Winter In Tokyo (Kaisoo Remake)
Novel by Illana Tan
Kaisoo
GS
Korean Version
Cerita bukan milikku. Aku hanya mengubah latar tempat dan menghapus beberapa hal yang menurutku nggak penting. Semoga kalian menikmatinya.
Happy Reading
…
Setiap kali melihat gadis itu, ia merasakan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan. Perasaan yang membuatnya bingung, perasaan yang mendorongnya melakukan sesuatu yang bahkan tidak dipahaminya sendiri. Lagi-lagi Jongin melirik Do Kyungsoo yang berdiri di ambang pintu, membiarkan Jongin dan Soo Hee masuk lebih dulu.
Do Kyungsoo sudah menuliskan alamat gedung apartemen yang di tempati Jongin sejak ia tiba di Seoul awal bulan Desember lalu. Jadi hari Minggu pagi ini ia mengajak Soo Hee mengunjungi apartemen itu. Begitu mereka tiba di gedung yang dimaksud, Do Kyungsoo sudah menunggu bersama para tetangganya. Jongin merasa serba salah ketika berkenalan dengan orang-orang asing yang mengaku sudah mengenalnya. Para tetangganya memang ramah, namun mereka memandang Jongin dengan sorot mata kasihan dan penasaran. Hal itu membuat Jongin merasa tidak nyaman, karena saat-saat seperti itulah ia merasa dirinya bodoh.
Setelah perkenalan singkat itu, Kyungsoo membawanya ke apartemen di lantai dua. Apartemen nomor 201. Jongin berdiri di koridor di antara apartemen 201 dan 202, dan ia merasakan sesuatu. Sesuatu seperti... sepertinya ia sudah akrab dengan tempat itu. Namun semakin ia berusaha memikirkannya, perasaan itu semakin menjauh.
Begitu memasuki apartemennya, Jongin memandang berkeliling. Ia mengenali beberapa benda yang dibawanya dari New York, tetapi selebihnya asing.
"Jongin, kau mengingat sesuatu?" tanya Kyungsoo dengan nada penuh harap.
Jongin menoleh ke arah Kyungsoo dan menggeleng. Raut wajah gadis itu pun berubah.
Melihat itu Jongin tiba-tiba merasa bersalah. Aneh sekali... Ia mendapati dirinya tidak ingin membuat gadis itu kecewa.
"Kai."
Lamunan Jongin buyar dan ia menoleh ke arah Soo Hee. Wanita itu sedang menunjuk sesuatu di lantai. "Ada apa?" tanya Jongin.
"Aku tidak pernah tahu kau suka sandal seperti ini," kata Soo Hee sambil menunjuk sandal putih berbentuk kepala Pororo yang tergeletak di dekat pintu masuk. Ia tertawa kecil. "Ini milikmu?"
Jongin melihat sandal itu, lalu mengangkat bahu. "Entahlah," sahutnya ringan.
"Boleh kupakai?" tanya Soo Hee.
"Tentu saja. Ambil saja kalau kau mau," sahut Jongin sambil berjalan ke kamar tidur, tidak terlalu peduli dengan masalah sandal. Ia tidak melihat ke arah gadis tetangganya saat itu. Ia tidak melihat Do Kyungsoo tersentak dan menatap Jongin tanpa berkedip. Kemudian matanya menyipit, ia mendengus pelan, dan memalingkan wajah.
…
"Kubilang juga apa?" seru Taesoo sambil menatap Jiwon dengan mata lebar. "Noona lihat? Aku benar? Memang Jongin Hyung yang kulihat waktu itu di rumah sakit." Ia menoleh ke arah Kyungsoo, Kakek dan Nenek Hong yang menatapnya dengan penuh minat dan menjelaskan, "Aku melihat Jongin Hyung di rumah sakit. Awalnya aku tidak yakin, karena dia sama sekali tidak menegurku atau menunjukkan tanda-tanda kalau dia mengenalku. Tapi sekarang kita tahu Jongin Hyung hilang ingatan. Itulah sebabnya."
"Benarkah?" tanya Kyungsoo sambil menatap Taesoo. "Kenapa kau tidak pernah berkata apa-apa padaku?"
