Winter In Tokyo (Kaisoo Remake)
Novel by Illana Tan
Kaisoo
GS
Korean Version
Cerita bukan milikku. Aku hanya mengubah latar tempat dan menghapus beberapa hal yang menurutku nggak penting. Semoga kalian menikmatinya.
Happy Reading
…
Langit sudah gelap ketika Kyungsoo menaiki tangga dengan pelan sambil merogoh tas tangannya mencari kunci. Ia baru akan membuka pintu apartemennya ketika pintu apartemen seberang tiba-tiba terbuka dengan cepat. Kyungsoo terkesiap kaget dan berputar dengan cepat.
"Maaf, aku tidak bermaksud mengejutkanmu," kata Jongin yang baru keluar dari apartemennya dan berdiri di ambang pintu.
"Jongin?" gumam Kyungsoo lega dan heran. "Sedang apa kau di sini?"
Jongin tersenyum lebar. "Mulai hari ini aku kembali tinggal di sini," katanya.
Alis Kyungsoo terangkat. "Benarkah?" Tidak ingin terlalu senang dan berharap, ia melirik ke belakang Jongin, dan bertanya dengan nada datar, "Soo Hee...?"
"Oh, Soo Hee sudah pulang ke apartemennya," sahut Jongin singkat. Sampai sekarang ia masih terus memikirkan apa yang dikatakan Soo Hee padanya tadi siang dan sampai sekarang ia masih belum benar-benar yakin tentang semua itu.
"Jadi kenapa memutuskan untuk tinggal di sini?" Suara Kyungsoo menyentakkan Jongin kembali ke dunia nyata.
Jongin mengangkat bahu. "Kurasa ingatanku bisa lebih cepat kembali kalau aku tinggal di sini," sahutnya ringan, "walaupun, tentu saja, aku membutuhkan bantuan kalian semua."
Kyungsoo menatap Jongin dengan mata disipitkan. "Waktu itu kau bilang kau tidak ingin mengingat."
"Aku tidak pernah berkata begitu," bantah Jongin.
"Ya, kau sendiri yang bilang begitu."
"Aku bilang tidak ingat juga tidak apa-apa. Itu tidak berarti aku tidak mau mengingat."
"Sama saja," balas Kyungsoo jengkel.
Jongin tertegun sejenak. "Apakah kita selalu seperti ini?"
"Seperti ini bagaimana?" tanya Kyungsoo tidak mengerti.
"Berdebat."
Seulas senyum samar tersungging di bibir Kyungsoo. "Ya."
Melihat senyum itu, Jongin juga ikut tersenyum. "Hubungan kita... baik? Kita berteman dekat?"
Jongin melihat tetangganya tidak langsung menjawab. Setelah ragu-ragu sesaat, Kyungsoo mengangguk lagi. "Ya."
Memang tidak salah, pikir Jongin. Ia memang sudah menduga hubungannya dengan Do Kyungsoo cukup baik, karena ia selalu merasa nyaman berada di dekat gadis itu dan kata-katanya selalu mengalir dengan lancar seperti sekarang.
"Kau sudah makan malam, Jongin?" tanya Kyungsoo tiba-tiba sambil memutar kunci pintu apartemennya.
Jongin mengangkat wajah. "Belum," sahutnya. "Aku baru mau pergi mencari makan. Aku tidak bisa memasak."
Kyungsoo mendengus dan tertawa. "Aku tahu itu," gumamnya.
"Kau sendiri sudah makan?" tanya Jongin.
Kyungsoo menggeleng.
"Chanyeol tidak mengajakmu makan malam?" Jongin heran karena kata-kata itu meluncur keluar begitu saja tanpa diproses otaknya terlebih dulu.
Kyungsoo menatapnya dengan alis terangkat.
"Taesoo bilang kau pergi kencan dengan Chanyeol tadi," jelas Jongin enggan, heran dengan perasaan tidak nyaman yang kembali timbul.
"Dokter Park harus kembali ke rumah sakit, jadi kami tidak sempat makan malam," sahut Kyungsoo datar.
"Kalau begitu, ayo kita pergi makan. Aku yang traktir," ajak Jongin, lagi-lagi tanpa berpikir, seakan-akan ia sudah sering mengucapkannya.
