Winter In Tokyo (Kaisoo Remake)

Novel by Illana Tan

Kaisoo

GS

Korean Version

Cerita bukan milikku. Aku hanya mengubah latar tempat dan menghapus beberapa hal yang menurutku nggak penting. Semoga kalian menikmatinya.

Happy Reading

"Kau akan datang ke acara reuni malam ini, kan?" tanya Chanyeol di ujung sana.

"Yap," sahut Jongin sambil membidik sebuah kuil dengan kameranya. Earphone di telinganya terhubung dengan ponsel di saku jaketnya membuat ia bisa tetap memotret sambil berbicara dengan Chanyeol.

"Kau mau ku jemput?"

"Tidak usah. Aku sudah tahu tempatnya dan aku sudah meminjam mobil dari pamanku."

"Kau masih meminjam mobil pamanmu?" Nada suara Chanyeol terdengar ragu.

"Memangnya kenapa?"

"Setelah apa yang terjadi padamu waktu itu?"

Jongin tertawa kecil. "Aku tidak ingat apa-apa soal itu, jadi aku sama sekali tidak merasa takut atau semacamnya."

Chanyeol hanya bergumam dan berkata, "Ku dengar ibumu sudah kembali ke Amerika?"

"Ya. Kemarin sore. Kakak iparku sudah melahirkan. Saking gembiranya ibuku langsung pulang ke New York dengan pesawat pertama, meninggalkan anaknya yang baru keluar dari rumah sakit ini."

"Tapi kau merasa sehat, bukan? Obatmu tetap kau minum?"

"Astaga, kau terdengar seperti ibuku. Padahal tadinya aku sudah sempat merasa lega karena ibuku kembali ke New York dan membiarkan aku tenang sedikit," gurau Jongin sambil tertawa. Ia mengubah sudut kameranya dan melanjutkan, "Aku sangat sehat. Kau tidak perlu khawatir."

"Baiklah," kata Chanyeol sambil mendesah. "Sampai jumpa nanti malam."

Setelah melepaskan earphone dan memasukkannya ke saku, Jongin kembali mencari objek yang bagus untuk dipotret. Pohon-pohon gundul juga bisa menjadi objek yang bagus kalau di potret dengan benar.

Sejak keluar dari rumah sakit lima hari yang lalu, Jongin tinggal di apartemen yang baru, menghabiskan waktunya dengan berkeliling Seoul dan memotret apa saja yang menarik perhatiannya. Ia yakin ia sudah pernah melakukan semua itu selama sebulan terakhir sejak ia tiba di Seoul, tetapi karena ia tidak ingat apa-apa, ia memutuskan untuk melakukannya sekali lagi. Siapa tahu bisa membantu mengembalikan ingatannya sedikit demi sedikit. Tetapi sejauh ini ia tidak mengingat apa pun. Semuanya tetap terasa asing dan baru baginya.

Tidak ingat juga tidak apa-apa. Itulah yang selalu dikatakannya pada diri sendiri. Awalnya memang berhasil. Ia tidak terlalu memedulikan rentang waktu satu bulan yang hilang dari ingatannya. Ia yakin tidak ada hal penting yang harus di ingat dan dokter berkata ingatannya perlahan-lahan akan kembali. Jadi ia tidak berniat memaksakan diri dan membuat sakit kepalanya bertambah parah.

Tetapi akhir-akhir ini ia mulai merasa ada sesuatu yang hilang. Ia tidak tahu apa. Hanya saja setiap kali ia bangun tidur, makan, atau berkeliling Seoul, ia selalu merasa ada sesuatu yang kurang. Ia berusaha keras mengabaikannya, tetapi tidak berhasil.

Akhirnya ia berpikir itu mungkin semacam efek samping yang di derita otaknya yang malang. Hanya itu penjelasan yang mungkin.

Jongin baru saja akan meninggalkan apartemennya ketika ponselnya berdering. Ia menatap layar ponsel itu dan tidak mengenali nomor yang muncul di sana.

"Halo?" gumamnya datar ketika ponsel sudah ditempelkan ke telinga.