Kyungsoo, Jiwon, dan Taesoo berkumpul di apartemen Kakek dan Nenek Hong untuk membicarakan pertemuan singkat mereka dengan Jongin tadi. Sebenarnya Kyungsoo sudah menceritakan tentang keadaan Jongin semalam, ketika ia kembali dari acara reuni dalam keadaan bingung dan gelisah. Lalu pagi ini mereka kembali diperkenalkan kepada Jongin dan Yoon Soo Hee. Suasana perkenalan tadi terasa agak canggung.
"Waktu itu aku tidak yakin bahwa orang yang di lihat Taesoo itu Jongin," sahut Jiwon membela diri. "Siapa yang menyangka bahwa Jongin hilang ingatan? Sekarang dia benar-benar seperti orang asing."
"Aku pernah mendengar kasus tentang hilang ingatan, tapi kalau tidak salah orang itu sama sekali tidak ingat apa-apa. Dia lupa semuanya. Dia tidak ingat orangtuanya, bahkan namanya sendiri. memangnya orang bisa kehilangan hanya sebagian ingatannya? Seperti yang dialami Jongin itu?" tanya Kakek Hong bingung.
Taesoo mengangguk. "Sepertinya aku pernah mendengar ada kasus begitu. Sebagian ingatan kita bisa hilang kalau kita mengalami trauma atau semacamnya."
"Trauma apa?" gerutu Jiwon pelan.
"Siapa wanita yang bersamanya tadi?" tanya Nenek Hong tiba-tiba.
"Temannya dari New York," jawab Kyungsoo pendek. Wanita yang pernah disukai Jongin, tambahnya dalam hati. Dan yang mungkin masih disukainya sampai sekarang kalau melihat betapa akrabnya mereka tadi. Kening Kyungsoo berkerut ketika ia mengingat cara Jongin tersenyum kepada Soo Hee. Dari tadi Jongin hanya berbicara kepada Soo Hee, membuat Kyungsoo merasa seperti orang bodoh. Karena itulah ia tidak berlama-lama di apartemen Jongin. Kedua orang itu asyik membicarakan hal-hal yang tidak dipahaminya.
"Tapi, Kyungsoo, apakah dia sama sekali tidak ingat apa pun?" tanya Kakek Hong tiba-tiba, sepertinya belum benar-benar percaya kalau Jongin tidak ingat pada mereka. "Bahkan setelah ia melihat apartemennya?"
Kyungsoo menggeleng. "Sedikit pun tidak," gerutunya, lalu mendesah keras. "Padahal aku berharap dia bisa mengingat sesuatu. Apa saja. Tapi..." Ia mengangkat bahu dan mendesah sekali lagi.
Keempat orang lainnya berpandangan.
"Kenapa dia tidak bisa ingat?" tanya Kyungsoo pada diri sendiri. Keningnya berkerut. "Kenapa?"
"Jangan terlalu cemas. Kata dokter ingatannya bisa kembali kapan saja, bukan?" Jiwon berusaha menghibur.
Seakan tidak mendengar kata-kata Jiwon, Kyungsoo bergumam lirih, "Kata-katanya sewaktu di pelabuhan... dia juga tidak ingat lagi." Tiba-tiba ia berseru, "Dasar bodoh! Kenapa mengatakan hal-hal yang dengan mudah dilupakannya? Membuat orang bingung!"
Keempat orang yang duduk di sekitarnya terlompat kaget, tetapi cukup bijak untuk tidak membuka mulut.
Tepat pada saat itu ponsel Kyungsoo berbunyi. Dengan gerakan tidak sabar, Kyungsoo
mengeluarkan ponsel dari saku jaket dan menempelkannya ke telinga. "Ya?" sahutnya asal-asalan, lalu raut wajahnya berubah. "Dokter Park?"
…
Soo Hee menoleh ke arah Jongin. Laki-laki itu masih berdiri di dekat teras sambil berbicara dengan ayahnya di telepon. Tadi Jongin baru menyalakan laptop-nya ketika ayahnya menelepon untuk menanyakan keadaannya. Iseng-iseng Soo Hee mengambil alih laptop itu dan menemukan folder yang menyimpan foto-foto hasil jepretan Jongin selama di Seoul.