Kyungsoo menatap Jongin tanpa berkata apa-apa. Sesaat, ia merasa Jongin sudah kembali menjadi Jongin yang dulu. Tetapi adegan tadi siang terbesit dalam benaknya. Yoon Soo Hee yang berkata ia membutuhkan Jongin. Jongin yang memeluknya dengan erat. Dada Kyungsoo kembali terasa nyeri.
"Kurasa aku punya ide yang lebih bagus," kata Kyungsoo, berusaha bersikap biasa. Ia membuka pintu apartemennya dan mengisyaratkan supaya Jongin mengikutinya.
"Ayo, masuk. Aku ingin memasak malam ini."
"Tidak apa-apa kalau aku masuk?"
Kyungsoo melepas sepatunya dan menoleh melewati bahunya ke arah Jongin yang berdiri dengan sikap ragu di ambang pintu apartemen Kyungsoo. "Tidak usah sungkan," kata Kyungsoo ringan. "Selama ini kau tidak pernah segan-segan keluar-masuk apartemenku. Atau memintaku memasak untukmu."
"Oh, ya?" Jongin mengikuti Kyungsoo masuk ke apartemen dan ke ruang duduk yang telihat agak sempit karena terlalu banyak perabot, namun berkesan nyaman. "Aku sering memintamu memasak untukku?"
Kyungsoo tersenyum dan mengangkat bahu. "Kalau aku memasak, kau yang selalu mencuci piring. Kau juga sering mentraktirku. Jadi aku sama sekali tidak keberatan."
Jongin duduk di lantai sambil mengobrol dengan Kyungsoo yang sibuk di dapur kecilnya. Mendengar suara gadis itu, mengobrol dengannya sambil makan, membuat Jongin merasa... entahlah, tetapi apa pun itu, rasanya menyenangkan.
"Ngomong-ngomong," gumam Kyungsoo sambil menunduk menatap nasi kari di depannya, "kenapa Soo Hee bisa datang ke Seoul? Bukankah dia akan segera menikah?"
"Kau tahu tentang Soo Hee?" tanya Jongin heran. Apakah ia sendiri yang bercerita tentang hubungannya dengan Soo Hee kepada Kyungsoo? Kenapa? Ia bukan orang yang gampang menceritakan isi hatinya kepada orang lain.
Kyungsoo mengangkat wajah dan menatap mata Jongin sejenak, lalu kembali menunduk. "Aku memang tidak tahu banyak," akunya. "Yang kutahu kau dulu menyukainya, tapi dia akan menikah dengan orang lain."
Jongin tertegun. Ternyata ia menceritakan semuanya kepada gadis tetangganya ini. Kenapa ia melakukannya? Siapa Do Kyungsoo ini baginya?
"Jadi?" desak Kyungsoo pelan.
"Dia datang ke Seoul karena mengikuti pelatihan dari kantornya," jelas Jongin. Kalau ia sudah menceritakan tentang Soo Hee kepada Kyungsoo sebelum ini, maka tidak apa-apa kalau ia bercerita lebih banyak lagi. Lagi pula, ia memang ingin menceritakannya.
"Dan dia tidak jadi menikah."
Kyungsoo mengangkat wajah dan menatap Jongin lurus-lurus. "Jadi?"
"Begitulah," gumam Jongin sambil menunduk menatap makanannya, tidak sanggup membalas tatapan Kyungsoo.
"Kau... masih menyukainya?"
Tentu saja, pikir Jongin dalam hati. Soo Hee adalah orang terpenting dalam hidupnya selama ini. Tentu saja ia masih menyukai Soo Hee. Tetapi kenapa kata-kata itu sulit sekali keluar?
"Sampai sekarang... masih menyukainya?"
Jongin menetapkan hati dan mengangkat wajah, menatap mata Kyungsoo. Ia menarik napas dan berkata, "Ya."
Kyungsoo tidak pernah menyangka satu kata sederhana itu bisa terasa begitu menyakitkan, membuat hatinya mengerut. Selera makannya menguap begitu saja. "Lalu..." Kyungsoo tidak menyelesaikan ucapannya.
"Kenapa?"
"Tidak apa-apa," sahut Kyungsoo sambil menggeleng-geleng. "Lupakan saja. Tidak penting."