"Kai?"

Seluruh perhatian Jongin langsung terpusat pada suara wanita yang terdengar di ponselnya itu. Hanya ada satu orang di dunia ini yang memanggilnya Kai. "So Hee?" gumamnya ragu.

Wanita di ujung sana tertawa. "Aku senang kau masih ingat padaku," katanya dalam bahasa Inggris yang lancar. "Bagaimana kabarmu?"

Butuh sesaat untuk mencari suaranya kembali. Jongin berdeham untuk mengendalikan diri dan menjawab dalam bahasa Inggris juga, "Aku sangat baik. Kau ada di mana sekarang?"

"Di Seoul."

"Apa?"

So Hee tertawa lagi. "Di Seoul," ulangnya. "Aku baru saja tiba. Aku diutus perusahaanku untuk mengikuti pelatihan selama sebulan di sini."

"Kau masih di bandara?"

"Tidak. Aku sudah di apartemen milik perusahaan," sahut So Hee. "Ngomong-ngomong, kau sedang sibuk sekarang?"

"Oh, aku akan pergi menghadiri reuni sekolahku. Kenapa?"

"Ah, tidak. Aku hanya ingin mengajakmu makan malam bersama. Tapi kalau kau ada acara lain, tidak apa-apa. Lain kali saja."

Jongin terdiam sejenak, lalu bertanya, "Kau mau menemaniku ke sana? Kemungkinan acaranya akan membosankan, jadi ada sebaiknya kalau aku punya seseorang yang bisa kuajak mengobrol."

"Kalau kau tidak keberatan, aku mau saja."

Kurang-lebih satu jam kemudian Jongin tiba di gedung apartemen tempat So Hee menginap. Wanita itu sudah menunggunya di lobi gedung. Begitu melihat Jongin, So Hee langsung tersenyum cerah dan melambai. Jongin menghela napas panjang sebelum balas melambai dan menghampirinya.

So Hee masih terlihat sama seperti terakhir kali Jongin melihatnya di New York. Masih tetap cantik dengan rambut panjang sebahu dan gaya anggun seperti biasa. Melihat So Hee membuat hati Jongin terasa nyeri, membuktikan bahwa ia sama sekali belum melupakan wanita itu. Tetapi kalaupun Jongin pernah berusaha melupakan So Hee, dan kalaupun ia pernah berhasil melupakannya walaupun hanya sedikit, semua itu sama sekali tidak berarti karena amnesia sialan yang di deritanya ini. Kini ia kembali ke awal.

"Ku dengar kau mendapat kecelakaan," kata So Hee ketika mereka sudah berada di dalam mobil.

"Siapa yang mengatakannya padamu?" tanya Jongin sambil tetap memerhatikan jalanan di depannya.

"Ayahmu," sahut So Hee sambil tersenyum. "Aku mengunjungi ayahmu sebelum aku datang ke sini."

So Hee dan Jongin sudah berteman dekat sejak Jongin pindah ke New York. Rumah orangtua So Hee tepat berada di sebelah rumah orangtua Jongin. Orangtua So Hee memang orang Korea, tetapi mereka sudah lama tinggal dan menjadi warga negara Amerika.

Mereka bersekolah di highschool yang sama, tetapi kuliah di tempat yang berbeda. Walaupun begitu, mereka tetap berhubungan dekat. Jongin selalu menyukai So Hee sejak kecil dan mengira So Hee merasakan hal yang sama. Ternyata ia salah. So Hee lebih memilih sahabat Jongin dan bulan Juni nanti mereka akan menikah.

"Tidak parah," gumam Jongin.

So Hee mengangkat alis. "Tidak parah?" ulangnya. "Kata ayahmu kau mengalami gegar otak sampai sebagian ingatanmu hilang."

Jongin mengangkat bahu sambil lalu, mencoba meringankan situasi itu. "Hanya sejak aku tiba di Seoul sampai kecelakaan itu terjadi. Hanya satu bulan. Tidak penting."

"Kau yakin?"