Foto-foto itu sudah pasti bukan foto asal jadi. Semuanya di potret dengan teliti. Sudut, fokus, dan objek yang di potret sangat jelas. Senyum Soo Hee mengembang sementara ia melihat lembaran-lembaran foto itu. Kota Seoul di potret dengan ahli.
Tapi itu bukan sesuatu yang aneh. Kim Jongin tidak akan menjadi fotografer profesional yang terkenal di New York kalau hasil jepretannya tidak termasuk kategori mengagumkan.
Tiba-tiba gerakan tangan Soo Hee terhenti. Matanya terpaku pada foto di depannya. Foto seorang gadis berjaket hijau di tengah-tengah kerumunan orang yang berlalu-lalang di jalan raya. Gadis itu berdiri membelakangi kamera, kepalanya menoleh ke samping. Wajahnya tidak terlalu jelas karena foto itu diambil dari jarak jauh. Selain sosok gadis dalam balutan jaket hijau itu, objek di sekitarnya—termasuk juga kerumunan orang yang berlalu lalang—berwarna hitam-putih dan terlihat kabur.
Bahkan Soo Hee pun tahu foto ini foto yang menakjubkan. Seolah-olah kamera si fotografer hanya terpusat pada gadis itu dan dunia di sekelilingnya memudar.
Foto hitam-putih yang berikut juga sangat mengesankan. Objek utamanya lagi-lagi seorang gadis yang berdiri di lorong yang tidak terlalu lebar di antara dua rak buku tinggi, dengan latar belakang jendela kaca berukuran besar. Sinar matahari yang menembus kaca dan menggelapkan sosok gadis itu. Soo Hee hanya bisa melihat wajah gadis itu menunduk membaca sebuah buku di tangannya. Di mana tempat itu? Mungkin di toko buku? Atau perpustakaan? Tangan Soo Hee bergerak lagi, menampilkan foto lain. Foto kali ini tidak menampilkan siapa pun, hanya terlihat sebuah pintu kayu cokelat dengan tiga angka tertempel di bagian tengah atas pintu. Nomor 202. Di lantai di depan pintu terlihat sebuah kantong kertas merah muda berhias pita merah. Hadiahkah? Hadiah untuk seseorang di balik pintu bernomor 202 itu?
Dengan kening berkerut, Soo Hee berpikir-pikir. Pintu bernomor 202? Bukankah itu nomor apartemen Do Kyungsoo yang tinggal di seberang apartemen Jongin?
Foto berikut menegaskan kecurigaannya. Tidak diragukan lagi. Gadis di dalam foto yang ini adalah Do Kyungsoo. Foto close-up itu menampilkan Kyungsoo sedang duduk bertopang dagu. Kepalanya ditundukkan ke arah buku yang terbuka di meja. Sepertinya gadis itu sedang membaca. Si fotografer mencurahkan seluruh perhatiannya pada profil Do Kyungsoo. Semua tentang gadis itu terlihat jelas. Mulai dari pandangan matanya yang terlihat agak kosong walaupun terarah ke buku di meja, helai-helai rambut hitam sebahunya yang terlepas dari sanggul asal-asalan di atas puncak kepalanya, sampai tiga tindikan di telinga kanannya.
Soo Hee tertegun. Ia mengenal Jongin dengan sangat baik. Ia tahu Jongin hanya akan memotret sesuatu yang membangkitkan minatnya. Jongin fotografer yang teliti, sedikit eksentrik, ia tidak akan mau membuang-buang waktu untuk memotret sesuatu yang masih dirasanya meragukan. Karena itulah semua hasil jepretannya selalu menakjubkan. Dan sekarang ia memotret Do Kyungsoo...
Seharusnya Soo Hee sudah bisa menduganya sejak ia melihat sorot mata Kyungsoo tadi. Oh ya, Soo Hee tanpa sengaja memandang ke arah tetangga Jongin itu ketika ia bertanya soal sandal Pororo. Dan Soo Hee langsung mengenali kilasan kaget dan sedih di mata itu. Hanya saja saat itu ia belum benar-benar paham. Tetapi kini sepertinya ia mulai mengerti.
Matanya menangkap amplop cokelat yang terselip di antara tumpukan buku di meja. Soo Hee meraih amplop itu dan melihat isinya. Ternyata isinya adalah hasil cetakan foto-foto yang ada di laptop tadi.
