shin.
Jongin membuka mata dan menoleh ke arah pamannya, keningnya berkerut dan ia terlihat heran. "Paman?"
"Ya?"
"Sedang apa Paman di sini?"
Kim Shin tertawa. "Sedang apa? Tentu saja karena kau dirawat di sini. Aku datang menjengukmu."
"Kapan Paman tiba di sini?"
"Baru saja."
"Paman baru tiba di New York?"
"New York?" Kim Shin benar-benar bingung sekarang. Apa yang sedang diocehkan keponakannya ini? "Ini Seoul, kau tahu?"
"Seoul?"
Kim Sung Ryung membelai kepala Jongin. "Jongin, Ibu yang datang ke sini, ke Seoul, setelah mendengar kalau kau masuk rumah sakit."
"Aku ada di Seoul?" tanya Jongin heran.
"Ya," jawab Kim Sung Ryung tegas, walaupun raut wajahnya kini berubah was-was.
Jongin terpekur, lalu menatap ibu dan pamannya bergantian. Dengan suara lirih dan bingung, ia bertanya, "Sejak kapan aku datang ke Seoul?"
Kim Sung Ryung menegakkan tubuh dan berkata pelan, "Shin-ah, panggilkan dokter."