"Ya," sahut Jongin tegas, tetapi hatinya berkata sebaliknya.

"Aku senang kau tidak melupakanku," kata So Hee.

Jongin menatapnya sekilas dan tersenyum. "Ngomong-ngomong, apa kabar Jackson?" tanya Jongin, berusaha mengubah bahan pembicaraan. "Sibuk mengurus rencana pernikahan kalian?"

So Hee mendesah dan memandang ke luar jendela.

Merasa heran dengan reaksi So Hee, Jongin kembali menoleh sejenak. "Hei, ada apa?" Sesaat tidak terdengar jawaban, lalu So Hee mengembuskan napas dan menoleh menatap Jongin. "Aku bisa jujur padamu, bukan?"

"Kau tahu benar jawabannya."

"Ya, aku tahu," gumam So Hee sambil tersenyum tipis. "Aku tahu kau teman yang bisa diandalkan."

"Jadi," kata Jongin datar. "Ada apa?"

"Jackson dan aku..." So Hee mengangkat bahu. "Yah, pernikahannya batal."

Jongin tiba di acara reuni sebelum Chanyeol. Aula resepsi yang terang benderang itu sudah penuh orang dan musik dari band beranggotakan lima orang mengalun lembut di seluruh penjuru ruangan. Awalnya ia merasa agak gugup, tetapi ternyata ada beberapa teman lamanya yang masih mengenalinya dan langsung menariknya bergabung dengan kelompok mereka untuk mengobrol tentang masa lalu. Chanyeol benar. Acara ini bisa menghiburnya. Jongin merasa santai, bebas mengobrol tentang masa lalu yang masih diingatnya. Kalaupun ada beberapa hal yang sudah terlupakan, semua orang akan memakluminya karena tidak semua orang bisa mengingat kejadian lebih dari sepuluh tahun yang lalu dengan jelas.

Ia menoleh ketika So Hee menarik lengan jaketnya dan berkata ia akan pergi ke toilet sebentar. Jongin mengangguk dan memandangi So Hee yang berjalan pergi. Jongin tidak tahu harus berpikir apa ketika So Hee berkata ia dan Jackson mungkin tidak jadi menikah.

"Kenapa tiba-tiba?" tanya Jongin waktu itu.

So Hee tersenyum muram. "Kurasa aku terlambat menyadari bahwa kami sama sekali tidak cocok." Lalu ia menggeleng cepat. "Tidak, tidak. Aku belum terlambat. Justru lebih baik aku menyadarinya sekarang daripada setelah kami menikah nanti. Bukankah begitu?"

Jongin diam saja, tidak tahu harus berkata apa. Juga tidak tahu harus berpikir apa atau merasakan apa.

So Hee menoleh dan tersenyum kepada Jongin. "Walaupun begitu, Kai, aku sangat sedih sekarang ini," akunya. "Jadi aku datang ke sini supaya kau bisa menghiburku. Kau tidak keberatan, bukan?"

"Sama sekali tidak," sahut Jongin, membalas senyum So Hee. "Kau selalu bisa menangis di bahuku kalau memang mau."

Dan Jongin memang bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Tidak ada yang tidak akan dilakukannya untuk So Hee.

Setelah mengobrol beberapa saat dengan teman-teman lamanya, Jongin memisahkan diri dengan alasan ingin mencari minuman. Ia berjalan ke meja minuman di dekat jendela untuk mengambil segelas sampanye. Ia menyesap minumannya dengan pelan dan memandang ke luar jendela. Salju mulai turun lagi. Ia berdiri di sana selama beberapa saat, memandangi butiran salju yang melayang-layang di luar.

Lagi-lagi ia merasa ada yang hilang.

Keningnya berkerut samar. Tentu saja ada yang hilang. Ia tahu benar ada sesuatu yang hilang. Hanya saja ia tidak tahu apa yang hilang. Dan apakah sesuatu yang hilang itu penting atau tidak.