Jongin tidak boleh melihat foto-foto ini.
Pikiran itu tiba-tiba saja terlintas dalam benaknya. Soo Hee menelan ludah dan menatap foto di hadapannya tanpa berkedip. Ia tidak bisa menjelaskan apa yang sedang dilakukannya. Ia tidak bisa menjelaskan kenapa ia melakukannya. Tanpa benar-benar berpikir panjang dan seolah-olah segalanya terjadi dalam mimpi, tangannya yang agak gemetar bergerak dan memasukkan amplop berisi foto itu ke tas tangannya yang berukuran besar. Setelah itu tangannya berpindah ke laptop tadi dan menghapus semua foto di folder itu.
Begitu foto-foto itu hilang dari pandangan, hati Soo Hee langsung di cengkeram perasaan bersalah. Astaga, apa yang sudah dilakukannya?
"Kurasa aku akan tinggal di sini."
Suara Jongin membuat Soo Hee terlompat kaget. Ia cepat-cepat berdiri dan melihat Jongin ternyata sudah tidak berbicara di ponsel lagi. Sambil memaksakan seulas senyum, Soo Hee berdeham dan bertanya, "Ya?"
Jongin berjalan ke arah Soo Hee dan duduk di depan laptop-nya. "Aku akan tinggal di sini," ulangnya.
Alis Soo Hee terangkat. "Oh? Kenapa?"
Jongin mendongak menatap Soo Hee. "Semua barangku ada di sini. Lagi pula," katanya sambil memandang berkeliling, "aku merasa betah di sini."
Soo Hee tidak berkata apa-apa. Perasaannya masih tidak enak. Kedua tangannya masih terasa dingin dan gemetar.
Jongin menoleh ke arahnya dan tersenyum, "Awalnya kukira di apartemen ini hanya ada kasur lantai, ternyata ada tempat tidur modern. Juga ada mesin pemanas air."
"Yah... Kelihatannya begitu," gumam Soo Hee.
"Ditambah lagi," Jongin melanjutkan dengan perlahan, "orang-orang yang tinggal di gedung ini mungkin bisa membantuku mengingat sesuatu."
Kening Soo Hee berkerut. "Tapi kau bilang, kau tidak akan memaksakan diri untuk mengingat. Bukankah kepalamu bisa sakit?"
"Aku tidak akan memaksakan diri," sahut Jongin.
"Bukankah kau bilang kalau tidak bisa mengingat juga tidak apa-apa?" desak Soo Hee lagi. "Kau bilang tidak mungkin ada kejadian penting dalam sebulan itu."
Jongin menatapnya dengan bingung. Soo Hee sendiri juga bingung dengan perasaannya saat itu. Kenapa ia bersikap seperti itu?
"Aku memang pernah berkata begitu," aku Jongin. Ia berhenti sejenak, lalu berkata dengan hati-hati, "Tapi terus terang saja, aku selalu merasa ada sesuatu yang hilang. Sesuatu yang aku sendiri tidak tahu apa itu."
Soo Hee menatap Jongin yang kebingungan. Mungkinkah sesuatu yang hilang itu... Tidak, ia tidak ingin memikirkannya. Tidak ingin menebak-nebak dan memusingkan masalah itu. Ia tersenyum lebar dan berkata, "Aku kecewa kau merasa seperti itu."
Jongin mengangkat wajah dan menatap Soo Hee. "Apa?"
"Kau merasa kehilangan, padahal aku ada di sini bersamamu. Apakah itu tidak cukup?" gurau Soo Hee.
"Maksudku bukan begitu," sahut Jongin. Ia balas tersenyum. "Aku sangat senang kau menemaniku pada saat-saat seperti ini. Kau tahu benar aku sangat menghargaimu."
Soo Hee mengangguk-angguk pelan, lalu bergumam, "Ya, aku tahu." Ia hanya berharap ia belum terlambat menyadarinya. Setelah terdiam sejenak, Soo Hee mengangkat wajah dengan ragu. "Kai..."
"Ya?"
"Kau tidak mau tahu kenapa aku tidak jadi menikah dengan Jackson?"
Hening sejenak. Jongin menatap Soo Hee yang berjalan ke pintu kaca balkon. "Kurasa kau akan menceritakannya padaku kalau kau memang sudah siap," sahut Jongin.