Lalu apa artinya kata-katamu di pelabuhan waktu itu? Kyungsoo ingin bertanya. Tetapi ia tidak ingin mempermalukan diri. Kalau dipikir-pikir sekarang, kata-kata Jongin di pelabuhan waktu itu terasa kabur, tidak nyata. Saat itu Kyungsoo sendiri hampir tidak memercayai telinganya. Seperti mimpi. Yah, mungkin memang mimpi. Mungkin semua itu hanyalah hasil dari imajinasinya yang memang luar biasa hebat.
"Kelihatannya kau juga dekat dengan Chanyeol," komentar Jongin dengan nada ringan, membuyarkan lamunan Kyungsoo.
Kyungsoo butuh beberapa detik untuk memahami ucapan Jongin. "Oh, dengan Dokter Park? Ya, begitulah." Seakan baru teringat sesuatu, Kyungsoo menatap Jongin dengan kening berkerut dan bertanya, "Kenapa sebelum ini kau tidak pernah berkata padaku bahwa kau mengenal Dokter Park?"
"Oh, ya?"
"Aku yakin aku sering menyebut nama Dokter Park," kata Kyungsoo lagi. "Dan kau tidak pernah berkata apa-apa."
Entahlah. Jongin sendiri tidak tahu bagaimana harus menjawabnya, karena ia sama sekali tidak ingat apa pun. Merasa ia harus mengatakan sesuatu, ia pun membuka mulut, "Aku juga tidak tahu, tapi aku tahu Chanyeol menyukaimu."
Begitu kata-kata itu keluar, Jongin langsung menyesalinya. Ia tidak bermaksud berkata seperti itu. Sungguh. Kata-kata itu terasa pahit di mulutnya. Tetapi ia memang tidak pernah memahami apa yang terjadi pada dirinya setiap kali ia berada di dekat Do Kyungsoo. Perasaan dan pikirannya kacau-balau.
Kyungsoo menatapnya dengan alis terangkat.
"Dia sering bercerita tentang dirimu. Tentu saja waktu itu aku masih belum tahu bahwa kau tetanggaku," lanjut Jongin buru-buru, berusaha mengabaikan perasaannya yang aneh. "Dan kalian juga terlihat cocok sekali..."
Kyungsoo mengerjapkan mata dan menyela datar, "Apakah kau bermaksud memintaku menerima perasaan Dokter Park?"
Sebenarnya Kyungsoo sangat menyadari perasaan Park Chanyeol kepadanya. Laki-laki itu memang belum mengungkapkannya secara langsung, tetapi sikapnya sudah cukup jelas. Seharusnya Kyungsoo merasa senang. Memang itu yang diinginkannya selama ini, bukan? Park Chanyeol adalah cinta pertamanya, laki-laki pertama yang membuat hatinya berbunga-bunga. Lalu kenapa kini Kyungsoo ragu?
Karena Jongin memasuki hidupnya. Karena Jongin memberitahunya sesuatu yang indah bisa di lihat pada saat gelap. Karena Jongin mengajaknya menonton pertunjukan balet pada malam Natal. Karena Jongin mengajarinya berdansa waltz di atas es. Karena entah sejak kapan ia merasa bergantung pada Jongin. Karena entah sejak kapan ia merasa bahagia setiap kali Jongin tersenyum kepadanya. Karena Jongin memintanya melupakan Park Chanyeol.
Tetapi sekarang Jongin duduk di hadapannya, menatapnya dengan tenang dan menyuruhnya menerima Park Chanyeol?
Jongin membalas tatapan Kyungsoo dengan resah. Gadis itu menatapnya dengan sorot mata tidak percaya. Nyaris sedih. Kenapa? Sorot mata itu membuat dada Jongin terasa berat. Ia juga tiba-tiba di cengkeram perasaan bersalah. Pertanyaan Kyungsoo tadi seakan bergema dalam keheningan di antara mereka. Apakah kau memintaku menerima perasaan Dokter Park?
"Ya," gumam Jongin serak, karena mulutnya mendadak kering. "Terimalah dia."
…
Jongin merasa frustrasi. Ia mengempaskan diri ke sofa begitu kembali ke apartemennya. Ia benar-benar tidak bermaksud menyuruh Kyungsoo menerima Chanyeol atau semacamnya. Hanya saja, tidak ada alasan kenapa ia harus menentang mereka berdua. Tidak ada alasan sama sekali. Jadi ia melakukan hal yang semestinya. Ia tahu benar Chanyeol memang menyukai Kyungsoo. Apa salahnya meminta gadis itu mempertimbangkan teman baiknya? Ia memang sudah melakukan hal yang benar. Benar... Tapi...