Ia menarik napas dalam-dalam. Yah... mungkin bukan sesuatu yang penting. Jongin berputar membelakangi jendela dan memandang ke sekeliling ruangan. Aula besar itu mulai ramai. Orang-orang terlihat gembira, saling tersenyum, tertawa, dan mengobrol. Seorang kenalannya tersenyum dan melambai ke arahnya. Ia balas tersenyum dan mengangkat gelas.

Tepat pada saat itulah Jongin melihatnya.

Wanita itu baru memasuki ruangan. Ia memakai gaun biru gelap sebatas lutut, rambut sebahunya dibiarkan tergerai. Mata Jongin tidak berkedip mengamati wanita itu menyalami beberapa orang sambil tersenyum lebar. Aneh... Jongin menyadari dirinya tidak bisa mengalihkan pandangan.

Ia melihat wanita itu mengambil segelas minuman dari nampan yang disodorkan seorang pelayan sambil bercakap-cakap dengan seseorang yang berdiri di sampingnya. Park Chanyeol. Sebelum Jongin sempat berpikir lebih jauh, wanita itu mengangkat wajah dan memandang ke seberang ruangan. Tepat ke arah Jongin.

Mata mereka bertemu dan waktu serasa berhenti.

Aneh sekali. Otak Jongin tidak mengenalnya. Ia yakin ia tidak mengenal wanita itu. Tetapi kenapa sepertinya hatinya berkata sebaliknya?

Kenapa hatinya seakan berkata padanya bahwa ia merindukan wanita itu?

Akhirnya Kyungsoo menerima ajakan Park Chanyeol ke pesta reuni itu. Setelah ia berada di dalam mobil, Kyungsoo mulai merasa agak konyol. Apakah ia benar-benar berpikir ia mungkin akan bertemu dengan Jongin di acara itu? Astaga, ia memang bodoh.

Kemungkinan Jongin hadir di acara yang sama seperti yang akan dihadirinya bersama Park Chanyeol ini adalah satu dibanding... seribu. Bahkan mungkin sejuta! Apa yang ia pikirkan tadi?

"Kau agak pendiam malam ini."

Kyungsoo menoleh dan menatap Park Chanyeol. "Ya?"

"Kau sama sekali belum berbicara sejak kita berangkat tadi," gumam laki-laki itu sambil tersenyum. Ia melirik Kyungsoo sekilas, lalu kembali memerhatikan jalanan di depan.

"Maaf," gumam Kyungsoo, merasa agak bersalah. "Aku teman mengobrol yang payah malam ini, bukan?"

"Bukan begitu. Hanya saja kelihatannya kau sedang punya masalah." Chanyeol menoleh ke arahnya sejenak. "Ada yag bisa kubantu?"

Kyungsoo tersenyum dan menggeleng. "Tidak. Tidak ada masalah dokter Park, tenang saja."

Begitu mereka tiba di gedung tempat reuni itu diselenggarakan dan begitu mereka masuk ke aula resepsi, Kyungsoo langsung merasa seperti orang luar. Ia kembali menyesali keputusannya untuk datang ke acara ini. Ia tidak masuk SMP yang sama dengan Chanyeol, jadi ia sama sekali tidak mengenal siapa-siapa di sini. Chanyeol sudah jelas akan banyak mengobrol dengan teman-temannya, mengobrol tentang masa lalu yang sama sekali tidak dipahami Kyungsoo. Apa pula yang bisa diobrolkannya?

Tetapi sudah terlanjur. Ia sudah ada di sini dan sebaiknya ia tidak mengecewakan Park Chanyeol. Kyungsoo pun memasang senyum manis kepada orang-orang yang diperkenalkan Chanyeol kepadanya dan berbasa-basi sejenak.