Soo Hee berbalik menghadap Jongin. Seulas senyum tipis tersungging di bibirnya. "Selama ini aku selalu merasa dialah orang yang bisa membuatku bahagia," Soo Hee memulai dengan pelan, "tapi aku salah."
Jongin tidak berkata apa-apa. Ia bisa melihat bahwa Soo Hee terlihat gugup, tetapi ia memutuskan untuk membiarkan wanita itu mengatakan semua yang ingin dikatakannya dan ia akan mendengarkan.
"Orang yang selalu bisa membuatku bahagia bukan Jackson," Soo Hee melanjutkan. "Tapi Kim Jongin."
Jongin sama sekali tidak menduga akan mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Soo Hee. Sudah lama sekali ia berharap bisa mendengarnya. Dan kini setelah harapannya menjadi kenyataan, ia bahkan tidak bisa bereaksi saking kagetnya. Ia hanya bisa diam, tercengang, dan menatap Soo Hee lurus-lurus, seakan ia takut wanita itu akan mulai tertawa dan berkata ia hanya bercanda.
"Aku baru sadar setelah kau pergi," Soo Hee melanjutkan. Kedua tangannya saling meremas walaupun ia tetap menatap mata Jongin. "Setelah kau meninggalkan New York, aku merasa semuanya berbeda. Segalanya tidak sama kalau kau tidak ada. Dan aku baru sadar, aku... aku...," Soo Hee menarik napas dalam-dalam, "... membutuhkanmu."
Jongin masih belum bisa menemukan suaranya. Ia masih butuh waktu untuk mencerna kenyataan bahwa Soo Hee membutuhkannya. Soo Hee sendiri yang mengatakannya. Wanita yang selama ini menjadi bagian terpenting dalam hidupnya berkata bahwa ia membutuhkan Jongin.
Soo Hee membasahi bibir dan tertawa gugup. "Kai, jangan duduk diam saja seperti itu. Katakan padaku... apakah aku sudah terlambat? Sudah terlambat menyadarinya?"
…
Ia memang tidak membunyikan bel, tapi ia sudah mengetuk. Dua kali, malah. Sungguh, ia tidak bermaksud mengintip atau pun menguping. Karena Jongin tidak menyahut, Kyungsoo pun membuka pintu dan langsung mendengar suara Yoon Soo Hee. "Orang yang selalu bisa membuatku bahagia bukan Jackson, tapi Kim Jongin."
Kalimat itu membuat Kyungsoo membeku dan kata-kata sapaan yang sudah akan meluncur dari lidahnya tercekat. Ia mengangkat wajah. Dari celah pintu yang terbuka, Kyungsoo melihat Yoon Soo Hee berdiri di dekat pintu kaca beranda, sedang menatap Jongin yang duduk di sofa.
Suara Soo Hee terdengar lagi. "Aku baru sadar setelah kau pergi. Setelah kau meninggalkan New York, aku merasa semuanya berbeda. Segalanya tidak sama kalau kau tidak ada. Dan aku baru sadar, aku... aku..." Jeda sesaat, lalu, "... membutuhkanmu."
Kyungsoo tidak bisa bergerak. Matanya beralih ke Jongin yang masih tetap diam.
"Kai, jangan duduk diam saja seperti itu. Katakan padaku... apakah aku sudah terlambat? Sudah terlambat menyadarinya?" Suara Soo Hee yang gugup terdengar lagi.
Tiba-tiba Kyungsoo mendapati dirinya bertanya-tanya apakah ia ingin mendengar jawaban Jongin. Ya... Tidak... Ya... Tidak... Tetapi sebelum ia menetapkan pendirian, ia melihat Jongin bangkit dari sofa dan berjalan pelan ke arah Soo Hee. Ia meraih tangan Soo Hee dan menariknya ke dalam pelukan.
Napas Kyungsoo teronggok di tenggorokan. Matanya terpaku pada Jongin yang memeluk Yoon Soo Hee erat-erat dan membelai kepalanya. Itu bukan pelukan sambil lalu. Bukan juga pelukan bersahabat. Itu pelukan dalam arti sebenarnya. Pelukan yang diberikan kepada orang yang dicintai. Saat itu juga Kyungsoo mendadak merasa lemas, seakan seluruh tenaganya terserap keluar. Yang tersisa hanya rasa nyeri di dadanya.