Ia memukul-mukul dadanya dengan kesal. Astaga, kenapa ia merasa sesak? Ia begitu resah sampai ingin meninju sesuatu untuk melampiaskan kekesalannya sendiri. Berusaha menenangkan diri, ia menarik napas dalam-dalam, tetapi hal itu malah membuat hatinya terasa semakin sakit dan seolah-olah akan meledak.
Saat itulah ia tiba-tiba sadar dan menyumpah pelan.
Ia, Kim Jongin, telah melakukan kesalahan besar.
…
Kyungsoo duduk termenung di depan TV yang saat itu menayangkan acara komedi, tetapi matanya menatap kosong. Sementara orang-orang di TV tertawa terbahak-bahak, Kyungsoo tetap diam mematung.
Aku tahu Chanyeol menyukaimu... dan kalian juga terlihat cocok sekali...
Entah sudah berapa kali kalimat itu terus bergema di dalam otaknya. Kyungsoo tidak bisa menghentikannya walaupun ia sudah berusaha keras.
Ya, terimalah dia...
Tiba-tiba sebutir air mata jatuh bergulir di pipinya. Kyungsoo tersentak dan cepat-cepat menghapus air mata itu dengan punggung tangan. Kenapa ia tiba-tiba menangis?
Namun ucapan Jongin yang terakhir itu memang sempat membuat Kyungsoo berhenti bernapas beberapa detik. Ia hanya bisa menatap Jongin tanpa berkedip, berharap ia salah dengar. Jongin tidak mungkin menyuruhnya menerima Park Chanyeol. Tetapi saat itu Jongin balas menatapnya dengan sungguh-sungguh, dan Kyungsoo sadar bahwa laki-laki itu tidak bercanda.
Kalau dipikir-pikir, apakah Jongin salah karena sudah berkata seperti itu? Benar, Jongin memang sangat dekat dengan Kyungsoo. Benar, ia memang sudah berkata bahwa ia menyukai Kyungsoo. Dan benar, ia sudah melakukan semua hal yang membuat Kyungsoo bahagia. Tetapi semua itu sebelum ia mengalami kecelakaan. Sebelum Jongin hilang ingatan.
Mungkin aku bisa membantu Jongin mengingat kembali? pikir Kyungsoo tiba-tiba. Mungkin aku bisa menceritakan segalanya tentang diriku dan Jongin. Ia memang belum pernah bercerita kepada Jongin tentang hubungan mereka berdua karena ia merasa kikuk dan malu. Pasti akan terdengar aneh kalau seseorang yang tidak kau kenal berkata padamu bahwa kalian sudah berkencan dan kau pernah menyatakan perasaan suka pada orang itu. Kau pasti tidak akan percaya. Tidak ada orang yang akan percaya.
Namun kalau hal itu bisa membuat Jongin kembali memandang ke arahnya seperti dulu...
Tiba-tiba Kyungsoo tersadar. Ia sudah melupakan sesuatu yang penting di sini. Yoon Soo Hee. Wanita itu adalah wanita yang di sukai Jongin sejak dulu. Seandainya pun Jongin tidak mengalami kecelakaan, seandainya pun Jongin tidak hilang ingatan, apakah ia akan tetap bersama Kyungsoo kalau Yoon Soo Hee tiba-tiba kembali dalam hidupnya? Apakah ia akan tetap memandang Kyungsoo dan hanya Kyungsoo?
Tidak ada jaminan untuk itu, putus Kyungsoo dalam hati. Jongin bisa saja tetap berpaling ke arah Soo Hee. Bagaimanapun juga, wanita itu sudah begitu lama tersimpan di sudut hati Jongin.
Merasa kalah, Kyungsoo mengembuskan napas berat. Apa yang bisa dilakukannya sekarang? Kesadaran yang tiba-tiba menerjangnya membuat air matanya jatuh lagi dan ia buru-buru menghapusnya. Tetapi kali ini air matanya tidak mau berhenti. Kesadaran itu menggerogoti hatinya yang terasa begitu nyeri.
Kesadaran bahwa ia sudah terlambat. Kesadaran bahwa ia akan kehilangan Jongin. Ia akan kehilangan Jongin bahkan sebelum sempat menyatakan perasaannya. Astaga, kenapa ia terlambat menyadari bahwa ia menyukai Kim Jongin?
To Be Continued