Ketika mereka sedang mengobrol dengan dua orang teman lama Chanyeol, seorang pelayan dengan nampan penuh gelas berisi minuman ringan berhenti di samping Kyungsoo dan menyodorkan nampannya. Kyungsoo mengambil segelas cairan bergelembung itu dan tersenyum berterima kasih kepada si pelayan. Sambil menyesap minumannya, mata Kyungsoo menjelajahi ruangan. Ketika gerakan matanya terhenti pada seorang laki-laki di seberang ruangan, Kyungsoo terkesiap pelan dan terbelalak. Laki-laki itu berdiri di dekat jendela besar, sebelah tangan memegang gelas minuman dan tangan lain dimasukkan ke saku celana panjang putihnya. Ia juga sedang menatap Kyungsoo. Tidak salah lagi. Laki-laki itu Kim Jongin. Jongin ada di sana.

Begitu melihat Jongin, hal pertama yang dirasakan Kyungsoo adalah rasa lega. Karena Jongin baik-baik saja, tidak terluka, tidak mengalami kecelakaan, atau hal-hal buruk semacam itu. Kemudian perasaan itu dengan cepat berubah menjadi kejengkelan. Kalau laki-laki itu memang sehat-sehat saja dan tidak kurang suatu apa pun, kenapa ia tidak menghubungi Kyungsoo? Kenapa ia menghilang selama ini? Kenapa?

Chanyeol masih mengobrol dengan teman-temannya. Sambil tetap menatap Jongin yang berdiri seperti patung di sana, Kyungsoo meletakkan gelasnya dengan keras ke salah satu meja di dekatnya dan berderap menyeberangi ruangan. Sekarang laki-laki itu harus menerima amukan Kyungsoo, setelah itu Jongin harus memberikan penjelasan.

Jongin menoleh ke kiri dan ke kanan, lalu matanya kembali terpaku kepada Kyungsoo, seakan-akan ingin memastikan gadis itu memang berjalan ke arahnya. Pandangan matanya terlihat bingung, tidak pasti.

Kyungsoo berhenti tepat di depan Jongin, mendongak menatap wajah Jongin dengan tajam dan berkacak pinggang. Kejengkelan Kyungsoo semakin menjadi-jadi ketika melihat Jongin menatapnya dengan tatapan bingung tak berdosa.

"Kau..." Kyungsoo mulai membuka mulut, lalu menahan lidahnya karena ia sadar suaranya terlalu keras. Sambil menahan keinginannya untuk berteriak-teriak, Kyungsoo menghela napas panjang dan bertanya dengan nada rendah, "Ke mana saja kau selama ini?"

Jongin hanya menatapnya sambil mengerjapkan mata, masih terlihat bingung. Kyungsoo menghela napas sekali lagi dan memejamkan mata sejenak. "Tolong jangan pura-pura tidak mengerti apa maksudku."

Mata Jongin melebar. "Kau mengenalku?"

Kyungsoo terdiam sejenak, berusaha menahan diri sementara ia mengangkat sebelah alisnya dan menatap Jongin dengan curiga. Laki-laki ini keterlaluan. Memangnya dia tidak bisa melihat bahwa Kyungsoo sedang tidak berada dalam suasana hati yang baik untuk bercanda?

"Kau mengenalku?" tanya Jongin lagi. Nada suaranya mendesak dan penuh harap.

Aneh, pikir Kyungsoo sambil menatap Jongin dengan saksama. Akhirnya ia balas bertanya dengan nada datar, "Namamu Kim Jongin?"

Jongin mengangguk. "Ya."

"Kau fotografer dan baru datang dari New York?"

"Ya."

"Punya saudara kembar?"

"Tidak."

Kyungsoo berkacak pinggang. "Dan kau masih berani bertanya apakah aku mengenalmu?"

"Tunggu, aku..."

"Kyungsoo."

Kepala Kyungsoo berputar dan ternyata Park Chanyeol sudah ada di belakangnya. "Dokter Park."

Chanyeol menatap Jongin dan tersenyum. "Oh, Jongin? Kau sudah datang rupanya."

Kyungsoo mengerjap-ngerjapkan mata dan memandang Chanyeol dan Jongin bergantian. "Dokter kenal dengan Jongin?" tanyanya heran.

Sekarang giliran Chanyeol yang mengangkat alis heran. "Ya, dia temanku," sahutnya, lalu balik bertanya, "Kau juga?"

"Ya," Kyungsoo mengangguk. "Dia tetanggaku."