"Mereka...?"
Kyungsoo tersentak dan menoleh. Ternyata Jun Jiwon sudah berdiri di belakangnya entah sejak kapan dan keningnya berkerut menatap Jongin dan Soo Hee yang berpelukan. Kyungsoo buru-buru menutup pintu dengan perlahan dan berbalik menghadap Jiwon.
Jiwon menatapnya. "Kyungsoo, kau tidak apa-apa?" tanyanya hati-hati.
Kyungsoo memaksakan seulas senyum di wajahnya yang kaku. "Ya, memangnya kenapa, Eonnie?" katanya cepat.
"Itu... Jongin..."
"Oh, itu." Kyungsoo tertawa sumbang dan gugup. "Tadi aku ingin bertanya apakah mereka membutuhkan sesuatu. Tapi ternyata mereka sedang... eh, sibuk." Kyungsoo membasahi bibirnya. "Sebaiknya kita tidak mengganggu mereka."
Kyungsoo berjalan dengan cepat ke apartemennya, diikuti Jiwon.
"Kyungsoo, kau masih belum sadar atau tidak mau mengaku?" tanya Jiwon setelah mereka masuk ke apartemen.
"Apa maksud Eonnie?"
"Tentang perasaanmu pada Jongin."
Kyungsoo membuka mulut, tapi langsung menutupnya lagi. Perasaannya? Perasaannya... "Eonnie," sahut Kyungsoo setelah terdiam sejenak. "Sebentar lagi Dokter Park akan datang menjemputku. Aku harus bersiap-siap."
Jiwon menatapnya selama beberapa detik, lalu mengangguk.
Setelah Jiwon keluar dan menutup pintu, Kyungsoo baru menarik napas panjang dan mengembuskannya dengan pelan. Kau masih belum sadar atau tidak mau mengaku?
Pertanyaan Jiwon itu masih terngiang-ngiang di telinganya. Kyungsoo sendiri tidak tahu harus bagaimana menjawabnya. Ia tidak mau memikirkannya. Bagaimanapun juga, setelah melihat adegan tadi, jawaban atas pertanyaan Jiwon sudah tidak penting sama sekali.
…
Setelah mengantar Soo Hee pulang dan mengambil sedikit barangnya dari apartemen, Jongin kembali ke apartemen lamanya. Gedung ini memang sudah tua, tapi orang memang tidak boleh menilai sesuatu dari penampilan luarnya saja. Jongin menyukai tempat itu dan suasananya yang sepi.
Ia ingin menyapa tetangganya dan mengabarkan bahwa ia akan kembali tinggal di sini, tetapi Do Kyungsoo tidak ada di apartemennya. Jongin sudah membunyikan bel dan mengetuk pintu. Tidak ada jawaban. Berarti tetangganya itu tidak ada di rumah.
"Jongin Hyung?"
Jongin melongok ke bawah melewati tangga dan melihat Jun Taesoo sedang mendongak ke arahnya. "Oh, Taesoo."
"Sedang mencari Kyungsoo Noona?" tanya Taesoo.
"Ya," sahut Jongin. "Tapi sepertinya dia sedang keluar."
"Memang. Katanya dia ada janji dengan dokter itu."
Kening Jongin berkerut. "Dokter apa? Apakah Kyungsoo sedang sakit?"
Taesoo mengibaskan tangan. "Tidak, Kyungsoo noona tidak sakit," katanya cepat. "Dokter itu bisa di bilang pacar Kyungsoo noona. Tunggu, siapa namanya? Ah! Park Chanyeol. Oh ya, bukankah Hyung juga mengenalnya?"
Park Chanyeol? Pacar Do Kyungsoo? Kerutan di kening Jongin semakin dalam. Benar juga, waktu itu mereka menghadiri acara reuni bersama. Apakah Do Kyungsoo memang pacar Chanyeol? Sebenarnya masalah Do Kyungsoo itu pacar Chanyeol atau bukan sama sekali bukan urusan Jongin. Mereka berdua boleh-boleh saja pacaran, tidak ada yang melarang.
Tetapi kenapa Jongin merasa tidak menyukai gagasan itu?
To Be Continued