"Tetanggamu?"

"Tetanggaku?" Jongin menimpali dengan bingung.

Kepala Kyungsoo kembali berputar ke arah Jongin. "Dengar, Jongin, aku sedang tidak ingin bercanda saat ini. Jadi kalau kau tidak mau mengatakan padaku ke mana kau selama ini, maka..."

"Tunggu dulu, Kyungsoo," sela Chanyeol sambil memegang lengan Kyungsoo. "Sepertinya ada yang harus kujelaskan padamu lebih dulu."

Masih tetap berkacak pinggang, Kyungsoo menatap Chanyeol dengan heran.

"Kyungsoo, kau bilang Jongin ini tetanggamu?" tanya Chanyeol sekali lagi sambil menunjuk ke arah Jongin yang memandang mereka berdua bergantian.

"Apartemennya tepat di sebelah apartemenku. Dan dia sudah membuatku—dan kami semua—khawatir karena menghilang tanpa kabar sejak Hari Natal." Kyungsoo melemparkan tatapan sebal ke arah Jongin. Dan setelah apa yang dikatakannya di pelabuhan waktu itu, pikirnya geram. "Dan sekarang dia memasang tampang tidak berdosa."

"Kyungsoo." Suara Chanyeol pelan dan berusaha menenangkan Kyungsoo.

"Apa?"

"Dia benar-benar tidak mengenalmu."

Kyungsoo menatap Chanyeol dengan alis terangkat. Mungkin ia salah dengar? "Apa?"

"Dia benar-benar tidak mengenalmu."

Jadi Kyungsoo tidak salah dengar. Sekarang ia mulai bingung.

Chanyeol melirik ke arah Jongin yang sedang menatap mereka dengan penuh minat. "Aku pernah bercerita tentang temanku yang mengalami kecelakaan buruk dan hilang ingatan, bukan? Dialah orangnya. Kim Jongin."

"Apa?" Kyungsoo tercengang. Kali ini ia pasti salah dengar. Ia yakin.

"Dia ditemukan dalam keadaan pingsan dan terluka di jalan sepi tepat pada Hari Natal. Dia langsung dilarikan ke rumah sakit oleh orang-orang yang menemukannya. Dan setelah beberapa hari, dia sadar kembali tanpa ingatan apa pun atas kejadian yang terjadi selama satu bulan terakhir. Dia bahkan tidak ingat pernah datang ke Seoul. Hal terakhir yang diingatnya adalah ketika dia masih berada di apartemennya di New York," Park Chanyeol menjelaskan, tetapi buru-buru menambahkan begitu melihat wajah Kyungsoo berubah pucat, "tapi kau tidak perlu khawatir. Selain ingatannya yang hilang, dia sepenuhnya sehat." Ia berhenti sejenak dan menatap Kyungsoo yang diam mematung dengan mata terbelalak. "Kyungsoo, kau tidak apa-apa?"

Sehat? Itu bagus, tapi... Oh, astaga! Sebelah tangan Kyungsoo terangkat menutupi mulutnya sendiri. Hilang ingatan? Bagaimana hal itu bisa terjadi? Pada Hari Natal? Berarti setelah Jongin mengantarnya ke pelabuhan?

"Dia benar-benar tidak mengenalku?" Suara Kyungsoo keluar dalam bentuk bisikan tidak percaya.

Chanyeol menggeleng.

Kyungsoo tertegun dan menoleh ke arah Jongin. "Kau benar-benar tidak mengenaliku?" bisiknya pelan. "Padahal tadinya kukira... Aku tidak percaya ini." Ia berhenti sejenak, menunduk, lalu tersentak kembali menatap Jongin dengan raut wajah cemas. "Kau baik-baik saja, Jongin? Kau terluka?"

Jongin menatapnya sambil tersenyum sopan dan agak ragu. "Seperti kata Chanyeol, aku tidak apa-apa." Ia berhenti sejenak, lalu bertanya dengan hati-hati, "Tadi kau bilang kita bertetangga?"

Kyungsoo membasahi bibirnya yang tiba-tiba saja kering. "Ya," gumamnya. Matanya masih terpaku pada wajah Jongin. Jongin hilang ingatan? Jongin tidak mengenalnya? Tidak ingat apa pun?

"Tadi kudengar Chanyeol memanggilmu Kyungsoo?" Jongin melanjutkan.

Kyungsoo mengangguk pelan. "Do Kyungsoo," sahutnya dengan suara agak bergetar. Jongin bahkan tidak ingat namanya. Kenyataan itu membuatnya agak sakit hati.

"Kuharap kau memaklumi keadaanku," kata Jongin sambil mengulurkan tangan. "Senang berkenalan denganmu... sekali lagi. Dan kurasa aku membutuhkan bantuanmu."

Kyungsoo menatap tangan yang terulur itu dengan kening berkerut. Ini aneh sekali. Orang yang berdiri di depannya ini adalah Jongin, tapi juga bukan Jongin. Apakah ia sedang bermimpi? Tapi kenapa mimpi ini terasa nyata sekali?

"Kai?"

Kyungsoo menoleh dan melihat seorang wanita anggun dengan rambut panjang yang di cat cokelat sudah berdiri di samping Jongin. Kyungsoo mengerjap. Wanita itu sepertinya tidak asing.

"Oh, So Hee." Jongin menarik lengan wanita itu mendekat. "Coba dengar, Do Kyungsoo ini ternyata mengenalku. Dia tetanggaku."

Wanita yang di panggil So Hee itu menoleh ke arah Kyungsoo dan tersenyum. "Benarkah? Itu bagus sekali," katanya. Ia kembali menatap Jongin. "Setidaknya sekarang kau tahu di mana kau tinggal selama ini."

Jongin jelas-jelas senang. Ia memandang Chanyeol dan Kyungsoo bergantian. "Ini temanku yang baru datang dari New York, Yoon So Hee," katanya.

So Hee mengulurkan tangan kepada Chanyeol, lalu kepada Kyungsoo sambil berkata ramah, "Panggil saja aku So Hee. Senang berkenalan dengan kalian."

Tiba-tiba Kyungsoo ingat di mana ia pernah melihat wanita itu. Di laptop Jongin. Kyungsoo pernah melihat banyak foto wanita itu di laptop Jongin. Jadi So Hee adalah wanita yang pernah diceritakan Jongin? Wanita yang disukai Jongin tetapi justru akan menikah dengan teman baiknya itu? Dan sekarang wanita itu ada di sini?

"Aku ingin melihat apartemen yang ku tempati selama ini." Suara Jongin menembus otak Kyungsoo.

Kyungsoo mendongak dan menyadari tiga pasang mata menatapnya. "Tentu saja," katanya cepat. "Mungkin kau bisa mengingat sesuatu kalau kau kembali ke apartemen itu."

Jongin tersenyum. "Mungkin saja. Tapi kurasa aku tidak seoptimis itu. Mungkin tidak ingat juga tidak apa-apa."

Alis Kyungsoo terangkat. "Apa maksudmu?"

"Kai selalu sakit kepala kalau berusaha mengingat," sela So Hee, "jadi sebaiknya dia tidak memaksakan diri."

"Lagi pula," tambah Jongin dengan senyum lebar, "menurutku dalam sebulan tidak akan ada banyak hal yang terjadi. Jadi aku tidak ingin membuang-buang waktu mengingat hal-hal yang tidak penting."

Apa? Apa?! Kyungsoo hampir tidak memercayai telinganya sendiri. Ia berpaling ke arah Jongin dan membuka mulut, "Tidak pen..."

Tetapi ia tidak bisa menyelesaikan ucapannya. Ia meliaht Jongin sedang tersenyum lebar, tetapi laki-laki itu sedang menatap So Hee, bukan Kyungsoo. Senyumnya yang hangat itu juga ditujukan kepada So Hee, bukan Kyungsoo.

Dan tiba-tiba saja hati Kyungsoo terasa sangat nyeri.

To Be Continued